IMG-LOGO
Shalat

Ponsel Mendadak Berdering ketika Shalat, Bagaimana Sebaiknya?

Sabtu 19 Januari 2019 18:0 WIB
Share:
Ponsel Mendadak Berdering ketika Shalat, Bagaimana Sebaiknya?
Ilustrasi (via usatoday.com)
Saat ini dunia tidak bisa dilepaskan dari smartphone. Pengguna ponsel pintar tidak terbatas usia dan strata sosial. Hampir semua orang memiliki, bahkan nyaris selalu membawanya, termasuk saat melaksanakan shalat. Karena lupa menonaktifkan sinyal atau mode deringnya, saat tengah-tengah shalat HP kadang mendadak berbunyi. Pertanyaan adalah, bagaimana sikap yang tepat saat di tengah-tengah shalat HP berbunyi? Apakah boleh membatalkannya?

HP berdering di pertengahan shalat tidak lepas dari dua kasus. Pertama, dalam kondisi shalat sendirian, misalkan di rumah. Kedua, dalam kondisi shalat berjamaah.

Baik saat shalat sendirian atau berjamaah, hukum membatalkan shalat karena handphone berdering pada dasarnya tidak diperbolehkan. Kecuali bila dering handphone dapat mengganggu orang tidur atau jamaah lain dalam taraf yang diharamkan. Mengganggu yang diharamkan adalah gangguan yang sampai taraf melampaui kewajaran (la yuhtamalu ‘adatan). Sedangkan gangguan yang ringan, semisal karena volume dering HP tidak terlalu keras, bukan termasuk mengganggu yang diharamkan, namun hukumnya hanya makruh.

Demikian pula termasuk kondisi yang dibolehkan memutus shalat saat HP berdering, bila shalat dilakukan di masjid dan nada dering HP adalah lagu-lagu yang tidak etis, semisal lagu yang liriknya mesum. Bunyi nada dering HP tersebut diharamkan karena termasuk merusak kehormatan masjid.

Dalam kondisi boleh membatalkan shalat karena menimbulkan unsur keharaman sebagaimana dijelaskan di atas, diperbolehkan bagi orang yang shalat membatalkan shalatnya apabila tidak memungkinkan mematikan HP tanpa memutus shalatnya. Bila masih memungkinkan, maka wajib mematikan dering HP dan tetap melanjutkan shalat.

Sebagian ulama memperbolehkan memutus shalat bila terdapat insiden di tengah shalat yang dapat menghilangkan kekhusyukan. Berpijak dari pendapat ini, diperbolehkan bagi mushalli (pelaku shalat) yang ponselnya berdering di pertengahan shalat, membatalkan shalatnya bila hal tersebut dapat menghilangkan konsentrasinya. Biasanya orang yang hp nya berdering saat shalat, konsentrasinya bubar dan bingung. Pendapat ini bisa menjadi solusi dalam situasi tertentu.

Penjelasan di atas merujuk kepada beberapa referensi berikut ini:

ومنها (قطع الفرض) أداء كان أوقضاء ولو موسعا وصلاة كان أو غيرها كحج وصوم واعتكاف بأن يفعل ما ينافيه لأنه يجب إتمامه بالشروع فيه لقوله تعالى ولا تبطلوا أعمالكم ومن المنافي أن ينوي قطع الصلاة التي هو فيها ولو إلى صلاة مثلها 

“Di antara makshiat badan adalah memutus ibadah fardlu, baik ada’ atau qadla’, meski ibadah yang dilapangkan waktunya, baik ibadah shalat atau lainnya seperti haji, puasa dan i’tikaf. Memutus ibadah fardlu maksudnya dengan sekira melakukan perkara yang merusaknya, sebab ibadah fardlu wajib disempurnakan ketika sudah berlangsung pelaksanaannya, berdasarkan firman Allah Swt, dan janganlah kalian membatalkan amal-amal kalian. Termasuk perkara yang merusak shalat adalah niat memutus shalat yang tengah dilakukan, meski berpindah niatnya menuju shalat yang lain.” (Syekh Muhammad bin Salim bin Sa’id Babashil, Is’ad al-Rafiq, hal.  121).

Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi menegaskan, seseorang yang memakai pakaian hasil ghasab (curian), wajib bagi dia untuk melepasnya di tengah-tengah shalat. Bila tidak memungkinkan kecuali dengan membatalkan shalat, maka wajib membatalkan shalat. Dalam titik ini, dering HP di tengah shalat yang menimbulkan keharaman sebagaimana di atas dianalogikan dengan kasus memakai pakaian hasil ghasab sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi, dengan titik temu berupa timbulya keharaman yang wajib dijauhi saat shalat. Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi menegaskan:

ولو أحرم في ثوب مغصوب فإن لم يتمكن من غيره وجب نزعه والاستمرار في الصلاة ، وإن تمكن منه ومن نزع المغصوب ولبس غيره بلا زمن تبدو فيه العورة وجب وإلا فيحتمل وجوب النزع وقطع الصلاة فليحرر

“Bila seseorang takbiratul ihram dengan memakai pakaian ghasaban, bila tidak mungkin memakai pakaian lain (yang halal), maka wajib melepasnya dan melanjutkan shalat. Bila memiliki pakaian lain (yang halal) dan mungkin memutus pakaian ghasaban, dengan tanpa melewati masa yang di dalamnya tampak auratnya, maka wajib melepas pakaian ghasaban tersebut (dan memakai pakaian yang halal). Bila tidak memungkinkan demikian, maka terdapat kecenderungan wajib melepasnya dan memutus shalat. Maka telitilah kembali.” (Syekh Ibnu Qasim al-‘Ubbadi, Hasyiyah Ibni Qasim ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 18-19).

Berkaitan dengan keharaman mengganggu orang lain yang diharamkan, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ـ (ويحرم) على كل أحد (الجهر) في الصلاة وخارجها (إن شوش على غيره) من نحو مصل أو قارئ أو نائم للضرر ويرجع لقول المتشوش ولو فاسقا لأنه لا يعرف إلا منه وما ذكره من الحرمة ظاهر لكنه ينافيه كلام المجموع وغيره فإنه كالصريح في عدمها إلا أن يجمع بحمله على ما إذا خف التشويش 

“Haram bagi siapapun mengeraskan suara di dalam dan di luar shalat, bila hal tersebut dapat mengganggu orang lain, baik orang shalat, pembaca al-Qur’an atau orang tidur, karena menimbulkan mudarat. Mengganggu tidaknya dikembalikan kepada orang yang terganggu meski fasiq, karena hal tersebut tidak bisa diketahui kecuali darinya. Pendapat yang dijelaskan mushannif berupa keharaman mengganggu adalah jelas, namun bertentangan dengan statemen kitab al-Majmu’ dan lainnya. Sesungguhnya dalam kitab tersebut seakan menegaskan ketiadan hukum haram. Kecuali pendapat dalam kitab al-Majmu’ tersebut diarahkan pada mengganggu yang ringan.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Mahfuzh al-Tarmasi menegaskan:

ـ (قوله على ما إذا خف التشويش) أي وما ذكره المصنف من الحرمة على إذا اشتد وعبارة الإيعاب ينبغي حمل قول المجموع وإن آذى جاره على إيذاء خفيف يتسامح به بخلاف جهر يعطله عن القراءة بالكلية انتهى

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, diarahkan pada mengganggu yang ringan, maksudnya, keterangan yang disebutkan mushannif (Syekh Ibnu Hajar) berupa keharaman mengganggu diarahkan kepada gangguan yang berat. Redaksi kitab al-I’ab menegaskan, seyogyannya statemen kitab al-Majmu’, (makruh) meski menyakiti tetangganya, diarahkan kepada menyakiti dalam taraf ringan yang ditolerir secara umum, berbeda dengan mengeraskan bacaan yang dapat menghambat bacaan jamaah lain secara total.” (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Mauhibatu Dzi al-Fadli ‘Ala al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397)

Nada dering yang sampai menghina kehormatan masjid dianalogikan dengan keharaman berjoged di masjid, sebagaimana keterangan referensi berikut ini:

وقال في تسهيل المقاصد " يحرم الرقص في المسجد مع الضرب بالكف وكذا مع عدم الضرب بالكف لما فيه من المفاسد كامتهانه وانتهاك حرمته وتقطيع حصره وحصول الأوساخ فيه واجتماع الصبيان وأهل البطالة 

“Berkata dalam kitab Tashil al-Maqashid, haram berjoged di masjid disertai tepuk tangan. Demikian pula haram tanpa bertepuk tangan, karena terdapat beberapa mafsadah, seperti menghina masjid, merusak kehormatannya, merusak tikarnya, mengotorinya, mengundang berkumpulnya anak-anak kecil dan para pengangguran.” (Muhammad bin ‘Abd al-Rahman al-Ahdal, ‘Umdah al-Mufti wa al-Mustafti, juz 1, hal. 81).

Pendapat sebagian ulama yang membolehkan membatalkan shalat ketika terjadi perkara yang mengakibatkan hilangnya kekhusyukan, dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya sebagai berikut:

ـ (والصلاة حاقنا) بالنون أي بالبول (أو حاقبا) بالباء أي بالغائط أو حاذقا أي بالريح للخبر الآتي ولأنه يخل بالخشوع بل قال جمع إن ذهب به بطلت الى أن قال وجوز بعضهم قطعه لمجرد فوت الخشوع به وفيه نظر 

“Dan makruh shalat menahan kencing dan buang air besar atau menahan kentut, karena hadits yang telah lewat dan dapat merusak kekhusyukan, bahkan sekelompok ulama berpendapat, bila hilang kekhusyukan, maka batal shalatnya.  Sebagian ulama membolehkan memutus halat karena hilangnya kekhusyukan, dan pendapat ini perlu dikaji ulang. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, Juz 1, hal.  238)

Demikianlah penjelasan mengenai sikap yang tepat ketika hp berdering di pertengahan shalat dan hukum membatalkannya. Seyogianya, sebelum shalat dimulai, gadget dipastikan nonaktif atau minimal dibuat mode diam, sehingga tidak terjadi hal-hal yang diinginkan saat shalat berlangsung. Demikian, semoga bermanfaat. 

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Sabtu 19 Januari 2019 9:0 WIB
Serdawa ketika Shalat, Batalkah?
Serdawa ketika Shalat, Batalkah?
(Foto: @alray.ps)
Serdawa adalah bunyi yang keluar dari kerongkongan, biasanya apabila masuk angin atau sesudah makan kenyang. Dalam bahasa yang tidak baku, sehari-hari biasanya disebut dengan istilah "sendawa". Suara tersebut terkadang terjadi saat shalat, terlebih setelah melahap makanan. Pertanyaannya kemudian, batalkah orang yang berserdawa di tengah shalatnya?

Salah satu yang harus dihindari ketika shalat adalah berbicara yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi:

إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس

Artinya, “Sesungguhnya shalat ini tidak layak di dalamnya sesuatu dari perkataan manusia.” (HR Muslim).

Para ahli fiqih Syafi’iyyah merumuskan bahwa standar pembicaraan yang dapat membatalkan shalat adalah terucapnya satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahamkan. Contoh satu huruf yang memahamkan adalah “Qi” yang berarti “Jagalah”. 

Standar tersebut juga berlaku dalam persoalan serdawa. Secara umum, serdawa bisa membatalkan shalat bila sampai memperlihatkan satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahamkan. Bila tidak memperlihatkan huruf yang betul-betul jelas, semisal hanya suara-suara samar yang tidak jelas makhrajnya, maka tidak membatalkan secara mutlak, baik sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja. Syekh Zakariyya Al-Anshari menegaskan:

و سابعها (ترك نطق) عمدا بغير قرآن وذكر ودعاء على ما سيأتي (فتبطل بحرفين) أفهما أو لا كقم وعن (ولو في نحو تنحنح) كضحك وبكاء وأنين ونفخ وسعال وعطاس فهو أعم مما عبر به (وبحرف مفهم) كق من الوقاية وإن أخطأ بحذف هاء السكت (أو) حرف (ممدود) لأن المدة ألف أو واو أو ياء

Artinya, “Yang ketujuh adalah meninggalkan ucapan secara sengaja dengan selain al-Qur’an, zikir, doa sebagaimana keterangan yang akan dijelaskan. Maka shalat batal dengan terucapnya dua huruf, baik memahamkan atau tidak, seperti kata ‘Qum’ (berdirilah) dan ‘‘An’. Ketentuan batal tersebut juga berlaku dalam persoalan semisal berdehem seperti tertawa, menangis, merintih, meniup, batuk dan bersin. Redaksi ini lebih umum dari pada redaksi yang disampaikan kitab asal (Minhaj al-Thalibin). Dan batal dengan mengucapkan satu huruf yang memahamkan seperti kata ‘Qi’ (jagalah), meski terdapat kesalahan dengan membuang ha’ saktah. Demikian pula batal dengan satu huruf yang dibaca panjang, karena huruf mad adalah alif, wawu atau ya,’” (Lihat Syekh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaan 243).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan:

والظاهر أن المراد ظهر بكل مرة من التنحنح ونحوه حرفان فأكثر لأن الصوت الغفل لا عبرة به كما صرح بذلك وفي كلامه ولو نهق كالحمار أو صهل كالفرس أو حاكى شيئا من الطيور ولم يظهر من ذلك حرف مفهم أو حرفان لم تبطل صلاته وإلا بطلت ح ل

Artinya, “Pendapat yang unggul bahwa dari berdehem dan semisalnya memperlihatkan dua huruf atau lebih. Karena suara yang tidak dikenal tidak dianggap sebagaimana dijelaskan oleh sang pengarang. Dan dalam statemennya, bila mushalli bersuara seperti suara keledai atau meringkik seperti suara kuda atau menceritakan satu dari beberapa suara burung dan tidak memperlihatkan satu huruf yang memahamkan, atau dua huruf, maka tidak batal shalatnya. Bila tidak demikian, maka batal,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarhi Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Serdawa yang memperlihatkan minimal satu huruf yang memahamkan atau dua huruf meski tidak memahmkan, tidak membatalkan shalat bila disertai udzur. Uzur yang dimaksud berkisar pada dua hal. Pertama, karena untuk memudahkan bacaan yang wajib di dalam shalat. Bacaan yang diwajibkan dalam shalat meliputi Surat al-Fatihah, tahiyyat akhir dan salam. Semisal, saat membaca surat Al-Fatihah, mushalli sulit mengeluarkan bunyi suaranya bila tidak berserdawa, maka boleh baginya untuk berserdawa, sekalipun menampakan banyak huruf. Namun menurut Al-Imam Al-Qamuli dalam Kitab Al-Jawahir, kebolehan serdawa tersebut dibatasi dengan batas kewajaran, tidak terlalu menampakan banyak huruf.

Dikecualikan dengan bacaan wajib, yaitu bacaan sunah. Seperti membaca surat, tahiyyat awal, doa qunut, membaca keras dan lain-lain. Bila serdawa dapat memperlihatkan semisal dua huruf, maka membatalkan. Sebab bacaan tersebut bukan termasuk kewajiban, sehingga tidak ada keterdesakan untuk berserdawa.

Syekh Zakariyya Al-Anshari menegaskan:

ولا بتنحنح لتعذر ركن قولي ) لا لتعذر غيره كجهر ؛ لأنه ليس بواجب فلا ضرورة إلى التنحنح له

Artinya, “Dan tidak batal disebabkan berdehem karena sulitnya mengucapkan rukun qauli, bukan sulitnya bacaan lainnya, seperti anjuran membaca keras, karena hal tersebut tidak wajib, maka tidak ada keterdesakan untuk berdehem,” (Lihat Syekh Zakariyya al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaman 245).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan:

قوله (ولا بتنحنح لتعذر ركن قولي) وظاهر صنيعه وإن كثر التنحنح وظهر بكل واحدة حرفان فأكثر ثم رأيت شيخنا قال نعم التنحنح للقراءة الواجبة لا يبطلها وإن كثر خلافا لما في الجواهر ولو غلب عليه الضحك وبان منه حرفان لم تبطل 

Artinya, “Ucapan Syekh Zakariyya, Dan tidak batal disebabkan berdehem karena sulitnya mengucapkan rukun qauli, Zhahir dari ucapannya, meskipun berdehem dilakukan sering dan masing-masing dapat memperlihatkan dua huruf atau lebih. Kemudian aku melihat guruku berkata. Ya, memang demikian. Berdehem untuk bacaan yang wajib tidak membatalkan shalat meski banyak, berbeda menurut keterangan dalam kitab al-Jawahir (karya Imam Al-Qamuli),” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarh Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Kedua, ketika tidak bisa dihindari (ghalabah). Mushalli yang tidak kuasa menahan serdawanya, tidak dapat membatalkan shalat meski memperlihatkan dua huruf atau lebih. Namun hal tersebut dibatasi dengan taraf kewajaran. Sehingga bila huruf yang terucap telampau banyak, maka dapat membatalkan. Standar sedikit dan banyaknya huruf dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan) yang berlaku.

Syekh Zakariyya Al-Anshari mengatakan:

ـ (ولا بقليل نحوه ) أي : نحو التنحنح من ضحك ، وغيره ، ( لغلبة ) ، وخرج بقليله ، وقليل ما مر كثيرهما ؛ لأنه يقطع نظم الصلاة ، الى ان قال وتعرف القلة ، والكثرة بالعرف

Artinya, “Dan tidak batal disebabkan sedikitnya berdehem, tertawa dan lainnya, ketika terdesak. Dikecualikan dengan sedikitnya berdehem dan semisalnya, yaitu banyaknya berdehem dan semisalnya, karena hal tersebut dapat memutus rangkaian shalat. Sedikit dan banyaknya berdehem diketahui dengan ‘urf (kebiasaaan),” (Lihat Syekh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab Hamiys Hasyiyat Bujairimi ‘alal Wahhab, juz I, halaman 245).

Bila seseorang tidak dapat menghindarkan serdawa yang membatalkan, menurut Al-Imam Al-Halabi, sebagaimana dikutip Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, ia wajib menunda shalatnya hingga menemukan waktu yang dapat terhindari dari serdawa, meski harus menunggu sampai akhir waktu shalat, asalkan masih menemukan shalat di dalam waktunya.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan sebagai berikut:

ولو كان له حالة يخلو فيها عن ذلك وهي تسع الصلاة قبل خروج وقتها وجب عليه انتظارها ولو آخر الوقت ا هـ ح ل 

Artinya, “Dan bila seseorang menemukan kondisi yang sunyi dari berdehem dan sejenisnya dan memuat shalat sebelum keluar waktu, maka wajib ditunggu meski sampai akhir waktu. Keterangan dari Imam al-Halabi”. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘ala Syarh Manhajit Thullab, juz I, halaman 245).

Demikian penjelasan mengenai hukum serdawa ketika shalat. Simpulannya, dalam kondisi tidak ada udzur, serdawa dapat membatalkan shalat bila sampai memperlihatkan suara huruf yang terang, minimal satu huruf yang membatalkan atau dua huruf meski tidak membatalkan. Faktanya, serdawa yang sering terjadi tidak sampai memperlihatkan huruf hijaiyyah yang terang, sehingga tidak membatalkan shalat. 

Bila melihat pertimbangan keutamaan, sebisa mungkin, agar serdawa dihindari saat shalat agar ia bisa lebih khusyuk ketika shalat. Hendaknya mushalli memulai shalat dalam kondisi yang tenang dan terbebas dari serdawa sehingga tidak rawan terjadi serdawa yang membatalkan shalat.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Jumat 18 Januari 2019 11:0 WIB
Menempelkan Kaki dengan Kaki Orang Lain dalam Merapatkan Shaf
Menempelkan Kaki dengan Kaki Orang Lain dalam Merapatkan Shaf
(Foto: @alray.ps)
Menyempurnakan barisan shaf shalat merupakan salah satu hal yang menjadikan shalat jama’ah menjadi lebih utama. Jika barisan shaf shalat tidak teratur, maka akan berpengaruh terhadap fadhilah jama’ah bagi para makmum yang mengikuti jamaah, sebab barisan shaf yang tidak teratur merupakan salah satu kemakruhan dalam shalat jama’ah yang menyebabkan fadhilah jamaah menjadi hilang menurut Imam Ibnu Hajar (Lihat Syekh Husein Abdullah, Itsmidul ‘Ainain, halaman 33).

Dalam praktiknya, sebagian masyarakat ada yang berpandangan bahwa menyempurnakan shaf ini adalah dengan cara menempelkan kaki kita pada kaki orang lain yang ada di sebelah kita, hal yang sama juga berlaku bagi makmum-makmum yang lain.

Selain kaki, bahu dan lutut juga harus ditempelkan dengan bahu dan lutut orang yang ada di samping kita. Jika ketentuan demikian tidak dipenuhi, maka dianggap menyalahi perintah Rasulullah dalam hal pengaturan shaf. Sebenarnya, benarkah pandangan demikian?

Memang dalam salah satu hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat agar merapatkan shaf, lalu para sahabat saling merapatkan barisan shafnya dengan cara menempelkan telapak kaki dan bahu mereka dengan bahu dan telapak kaki orang lain yang ada di sampingnya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat Sahabat Anas bin Malik:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

Artinya, “Diriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku,’ (Sahabat Anas berkata) ‘Ada di antara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan menempelkan telapak kakinya dengan telapak kaki temannya,’” (HR Bukhari).

Hadits di atas tidak dapat dipahami secara literal sehingga menyimpulkan bahwa menempelkan kaki dan bahu adalah suatu kewajiban dalam shalat. Pemahaman demikian tidak dibenarkan, sebab hal tersebut sebenarnya hanya dilaksanakan oleh sebagian sahabat nabi saja, tidak secara keseluruhan.

Dengan berdasarkan redaksi “Ada di antara kami” (Wa kana ahaduna) yang terdapat dalam teks matan hadits di atas. Sedangkan segala hal tentang sahabat, hanya dapat dijadikan hujjah ketika memang  dilakukan oleh sahabat secara keseluruhan, bukan sebagian. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam Kitab Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam:

ويدل على مذهب الاكثرين أن الظاهر من الصحابي أنه إنما أورد ذلك في معرض الاحتجاج، وإنما يكون ذلك حجة إن لو كان ما نقله مستندا إلى فعل الجميع، لان فعل البعض لا يكون حجة على البعض الآخر، ولا على غيرهم

Artinya, “Menurut pendapat mayoritas madzhab bahwa hal yang tampak dari para sahabat memang disampaikan dalam kasus penyampaian hujjah, namun dari hal tersebut yang dapat dijadikan hujjah hanya ketika memang apa yang mereka nukil disandarkan pada perbuatan seluruh sahabat. Sebab perbuatan sebagian sahabat tidak dapat dijadikan sebagai hujjah atas sebagian sahabat yang lain dan juga tidak menjadi hujjah bagi selain sahabat,” (Lihat Saifuddin Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, juz II, halaman 110).

Dengan demikian kewajiban menempelkan telapak kaki dan bahu satu sama lain, dengan berdasarkan hadits di atas tidak bisa dibenarkan, sebab konteks hadits di atas hanya menjelaskan tentang keutamaan merapatkan shaf dengan cara seperti yang dilakukan para sahabat di atas, bukan tata cara yang diwajibkan bagi para makmum yang hendak melaksanakan shalat jamaah.

Lebih jauh lagi, dalam Aunul Ma’bud dijelaskan bahwa merapatkan shaf dengan cara seperti di hadits adalah hal yang sangat dianjurkan, namun jika praktek tersebut dilaksanakan pada masa kini, maka orang-orang akan lari, karena praktik pemerataan shaf dengan cara tersebut sudah jarang dilakukan sehingga ketika hal tersebut dilakukan, maka orang-orang akan lari karena dianggap melakukan sesuatu yang aneh. Berikut redaksi tersebut:

فهذه الأحاديث فيها دلالة واضحة على اهتمام تسوية الصفوف وأنها من إتمام الصلاة وعلى أنه لا يتأخر بعض على بعض ولا يتقدم بعضه على بعض وعلى أنه يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه وركبته بركبته لكن اليوم تركت هذه السنة ولو فعلت اليوم لنفر الناس كالحمر الوحشية

Artinya, “Hadits-Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang pentingnya meratakan shaf yang merupakan sebagian hal yang menyempurnakan shalat. Tidak diperkenankan untuk mundur satu sama lain dan maju satu sama lain serta menempelkan pundak, telapak kaki dan lutut satu sama lain. Tetapi kesunnahan seperti ini sudah ditinggalkan pada masa ini, jika ketentuan demikian dilakukan hari ini maka manusia akan lari seperti halnya keledai liar,” (Muhammad Syamsul Haq, Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, juz II, halaman 256).

Ma’mar, salah satu rawi dari hadits diatas menjelaskan hal yang sama bahwa jika praktik merapatkan shaf seperti di atas dilakukan di masa kini, maka orang-orang akan lari:

وزاد معمر في روايته ولو فعلت ذلك بأحدهم اليوم لنفر كأنه بغل شموص

Artinya, “Ma’mar menambahkan dalam riwayatnya ‘Jika aku melakukan hal tersebut dengan salah satu dari mereka saat ini, maka mereka akan lari sebagaimana keledai yang lepas,’” (Lihat Badruddin Al-‘Aini, Umdatul Qari Syarh Shahihil Bukhari, juz VI, halaman 478).

Dari berbagai kritik di atas dapat dipahami bahwa dalam mengamalkan suatu kesunnahan, perlu menyelaraskan antara perintah syara’ dan keadaan masyarakat sekitar. Sebab jika hal tersebut tidak dilakukan, akan banyak masyarakat yang salah paham karena cara tersebut masih belum umum diamalkan oleh masyarakat sekitar. Padahal syara’ menganjurkan untuk beradaptasi dengan masyarakat selama bukan dalam hal yang menyalahi aturan syariat (Muwafaqatun nas ma lam yukhalif syar’an).

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa menempelkan kaki ke orang lain dalam shalat jamaah bukanlah suatu kewajiban, namun sebatas anjuran dalam hal menyempurnakan barisan shaf.

Sebaliknya, jika melaksanakan hal ini justru akan membuat para jamaah yang lain enggan mendekatinya, karena dianggap terlalu fanatik dalam beragama misalnya, maka baiknya merapatkan shaf dilakukan dengan cara yang lain sekiranya dapat diterima oleh masyarakat sekitar dan barisan shaf tetap dipandang rapi dan baik, dengan begitu ia dapat menjalankan anjuran syara’ sekaligus bersikap husnul khuluq pada masyarakat. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)
Selasa 15 Januari 2019 14:0 WIB
Rambut Perempuan Terlihat Sedikit saat Shalat, Batalkah?
Rambut Perempuan Terlihat Sedikit saat Shalat, Batalkah?
Ilustrasi (Reuters)
Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam shalat adalah menutup aurat. Maka wajib bagi orang yang hendak shalat untuk menutup seluruh auratnya mulai awal melaksanakan shalat hingga selesai. Aurat laki-laki meliputi pusar hingga lutut. Sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Perbedaan dalam penilaian menutup aurat antara laki-laki dan perempuan saat shalat adalah: jika orang yang melaksanakan shalat adalah laki-laki maka aurat harus tertutup dari empat penjuru, yaitu  tidak terlihat dari arah samping, arah depan, arah belakang dan arah atas. Sedangkan bagi perempuan, aurat harus tertutup  dari seluruh arah tersebut serta dari arah bawah. Sehingga jika paha laki-laki terlihat pada saat sujud, maka hal demikian tidak sampai membatalkan shalat, sebab paha adalah bagian yang terlihat dari arah bawah. Berbeda halnya jika hal demikian terjadi pada perempuan, maka shalatnya menjadi batal. 

Hal yang sering terjadi bagi kaum perempuan saat shalat adalah seringnya sedikit bagian dari rambut mereka terlihat pada saat shalat sedang berlangsung. Padahal seperti kita pahami bersama bahwa rambut perempuan merupakan salah satu aurat yang harus ditutup pada saat melaksanakan shalat. Lalu ketika rambut perempuan sedikit terlihat pada saat shalat berlangsung, apakah hal tersebut dapat membatalkan shalatnya?

Menurut mazhab Syafi’i, bagian aurat yang terlihat pada saat shalat, baik yang terlihat adalah sedikit ataupun banyak—termasuk sedikit rambut perempuan—adalah hal yang membatalkan shalat. Sehingga ia wajib untuk mengulang kembali shalatnya, sebab shalat yang ia lakukan pada saat terbuka auratnya dianggap shalat yang tidak sah. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hawasyi as-Syarwani:

قول المتن: (ما سوى الوجه والكفين) أي حتى شعر رأسها وباطن قدميها ويكفي ستره بالأرض في حال الوقوف فإن ظهر منه شئ عند سجودها أو ظهر عقبها عند ركوعها أو سجودها بطلت صلاتها

“Wajib menutup seluruh tubuh saat shalat bagi perempuan kecuali wajah dan dua telapak tangan. Maksudnya, juga mencakup rambut dari perempuan dan bagian dalam telapak kaki perempuan. Menutup telapak kaki dengan tanah dianggap cukup dalam keadaan berdiri. Jika tampak sedikit dari telapak kaki perempuan saat sujud, atau tumitnya terlihat saat ruku’ atau sujud, maka shalatnya menjadi batal.” (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, juz 2, hal. 112)

Berbeda halnya menurut mazhab selain Syafi’i, seperti halnya dalam mazhab Hanbali (mazhab Ahmad ibnu Hanbal) atau mazhab Hanafi, yang membedakan antara aurat yang terlihat sedikit atau banyak. Jika aurat yang terlihat hanya sedikit, maka shalatnya tidak batal. Namun jika aurat yang terlihat cukup banyak, maka shalatnya menjadi batal. Seperti yang  dijelaskan oleh Ibnu Qudamah:

ـ (فصل) فان انكشف من العورة يسير لم تبطل صلاته نص عليه أحمد وبه قال أبو حنيفة وقال الشافعي تبطل لانه حكم تعلق بالعورة فاستوى قليله وكثيره كالنظرة

“Pasal. Jika sedikit aurat terbuka saat shalat, maka shalatnya tidak batal. Hukum ini dijelaskan oleh Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah juga berpendapat demikian. Sedangkan Imam Syafi’i berpandangan bahwa shalatnya menjadi batal, sebab permasalahan ini berhubungan dengan aurat, maka sedikit atau banyak menempati hukum yang sama, seperti halnya dalam permasalahan memandang aurat.” (Syekh Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 2, hal. 280)

Aurat yang sedikit pada referensi di atas berlaku secara umum, sehingga juga berlaku pada bagian rambut bagi perempuan, maka ketika terlihat sedikit dari bagian rambut mereka, shalatnya tetap sah alias tidak wajib diulang dalam pandangan mazhab Hanbali dan Hanafi. Seperti yang ditegaskan oleh salah satu ulama terkemuka mazhab Hanbali, Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah:

مسألة : سئل عن المرأة إذا ظهر شيء من شعرها في الصلاة هل تبطل صلاتها أم لا ؟ 
 أجاب : إذا انكشف شيء يسير من شعرها وبدنها لم يكن عليها الإعادة عند أكثر العلماء وهو مذهب أبي حنيفة وأحمد . وإن انكشف شيء كثير أعادت الصلاة في الوقت عند عامة العلماء الأئمة الأربعة وغيرهم والله أعلم

“Soal: Syekh Taqiyuddin ditanyai tentang perempuan yang tampak sedikit dari rambutnya saat shalat, apakah batal atau tidak?”

Beliau menjawab: “Jika sedikit dari rambut perempuan atau bagian tubuhnya terbuka saat shalat maka tidak perlu baginya untuk mengulang kembali shalatnya menurut mayoritas ulama yang meliputi mazhab Abu Hanifah dan Ahmad. Namun jika yang terbuka adalah bagian yang cukup banyak maka wajib mengulang shalat pada waktu shalat tersebut masih ada, menurut para ulama secara umum yaitu mazhab empat dan mazhab yang lain. Waalahu a’lam.” (Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, Juz 2, Hal. 56)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi persoalan status shalat perempuan yang terlihat rambutnya, terjadi perbedaan antar-mazhab. Yaitu mazhab Syafi’i yang berpendapat batal dan mazhab ahmad serta mazhab Hanafi yang berpendapat tetap sah ketika rambut terlihat hanya sedikit.

Perbedaan tersebut sama-sama mu’tabar dan diakui secara fiqih. Namun dalam ranah pengamalan, sebaiknya kita mengikuti mazhab Syafi’i seperti yang biasa dianut oleh mayoritas masyarakat Muslim Indonesia. Sebab jika kita dalam permasalahan ini mengikuti pandangan mazhab Ahmad misalnya, yang berpandangan tidak batal, maka dalam persoalan shalat secara utuh kita juga wajib melaksanakannya berdasarkan pandangan  mazhab Ahmad, agar terhindar dari talfiq (pencampuran beberapa mazhab dalam satu qadiyyah) yang dilarang  oleh syara’.

Segala penjelasan di atas adalah dalam kasus terlihatnya rambut perempuan dari awal shalat dan dianggap oleh yang bersangkutan sebagai bukan hal yang bermasalah, seperti yang sering terjadi pada umumnya wanita awam. 

Berbeda halnya ketika perempuan yang melaksanakan shalat sudah menutup auratnya secara keseluruhan, namun ternyata di pertengahan shalatnya tiba-tiba auratnya terbuka (dalam hal ini sebagian rambutnya terlihat) karena faktor tertiup angin. Dalam keadaan demikian wajib baginya seketika itu juga menutup aurat yang terlihat tersebut agar shalatnya tidak dihukumi batal. Jika aurat yang terlihat tidak segera ia tutup, sekiranya melebihi waktu minimal thuma’ninah dalam shalat (dengan kadar waktu mengucapkan lafadz subhanallah) maka shalatnya menjadi batal. 

Jika penyebab terbukanya aurat bukan karena faktor tertiup angin, seperti karena terkena gesekan gerakan tubuhnya sendiri atau penyebab terbukanya aurat tersebut tanpa diketahui oleh dirinya atau sebab-sebab yang lain, maka dalam keadaan demikian terjadi perbedaan pendapat di antara ulama: sebagian berpendapat shalatnya langsung dihukumi batal, sedangkan ulama yang lain berpandangan bahwa hukumnya sama dengan permasalahan terbukanya aurat karena tertiup angin, sehingga harus segera ditutup auratnya dan shalatnya tetap sah. Namun pendapat yang kuat (mu’tamad) adalah pendapat yang mengatakan bahwa shalatnya wanita yang terbuka auratnya bukan karena faktor tertiup angin adalah langsung dihukumi batal, sehingga wajib baginya untuk mengulang kembali shalatnya (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 4, hal. 446). Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)