IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in

Senin 21 Januari 2019 20:45 WIB
Share:
Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Makkah merupakan tempat pertama turunnya Al-Qur’an. Dari sinilah Nabi pertama kali menerima wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril kemudian mengajarkannya kepada para sahabat. 

Dari Nabi para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an dan mereka berlomba-lomba penuh antusias menghafal setiap ayat yang disampaikan oleh Nabi. Dari para sahabat, para tabi’in menerima bacaan Al-Qur’an dan kemudian mereka mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Hingga lahirlah generasi qur’ani yang menetap di Makkah dan menjadi salah satu imam qira’at sab’ah. Salah satu generasi tabi’in yang dikenal piawai dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya adalah Imam Ibnu Katsir. 

Ia merupakan imam yang fasih, pandai berorasi, dan cerdik. Pembawaannya tenang dan berwibawa.

Selain sebagai imam dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, beliau juga dikenal sebagai qadli (hakim) di Makkah. Tidak ada seorang pun yang meragukan kepaiawaiannya dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya.

Baca juga:
Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdullah bin Zadan bin Fairuz bin Hurmuz. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Katsir al-Dari, dinisbatkan kepada bani Abdi al-Dar. Sebagian riwayat yang lain mengatakan bahwa kata “al-Dari” dinisbatkan pada sebuah tempat di Bahrain. (Bedakan dengan ahli tafsir kenamaan, Ibnu Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi, red). 

Beliau lahir pada tahun 45 H dan menetap di sana hingga remaja di Makkah. 

Secara fisik, Imam Ibnu Katsir ini memiliki fisik yang tinggi, berisi, gelap kulitnya, biru bola matanya, putih rambut dan jenggotnya. Seringkali rambutnya disemir dengan hina’.

Sebagai tabi’in generasi awal yang tinggal di Makkah, Imam Ibnu Katsir pernah berjumpa dengan beberapa para sahabat, di antaranya adalah Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub al-Ansari, Anas bin Malik, Mujahid bin Jabar, dan Darbas budak pembantu Ibnu Abbas.

Perjalanan Intelektual dan Silsilah Sanad Ibnu Katsir

Setalah menginjak dewasa, beliau menyempatkan diri untuk menuntut ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya kepada beberapa tabi’in senior, salah satunya adalah: (1) Abdullah bin al-Saib al-Makhzumi. (2) Mujahid bin Jabar al-Makki. (3) Darbas pembantu Ibnu Abbas.

Ketiga dari guru Imam Ibnu Katsir ini memiliki transmisi sanad yang bersambung langsung kepada para sahabat. Artinya, secara transmisi sanad qira’at Ibnu Katsir ini dapat dipertanggung-jawabkan kemutawatirannya.

1. Abdullah bin al-Saib belajar kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Sayyidina Umar bin Khattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad ﷺ.

2. Mujahid bin Jabar belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas, 

3. Darbas belajar kepada sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Murid-murid Imam Ibnu Katsir

Sebagai seorang imam qira’at, tentu banyak dari kalangan penuntut ilmu yang berguru kepadanya dan kemudian melanjutkan estafet bacaan qira’atnya. Namun di antara beberapa santri yang belajar dan termaktub dalam sejarah, yang kemudian melanjutkan estafet bacaannya adalah: (1) Ismail bin Abdullah al-Qisth, (2) Ismail bin Muslim, (3) Hammad bin Salamah, (4) Al-Khalil bin Ahmad, (5) Sulaiman bin al-Mughirah, 6) Syibl bin Ubbad, (7) Abdul Malik bin Juraih, (8) Ibnu Abi Mulaikah, (9) Sufyan bin Uyainah, (10) Abi Amr bin al-’Ala’, (11) Isa bin Umar.

Selain yang tertera di atas, menurut penuturan sejarah, imam Syafi’I juga merupakan salah satu seorang imam madzhab yang menukil dan menggunakan bacaan qira’at Ibnu Katsir. Tidak hanya menukil dan menggunakan tetapi beliau juga memujinya. Salah satu pujiannya adalah: “qira’at (bacaan) kita adalah bacaan Ibnu Katsir dan dengan bacaannya saya menemukan warga Makkah membaca dan mengamalkannya.

Komentar Ulama

Imam Ibnu Katsir tidak hanya sekedar piawai dalam ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya tetapi beliau piawai dalam bidang bahasa Arab. Salah satu pujian itu datang dari ulama, baik yang semasa maupun yang datang setelahnya. 

Imam al-Ashmu’I bertanya kepada Abu Amr: “Apakah Anda membaca kepada Imam Ibnu Katsir?” “Iya, saya mengkhatamkan Al-Qur’an setelah saya mengkhatamkan kepada Mujahid, dan Ibnu Katsir lebih piawai dalam bidang bahasa Arab daripada Mujahid.”

Ibnu Mujahid berkata: “Imam Ibnu Katsir merupakan seorang imam yang yang disepakati kepakarannya dalam bidang qira’at Al-Qur’an di Makkah hingga ia wafat pada tahun 120 H. Sebagian riwayat menegaskan bahwa beliau pernah singgah dan bermukim di Irak kemudian kembali ke Makkah dan wafat di sana.”

Perawi Imam Ibnu Katsir

Perlu diketahui, bahwa dalam dunia ilmu qira’at atau transmisi periwayatan qira’at adakalanya perawi itu meriwayatkan secara langsung dari imam qira’at, dan adakalanya perawi itu meriwayatkannya melalui perantara.

Penetapan perawi ini, baik yang meriwayatkan secara langsung kepada imam qira’at maupun melalui perantara, dilakukan oleh Imam Mujahid dalam karyanya “al-Sab’ah”. Penetapan ini bersifat final dan disepakati oleh para ulama lainnya, karena seorang perawi dipilih berdasarkan konsistensinya dan kemasyhurannya dalam meriwayatkan bacaan sang imam qira’at. Perawi dari Ibnu Katsir ini termasuk perawi yang meriwayatkan melalui perantara.

Kedua dari perawi Imam Ibnu Katsir yang terkenal dan termasyhur adalah: Imam al-Bazzi dan Imam Qanbul.

1. Imam al-Bazzi

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim bin Nafi’ bin Abi Bazzah, beliau dinisbatkan kepada kakeknya yang paling jauh, yaitu Abi Bazzah. Nama Abi Bazzah sendiri adalah Basysyar. Ia adalah seorang Persia dari marga Hamadzan. Ia masuk Islam di tangan al-Saib bin Abi al-Saib al-Makhzumi. Kuniyahnya adalah Abu al-Hasan. Beliau merupakan muadzin sekaligus sebagai imam shalat di Masjidil Haram selama 40 tahun.

Beliau dilahirkan pada tahun 170 H.

Perjalanan Intelektualnya

Menginjak masa remaja, beliau belajar dan meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir dari Ikrimah bin Sulaiman dari Ismail bin Abdullah al-Qisth, dan Syibl bin Ubbad dari Ibnu Katsir. Dari kedua gurunya tersebut, beliau menerima qira’at Ibnu Katsir secara sempurna. Dengan demikian, jika ditelisik melaui transmisi periwayatan, maka beliau meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir melalui dua jalur, yaitu: Ikrimah dari Ismail al-Qisth (dua jalur) dari Ibnu Katsir, dan Syibl bin Ubbad dari Ibnu Katsir (satu jalur).

Dalam meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir beliau tidak sendirian, tetapi ada banyak ulama yang meriwayatkannya. Dengan demikian, sangat mustahil mereka sepakat untuk melakukan kebohongan atas qira’at Ibnu Katsir. Hanya saja beliau merupakan perawi termasyhur, teristimewa dan paling adil diantara mereka.

Ada banyak predikat yang melekat dan diberikan kepada beliau, salah sarunya adalah predikat, ustadz muhaqqiq, dhabit, mutqin dan tsiqah. Dengan ketenaran dan kemasyhurannya, maka tak ayal beliau dianggap sebagai pemungkas para masyikhah  pengajaran Al-Qur’an di Makkah.

Setelah mengabdi kepada kitab Allah dengan penuh perjuangan dan pengorbanan raga dan jiwa, pada tahun 285 H, Allah memanggilnya dan dikebumikan di Makkah.

2. Imam Qanbul.

Namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Khalid bin Muhammad bin Said al-Makhzumi al-Makki. Beliau lebih dikenal dengan julukan Qunbul. Ada perbedaan pendapat tentang sebab pembeiran julukan tersebut, ada yang mengatakan bahwa beliau dari warga “Qanabilah” di daerah Makkah. Ada yang mengatakan bahwa beliau memakai obat yang untuk penyakit yang dideritanya, menurut para apoteker, dikenal dengan nama “Qunbil” (قنبيل) (memakai ya’ setelah huruf ba’, kemudian dibuang huruf ya’nya untuk meringankan pengucapan, maka dibacalah “Qanbul”). Karena seringnya memakai obat tersebut, maka ia kemudian dikenal dengan sebutan Qanbul. 

Beliau lahir di Makkah pada tahun 175 H.

Perjalanan Intelektualnya

Belajar dan membaca Al-Qur’an kepada Ahmad bin Muhammad bin ‘Aun al-Nabbal, imam al-Bazzi, Abu al-Hasan al-Qawwas dan Ma’ruf bin Misykan.

Beliau merupakan imam qira’at yang mutqin dan dhabith, pemungkas para imam di Hijaz, dan termasuk pembesar perawi Imam Ibnu Katsir dan paling tsiqah (terpercaya). 

Imam al-Bazzi didahulukan daripada Qanbul karena beliau lebih tinggi sanadnya. Karena imam Qanbul sendiri juga belajar kepada Imam al-Bazzi, sehingga menurut hitungan periwayatan, beliau lebih rendah (nazil) daripada imam al-Bazzi.

Menurut Abdullah al-Qashsha’, kedudukan imam Qanbul ini berada di atas perwira di Makkah karena seorang perwira tidak akan mendampingi seseorang kecuali dari kalangan orang mulia dan baik supaya ia berada pada jalur yang benar terhadap sesuatu yang berhubungan dengan hukum dan perdata. Mereka menyertainya karena ilmu dan keutamaannya di sisi mereka. Perlakuan seperti ini saat beliau berada di pertengahan umurnya. Terpuji perjalanan hidupnya.

Di antara murid-muridnya yang belajar kapadanya adalah Abu Rabi’ah Muhammad bin Ismail, yang termasuk santri seniornya, Muhammad bin Abdul Aziz dan Ahmad bin Musa bin Mujahid, pengarang kitab “Al-Sab’ah”, dan Muhammad bin Ahmad bin Syambudz, beliau adalah temannya.

Dikatakan bahwa ketika beliau sudah sepuh, berhenti mengajar sebelum wafat tujuh tahun atau sepeuluh tahun.

Setelah mengabdi dan berkhidmah kepada kitab Allah, beliau dipanggil oleh pemiliknya pada tahun 271 H. di Makkah.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan ini disadur dari kitab "Tarikh al-Qurra' al-'Asyrah" karya Syekh Abul Fattah al-Qadli, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010, hal. 15-17)
Share:
Senin 21 Januari 2019 22:30 WIB
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Ilustrasi (via aplus.com)
Suara yang bagus adalah sebuah bakat yang tidak dimiliki semua orang, apalagi jika suara indah itu digunakan untuk melantunkan bacaan Al-Qur’an. Tentu, siapa pun yang mendengarnya akan merasa berbeda jika dibandingkan dengan lantunan dari suara orang yang biasa-biasa saja.

Persoalannya, bagaimana dengan nasib orang-orang yang memiliki suara yang biasa-biasa saja? Apakah berbeda pahalanya? Mana yang lebih baik, baca Al-Qur’an dengan nada dan irama lagu disertai suara yang indah, dengan baca Al-Qur’an yang biasa saja, tanpa nada atau suara yang indah?

Melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan suara dan indah memang suatu kelebihan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadis riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.

عن البراء رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : زينوا القرآن بأصواتكم ، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا.

Artinya, “Dari al-Barrā’ RA, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hiasilah Al-Qur’an dnegan suaramu, karena sesungguhnya suara yang bagus akan menjadikan bacaan Al-Qur’an bertambah bagus pula.” (al-Hakim, al-Mustadrak, [Beirut: Darul Maʽrifah, t.t], j. 1, h. 575)

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi-nya.

ويستحب تحسين الصوت بالقراءة وتزيينها

Artinya, “Disunnahkan memperindah suara bacaan Al-Qur’an dengan menghiasinya (dengan nada atau irama).” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Namun, kesunahan memperindah bacaan itu bukan berarti tanpa batasan. Para ulama menetapkan koridor tertentu dalam memperindah bacaan Al-Qur’an, yaitu selama tidak melampaui batas. Yang dimaksud melampaui batas dalam hal ini adalah menggunakan lagu atau irama yang justru tanpa sadar dapat merubah bacaan Al-Qur’an, baik merubah bacaan hurufnya, harakatnya, dan lain sebagainya.

ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط ، فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفى حرفا ، هو حرام. وأما القراءة بالألحان، فهي على ما ذكرناه إن أفرط، فحرام، وإلا فلا

Artinya, “Selama tidak melampaui batas, jika melampaui batas sehingga menambah huruf secara jelas atau huruf yang sama, maka haram. Adapun membaca dengan nada atau irama maka hukumnya sebagaimana yang kami jelaskan di atas: jika melampaui batas, haram hukumnya. Jika tidak, maka boleh.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Dari beberapa referensi di atas, bisa disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan irama, jika tidak mengubah bacaan Al-Qur’an (menambah huruf secara jelas atau samar), maka lebih utama karena dapat memperindah Al-Qur’an juga. Namun jika menggunakan irama atau lagu justru malah mengubah dan merusak huruf dan makna Al-Qur’an maka lebih baik tidak menggunakan irama atau lagu. Wallahu A’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Sabtu 19 Januari 2019 19:0 WIB
Hukum Menangis dan Pura-pura Menangis saat Membaca Al-Quran
Hukum Menangis dan Pura-pura Menangis saat Membaca Al-Quran
(Foto: @aboutislam.net)
Al-Qur’an adalah pedoman bagi kaum Muslim. Membacanya pun menjadi salah satu ladang amal yang sangat tinggi pahalanya, apalagi sampai mampu menghayati dan mentadabburi bacaan yang sedang kita baca, maka pahalanya pun pasti akan berlipat ganda jika didukung dengan niat yang baik, yakni untuk mencari ridha Allah SWT.

Saat ini sering kita temukan orang yang membaca Al-Qur’an hingga menangis tersedu-sedu, mulai dari seorang qari di acara pernikahan, hingga ustadz-ustadz yang ada di televisi dan aplikasi berbagi video di dunia maya.

Tangis yang muncul bersamaan dengan pembacaan ayat Al-Qur’an tersebut tak jarang menarik orang lain untuk sama-sama menangis. Namun tak jarang banyak juga yang menganggap bahwa itu adalah tangis yang sengaja dibuat-buat untuk menarik simpati dan hati dari penonton.

Untuk menjawab ini, pertama yang harus kita perhatikan adalah kita hanya bisa memvonis tangisan yang mengiringi bacaan Al-Qur’an itu secara zahirnya saja, karena yang menjadi objek hukum adalah perkara zahir, yakni orang tersebut menangis pada saat membaca Al-Qur’an.

Dalam hal ini, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur’an sangat disunnahkan karena menangis saat membaca Al-Qur’an adalah sifat atau ciri-ciri orang-orang yang arif dan hamba-hamba yang saleh.

فإن البكاء عند القراءة صفة العارفين  وشعار عباد الله الصالحين

Artinya, “Sesungguhnya menangis saat membaca Al-Qur’an adalah sifatnya orang-orang yang arif dan syiarnya hamba-hambah Allah yang saleh,” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004], juz I, halaman 165).

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur’an adalah salah satu tanda atau implikasi dari kekhusyuan. Dalam hal ini, Imam An-Nawawi mengutip Surat Al-Isra ayat 109:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.” (Al-Isra ayat 109).

Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dalam Sahih Bukhari juga disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Masud diperintahkan Rasul SAW untuk membaca Al-Qur’an, Rasul menangis.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ نَعَمْ فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى أَتَيْتُ إِلَى هَذِهِ الْآيَةِ (فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدً ) قَالَ حَسْبُكَ الْآنَ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

Artinya, “Dari Abidah dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, 'Bacakanlah Al-Qur`an untukku.' Maka aku pun berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah aku akan membacanya untuk Anda, padahal kepada engkaulah Al-Qur’an diturunkan?' Ia menjawab, 'Ya.' Lalu aku pun membacakan surat An Nisa, hingga aku sampai pada ayat, 'Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.' Maka beliau pun bersabda padaku, 'Cukuplah.' Lalu aku menoleh ke arahnya dan ternyata kedua matanya sudah meneteskan air mata," (Lihat Al-Bukhari, Sahih Bukhari, [Beirut, Daru Tuq an-Najah: 1422 H], juz VI, halaman 196).

Ayat dan hadits tersebut menunjukkan bahwasanya kesunahan menangis saat membaca Al-Qur’an karena khusyu’ menghayati dan mentadabburi bacaan Al-Qur’an. Lalu bagaimana jika ustadz atau qari’ yang membaca Al-Qur’an pura-pura menangis?

Dalam hal ini Imam An-Nawawi juga telah menjelaskan bahwa pura-pura menangis saat membaca Al-Qur’an diperbolehkan, bahkan disunnahkan untuk pura-pura menangis jika tidak mampu menangis dengan sendirinya.

ويستحب البكاء والتباكي لمن لا يقدر على البكاء

Artinya, “Disunnahkan untuk menangis dan pura-pura menangis (dipaksa menangis) jika tidak mampu menangis (dengan sendirinya),” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004], juz I, halaman 165).

Hal ini juga didukung sebuah hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dan Ibnu Majjah bahwa Rasul meminta kita untuk pura-pura menangis saat tidak mampu menangis ketika membaca Al-Qur’an.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan kesedihan, jika kalian membacanya, maka menangislah, dan jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah untuk menangis,” (Lihat Ibnu Majjah, Sunan Ibn Majjah, (Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 424).

Terkait tujuan tangisannya itu apakah untuk menarik perhatian orang lain atau tidak, itu adalah urusan si qari’ dengan Allah SWT. Jika ia menangis untuk menarik perhatian penonton, bukan karena Allah SWT, maka Allah SWT pula yang hanya dapat mengetahuinya, dan berhak untuk tidak memberikan pahala kepadanya.

Kita sebagai manusia hanya bisa menjangkau sesuatu yang zahir. Kita tidak boleh asal memvonis perkara batin yang sebenarnya tidak kita ketahui. 

Maka jika ada ustadz atau qari yang pura-pura menangis saat membaca Al-Qur’an, kita tidak perlu beranggapan buruk kepadanya. Anggap saja mereka ingin mengamalkan kebaikan-kebaikan yang ada saat membaca Al-Qur’an. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)
Sabtu 19 Januari 2019 9:15 WIB
Hukum Membaca Al-Quran dalam Keadaan Mulut Kotor atau Terkena Najis
Hukum Membaca Al-Quran dalam Keadaan Mulut Kotor atau Terkena Najis
(Foto: @pixabay)
Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ketika membaca Al-Qur’an dianjurkan dalam keadaan bersih dan suci. Mengingat Al-Qur’an adalah kalam Ilahi yang suci, maka orang yang membacanya pun harus dalam keadaan bersih dan suci.

Bahkan secara khusus Imam An-Nawawi menganjurkan bagi para pembaca Al-Qur’an (qari) untuk membersihkan terlebih dahulu dengan siwak, yang dalam hal ini bisa digantikan fungsinya dengan sikat gigi.

وينبغي إذا أراد القراءة أن ينظف فمه بالسواك وغيره ، والاختيار في السواك أن يكون بعود الأراك ، ويجوز بغيره من العيدان ، وبالسعد والأشنان ، والخرقة الخشنة ، وغير ذلك مما ينظف.

Artinya, “Sebaiknya ketika ingin membaca Al-Qur’an terlebih dahulu membersihkan mulutnya dengan siwak dan semacamnya. Adapun yang terbaik dari siwak adalah berupa kayu arak (kayu yang biasa digunakan untuk bersiwak). Dan boleh digunakan benda lain seperti potongan cabang kayu, tanaman, otongan kain yang kasar, dan benda-benda lain yang bisa digunakan untuk membersihkan mulut,” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, (Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004), juz I, halaman 164).

Kalimat akhir dari hadis di atas menunjukkan bahwa membersihkan mulut tidak hanya bisa dilakukan dengan siwak, tapi juga bisa dilakukan dengan benda-benda lain yang dapat menggantikan siwak dalam membersihkan gigi.

Dalam kasus di atas disebutkan beberapa benda, seperti batang pohon, tanaman, hingga potongan kain yang kasar.

Namun dalam kondisi sekarang hal itu bisa digantikan dengan sikat gigi, atau bahkan cairan kumur yang tentunya dengan cara-cara tertentu bisa digunakan untuk membersihkan gigi.

Lalu bagaimana jika mulut dalam keadaan kotor karena habis menyantap makanan? Tentu dianjurkan untuk dibersihkan terlebih dahulu.

Tetapi bagaimana jika bagian dalam mulut kita berdarah, atau terkena najis, sedangkan  kita masih terus membaca Al-Qur’an, apakah diperbolehkan?

Menjawab hal ini Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ketika di dalam mulut kita terkena najis, seperti darah atau hal yang lain, maka hukumnya makruh membaca Al-Qur’an.

أما إذا كان فمه نجسا بدم أو غيره ، فإنه يكره له قراءة القرآن قبل غسله

Artinya, “Adapun jika mulut seorang qari itu terdapat najis, baik berupa darah atau benda najis lain, maka sesungguhnya dimakruhkan baginya membaca Al-Quran sebelum membersihkannya.” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, (Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004), juz I, halaman 165).

Pendapat Imam An-Nawawi tersebut secara tersirat memerintahkan kita untuk menjaga dan membersihkan mulut kita dari kotoran ataupun najis sebelum membaca Al-Qur’an untuk menghormati kesucian dan kemuliaan Al-Qur’an.

Adapun terkait keharaman membacanya saat mulut kotor atau najis, Imam An-Nawawi lebih memilih pendapat yang menyatakan hal itu tidak haram, walaupun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hal itu diharamkan.

وهل يحرم ؟ فيه وجهان أصحهما : لا يحرم

Artinya, “Apakah hal itu (membaca Al-Qur’an dalam keadaan mulut kotor atau terkena najis) diharamkan? (Imam An-Nawawi menjawab) ada dua pendapat (pendapat yang mengharamkan dan tidak mengharamkan). Adapun yang paling sahih adalah tidak haram,” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, (Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004), juz I, halaman 165). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)