IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa

Jumat 11 Januari 2019 6:0 WIB
Share:
Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa
Ilustrasi shalat.
“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa,” kata Rasulullah dalam sebuah hadits. 

Rasulullah adalah manusia tetapi tidak seperti manusia biasa. Rasulullah adalah orang yang terjaga dari melakukan dosa dan hal-hal yang tidak baik (maksum). Tidak seperti manusia umumnya yang kerap kali melakukan dosa dan maksiat. Persamaannya, Rasulullah juga bertindak seperti yang lainnya. Beliau makan, minum, tidur, beristri, dan beranak. Juga memiliki emosi seperti manusia kebanyakan. Bahagia, sedih, marah, dan lupa. 

Iya, Rasulullah juga pernah lupa. Alkisah, suatu ketika Rasulullah menjalankan shalat Isya bersama para sahabatnya di Masjid Nabawi. Beliau bertindak sebagai imam. Ketika semuanya sudah siap, Rasulullah memulai shalat dengan takbiratul ihram dan mengakhirinya dengan salam. Setelah shalat, Rasulullah berdiam diri di dalam masjid. 

Hingga saat ini, beliau belum menyadari kalau rakaat shalatnya kurang. Para sahabat yang menjadi makmumnya menjadi bingung. Mengapa Rasulullah shalat Isya dua rakaat? Padahal status mereka tidak musafir. Mereka menjadi menerka-nerka; apakah Rasulullah lupa atau memang ada wahyu yang baru turun dan merevisi jumlah shalat Isya menjadi dua rakaat?

Di tengah kebingungan dan kebimbangan para sahabat itu, seorang sahabat yang dijuluki Dzul Yadain –karena tangannya berukuran panjang- mendatangi Rasulullah. Dia lalu bertanya kepada Rasulullah perihal shalat Isya yang dua rakaat itu.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau tadi memang lupa atau kah shalat Isya kini dikurangi menjadi dua rakaat?” tanya Dzul Yadain, dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015). 

Rasulullah masih belum sadar usai mendengar pertanyaan dari Dzul Yadain. Beliau masih keukeuh dan yakin bahwa shalat Isya-nya empat rakaat. Untuk meyakinkan dirinya, Rasulullah lantas bertanya kepada para sahabatnya. Apakah dirinya shalat Isya empat atau dua rakaat? Para sahabatnya menjawab secara serentak bahwa Rasulullah shalat Isya hanya dua rakaat. 

Rasulullah baru tersadar setelah para sahabatnya mengingatkannya. Beliau langsung berdiri lagi untuk memimpin shalat. Menyempurnakan kekurangan bilangan rakaat shalat Isya-nya, agar menjadi empat rakaat. Tidak lupa, setelah salam Rasulullah melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa). Dan ini menjadi praktik sujud sahwi yang pertama. Dengan demikian, lupanya Rasulullah itu juga melahirkan hikmah tersendiri, yaitu sujud sahwi ketika lupa bilangan rakaat shalat. 

Usai menyempurnakan bilangan rakaat shalat Isya dan melaksanakan sujud sahwi, Rasulullah mengatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak luput dari lupa. Beliau meminta kepada para sahabatnya untuk mengingatkannya ketika lupa. 

“Apabila seseorang ragu-ragu tentang berapa hitungan rakaat atau rukun shalat yang dilaksanakannya, hendaknya dia memastikan apa yang dianggapnya benar. Lantas, hendaknya dia menyempurnakan apa yang dianggapnya kurang, kemudian mengucapkan salam dan bersujud sahwi dua kali,” kata Rasulullah.

Demikian Rasulullah. Beliau selalu terbuka kepada para sahabatnya. Tidak mentang-mentang. Tidak pula merasa paling benar –padahal keliru, meski beliau seorang Nabi dan Rasul Allah. Beliau bahkan meminta kepada para sahabatnya secara langsung untuk tidak usah takut-takut mengingatkan jika dirinya lupa lagi. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Kamis 10 Januari 2019 6:0 WIB
Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan
Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan
Mulanya Rasulullah menyebarkan Islam secara sembunyi. Lalu setelah ada perintah, Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Begitu pun dengan pengikutnya. Awalnya hanya kerabat dan teman dekat Rasulullah yang masuk Islam. Namun kemudian banyak tokoh dan pembesar Quraisy yang menyatakan diri menjadi pengikut Rasulullah.

Saat ‘api Islam’ masih kecil, kaum kafir Quraisy Makkah berusaha untuk memadamkannya. Berbagai macam upaya dilakukan untuk meredam pergerakan Rasulullah. Terutama menjalankan aksi-aksi kekerasan dan penindasan terhadap pengikut Islam yang lemah. Mereka dipaksa untuk keluar dari Islam. 

Usaha itu tidak berhasil. Justru ‘api Islam’ berkobar semakin besar. Terutama setelah beberapa elit kafir Quraisy menyatakan diri masuk Islam. Diantaranya Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Mereka dikenal sebagai seorang pemberani dan tegas. Mereka juga tidak segan-segan untuk ‘berduel’ dengan kafir Quraisy yang mengganggu Rasulullah dan dakwah Islam. Begitu lah, dulu mereka penentang Islam, tapi kemudian menjadi pelindung dakwah Islam.

Situasi dan kondisi itu membuat kaum kafir Quraisy Makkah kalang kabut. Dulu mereka bebas saja mencemooh dan menghina Rasulullah, serta menindas pengikut Rasulullah yang lemah. Namun, setelah ‘jagoan’ kaum kafir Makkah masuk Islam, mereka tidak bisa lagi berlaku seperti itu. 

Para tokoh kafir Makkah itu akhirnya berkumpul dalam sebuah majelis. Mendiskusikan dan merumuskan sebuah strategi baru untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Salah seorang elit kafir Makkah, Utbah bin Rabi’ah, menyampaikan usul agar menggunakan ‘cara-cara yang lembut’ untuk menghentikan pergerakan Rasulullah. Para tokoh kafir Makkah sepakat untuk mengubah taktik dan menyetujui usulan Utbah bin Rabi’ah.

Utbah bin Rabi’ah merupakan pemuka Bani Abdus Syam. Dia adalah cucu dari Abd Syam, saudara Hasyim (buyut Rasulullah). Utbah dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, cerdas, ramah, dan bisa bekerjasama dengan musuh. Oleh karenanya, ketika Utbah menawarkan diri untuk menjalankan strategi baru itu, maka para tokoh kafir Quraisy mengamininya.

Singkat cerita, Utbah bin Rabi’ah lalu menemui Rasulullah yang saat itu tengah berada di dalam kawasan Ka’bah. Ia mendekat dan duduk di samping Rasulullah. Pada kesempatan itu, Utbah langsung melancarkan strateginya yaitu memberikan beberapa iming-iming atau penawaran kepada Rasulullah. Sebagai imbalannya, Rasulullah harus menghentikan dakwahnya.  

Ada empat penawaran yang diberikan Utbah kepada Rasulullah. Pertama, harta. Jika Rasulullah menginginkan harta, maka Utbah dan para tokoh Makkah akan memberikan semua hartanya sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah. Kedua, kemuliaan. Para pembesar Makkah juga siap menjadikan Rasulullah sebagai orang yang paling mulia diantara mereka, jika beliau menghendakinya. Ketiga, kerajaan. Jika yang diminta Rasulullah adalah kerajaan, maka mereka siap menjadikannya sebagai raja mereka. Keempat, obat paling mujarab. Mereka juga siap menyiapkan obat dan tabib yang paling ‘tokcer’ manakala Rasulullah tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati sendiri.

Rasulullah mendengarkannya secara seksama. Setelah menyampaikan beberapa iming-imingan tersebut, Utbah bin Rabi’ah terdiam. Rasulullah bergeming dengan semua iming-iming yang ditawarkan Utbah tersebut. Beliau tidak menginginkan dan tidak tertarik sama sekali dengan semua tawaran yang diiming-imingkan Utbah. Rasulullah lantas bertanya kepada Utbah.

“Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Abul Walid?” tanya Rasulullah, sebagaimana dikutip dari buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012). 

Beliau sengaja memanggil Utbah dengan Abul Walid karena itu adalah sapaan penghormatan. Utbah mengangguk dan menjawab “Iya, sudah selesai.”

Rasulullah kemudian meminta Utbah mendengarkan perkataannya. Lalu Rasulullah membacakan QS. Fushshilat ayat 1-14. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah membaca QS Fushshilat hingga ayat ke-38 ketika Utbah memintanya untuk menghentikan bacaannya, lalu kemudian Rasulullah sujud kepada Allah.

Melalui ayat-ayat itu, Rasulullah hendak menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Mereka akan selamat jika mengikuti Rasulullah. Sebaliknya, mereka akan celaka jika menentangnya. 

“Apakah engkau telah dengar, wahai Abul Walid?”

“Iya, sudah,” kata Utbah.

“Jika demikian, silahkan engkau bebas memilih,” kata Rasulullah.

Setelah itu, Utbah bin Rabi’ah langsung menemui pemuka kaum musyrik Makkah. Di hadapan para pembesar musyrik Makkah, Utbah mengaku takjub dengan kata-kata yang disampaikan Rasulullah. Ia tahu jika itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Ia kemudian meminta para elit musyrik Makkah meninggalkan Rasulullah, tidak mengganggunya lagi.

“Demi Allah, engkau telah disihir dengan kalimat-kalimatnya,” kata para pemuka musyrik Makkah itu kepada Utbah.

“Itu lah pendapatku, maka lakukan lah apa yang kalian hendak lakukan,” jawab Utbah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 9 Januari 2019 18:30 WIB
Ketika Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain Hilang
Ketika Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain Hilang
Ilustrasi: murtajikarunia
“Mencintai keduanya (Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain) berarti mencintaiku, membenci keduanya berarti membenciku,” kata Rasulullah.

Sudah menjadi informasi umum jika Rasulullah sangat menyayangi cucu-cucunya, terutama Sayyidina Hasan Husain. Banyak hadits yang menyebutkan bagaimana Rasulullah sangat akrab dengan kedua cucu itu. Beliau bermain bersama keduanya. Memanja-manjakan mereka. Dan dengan senang hati menjadi ‘kuda-kudaan’ keduanya. 

Pada saat sujud misalnya, Rasulullah malah memperlamanya karena Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain tengah menungganginya. Begitu pun ketika khutbah, Rasulullah pernah menghentikan khutbahnya sejenak dan mengambil kedua cucunya itu yang terjatuh di antara umat Islam. Lalu meletakkan mereka di atas pangkuannya, sambil berkhutbah.

Pernah pula suatu ketika Rasulullah ‘memanggul’ keduanya ketika menemui sahabatnya; Sayyidina Hasan di pundak kanannya, sementara Sayyidina Husain di pundak kirinya. Setelah itu, Rasulullah langsung menciumnya satu per satu. 

Demikian cara Rasulullah memperlakukan cucu-cucunya. Sikap Rasulullah terhadap cucu-cucunya itu tentu ‘aneh’ bagi masyarakat Makkah. Mengapa? Karena pada saat itu hubungan seorang kakek dengan cucunya sangat lah kaku dan keras, tidak luwes sebagai sikap Rasulullah kepada cucunya.

Oleh karena itu, Rasulullah sangat kaget dan cemas ketika mendengar kabar bahwa kedua cucu kesayangannya itu hilang. Adalah Ummu Aiman, pelayan yang sudah dianggap Rasulullah sebagai ibu kedua, yang melaporkan kehilangan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain. 

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018), Rasulullah sangat kaget luar biasa setelah mendengar laporan cucunya tidak ada. Tanpa pikir panjang, Rasulullah langsung memerintah semua sahabatnya untuk mencari cucu-cucunya itu sampai ketemu.

“Semua menyebar, cari anakku (cucuku) sampai ketemu,” kata Rasulullah dengan wajah yang tegang.

Orang-orang menyebar ke seluruh penjuru kota. Begitu pun dengan Rasulullah. Rasulullah sendiri mencari kedua cucunya itu ke lembah, ditemani Ummu Aiman,. Setelah mencari ke sana dan ke mari, akhirnya Rasulullah berhasil menjumpai Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain di sebuah lembah.  

Naasnya, ketika itu tepat di samping Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain ada seekor ular yang siap menggigitnya. Rasulullah yang melihat itu langsung mendekatinya. Untungnya, ular itu langsung pergi ke balik bebatuan setelah melihat Rasulullah. 

Rasulullah tentu sangat bahagia setelah kedua cucunya itu ditemukan. Pada kesempatan itu Rasulullah mengusap-usap wajah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, sambil berkata: Demi ayah dan ibuku, kalian berdua sungguh mulia di sisi Allah. Rasulullah lalu menempatkan satu cucunya itu di pundak kanan dan yang satunya di pundak kiri dan membawanya pulang. 

Tidak hanya kepada Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, Rasulullah juga sangat menyayangi dan memperlakukan hal yang sama kepada cucu-cucunya yang lain seperti Sayyidah Umamah, putri dari Sayyidah Zainab, putri pertama Rasulullah. Misalnya, Rasulullah juga pernah shalat sambil membawa Sayyidah Umamah. Ketika sujud, Sayyidah Umamah diletakkan. Sementara ketika berdiri, beliau menggendongnya. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 8 Januari 2019 18:0 WIB
Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah
Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah
Masjid Nabawi Pertama Ilustrasi: syakirawisata
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bercerita bahwa suatu ketika dirinya pernah bermimpi berhijrah dari Makkah ke ke suatu kota yang memiliki banyak pohon kurma. Pada saat itu, Rasulullah mengira bahwa kota tersebut adalah Yamamah atau Hajar. Namun dugaan Rasulullah meleset, ternyata tempat yang dipilih untuk tempat hijrah adalah Madinah Yatsrib. 

Lalu apa sebetulnya yang menyebabkan Madinah dipilih sebagai tempat untuk berhijrah Rasulullah dan umat Islam secara keseluruhan? Perintah Allah sudah pasti menjadi alasan utama. Rasulullah tidak akan berhijrah kecuali atas perintah Allah. Bahkan Allah melalui malaikat Jibril juga sudah menentukan waktu Rasulullah berhijrah ke Madinah, yaitu tengah malam. Di saat para elit kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah untuk menghabisinya lengah.  

Dipilihnya Madinah sebagai tempat berhijrah juga tidak lepas dari beberapa penduduk Madinah yang sudah berbaiat kepada Rasulullah, dalam Baiat Aqabah pertama dan kedua. Tentu itu menjadi modal bagus bagi Rasulullah dan umat Islam. Namun selain dua hal itu, mungkin saja ada hal-hal lainnya yang menyebabkan mengapa Madinah yang dipilih sebagai tempat berhijrah. Mengapa tidak kota-kota lainnya? Mengapa Madinah?

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), disebutkan bahwa dipilihnya Madinah sebagai tempat hijrah karena kota tersebut memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota lainnya. Pertama, penduduknya memiliki sikap ramah. Suku Aus dan Khazraj yang mukim di Madinah sebetulnya berasal dari Yaman. Sementara orang-orang Yaman dikenal sebagai orang yang memiliki budi yang halus dan perasaan yang lembut. 

“Penduduk Yaman datang kepadamu. Mereka itu lembut hati dan halus perasaan,” kata Rasulullah ketika rombongan dari Yaman mengunjunginya usai Perang Khaibar. 

Kedua, penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang. Suku Aus dan suku Khazraj, ditambah komunitas Yahudi Madinah, ‘tidak pernah akur’. Dalam sejarahnya, mereka kerap kali melancarkan peperangan antara satu suku dengan yang lainnya. Peperangannya tidak hanya setahun dua tahun, tapi berlangsung secara bertahun-tahun. Tercatat ada sekitar 10 kali peperangan yang dilalui suku-suku di Madinah. Perang Samir menjadi awal, sementara Perang Bu’ats menjadi perang terakhir. 

Perang Bu’ats merupakan perang terbesar dan terjadi lima tahun sebelum Rasulullah berhijrah. Ketika Rasulullah dan Islam datang, masyarakat Madinah menjadi bersatu dan tidak perang saudara lagi. Perlu diketahui, pengalaman berperang ini menjadi sesuatu yang penting untuk menjaga ajaran agama Islam.

Ketiga, Rasulullah memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah. Pada saat kecil, Rasulullah pernah diajak ibundanya Sayyidah Aminah untuk berkunjung ke Madinah. Pada kesempatan itu, Sayyidah Aminah mengajak Rasulullah untuk berziarah ke makam Sayyidina Abdullah, suaminya dan ayahanda Rasulullah. Di samping itu, Sayyidah Aminah juga mengajak Rasulullah berkunjung ke sanak saudaranya di Madinah, Bani Najjar. 

Keempat, letak Madinah yang strategis. Madinah memiliki letak geografis yang strategis. Bagaimana tidak, di sebelah timur dan barat Madinah merupakan sebuah wilayah yang terjal. Terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah yang penuh dengan bebatuan yang keras sehingga menyulitkan siapapun –terutama musuh- untuk memasuki kota Madinah. 

Hanya dari sisi utara Madinah yang menjadi wilayah terbuka. Maka tidak heran ketika terjadi Perang Khandaq, Salman al-Farisi mengusulkan kepada Rasulullah agar umat Islam membuat parit di sepanjang wilayah utara Madinah. Tujuannya adalah untuk menghalangi musuh masuk ke kota Madinah. 

Merujuk buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Nabi Muhammad saw. (Zuhairi Misrawi, 2009), Madinah merupakan sebuah kota yang dibentuk atau dibangun oleh orang-orang yang melarikan diri (eksodus) dari tempat asalnya, entah disebabkan konflik atau pun ekonomi. 

Madinah atau Yatsrib memiliki sejarah yang panjang. Konon, awal mula orang-orang datang ke wilayah Madinah adalah pengikut Nabi Nuh as. yang selamat dari bencana banjir yang maha dahsyat. Setelah satu tahun 10 hari berada di atas kapal Nabi Nuh as dan banjir surut, mereka yang selamat ada yang bepergian ke wilayah Madinah. Diantara dari mereka adalah Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh as. Diperkirakan kejadian itu terjadi pada tahun 2600 SM.

Maka akhirnya tempat tersebut dikenal sebagai kota Yatsrib, dan kemudian Rasulullah mengganti nama kota Yatsrib menjadi Madinah ketika beliau hijrah ke kota tersebut. Rasulullah tinggal di Madinah selama 10 tahun. Sama seperti Makkah, Madinah juga kota yang istimewa bagi Rasulullah secara personal. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah berdoa: Ya Allah anugerahilah pahala yang berlipat ganda di Madinah, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah di Makkah. (A Muchlishon Rochmat)