IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Sayyidah Ummu Salamah, Perempuan yang Pernah Menolak Pinangan Rasulullah (Bagian I)

Ahad 13 Januari 2019 6:0 WIB
Share:
Sayyidah Ummu Salamah, Perempuan yang Pernah Menolak Pinangan Rasulullah (Bagian I)
Ilustrasi
Nama aslinya Hind bin Abi Umayyah bin al-Mughirah. Akan tetapi ia lebih dikenal dengan nama panggilan Sayyidah Ummu Salamah. Abu Salamah bin Abd al-Asad adalah suaminya. Dari perkawinanannya itu, mereka memiliki empat orang anak yaitu Salamah, Umar, Zainab, dan Ruqayyah. 

Sayyidah Ummu Salamah dan keluarganya merupakan salah seorang dari generasi assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Mereka ikut hijrah bersama umat Islam lainnya ke Habasyah (Ethiopia). Kemudian pada saat hijrah ke Madinah, Sayyidah Ummu Salamah dan Abu Salamah mengalami kejadian buruk. Mereka dipaksa berpisah dengan anak-anaknya. Kaum musyrik merampas anak-anak mereka sehingga mereka harus berpisah hingga setahun lamanya. Abu Salamah ke Madinah, sementara anak-anaknya ditahan. 

Abu Salamah meninggal dunia pada tahun kedua Hijriyah akibat luka parah setelah ikut dalam Perang Uhud. Maka dengan demikian, istrinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim. Keadaan ini lantas membuat Rasulullah ‘berkeinginan’ untuk menikahi Sayyidah Ummu Salamah. Ada yang mengatakan kalau Rasulullah melamar Sayyidah Ummu Salamah karena beliau hendak memberi imbal jasa atas perjuangannya di jalan Allah. Ada yang menyebut untuk menghibur hatinya setelah suaminya gugur. Dan ada juga yang berpendapat  kalau itu dilakukan untuk menjaga kemuliaan dan keagungan Sayyidah Ummu Salamah.

Setelah menjalani masa iddah, Rasulullah –dengan segala pertimbangannya- mengirim Sayyidina Umar bin Khattab untuk meminang Sayyidah Ummu Salamah agar menjadi istrinya. Pada saat itu, Sayyidah Ummu Salamah secara lembut menolak pinangan Rasulullah yang disampaikan Sayyidina Umar itu. Ia beralasan tidak bisa menerima Rasulullah karena dirinya adalah seorang pencemburu, telah berumur, dan memiliki banyak anak. 

“Aku juga mempunyai anak-anak masih kecil yang harus kutanggung dan kujaga. Aku tak ingin gara-gara tak mau menelantarkan mereka lalu kewajibanku sebagai istri terbengkalai,” kata Sayyidah Ummu Salamah kepada Sayyidina Umar bin Khattab, seperti dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018). Memang, pada saat itu Sayyidah Ummu Salamah masih harus menyusui anaknya yang terakhir.  

Sayyidina Umar menyampaikan jawaban Sayyidah Ummu Salamah tersebut kepada Rasulullah. Hal itu tidak membuat niat Rasulullah surut. Selang beberapa waktu, giliran Rasulullah sendiri yang mendatangi Sayyidah Ummu Salamah. Beliau meminang Sayyidah Ummu Salamah secara langsung. Lagi-lagi Sayyidah Ummu Salamah menyampaikan alasan yang sama kepada Rasulullah bahwa dirinya adalah seorang pencemburu, banyak anak, dan berusia lanjut. Rasulullah tidak menyerah. Beliau menyatakan bahwa dirinya akan siap menerima Sayyidah Ummu Salamah apa adanya. 

“Allah akan menghilangkan kecemburuan itu. Adapun soal usia, aku pun telah mengalami serupa dengan yang engkau alami. Sedang soal anak-anak, anak-anakmu adalah anak-anakku juga,” kata Rasulullah, dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018). Para sejarawan memperkirakan bahwa usia Sayyidah Ummu Salamah ketika menikah dengan Rasulullah sekitar 27-28 tahun.

Sayyidah Ummu Salamah akhirnya luluh. Ia bersedia menerima pinangan Rasulullah setelah mendengarkan penjelasan Rasulullah. Di samping itu, dia juga teringat dengan wasiat suaminya, Abu Salamah, ketika masih hidup dulu. Abu Salamah berwasiat jika dirinya wafat terlebih dahulu maka Sayyidah Ummu Salamah agar menikah lagi. Abu Salamah juga pernah berdoa agar Sayyidah Ummu Salamah mendapatkan suami yang lebih baik darinya sepeninggalnya. 

Abu Salamah mendasarkan wasiatnya itu dengan hadits Nabi. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah pernah berdoa agar orang yang mengalami musibah diberi pahala oleh Allah dan diberi ganti yang lebih baik. Ternyata benar, Sayyidah Ummu Salamah mendapatkan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah.

“Demikian lah Allah mengganti untukku yang lebih baik daripada Abu Salamah, yaitu Rasulullah,” kata Sayyidah Ummu Salamah. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Ahad 13 Januari 2019 13:0 WIB
Sayyidah Ummu Salamah, Perempuan yang Pernah Menolak Pinangan Rasulullah (Bagian II-Habis)
Sayyidah Ummu Salamah, Perempuan yang Pernah Menolak Pinangan Rasulullah (Bagian II-Habis)
Ilustrasi: gettyimage
Akhirnya Rasulullah dan Sayyidah Ummu Salamah jadi menikah. Menurut buku  Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018), mahar yang diberikan Rasulullah kepada Sayyidah Ummu Salamah adalah perabot rumah tangga yang nilainya tidak lebih dari 40 dirham. Diantaranya adalah mangkuk, alat giling, kasur giling, dan barang sejenisnya. Kehidupan keduanya berjalan begitu sederhana dan mandiri. Dikisahkan, bahkan pada malam pengantin pun, Rasulullah dan Sayyidah Ummu Salamah membuat makanan sendiri. Mereka mengambil gandum, menggiling dan menghaluskannya, lalu memerasnya ke dalam sebuah bejana dan menjadikannya kuah, ditambah dengan kikil. 

Hari demi hari Sayyidah Ummu Salamah menjalani kehidupan bersama Rasulullah. Cinta, pengabdian, dan pelayanan Sayyidah Ummu Salamah kepada Rasulullah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, kenangan indah bersama suaminya yang dulu, Abu Salamah, tidak pernah pupus. Karena bagaimanapun juga, Sayyidah Ummu Salamah pernah menjalani kehidupan yang 'meliuk-liuk' dengan suaminya itu. Ia bahkan pernah mengajak Abu Salamah berjanji untuk tidak menikah jika salah satu dari mereka wafat lebih dulu. Namun, Abu Salamah tidak menolak ajakan Sayyidah Ummu Salamah. Ia bahkan meminta istrinya itu untuk menikah lagi kalau dia wafat terlebih dahulu. 

Pada saat bersamaan, Sayyidah Ummu Salamah juga teringat dengan hadits Nabi yang menyebutkan kalau di surga nanti seorang suami akan bersama dengan istrinya. Dari hadist itu, Sayyidah Ummu Salamah jadi ‘kepikiran’. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang beristri lebih dari satu? Atau perempuan yang menikah lebih dari sekali? Sayyidah Ummu Salamah lalu mengadukan ‘kegalauannya’ itu kepada Rasulullah.

“Allah akan mempersilahkan wanita itu untuk memilih salah seorang dari kedua suaminya, dan ketika itu yang dipilihnya adalah yang paling baik akhlaknya,” jawab Rasulullah.

Memang seperti itu lah Sayyidah Ummu Salamah. Dia dikenal sebagai salah satu istri Rasulullah yang sangat cerdas. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ia banyak bertanya kepada Rasulullah tentang banyak hal. Sehingga banyak pertanyaannya yang menjadi sebab turunnya (asbabul wurud) beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi.  

Sayyidah Ummu Salamah juga menjadi salah satu istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits. Para pakar menyebut kalau hadits riwayat Sayyidah Ummu Salamah mencapai 378 hadits. Demikian lah salah satu hikmah pernikahan Rasulullah dengan Ummu Salamah. Ia menjadi salah satu istri yang merekam rahasia kehidupan rumah tangga Rasulullah melalui periwayatan hadits. Di samping tentunya direkam juga oleh istri-istri Rasulullah yang lainnya. Hadits-hadits riwayat Ummahatul Mukminin itu merupakan mozaik dari ‘kehidupan privat’ Rasulullah, yang tentunya tidak bisa direkam oleh para sahabatnya.   

Hikmah lain dari pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Ummu Salamah adalah meredam kebencian Suku Makhzum. Diketahui, Suku Makhzum adalah salah satu suku yang paling memusuhi dakwah Rasulullah. Maka pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Ummu Salamah yang berasal dari keluarga Suku Makhzum itu diharapkan memberikan dampak yang baik terkait dengan hubungan Rasullah dan Suku Makhzum. 

  • Baca juga: Sayyidah Ummu Salamah, Perempuan yang Pernah Menolak Pinangan Rasulullah (Bagian I)

Karena kecerdasannya pula, Sayyidah Ummu Salamah kerapkali menjadi teman curhat Rasulullah terkait suatu persoalan. Terbukti, Sayyidah Ummu Salamah pernah beberapa kali memberikan solusi atas persoalan yang menimpa Rasulullah. Diantaranya adalah kejadian setelah ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriyah. 

Pada waktu itu, Rasulullah dan umat Islam hendak menjalankah umrah di Makkah. Namun, kaum musyrik tidak mengizinkan umat Islam masuk Makkah. Setelah melalui negosiasi yang alot, kaum musyrik dan umat Islam sepakat untuk menandatangani Perjanjian Hudaibiyah. Isinya, pada tahun itu umat Islam tidak diperbolehkan memasuki kota Makkah. Mereka baru diizinkan mamasuki kota Makkah dan menunaikan umrah pada tahun berikutnya. 

Setalah Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah mengajak kepada para sahabatnya untuk mencukur rambut mereka masing-masing dalam rangka bertahalul sebelum kembali ke Madinah. Ajakan Rasulullah itu ternyata disambut oleh para sahabat dengan ‘ogah-ogahan’. Mereka enggan untuk mencukur rambutnya. Maklum, para sahabat kecewa dengan isi dari Perjanjian Hudaibiyah itu. Mereka sudah rindu dengan Ka’bah dan ingin segera melaksanakan umrah, namun keadaan tidak memungkinkan. 

Kejadian itu membuat Rasulullah ‘kesal’. Rasulullah lalu menceritakan sikap para sahabatnya yang ‘enggan’ menuruti perintahnya itu kepada Sayyidah Ummu Salamah yang saat itu ikut dalam rombongan. Kata Sayyidah Ummu Salamah: Wahai Rasulullah, keluarlah sehingga mereka melihatmu, namun jangan berbicara dengan seorang pun. Lalu sembelihlah untamu dan panggil tukang cukur untuk memotong rambutmu.

Rasulullah menuruti saran Sayyidah Ummu Salamah. Beliau keluar dari tendanya, tidak bicara dengan siapapun, kemudian menyembelih  untanya dan mencukur rambut. Dan benar. Setelah Rasulullah melaksanakan usulan Sayyidah Ummu Salamah, para sahabat berbondong-bondong mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Di samping cerdas, Sayyidah Ummu Salamah adalah seorang yang sangat rupawan. Bahkan, kecantikannya mampu membuat Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah, istri Rasulullah yang lainnya, cemburu. Iya, Sayyidah Ummu Salamah adalah seorang yang cantik lahir dan batinnya.

“Dia telah berusia,” kata Sayyidah Aisyah menutupi kecemburuannya terhadap kecantikan Sayyidah Ummu Salamah.

“Demi Allah, dia melebihi apa yang dibicarakan orang tentang dirinya,” kata Sayyidah Hafshah. (A Muchlishon Rochmat) 
Jumat 11 Januari 2019 6:0 WIB
Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa
Saat Rasulullah Shalat Isya Dua Rakaat karena Lupa
Ilustrasi shalat.
“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa,” kata Rasulullah dalam sebuah hadits. 

Rasulullah adalah manusia tetapi tidak seperti manusia biasa. Rasulullah adalah orang yang terjaga dari melakukan dosa dan hal-hal yang tidak baik (maksum). Tidak seperti manusia umumnya yang kerap kali melakukan dosa dan maksiat. Persamaannya, Rasulullah juga bertindak seperti yang lainnya. Beliau makan, minum, tidur, beristri, dan beranak. Juga memiliki emosi seperti manusia kebanyakan. Bahagia, sedih, marah, dan lupa. 

Iya, Rasulullah juga pernah lupa. Alkisah, suatu ketika Rasulullah menjalankan shalat Isya bersama para sahabatnya di Masjid Nabawi. Beliau bertindak sebagai imam. Ketika semuanya sudah siap, Rasulullah memulai shalat dengan takbiratul ihram dan mengakhirinya dengan salam. Setelah shalat, Rasulullah berdiam diri di dalam masjid. 

Hingga saat ini, beliau belum menyadari kalau rakaat shalatnya kurang. Para sahabat yang menjadi makmumnya menjadi bingung. Mengapa Rasulullah shalat Isya dua rakaat? Padahal status mereka tidak musafir. Mereka menjadi menerka-nerka; apakah Rasulullah lupa atau memang ada wahyu yang baru turun dan merevisi jumlah shalat Isya menjadi dua rakaat?

Di tengah kebingungan dan kebimbangan para sahabat itu, seorang sahabat yang dijuluki Dzul Yadain –karena tangannya berukuran panjang- mendatangi Rasulullah. Dia lalu bertanya kepada Rasulullah perihal shalat Isya yang dua rakaat itu.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau tadi memang lupa atau kah shalat Isya kini dikurangi menjadi dua rakaat?” tanya Dzul Yadain, dikutip dari buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015). 

Rasulullah masih belum sadar usai mendengar pertanyaan dari Dzul Yadain. Beliau masih keukeuh dan yakin bahwa shalat Isya-nya empat rakaat. Untuk meyakinkan dirinya, Rasulullah lantas bertanya kepada para sahabatnya. Apakah dirinya shalat Isya empat atau dua rakaat? Para sahabatnya menjawab secara serentak bahwa Rasulullah shalat Isya hanya dua rakaat. 

Rasulullah baru tersadar setelah para sahabatnya mengingatkannya. Beliau langsung berdiri lagi untuk memimpin shalat. Menyempurnakan kekurangan bilangan rakaat shalat Isya-nya, agar menjadi empat rakaat. Tidak lupa, setelah salam Rasulullah melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa). Dan ini menjadi praktik sujud sahwi yang pertama. Dengan demikian, lupanya Rasulullah itu juga melahirkan hikmah tersendiri, yaitu sujud sahwi ketika lupa bilangan rakaat shalat. 

Usai menyempurnakan bilangan rakaat shalat Isya dan melaksanakan sujud sahwi, Rasulullah mengatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak luput dari lupa. Beliau meminta kepada para sahabatnya untuk mengingatkannya ketika lupa. 

“Apabila seseorang ragu-ragu tentang berapa hitungan rakaat atau rukun shalat yang dilaksanakannya, hendaknya dia memastikan apa yang dianggapnya benar. Lantas, hendaknya dia menyempurnakan apa yang dianggapnya kurang, kemudian mengucapkan salam dan bersujud sahwi dua kali,” kata Rasulullah.

Demikian Rasulullah. Beliau selalu terbuka kepada para sahabatnya. Tidak mentang-mentang. Tidak pula merasa paling benar –padahal keliru, meski beliau seorang Nabi dan Rasul Allah. Beliau bahkan meminta kepada para sahabatnya secara langsung untuk tidak usah takut-takut mengingatkan jika dirinya lupa lagi. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 10 Januari 2019 6:0 WIB
Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan
Rasulullah, Utbah bin Rabi'ah, dan Iming-iming yang Menggiurkan
Mulanya Rasulullah menyebarkan Islam secara sembunyi. Lalu setelah ada perintah, Rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Begitu pun dengan pengikutnya. Awalnya hanya kerabat dan teman dekat Rasulullah yang masuk Islam. Namun kemudian banyak tokoh dan pembesar Quraisy yang menyatakan diri menjadi pengikut Rasulullah.

Saat ‘api Islam’ masih kecil, kaum kafir Quraisy Makkah berusaha untuk memadamkannya. Berbagai macam upaya dilakukan untuk meredam pergerakan Rasulullah. Terutama menjalankan aksi-aksi kekerasan dan penindasan terhadap pengikut Islam yang lemah. Mereka dipaksa untuk keluar dari Islam. 

Usaha itu tidak berhasil. Justru ‘api Islam’ berkobar semakin besar. Terutama setelah beberapa elit kafir Quraisy menyatakan diri masuk Islam. Diantaranya Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. Mereka dikenal sebagai seorang pemberani dan tegas. Mereka juga tidak segan-segan untuk ‘berduel’ dengan kafir Quraisy yang mengganggu Rasulullah dan dakwah Islam. Begitu lah, dulu mereka penentang Islam, tapi kemudian menjadi pelindung dakwah Islam.

Situasi dan kondisi itu membuat kaum kafir Quraisy Makkah kalang kabut. Dulu mereka bebas saja mencemooh dan menghina Rasulullah, serta menindas pengikut Rasulullah yang lemah. Namun, setelah ‘jagoan’ kaum kafir Makkah masuk Islam, mereka tidak bisa lagi berlaku seperti itu. 

Para tokoh kafir Makkah itu akhirnya berkumpul dalam sebuah majelis. Mendiskusikan dan merumuskan sebuah strategi baru untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Salah seorang elit kafir Makkah, Utbah bin Rabi’ah, menyampaikan usul agar menggunakan ‘cara-cara yang lembut’ untuk menghentikan pergerakan Rasulullah. Para tokoh kafir Makkah sepakat untuk mengubah taktik dan menyetujui usulan Utbah bin Rabi’ah.

Utbah bin Rabi’ah merupakan pemuka Bani Abdus Syam. Dia adalah cucu dari Abd Syam, saudara Hasyim (buyut Rasulullah). Utbah dikenal sebagai pribadi yang bijaksana, cerdas, ramah, dan bisa bekerjasama dengan musuh. Oleh karenanya, ketika Utbah menawarkan diri untuk menjalankan strategi baru itu, maka para tokoh kafir Quraisy mengamininya.

Singkat cerita, Utbah bin Rabi’ah lalu menemui Rasulullah yang saat itu tengah berada di dalam kawasan Ka’bah. Ia mendekat dan duduk di samping Rasulullah. Pada kesempatan itu, Utbah langsung melancarkan strateginya yaitu memberikan beberapa iming-iming atau penawaran kepada Rasulullah. Sebagai imbalannya, Rasulullah harus menghentikan dakwahnya.  

Ada empat penawaran yang diberikan Utbah kepada Rasulullah. Pertama, harta. Jika Rasulullah menginginkan harta, maka Utbah dan para tokoh Makkah akan memberikan semua hartanya sehingga beliau menjadi orang terkaya di Makkah. Kedua, kemuliaan. Para pembesar Makkah juga siap menjadikan Rasulullah sebagai orang yang paling mulia diantara mereka, jika beliau menghendakinya. Ketiga, kerajaan. Jika yang diminta Rasulullah adalah kerajaan, maka mereka siap menjadikannya sebagai raja mereka. Keempat, obat paling mujarab. Mereka juga siap menyiapkan obat dan tabib yang paling ‘tokcer’ manakala Rasulullah tertimpa penyakit yang tidak bisa diobati sendiri.

Rasulullah mendengarkannya secara seksama. Setelah menyampaikan beberapa iming-imingan tersebut, Utbah bin Rabi’ah terdiam. Rasulullah bergeming dengan semua iming-iming yang ditawarkan Utbah tersebut. Beliau tidak menginginkan dan tidak tertarik sama sekali dengan semua tawaran yang diiming-imingkan Utbah. Rasulullah lantas bertanya kepada Utbah.

“Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Abul Walid?” tanya Rasulullah, sebagaimana dikutip dari buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012). 

Beliau sengaja memanggil Utbah dengan Abul Walid karena itu adalah sapaan penghormatan. Utbah mengangguk dan menjawab “Iya, sudah selesai.”

Rasulullah kemudian meminta Utbah mendengarkan perkataannya. Lalu Rasulullah membacakan QS. Fushshilat ayat 1-14. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah membaca QS Fushshilat hingga ayat ke-38 ketika Utbah memintanya untuk menghentikan bacaannya, lalu kemudian Rasulullah sujud kepada Allah.

Melalui ayat-ayat itu, Rasulullah hendak menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah bertugas untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada seluruh umat manusia. Mereka akan selamat jika mengikuti Rasulullah. Sebaliknya, mereka akan celaka jika menentangnya. 

“Apakah engkau telah dengar, wahai Abul Walid?”

“Iya, sudah,” kata Utbah.

“Jika demikian, silahkan engkau bebas memilih,” kata Rasulullah.

Setelah itu, Utbah bin Rabi’ah langsung menemui pemuka kaum musyrik Makkah. Di hadapan para pembesar musyrik Makkah, Utbah mengaku takjub dengan kata-kata yang disampaikan Rasulullah. Ia tahu jika itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan perdukunan. Ia kemudian meminta para elit musyrik Makkah meninggalkan Rasulullah, tidak mengganggunya lagi.

“Demi Allah, engkau telah disihir dengan kalimat-kalimatnya,” kata para pemuka musyrik Makkah itu kepada Utbah.

“Itu lah pendapatku, maka lakukan lah apa yang kalian hendak lakukan,” jawab Utbah. (A Muchlishon Rochmat)