IMG-LOGO
Ubudiyah

Kepada Satu Orang, Kenapa Assalamualaikum bukan Assalamualaika?

Kamis 17 Januari 2019 18:0 WIB
Share:
Kepada Satu Orang, Kenapa Assalamualaikum bukan Assalamualaika?
Ilustrasi (via ubrain.net)
Di dalam bahasa Arab penggunaan kata ganti (dlamîr) diatur sedemikian rupa. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang cukup simpel dalam penggunaan kata ganti, di dalam bahasa Arab penggunaan kata ganti cukup rumit dan detail. Bahasa Arab tidak hanya mengatur kata ganti dari sisi orang pertama, kedua dan ketiga saja, namun juga mengaturnya dari sisi jenis kelamin dan jumlahnya.

Sebagai contoh bila di dalam bahasa Indonesia kata ganti orang kedua baik berjenis kelamin laki-laki atau perempuan semuanya disebutkan dengan kata “kamu” maka di dalam bahasa Arab kata ganti orang kedua ini masih perlu dilihat jenis kelamin dan jumlahnya. Umpama kata ganti orang kedua dengan jenis kelamin laki-laki dan berjumlah satu orang adalah anta, sedang bila perempuan anti. Bila berjumlah dua orang maka antumâ baik laki-laki maupun perempuan, dan bila berjumlah lebih dari dua orang maka antum untuk laki-laki dan antunna untuk perempuan. Ini kalau kata ganti itu berlaku bukan sebagai objek.

Sedangkan bila berlaku sebagai objek maka untuk menunjukkan orang kedua laki-laki dengan jumlah satu orang kata gantinya adalah ka, kumâ untuk dua orang, dan kum untuk lebih dari dua orang atau jamak. Sedangkan untuk perempuan kata ganti ki untuk satu orang, kumâ untuk dua orang, dan kunna untuk lebih dari dua orang atau jamak.

Lalu bagaimana dengan kalimat salam yang selama ini digunakan, bahwa kepada berapa orang pun kita bersalam yang digunakan adalah kata ganti orang kedua jamak? Mengapa ketika kita bersalam kepada satu orang tetap menggunakan kata ‘alaikum, bukan ‘alaika yang menunjukkan makna tunggal?

Mengenai hal ini Syekh Muhammad Nawawi Banten memberikan penjelasannya. Menurutnya bila kita menemui seseorang maka kita dianjurkan beruluk salam kepadanya dengan kalimat salâmun ‘alaikum bukan salâmun ‘alaika. Ini dikarenakan ketika berhadapan dengan satu orang dan beruluk salam kepadanya dengan kata ‘alaikum, bukan ‘alaika, maka salam itu kita maksudkan dan tujukan kepada satu orang itu beserta dua malaikat yang mendampinginya. Artinya salam itu bukan saja untuk orang yang dihadapi tapi juga untuk dua malaikat pendampingnya.

Mengapa mesti dimaksudkan demikian?

Lebih lanjut Syekh Nawawi menjelaskan, ketika seseorang beruluk salam kepada kedua malaikat itu maka keduanya akan membalas salam tersebut. Artinya orang yang bersalam itu didoakan keselamatan oleh kedua malaikat yang ia salami. Dan barangsiapa yang disalami atau didoakan keselamatan oleh malaikat maka ia akan selamat dari siksa Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan ini disampaikan oleh Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd atau yang juga dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr. Beliau menuturkan:

وإذا استقبلك واحد فقل: سلام عليكم واقصد الرجل والملكين فإنك إذا سلمت عليهما ردا السلام عليك ومن سلم الملك عليه فقد سلم من عذاب الله

Artinya: “Apabila satu orang menghadapmu maka ucapkanlah 'salâmun ‘alaikum' dan niatilah salam itu untuk satu orang tersebut dan dua orang malaikat (yang mendampinginya). Karena bila engkau bersalam kepada kedua malaikat itu maka keduanya akan membalas salammu dan barangsiapa yang disalami oleh malaikat maka ia selamat dari siksa Allah.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut: Darul Fikr, 2007], juz I, hal. 181)

Atas penjelasan Syekh Nawawi ini KH. Subhan Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Luwungragi Brebes dan juga Rais Syuriyah PBNU, mengajarkan agar ketika seseorang akan bepergian hendaknya sebelum mengendarai kendaraannya ia mengucapkan salam terlebih dahulu kepada anggota keluarganya. 

Apa yang disampaikan oleh Kiai Subhan ini bisa dimengerti bahwa dengan bersalam kepada keluarga sebelum bepergian maka diharapkan para malaikat akan ikut membalas salamnya yang berarti mendoakan keselamatan baginya sehingga ia terhindar dari berbagai mara bahaya selama dalam perjalanan. Wallâhu a’lam

(Ustadz Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Selasa 11 Desember 2018 1:0 WIB
Empat Anjuran Syekh Abdul Qadir saat Berdoa
Empat Anjuran Syekh Abdul Qadir saat Berdoa
(Foto: @istock)
Doa merupakan media komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Melalui doa seluruh keluh kesah dan harapan manusia diutarakan. Doa sekaligus menunjukan ketundukkan dan kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Maha Kuasa. Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan,” (Surat Al-Ghafir ayat 60).

Pada hakikatnya berdoa bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Akan tetapi, alangkah baiknya doa dilakukan pada waktu-waktu yang disunnahkan untuk berdoa.

Salah satunya adalah berdoa setelah mengerjakan shalat lima waktu dan shalat sunnah karena doa termasuk bagian dari ibadah, maka ada beberapa hal yang disunnahkan pada saat berdoa.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Ghunyatul Thalibin menjelaskan:

أن يمد يديه ويحمد الله تعالى ويصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يسأله الله حاجته ولا ينظر إلى السماء في حاله دعائه، وإذا فرغ يديه مسح يديه على وجهه، لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: سلوا الله ببطون أكفكم

Artinya, “Dianjurkan pada saat berdoa membentangkan kedua tangan, mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian baru setelah itu mengutarakan permintaan dan permohonan. Jangan menghadap langit pada saat berdoa. Ketika selesai berdoa usaplah kedua tangan ke wajah. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berkata, ‘Mintalah kepada Allah dengan batin telapak tangan.’”

Dari penjelasan Syekh Abdul Qadir di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat berdoa:

Pertama, membentangkan kedua telepak tangan pada saat berdoa, seperti orang yang sedang memohon dan meminta.

Kedua, awali doa dengan pujian terhadap Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pujian itu sebagai ungkapan bahwa manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki daya dan kuasa di hadapan Allah SWT.

Ketiga, setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad baru utarakan permintaan dan permohonan kepada Allah SWT, sembari menunduk dan jangan menghadap ke langit.

Keempat, selesai berdoa usaplah wajah dengan dua telapak tangan.

Pada saat membentangkan kedua telapak tangan, hendaklah batin telapak tangan menghadap ke atas, seperti halnya orang meminta. Dalam hadits disebutkan, “Mintalah dengan batin telapak tangan” (HR Abu Dawud), maksudnya adalah berdoa dengan batin telapak tangan ke atas sebagai simbol yang berharap dan memohon. Tapi kalau menolak simbolnya adalah punggung telapak tangan yang menghadap ke atas.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan, kalau doa yang berisi harapan dan permohonan, batin telapak tangan menghadap ke atas. Tapi kalau isi doa mengandung penolakan terhadap bencana dan sesuatu yang buruk lainnya, dianjurkan membalik telapak tangan: punggung tangan menghadap ke atas. Wallahu a’lam.

(Ustadz Hengki Ferdiansyah Lc. MA.)
Senin 3 Desember 2018 18:45 WIB
Jangan Lakukan Semua Ibadah di Masjid
Jangan Lakukan Semua Ibadah di Masjid
Ilustrasi (via Pinterest)
Masjid merupakan tempat yang sangat mulia. Banyak ibadah yang mempunyai nilai lebih jika dilakukan di masjid. Ada beberapa ibadah yang memang dianjurkan atau sunnah jika dilaksanakan di masjid seperti jamaah shalat maktûbah (shalat wajib lima waktu), shalat tahiyyatul masjid, i'tikaf, dan lain sebagainya. 

Walaupun masjid merupakan tempat mulia, tidak semua ibadah afdlal dilakukan di masjid. Ada sebagian ibadah yang sebaiknya malah jangan dilakukan di masjid. Di antara hikmah yang terkandung, apabila ibadah sunah dilakukan di dalam rumah, tersembunyi dari pandangan masyarakat sehingga aman dari riya’ (pamer). 

Dalam hadits riwayat Zaid bin Tsabit, Rasulullah ﷺ bersabda: 

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْجَمَاعَةَ

Artinya: “Lakukan selalu shalat di dalam rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah ketika dilaksanakan di rumahnya sendiri kecuali shalat jamaah. (Sunan Ad-Dârimî: 1406)

Melakukan ibadah-ibadah di rumah cukup penting. Karena jika semua ibadah di masjid, rumah akan menjadi kering. Jauh dari nilai-nilai barakah dari intisari ibadah yang dilakukan. Sehingga jika ibadah dilakukan di dalam suatu rumah, rumah akan didatangi malaikat yang baik-baik. 

Sayyidah Aisyah mengaku bahwa Rasulullah Muhammad ﷺ pernah mendaras Al-Qur’an di pangkuan Sayyidah Aisyah. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, lazimnya orang haid itu tidak berada di masjid, namun di rumah. Artinya, di sini Rasulullah mendaras Al-Qur’an berada di rumah Beliau sendiri. Kata Aisyah “Rasulullah ﷺ tiduran di pangkuanku padahal aku sedang haid, kemudian Rasulullah membaca Al-Qur’an.” (HR Bukhari: 297)

Selain hadits di atas, Rasulullah juga berpesan agar rumah-rumah kita tidak dijadikan kuburan. Rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an tidak ada sinarnya sama sekali. Nur (cahaya) kosong, sehingga gelap gulita, tanpa ada pelita di dalam rumah itu. Kalau gelap, setan akan betah di rumah itu. Namun apabila dibacakan Al-Qur’an, setan akan lari. Hadits riwayat Abu Hurairah meyebutkan sabda Rasulullah ﷺ: 

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Artinya: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan Surat al-Baqarah.” (HR Muslim: 780)

Dalam hadits lain riwayat al-Baihaqiy, Rasulullah berpesan:
 
نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ 

Artinya: “Terangilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan membaca al-Quran.” (HR: al-Baehaqi)

Baca juga:
Amalan Menempati Rumah Baru
Tips Rumah Tangga Langgeng Dunia-Akhirat
Menyinari rumah dengan ibadah, juga supaya kita tidak terjebak menjadi orang yang aneh sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanbîhul Ghâfilîn, halaman 422, hadits riwayat Muadz yang menyebutkan, terdapat tiga hal yang aneh terjadi di dunia ini. 

Pertama, Al-Qur’an dalam hafalan orang yang zalim. Kedua, lelaki baik (shalih) yang hidup di dalam komunitas orang-orang yang buruk. Yang ketiga, mushaf di dalam sebuah rumah namun tidak pernah dibaca. 

Dengan demikian, rumah sangat penting dibuat melakukan ibadah-ibadah seperti shalat dan membaca Al-Qur’an. Jangan lakukan semua ibadah di masjid. Sebagian di masjid sesuai porsinya dan di rumah sesuai porsinya. Jangan sampai kita rajin di masjid untuk melakukan ibadah, lalu mengabaikan keteduhan spiritual rumah kita. Jangan-jangan gara-gara suasana gersang itu, rumah kita kadang berisi pertengkaran dan ketidaktenangan? Wallâhu a’lam

(Ahmad Mundzir) 


Rabu 28 November 2018 12:0 WIB
Mana Lebih Baik, Baca Al-Qur’an dengan Keras atau Lirih?
Mana Lebih Baik, Baca Al-Qur’an dengan Keras atau Lirih?
Ilustrasi (thenational.ae)
Rasulullah ﷺ telah menjanjikan pahala bagi orang yang giat membaca Al-Qur’an. Sebagaimana definisi Al-Qur’an, yaitu al-muta‘abbad li tilâwatih (bernilai ibadah bagi orang yang membacanya). Namun, terkait cara membacanya, beberapa orang memiliki perbedaan selera. Ada yang suka membaca dengan lirih ada juga yang membacanya dengan kencang. 

Ada beberapa alasan yang mungkin terjadi, orang yang membaca lirih merasa suaranya kurang bagus, sehingga ia malu menunjukkan suaranya. Atau bisa juga ia membaca lirih karena khawatir mengganggu orang lain.

Sedangkan bagi orang yang mengeraskan bacaanya, mungkin, mereka berpikir jika mengencangkan baca Al-Qur’an akan mendukung syiar Islam, atau bisa jadi karena suaranya cukup bagus, sehingga ia merasa nyaman membaca Al-Qur’an dengan keras.

Lalu, mana yang lebih baik, bacaan keras atau lirih?

Menurut Imam an-Nawawi, baik bacaan keras atau lirih, masing-masing memiliki dasar dan keutamaan yang bisa dipertanggungjawabkan. Hanya saja, menurut Imam an-Nawawi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni membaca Al-Qur’an dengan lirih lebih baik daripada membaca Al-Qur’an dengan keras, karena hal itu jauh dan terbebas dari sikap riya’.

والجمع بينهما أن الإسرار أبعد من الرياء ، فهو أفضل في حق من يخاف ذلك  

Artinya, “(Imam an-Nawawi menyebutkan) untuk mengompromikan antara dasar keutamaan membaca Al-Qur’an dengan keras dan dasar membaca dengan lirih, maka sesungguhnya membaca Al-Qur’an dengan lirih, lebih jauh dari riya’. Juga lebih utama bagi orang yang takut melakukan riya’ (jika membacanya dengan keras).” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar Kutub, 2004], j. 1, h. 166.)

Namun, menurut Imam an-Nawawi, bagi orang yang tidak khawatir bahwa dirinya akan melakukan perbuatan riya’, maka membaca dengan keras lebih utama, asalkan tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau orang yang sedang istirahat.

فإن لم يخف الرياء ، فالجهر أفضل ، بشرط أن لا يؤذي غيره من مصل ، أو نائم أو غيرهما.

Artinya, “Jika tidak takut terjadi riya’, maka membaca Al-Qur’an dengan suara keras lebih utama, dengan syarat tidak mengganggu orang lain, baik itu orang yang shalat, orang yang sedang tidur atau yang lain.” (Muhyiddin an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar Kutub, 2004], j. 1, h. 166.)

Oleh karena itu, jika membaca Al-Qur’an dengan keras hanya membuat kita merasa diri kita paling baik di antara yang lain, atau suara kita bagus agar orang lain memuji kita dan lain sebagainya, maka lebih baik membaca dengan lirih. 

Namun, jika hati kita tidak memiliki keinginan demikian, maka lebih baik dibaca dengan keras, karena menurut Imam an-Nawawi, membaca Al-Qur’an dengan keras dapat menggugah semangat orang lain agar melakukan hal serupa, yakni membaca Al-Qur’an, juga dapat meresap di hati orang yang membacanya, daripada dibaca dengan lirih. Juga yang paling penting, dapat memberi semangat orang lain yang sedang tidur atau malas-malasan. 

Tidur dalam hal ini berbeda dengan tidur yang dimaksud dalam larangan di atas. Tidur dalam hal ini adalah tidur yang tidak pada tempatnya, misalnya tidur pada waktu-waktu produktif. Justru dianjurkan untuk dibaca dengan keras agar dapat membangunkan orang yang tidur pada waktu kerja sehingga bisa kerja dan menggunakan waktunya dengan hal yang bermanfaat.

Hal ini berbeda dengan orang yang tidur pada waktunya, atau tidur karena kecapekan bekerja. Dalam kondisi ini, kita dilarang membaca Al-Qur’an dengan keras sehingga dapat mengganggu waktu istirahat orang tersebut.

Wallahu a’lam.

(Muhammad Alvin Nur Choironi)