IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak

Rabu 30 Januari 2019 22:15 WIB
Share:
Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
Ilustrasi
Basrah merupakan kota terbesar kedua di Irak. Pada zaman dahulu, selain sebagai pusat ilmu, Basrah merupakan pusat perkantoran dan politik pemerintahan Islam. Secara geografis, Basrah terletak di selatan Irak. Ia dikenal dan dikenang oleh sejarah karena banyak melahirkan intelektual dan ilmuwan, salah satunya adalah Abu al-Aswad al-Du’ali, Muhammad bin Sirin, al-Mubarrad, Khalil bin Ahmad, Sibawaih, Hammad bin Salamah, Al-Mawardi, al-Farazdaq, Abu Musa al-Asy’ari dan Hasan al-Bashri.

Dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, Basrah melahirkan seorang ilmuwan yang zuhud, yaitu Imam Abu Amr al-Bashri. Ia merupakan salah satu imam qira’at sab’ah yang lahir di Makkah tahun 70 H. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 68 H.

Namanya Zabban bin al-Ala’ bin Ammar bin al-Uryan bin Abdullah bin al-Husain bin al-Harits bin Jalhamah. Ia dikenal dengan sebutan al-Imam as-Sayyid Abu Amr al-Tamimi al-Mazini al-Bashri. Nasabnya bersambung kepada Adnan, buyut Nabi Muhammad ﷺ.

Perjalanan Intelektualnya 

Sejak kecil hingga remaja, beliau hidup di Makkah,. Di sana beliau belajar kepada banyak guru. Selain belajar di Makkah, beliau juga belajar kepada masyayikh di Madinah. 

Setelah beranjak remaja, saat ada kejadian para hujjaj di Makkah, beliau melakukan perjalanan (migrasi) ke Basrah, kemudian menetap di sana hingga menjadi imam dan panutan masyarakat Basrah.

Imam al-Bashri merupakan imam qira’at yang memiliki paling banyak guru. Tidak ada satu pun imam qira’at sab’ah yang lebih banyak gurunya dibandingkan Abu Amr.

Selain belajar di Makkah dan Madinah, ia juga belajar kepada banyak guru Kufah dan Basrah. Selama dalam perjalanan intelektualnya, ia tercatat pernah mendengar langsung (hadis) dari sahabat Anas bin Malik dan para sahabat yang lain. Oleh karena itu, maka wajar beliau dianggap sebagai imam qira’at yang banyak memiliki guru. Ada empat negara yang menjadi tempat persinggahan beliau dalam perjalanan intelektualnya, yaitu Makkah, Madinah, Kufah dan Basrah. 

Dalam bidang hadis, para kritikus hadis memberi predikat kepadanya sebagai tsiqah (terpercaya) dan shaduq (sangat jujur).

Guru dan Silsilah Sanadnya

Dalam ilmu Al-Qur’an dan qira’at, transmisi periwayatan merupakan salah satu unsur yang paling penting. Tanpa transmisi periwayatan yang jelas dan mutawatir, maka periwayatan tersebut dianggap syadz. Oleh karena itu, dalam transmisi periwayatan Imam al-Bashri memiliki kemutawatiran yang sangat jelas dan dapat dipertangung-jawabkan. Berikut adalah transmisi periwayatan Imam al-Bashri.

Dalam bidang Al-Qur’an dan qira’at beliau belajar kepada: (1) al-Hasan bin Abi al-hasan al-Bashri, (2) Abi Ja’far, (3) Humaid bin Qays al-A’raj al-Makki, (4) Abi al-Aliyah, (5) Yazid bin Ruman, (6) Syaibah bin Nashshah, (7) Ashim bin Abi al-Najud, (8) Abdullah bin Katsir, (8) Abdullah bin Ishaq al-Hadrami, (9) Atha’ bin Abi Rabah, (10) Ikrimah bin Khalid al-Makhzumi, (11) Ikrimah pembantu Ibnu Abbas, (12) Mujahid bin Jabar, (13) Muhammad bin Muhaishin, (14) Nashr bin Ashim, (15) Yahya bin Yakmur, (16) Said bin Jubair.

Berikut adalah silsilah sanad Imam al-Bashri bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ,.

1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan belajar kepada dua orang guru: (1) Haththan bin Abdullah bin al-Raqasyi, beliau belajar kepada Abu Musa al-’Asy’ari, beliau belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ. (2) Abi al-Aliyah al-Riyahiy belajar kapada Umar bin al-Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Abbas. Mereka berempat belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ,.

2. Humaid belajar kepada Mujahid bin Jabar, beliau belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin al-Saib belajar kepada Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab, kedua-duanya belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sedangkan Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay dan Zaid bin Tsabit, dan kedua-duanya belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ.

3. Yazid dan Syaibah bin Nashshah, kedua-duanya belajar kepada Abdullah bin Ayyasy dan beliau belajar kapada Ubay bin Ka’ab, dari Nabi Muhammad ﷺ.

4. Ibnu Katsir belajar kepada tiga guru, yaitu sebagai berikut: (1) Abdullah bin al-Saib belajar kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Sayyidina Umar bin Khattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad ﷺ, (2) Mujahid bin Jabar belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas. (3) Darbas belajar kepada sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

5. Ashim bin Abi al-Najud belajar kepada tiga guru, yaitu (1) Abu Abdurrahman al-Sullami. (2) Zir bin Hubaisy dan, (3) Sa’ad bin Ilyas al-Syaibani. Abu Abdurrahman al-Sullami belajar kepada Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit, mereka menerima dari Nabi Muhammad ﷺ. Sedangkan Zir dan Sa’ad bin Ilyas belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad ﷺ.

6. Abdullah bin Ishaq membaca kepada dua orang, yaitu: Yahya bin Yakmur dan Nashr bin Ashim dan kedu-duanya membaca kepada Abu al-Aswad al-Duali, beliau dari Utsman bin Affan, dari Nabi Muhammad ﷺ.

7. Atha’ membaca Al-Qur’an kepada Abu Hurairah, beliau membaca kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit, kedua-duanya dari Nabi Muhammad ﷺ.

8. Ikrimah bin Khalid belajar kepada murid-muridnya Ibnu Abbas dan Ibnu Abbas membaca kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

9. Ikrimah pembantu Ibnu Abbas membaca kepada Ibnu Abbas, sanadnya telah disebutkan di atas.

10. Ibnu Muhaisin belajar kapada Darbas dan Mujahid, sanadnya telah disebutkan di atas.

Komentar Ulama

Abu Amr, dengan kemulyaan (ilmu) yang dimilikinya, tidak ada yang meragukan kedudukan dan kealimannya. Beliau adalah orang yang mahir dalam bidang bahasa arab dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Imam Farazdaq dan kalangan penyair yang lain memujinya dengan menyatakan: “Dia adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an dan gramatikal bahasa Arab, sejarah Arab dan syair-syairnya. Ia merupakan orang yang jujur, tsiqah, amanah, Zahid dan agamis.

Imam al-Ashmu’I bercerita bahwa imam Abu Amr berkata kepadanya: “Andai saja saya tidak belajar dan membaca sebagaimana dia (guru qira’atnya) membaca, niscara saya akan membaca begini dan begini dari beberapa huruf (qira’at)”. Artinya, andai saja tidak belajar kepada seorang guru dalam membaca Al-Qur’an dan qira’at, niscaya beliau mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya.

Imam al-Ashmu’I juga bercerita bahwa Abu Amr berkata: “Saya tidak menemui seorang sebelumku yang lebih mengerti daripada saya (tentang bahasa Arab)”.

Imam al-Asmu’I menimpali: “saya pun tidak menemukan seorang setelahnya yang lebih alim darinya”.

Yunus bin Habib al-Nahwi berkata: “Andai saja ada orang yang pantas untuk diambil ucapannya dalam hal apapun, niscaya ucapan Abu Amr yang paling pantas untuk diambil (ucapannya)”.

Ibnu Katsir berkata dalam karyanya “al-Bidayah wa al-Hinayah”: “Abu Amr adalah orang yang paling alim di zamannya dalam bidang qira’at, Nahwu dan fiqh, dan dia termasuk ulama yang mengamalkan ilmunya (ulama’ al-amilin). Jika sudah masuk bulan ramadhan, beliau tidak menggubah atau menulis sebuah syair hingga ramadhan selesai, karena beliau hanya sibuk membaca Al-Qur’an”.

Abu Ubaidah berkata: “buku-buku Abu Amr sangat banyak dirumahnya hingga menumpuk sampai loteng rumahnya, namun seluruh buku-buku tersebut dibakar hanya karena ingin fokus beribadah dan menjalani riyadhah menghatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari sekali.

Imam al-Akhfasy berkata: “imam Hasan al-Bashri melewati halaqahnya Abu Amr yang penuh sesak dengan manusia, mereka menyimak penuh perhatian apa yang disampaikan oleh Abu Amr. Kemudian ia bertanya: “Siapakah dia?. Mereka menjawab: “Abu Amr al-Bashri”. kemudian Imam Hasan al-Bashri tersentak kaget sambil mengucapkan kalimat tahlil, kemudian berkata: “hampir saja ulama menjadi tuhan”.

Kemudian Hasan berkata: “Setiap kemulyaan yang tidak dihimpun oleh ilmu, maka kepada kehinaan ia kembali”.

Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Saya bermimpi bertemu dengan Nabi, kemudian saya bertanya kepada Beliau: “Ya Rasulallah, benar-banar terjadi perbedaan di tengah-tengah masyarakat dalam hal membaca Al-Qur’an, maka dengan qira’ahnya siapa panjenangan menganjurkan saya membacanya?. Nabi menjawab: “Bacalah qira’at Imam Abu Amr bin al-Ala’”. 

Imam Abu Amr al-Asadi berkata: “Saat saya takziyah atas wafatnya Imam Abu Amr, saya menghampiri putra-putranya untuk mengucapkan bela sungkawa. Saat saya duduk dengan mereka, kemudian Yunus bin Hubaib menyambut kami dengan ungkapan: “saya ucapkan bela sungkawa kepada kalian, dan kepada kami semua, karena merasa kehilangan orang yang tidak ada bandinganya (kealimannya) di akhir zaman ini. Demi Allah, andaikan ilmu dan kezuhudan Imam al-Bashri ini dibagikan kepada seratus orang, niscaya mereka akan menjadi ulama dan zahid semuanya. Demi Allah, andai Nabi melihatnya, Beliau pasti senang”.

Murid-muridnya

Ada banyak santri yang belajar kepadanya, baik dalam bentuk setoran maupun hanya menyimak, yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satunya adalah: Abu Zaid bin Aus, Sallam bin Sulaiman al-Thawil, Sahal bin Yusuf, Syuja’ bin Abu Nashr al-Balkhi, Al-Abbas bin al-Fasl, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, Sibawaih dan Yunus bin Habib, keduanya merupakan maha guru Nahwu.

Secara spesifik Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, Sibawaih dan Yunus bin Habib, Khalil bin Ahmad belajar Nahwu kepadanya.

Adapun yang belajar ilmu adab (syair dan yang terkait) kepadanya sangat banyak sekali, salah satunya adalah Abu Ubaidah bin Muammar bin al-Mutsanna, al-Ashmu’I dan Muadz bin Muslim al-Nahwi.

Sebagian sejarawan mencatat, bahwa ketika ditanyakan kapan sebaikanya seorang belajar?. beliau menjawab: “Sebaikanya ia belajar selama masih hidup”.

Dalam cincinya tertulis: “Sesungguhnya seorang tujuan terbesarnya adalah dunia, maka ia berpegang teguh pada tali kebohongan”.

Setelah mengabdi dan berkhidmat kepada Al-Qur’an dan qira’atnya, beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H menurut kebanyakan ahli sejarah, umurnya mendekati 90 tahun. 

Perawi Imam Abu Amr al-Bashri

Sebagaimana telah dipaparkan pada edisi sebelumnya, (profil Imam Ibnu Katsir) bahwa dalam transmisi periwayatan qira’at Al-Qur’an ada dua model: (1) perawi tanpa perantara, (2) perawi melalui perantara. 

Dalam riwayat bacaan Imam Abu Amr, kedua perawinya meriwayatkan bacaan Imam Abu Amr al-Bashri melalui jalur perantara. Perawi tersebut adalah, imam Hafs al-Duri, dan imam al-Susi.

1. Imam al-Duri

Nama lengkapnya adalah Hafs bin Umar bin Abdul Aziz bin Shuhban bin Adi bin Shuhban al-Duri al-Azdi al-Baghdadi. Panggilannya adalah Abu Umar. Beliau lebih dikenal dengan sebutan al-Duri, dinisbatkan kepada desa “al-Dur”, sebuah tempat di sebelah timur Baghdad.

Beliau merupakan ulama yang ahli dalam ilmu qira’at (al-Muqri’) dan ahli gramatikal bahasa arab. Meskipun demikian, beliau salah satu hamba Allah yang diberikan kesempurnaan ilmu namun kekurangan soal fisik, yaitu mata yang tidak bisa melihat secara sempurna; buta.

Selain sebagai perawi dari bacaan imam Abu Amr al-Bashri, beliau sekaligus menjadi perawi dari Imam Ali al-Kisa’I; Imam Qira’at ke tujuh.

Lahir pada tahun 150 H di desa “al-Dur” pada masa pemerintahan al-Mansur, khalifah Ummayyah.

Pada masanya, beliau dikenal sebagai imam qurra’ (guru para qari’), sekaligus guru masyarakat umum, khususnya di daerah Iraq. Dengan kealimannya, ia mendapatkan predikat dari para ulama sebagai orang yang tsiqah, tsabat dan dhabit. Beliau merupakan orang yang pertama menyusun qira’at dan mendokumentasikannya.

Imam al-Duri ini merupakan salah satu imam yang memiliki kesungguhan dan ketelatenan soal ilmu. Terbukti, ia banyak belajar kepada guru pada masanya, salah satunya adalah: Imam Nafi’, Ismail bin Jakfar, Ya’kub bin Jakfar, Sulaim dari Imam Hamzah, Muhmmad bin Sa’dan dari Imam Hamzah dan Imam Ali al-Kisa’I. Maka tak heran, bila imam al-Ahwazi berkomentar: “ beliau pergi jauh untuk meraih ilmu qira’at, dan mempelajari semua bacaan, baik yang mutawatir, shahih, maupun yang syadz. Dengan demikian, banyak santri yang ingin belajar kepadanya dari berbagai penjuru karena keluhuran sanadnya dan keluasan ilmunya”.

Di antara santri-santrinya adalah: Ahmad bin Harb syaikh al-Mutthawwa’I, Abu Ja’far Ahmad bin Farah, Ahmad bin Yazid al-Hulwani dan Muhammad bin Hamdun al-Qathi’I. 

Dalam meriwayatkan qira’at Abu Amr, beliau meriwayatkan melalui Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi dari Abu Amr al-Bashri. Artinya, antara perawi dan imam qira’at hanya melalui satu jalur.

Dalam bidang hadis, hadis-hadis imam al-Duri dapat ditemuakan dalam kitab Sunan Ibnu Majah. Imam Abu Hatim men-takdil-nya dengan sebutan “Shoduq”, sangat jujur.

Karya-karya Imam al-Duri

Selain piawai dalam bacaan Al-Qur’an dan qira’atnya dalam bentuk oral, beliau juga piawai dalam bentuk tulisan, yang kemudian menjadi sebuah karya yang abadi dan terus dipelajari oleh generasi setelahnya. Diantara karya-karyanya adalah: “ma ittafaqat al-fadzuhu wa ma’anihi min Al-Qur’an, Ahkam Al-Qur’an wa al-Sunan, Fadlail Al-Qur’an, dan Ajza’I Al-Qur’an”.

Imam Abu Daud berkata: “saya melihat Imam Ahmad bin Hambal menulis tentang Al-Duri, ia merupakan imam yang panjang umurnya (lama) dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, banyak orang yang mengambil manfaat atas keluasan ilmunya dari seluruh penjuru, sehingga ia wafat pada bulan syawal tahun 246 H pada masa pemerintahan al-Mutawakkil”.

2. Imam al-Susi

Nama lengkapnya adalah shaleh bin Ziyad bin Abdullah bin Ismail bin Ibrahim bin al-Jarud al-Susi. Kata “al-Susi” dinisbatkan pada sebuah kota di Ahwaz. Beliau merupakan imam muqri’ yang memiliki kekuatan hafalan yang sempurna (dhabit), penyampaian yang tajam (muharrir), dan terpercaya (tsiqah).

Beliau dilahirkan pada tahun 170 H.

Dalam meriwayatkan qira’at Imam Abu Amr, beliau meriwayatkan malalui jalur Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, satu perguruan dengan Imam al-Duri. Namun Imam al-Susi termasuk santri senior.

Meskipun satu perguruan, antara Imam al-Susi dan Imam al-Duri memiliki banyak perbedaan soal ushul qira’atnya. Imam al-Susi lebih dikenal dengan bacaan “idgham kabirnya”, yang hampir tidak ada dalam riwayat Imam al-Duri, dari jalur Syatibiyah. 

Dalam bidang qira’at yang belajar kepada Imam al-Susi adalah anaknya sendiri, Muhammad, Muhammad bin Jarir al-Nahwi, Abu al-harits Muhammad bin Ahmad al-Tharsusi, Muhammad bin Syuaib al-Nasa’I, Muhammad bin Ismail al-Quraisy dan Musa bin Jumhur.

Dalam bidang hadis, para kritikus hadis memberi predikat “Shaduq” kepadanya, seperti yang disampaikan oleh Imam Hatim. Ada banyak yang meriwayatkan hadis dari beliau, salah satunya adalah Abu Bakar bin Abu Ashim, Abu Arubah al-Harrani dan al-Hafidz Muhammad bin Said.

Setelah mengabdi dan berkhidmah untuk Al-Qur’an, beliau dipanggil oleh sang pemilik semesta pada tahun 261 H.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010, hal, 19-22

Share:
Selasa 22 Januari 2019 18:0 WIB
Tips Imam al-Ghazali tentang Membaca Al-Qur’an hingga Menangis
Tips Imam al-Ghazali tentang Membaca Al-Qur’an hingga Menangis
Ilustrasi (thenational.ae)
Abdullah bin Mas’ud adalah salah satu qari’ kepercayaan Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi memanggilnya, itu artinya ada hal penting, salah satunya: Rasul ﷺ akan mengajarkan ayat Al-Qur’an, wahyu yang baru saja turun.

Namun, hari itu tidak seperti biasanya. Rasul ﷺ memanggilnya bukan untuk mengajarkan salah satu ayat. Rasul ﷺ malah memerintahkannya untuk membacakan sebuah ayat.

Abdullah bin Masud agak bingung. Tidak seperti biasanya Rasul ﷺ seperti itu. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Rasul ﷺ, apakah aku layak untuk membacakanmu sebuah ayat dari Al-Qur’an? Bukankah engkau yang lebih layak? Kepada engkaulah Al-Qur’an itu diturunkan,” protes Ibnu Mas’ud.

“Bacalah saja, aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab Rasul.

Tak ingin membantah, Ibnu Mas’ud pun mulai membaca Al-Qur’an. Ia membaca Surat an-Nisa hingga sampai pada suatu ayat, “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.”

Rasul memotong bacaan Ibn Masud, “Berhenti!” Ibn Masud melihat mata Rasul ﷺ telah menitikkan air mata. Kisah ini bisa ditemui dalam kitab Sahih Bukhari riwayat Ibn Masud.

Begitulah Rasul ﷺ saat dibacakan Al-Qur’an, ia menangis, tanda kalau ia menghayati bacaannya. Itulah mengapa, menangis menjadi salah satu kesunhahan saat membaca Al-Qur’an, tanda bahwa sang qari tersebut menghayati bacaannya hingga menangis, walaupun hal ini tidak bisa menjadi parameter penuh.

Baca juga:
Ayat Al-Qur'an yang Membuat Rasulullah Menangis
Hukum Menangis dan Pura-pura Menangis saat Membaca Al-Qur'an

Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan kesedihan, jika kalian membacanya, maka menangislah, dan jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah untuk menangis.” (Ibn Majjah, Sunan Ibn Majjah, [Beirut: Dar al-Fikr, t.t], h. 424).

Pura-pura menangis yang dimaksud dalam hal ini adalah berusaha atau memaksa agar mampu menangis. Imam al-Ghazali memberikan beberapa tips agar kita mampu membaca Al-Qur’an dengan menghayatinya, hingga kita mampu menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, pertama yang harus dilakukan oleh seorang qari adalah menghadirkan rasa sedih saat membaca Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an diturunkan dengan kesedihan.

وقال الإمام: وإنما طريق تكلف البكاء أن يخضر قلبه الحزن 

Artinya, “Imam al-Ghazali berkata: Sesungguhnya cara untuk memaksa diri agar bisa menangis (saat membaca Al-Qur’an) adalah dengan menghadirkan rasa sedih dalam hati.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 165)

Tentunya, rasa sedih tidak mungkin bisa serta merta hadir. Lalu bagaimana caranya agar rasa sedih itu bisa hadir?

Imam al-Ghazali melanjutkan:

ووجه إحضار الحزن أن يتأمل ما فيه من التهديد والوعيد والمواثيق والعهود، ثم يتأمل تقصيره في أوامره وزواجره فيحزن لا محالة ويبكي

Artinya, “Cara menghadirkan rasa sedih adalah dengan merenungkan ancaman dan janji-janji Allah ﷻ. Kemudian merenungkan kelalaian kita dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah ﷻ tentu kesedihan akan tak dapat terelakkan, kemudian menangis.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, (Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004), j. 1, h. 165)

Jika hal-hal di atas, mulai mengingat ancaman, siksaan, dosa, dan lain sebagainya, tidak mampu membuat kita menangis, maka, menurut al-Ghazali, hal itu merupakan musibah terbesar dalam hidup. Wallahu A’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)


Senin 21 Januari 2019 22:30 WIB
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Ilustrasi (via aplus.com)
Suara yang bagus adalah sebuah bakat yang tidak dimiliki semua orang, apalagi jika suara indah itu digunakan untuk melantunkan bacaan Al-Qur’an. Tentu, siapa pun yang mendengarnya akan merasa berbeda jika dibandingkan dengan lantunan dari suara orang yang biasa-biasa saja.

Persoalannya, bagaimana dengan nasib orang-orang yang memiliki suara yang biasa-biasa saja? Apakah berbeda pahalanya? Mana yang lebih baik, baca Al-Qur’an dengan nada dan irama lagu disertai suara yang indah, dengan baca Al-Qur’an yang biasa saja, tanpa nada atau suara yang indah?

Melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan suara dan indah memang suatu kelebihan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadis riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.

عن البراء رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : زينوا القرآن بأصواتكم ، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا.

Artinya, “Dari al-Barrā’ RA, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hiasilah Al-Qur’an dnegan suaramu, karena sesungguhnya suara yang bagus akan menjadikan bacaan Al-Qur’an bertambah bagus pula.” (al-Hakim, al-Mustadrak, [Beirut: Darul Maʽrifah, t.t], j. 1, h. 575)

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi-nya.

ويستحب تحسين الصوت بالقراءة وتزيينها

Artinya, “Disunnahkan memperindah suara bacaan Al-Qur’an dengan menghiasinya (dengan nada atau irama).” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Namun, kesunahan memperindah bacaan itu bukan berarti tanpa batasan. Para ulama menetapkan koridor tertentu dalam memperindah bacaan Al-Qur’an, yaitu selama tidak melampaui batas. Yang dimaksud melampaui batas dalam hal ini adalah menggunakan lagu atau irama yang justru tanpa sadar dapat merubah bacaan Al-Qur’an, baik merubah bacaan hurufnya, harakatnya, dan lain sebagainya.

ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط ، فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفى حرفا ، هو حرام. وأما القراءة بالألحان، فهي على ما ذكرناه إن أفرط، فحرام، وإلا فلا

Artinya, “Selama tidak melampaui batas, jika melampaui batas sehingga menambah huruf secara jelas atau huruf yang sama, maka haram. Adapun membaca dengan nada atau irama maka hukumnya sebagaimana yang kami jelaskan di atas: jika melampaui batas, haram hukumnya. Jika tidak, maka boleh.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Dari beberapa referensi di atas, bisa disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan irama, jika tidak mengubah bacaan Al-Qur’an (menambah huruf secara jelas atau samar), maka lebih utama karena dapat memperindah Al-Qur’an juga. Namun jika menggunakan irama atau lagu justru malah mengubah dan merusak huruf dan makna Al-Qur’an maka lebih baik tidak menggunakan irama atau lagu. Wallahu A’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Senin 21 Januari 2019 20:45 WIB
Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Makkah merupakan tempat pertama turunnya Al-Qur’an. Dari sinilah Nabi pertama kali menerima wahyu dari Allah, melalui malaikat Jibril kemudian mengajarkannya kepada para sahabat. 

Dari Nabi para sahabat menerima bacaan Al-Qur’an dan mereka berlomba-lomba penuh antusias menghafal setiap ayat yang disampaikan oleh Nabi. Dari para sahabat, para tabi’in menerima bacaan Al-Qur’an dan kemudian mereka mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Hingga lahirlah generasi qur’ani yang menetap di Makkah dan menjadi salah satu imam qira’at sab’ah. Salah satu generasi tabi’in yang dikenal piawai dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya adalah Imam Ibnu Katsir. 

Ia merupakan imam yang fasih, pandai berorasi, dan cerdik. Pembawaannya tenang dan berwibawa.

Selain sebagai imam dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, beliau juga dikenal sebagai qadli (hakim) di Makkah. Tidak ada seorang pun yang meragukan kepaiawaiannya dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya.

Baca juga:
Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abdullah bin Zadan bin Fairuz bin Hurmuz. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Katsir al-Dari, dinisbatkan kepada bani Abdi al-Dar. Sebagian riwayat yang lain mengatakan bahwa kata “al-Dari” dinisbatkan pada sebuah tempat di Bahrain. (Bedakan dengan ahli tafsir kenamaan, Ibnu Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi, red). 

Beliau lahir pada tahun 45 H dan menetap di sana hingga remaja di Makkah. 

Secara fisik, Imam Ibnu Katsir ini memiliki fisik yang tinggi, berisi, gelap kulitnya, biru bola matanya, putih rambut dan jenggotnya. Seringkali rambutnya disemir dengan hina’.

Sebagai tabi’in generasi awal yang tinggal di Makkah, Imam Ibnu Katsir pernah berjumpa dengan beberapa para sahabat, di antaranya adalah Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub al-Ansari, Anas bin Malik, Mujahid bin Jabar, dan Darbas budak pembantu Ibnu Abbas.

Perjalanan Intelektual dan Silsilah Sanad Ibnu Katsir

Setalah menginjak dewasa, beliau menyempatkan diri untuk menuntut ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya kepada beberapa tabi’in senior, salah satunya adalah: (1) Abdullah bin al-Saib al-Makhzumi. (2) Mujahid bin Jabar al-Makki. (3) Darbas pembantu Ibnu Abbas.

Ketiga dari guru Imam Ibnu Katsir ini memiliki transmisi sanad yang bersambung langsung kepada para sahabat. Artinya, secara transmisi sanad qira’at Ibnu Katsir ini dapat dipertanggung-jawabkan kemutawatirannya.

1. Abdullah bin al-Saib belajar kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Sayyidina Umar bin Khattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad ﷺ.

2. Mujahid bin Jabar belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas, 

3. Darbas belajar kepada sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Murid-murid Imam Ibnu Katsir

Sebagai seorang imam qira’at, tentu banyak dari kalangan penuntut ilmu yang berguru kepadanya dan kemudian melanjutkan estafet bacaan qira’atnya. Namun di antara beberapa santri yang belajar dan termaktub dalam sejarah, yang kemudian melanjutkan estafet bacaannya adalah: (1) Ismail bin Abdullah al-Qisth, (2) Ismail bin Muslim, (3) Hammad bin Salamah, (4) Al-Khalil bin Ahmad, (5) Sulaiman bin al-Mughirah, 6) Syibl bin Ubbad, (7) Abdul Malik bin Juraih, (8) Ibnu Abi Mulaikah, (9) Sufyan bin Uyainah, (10) Abi Amr bin al-’Ala’, (11) Isa bin Umar.

Selain yang tertera di atas, menurut penuturan sejarah, imam Syafi’I juga merupakan salah satu seorang imam madzhab yang menukil dan menggunakan bacaan qira’at Ibnu Katsir. Tidak hanya menukil dan menggunakan tetapi beliau juga memujinya. Salah satu pujiannya adalah: “qira’at (bacaan) kita adalah bacaan Ibnu Katsir dan dengan bacaannya saya menemukan warga Makkah membaca dan mengamalkannya.

Komentar Ulama

Imam Ibnu Katsir tidak hanya sekedar piawai dalam ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya tetapi beliau piawai dalam bidang bahasa Arab. Salah satu pujian itu datang dari ulama, baik yang semasa maupun yang datang setelahnya. 

Imam al-Ashmu’I bertanya kepada Abu Amr: “Apakah Anda membaca kepada Imam Ibnu Katsir?” “Iya, saya mengkhatamkan Al-Qur’an setelah saya mengkhatamkan kepada Mujahid, dan Ibnu Katsir lebih piawai dalam bidang bahasa Arab daripada Mujahid.”

Ibnu Mujahid berkata: “Imam Ibnu Katsir merupakan seorang imam yang yang disepakati kepakarannya dalam bidang qira’at Al-Qur’an di Makkah hingga ia wafat pada tahun 120 H. Sebagian riwayat menegaskan bahwa beliau pernah singgah dan bermukim di Irak kemudian kembali ke Makkah dan wafat di sana.”

Perawi Imam Ibnu Katsir

Perlu diketahui, bahwa dalam dunia ilmu qira’at atau transmisi periwayatan qira’at adakalanya perawi itu meriwayatkan secara langsung dari imam qira’at, dan adakalanya perawi itu meriwayatkannya melalui perantara.

Penetapan perawi ini, baik yang meriwayatkan secara langsung kepada imam qira’at maupun melalui perantara, dilakukan oleh Imam Mujahid dalam karyanya “al-Sab’ah”. Penetapan ini bersifat final dan disepakati oleh para ulama lainnya, karena seorang perawi dipilih berdasarkan konsistensinya dan kemasyhurannya dalam meriwayatkan bacaan sang imam qira’at. Perawi dari Ibnu Katsir ini termasuk perawi yang meriwayatkan melalui perantara.

Kedua dari perawi Imam Ibnu Katsir yang terkenal dan termasyhur adalah: Imam al-Bazzi dan Imam Qanbul.

1. Imam al-Bazzi

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim bin Nafi’ bin Abi Bazzah, beliau dinisbatkan kepada kakeknya yang paling jauh, yaitu Abi Bazzah. Nama Abi Bazzah sendiri adalah Basysyar. Ia adalah seorang Persia dari marga Hamadzan. Ia masuk Islam di tangan al-Saib bin Abi al-Saib al-Makhzumi. Kuniyahnya adalah Abu al-Hasan. Beliau merupakan muadzin sekaligus sebagai imam shalat di Masjidil Haram selama 40 tahun.

Beliau dilahirkan pada tahun 170 H.

Perjalanan Intelektualnya

Menginjak masa remaja, beliau belajar dan meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir dari Ikrimah bin Sulaiman dari Ismail bin Abdullah al-Qisth, dan Syibl bin Ubbad dari Ibnu Katsir. Dari kedua gurunya tersebut, beliau menerima qira’at Ibnu Katsir secara sempurna. Dengan demikian, jika ditelisik melaui transmisi periwayatan, maka beliau meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir melalui dua jalur, yaitu: Ikrimah dari Ismail al-Qisth (dua jalur) dari Ibnu Katsir, dan Syibl bin Ubbad dari Ibnu Katsir (satu jalur).

Dalam meriwayatkan qira’at Ibnu Katsir beliau tidak sendirian, tetapi ada banyak ulama yang meriwayatkannya. Dengan demikian, sangat mustahil mereka sepakat untuk melakukan kebohongan atas qira’at Ibnu Katsir. Hanya saja beliau merupakan perawi termasyhur, teristimewa dan paling adil diantara mereka.

Ada banyak predikat yang melekat dan diberikan kepada beliau, salah sarunya adalah predikat, ustadz muhaqqiq, dhabit, mutqin dan tsiqah. Dengan ketenaran dan kemasyhurannya, maka tak ayal beliau dianggap sebagai pemungkas para masyikhah  pengajaran Al-Qur’an di Makkah.

Setelah mengabdi kepada kitab Allah dengan penuh perjuangan dan pengorbanan raga dan jiwa, pada tahun 285 H, Allah memanggilnya dan dikebumikan di Makkah.

2. Imam Qanbul.

Namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Khalid bin Muhammad bin Said al-Makhzumi al-Makki. Beliau lebih dikenal dengan julukan Qunbul. Ada perbedaan pendapat tentang sebab pembeiran julukan tersebut, ada yang mengatakan bahwa beliau dari warga “Qanabilah” di daerah Makkah. Ada yang mengatakan bahwa beliau memakai obat yang untuk penyakit yang dideritanya, menurut para apoteker, dikenal dengan nama “Qunbil” (قنبيل) (memakai ya’ setelah huruf ba’, kemudian dibuang huruf ya’nya untuk meringankan pengucapan, maka dibacalah “Qanbul”). Karena seringnya memakai obat tersebut, maka ia kemudian dikenal dengan sebutan Qanbul. 

Beliau lahir di Makkah pada tahun 175 H.

Perjalanan Intelektualnya

Belajar dan membaca Al-Qur’an kepada Ahmad bin Muhammad bin ‘Aun al-Nabbal, imam al-Bazzi, Abu al-Hasan al-Qawwas dan Ma’ruf bin Misykan.

Beliau merupakan imam qira’at yang mutqin dan dhabith, pemungkas para imam di Hijaz, dan termasuk pembesar perawi Imam Ibnu Katsir dan paling tsiqah (terpercaya). 

Imam al-Bazzi didahulukan daripada Qanbul karena beliau lebih tinggi sanadnya. Karena imam Qanbul sendiri juga belajar kepada Imam al-Bazzi, sehingga menurut hitungan periwayatan, beliau lebih rendah (nazil) daripada imam al-Bazzi.

Menurut Abdullah al-Qashsha’, kedudukan imam Qanbul ini berada di atas perwira di Makkah karena seorang perwira tidak akan mendampingi seseorang kecuali dari kalangan orang mulia dan baik supaya ia berada pada jalur yang benar terhadap sesuatu yang berhubungan dengan hukum dan perdata. Mereka menyertainya karena ilmu dan keutamaannya di sisi mereka. Perlakuan seperti ini saat beliau berada di pertengahan umurnya. Terpuji perjalanan hidupnya.

Di antara murid-muridnya yang belajar kapadanya adalah Abu Rabi’ah Muhammad bin Ismail, yang termasuk santri seniornya, Muhammad bin Abdul Aziz dan Ahmad bin Musa bin Mujahid, pengarang kitab “Al-Sab’ah”, dan Muhammad bin Ahmad bin Syambudz, beliau adalah temannya.

Dikatakan bahwa ketika beliau sudah sepuh, berhenti mengajar sebelum wafat tujuh tahun atau sepeuluh tahun.

Setelah mengabdi dan berkhidmah kepada kitab Allah, beliau dipanggil oleh pemiliknya pada tahun 271 H. di Makkah.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan ini disadur dari kitab "Tarikh al-Qurra' al-'Asyrah" karya Syekh Abul Fattah al-Qadli, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010, hal. 15-17)