IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Sepenggal Kisah Kedermawanan Rasulullah

Ahad 3 Februari 2019 15:30 WIB
Sepenggal Kisah Kedermawanan Rasulullah
Rasulullah adalah orang suka memberi. Tidak menimbun harta kekayaan untuk diri atau keluarga sendiri. Rasulullah tidak segan-segan memberikan hartanya kepada sahabat yang membutuhkan, meski dirinya pada saat itu juga dalam keadaan butuh. Kedermawanan Rasulullah tidak diragukan lagi. Sehingga Anas bin Malik, salah satu pelayan Rasulullah, menilai kalau Rasulullah adalah orang paling dermawan (ajwadun nas).

Banyak cerita tentang kisah kedermawanan Rasulullah. Diantaranya adalah kisah yang diriwayatkan Tirmidzi. Dikisahkan bahwa pada saat itu Rasulullah yang sedang bersama Sayyidina Umar bin Khattab didatangi seorang lelaki. Seorang lelaki itu sengaja menemui Rasulullah untuk meminta sesuatu. Tanpa pikir panjang, Rasulullah langsung memberinya.

Keesokan harinya, lelaki itu mendatangi Rasulullah lagi untuk meminta-minta. Tanpa banyak tanya, Rasulullah lagi-lagi memberinya sesuatu. Pada hari ketiga, seorang lelaki tersebut menemui Rasulullah. Ia meminta-minta kepada Rasulullah. Namun sayang, pada hari ketiga itu Rasulullah tengah tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada lelaki itu. 

“Aku tidak mempunyai apa-apa sekarang. Tapi ambillah apa yang engkau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku akan membayarnya,”kata Rasulullah kepada lelaki itu, dikutip dari buku Samudra Keteladanan Rasulullah (Nurul H Maarif, 2017). 

Rupanya Rasulullah masih bisa memberi kepada lelaki itu, meski dirinya pada saat itu tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Caranya, lelaki itu diminta untuk berutang kepada orang lain. Utang itu lalu diatasnamakan kepada Rasulullah. Jika Rasulullah sudah punya uang, maka ia akan membayar utang lelaki itu.  

Apa yang dilakukan Rasulullah itu ternyata ‘dikritik’ Sayyidina Umar bin Khattab. Sayyidina Umar berpendapat, Rasulullah tidak perlu memaksakan diri untuk memberi kalau memang sedang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. 

‘Kritikan’ Sayyidina Umar bin Khattab itu langsung direspons seorang sahabat Anshar yang baru datang. Sahabat Anshar itu menyarankan agar Rasulullah terus berinfak dan tidak mempedulikan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab.

“Jangan takut dan jangan khawatir dengan kemiskinan,” kata sahabat Anshar itu.

“Ucapan itu lah yang diperintahkan Allah kepadaku,” kata Rasulullah kepada Sayyidina Umar.

Sikap dermawan sudah sangat melekat pada diri Rasulullah. Bahkan pada saat-saat akhir hidupnya, Rasulullah berpesan kepada Sayyidah Aisyah agar menyedekahkan hartanya yang tersisa. Rasulullah tidak ingin ketika wafat masih menyimpan harta.

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ketika Rasulullah sakit menjelang wafatnya beliau memerintah istrinya, Sayyidah Aisyah, untuk mengirimkan beberapa uang dinar kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib agar disedekahkan. Setelah menyampaikan pesan itu Rasulullah pingsan, Sayyidah Aisyah lantas dibuat sibuk akan hal itu.

Ketika Rasulullah sadar kembali, beliau menanyakan kepada Sayyidah Aisyah apakah uang dinarnya itu sudah diberikan kepada Sayyidina Ali untuk diinfakkan. Rasulullah lantas tidak sadarkan diri lagi, Sayyidah Aisyah sibuk dibuatnya sehingga tidak sempat menunaikan amanat Rasulullah itu.

Untuk yang ketiga kalinya, Rasulullah mengingatkan agar uang dinarnya yang disimpan Sayyidah Aisyah diberikan kepada Sayyidina Ali agar disedekahkan. Lag-lagi Rasulullah pingsan lagi. Akan tetapi beberapa saat setelah kejadian itu, Sayyidah Aisyah menunaikan amanat Rasulullah itu. Beberapa uang dinar Rasulullah itu akhirnya diberikan kepada Sayyidina Ali dan disedekahkan kepada para sahabat yang membutuhkan. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 31 Januari 2019 6:0 WIB
Cara Rasulullah Bersyukur kepada Allah
Cara Rasulullah Bersyukur kepada Allah
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Rasulullah adalah contoh paripurna seorang hamba yang bersyukur kepada Allah. Beliau selalu mensyukuri apapun yang diberikan Allah kepadanya. Tidak pernah sekali pun Rasulullah mengeluhkan pemberian Allah. Apapun situasi dan kondisi yang menimpa dirinya. 

Rasulullah mengekspresikan rasa syukurnya atas semua nikmat Allah bukan hanya lewat lisan saja, namun juga melalui perbuatan atau tindakan nyata. Diantaranya adalah dengan tekun beribadah kepada Allah. Kendati Rasulullah sudah dijamin Allah masuk surga, namun ibadahnya begitu hebat. Bahkan dikisahkan kalau saking tekun dan khusuknya menunaikan shalat malam, kedua telapak kaki Rasulullah sampai pecah-pecah. Rasulullah sangat tekun berpuasa, dizkir, dan juga sangat dermawan. Pun berbuat baik kepada sesama. 

Posisi istimewa sebagai seorang nabi dan utusan Allah tidak membuat Rasulullah ‘berleha-leha’ dan ‘kemaruk.’ Meski sudah dijaga dari Allah dari melaksanakan perbuatan dosa (maksum), Rasulullah dengan menangis juga meminta ampunan kepada Allah. 

Tentu saja hal itu membuat para sahabat penasaran, bahkan istrinya sendiri Sayyidah Aisyah. Bagaimana mungkin seorang kekasih Allah, seorang yang dijamin masuk surga, dan seorang yang maksum, melakukan ibadah sampai segitunya. Bukankah dia tidak memiliki dosa atau kesalahan, mengapa dia meminta ampunan kepada Allah. 

“Mengapa engkau melakukan itu semua Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” tanya Sayyidah Aisyah.

Merujuk buku Samudra Keteladanan Muhammad (Nurul H Maarif, 2017), ketekunan dan kekhusukan Rasulullah dalam beribadah, munajatnya, dan berbuat baik kepada sesama merupakan sarana untuk bersyukur kepada Allah. Bukan sebagai sarana untuk pertaubatan atas segala dosanya atau pun sebagai sarana untuk mengharap surga.  

“Apakah aku tidak senang menjadi hamba yang banyak bersyukur” kata Rasulullah menjawab pertanyaan Sayyidah Aisyah di atas.

Begitulah cara Rasulullah bersyukur. Beliau bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah bukan hanya sekedar lisan -mengucapkan hamdalah- namun juga tindakan –yaitu dengan mengerjakan ibadah dengan tekun dan khusuk. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 30 Januari 2019 18:0 WIB
Ketika Rasulullah Mengajarkan Sayyidah Khadijah Wudhu dan Shalat
Ketika Rasulullah Mengajarkan Sayyidah Khadijah Wudhu dan Shalat
Sayyidah Khadijah adalah wanita –bahkan orang- yang pertama kali masuk Islam. Ia langsung menyatakan diri berikrar bahwa ‘tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, ketika suaminya itu menceritakan kejadian yang terjadi di Gua Hira. Yakni Rasulullah ditemui malaikat Jibril dan diberi wahyu yang pertama. Tidak ada keraguan sedikitpun di hati Sayyidah Khadijah terhadap Rasulullah. Ia yakin bahwa suaminya itu adalah seorang nabi dan utusan Allah.   

Rasulullah sangat gembira ketika istrinya bersedia mengikutinya. Bahkan, selalu meyakinkan dan membenarkan ‘apa yang didapat’ Rasulullah. Sayyidah Khadijah adalah orang pertama yang memberikan dukungan moril dan materiil kepada Rasulullah dalam mendakwahkan Islam. 

Beberapa saat setelah kejadian di Gua Hira, Rasulullah menuju sebuah gunung di Makkah. Ketika Rasulullah tiba di sana, malaikat Jibril datang menemuinya. Jibril mulai menyampaikan tata cara ritual keagamaan, yaitu wudhu. Pada saat itu, Jibril mencontohkan secara langsung tata cara berwudhu di hadapan Rasulullah. Rasulullah lantas mengikuti setiap gerakan yang dipraktikkan Jibril saat berwudhu.

Usai berwudhu, Jibril melaksanakan shalat. Rasulullah mengikuti setiap gerak-gerik Jibril dalam shalat. Setelah selesai memberikan pengajaran kepada Rasulullah tentang bab wudhu dan shalat, Jibril kemudian pergi meninggalkannya. Rasulullah gembira menerima wahyu dari Jibril. Ia lalu pulang ke rumah dan menemui istrinya, Sayyidah Khadijah. Ia ingin agar orang yang pertama kali mempelajari wudhu dan shalat adalah Sayyidah Khadijah.

“Aku akan mengajarkan kepadamu apa yang sudah Jibril ajarkan kepadaku. Ia pun merasa sangat gembira akan hal itu,” kata Rasulullah, dalam buku Khadijah, Teladan Agung Wanita Mukminah (Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, 2014).

Rasulullah lantas menyiapkan air. Beliau wudhu di hadapan Sayyidah Khadijah, sebagaimana cara wudhu yang diajarkan Jibril. Sayyidah Khadijah mengamati dengan seksama setiap gerakan yang dilakukan suaminya sebelum akhirnya menirukannya. Keduanya lantas mengerjakan shalat setelah selesai berwudhu. 

Iya, diantara wahyu yang turun pertama kali adalah tentang wudhu dan shalat. Memang, shalat yang lima waktu baru disyariatkan setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun sebelum itu, Rasulullah dan umatnya pada awal Islam diwajibkan untuk shalat dua kali; dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari. 

Di dalam keterangan buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Ibnu Hajar mengatakan bahwa Rasulullah dan para sahabat sudah melaksanakan shalat sebelum peristiwa Isra Mi’raj. Meski demikian, ada perbedaan pendapat terkait dengan hukum shalat itu; apakah shalat sebelum peristiwa Isra Mi’raj itu wajib? Ataukah tidak? Ada yang berpendapat kalau shalat yang diwajibkan sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj adalah shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum matahari terbenam tersebut. pendapat ini didasarkan kepada Al-Qur’an Surat Al-Mukmin ayat 55: Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 30 Januari 2019 8:0 WIB
Al-Khubab bin Al-Mundzir, Pemilik Taktik Brilian di Perang Badar
Al-Khubab bin Al-Mundzir, Pemilik Taktik Brilian di Perang Badar
Ketika pagi menyingsing dan matahari mulai memperlihatkan sinarnya, beberapa pasukan Muslim mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan tempur melawan pasukan kafir Quraisy yang selama ini menzalimi mereka.

Sama sekali tidak ada ketakutan pada raut wajah mereka. Menjadi syahid dalam peperangan pada saat itu adalah hal yang sangat diidamkan oleh setiap Muslim.

Pasukan itu dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat tercintanya. Mulai dari Abu Bakar, Umar, Ali dan beberapa sahabat yang lainnya. Merekalah para sahabat yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai As-Sabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam) yang sudah mendapatkan jatah khusus dari Allah ke surga-Nya.

Para pasukan itu sebenarnya dipersiapkan untuk menghentikan laju kafilah dagang kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Namun ternyata kafilah dagang Abu Sufyan lebih memilih jalur memutar agar tidak bertemu dengan pasukan Islam.

Rasulullah pun mengarahkan pasukannya menuju bukit Badar. Sebuah bukit yang berada di dekat kota Madinah. Namun sayangnya, masih ada beberapa pasukan yang lebih menyarankan Rasul untuk menunggu kafilah dagang Abu Sufyan saja. Hingga muncullah teguran dari Allah: 

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَن يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS al-Anfal: 7)

Sehingga mereka pun bersepakat untuk tetap berangkat menuju mata air Badar dan mengabaikan kafilah dagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan.

Setibanya di mata air Badar, Rasulullah pun memerintahkan pasukannya untuk mencari posisi yang tepat sebagai pos pertahanan mereka. Rasulullah kemudian menjadikan lembah badar sebagai pos pertahanan mereka. Yakni tepatnya di sumur pertama yang dilalui mereka.

Namun, datanglah seorang pria pejuang pemberani kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tampaknya pria ini telah memiliki rencana lain selain rencana yang telah diputuskan oleh Rasulullah.

Pria itu bernama al-Khubab bin al-Mundzir. Disebutkan oleh Syamsuddin al-Dzahabi dalam Târikh al-Islâm wa Wafâyât Masyâhir al-Aḥlâm, bahwa dialah yang mengusulkan sebuah taktik perang yang jitu pada saat perang Badar terjadi. (Lihat: Syamsuddin al-Dzahabi, Târikh al-Islâm wa Wafâyât Masyâhir al-Aḥlâm, [TK: Dar al-Gharb al-Islami, 2003], j. 2, h. 160)

Ia dengan hati-hati bertanya kepada Rasul. Ia tidak ingin menajadi sahabat yang membantah titah dan perintah Rasulullah. 

“Wahai Rasulullah, ampunilah aku jika terlalu lancang bertanya kepadamu. Wahai Rasul, apakah tempat ini adalah tempat yang diwahyukan oleh Allah kepadamu sehingga engkau tidak bisa menolaknya atau tempat ini hanyalah pendapat pribadimu atau bagian dan siasat perang?”

Nabi kemudian menjawab, “Bukan wahai Khubab, ini hanyalah pendapatku semata. Ini bukan wahyu dari Allah subhanahu wata'ala.”

“Jika benar begitu, bolehkah aku berpendapat wahai Rasul?”

Pria ini kemudian melanjutkan pertanyaannya dengan tenang dan hati-hati. Ia takut jika pendapatnya ini menyakiti perasaan Rasul atau mungkin tidak diterimanya. 

“Wahai Rasul, menurut pendapatku, tempat ini bukan merupakan tempat yang baik. Kita seharusnya berada di tempat yang lebih dekat dengan sumber air. Mari kita bawa pasukan menuju sumber air. Setelah sumber air kita kuasai, kita tutup sumber air itu. Setelah itu kita harus membuat kolam yang kita isi dengan air dari sumber itu. Posisi ini akan sangat menguntungkan pasukan kita, karena persediaan air kita bisa terjamin sedangkan mereka tidak. Sehingga mereka akan kehausan karena kehabisan persediaan air.”

Usulan Khubab ini sangat diapresiasi oleh Rasulullah. Tanpa pikir panjang, Rasululah kemudian memerintahkan pasukannya sesuai dengan arahan dan pendapat Khubab. Sikap beliau ini menunjukkan bahwa Nabi adalah pribadi yang gemar musyawarah dan terbuka atas pendapat orang lain.

Dan akhirnya taktik Khubab pun berhasil. Pasukan Muslim mendapatkan persediaan air yang cukup selama berperang. Sedangkan kafir Quraisy kehausan dan kelaparan karena sumber air itu telah ditutup.

Khubbah meninggal pada saat Umar bin Khattab menjadi khalifah. Taktik perang Khubbab yang menjadikan kaum Muslimin menang dalam perang Badar akan dikenang oleh seluruh umat Islam sepanjang masa.

Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)