IMG-LOGO
Trending Now:
Jumat

Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah

Jumat 18 Januari 2019 10:0 WIB
Share:
Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah
Ilustrasi (via suffnetrucuter.tk)
Dalam khutbah, di samping ada beberapa anjuran bagi khatib, juga terdapat beberapa anjuran bagi para pendengarnya. Apa saja adab (etika) saat mendengarkan khutbah? Berikut ini penjelasannya.

Adab pertama, menghadap khatib.
Jamaah dianjurkan untuk menghadap khatib dengan wajahnya. Ada dua alasan kenapa hal ini dianjurkan. Pertama, karena menjalankan etika berkomunikasi. Kedua agar jamaah memperoleh keutamaan menghadap kiblat. Syekh Zakariya Al-Anshari mengatakan:

ـ (وينبغي) أي يستحب للقوم السامعين وغيرهم (أن يقبلوا عليه) بوجوههم ؛ لأنه الأدب ولما فيه من توجههم القبلة

Artinya, “Seyogianya, maksudnya disunahkan bagi jamaah yang mendengarkan dan selainnya, menghadap khatib dengan wajah mereka karena sebagai bentuk etika dan agar mereka dapat menghadap kiblat,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 258).

Adab kedua, diam dan mendengarkan
Jamaah disunahkan untuk diam dan mendengarkan secara seksama pesan khutbah yang disampaikan khatib. Anjuran ini berlandaskan firman Allah:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Apabila dibacakan Al-Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,” (Surat Al-A’raf, ayat 204).

Menurut mayoritas pakar tafsir, ayat tersebut turun saat menjelaskan khutbah Jumat. Ada dua kata anjuran dalam ayat di atas. Pertama “al-istima’”. Kedua “al-inshat”. Al-istima’ adalah menyibukkan telinga dengan mendengarkan khutbah. Sedangkan al-inshat artinya diam.

Syekh Zakariya Al-Anshari mengatakan:

و أن (ينصتوا ويستمعوا) قال تعالى {وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا} ذكر كثير من المفسرين أنه ورد في الخطبة وسميت قرآنا لاشتمالها عليه

Artinya, “Dan sunah bagi mereka untuk memperhatikan dan mendengarkan khutbah. Allah ﷻ berfirman, Dan apabila dibacakan Al-Qur'an (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang. Mayoritas pakar tafsir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun dalam persoalan khutbah, disebut dengan Al-Quran, karena khutbah memuat ayat Al-Qur'an.”

قال في الأصل والإنصات السكوت والاستماع شغل السمع بالسماع انتهى فبينهما عموم وخصوص من وجه

Artinya, “Berkata dalam kitab asal, al-inshat adalah diam. Sedangkan al-istima’ adalah menyibukkan pendengaran dengan mendengarkan khutbah. Maka di antara keduanya terdapat sisi umum dan khusus dari satu sudut pandang,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 258).

Adab ketiga, menghindari hal-hal yang dapat melalaikan khutbah.
Saat khutbah berlangsung, jamaah hendaknya tidak mengobrol, bermain gadget, bergurau dan hal-hal lain yang dapat menghilangkan fokus dalam menyimak khutbah. Oleh karenanya, Nabi melarang orang yang bebicara saat khutbah berlangsung. Nabi bersabda:

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya, “Jika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna),” (HR Muslim).

Berkaitan dengan larangan melakukan aktivitas yang melalaikan khutbah, Syekh Sulaiman Al-Jamal mengatakan:

ويكره المشي بين الصفوف للسؤال ودوران الإبريق والقرب لسقي الماء وتفرقة الأوراق والتصدق عليهم ؛ لأنه يلهي الناس عن الذكر واستماع الخطبة ا هـ . برماوي .

Artinya, “Makruh berjalan di antara shaf untuk meminta-minta, mengedarkan kendi atau geriba untuk memberi minuman, membagikan kertas dan bersedekah kepada jamaah, sebab hal tersebut dapat melalaikan manusia dari zikir dan mendengarkan khutbah,” (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, juz II, halaman 36).

Adab keempat, berdoa di dalam hati
Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat mujarab untuk dibuat berdoa. Ulama mengistilahkan waktu tersebut dengan “Sa’atul Ijabah” (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Artinya, “Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat, ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar,” (HR Al-Bukhari).

Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik, sampai salamnya imam jamaah shalat Jumat.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:

ساعة الإجابة هي ما بين أن يجلس الإمام على المنبر أول صعوده إلى أن يقضي الإمام الصلاة ثبت هذا في صحيح مسلم من كلام رسول الله صلى الله عليه و سلم من رواية أبي موسى الأشعري وقيل فيها اقوال كثيرة مشهورة غير هذا اشهرها أنها بعد العصر والصواب الأول

Artinya, “Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik, hingga imam shalat Jumat menyelesaikan shalatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Shahih Muslim dari sabda Nabi, riwayatnya Sahabat Abi Musa Al-Asy’ari. Pendapat lain mengatakan, ada beberapa versi yang banyak dan masyhur selain pendapat yang pertama. Yang paling masyhur adalah setelah Ashar hari Jumat. Pendapat yang benar adalah yang pertama,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Tahriru Alfazhit Tanbih, juz I, halaman 87).

Waktu ijabah yang dimaksud sangat sebentar. Oleh karenanya bagi jamaah dianjurkan untuk berdoa di dalam hati selama khutbah berlangsung, dengan harapan bisa menemui waktu ijabah tersebut. Berdoa saat khutbah berlangsung tidak perlu diucapkan dengan lisan, namun cukup dihadirkan di dalam hati, sehingga hal tersebut tidak bertentangan dengan anjuran diam saat khutbah berlangsung.

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjawab sebagai berikut.

وَسُئِلَ الْبُلْقِيْنِيُّ كَيْفَ يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ فِيْ حَالِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِالْإِنْصَاتِ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الدُّعَاءِ اّلتَّلَفُّظُ بَلِ اسْتِحْضَارُ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ كَافٍ فِيْ ذَلِكَ

Artinya, “Imam Al-Bulqini ditanya. ‘Bagaimana mungkin jamaah Jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab, ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup,’” (Lihat Syekh Mahfuzh Termas, Hasyiyatut Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, [Jeddah, Darul Minhaj: 2011 M], cetakan pertama, juz 4, halaman 344).

Adab kelima, mendoakan jamaah yang bersin
Saat jamaah mendengar orang yang bersin dan ia mengucapkan hamdalah, maka sunah untuk mendoakannya. Mendoakan orang yang bersin adalah dengan berkata “Yarhamukallah” (semoga Allah merahmatimu). Demikian pula sunah bagi jamaah yang bersin untuk mendoakan balik orang yang mendoakannya, dengan ucapan “Yahdikumullah wa yushlihu balakum” (Semoga Allah menunjukanmu dan memperbaiki keadaanmu). Anjuran ini sebagaimana dijelaskan oleh beberapa hadits Nabi.

Adab keenam, membaca shalawat ketika khatib menyebut nama atau sifat Nabi
Saat Khatib menyebut nama atau sifat Nabi, semisal ketika khatib membaca “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad”, maka jamaah dianjurkan untuk membaca shalawat. Bacaan shalawat tersebut dianjurkan tidak terlalu keras agar tidak mengganggu keberlangsungan khutbah.

Adab ketujuh, mendoakan taraddhi untuk para sahabat ketika nama mereka disebut
Di bagian akhir khutbah kedua, biasanya khatib menyebut para nama sahabat seperti Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Maka, ketika mendengar nama mereka, jamaah disunahkan membaca taraddhi, yaitu mendoakan ridla untuk mereka, contohnya “Radliyallahu ‘anhum” (Semoga Allah meridhai mereka).

Adab kedelapan, mengamini doanya khatib
Ketika khatib berdoa, jamaah dianjurkan untuk membaca “Amin”. Anjuran membaca “amin” dan taraddhi sebaiknya dilakukan tidak dengan suara yang keras agar tidak mengganggu.

Syekh Zainuddin Al-Malibari mengatakan:

ويسن تشميت العاطس والرد عليه ورفع الصوت من غير مبالغة بالصلاة والسلام عليه صلى الله عليه وسلم عند ذكر الخطيب اسمه أو وصفه صلى الله عليه وسلم  قال شيخنا ولا يبعد ندب الترضي عن الصحابة بلا رفع صوت  وكذا التأمين لدعاء الخطيب  اه

Artinya, “Sunah mendoakan orang yang bersin dan baginya sunah membalas mendoakan. Demikian pula sunah mengeraskan suara dengan tidak berlebihan, dengan bacaan shalawat dan salam kepada Nabi ketika khatib menyebut nama atau sifat Nabi. Guruku berkata, tidak jauh dari kebenaran kesunahan membaca taraddli untuk para sahabat tanpa mengeraskan suara, demikian pula sunah mengamini doanya khathib,” (Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in Hamisy I’anatut Thalibin, juz II, halaman 99).

Demikianlah delapan adab saat mendengarkan khotbah. Semoga kita bisa mengamalkannya.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Share:
Jumat 4 Januari 2019 15:0 WIB
Hukum Shalat Jumat di Mushalla, Bukan di Masjid
Hukum Shalat Jumat di Mushalla, Bukan di Masjid
Ilustrasi (via Pinterest)
Di beberapa tempat, shalat Jumat tidak didirikan di masjid. Keterbatasan dana pembangunan masjid menjadi alasan mereka menunaikan Jumatan di mushala. Ada anggapan dari sebagian kalangan bahwa Jumat harus dilaksanakan di masjid. Sehingga menjadi tidak sah bila pelaksanaan Jumat dilakukan di mushala. Sebenarnya, sahkah shalat Jumat di mushala?

Menurut mazhab Syafi’i, tidak ada persyaratan bahwa Jumat wajib dilakukan di masjid. Shalat Jumat bisa dilaksanakan di mana saja. Bisa di masjid, mushala, surau atau lapangan, asalkan masih dalam batas wilayah pemukiman warga.

Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengatakan:

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُعْقَدَ الْجُمُعَةُ فِي رُكْنٍ أَوْ مَسْجِدٍ بَلْ يَجُوْزُ فِي الصَّحْرَاءِ إِذَا كاَنَ مَعْدُوْداً مِنْ خِطَّةِ الْبَلَدِ فَإِنْ بَعُدَ عَنِ الْبَلَدِ بِحَيْثُ يَتَرَخَّصُ الْمُسَافِرُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهِ لَمْ تَنْعَقِدْ اَلْجُمُعَةُ فِيْهَا

“Jumat tidak disyaratkan dilakukan di surau atau masjid, bahkan boleh di tanah lapang apabila masih tergolong bagian daerah pemukiman warga. Bila jauh dari daerah pemukiman warga, sekira musafir dapat mengambil rukhshah di tempat tersebut, maka Jumat tidak sah dilaksanakan di tempat tersebut.” (Imam al-Ghazali, al-Wasith, juz 2, hal. 263, Kairo, Dar al-Salam, cetakan ketiga tahun 2012).

Sedangkan menurut mazhab Maliki, Jumat wajib dilaksanakan di masjid. Maka menjadi tidak sah pelaksanaan Jumat di selain masjid, seperti mushala. Syekh al-Baji dari kalangan Malikiyyah memberikan syarat lebih ketat lagi, bahwa Jumat harus dilaksanakan di masjid yang masih berbentuk bangunan layaknya arsitektur masjid. Sehingga bila masjid roboh berpuing-puing, maka tidak sah melaksanakan Jumat di tempat tersebut. Pendapat al-Baji tidak disetujui Syekh Ibnu Rusydi. Menurut Ibnu Rusydi, Jumatan di masjid yang roboh tetap sah, sebab statusnya tetap masjid, baik dari sisi penamaan dan hukumnya.

Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abu Abdillah Muhammad bi Yusuf al-Abdari al-Mawaq sebagai berikut:

ـ (وَبِجَامِعٍ) ابْنُ بَشِيرٍ : الْجَامِعُ مِنْ شُرُوطِ الْأَدَاءِ ابْنُ رُشْدٍ : لَا يَصِحُّ أَنْ تُقَامَ الْجُمُعَةُ فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ مَبْنِيٍّ 

“Dan disyaratkan pelaksanaannya di masjid Jami’. Syekh Ibnu Basyir berkata, masjid Jami’ merupakan salah satu beberapa syarat pelaksanaan Jumat. Syekh Ibnu Rusydi berkata, tidak sah mendirikan Jumat di selain masjid yang dibangun.”

 الْبَاجِيُّ : مِنْ شُرُوطِ الْمَسْجِدِ الْبُنْيَانُ الْمَخْصُوصُ عَلَى صِفَةِ الْمَسَاجِدِ فَإِنْ انْهَدَمَ سَقْفُهُ صَلَّوْا ظُهْرًا أَرْبَعًا

“Syekh al-Baji berkata, di antara syaratnya masjid yang dijadikan tempat Jumat adalah bangunan khusus yang sesuai sifatnya masjid. Maka, bila atapnya masjid roboh, jamaah berkewajiban shalat zhuhur empat rakaat.”

 ابْنُ رُشْدٍ : هَذَا بَعِيدٌ ، لِأَنَّ الْمَسْجِدَ إذَا انْهَدَمَ بَقِيَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ التَّسْمِيَةِ وَالْحُكْمِ، وَإِنْ كَانَ لَا يَصِحُّ أَنْ يُسَمَّى الْمَوْضِعُ الَّذِي يُتَّخَذُ لِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ مَسْجِدًا قَبْلَ أَنْ يُبْنَى وَهُوَ فَضَاءٌ

“Ibnu Rusydi berkata, pendapat al-Baji ini jauh dari kebenaran. Sebab bila masjid rubuh, penamaan dan hukumnya masih tetap. Meski tidak sah menamakan tempat yang hendak dibangun masjid sebagai masjid sebelum dibangun. Tempat tersebut disebut dengan tanah lapang.” (Syekh Abu Abdillah Muhammad bi Yusuf al-Abdari al-Mawaq, al-Taj wa al-Iklil, juz 2, hal. 237).

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat Jumat di mushala. Simpulannya, persoalan ini tergolong hal yang diperselisihkan di antara ulama. Sehingga pelaksanaan Jumat di sebagian tempat di mushala sudah benar dan tidak perlu diingkari. Meski bila ditilik dari pertimbangan keutamaan, lebih baik dilaksanakan di masjid, untuk keluar dari ikhtilaf (perbedaan pendapat) ulama.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 4 Januari 2019 5:30 WIB
Jumatan adalah Hajinya Orang-orang Fakir
Jumatan adalah Hajinya Orang-orang Fakir
Keutamaan shalat Jumat tidak diragukan lagi. Banyak beberapa dalil yang  menjelaskannya. Salah satunya adalah yang menyebutkan bahwa shalat Jumat adalah hajinya orang-orang fakir. Apa maksud dari keutamaan ini? Bagaimana status riwayatnya?

Hadits mengenai Jumat sebagai hajinya orang-orang fakir diriwayatkan oleh al-Qadla’i dan ibnu Asakir dari Ibnu Abbas dengan redaksi:

الجمعة حج الفقراء

“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir.”

Menurut pakar hadits, Syekh Abdurrauf al-Manawi, hadits tersebut tergolong lemah riwayatnya. Al-Manawi menegaskan:

رواه القضاعي وابن عساكر عن ابن عباس بإسناد واه

“Hadits riwayat al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah.” (Abdurrauf al-Manawi, al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 995).

Meski tergolong lemah riwayatnya, namun tetap bisa diamalkan, karena berkaitan dengan keutamaan amaliah (fadlail al-a’mal), bukan dalam konteks penetapan hukum.

Baca juga:
Dalil Keutamaan Hari Jumat
Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?
Menurut al-‘Amiri, sebagaimana dikutip Syekh Abdurrauf al-Manawi, maksud dari hadits tersebut adalah, bahwa orang yang rajin beribadah Jumat yang sangat berharap bisa berangkat haji, namun terkendala biaya, Allah memberinya pahala sebagaimana pahala haji atas kemauan yang ia miliki. Menurut al-Amiri, hal ini senada dengan hadits lain tentang keutamaan niat berjihad, saat suatu kelompok punya tekad yang kuat untuk berjihad, ia tidak dapat hadir berperang karena tertimpa udzur, mereka tetap mendapat pahala sebagaimana pasukan yang ikut berperang.

Al-Manawi menegaskan:

ـ (الجمعة حج الفقراء) قال العامري : لما عجز المسكين عن مال الحج أو ضعف وكان يتمناه بقلبه نظر الكريم إلى تحسره فأعطاه ثواب الحج بقصده على منوال خبر إن بالمدينة أقواما ما قطعتم واديا إلا وقد سبقوكم إليه حبسهم العذر 

“Jumat adalah hajinya orang-orang fakir. Al-Amiri berkata, saat orang miskin tidak mampu dari biaya haji atau terkendala lemah fisik, dan ia berkeinginan berangkat haji di dalam hatinya, maka Allah sang maha dermawan melihat kesedihannya, maka Allah memberinya pahala seperti pahala haji atas niat baiknya. Hal ini sesuai dengan anugerah yang diterangkan dalam hadits, sesungguhnya di Madinah terdapat beberapa kaum yang kalian tidak menempuh jurang kecuali mereka mendahului kalian di dalamnya. Mereka tertahan oleh udzur.”  (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 3, hal. 474).

Pandangan berbeda diutarakan Syekh Ihsan bin Dakhlan. Menurut beliau, pahala berjumatan memang sangat besar, saking besarnya sehingga disandingkan dengan pahala haji. Namun, pahala haji tetap lebih besar dari pada Jumat. Sehingga menurut beliau, penyerupaan Jumat dengan haji adalah dari sisi sama-sama memiliki pahala yang besar, meski kadar pahalanya terdapat selisih. Ulama asal Jampes Kediri tersebut menegaskan:

يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ. 

“Maksudnya, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat.” (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz 1, hal. 282, cetakan Ponpes Jampes Kediri, tt).

Keutamaan pahala Jumat disandingkan dengan haji bukan berarti menyimpulkan ibadah haji bisa digantikan dengan Jumat. Bagi orang yang mampu, tetap berkewajiban melaksanakan haji. Penyandingan pahala dua ibadah di atas lebih mengarah kepada dorongan untuk rajin melaksanakan Jumatan.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 28 Desember 2018 8:0 WIB
Bolehkah Imam atau Khatib Jumat dari Kampung Lain?
Bolehkah Imam atau Khatib Jumat dari Kampung Lain?
Ilustrasi (wikipedia)
Di sebagian tempat, imam atau khatib Jumat dilakukan oleh orang yang bukan dari kampung setempat, namun dari kampung lain. Faktor yang melatarbelakanginya beragam, ada yang karena keterbatasan imam/khatib di daerah pelaksanaan Jumat, meratakan jatah, mengambil keberkahan dengan yang lebih senior, dan lain sebagainya. Bolehkah imam/khatib Jumat berasal dari kampung lain?

Menurut pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i, tidak ada aturan imam/khatib Jumat berasal dari kampung setempat. Yang menjadi prinsip adalah keberadaan imam/khatib adalah orang yang sah menjadi imam shalat, sebagaimana berlaku dalam shalat-shalat selain Jumat. Sehingga boleh bertindak sebagai imam/khatib Jumat, anak kecil, hamba sahaya dan musafir. Demikian pula boleh dari orang yang berdomisili sementara di tempat Jumat (muqim ghairu mustauthin).

Kebolehan imam/khatib Jumat dari luar kampung setempat disyaratkan jumlah jamaah Jumat sudah memenuhi standar minimal 40 orang yang mengesahkan Jumat, tanpa menghitung imam/khatib. Sehingga tidak sah bila jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat hanya 39 orang, sementara imam/khatib dari luar kampung pelaksanaan Jumat, sebab keberadaannya tidak dapat mengesahkan Jumat. 

Karena prinsipnya adalah sebagaimana imam shalat, maka menjadi tidak sah imam/khatib dari orang gila, non muslim dan orang yang shalatnya wajib diulang (seperti shalat dengan tayamum di tempat yang umumnya ditemukan air). Demikian pula tidak sah menjadi imam/khatib, seseorang yang tidak fasih membaca surat al-Fatihah dan dia teledor dalam belajar, kecuali bila tidak teledor, maka tetap sah.

Bila melihat kepada pertimbangan keutamaan, hendaknya imam/khatib Jumat berasal dari kampung setempat (muqim mustauthin). Sebab ada sebagian pendapat dari mazhab Syafi’i yang tidak mengesahkan imam/khatib dari luar kampung pelaksanaan Jumat. Menurut pendapat ini, imam/khatib disyaratkan harus orang yang dapat mengesahkan Jumat, yaitu muqim mustauthin (orang muqim yang permanen). Oleh sebab itu, dianjurkan untuk keluar dari ikhtilaf ini, sebagai bentuk dari pengamalan kaidah fiqh:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari ikhtilaf Ulama disunahkan.”

Penjelasan di atas merujuk kepada beberapa referensi sebagai berikut:

ـ (وتصح) الجمعة (خلف العبد والصبي والمسافر في الأظهر) أي خلف كل منهم (إذا تم العدد بغيره) لصحتها منهم كما في سائر الصلوات وإن لم تلزمهم والعدد قد وجد بصفة الكمال وجمعة الإمام صحيحة والاقتداء بمن لا تجب عليه تلك الصلاة فيها جائز

“Sah Jumat di belakang imam hamba, anak kecil dan musafir menurut pendapat al-Azhhar. Hal ini bila bilangan Jumat sempurna dengan selain imam, sebab Jumat sah dari mereka sebagaimana dalam shalat-shalat yang lain, meski mereka tidak berkewajiban Jumat. Bilangan Jumat telah wujud dengan sifat sempurna, Jumatnya imam sah. Bermakmum kepada orang yang tidak wajib melaksanakan Jumat adalah boleh.” 

 والثاني لا تصح لأن الإمام ركن في صحة هذه الصلاة فاشترط فيه الكمال كالأربعين بل أولى إلى أن قال أما إذا تم العدد بواحد ممن ذكر فلا تصح جزما

“Menurut pendapat kedua, tidak sah, sebab Imam adalah rukun dalam keabsahan shalat Jumat ini, maka disyaratkan sempurna seperti 40 Jamaah, bahkan lebih utama. Adapun bila jumlah jamaah Jumat sempurna dengan jenis imam yang telah disebutkan, maka Jumat tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat.” (Syekh al-Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 284).

Referensi yang berkaitan dengan khatib adalah sebagai berikut:

وسادسها تقدم خطبتين على الصلاة للاتباع رواه الشيخان ممن تصح خلفه الجمعة ولو صبيا زاد على الأربعين بخلاف من لا تصح خلفه كمجنون وصبي من الأربعين وكافر
 
“Syarat yang keenam, mendahuluinya dua khutbah atas shalat Jumat, karena mengikuti Nabi, sebagaimana hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim. Khutbah disyaratkan dari orang yang sah menjadi imam Jumat, meski anak kecil yang melebihi dari empat puluh jamaah. Berbeda orang yang tidak sah menjadi imam Jumat, seperti orang gila, anak kecil yang merupakan bagian dari empap puluh Jamaah dan non muslim.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Syarh al-Tahrir, juz 1, hal. 264).

Mengomentari referensi di atas, Syekh al-Syarqawi mengatakan:

ـ (قوله ممن تصح خلفه) أي صادرتين ممن تصح إلخ وهذا يفيد اعتبار كونه ممن لا تلزمه الإعادة كمتيمم على وجه لا يسقط تيممه الصلاة وكونه غير أمي قصر في التعلم فإن لم يقصر فيه صحت خطبته لصحة الصلاة خلفه وعده من الأربعين

“Ucapan Syekh Zakariyya, dari orang yang sah menjadi imam Jumat, ini memberi kesimpulan pensyaratan khatib dari orang yang tidak berkewajiban mengulang shalatnya seperti orang tayamum dalam kondisi yang tayamumnya tidak menggugurkan shalat, dan pensyaratan khatib bukan dari ummi (orang yang tidak fasih membaca al-Fatihah) yang teledor dalam belajar. Bila ia tidak teledor dalam belajar, maka sah khutbahnya, sebab sah bermakmum dengannya dan ia tergolong dari empat puluh jamaah Jumat.” (Syekh Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi, Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala Syarh al-Tahrir, juz 1, hal. 264).

Demikian penjelasan mengenai imam/khatib Jumat dari kampung lain. Semoga bermanfaat.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)