IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis

Jumat 1 Februari 2019 3:0 WIB
Share:
Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebagian orang tua kadang menggunakan tongkat termasuk di dalam shalat. Bagaimana dengan keabsahan shalatnya jika ia menggenggam tongkat yang mengandung najis? Saya mohon penjelasan terkait ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Edi/Semarang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Shalat dengan memegang tongkat pada dasarnya tidak menjadi masalah. Tetapi ulama berbeda pendapat perihal shalat dengan tongkat yang mengandung najis.

Ulama Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa shalat sambil memegang tongkat yang ujungnya terdapat najis tidak sah. Pandangan ini dapat dipahami karena Mazhab Syafi‘i mengharuskan kesucian orang yang shalat pada badan, pakaian, dan tempat shalat. Sementara orang yang melakukan praktik ini serupa dengan orang yang shalat membawa najis.

ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته

Artinya, “Tidak sah shalat orang yang menggenggam benda yang bersambung dengan zat najis sekali pun ia tidak ikut bergerak bersama gerakannya,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 106).

Adapun ulama dari mazhab lainnya, yaitu Mazhab Hanbali, menilai kebasahan shalat orang yang memegang tongkat yang mengandung najis. Pasalnya, bagi Mazhab Hanbali, shalat orang yang membawa zat yang mengandung najis terbilang sah.

Kami menyarankan mereka yang tidak dapat lepas dari tongkat baik karena faktor usia maupun faktor disabilitas hendaknya berusaha untuk menyucikan barang yang akan dibawanya (dipegang) dalam shalat sekalipun. Saran ini dapat dilakukan bila kondisi memungkinkan.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Kamis 31 Januari 2019 2:0 WIB
Hukum Pilih Kasih Orang Tua dalam Pemberian terhadap Anak
Hukum Pilih Kasih Orang Tua dalam Pemberian terhadap Anak
(Foto: @pixabay)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebagian saudara saya mengeluh karena ayahnya memberikan perhatian lebih kepada saudaranya yang lain. Meskipun hal demikian tidak diucapkan, tetapi prioritas terhadap salah satu saudaranya tampak pada pemberian berlebih ayahnya dibanding saudara-saudaranya yang lain. Saya mohon penjelasan perihal pilih kasih orang tua semacam ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Zakiyah/Purwakarta).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Orang tua dituntut untuk bersikap adil di antara anak-anaknya. Mereka tidak boleh memprioritaskan salah satu anaknya dari segi perhatian dan pemberian.

Perintah untuk bersikap adil ini dapat ditemukan dalam sabda Rasulullah SAW berikut ini:

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

Artinya, “Bertakwalah kepada Allah. Bersikap adillah terhadap anak-anakmu,” (HR Bukhari).

Hadits ini dipahami oleh para ulama sebagai bentuk larangan bagi orang tua dalam bersikap pilih kasih terhadap anak kesayangan entah karena anak tertua, anak terakhir, anak berprestasi, anak paling saleh, anak paling berbakti dan seterusnya.

Pilih kasih orang tua dilarang oleh agama karena jelas dapat menimbulkan keretakan dan kecemburuan sosial di lingkungan rumah tangga. Pilih kasih orang tua di kalangan anaknya termasuk cucu sebagai keturunan di bawahnya dilarang dalam agama Islam.

وَيُكْرَهُ لِأَصْلٍ تَفْضِيْلٌ فِيْ عَطِيَةِ فُرُوْعٍ وَإِنْ سَفَلُوْا وَلَوِ اْلأَحْفَادَ مَعَ وُجُوْدِ اْلأَوْلاَد

Artinya, “Orang tua dimakruh bersikap pilih kasih dalam pemberian terhadap anak, walaupun ke bawah atau cucu meski anaknya masih ada,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada I’anatut Thalibin, [Singapura, Sulaiman Mar’i: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 153).

Kami menyarankan agar orang tua bersikap adil terhadap semua anaknya. Orang tua dituntut untuk menjaga kerukunan di kalangan anak-anaknya dengan cara menjauhi sikap pilih kasih dalam hal pemberian terhadap salah satu anaknya karena hal ini cukup berisiko bagi keharmonisan keluarganya.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 29 Januari 2019 18:0 WIB
Hukum Shalat di Atas Kursi Roda yang Terkena Najis
Hukum Shalat di Atas Kursi Roda yang Terkena Najis
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sekarang kita menemukan banyak orang berkursi roda ikut shalat berjamaah atau shalat Jumat di kota-kota besar. Bagaimana dengan status shalatnya jika roda pada kursinya terkena najis karena roda berfungsi sebagai alas kaki seperti sandal dan sepatu? Mohon penjelasan terkait hal ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Zainal/Semarang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Pada ibadah shalat seseorang disyaratkan untuk berada dalam kondisi suci baik di badan, pakaian, dan tempat shalat.

Dengan ketentuan demikian, shalat seseorang yang tidak memenuhi syarat tersebut terbilang tidak sah. Artinya, ia harus mengulangi kembali shalatnya dengan memenuhi syarat sah shalat.

Lalu bagaimana dengan mereka yang shalat di atas kursi roda dengan najis pada bagian tertentu di roda? Apakah ia termasuk orang yang shalat di tempat najis?

Kasus orang yang melakukan shalat di atas kursi roda ini, menurut Mazhab Syafi‘i, tidak dapat disamakan dengan orang yang melakukan shalat di tempat najis. Kasus ini lebih dekat pada aktivitas shalat di atas bagian karpet yang suci meski bagian karpet lainnya terkena najis.

Kasus orang yang melakukan shalat di atas kursi roda ini dapat disamakan dengan kasus lain, yaitu seperti orang yang melakukan shalat di hamparan karpet yang digelar di atas benda yang terkena najis.

وخرج بقابض وما بعده ما لو جعله المصلي تحت قدمه فلا يضر وإن تحرك بحركته كما لو صلى على بساط مفروش على نجس أو بعضه الذي لا يماسه نجس

Artinya, “Di luar cakupan dari redaksi ‘orang yang menggenggam dan seterusnya’ adalah orang yang menjadikan najis itu di bawah kakinya. Kalau begini kasusnya, maka shalatnya tidak masalah sekalipun ia ikut bergerak bersama gerakannya. Hal ini berlaku ketika seseorang shalat di atas hamparan tikar yang digelar di atas benda najis atau di atas sebagian tikar yang tidak tersentuh najis,” (Lihat Sayid Bakri M Syatha, I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 107).

Dengan demikian, shalat seseorang di atas kursi roda yang terkena najis tetap sah karena ia sebenarnya melakukan shalat di tempat suci pada umumnya, yaitu kursinya. Sedangkan benda yang mengandung najis adalah salah satu bagian tertentu rodanya.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 29 Januari 2019 12:30 WIB
Hukum Menguburkan Jenazah Suami dan Istri di Satu Makam
Hukum Menguburkan Jenazah Suami dan Istri di Satu Makam
(Foto: @islam.ru)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, tetangga saya berpesan kepada keluarganya agar ketika wafat nanti jenazahnya dimakamkan di makam istrinya yang lebih dulu wafat. Saya mau bertanya, apakah boleh menurut agama menguburkan dua jenazah di satu makam? Mohon penjelasannya. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Sunarta/Bogor).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Ulama berbeda pendapat perihal pemakaman dua jenazah di satu lubang kubur.

Ulama Mazhab Syafi’i menyatakan keharaman praktik pemakaman dua jenazah di satu lubang kubur tanpa alasan darurat. Sedangkan As-Sarakhsi dari Mazhab Hanafi menyetakan kebolehan praktik pemakaman seperti meski tanpa alasan darurat darurat sekalipun.

Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa praktik pemakaman dua jenazah di satu makam boleh dilakukan dalam situasi darurat. Pemakaman dua jenazah di satu makam dimungkinkan bila kedua jenazah itu memiliki hubungan kemahraman dan hubungan suami-istri.

يحرم دفن اثنين من جنسين بقبر إن لم يكن بينهما محرمية أو زوجية

Artinya, “Haram memakamkan dua jenazah yang berbeda jenis kelamin di satu makam kecuali jika keduanya memiliki hubungan mahram dan hubungan suami-istri,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, [Mesir, At-Tijariyatul Kubra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 118).

Menurut Mazhab Syafi‘i, larangan pemakaman dua jenazah dalam satu makam bukan didasarkan pada syahwat, tetapi lebih pada kemungkinan menyakitkan. Oleh karena itu, praktik ini hanya boleh dilakukan dalam situasi darurat.

وذلك لأن العلة في منع الجمع التأذى لا الشهوة فإنها قد انقطعت بالموت

Artinya, “Illat atau alasan atas larangan penguburan dua jenazah di satu makam adalah ‘menyakiti’, bukan karena syahwat karena syahwat sudah terputus sebab kematian,” (Lihat Sayid M Syatha Ad-Dimyathi, I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 118).

Dari keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa dalam koteks pertanyaan di atas pihak keluarga dapat menjalankan pesan orang tuanya tersebut. Pasalnya, kedua jenazah tersebut terikat dalam hubungan suami dan istri.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)