IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Cara Rasulullah Bersyukur kepada Allah

Kamis 31 Januari 2019 6:0 WIB
Share:
Cara Rasulullah Bersyukur kepada Allah
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Rasulullah adalah contoh paripurna seorang hamba yang bersyukur kepada Allah. Beliau selalu mensyukuri apapun yang diberikan Allah kepadanya. Tidak pernah sekali pun Rasulullah mengeluhkan pemberian Allah. Apapun situasi dan kondisi yang menimpa dirinya. 

Rasulullah mengekspresikan rasa syukurnya atas semua nikmat Allah bukan hanya lewat lisan saja, namun juga melalui perbuatan atau tindakan nyata. Diantaranya adalah dengan tekun beribadah kepada Allah. Kendati Rasulullah sudah dijamin Allah masuk surga, namun ibadahnya begitu hebat. Bahkan dikisahkan kalau saking tekun dan khusuknya menunaikan shalat malam, kedua telapak kaki Rasulullah sampai pecah-pecah. Rasulullah sangat tekun berpuasa, dizkir, dan juga sangat dermawan. Pun berbuat baik kepada sesama. 

Posisi istimewa sebagai seorang nabi dan utusan Allah tidak membuat Rasulullah ‘berleha-leha’ dan ‘kemaruk.’ Meski sudah dijaga dari Allah dari melaksanakan perbuatan dosa (maksum), Rasulullah dengan menangis juga meminta ampunan kepada Allah. 

Tentu saja hal itu membuat para sahabat penasaran, bahkan istrinya sendiri Sayyidah Aisyah. Bagaimana mungkin seorang kekasih Allah, seorang yang dijamin masuk surga, dan seorang yang maksum, melakukan ibadah sampai segitunya. Bukankah dia tidak memiliki dosa atau kesalahan, mengapa dia meminta ampunan kepada Allah. 

“Mengapa engkau melakukan itu semua Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” tanya Sayyidah Aisyah.

Merujuk buku Samudra Keteladanan Muhammad (Nurul H Maarif, 2017), ketekunan dan kekhusukan Rasulullah dalam beribadah, munajatnya, dan berbuat baik kepada sesama merupakan sarana untuk bersyukur kepada Allah. Bukan sebagai sarana untuk pertaubatan atas segala dosanya atau pun sebagai sarana untuk mengharap surga.  

“Apakah aku tidak senang menjadi hamba yang banyak bersyukur” kata Rasulullah menjawab pertanyaan Sayyidah Aisyah di atas.

Begitulah cara Rasulullah bersyukur. Beliau bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah bukan hanya sekedar lisan -mengucapkan hamdalah- namun juga tindakan –yaitu dengan mengerjakan ibadah dengan tekun dan khusuk. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Rabu 30 Januari 2019 18:0 WIB
Ketika Rasulullah Mengajarkan Sayyidah Khadijah Wudhu dan Shalat
Ketika Rasulullah Mengajarkan Sayyidah Khadijah Wudhu dan Shalat
Sayyidah Khadijah adalah wanita –bahkan orang- yang pertama kali masuk Islam. Ia langsung menyatakan diri berikrar bahwa ‘tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, ketika suaminya itu menceritakan kejadian yang terjadi di Gua Hira. Yakni Rasulullah ditemui malaikat Jibril dan diberi wahyu yang pertama. Tidak ada keraguan sedikitpun di hati Sayyidah Khadijah terhadap Rasulullah. Ia yakin bahwa suaminya itu adalah seorang nabi dan utusan Allah.   

Rasulullah sangat gembira ketika istrinya bersedia mengikutinya. Bahkan, selalu meyakinkan dan membenarkan ‘apa yang didapat’ Rasulullah. Sayyidah Khadijah adalah orang pertama yang memberikan dukungan moril dan materiil kepada Rasulullah dalam mendakwahkan Islam. 

Beberapa saat setelah kejadian di Gua Hira, Rasulullah menuju sebuah gunung di Makkah. Ketika Rasulullah tiba di sana, malaikat Jibril datang menemuinya. Jibril mulai menyampaikan tata cara ritual keagamaan, yaitu wudhu. Pada saat itu, Jibril mencontohkan secara langsung tata cara berwudhu di hadapan Rasulullah. Rasulullah lantas mengikuti setiap gerakan yang dipraktikkan Jibril saat berwudhu.

Usai berwudhu, Jibril melaksanakan shalat. Rasulullah mengikuti setiap gerak-gerik Jibril dalam shalat. Setelah selesai memberikan pengajaran kepada Rasulullah tentang bab wudhu dan shalat, Jibril kemudian pergi meninggalkannya. Rasulullah gembira menerima wahyu dari Jibril. Ia lalu pulang ke rumah dan menemui istrinya, Sayyidah Khadijah. Ia ingin agar orang yang pertama kali mempelajari wudhu dan shalat adalah Sayyidah Khadijah.

“Aku akan mengajarkan kepadamu apa yang sudah Jibril ajarkan kepadaku. Ia pun merasa sangat gembira akan hal itu,” kata Rasulullah, dalam buku Khadijah, Teladan Agung Wanita Mukminah (Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, 2014).

Rasulullah lantas menyiapkan air. Beliau wudhu di hadapan Sayyidah Khadijah, sebagaimana cara wudhu yang diajarkan Jibril. Sayyidah Khadijah mengamati dengan seksama setiap gerakan yang dilakukan suaminya sebelum akhirnya menirukannya. Keduanya lantas mengerjakan shalat setelah selesai berwudhu. 

Iya, diantara wahyu yang turun pertama kali adalah tentang wudhu dan shalat. Memang, shalat yang lima waktu baru disyariatkan setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun sebelum itu, Rasulullah dan umatnya pada awal Islam diwajibkan untuk shalat dua kali; dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari. 

Di dalam keterangan buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Ibnu Hajar mengatakan bahwa Rasulullah dan para sahabat sudah melaksanakan shalat sebelum peristiwa Isra Mi’raj. Meski demikian, ada perbedaan pendapat terkait dengan hukum shalat itu; apakah shalat sebelum peristiwa Isra Mi’raj itu wajib? Ataukah tidak? Ada yang berpendapat kalau shalat yang diwajibkan sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj adalah shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum matahari terbenam tersebut. pendapat ini didasarkan kepada Al-Qur’an Surat Al-Mukmin ayat 55: Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 30 Januari 2019 8:0 WIB
Al-Khubab bin Al-Mundzir, Pemilik Taktik Brilian di Perang Badar
Al-Khubab bin Al-Mundzir, Pemilik Taktik Brilian di Perang Badar
Ketika pagi menyingsing dan matahari mulai memperlihatkan sinarnya, beberapa pasukan Muslim mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan tempur melawan pasukan kafir Quraisy yang selama ini menzalimi mereka.

Sama sekali tidak ada ketakutan pada raut wajah mereka. Menjadi syahid dalam peperangan pada saat itu adalah hal yang sangat diidamkan oleh setiap Muslim.

Pasukan itu dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat tercintanya. Mulai dari Abu Bakar, Umar, Ali dan beberapa sahabat yang lainnya. Merekalah para sahabat yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai As-Sabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam) yang sudah mendapatkan jatah khusus dari Allah ke surga-Nya.

Para pasukan itu sebenarnya dipersiapkan untuk menghentikan laju kafilah dagang kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Namun ternyata kafilah dagang Abu Sufyan lebih memilih jalur memutar agar tidak bertemu dengan pasukan Islam.

Rasulullah pun mengarahkan pasukannya menuju bukit Badar. Sebuah bukit yang berada di dekat kota Madinah. Namun sayangnya, masih ada beberapa pasukan yang lebih menyarankan Rasul untuk menunggu kafilah dagang Abu Sufyan saja. Hingga muncullah teguran dari Allah: 

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَن يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS al-Anfal: 7)

Sehingga mereka pun bersepakat untuk tetap berangkat menuju mata air Badar dan mengabaikan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan.

Setibanya di mata air Badar, Rasulullah pun memerintahkan pasukannya untuk mencari posisi yang tepat sebagai pos pertahanan mereka. Rasulullah kemudian menjadikan lembah badar sebagai pos pertahanan mereka. Yakni tepatnya di sumur pertama yang dilalui mereka.

Namun, datanglah seorang pria pejuang pemberani kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tampaknya pria ini telah memiliki rencana lain selain rencana yang telah diputuskan oleh Rasulullah.

Pria itu bernama al-Khubab bin al-Mundzir. Disebutkan oleh Syamsuddin al-Dzahabi dalam Târikh al-Islâm wa Wafâyât Masyâhir al-Aḥlâm, bahwa dialah yang mengusulkan sebuah taktik perang yang jitu pada saat perang Badar terjadi. (Lihat: Syamsuddin al-Dzahabi, Târikh al-Islâm wa Wafâyât Masyâhir al-Aḥlâm, [TK: Dar al-Gharb al-Islami, 2003], j. 2, h. 160)

Ia dengan hati-hati bertanya kepada Rasul. Ia tidak ingin menajadi sahabat yang membantah titah dan perintah Rasulullah. 

“Wahai Rasulullah, ampunilah aku jika terlalu lancang bertanya kepadamu. Wahai Rasul, apakah tempat ini adalah tempat yang diwahyukan oleh Allah kepadamu sehingga engkau tidak bisa menolaknya atau tempat ini hanyalah pendapat pribadimu atau bagian dan siasat perang?”

Nabi kemudian menjawab, “Bukan wahai Khubab, ini hanyalah pendapatku semata. Ini bukan wahyu dari Allah subhanahu wata'ala.”

“Jika benar begitu, bolehkah aku berpendapat wahai Rasul?”

Pria ini kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan tenang dan hati-hati. Ia takut jika pendapatnya ini menyakiti perasaan Rasul atau mungkin tidak diterimanya. 

“Wahai Rasul, menurut pendapatku, tempat ini bukan merupakan tempat yang baik. Kita seharusnya berada di tempat yang lebih dekat dengan sumber air. Mari kita bawa pasukan menuju sumber air. Setelah sumber air kita kuasai, kita tutup sumber air itu. Setelah itu kita harus membuat kolam yang kita isi dengan air dari sumber itu. Posisi ini akan sangat menguntungkan pasukan kita, karena persediaan air kita bisa terjamin sedangkan mereka tidak. Sehingga mereka akan kehausan karena kehabisan persediaan air.”

Usulan Khubab ini sangat diapresiasi oleh Rasulullah. Tanpa pikir panjang, Rasululah kemudian memerintahkan pasukannya sesuai dengan arahan dan pendapat Khubab. Sikap beliau ini menunjukkan bahwa Nabi adalah pribadi yang gemar musyawarah dan terbuka atas pendapat orang lain.

Dan akhirnya taktik Khubab pun berhasil. Pasukan Muslim mendapatkan persediaan air yang cukup selama berperang. Sedangkan kafir Quraisy kehausan dan kelaparan karena sumber air itu telah ditutup.

Khubbah meninggal pada saat Umar bin Khattab menjadi khalifah. Taktik perang Khubbab yang menjadikan kaum Muslimin menang dalam perang Badar akan dikenang oleh seluruh umat Islam sepanjang masa.

Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Rabu 30 Januari 2019 6:0 WIB
Beribadah atas Nama Orang Tua
Beribadah atas Nama Orang Tua
Rasulullah diutus Allah ke dunia ini untuk menyampaikan risalah ilahi, mengajak manusia untuk menyembah Allah, dan mengesakan-Nya. Rasulullah menjadi ‘wakil’ Allah di muka bumi. Sehingga ketika Rasulullah masih hidup pada saat itu, para sahabat langsung bertanya kepada Rasulullah manakala mereka menemukan sebuah persoalan. Baik persoalan sosial, politik, budaya, peperangan, dan terutama problematika keagamaan. 

Rasulullah selalu menyampaikan ‘apa yang didapatnya’ dari Allah kepada para sahabatnya. Mulai dari bab ritual keagamaan, penjelasan tentang sebab turunnya ayat, etika, nasihat, anjuran, hingga larangan. Semuanya disampaikan dengan detil dan rinci sehingga para sahabat memahaminya dengan baik. Pengajarannya pun tidak melulu dilakukan di masjid, tapi juga di tempat-tempat lainnya seperti rumahnya, rumah sahabat, dan lainnya.

Alkisah, suatu ketika Rasulullah tengah memberikan pengajaran kepada para sahabatnya. Salah satu peserta yang hadir adalah Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami. Setelah Rasulullah menyampaikan beberapa nasihat, Buraidah ‘curhat’ kepada Rasulullah terkait dengan unek-unek yang mengganjal di hatinya. 

Mula-mula, ia bilang kepada Rasulullah kalau beberapa waktu lalu dia memberi ibunya seorang hamba sahaya. Pemberian itu dimaksudkan untuk meringankan beban pekerjaan ibunya. Namun kata Buraidah, ibunya meninggal dunia. 

“Engkau pasti mendapat pahala dan hamba sahaya itu kini menjadi milikmu kembali sebagai harta warisan,” kata Rasulullah menimpali 'curhatan' Buraidah, seperti dikutip buku Pesona Akhlak Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Buraidah lantas menyampaikan dua pertanyaan kepada Rasulullah. Pertama, perihal hutang puasa. Buraidah menceritakan kalau ibunya memiliki hutang puasa. Ia bertanya kepada Rasulullah apakah boleh berpuasa atas nama ibunya. Rasulullah pun mempersilahkan Buraidah untuk berpuasa atas nama ibunya.

Kedua, soal haji. Buraidah juga bertanya kepada Rasulullah apakah dirinya boleh meng-haji-kan ibunya karena ibunya belum pernah naik haji. Lagi-lagi Rasulullah membolehkan Buraidah untuk melakukan itu. Beribadah atas nama orang tuanya. Berbuat baik atas nama orang tua.  

“Naik haji lah engkau atas namanya (ibu),” jawab Rasulullah. 

Demikian lah jawaban langsung dari Rasulullah. Boleh-boleh saja jika seseorang meniatkan ibadahnya atau berbuat baik atas nama orang tuanya yang sudah tiada. Beliau tidak melarangnya, bahkan malah mempersilahkannya. (A Muchlishon Rochmat)