IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Shalat Tahajud Berjamaah, Bolehkah?

Kamis 31 Januari 2019 23:0 WIB
Shalat Tahajud Berjamaah, Bolehkah?
Ilustrasi (via Pinterest)
Shalat tahajud didefinisikan oleh para ulama sebagai shalat yang dilakukan setelah melaksanakan shalat isya’ dan dilaksanakan setelah tidur. Terlaksananya dua hal ini (dilaksanakan setelah tidur dan setelah melaksanakan shalat isya’) merupakan syarat yang harus terpenuhi, agar shalat yang dilakukan di malam hari dapat dihitung sebagai ibadah shalat tahajud. Dengan demikian, akan tergolong dalam anjuran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَك عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’, Ayat: 79)

Definisi shalat tahajud yang dijelaskan di atas sesuai dengan penjelasan Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya, Hasyiyah al-Jamal ala al-Manhaj:

ـ (فَرْعٌ) يَدْخُلُ وَقْتُ التَّهَجُّدِ بِدُخُولِ وَقْتِ الْعِشَاءِ وَفِعْلِهَا خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ فِي بَعْضِ كُتُبِهِ وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا أَنْ يَكُونَ بَعْدَ نَوْمٍ فَهُوَ كَالْوِتْرِ فِي تَوَقُّفِهِ عَلَى فِعْلِ الْعِشَاءِ وَلَوْ جَمْعَ تَقْدِيمٍ مَعَ الْمَغْرِبِ وَيَزِيدُ عَلَيْهِ بِاشْتِرَاطِ كَوْنِهِ بَعْدَ نَوْمٍ ا هـ

“Cabang permasalahan. Waktu tahajud dimulai dengan masuknya waktu Isya’ dan telah melaksanakan shalat isya’. Berbeda halnya pendapat yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dalam sebagian kitabnya. Disyaratkan pula dilaksanakan setelah tidur. Shalat tahajud ini sama seperti shalat witir dalam hal digantungkan dengan pelaksanaan shalat isya’, meskipun dilaksanakan dengan cara jamak takdim bersamaan dengan shalat maghrib, hanya saja pada shalat tahajjud ditambahkan syarat berupa harus dilaksanakan setelah tidur.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-jamal, juz 4, hal. 265)

Shalat tahajud bisa berupa berbagai macam shalat sunnah yang dapat dilaksanakan di malam hari, termasuk di antaranya shalat sunnah mutlak. Misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah az-Zain:

والنفل المطلق بالليل أفضل منه بالنهار. ومن النفل المطلق قيام الليل، وإذا كان بعد نوم ولو في وقت المغرب وبعد فعل العشاء تقديماً يسمى تهجداً

“Melaksanakan shalat sunnah mutlak pada malam hari lebih utama dibandingkan dengan melaksanakannya pada siang hari. Sebagian dari shalat sunnah mutlak yaitu qiyamul lail (beribadah shalat di malam hari). Ketika shalat ini dilaksanakan setelah tidur, meskipun pada waktu maghrib setelah melaksanakan shalat isya’ dengan cara jamak takdim, maka shalat tersebut disebut shalat tahajud.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, Juz 1, Hal. 179)

Selain shalat sunnah mutlak, shalat witir juga termasuk dalam kategori shalat tahajud ketika memang dilaksanakan setelah tidur. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzzab:

ـ (فرع) الصحيح المنصوص في الأم والمختصر أن الوتر يسمى تهجدا

“Menurut pendapat shahih yang termaktub dalam kitab al-Um dan kitab al-Mukhtashar bahwa sesungguhnya shalat witir juga disebut shalat tahajud.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 48)

Selain shalat witir dan shalat sunnah mutlak, shalat tahajud juga mencakup berbagai macam shalat sunnah yang dilaksanakan setelah tidur dan setelah shalat isya’ serta dapat dilaksanakan di malam hari, seperti shalat tasbih dan shalat hajat. Sehingga shalat-shalat sunnah ini, selain disebut dengan penamaan secara khusus seperti witir, hajat, muthlak, dan tasbih, juga dari aspek lain disebut dengan shalat tahajud memandang waktu pelaksanaannya yang dilakukan setelah tidur dan shalat isya’.

Shalat-shalat yang termasuk dalam kategori shalat tahajud ini memiliki kesamaan yaitu tidak dianjurkan untuk dilakukan dengan cara berjamaah, dalam arti lebih dianjurkan untuk dilaksanakan dengan cara sendirian (munfarid). Namun jika shalat-shalat tersebut dilaksanakan dengan cara berjamaah maka tetap dihukumi sah. Ketentuan ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzzab:

قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح على الأصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك

“Shalat Sunnah dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Shalat yang disunnahkan berjamaah yaitu shalat sunnah ‘ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’, begitu juga shalat tarawih menurut qaul ashah. Kedua, shalat yang tidak disunnahkan berjamaah, tapi jika dilaksanakan dengan cara jamaah, maka shalat tersebut tetap sah. Yaitu shalat selain dari bagian pertama di atas.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 5)

Lebih jauh lagi, meski shalat tahajud ketika dilakukan secara berjama’ah dihukumi sah, namun dari segi pelaksanaannya secara berjamaah tidak dihitung sebagai pahala. Sehingga seseorang yang melaksanakan shalat tahajud dengan berjamaah hanya mendapatkan pahala dari aspek melaksanakan shalat tahajud saja, tanpa mendapatkan pahala lain dari aspek jamaahnya. 

Namun jika melaksanakan jamaah pada shalat tahajud terdapat tujuan yang mengandung maslahat, misalnya mengajari orang lain agar terbiasa melaksanakan shalat tahajud, hal ini seperti yang biasa dilaksanakan di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Maka dari aspek wujudnya tujuan yang baik tersebut, pelaksanaan tahajud secara berjamaah diganjar dengan pahala.

Namun tujuan baik yang terdapat di balik pelaksanaan shalat tahajud secara berjamaah dalam permasalahan di atas dibatasi sekiranya tidak sampai memunculkan mudarat, seperti akan menimbulkan persepsi pada orang lain bahwa shalat tahajud secara berjamaah merupakan hal yang dianjurkan oleh syara’. Maka ketika memunculkan mudarat tersebut, melaksanakan shalat tahajud secara berjamaah menjadi haram bahkan wajib untuk dicegah. Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan dalam Bughyah al-Mustarsyidin:

ـ (مسألة : ب ك) : تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب ، وأي ثواب بالنية الحسنة ، فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة ، وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوّي بالأكل على الطاعة ، هذا إذا لم يقترن بذلك محذور ، كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

“Diperbolehkan berjamaah pada shalat-shalat yang serupa dengan shalat sunnah witir dan tasbih, maka hal tersebut tidak dimakruhkan dan tidak mendapatkan pahala (atas jamaahnya), memang jika pelaksanaan jamaah tersebut ditujukan untuk mengajari orang-orang yang shalat dan memotivasi mereka, maka mendapatkan pahala dan setiap pahala digantungkan pada niat yang baik. Seperti halnya diperbolehkan mengeraskan suara pada shalat yang dianjurkan untuk dibaca pelan-pelan yang asalnya makruh, lalu diperbolehkan karena bertujuan mengajari (orang lain), apalagi shalat yang asalnya diperbolehkan (untuk dilaksanakan berjamaah). 

Dan juga seperti diganjarnya melakukan perbuatan yang mubah ketika ditujukan untuk ibadah, seperti niat bertujuan menguatkan diri untuk taat pada Allah saat makan. Ketentuan demikian ketika tidak berbarengan dengan hal yang dikhawatirkan seperti menyakiti orang lain atau orang awam meyakini bahwa berjamaah pada shalat sunnah di atas adalah hal yang memang disyariatkan. Jika terdapat hal-hal tersebut maka jamaah tersebut tidak mendapatkan pahala bahkan haram dan dicegah untuk melakukan hal ini.” (Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Hal. 136)

Menyimak referensi di atas, sebaiknya bagi seseorang yang akan melaksanakan shalat tahajud secara berjamaah (dengan alasan kemaslahatan), agar memberi tahu terhadap para jamaahnya tentang hukum yang sebenarnya bahwa shalat tahajud asalnya dianjurkan untuk dilaksanakan secara sendirian, sedangkan dirinya mengajak orang lain untuk berjamaah karena bertujuan agar membiasakan untuk melaksanakan shalat tahajud. Dengan begitu, para jamaah tidak salah paham dalam memahami anjuran yang terdapat pada shalat tahajud.

Ketentuan yang sama juga berlaku pada shalat-shalat lain yang tidak dianjurkan berjamaah, seperti shalat dhuha, shalat rawatib, dan shalat sunnah lainnya. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tahajud berjamaah merupakan hal yang boleh dilakukan tanpa adanya kemakruhan. Meskipun tidak diganjar atas nama pelaksanaan jamaahnya, tapi dipandang baik karena faktor wujudnya tujuan lain yang dipandang maslahat. Namun hal tersebut dibatasi selama tidak terdapat mudarat yang muncul dalam pelaksanaan shalat tahajud secara berjamaah ini, seperti meyakini bahwa jamaah pada shalat tahajud merupakan hal yang dianjurkan. Jika muncul mudarat demikian, maka melaksanakan shalat tahajud dengan berjamaah menjadi haram dan wajib dicegah. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)


Share:
Rabu 30 Januari 2019 10:0 WIB
Shalat Perempuan Tanpa Mukena
Shalat Perempuan Tanpa Mukena
Ilustrasi (via BuzzFeed.com)
Salah satu syarat yang harus terpenuhi ketika shalat adalah menutupi aurat. Untuk menutupi aurat, banyak cara bisa ditempuh. Di Indonesia, mayoritas perempuan mengenakan mukena (rukuh) ketika shalat. Namun tidak menutup kemungkinan juga ada yang tidak mengenakan mukena. Pertanyaannya kemudian, bagaimana hukum shalat perempuan tanpa mukena?

Pada dasarnya, tidak ada ketentuan baku mengenai jenis pakaian yang dikenakan perempuan saat shalat. Asalkan pakaian tersebut dapat menutupi aurat sesuai standar yang dijelaskan ulama, maka boleh dan sah.

Standar penutup aurat adalah setiap hal yang dapat menutupi warna kulit. Sedangkan aurat yang wajib ditutupi perempuan ketika shalat menurut mazhab Syafi’i adalah seluruh anggota tubuhnya selain wajah dan kedua telapak tangan hingga kedua pergelangan.

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli menjelaskan:

وحرة ولو صغيرة عليها ستر جميع بدنها وجوبا لا الوجه والكف ظهرا وبطنا إلى الكوعين...إلى أن قال...بما لا يصف اللون للبشرة للرائى بمجلس التخاطب وإن وصف الحجم...إلى أن قال... أما مالا يمنع وصف اللون كزجاج فلا يكفى

“Dan wanita merdeka meski anak kecil, wajib menutupi seluruh badannya selain wajah dan telapak tangan, baik bagian luar ataupun dalam, sampai dua pergelangan tangan. Kewajiban menutupi tersebut dengan penutup yang tidak menampakan wana kulit kepada orang yang melihatnya dalam majlis perbincangan, meski dapat memperlihatkan lekuk tubuh. Adapun penutup yang tidak dapat mencegah terlihatnya warna kulit, seperti kaca, maka tidak cukup.” (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Ghayah al-Bayan, hal. 150)

Kewajiban menutupi aurat berlaku untuk arah atas dan seluruh arah samping, bukan arah bawah. Bagi perempuan, yang dimaksud arah atas adalah bagian tubuh di atas kepala, kedua pundak dan seluruh sisi wajahnya. Sedangkan bagian bawah adalah tempat di bawah kedua mata kaki. Sementara bagian samping adalah selain hal tersebut. 

Wanita wajib menutupi auratnya dari arah atas dan samping, tidak wajib untuk arah bawah. Dengan demikian, bila semisal bagian leher perempuan terlihat dari bawah kerudung, mungkin karena tersibak dari gamis saat ruku’, maka batal shalatnya, sebab terlihatnya aurat bukan dari arah bawah. Dalam kasus tersebut, aurat tidak terlihat dari arah bawah, namun dari arah samping, sehingga membatalkan.

Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Ba’alawi al-Masyhur menegaskan:

وفي حق المرأة بأعلاه ما فوق رأسها ومنكبيها وسائر جوانب وجهها ، وبأسفله ما تحت قدميها ، وبجوانبه ما بين ذلك ، وحينئذ لو رؤي صدر المرأة من تحت الخمار لتجافيه عن القميص عند نحو الركوع ، أو اتسع الكمّ بحيث ترى منه العورة بطلت صلاتها 

“Dan yang dikehendaki arah atas bagi perempuan adalah bagian di atas kepala, kedua pundak dan seluruh sisi wajahnya. Dan yang dikehendaki arah bawah adalah bagian yang berada di bawah kedua telapak kakinya. Sementara arah samping adalah bagian selain yang telah disebutkan. Dengan demikian, bila dada perempuan terlihat dari bawah kerudung, karena tersibak dari gamis saat ruku’, atau lengan baju tampak longgar sehingga dari lengan tersebut terlihat aurat, maka batal shalatnya.”

إلى أن قال وفي الجمل وقولهم : ولا يجب الستر من أسفل أي ولو لامرأة فلو رؤيت من ذيله في نحو قيام أو سجود لا لتقلص ثوبه بل لجمع ذيله على عقبيه لم يضر 

“Dalam kitab al-Jamal disebutkan, ucapan ulama, tidak wajib menutup aurat dari arah bawah, maksudnya, meski bagi perempuan. Maka, bila aurat terlihat dari ekor bajunya saat ruku’ atau sujud, bukan karena menyusutnya pakaian, akan tetapi karena menempel dengan kedua tumitnya, maka tidak bermasalah.” (Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Ba’alawi al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 67-68)

Khusus untuk bagian telapak kaki, tidak boleh terlihat meski dari arah bawah. Namun, bukan berarti perempuan wajib memakai kaos kaki, karena untuk menutupi bagian telapak kaki, cukup tertutupi dengan lantai. 

Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

ويجب الستر من الأعلى والجوانب لا من الأسفل

“Wajib menutupi aurat dari arah atas dan samping, tidak wajib dari arah bawah.”

ـ  (قوله: ويجب الستر من الاعلى إلخ) هذا في غير القدم بالنسبة للحرة، أما هي فيجب سترها حتى من أسفلها، إذ باطن القدم عورة كما علمت.نعم، يكفي ستره بالارض لكونها تمنع إدراكه، فلا تكلف لبس نحو خف.فلو رؤي في حال سجودها، أو وقفت على نحو سرير مخرق بحيث يظهر من أخراقه، ضر ذلك، فتنبه له

“Ucapan Syekh Zainuddin, wajib menutup aurat dari arah atas dan seterusnya, hal ini dalam selain telapak kaki nisbatnya perempuan merdeka. Adapun telapak kakinya wanita merdeka, wajib menutupinya hingga dari arah bawah, sebab bagian dalam telapak kaki adalah aurat seperti yang kamu ketahui. Benar demikian, namun cukup menutupi bagian dalam telapak kaki dengan lantai, sebab dapat mencegahnya untuk dilihat, sehingga perempuan tidak diwajibkan memakai semisal muzah (alas kaki). Jika bagian telapak kaki terlihat saat sujud atau perempuan shalat di atas ranjang yang robek, dengan sekira bagian telapak kaki terlihat dari robekannya, maka hal demikian bermasalah. Maka waspadalah akan hal tersebut.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 134).

Melihat beberapa referensi di atas, dapat dipahami bahwa shalat tanpa mukena sebenarnya tidak masalah asalkan sesuai dengan ketentuan sebagaimana penjelasan di atas. Namun, dalam praktiknya sulit. Sebab untuk menutupi seluruh auratnya, perempuan membutuhkan beberapa jenis penutup, misalkan di bagian kepala sendiri, bagian leher sendiri, belum lagi di bagian kaki dan bagian lainnya. Berbeda dengan memakai mukena, yang memang didesain khusus untuk shalat, akan tampak lebih mudah dan simpel. Demikian penjelasan ini kami sampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Ahad 27 Januari 2019 15:0 WIB
Hukum Azan Tanpa Wudhu
Hukum Azan Tanpa Wudhu
Beberapa waktu yang lalu, seorang pemuda di tempat saya tinggal ingin mengumandangkan azan. Namun beberapa orang yang ada di sana melarangnya, pasalnya ia belum berwudhu. 

Mereka melihat pemuda itu baru datang dari luar, mukanya pun belum basah, sehingga orang-orang mengira bahwa pemuda itu belum wudhu. Mereka menyuruh pemuda itu untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum mengumandangkan azan. 

Benarkah demikian? Bolehkah mengumandangkan azan tanpa berwudhu?

Dalam sebuah hadits memang disebutkan bahwa tidak diperbolehkan mengumandangkan azan tanpa berwudhu.

 وعن الزهري عن أبى هريرة عن النبي صلي الله عليه وسلم قال " لا يؤذن الا متوضئ " رواه الترمذي 

Artinya, “Dari Zuhri, radliyallahu ‘anh, dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh., dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “tidak azan seorang muadzin kecuali ia dalam keadaan telah berwudhu.” (HR. Tirmidzi)

Namun hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah karena hadits ini bermasalah. Menurut Imam an-Nawawi, Zuhri tidak pernah bertemu Abu Hurairah, sehingga hadits zuhri tersebut munqati’ atau terputus sanadnya.

والاصح أنه عن الزهري عن ابي هريرة موقوف عليه وهو منقطع فان الزهري لم يدرك أبا هريرة

Artinya, “kaul yang paling sahih adalah bahwa Zuhri dari Abu Hurairah itu terputus. Karena sebenarnya Zuhri tidak pernah bertemu dengan Abu Hurairah.”  (Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmû’ alâ Syarḥ al-Muhaddzab, [Beirut: Dar al-Fikr, t.t], j. 3, h. 105)

Oleh karena itu, hadits ini tidak bisa dijadikan dalil ketidakabsahan melaksanakan azan tanpa berwudhu.

Ada hadits lain yang lebih tepat untuk dijadikan landasan atas hal ini, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Dawud, an-Nasai dan beberapa mukharrij yang lain dari sahabat Muhajir bin Qanfadz sebagai berikut:

عن المهاجر بن قنفذ رضي الله قال " أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو ييول فسلمت عليه فلم يرد علي حتى توضأ ثم اعتذر إلي فقال إني كرهت أن أذكر الله إلا على طهر أو قال على طهارة " حديث صحيح

Artinya: “Dari Muhajir bin Qanfadz RA berkata: “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia sedang menunaikan hajat kecil di toilet, kemudian aku mengucapkan salam kepadanya, namun ia tidak menjawabnya hingga ia selesai berwudhu. Rasul kemudian memohon maaf dan mengemukakan alasan mengapa tidak menjawab salam al-Muhajir. Kemudian Rasul berkata, “Aku tidak suka menyebut asma Allah subhanahu wata’ala kecuali dalam keadaan suci (ala tuhrin),” atau ia berkata “ala thaharatin”. Hadits tersebut sahih.” (Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmû’ alâ Syarḥ al-Muhaddzab, [Beirut: Dar al-Fikr, t.t], j. 3, h. 105)

Karena dalam azan kita menyebut asma Allah subhanahu wata’ala, maka mengumandangkan azan dalam keadaan berhadats (tanpa berwudhu) diqiyaskan dengan kejadian Rasul yang tidak ingin mengucapkan salam sebelum beliau dalam keadaan suci, karena saat itu beliau baru saja selesai dari kamar mandi.

Hal inilah yang menjadi landasan para ulama syafiiyah bahwa mengumandangkan azan tanpa wudhu tetap sah, namun makruh. Sah dalam hal ini adalah tak perlu mengumandangkan azan lagi.

Para ulama Syafiiyah yang mengikuti pendapat ini adalah al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Hammad bin Abi Sulaiman, Abu Hanifah, al-Tsauri, Ahmad, Abu Tsaur, Dawud, dan Ibn al-Mundzir.

Sedangkan para Imam yang menolak pendapat ini dan lebih memilih pendapat yang menyebutkan bahwa azannya orang yang tidak berdhu tidak sah adalah Atha’, Mujahid, al-Auzai, dan Ishaq. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa azannya sah tapi ketika iqamah ia harus sudah dalam keadaan berwudhu (suci dari hadats) (Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmû’ alâ Syarḥ al-Muhaddzab, [Beirut: Dar al-Fikr, t.t], j. 3, h. 105.)

Wallahu A’lam.

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Ahad 20 Januari 2019 20:0 WIB
Sebagian Rambut Menutupi Dahi saat Sujud, Batalkah Shalat?
Sebagian Rambut Menutupi Dahi saat Sujud, Batalkah Shalat?
Ilustrasi (via prayerinislam.com)
Sujud merupakan salah satu rukun shalat yang memiliki ketentuan khusus dalam melaksanakannya. Sebab syara’ memerintahkan pada umat islam agar saat sujud memperhatikan terhadap tujuh anggota tubuh, yang meliputi dahi, dua tangan, dua lutut dan ujung jari kedua kaki. Hal ini berdasarkan hadits:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ. وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota tubuh: dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua (telapak) tangan dan ujung-ujung dua kaki.” (HR. Baihaqi)

Sebagian ulama mengartikan penyebutan ‘hidung” dalam riwayat hadits di atas dengan memberikan hukum Sunnah untuk dilakukan pada saat sujud, berbeda halnya seperti anggota tubuh lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Sebab jika hidung juga diwajibkan, maka anggota tubuh yang wajib untuk ditempelkan di tempat salah tidak lagi tujuh, tapi menjadi delapan. (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, Juz 2, Hal. 75)

Di antara beberapa anggota sujud yang dijelaskan dalam hadits di atas, anggota yang penting untuk diperhatikan adalah dahi. Rasulullah SAW memberikan perngertian khusus dalam wajibnya menempelkan dahi pada saat sujud, hal ini dijelaskan dalam salah satu haditsnya:

إذا سجدت فمكّن جبهتك

“Ketika kamu sujud tetapkanlah keningmu (di tempat shalat).” (HR. Ibnu Hibban)

Para ulama memberi batas minimal menempelkan dahi pada tempat shalat sekiranya sebagian dahi menempel pada tempat shalat. Penjelasan ini misalnya dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj

ـ (وأقله مباشرة بعض جبهته مصلاه ) للحديث الصحيح

“Batas minimal sujud adalah sebagian dahi menyentuh pada tempat shalat. Hal ini berdasarkan hadits yang shahih.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 69)

Baca juga:
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Syarat dan Tata Cara Melakukan Sujud dalam Shalat
Menempelnya sebagian dahi pada tempat shalat, dicontohkan misalnya ketika seseorang sujud pada benda yang tidak muat untuk meliputi seluruh dahi, seperti sujud pada tongkat, atau di dahinya terhalang oleh sebagian rambut yang menutupinya, sekiranya masih terdapat bagian dari dahi yang terbuka dan menempel pada tempat sujud. Maka dalam keadaan demikian, sujudnya tetap dianggap benar dan shalatnya tetap dihukumi sah, meskipun sujud dengan cara demikian dihukumi makruh, sebab hal yang dianjurkan adalah dahi dapat menempel di tempat shalat tanpa terhalang oleh apa pun. 

Penjelasan tentang ini seperti yang dijelaskan dalam Hawasyi as-Syarwani:

قول المتن: (مباشرة بعض الجبهة) ويتصور السجود بالبعض بأن يكون السجود على عود مثلا أو يكون بعضها مستورا فيسجد عليه مع المكشوف منها ع ش ـ
قول المتن: (بعض جبهته) واكتفى ببعضها وإن كره لصدق اسم السجود بذلك نهاية ومغني.

“Perkataan kalam matan berupa ‘menyentuhnya sebagian dahi’ praktik demikian misalnya seperti sujud pada (potongan) kayu atau sebagian dahi tertutup, lalu ia sujud dengan keadaan sebagian dahi tertutup besertaan adanya bagian yang terbuka dari dahi. Hal ini dikutip oleh Syekh Ali Syibromulisi”

“Dicukupkan dengan sujud dengan sebagian dahi meskipun hal tersebut makruh, sebab penamaan sujud mencakup terhadap menempelkan sebagian dahi seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah dan Mughni.” (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, Juz 2, Hal. 69)

Maka jika terdapat sebagian rambut yang menutupi dahi pada saat sujud, maka tetap tidak berpengaruh dalam keabsahan shalatnya, selama rambut yang terurai tidak sampai menutup dahi secara keseluruhan. Hal ini biasanya sering terjadi pada laki-laki yang shalat dengan tanpa menggunakan penutup kepala seperti kopiah, sehingga rambutnya terurai di dahinya ketika saat sedang sujud. 

Berbeda halnya ketika hal demikian terjadi pada wanita, maka ketika rambutnya dibiarkan terurai di dahi saat shalat, maka shalatnya menjadi batal. Batalnya shalat ini bukan karena rambutnya menutupi dahi saat sujud, tapi karena bagi perempuan rambut merupakan aurat yang harus ditutupi ketika shalat, sehingga ketika rambut terurai di dahi, maka ia dianggap tidak menutup auratnya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)