IMG-LOGO
Syariah

Hukum Bersiul

Jumat 1 Februari 2019 8:30 WIB
Share:
Hukum Bersiul
Ilustrasi (via Pinterest)
Pada zaman dahulu, bersiul merupakan salah satu bentuk ritual yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy ketika berada di Baitullah. Dalam hal ini, Al-Qur’an menjelaskan:

وَمَا كَانَ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً

“Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan.” (QS. Al-Anfal: 35)

Dalam memaknai maksud ayat di atas, Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsirnya, at-Tafsir al-Munir menjelaskan:

جعلوا صلاتهم عند البيت على هذا النحو ، مما يدلّ على جهلهم بمعنى العبادة وعدم معرفة حرمة بيت اللّه

“Orang kafir menjadikan ibadah di Baitullah dengan cara demikian. Hal ini menunjukkan kebodohan mereka akan arti dari ibadah dan tidak mengertinya mereka tentang kemuliaan Baitullah.” (Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, juz 9, hal. 331)

Berdasarkan referensi tersebut, dapat dipahami bahwa bersiul merupakan sebuah perilaku yang tidak baik untuk dilakukan di tempat-tempat yang mulia, seperti masjid, sekolah, perpustakaan dan tempat-tempat lainnya. Sebab, bersiul termasuk dalam kategori al-akhlaq ar-radi’ah (perilaku yang buruk).

Ketika dipandang sebagai perilaku yang tidak baik, apakah status hukum bersiul sampai tahapan dilarang dan diharamkan oleh syariat?

Dalam hal ini, para ulama tidak membahas secara khusus tentang hukum bersiul dalam pembahasan tertentu, sebab bersiul termasuk dalam kategori akhlak, sehingga  cukup menerangkan bahwa bersiul merupakan tradisi ibadah orang kafir di zaman Rasulullah ﷺ.

Namun, ditemukan sebuah referensi yang secara khusus menghukumi bersiul sebagai perbuatan yang makruh. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Ibnu Muflih dalam karyanya al-Adab as-Syar’iyyah dengan mengutip ungkapan Syekh Abdul Qadir:

قال الشيخ عبد القادر رحمه الله يكره الصفير والتصفيق

“Syekh Abdul Qadir berkata: “Bersiul dan tepuk tangan merupakan hal yang dimakruhkan.” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah, juz 4, hal. 57)

Menyimak penjelasan dari Ibnu Muflih tersebut dapat dipahami bahwa hukum asal dari bersiul merupakan perbuatan yang makruh untuk dilakukan. 

Namun rupanya saat ini bersiul sudah berlaku untuk tujuan-tujuan tertentu. Seperti untuk menenangkan bayi saat menangis, memanggil orang yang berada pada jarak kejauhan dan tujuan-tujuan lain yang bermanfaat. Maka dalam keadaan demikian, ketika memandang hal lain (amrun kharij) tersebut maka hukum bersiul menjadi hal yang diperbolehkan, selama tidak dipandang buruk oleh masyarakat secara umum. 

Berbeda halnya ketika bersiul digunakan untuk tujuan-tujuan yang terlarang, seperti menggoda perempuan yang sedang lewat, mengganggu orang lain atau bertujuan menyerupai tradisi peribadatan orang kafir, maka dalam hal ini  bersiul menjadi perbuatan yang diharamkan, karena akan mengantarkan pada perkara yang haram. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bersiul merupakan perbuatan yang dimakruhkan, namun akan menjadi perbuatan yang diperbolehkan (jawaz) ketika terkandung kemanfaatan di dalamnya seperti menenangkan bayi yang sedang menangis. Dan perbuatan ini akan menjadi perbuatan yang haram ketika digunakan sebagai perantara melakukan perbuatan yang haram seperti menggoda wanita yang sedang lewat. Wallahu a’lam.

(Ustdz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Sabtu 26 Januari 2019 21:45 WIB
Hukum Mengucapkan Salam kepada Orang yang Sedang Sibuk
Hukum Mengucapkan Salam kepada Orang yang Sedang Sibuk
Sudah maklum bagi kita sebagai seorang Muslim bahwa menjawab salam adalah merupakan hal yang wajib. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa menjawab salam adalah salah satu hal yang diperintahkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيهِ رَدُّ السَّلاَمِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: ada lima hal yang diwajibkan kepada Muslim untuk saudaranya (yang Muslim), yaitu menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, mendatangi undangan, menjenguk orang sakit, dan mengantar jenazah. (Lihat: Abū al-Hajjâj Muslim, Saḥiḥ Muslim, [Beirut: Dâr al-Jîl, t.t], j. 7, h. 3)

Bahkan dalam Al-Qur’an dijelaskan jika ada seorang Muslim yang mengucapkan salam kepada kita, maka kita dianjurkan untuk membalas yang lebih atau minimal sama.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا

Artinya, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q. S. An-Nisa’: 86)

Lalu bagaimana jika ada seorang yang mengucapkan salam kepada kita namun kita sedang sibuk, misalnya sedang berdzikir atau sedang membaca Al-Qur’an, masihkah kita diwajibkan untuk membalas salam tersebut? Karena hal itu, bagi kita terkadang mengganggu amalan yang sedang kita lakukan. Lalu, bagaimana hukum mengucapkan salam kepada orang yang sibuk tersebut?

Baca juga:
Kepada Satu Orang, Kenapa Assalamualaikum bukan Assalamualaika?
Kiai Subhan Makmun: Beda Wa‘alaikumussalam dan Wa‘alaikum Salam
Hukum Menjawab Salam Non-Muslim
Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr an-Nawawi menjelaskan bahwa jika kita dalam keadaan sibuk, misalnya sedang membaca Al-Qur’an, maka menurut Abu Hasan al-Waḥidi, kita diperbolehkan tidak menjawab dengan lafaz, karena bisa mengganggu bacaan Al-Qur’an kita.

وأما السلام على المشتغل بقراءة القرآن ، فقال الإمام أبو الحسن الواحدي : الأولى ترك السلام عليه لاشتغاله بالتلاوة ، فإن سلم عليه كفاه الرد بالإشارة ، وإن رد باللفظ استأنف الاستعاذة ثم عاد إلى التلاوة ، هذا كلام الواحدي ، وفيه نظر ، والظاهر أن يسلم عليه ويجب الرد باللفظ.

Artinya, “Adapun salam kepada orang yang sedang sibuk membaca Al-Qur’an, maka Imam Abu al-Hasan al-Waḥidi berpendapat bahwa yang paling utama adalah tidak mengucapkan salam kepada orang yang sedang sibuk membaca Al-Qur’an. Jika masih ada yang mengucapkan salam, maka cukup menjawabnya dengan isyarat saja. Jika masih menjawabnya dengan lafaz, maka sebaiknya memulai bacaan Al-Qur’an dengan istiʽadzah (Aûdzubillâhi minas syaithânir rajîm) kemudian kembali melanjutkan bacaan Al-Qur’annya. Ini adalah pendapatnya Imam al-Waḥidi, dan pendapat itu masih diperdebatkan. Yang jelas, jika ada yang masih mengucapkan salam, maka wajib menjawabnya dengan lafaz.” (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nawâwî, [Beirut: Dar Fikr, 2004], h. 263)

Menurut Imam an-Nawawi, jika ada orang yang sedang berdzikir, dimakruhkan untuk mengucapkan salam kepadanya. Karena itu dapat mengganggu sebagaimana mengganggu orang yang membaca Al-Qur’an. Begitu juga dengan orang yang sedang talbiyah (mengucapkan “labbaik Allahumma labaik”), karena menjawabnya masih wajib, sehingga ketika ia menjawab salam, otomatis talbiyahnya terputus. Sedangkan memutus talbiyah hukumnya makruh (Imam an-Nawawi, al-Adzkâr an-Nawâwî, [Beirut: Dar Fikr, 2004], h. 263.)

Dari pendapat-pendapat di atas, bisa kita simpulkan bahwa kita perlu memperhatikan orang yang akan kita beri salam. Walaupun mengucapkan salam itu dianjurkan, jangan sampai mengganggu pekerjaan atau ibadah yang dilakukan orang lain, apalagi jika sampai salam itu dapat membatalkan ibadah yang sedang dilakukan, seperti salam kepada orang yang sedang talbiyah di atas. Karena bagaimanapun juga orang yang sedang sibuk tersebut masih diwajibkan untuk menjawab salam. 

Oleh karena itu, pekalah sebelum mengucapkan salam, jangan sampai kesunnahan yang kita lakukan merusak kewajiban yang dilakukan orang lain. Wallahu a‘lam.

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Senin 21 Januari 2019 20:0 WIB
Telur dari Dalam Bangkai Ayam, Apakah Halal Dikonsumsi?
Telur dari Dalam Bangkai Ayam, Apakah Halal Dikonsumsi?
Ilustrasi (via fieldandfeast.com)
Ternak hewan merupakan salah satu mata pencarian bagi sebagian orang. Dengan menernak hewan, mereka mendapatkan berbagai macam rezeki yang dapat menjamin keberlangsungan hidup yang mereka jalani.

Sebagian dari jenis ternak hewan yang cukup banyak ditekuni oleh masyarakat adalah ternak hewan unggas, khususnya adalah ayam. Ternak ayam menjadi pilihan sebagian masyarakat, karena cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai objek mata pencarian. Mulai dari ternak ayam potong, sampai ayam petelur. Khusus dalam ternak ayam petelur ini, sering terjadi berbagai problem yang dialami oleh para peternak, salah satunya adalah terkait status telur di dalam ayam yang sudah mati tanpa disembelih secara syar’i. Masihkah telur tersebut halal dikonsumsi, mengingat induknya telah menjadi bangkai?

Dalam menyikapi status telur tersebut, ulama berbeda pendapat dalam tiga pandangan. Pertama, status telur tersebut dihukumi bisa disucikan dan dapat dikonsumsi ketika kondisi telur sudah mengeras, berbeda halnya ketika kondisi telur masih lentur dan permukaan telur belum berwujud kulit telur seperti yang biasa kita lihat, maka telur tersebut dihukumi najis dan tidak dapat dikonsumsi. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama. 

Kedua, status telur yang berada dalam induk yang menjadi bangkai adalah suci secara mutlak, baik kondisi permukaan telur sudah mengeras maupun belum mengeras. Pendapat ini didasarkan pada pandangan bahwa antara telur dan hewan merupakan wujud yang berbeda, sehingga status telur tidak bisa disamakan dengan induknya yang dihukumi najis karena sudah menjadi bangkai. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah.

Ketiga, status telur yang berada dalam induk yang telah menjadi bangkai adalah najis secara mutlak. Pendapat ini berdasarkan pandangan bahwa telur yang masih belum terpisah dari induknya (masih di dalam perut) dihukumi persis seperti induknya yang telah menjadi bangkai, sehingga dalam keadaan bagaimanapun statusnya adalah najis dan tidak dapat dikonsumsi. Pendapat ini adalah pendapat yang diungkapkan oleh Imam Malik. 

Ketiga pendapat yang dijelaskan di atas di antaranya ditemukan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:

فرع: البيضه التي في جوف الطائر الميت فيها ثلاثة أوجه حكاها الماوردي والروياني والشاشي أصحها، وهو قول ابن القطان وأبي الفياض، وبه قطع الجمهور إن تصلبت فطاهرة وإلا فنجسة. والثاني طاهرة مطلقاً، وبه قال أبو حنيفة لتميزها عنه فصارت بالولد أشبه 

“Cabang permasalahan: status telur yang  terdapat di dalam hewan burung yang mati terdapat tiga pendapat, seperti yang disampaikan oleh Al-Mawardi, Ar-Rawyani, dan Asy-Syasyi. Pendapat yang paling sahih adalah pendapat Ibnu al-Qattan dan Abi al-Faid yang juga dipastikan oleh mayoritas ulama bahwa ketika telur sudah mengeras maka telur tersebut suci, namun jika telur tidak mengeras maka telur tersebut najis. Pendapat kedua, telur yang terdapat dala perut hewan burung yang mati berstatus suci secara mutlak, pendapat ini seperti yang disampaikan oleh Abu Hanifah dengan dalih telur tersebut sudah dapat dibedakan dengan hewan yang mati, maka telur tersebut lebih serupa dengan anak hewan (yang masih hidup dalam perut induk yang telah mati).”
 
والثالث نجسة مطلقاً، وبه قال مالك لأنها قبل الإنفصال جزء من الطائر وحكاه المتولي عن نص الشافعي رضي الله تعالى عنه. وهو نقل غريب شاذ ضعيف.

“Pendapat ketiga, telur tersebut berstatus najis secara mutlak, pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, sebab telur ketika belum terpisah (dari Induknya) merupakan bagian (juz) dari hewan burung. Imam Al-Mutawalli juga menyampaikan pendapat tersebut dari penjelasan Imam Syafi’I. Namun penukilan tersebut dianggap aneh, dan merupakan pendapat yang syadz dan lemah.” (Kamaluddin Muhammad bin Musa ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz 1, hal. 462)

Penisbatan pada telur hewan burung pada referensi di atas bukanlah suatu ketentuan yang khusus, sebab hukum yang sama juga berlaku pada hewan-hewan yang sejenis, termasuk dalam status telur dari ayam.

Sedangkan maksud dari status telur yang suci dalam referensi di atas bukan berarti seluruh komponen telur tersebut langsung dihukumi suci ketika langsung diambil dari hewan yang telah menjadi bangkai, namun yang dimaksud adalah bagian dalam telur di hukumi suci, sedangkan permukaan telur (kulit telur) harus disucikan terlebih dahulu, sebab permukaan telur menyentuh bagian perut bangkai yang  najis, sehingga permukaan telur menjadi benda yang terkena najis (mutanajjis) dan harus disucikan terlebih dahulu sebelum di masak atau di konsumsi. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi status telur yang terdapat di dalam bangkai ayam dan sejenisnya, terdapat tiga pendapat, seperti yang telah dijelaskan dalam penjelasan awal. Namun dalam ranah pengamalan, sebaiknya kita berpijak pada pendapat yang paling shahih, yaitu pendapat mayoritas ulama yang berpandangan bahwa ketika permukaan telur sudah mengeras, maka dihukumi suci dan dapat dikonsumsi, sedangkan ketika permukaan telur belum mengeras, maka telur dihukumi najis dan tidak dapat dikonsumsi. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Senin 14 Januari 2019 15:0 WIB
Cara Menjawab Salam kepada Muslim dan Non-Muslim Menurut Syekh Nawawi
Cara Menjawab Salam kepada Muslim dan Non-Muslim Menurut Syekh Nawawi
Ilustrasi (Wikihow)
Syariat Islam mengatur sedemikian rupa cara membalas penghormatan yang diberikan oleh seseorang. Bahwa ketika seseorang menerima penghormatan dari lainnya ia diperintahkan untuk membalas penghormatan itu dengan penghormatan yang lebih baik atau minimal dengan penghormatan yang sepadan dengan penghormatan yang diterima.

Ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam Surat An-Nisa ayat 86:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Artinya: “Dan apabila kalian diberi penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan penghormatan yang sepadan.”

Syekh Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd atau yang juga dikenal dengan nama Tafsîr Al-Munîr menjelaskan ayat di atas secara panjang lebar. Menurut ulama asli Indonesia ini ayat tersebut mengajarkan bahwa apabila kalian diberi salam oleh seseorang maka balaslah orang yang beruluk salam itu dengan balasan salam yang lebih baik darinya, atau balaslah salam tersebut dengan salam yang sepadan.

Secara teknis Syekh Nawawi merinci bagaimana membalas salam dengan yang lebih baik. Bila seseorang disalami dengan kalimat assalâmu’alaikum hendaknya dijawab dengan kalimat wa’alaikumussalâm wa rahmatullah. Sedangkan bila yang beruluk salam mengucapkan assalâmu’alaikum wa rahmatuulâh maka hendaknya dijawab dengan kalimat wa’alaikumussalâm wa rahmatullâhi wa barakâtuh. Namun bila sang pemberi salam mengucapkan secara penuh kalimat assalâmu’alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh maka jawabannya sama dengan salam tersebut yakni wa’alaikumussalâm wa rahmatullâhi wa barakâtuh. Jawaban semacam ini adalah jawaban yang paling mentok dalam membalas ucapan salam seseorang, karena demikianlah salam yang dibaca di dalam bacaan tasyahud.

Lebih lanjut Syekh Nawawi menjelaskan bahwa hukum menjawab salam adalah wajib. Namun bila salam itu ditujukan kepada sekelompok orang maka hukum menjawabnya adalah wajib kifayah di mana apabila ada sebagian orang yang menjawab maka gugurlah kewajiban menjawab bagi sebagian lainnya. Meski demikian akan lebih baik dan utama bila setiap orang yang ada dalam kelompok itu menjawab salam yang ditujukan kepada mereka untuk menampilkan rasa hormat dan membesarkan penghormatan itu kepada pemberi salam.

Adapun tidak membalas salam adalah sebuah penghinaan, dan penghinaan merupakan tindakan yang membawa kemudaratan. Sedangkan tindakan mudarat adalah perilaku yang diharamkan. Demikian menurut Syekh Nawawi. Ya, ketika seseorang dengan begitu tulus beruluk salam kepada orang lain namun salam tersebut tak berbalas maka bisa jadi hal itu akan menyakiti hatinya dan melahirkan prasangka buruk terhadap orang yang disalami. Hal ini tentu sangat dilarang oleh Islam dan karenanya tidak membalas salam adalah haram hukumnya.

Lalu bagaimana bila yang beruluk salam adalah seorang non-Muslim, wajibkah membalas salamnya? Dan bolehkah mengawali salam kepada mereka?

Syekh Nawawi di dalam kitab yang sama mengutip beberapa hadits dan pendapat para ulama tentang hal ini.

Sebuah hadits yang dikutip oleh beliau bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تبدأ اليهودي بالسلام وإذا بدأك فقل وعليك

Artinya: “Jangan kau awali orang Yahudi dengan salam dan bila ia mengawalimu maka jawablah dengan berkata “wa ‘alaika”.”

Abu Yusuf berpendapat, “Jangan kalian bersalam kepada mereka dan jangan pula kalian bersalaman tangan dengan mereka. Bila kalian masuk di tengah-tengah mereka maka ucapkanlah assalâmu ‘alâ man taba’al hudâ (kesejahteraan bagi orang yang mengikuti petunjuk).”

Baca juga:
Cara Rasulullah Lindungi Non-Muslim
Bagaimana Memahami Konteks Hadits Memepet Orang Kafir di Jalan?
Ketika Rasulullah Hormati Jenazah Yahudi
Sementara sebagian ulama memberikan keringanan memperbolehkan mendahului beruluk salam kepada non-Muslim bila diperlukan. Adapun bila mereka memulai lebih dahulu bersalam kepada kita maka kebanyakan ulama berpendapat bahwa seyogianya salam itu dibalas dengan ucapan wa ‘alaika.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa salam bersabda:

إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا وعليكم

Artinya: “Apabila ahli kitab bersalam kepada kalian maka ucapkanlah wa ‘alaikum.”

Dari penjelasan di atas kiranya cukup bisa dipahami bahwa diperbolehkan menjawab salam yang disampaikan oleh seorang non-Muslim dan cukuplah dengan ucapan wa ‘alaika atau wa ‘alaikum.

Bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:

Salam dari non-Muslim: Assalâmu’alaikum (semoga keselamatan atasmu)

Jawaban: Wa ‘alaikum (semoga atasmu juga)

Pertanyaan berikutnya adalah, bolehkah menjawab salam kepada non-Muslim dengan mengikutsertakan kalimat wa rahmatullâh?

Imam Al-Hasan dalam hal ini berpendapat, diperbolehkan menjawab salam kepada seorang non-Muslim dengan kalimat wa ‘alaikumussalâm, namun tidak diperbolehkan menambahinya dengan kalimat wa rahmatullâh. Ini dikarenakan rahmat Allah adalah ampunan-Nya. Sedangkan tidak boleh seorang muslim memintakan ampunan bagi seorang non-Muslim.

Pada akhirnya Syekh Nawawi mengutip sebuah pendapat yang menyatakan bahwa membalas salam dengan balasan yang lebih baik itu berlaku bila orang yang beruluk salam seorang muslim. Sedangkan bila yang bersalam adalah orang non-Muslim maka membalasnya cukup dengan yang sepadan. Wallâhu a’lam.

(Ustadz Yazid Muttaqin)