IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Menduduki Kursi Prioritas KRL tanpa Hak

Jumat 11 Januari 2019 15:35 WIB
Share:
Hukum Menduduki Kursi Prioritas KRL tanpa Hak
(Foto: @tribunnews)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online yang terhormat, saya pengguna kereta rel listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek. Saya kerap kali mendapati pengguna KRL lain yang bukan prioritas menduduki kursi prioritas yang disediakan secara khusus oleh PT KAI. Padahal ada pengguna KRL prioritas yang berhak atas tempat duduk tersebut. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Hadi/Citayam).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. PT KAI menyediakan kuota kursi prioritas untuk pengguna KRL yang terdiri atas ibu hamil, ibu dengan balita, penyandang disabilitas, dan lansia.

Mereka yang tidak termasuk kriteria dapat mencari tempat duduk lain atau berdiri dan mempersilakan mereka yang berhak untuk menduduki kursi prioritas. Selain ditempel gambar mereka yang berhak, penumpang KRL juga diingatkan melalui pengeras suara oleh masinis. Petugas keamanaan KRL yang kerap lalu lalang juga tidak segan mengingatkan penumpang atas hak kursi prioritas.

Adapun mereka yang menduduki kursi prioritas tanpa hak terbilang–lebih dekat pada hemat kami–pada praktik ghashab, yaitu merampas hak milik orang lain tanpa hak. Praktik ini salah satu bentuk kejahatan yang tercela dan diharamkan menurut syariat sebagai diterangkan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari dalam Hasyiyatus Syarqawi berikut ini.

باب الغصب (هو) لغة أخذ الشئ ظلما وشرعا (استيلاء على حق الغير) ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد أو بسوق أو غير مال كزبل (بغير حق) . والأصل فى تحريمه قبل الإجماع آيات كقوله تعالى لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ  وخبر كخبر إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ وخبر مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ أَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ رواهما الشيخان

Artinya, “Bab ghashab (ghashab) dalam pengertian bahasa adalah mengambil sesuatu secara zalim. Sedangkan menurut syariat, ghashab adalah (menguasai hak orang lain) sekalipun berbentuk manfaat seperti membangunkan orang yang duduk di masjid atau di pasar atau bukan harta seperti sampah (tanpa hak). Dasar keharaman ghashab selain ijmak adalah firman Allah SWT (Al-Baqarah ayat 88), ‘Jangalan kalian makan harta sesama kalian dengan jalan batil,’ sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, darah, harta, kehormatanmu haram bagimu,’ dan sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa yang menganiaya (orang lain) meski sejengkal tanah, kelak ia akan dikalungkan dengan tanah itu sedalam tujuh lapis bumi.’ Keduanya diriwayatkan Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh Abu Zakariya Al-Anshari, Tahrir dalam Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhi Tahriri Tanqihil Lubab, Beirut, Darul Fikr, 2006 M/1426-1427 H, juz II, halaman 143-144).

Mereka yang tidak berhak sebaiknya memberikan kesempatan duduk di kursi prioritas kepada penumpang yang berhak sebagaimana pesan dalam Surat An-Nisa ayat 58.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya, “Sungguh, Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada ahlinya. Jika kalian memutuskan perkara di tengah masnusia, maka hendaklah kalian memutuskan perkara secara adil. Sungguh, inilah sebaik-baik pesan Allah kepadamu. Sungguh Allah maha mendengar lagi maha melihat,” (An-Nisa ayat 58).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang terkenal itu mengatakan bahwa Surat An-Nisa ayat 58 ini berpesan agar manusia melaksanakan kewajibannya kepada Allah dan kewajibannya terhadap sesama manusia seperti barang titipan atau berupa manfaat atas kursi prioritas yang disediakan oleh PT KAI.

يخبر تعالى أنه يأمر بأداء الأمانات إلى أهلها، وفي حديث الحسن، عن سمرة، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "أد الأمانة إلى من ائتمنك، ولا تخن من خانك". رواه الإمام أحمد وأهل السنن وهذا يعم جميع الأمانات الواجبة على الإنسان، من حقوق الله، عز وجل، على عباده، من الصلوات والزكوات، والكفارات والنذور والصيام، وغير ذلك، مما هو مؤتمن عليه لا يطلع عليه العباد، ومن حقوق العباد بعضهم على بعض كالودائع وغير ذلك مما يأتمنون به بعضهم على بعض من غير اطلاع بينة على ذلك.

Artinya, “Allah mengabarkan bahwa Dia memerintahkan manusia untuk menunaikan amanat kepada ahlinya. Di dalam hadits hasan dari Samurah bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tunaikan amanat kepada orang orang yang mempercayaimu. Jangan kau mengkhianati orang yang pernah mengkhianatimu,’ (HR Ahmad dan penulis kitab ‘Sunan’ lainnya). Perintah ini bersifat umum untuk semua jenis amanat wajib bagi manusia baik yang menyangkut hak Allah seperti shalat, zakat, kafarat, nazar, puasa, dan kewajiban lain yang diamanatkan kepadanya tanpa terlihat oleh manusia lainnya; maupun hak sesama anak Adam seperti barang titipan dan amanat lain yang dipercayakan kepadanya tanpa melihat bukti atas yang demikian itu,” (Lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quranil Azhim, [Kairo, Al-Faruqul Khaditsah: 2000 M/1421 H], cetakan pertama, juz IV, halaman 124-125).

Kami menyarankan semua pengguna jasa KRL Jabodetabek untuk memperhatikan imbauan PT KAI baik yang berkenaan dengan keamanan naik-turun atau saat menunggu kedatangan KRL maupun yang berkenaan dengan kenyamanan seperti perhatian terhadap kursi prioritas dan menghindari barang dengan aroma tidak sedap dan menyengat.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Senin 7 Januari 2019 12:45 WIB
Bolehkah Perempuan Berprofesi sebagai Hakim?
Bolehkah Perempuan Berprofesi sebagai Hakim?
(Foto: @kabarkriminal.com)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Salam takzim kami kepada masyaikh NU. Teman perempuan saya ada yang bercita-cita menjadi hakim, namun dia membaca sebuah artikel yang di dalamnya menyebutkan yang intinya profesi hakim itu bukan untuk perempuan. Yang saya tanyakan bagaimana Islam memandang terhadap profesi perempuan yang ada di Indonesia ini, bahwa perempuan bisa menjadi apa pun seperti hakim, mubaligah, mufti di MUI, dan lain-lain? Terima kasih banyak. (Solihul Huda)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Jabatan hakim merupakan salah satu unsur vital yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam soal penegakan keadilan. Keberadaan profesi ini sangat penting karena putusannya bersifat mengikat dan menentukan.

Ulama menaruh perhatian luar biasa terhadap profesi hakim. Para ulama bersepakat untuk sejumlah syarat profesi hakim, yaitu kemampuan menalar, kematangan, independensi, keselamatan indra vital dalam bekerja (penglihatan, pendengaran, dan pembicaraan).

Tetapi para ulama berbeda pendapat perihal syarat hakim yang berkaitan dengan integritas, gender, dan kecakapan berijtihad. 

اتفق أئمة المذاهب على أن القاضي يشترط فيه أن يكون عاقلاً بالغاً حراً مسلماً سميعاً بصيراً ناطقاً، واختلفوا في اشتراط العدالة، والذكورة، والاجتهاد

Artinya, “Imam-imam mazhab sepakat bahwa hakim disyaratkan berakal, baligh, merdeka, muslim, memiliki pendengaran, penglihatan, dan percakapan yang baik. Tetapi mereka berbeda pendapat perihal syarat ‘adalah’ (sejenis kesalehan), jenis kelamin laki-laki, dan kemampuan ijtihad,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz VI, halaman 481).

Dalam konteks pertanyaan di atas, ulama berbeda pendapat perihal gender. Ulama Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki menjadi syarat sah seorang hakim.

Adapun Mazhab Hanafi memberikan peluang bagi perempuan untuk berprofesi sebagai hakim. Mazhab Hanafi menafsil kasus yang boleh ditangani oleh hakim perempuan, yaitu kasus perdata. Sedangkan kasus pidana, bagi Mazhab Hanafi, tidak boleh ditangani oleh hakim perempuan.

Ulama yang memberikan peluang bagi perempuan untuk berprofesi sebagai hakim dalam kasus apapun baik perdata maupun pidana adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari.

Menurut Imam At-Thabari, perempuan memiliki peluang yang sama dengan laki-laki dalam profesi hakim. Menurutnya, ulama sepakat bahwa perempuan boleh menjadi mufti. Seharusnya perempuan juga bisa menjadi hakim.

وقال ابن جرير الطبري: يجوز أن تكون المرأة حاكماً على الإطلاق في كل شيء، لأنه يجوز أن تكون مفتية فيجوز أن تكون قاضية.

Artinya, “Ibnu Jarir At-Thabari mengatakan, perempuan boleh menjadi hakim secara mutlak ata kasus apa saja dengan logika bahwa sebagaimana kebolehan menjadi ahli fatwa atau mufti, perempuan juga boleh menjadi hakim,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz VI, halaman 483).

Hakim merupakan profesi penting yang memerlukan keterampilan khusus. Oleh karenanya, pengangkatan seorang hakim mesti didahului syarat-syarat formal yang dibuat oleh negara untuk memastikan mutu, kompetensi, keahlian, kecakapan yang dibutuhkan di samping integritas dan kode etik yang harus dipatuhi.

Dengan demikian, peluang seseorang untuk diangkat menjadi hakim terbuka bagi siapa saja warga negara Indonesia yang mempersiapkan diri dengan pendidikan khusus, disiplin tertentu, dan pelatihan keterampilan terkait.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Senin 31 Desember 2018 16:45 WIB
Hukum Berwudhu dengan Air Mustakmal
Hukum Berwudhu dengan Air Mustakmal
(Foto: @forbes)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, air mustakmal yang dikaji sejak kita kecil dipahami sebagai air yang sudah digunakan untuk bersuci atau menghilangkan najis dan tidak bisa lagi digunakan bersuci. Tetapi kita dikejutkan dengan video seseorang di media sosial yang menggunakan air mustakmal untuk berwudhu. Mohon penjelasan masalah ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hamba Allah/Tangerang)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Air mustakmal secara umum dipahami sebagai air yang telah digunakan untuk bersuci dari hadats kecil dan hadats besar atau telah digunakan untuk menyucikan najis.

Kami akan mengutip pandangan mazhab perihal air mustakmal dan kedudukan air tersebut dalam kaitannya dengan penggunaan ulang air tersebut untuk bersuci.

Mazhab Hanafi menghitung air sebagai mustakmal sesaat air tersebut terlepas dari anggota tubuh saat digunakan untuk bersuci. Ketika air tersebut masih menempel di tubuh, air yang sedang digunakan itu belum terbilang sebagai mustakmal.

وَالْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ : أَنَّ الْمَاءَ يَصِيرُ مُسْتَعْمَلاً بِمُجَرَّدِ انْفِصَالِهِ عَنِ الْبَدَنِ

Artinya, “Pandangan utama Mazhab Hanafi mengatakan bahwa air menjadi mustakmal ketika terpisah dari tubuh,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXIX, halaman 359).

Mazhab Maliki secara umum memiliki pemahaman yang sama perihal air mustakmal. Hanya saja Mazhab Maliki memiliki penilaian berbeda dari mazhab lainnya. Mereka menilai air mustakmal sebagai zat yang suci dan menyucikan sehingga tetap dapat digunakan untuk kedua kalinya dan kali berikutnya.

وَحُكْمُهُ عِنْدَهُمْ أَنَّهُ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ لَكِنْ يُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي رَفْعِ حَدَثٍ أَوِ اغْتِسَالاَتٍ مَنْدُوبَةٍ مَعَ وُجُودِ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ يَسِيرًا

Artinya, “Hukum air mustakmal bagi mereka (kalangan Maliki) adalah suci dan menyucikan, tetapi makruh digunakan untuk penghilangan hadats atau pembasuhan sunah meski ada air lainnya bila air itu sedikit,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXIX, halaman 360).

Imam Syafi’i dalam qaul qadimnya memiliki pandangan serupa dengan pandangan Mazhab Maliki, yakni kebolehan untuk menggunakan air mustakmal. Sedangkan pada qaul jadidnya, Imam Syafi’i menilai air mustakmal sebagai air suci dan tidak menyucikan sehingga air mustakmal tidak dapat digunakan untuk bersuci untuk kali kedua dan kali berikutnya.

وَلأِنَّ السَّلَفَ الصَّالِحَ - مَعَ قِلَّةِ مِيَاهِهِمْ - لَمْ يَجْمَعُوا الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَل لِلاِسْتِعْمَال ثَانِيًا بَل انْتَقَلُوا إِلَى التَّيَمُّمِ ، كَمَا لَمْ يَجْمَعُوهُ لِلشُّرْبِ لأَِنَّهُ مُسْتَقْذَرٌ

Artinya, “Ulama terdahulu di tengah keterbatasan air tidak menampung air mustakmal untuk penggunaan kedua kalinya. Mereka justru berpaling pada tayamum sebagaimana mereka juga tidak menampungnya untuk diminum karena air mustakmal terbilang kotor,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXIX, halaman 361).

Adapun pandangan Mazhab Hanbali perihal air mustakmal secara umum serupa dengan pandangan mazhab lainnya, yaitu air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan najis . 

قَال الْحَنَابِلَةُ : الْمَاءُ الَّذِي اسْتُعْمِل فِي رَفْعِ حَدَثٍ أَوْ إِزَالَةِ نَجَسٍ وَلَمْ يَتَغَيَّرْ أَحَدُ أَوْصَافِهِ طَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ لاَ يَرْفَعُ حَدَثًا وَلاَ يُزِيل نَجِسًا وَهَذَا هُوَ ظَاهِرُ الْمَذْهَبِ عِنْدَهُمْ. وَعِنْدَ أَحْمَدَ رِوَايَةٌ أُخْرَى أَنَّهُ طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ

Artinya, “Ulama Mazhab Hanbali berpendapat bahwa air yang telah digunakan untuk menghilangkan hadats atau najis–salah satu sifatnya tidak berubah–maka ia terbilang suci tetapi tidak menyucikan, yakni tidak lagi dapat menghilangkan hadats dan najis. Ini pandangan utama mazhab mereka. Tetapi ada riwayat lain mengatakan bahwa Imam Ahmad menyatakan air mustakmal suci dan menyucikan,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Shafwah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz XXXIX, halaman 362).

Bagi Mazhab Hanbali, status air mustakmal adalah suci dan tidak menyucikan sehingga air ini tidak dapat digunakan untuk kedua kalinya.

وحكم المستعمل: أنه لا يرفع الحدث ولا يزيل الخبث، كالشافعية

Artinya, “Hukum (air) mustakmal (bagi Mazhab Hanbali) tidak dapat mengangkat hadats dan menghilangkan najis sebagaimana pandangan Mazhab Syafi‘i,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 125).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 29 Desember 2018 16:0 WIB
Hukum Berfoto Selfie Ria di Lokasi Bencana
Hukum Berfoto Selfie Ria di Lokasi Bencana
(Foto: @nakita.id)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, bencana alam gempa dan tsunami melanda beberapa titik Indonesia belakangan ini. Banyak orang mendatangi lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan atau sekadar memantau kondisi pasca-bencana. Tetapi ironisnya ada sejumlah orang yang berfoto ria bersama atau sendiri (selfie/swafoto) di lokasi tersebut. Mohon penjelasan agama untuk masalah ini? Wassalamu alaikum wr. wb. (Hadi/Bekasi)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Aktivitas berselfie ria di era media sosial ini tidak dapat dihindari. Pada dasarnya, aktivitas berselfie ria merupakan hak pribadi yang dilindungi undang-undang dan syariat Islam.

Adapun aktivitas berfoto selfie ria atau membuat siaran langsung video dengan gembira di lokasi bencana yang masih dalam penanganan atau pemulihan pasca-bencana sebaiknya dihindari. Pasalnya, dalam situasi duka sebaiknya kita menunjukkan empati terhadap korban bencana dengan menjauhi ekspresi kegembiraan di media sosial.

Dalam kondisi pasca-bencana, kita sebaiknya menunjukkan empati dan solidaritas sosial serta berpartisipasi aktif bersama elemen masyarakat lainnya dalam proses pemulihan korban setelah bencana sebagaimana hadits Rasulullah SAW berikut ini.

إن المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

Artinya, “Sungguh, hubungan orang yang beriman satu sama lain layaknya sebuah bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain,” (HR Bukhari dan Muslim).

Suasana setelah bencana adalah suasana dukacita. Empati terhadap korban bencana sebaiknya tidak ditunjukkan dengan ekspresi yang biasa ditunjukkan dalam suasana sukacita. Ekspresi riang gembira dalam foto selfie sebaiknya dihindari.

Perihal empati dalam suasana dukacita dan solidaritas sosial ini  dipesan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim berikut ini:

قوله (مثل المؤمنين) الكاملين في الايمان (في توادهم) بشدة الدال مصدر توادد أي تحابب (وتراحمهم) أي تلاطفهم (وتعاطفهم) أي عطف بعضهم على بعض (مثل الجسد) الواحد بالنسبة لجميع أعضائه وجه الشبه التوافق في التعب والراحة (اذا اشتكى) أي مرض (منه عضو تداعى له سائر الجسد) أي باقيه (بالسهر) بفتح الهاء ترك النوم لان الالم يمنع النوم (والحمى) لان فقد النوم يثيرها ولفظه خبر ومعناه أمر أي كما ان الرجل اذا تألم بعض جسده سرى ذلك الالم الى جميع بدنه فكذا المؤمنون ليكونوا كنفس واحدة اذا أصاب أحدهم مصيبة يغتم جميعهم ويقصدوا ازالتها (حم م عن النعمان بن بشير) بل هو متفق عليه

Artinya, “Perkataan (Perumpamaan orang yang beriman) dengan keimanan yang sempurna (dalam kasih sayang) mawadah (kerahiman) belas kasih (kelembutan) satu sama lain (serupa dengan) satu (tubuh) dalam kaitannya dengan seluruh anggota tubuh dalam hal keletihan dan kesenangan. (Jika menderita) mengalami sakit (satu dari anggota tubuh itu, niscaya semua anggota tubuh) angota tubuh lainnya (ikut merasakan derita dengan terjaga) karena sakit menyebabkan seseorang sulit tidur (dan demam) karena kondisi terjaga karena sakit dapat membuat seseorang demam. Meski lafalnya bersifat informatif, makna hadits ini bersifat imperatif. Ketika seseorang menderita sakit pada salah satu anggota tubuhnya, maka nyerinya menjalar ke seluruh tubuh. Sama halnya dengan orang yang beriman. Mereka seharusnya seperti satu jiwa. Bila musibah menimpa salah satu dari mereka, maka sisanya yang lain merasa bimbang dan bergerak untuk mengatasinya. (riwayat Imam Muslim dari An-Nu‘man bin Basyir) justru riwayat Bukhari dan Muslim,” (Lihat Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami‘is Shaghir, [Riyadh, Maktabah Al-Imam As-Syafi‘i: 1988 M/1408 H], juz II, halaman 722).

Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa aktivitas berfoto selfie ria di tengah suasana duka setelah bencana berkaitan erat dengan adab, akhlak, dan moralitas. Sejauh ini, aktivitas berfoto selfie ria dalam konvensi sosial hari ini dan di Indonesia ini cenderung dipahami sebagai ekspresi kegembiraan yang tidak seharusnya ditunjukkan dalam suasana duka.

Meski tidak bermaksud “menari” di atas penderitaan orang lain, aktivitas semacam ini sebaiknya dihindari karena tidak patut dilakukan dan tidak layak dilakukan oleh mereka yang beriman dengan keimanan yang sempurna.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)