IMG-LOGO
Shalat

Hukum Shalat dengan Memakai Masker

Ahad 20 Januari 2019 6:0 WIB
Share:
Hukum Shalat dengan Memakai Masker
(Foto: @medium)
Shalat merupakan ibadah yang memiliki permasalahan yang sangat kompleks. Sejak sebelum pelaksanaan, saat pelaksanaan dan setelahnya, ada saja problematika yang menarik dipelajari hukum fiqihnya. Termasuk di antaranya adalah persoalan memakai masker. Karena pertimbangan kesehatan dan lainnya, seseorang tidak melepas maskernya saat shalat. Bagaimana hukumnya shalat memakai masker?

Agama tidak melarang penggunaan berbagai atribut yang dikenakan ketika shalat, seperti sorban, selendang, peci, sajadah dan lain sebagainya. Termasuk dalam titik ini adalah masker. Asalkan benda-benda tersebut suci, maka diperbolehkan untuk dikenakan saat shalat. Bila masker yang dipakai terkena najis, maka haram dan tidak sah shalatnya.

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani mengatakan:

ـ (و) الثاني (الطهارة عن النجاسة) أي التي لا يعفى عنها (في الثوب) أي الملبوس من كل محمول له وإن لم يتحرك بحركته وملاق لذلك 

Artinya, “Syarat yang kedua adalah suci dari najis yang tidak dimaafkan, di dalam pakaian, mencakup atribut yang dibawa, meski tidak ikut bergerak dengan bergeraknya orang yang shalat, dan disyaratkan pula suci dari najis, perkara yang bertemu dengan hal di atas,” (Lihat Syekh Nawawi Al-Bantani, Kasyifatus Saja, halaman 102).

Bila melihat pertimbangan keutamaan, sebaiknya penggunaan masker dihindari saat shalat, bila penggunaan masker dapat menghalangi terbukanya hidung secara sempurna saat melakukan sujud. Para ahli fiqih bermazhab Syafi’i menegaskan bahwa salah satu yang disunahkan ketika sujud adalah terbukanya bagian hidung secara sempurna.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan:

ـ (ويسن في السجود وضع ركبتيه) أولا للاتباع وخلافه منسوخ عل ما فيه  (ثم يديه ثم جبهته وأنفه) معا ويسن كونه (مكشوفا) قياسا على كشف اليدين ويكره مخالفة الترتيب المذكور وعدم وضع الأنف

Artinya, “Disunahkan di dalam sujud, meletakan kedua lutut untuk pertama kali, karena mengikuti Nabi. Nash hadits yang berbeda dengan anjuran ini dinaskh (direvisi) menurut suatu keterangan. Kemudian meletakan kedua tangannya, lalu dahi dan hidungnya secara bersamaan. Dan disunahkan hidung terbuka, karena dianalogikan dengan membuka kedua tangan. Makruh menyalahi urutan yang telah disebutkan, demikian pula makruh tidak meletakan hidung,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim Hamisy Hasyiyatut Tarmasi, juz III, halaman 36).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjelaskan sebagai berikut:

قوله ويسن كونه اي الانف قوله مكشوفا قياسا على كشف اليدين لم يذكر هذا القياس في التحفة، وعبارة شيخ الاسلام ثم يضع جبهته وانفه مكشوفا للاتباع رواه ابو داود وغيره الخ ومقتضى هذا رجوع الاتباع للكشف ايضا فليتأمل وليراجع

Artinya, “Ucapan Syekh Ibnu Hajar dan sunah terbukanya hidung karena dianalogikan dengan membuka tangan, Syekh Ibnu Hajar tidak menyebutkan analogi ini dalam kitab al-Tuhfah. Adapun redaksinya Syaikhul Islam Zakariyya Al-Anshari adalah, kemudian sunah meletakan dahi dan hidungnya dalam keadaan terbuka karena mengikuti Nabi. Hadits riwayat Imam Abu Daud dan lainnya. Tuntutan dari redaksi ini adalah kembalinya alasan mengikuti Nabi kepada persoalan membuka hidung juga. Berpikirlah dan periksalah kembali,” (Lihat Syekh Mahfuzh At-Tarmasi, Hasyiyah At-Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, juz III, halaman 36).

Demikian penjelasan mengenai hukum memakai masker saat shalat. Simpulannya, sebaiknya penggunaan masker dihindari bila sampai menghalangi terbukanya hidung secara sempurna ketika sujud. Solusi agar tetap mendapat keutamaan adalah, penggunaan masker tidak sampai menutupi bagian hidung, atau saat prosesi sujud, bagian hidung dibuka. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Tags:
Share:
Ahad 20 Januari 2019 20:0 WIB
Sebagian Rambut Menutupi Dahi saat Sujud, Batalkah Shalat?
Sebagian Rambut Menutupi Dahi saat Sujud, Batalkah Shalat?
Ilustrasi (via prayerinislam.com)
Sujud merupakan salah satu rukun shalat yang memiliki ketentuan khusus dalam melaksanakannya. Sebab syara’ memerintahkan pada umat islam agar saat sujud memperhatikan terhadap tujuh anggota tubuh, yang meliputi dahi, dua tangan, dua lutut dan ujung jari kedua kaki. Hal ini berdasarkan hadits:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ. وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota tubuh: dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua (telapak) tangan dan ujung-ujung dua kaki.” (HR. Baihaqi)

Sebagian ulama mengartikan penyebutan ‘hidung” dalam riwayat hadits di atas dengan memberikan hukum Sunnah untuk dilakukan pada saat sujud, berbeda halnya seperti anggota tubuh lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Sebab jika hidung juga diwajibkan, maka anggota tubuh yang wajib untuk ditempelkan di tempat salah tidak lagi tujuh, tapi menjadi delapan. (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, Juz 2, Hal. 75)

Di antara beberapa anggota sujud yang dijelaskan dalam hadits di atas, anggota yang penting untuk diperhatikan adalah dahi. Rasulullah SAW memberikan perngertian khusus dalam wajibnya menempelkan dahi pada saat sujud, hal ini dijelaskan dalam salah satu haditsnya:

إذا سجدت فمكّن جبهتك

“Ketika kamu sujud tetapkanlah keningmu (di tempat shalat).” (HR. Ibnu Hibban)

Para ulama memberi batas minimal menempelkan dahi pada tempat shalat sekiranya sebagian dahi menempel pada tempat shalat. Penjelasan ini misalnya dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj

ـ (وأقله مباشرة بعض جبهته مصلاه ) للحديث الصحيح

“Batas minimal sujud adalah sebagian dahi menyentuh pada tempat shalat. Hal ini berdasarkan hadits yang shahih.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 69)

Baca juga:
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Syarat dan Tata Cara Melakukan Sujud dalam Shalat
Menempelnya sebagian dahi pada tempat shalat, dicontohkan misalnya ketika seseorang sujud pada benda yang tidak muat untuk meliputi seluruh dahi, seperti sujud pada tongkat, atau di dahinya terhalang oleh sebagian rambut yang menutupinya, sekiranya masih terdapat bagian dari dahi yang terbuka dan menempel pada tempat sujud. Maka dalam keadaan demikian, sujudnya tetap dianggap benar dan shalatnya tetap dihukumi sah, meskipun sujud dengan cara demikian dihukumi makruh, sebab hal yang dianjurkan adalah dahi dapat menempel di tempat shalat tanpa terhalang oleh apa pun. 

Penjelasan tentang ini seperti yang dijelaskan dalam Hawasyi as-Syarwani:

قول المتن: (مباشرة بعض الجبهة) ويتصور السجود بالبعض بأن يكون السجود على عود مثلا أو يكون بعضها مستورا فيسجد عليه مع المكشوف منها ع ش ـ
قول المتن: (بعض جبهته) واكتفى ببعضها وإن كره لصدق اسم السجود بذلك نهاية ومغني.

“Perkataan kalam matan berupa ‘menyentuhnya sebagian dahi’ praktik demikian misalnya seperti sujud pada (potongan) kayu atau sebagian dahi tertutup, lalu ia sujud dengan keadaan sebagian dahi tertutup besertaan adanya bagian yang terbuka dari dahi. Hal ini dikutip oleh Syekh Ali Syibromulisi”

“Dicukupkan dengan sujud dengan sebagian dahi meskipun hal tersebut makruh, sebab penamaan sujud mencakup terhadap menempelkan sebagian dahi seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah dan Mughni.” (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, Juz 2, Hal. 69)

Maka jika terdapat sebagian rambut yang menutupi dahi pada saat sujud, maka tetap tidak berpengaruh dalam keabsahan shalatnya, selama rambut yang terurai tidak sampai menutup dahi secara keseluruhan. Hal ini biasanya sering terjadi pada laki-laki yang shalat dengan tanpa menggunakan penutup kepala seperti kopiah, sehingga rambutnya terurai di dahinya ketika saat sedang sujud. 

Berbeda halnya ketika hal demikian terjadi pada wanita, maka ketika rambutnya dibiarkan terurai di dahi saat shalat, maka shalatnya menjadi batal. Batalnya shalat ini bukan karena rambutnya menutupi dahi saat sujud, tapi karena bagi perempuan rambut merupakan aurat yang harus ditutupi ketika shalat, sehingga ketika rambut terurai di dahi, maka ia dianggap tidak menutup auratnya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)
Sabtu 19 Januari 2019 18:0 WIB
Ponsel Mendadak Berdering ketika Shalat, Bagaimana Sebaiknya?
Ponsel Mendadak Berdering ketika Shalat, Bagaimana Sebaiknya?
Ilustrasi (via usatoday.com)
Saat ini dunia tidak bisa dilepaskan dari smartphone. Pengguna ponsel pintar tidak terbatas usia dan strata sosial. Hampir semua orang memiliki, bahkan nyaris selalu membawanya, termasuk saat melaksanakan shalat. Karena lupa menonaktifkan sinyal atau mode deringnya, saat tengah-tengah shalat HP kadang mendadak berbunyi. Pertanyaan adalah, bagaimana sikap yang tepat saat di tengah-tengah shalat HP berbunyi? Apakah boleh membatalkannya?

HP berdering di pertengahan shalat tidak lepas dari dua kasus. Pertama, dalam kondisi shalat sendirian, misalkan di rumah. Kedua, dalam kondisi shalat berjamaah.

Baik saat shalat sendirian atau berjamaah, hukum membatalkan shalat karena handphone berdering pada dasarnya tidak diperbolehkan. Kecuali bila dering handphone dapat mengganggu orang tidur atau jamaah lain dalam taraf yang diharamkan. Mengganggu yang diharamkan adalah gangguan yang sampai taraf melampaui kewajaran (la yuhtamalu ‘adatan). Sedangkan gangguan yang ringan, semisal karena volume dering HP tidak terlalu keras, bukan termasuk mengganggu yang diharamkan, namun hukumnya hanya makruh.

Demikian pula termasuk kondisi yang dibolehkan memutus shalat saat HP berdering, bila shalat dilakukan di masjid dan nada dering HP adalah lagu-lagu yang tidak etis, semisal lagu yang liriknya mesum. Bunyi nada dering HP tersebut diharamkan karena termasuk merusak kehormatan masjid.

Dalam kondisi boleh membatalkan shalat karena menimbulkan unsur keharaman sebagaimana dijelaskan di atas, diperbolehkan bagi orang yang shalat membatalkan shalatnya apabila tidak memungkinkan mematikan HP tanpa memutus shalatnya. Bila masih memungkinkan, maka wajib mematikan dering HP dan tetap melanjutkan shalat.

Sebagian ulama memperbolehkan memutus shalat bila terdapat insiden di tengah shalat yang dapat menghilangkan kekhusyukan. Berpijak dari pendapat ini, diperbolehkan bagi mushalli (pelaku shalat) yang ponselnya berdering di pertengahan shalat, membatalkan shalatnya bila hal tersebut dapat menghilangkan konsentrasinya. Biasanya orang yang hp nya berdering saat shalat, konsentrasinya bubar dan bingung. Pendapat ini bisa menjadi solusi dalam situasi tertentu.

Penjelasan di atas merujuk kepada beberapa referensi berikut ini:

ومنها (قطع الفرض) أداء كان أوقضاء ولو موسعا وصلاة كان أو غيرها كحج وصوم واعتكاف بأن يفعل ما ينافيه لأنه يجب إتمامه بالشروع فيه لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم ومن المنافي أن ينوي قطع الصلاة التي هو فيها ولو إلى صلاة مثلها 

“Di antara makshiat badan adalah memutus ibadah fardlu, baik ada’ atau qadla’, meski ibadah yang dilapangkan waktunya, baik ibadah shalat atau lainnya seperti haji, puasa dan i’tikaf. Memutus ibadah fardlu maksudnya dengan sekira melakukan perkara yang merusaknya, sebab ibadah fardlu wajib disempurnakan ketika sudah berlangsung pelaksanaannya, berdasarkan firman Allah Swt, dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Termasuk perkara yang merusak shalat adalah niat memutus shalat yang tengah dilakukan, meski berpindah niatnya menuju shalat yang lain.” (Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil, Is’ad al-Rafiq, hal.  121).

Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi menegaskan, seseorang yang memakai pakaian hasil ghasab (curian), wajib bagi dia untuk melepasnya di tengah-tengah shalat. Bila tidak memungkinkan kecuali dengan membatalkan shalat, maka wajib membatalkan shalat. Dalam titik ini, dering HP di tengah shalat yang menimbulkan keharaman sebagaimana di atas dianalogikan dengan kasus memakai pakaian hasil ghasab sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi, dengan titik temu berupa timbulya keharaman yang wajib dijauhi saat shalat. Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi menegaskan:

ولو أحرم في ثوب مغصوب فإن لم يتمكن من غيره وجب نزعه والاستمرار في الصلاة ، وإن تمكن منه ومن نزع المغصوب ولبس غيره بلا زمن تبدو فيه العورة وجب وإلا فيحتمل وجوب النزع وقطع الصلاة فليحرر

“Bila seseorang takbiratul ihram dengan memakai pakaian ghasaban, bila tidak mungkin memakai pakaian lain (yang halal), maka wajib melepasnya dan melanjutkan shalat. Bila memiliki pakaian lain (yang halal) dan mungkin memutus pakaian ghasaban, dengan tanpa melewati masa yang di dalamnya tampak auratnya, maka wajib melepas pakaian ghasaban tersebut (dan memakai pakaian yang halal). Bila tidak memungkinkan demikian, maka terdapat kecenderungan wajib melepasnya dan memutus shalat. Maka telitilah kembali.” (Syekh Ibnu Qasim al-‘Ubbadi, Hasyiyah Ibni Qasim ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 18-19).

Berkaitan dengan keharaman mengganggu orang lain yang diharamkan, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ـ (ويحرم) على كل أحد (الجهر) في الصلاة وخارجها (إن شوش على غيره) من نحو مصل أو قارئ أو نائم للضرر ويرجع لقول المتشوش ولو فاسقا لأنه لا يعرف إلا منه وما ذكره من الحرمة ظاهر لكنه ينافيه كلام المجموع وغيره فإنه كالصريح في عدمها إلا أن يجمع بحمله على ما إذا خف التشويش 

“Haram bagi siapapun mengeraskan suara di dalam dan di luar shalat, bila hal tersebut dapat mengganggu orang lain, baik orang shalat, pembaca al-Qur’an atau orang tidur, karena menimbulkan mudarat. Mengganggu tidaknya dikembalikan kepada orang yang terganggu meski fasiq, karena hal tersebut tidak bisa diketahui kecuali darinya. Pendapat yang dijelaskan mushannif berupa keharaman mengganggu adalah jelas, namun bertentangan dengan statemen kitab al-Majmu’ dan lainnya. Sesungguhnya dalam kitab tersebut seakan menegaskan ketiadan hukum haram. Kecuali pendapat dalam kitab al-Majmu’ tersebut diarahkan pada mengganggu yang ringan.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Mahfuzh al-Tarmasi menegaskan:

ـ (قوله على ما إذا خف التشويش) أي وما ذكره المصنف من الحرمة على إذا اشتد وعبارة الإيعاب ينبغي حمل قول المجموع وإن آذى جاره على إيذاء خفيف يتسامح به بخلاف جهر يعطله عن القراءة بالكلية انتهى

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, diarahkan pada mengganggu yang ringan, maksudnya, keterangan yang disebutkan mushannif (Syekh Ibnu Hajar) berupa keharaman mengganggu diarahkan kepada gangguan yang berat. Redaksi kitab al-I’ab menegaskan, seyogyannya statemen kitab al-Majmu’, (makruh) meski menyakiti tetangganya, diarahkan kepada menyakiti dalam taraf ringan yang ditolerir secara umum, berbeda dengan mengeraskan bacaan yang dapat menghambat bacaan jamaah lain secara total.” (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Mauhibatu Dzi al-Fadli ‘Ala al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397)

Nada dering yang sampai menghina kehormatan masjid dianalogikan dengan keharaman berjoged di masjid, sebagaimana keterangan referensi berikut ini:

وقال في تسهيل المقاصد " يحرم الرقص في المسجد مع الضرب بالكف وكذا مع عدم الضرب بالكف لما فيه من المفاسد كامتهانه وانتهاك حرمته وتقطيع حصره وحصول الأوساخ فيه واجتماع الصبيان وأهل البطالة 

“Berkata dalam kitab Tashil al-Maqashid, haram berjoged di masjid disertai tepuk tangan. Demikian pula haram tanpa bertepuk tangan, karena terdapat beberapa mafsadah, seperti menghina masjid, merusak kehormatannya, merusak tikarnya, mengotorinya, mengundang berkumpulnya anak-anak kecil dan para pengangguran.” (Muhammad bin ‘Abd al-Rahman al-Ahdal, ‘Umdah al-Mufti wa al-Mustafti, juz 1, hal. 81).

Pendapat sebagian ulama yang membolehkan membatalkan shalat ketika terjadi perkara yang mengakibatkan hilangnya kekhusyukan, dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya sebagai berikut:

ـ (والصلاة حاقنا) بالنون أي بالبول (أو حاقبا) بالباء أي بالغائط أو حاذقا أي بالريح للخبر الآتي ولأنه يخل بالخشوع بل قال جمع إن ذهب به بطلت الى أن قال وجوز بعضهم قطعه لمجرد فوت الخشوع به وفيه نظر 

“Dan makruh shalat menahan kencing dan buang air besar atau menahan kentut, karena hadits yang telah lewat dan dapat merusak kekhusyukan, bahkan sekelompok ulama berpendapat, bila hilang kekhusyukan, maka batal shalatnya.  Sebagian ulama membolehkan memutus halat karena hilangnya kekhusyukan, dan pendapat ini perlu dikaji ulang. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, Juz 1, hal.  238)

Demikianlah penjelasan mengenai sikap yang tepat ketika hp berdering di pertengahan shalat dan hukum membatalkannya. Seyogianya, sebelum shalat dimulai, gadget dipastikan nonaktif atau minimal dibuat mode diam, sehingga tidak terjadi hal-hal yang diinginkan saat shalat berlangsung. Demikian, semoga bermanfaat. 

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Sabtu 19 Januari 2019 9:0 WIB
Serdawa ketika Shalat, Batalkah?
Serdawa ketika Shalat, Batalkah?
(Foto: @alray.ps)
Serdawa adalah bunyi yang keluar dari kerongkongan, biasanya apabila masuk angin atau sesudah makan kenyang. Dalam bahasa yang tidak baku, sehari-hari biasanya disebut dengan istilah "sendawa". Suara tersebut terkadang terjadi saat shalat, terlebih setelah melahap makanan. Pertanyaannya kemudian, batalkah orang yang berserdawa di tengah shalatnya?

Salah satu yang harus dihindari ketika shalat adalah berbicara yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi:

إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس

Artinya, “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia.” (HR Muslim).

Para ahli fiqih Syafi’iyyah merumuskan bahwa standar pembicaraan yang dapat membatalkan shalat adalah terucapnya satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahamkan. Contoh satu huruf yang memahamkan adalah “Qi” yang berarti “Jagalah”. 

Standar tersebut juga berlaku dalam persoalan serdawa. Secara umum, serdawa bisa membatalkan shalat bila sampai memperlihatkan satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahamkan. Bila tidak memperlihatkan huruf yang betul-betul jelas, semisal hanya suara-suara samar yang tidak jelas makhrajnya, maka tidak membatalkan secara mutlak, baik sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja. Syekh Zakariyya Al-Anshari menegaskan:

و سابعها (ترك نطق) عمدا بغير قرآن وذكر ودعاء على ما سيأتي (فتبطل بحرفين) أفهما أو لا كقم وعن (ولو في نحو تنحنح) كضحك وبكاء وأنين ونفخ وسعال وعطاس فهو أعم مما عبر به (وبحرف مفهم) كق من الوقاية وإن أخطأ بحذف هاء السكت (أو) حرف (ممدود) لأن المدة ألف أو واو أو ياء

Artinya, “Yang ketujuh adalah meninggalkan ucapan secara sengaja dengan selain al-Qur’an, zikir, doa sebagaimana keterangan yang akan dijelaskan. Maka shalat batal dengan terucapnya dua huruf, baik memahamkan atau tidak, seperti kata ‘Qum’ (berdirilah) dan ‘‘An’. Ketentuan batal tersebut juga berlaku dalam persoalan semisal berdehem seperti tertawa, menangis, merintih, meniup, batuk dan bersin. Redaksi ini lebih umum dari pada redaksi yang disampaikan kitab asal (Minhaj al-Thalibin). Dan batal dengan mengucapkan satu huruf yang memahamkan seperti kata ‘Qi’ (jagalah), meski terdapat kesalahan dengan membuang ha’ saktah. Demikian pula batal dengan satu huruf yang dibaca panjang, karena huruf mad adalah alif, wawu atau ya,’” (Lihat Syekh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaan 243).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan:

والظاهر أن المراد ظهر بكل مرة من التنحنح ونحوه حرفان فأكثر لأن الصوت الغفل لا عبرة به كما صرح بذلك وفي كلامه ولو نهق كالحمار أو صهل كالفرس أو حاكى شيئا من الطيور ولم يظهر من ذلك حرف مفهم أو حرفان لم تبطل صلاته وإلا بطلت ح ل

Artinya, “Pendapat yang unggul bahwa dari berdehem dan semisalnya memperlihatkan dua huruf atau lebih. Karena suara yang tidak dikenal tidak dianggap sebagaimana dijelaskan oleh sang pengarang. Dan dalam statemennya, bila mushalli bersuara seperti suara keledai atau meringkik seperti suara kuda atau menceritakan satu dari beberapa suara burung dan tidak memperlihatkan satu huruf yang memahamkan, atau dua huruf, maka tidak batal shalatnya. Bila tidak demikian, maka batal,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarhi Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Serdawa yang memperlihatkan minimal satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahmkan, tidak membatalkan shalat bila disertai udzur. Uzur yang dimaksud berkisar pada dua hal. Pertama, karena untuk memudahkan bacaan yang wajib di dalam shalat. Bacaan yang diwajibkan dalam shalat meliputi Surat al-Fatihah, tahiyyat akhir dan salam. Semisal, saat membaca surat Al-Fatihah, mushalli sulit mengeluarkan bunyi suaranya bila tidak berserdawa, maka boleh baginya untuk berserdawa, sekalipun menampakan banyak huruf. Namun menurut Al-Imam Al-Qamuli dalam Kitab Al-Jawahir, kebolehan serdawa tersebut dibatasi dengan batas kewajaran, tidak terlalu menampakan banyak huruf.

Dikecualikan dengan bacaan wajib, yaitu bacaan sunah. Seperti membaca surat, tahiyyat awal, doa qunut, membaca keras dan lain-lain. Bila serdawa dapat memperlihatkan semisal dua huruf, maka membatalkan. Sebab bacaan tersebut bukan termasuk kewajiban, sehingga tidak ada keterdesakan untuk berserdawa.

Syekh Zakariyya Al-Anshari menegaskan:

ولا بتنحنح لتعذر ركن قولي ) لا لتعذر غيره كجهر ؛ لأنه ليس بواجب فلا ضرورة إلى التنحنح له

Artinya, “Dan tidak batal disebabkan berdehem karena sulitnya mengucapkan rukun qauli, bukan sulitnya bacaan lainnya, seperti anjuran membaca keras, karena hal tersebut tidak wajib, maka tidak ada keterdesakan untuk berdehem,” (Lihat Syekh Zakariyya al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaman 245).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan:

قوله (ولا بتنحنح لتعذر ركن قولي) وظاهر صنيعه وإن كثر التنحنح وظهر بكل واحدة حرفان فأكثر ثم رأيت شيخنا قال نعم التنحنح للقراءة الواجبة لا يبطلها وإن كثر خلافا لما في الجواهر ولو غلب عليه الضحك وبان منه حرفان لم تبطل 

Artinya, “Ucapan Syekh Zakariyya, Dan tidak batal disebabkan berdehem karena sulitnya mengucapkan rukun qauli, Zhahir dari ucapannya, meskipun berdehem dilakukan sering dan masing-masing dapat memperlihatkan dua huruf atau lebih. Kemudian aku melihat guruku berkata. Ya, memang demikian. Berdehem untuk bacaan yang wajib tidak membatalkan shalat meski banyak, berbeda menurut keterangan dalam kitab al-Jawahir (karya Imam Al-Qamuli),” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarh Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Kedua, ketika tidak bisa dihindari (ghalabah). Mushalli yang tidak kuasa menahan serdawanya, tidak dapat membatalkan shalat meski memperlihatkan dua huruf atau lebih. Namun hal tersebut dibatasi dengan taraf kewajaran. Sehingga bila huruf yang terucap telampau banyak, maka dapat membatalkan. Standar sedikit dan banyaknya huruf dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan) yang berlaku.

Syekh Zakariyya Al-Anshari mengatakan:

ـ (ولا بقليل نحوه ) أي : نحو التنحنح من ضحك ، وغيره ، ( لغلبة ) ، وخرج بقليله ، وقليل ما مر كثيرهما ؛ لأنه يقطع نظم الصلاة ، الى ان قال وتعرف القلة ، والكثرة بالعرف

Artinya, “Dan tidak batal disebabkan sedikitnya berdehem, tertawa dan lainnya, ketika terdesak. Dikecualikan dengan sedikitnya berdehem dan semisalnya, yaitu banyaknya berdehem dan semisalnya, karena hal tersebut dapat memutus rangkaian shalat. Sedikit dan banyaknya berdehem diketahui dengan ‘urf (kebiasaaan),” (Lihat Syekh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyat Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaman 245).

Bila seseorang tidak dapat menghindarkan serdawa yang membatalkan, menurut Al-Imam Al-Halabi, sebagaimana dikutip Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, ia wajib menunda shalatnya hingga menemukan waktu yang dapat terhindari dari serdawa, meski harus menunggu sampai akhir waktu shalat, asalkan masih menemukan shalat di dalam waktunya.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan sebagai berikut:

ولو كان له حالة يخلو فيها عن ذلك وهي تسع الصلاة قبل خروج وقتها وجب عليه انتظارها ولو آخر الوقت ا هـ ح ل 

Artinya, “Dan bila seseorang menemukan kondisi yang sunyi dari berdehem dan sejenisnya dan memuat shalat sebelum keluar waktu, maka wajib ditunggu meski sampai akhir waktu. Keterangan dari Imam al-Halabi”. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarh Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Demikian penjelasan mengenai hukum serdawa ketika shalat. Simpulannya, dalam kondisi tidak ada udzur, serdawa dapat membatalkan shalat bila sampai memperlihatkan suara huruf yang terang, minimal satu huruf yang membatalkan atau dua huruf meski tidak membatalkan. Faktanya, serdawa yang sering terjadi tidak sampai memperlihatkan huruf hijaiyyah yang terang, sehingga tidak membatalkan shalat. 

Bila melihat pertimbangan keutamaan, sebisa mungkin, agar serdawa dihindari saat shalat agar ia bisa lebih khusyuk ketika shalat. Hendaknya mushalli memulai shalat dalam kondisi yang tenang dan terbebas dari serdawa sehingga tidak rawan terjadi serdawa yang membatalkan shalat.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)