IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Tata Cara Menjaga Kehormatan Masjid

Kamis 7 Februari 2019 19:45 WIB
Share:
Tata Cara Menjaga Kehormatan Masjid
(Foto: @prayerinislam.com)
Masjid adalah tempat yang dimuliakan Allah dan dikhususkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ia termasuk syiar-Nya yang dibangun atas dasar takwa dan harus selalu dimakmurkan oleh orang-orang Mukmin.

Belakangan, cukup banyak masjid yang dibangun dengan megah sehingga menarik banyak pengunjung, namun mereka abai dalam memenuhi hak-haknya dan menjaga kehormatannya. Sebab, mereka datang sekadar berwisata dan menikmatan keindahannya. Lantas bagaimana kita menyikapi fenomena seperti itu?

Sesungguhnya, membangun masjid tentu saja diperbolehkan bahkan dianjurkan selama memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, antara lain dibangun sebagai sarana ibadah, bukan sebagai sarana komersil, bersumber dari dana yang halal, menghadap kiblat, didasari oleh ketakwaan kepada Allah, ikhlas mengharap rida-Nya, berdiri—sebaiknya—di atas tanah wakaf, setelah berdiri dijaga kehormatannya, dan seterusnya.

Begitu pun para jamaah yang datang harus tetap menjaga kehormatan dan kesucian masjid itu sendiri sebagai “rumah” Allah. Mereka datang bukan sekadar berwisata dan menikmati keindahan serta kemegahannya semata, tetapi juga berniat ibadah, memenuhi hak-haknya, dan meraih keutamaan-keutamaan yang dijanjikan Allah dan Rasul di dalamnya.

Barang kali itu pula pesan yang terkandung dalam hadits Rasulullah SAW bagi para umatnya yang hendak mengunjungi Masjid Haram atau Masjid Nabawi.

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هذَا، خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ. إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Artinya, “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) satu kali lebih baik dari seribu kali shalat di luar masjidku kecuali Masjidil Haram,” (HR Al-Bukhari).

Oleh sebab itu, Rasulullah SAW telah memberikan sejumlah tuntunan kepada kita bagaimana cara menghormati masjid yang benar, mulai dari masuk, saat berada di dalam, maupun setelah keluar lagi dari masjid. Berikut disajikan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang memasuki “rumah” Allah itu  dan menjaga kehormatannya.  

Pertama, sebelum masuk masjid, hendaknya kita sudah dalam keadaan bersih dari hadas, najis, dan kotoran, baik yang melekat pada badan, pakaian, maupun mulut. 

Kedua, pergunakanlah pakaian yang bersih, putih, bagus, sopan, dan menutup aurat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran:   

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Artinya, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid,” (Surat Al-A’raf ayat 31).

Apabila tidak ada pakaian putih, maka kenakanlah pakaian polos dan tak bergambar karena dikhawatirkan bisa mengurangi kekhusyukan shalat orang yang melihatnya.

Ketiga, pakailah minyak wewangian dan hindari sebelumnya mengonsumsi makanan yang beraroma tidak sedap, seperti petai, jengkol, bawang dan sebagainya. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menyatakan dalam salah satu hadisnya:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَأْتِيَنَّ الْمَسْجِدَ. يَعْنِي اَلثَّوْمَ

Artinya, “Siapa saja yang makan pohon (tanaman) ini, maka janganlah dia mendatangi masjid. Maksudnya adalah bawang putih.”

Keempat, saat akan memasuki masjid, dahulukanlah kaki sebelah kanan sambil membaca doa berikut: 

بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Artinya, “Dengan menyebut asma Allah, salam sejahtera semoga tetap terlimpah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu rahmat untukku.”

Sementara, pada saat akan keluar, dahulukanlah kaki sebelah kiri sambil membaca doa berikut:

بِسْمِ اللَّهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Artinya, “Dengan menyebut asma Allah, salam sejahtera semoga tetap terlimpah kepada Rasulullah. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu rahmat untukku.”

Kelima, berniatlah untuk itikaf atau berdiam diri di masjid dan semata-mata beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagai sebuah ibadah, tentunya tidak sah apabila tidak diniati. Maka, begitu masuk masjid, hendaknya kita langsung berniat itikaf.  

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Artinya, “Aku berniat itikaf di masjid ini karena Allah.”

Keenam, setelah berniat itikaf, hendaknya kita tidak langsung duduk kecuali setelah menunaikan dua rakaat tahiyyatul masjid walaupun tujuan utamanya masuk masjid sekadar untuk menumpang ke kamar mandi.

Namun, bila kita dalam keadaan tidak berwudhu, atau dalam keadaan berwudhu, tetapi tidak sempat menunaikannya karena, misalnya, shalat fardhu sudah diiqamatkan, maka cukuplah membaca empat kalimat berikut ini:

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ 

Kalimat itu dibaca tiga kali atau empat kali. Ada yang mengatakan, tiga kali bagi orang yang tidak berwudhu, satu kali kali bagi orang yang berwudhu. Sebab keutamaan membaca keempatnya, menandingi dua rakaat shalat sunat.

Walhasil, setelah berada di masjid, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Justru, manfaatkanlah kesempatan sebaik-baiknya dengan berbagai amaliah ibadah, baik yang fardu maupun yang sunat, seperti berdoa, berzikir, bertafakur, menuntut ilmu, membaca Al-Quran, dan seterusnya.    

Ketujuh, tidak mengotori masjid, seperti membuang sampah, ludah, dahak, dan sejenisnya. Bahkan, larangan orang yang junub berdiam di masjid atau larangan wanita haid atau nifas berdiam atau melintas di masjid—dalam pandangan Imam As-Syafi'i—salah satunya untuk menghormati dan menjaga kesucian masjid.    

Kedelapan, saat berada di masjid atau di lingkungan masjid, jagalah sikap yang tak terpuji, seperti berkata kasar, berteriak, bersenda gurau, sibuk bermain telepon seluler yang tidak ada hubungannya dengan ibadah, dan sebagainya.

Jangankan bicara bertindak tak pantas, berbicara urusan dunia, urusan dagang, atau barang yang hilang pun oleh Rasulullah saw. dilarang, bahkan pelakunya boleh didoakan agar dia tidak mendapat keuntungan.

“Jika engkau melihat orang yang berjual beli di masjid, maka doakanlah, "Semoga Allah tidak memberi keuntungan atas perdaganganmu!" Kemudian jika engkau melihat orang yang meratapi barang yang hilang, maka doakanlah, "Semoga Allah tidak mengembalikan barang hilangmu itu.”

Hadits itu sejalan dengan hadits Rasulullah SAW lainnya yang mengabarkan bahwa pada akhir zaman kelak akan banyak umatnya yang banyak memperbincangkan dunia di masjid.  

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي يَأْتُوْنَ الْمَسَاجِدَ فَيَقْعَدُوْنَ فِيْهَا حِلَقاً حِلَقاً ذِكْرُهُمْ الدُّنْيَا وَحُبُّ الدُّنْيَا لَا تُجَالِسُوْهُمْ فَلَيْسَ للهِ بِهِمْ حَاجَةٌ

Artinya, “Akan datang pada akhir zaman sejumlah orang dari kalangan umatku yang datang ke masjid. Mereka duduk melingkar-lingkar di dalamnya. Namun, yang dibicarakan mereka adalah dunia dan cinta dunia.  Maka janganlah kalian bergaul dengan mereka, sebab Allah pun tidak butuh terhadap mereka,” (HR Ibnu Hibban).

Kesembilan, setelah kita kembali berada di luar masjid, hati kita hendaknya selalu bergantung padanya. Sebab, di antara tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, sebagaimana hadis Rasulullah SAW adalah seorang laki-laki yang hatinya terpaut atau bergantung pada masjid. Hati kita ingin segera kembali lagi ke masjid karena menyadari bahwa di antara perkara yang dapat menghapus dosa-dosa kecil kita adalah melangkahkan kaki ke masjid.

Demikianlah beberapa adab dalam menjaga kehormatan masjid. Tentu masih banyak lagi adab-adab lainnya yang tidak memungkinkan diutarakan semua di sini. Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat. Wallahu ‘alam.


(Ustadz M Tatam Wijaya)
Share:
Kamis 31 Januari 2019 3:0 WIB
Ketika Seorang Nabi Digigit Seekor Semut yang Malang
Ketika Seorang Nabi Digigit Seekor Semut yang Malang
(Foto: @tranungkite.net)
Suatu hari Rasulullah SAW pernah bercerita sederhana kepada para sahabatnya bahwa di suatu zaman dahulu ada seorang nabi yang menghentikan perjalanannya karena letih. Ia kemudian berteduh di bawah sebuah pohon. Di sana seekor semut malang menggigitnya.

Di bawah pengaruh letih, nabi tersebut marah bukan kepalang. Ia memerintahkan pendampingnya untuk mencari semut malang tersebut. Pengejaran berhasil. Pendampingnya berhasil mengeluarkan semut tersebut dari dalam sarang sebelum ia kemudian membakar sarangnya.

Nabi tersebut atas tindakan berlebihannya itu ditegur oleh Allah SWT. Ia dipersalahkan karena telah berbuat melampaui batas atas semut malang tersebut. Cerita ini dapat ditemukan dalam hadits riwayat Sunan Abu Dawud sebagai berikut:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأمر بجهازه فأخرج من تحتها ثم أمر بها فأحرقت فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bercerita bahwa salah seorang nabi di zaman dahulu pernah singgah di bawah sebuah pohon. Di sana ia digigit oleh semut. Lalu ia memerintahkan untuk mencari semut tersebut. Semut itu dikeluarkan dari sarangnya, lalu ia memerintahkan untuk membakar sarangnya. Allah setelah itu menegur, ‘Mengapa kau tidak membunuh seekor semut saja?’” (HR Abu Dawud).

Cerita serupa juga dapat ditemukan pada riwayat Imam Bukhari. Pada riwayat tersebut, Allah menegur nabi yang membalas semut malang secara berlebihan. Allah menyayangkan pembakaran atas sekelompok semut atas kesalahan seekor semut belaka. Allah pada riwayat ini juga menyebut semut sebagai hewan yang bertasbih:

وأبي سلمة أن أبا هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قرصت نملة نبيا من الأنبياء فأمر بقرية النمل فأحرقت فأوحى الله إليه أن قرصتك نملة أحرقت أمة من الأمم تسبح

Artinya, “Dari Abu Salamah, Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bercerita bahwa suatu ketika seekor semut mengigit seorang nabi. Ia kemudian memerintahkan untuk mendatangi pemukiman semut, lalu pemukiman itu dibakar. Allah menegurnya, ‘Seekor semut menggigitmu, tapi kamu membakar satu umat (sekelompok semut) yang kerjanya bertasbih?’” (HR Bukhari).

Cerita sederhana Rasulullah SAW ini memberikan pelajaran penting kepada para sahabatnya agar mereka sebagai umat Islam bersikap adil dalam membalas atau menjatuhkan hukuman.

Nilai-nilai semacam ini tampak perlu diangkat kembali ketika kita hingga kini masih saja mendengar kabar seseorang yang dituduh mencuri tewas dipukuli hingga babak belur, bahkan sampai mati bahkan dibakar oleh massa yang berang. Wallahu a‘lam. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 30 Januari 2019 16:30 WIB
AL-HIKAM
Jalan Sufi Kalangan Disabilitas Menurut Ibnu Athaillah
Jalan Sufi Kalangan Disabilitas Menurut Ibnu Athaillah
(Foto: @inigresik.com)
Keterbatasan fisik seperti orang sakit dan kalangan disabilitas tetap memiliki kesempatan untuk beribadah karena jalan menuju Allah terbuka bagi siapa saja. Jalan ini tidak tertutup untuk kalangan tertentu. Jalan ilahi ini dapat ditempuh oleh semua orang dengan latar belakang sosial apa pun.

Jangan disangka kasih sayang Allah berkurang untuk mereka yang sedang mendapat ujian. Pasalnya, kasih sayang Allah tetap melekat pada ujian dan cobaan yang menjadi takdir manusia sebagaimana keterangan Al-Hikam berikut ini.

من ظن انفكاك لطفه عن قدره فذلك لقصور نظره

Artinya, “Siapa saja yang mengira kelembutan kasih Allah terpisah dari takdir-Nya, maka itu terjadi karena keterbatasan pandangannya.”

Dengan keterangan ini, dapat disimpulkan bahwa kelembutan kasih sayang Allah tidak menjauh dari takdir misalnya disabilitas, keterbatasan fisik, dan pelbagai bentuk cobaan hidup lainnya. Dalam hadits kudsi berikut ini, Allah mengatakan bahwa cobaan hidup merupakan jalan hamba-Nya untuk selalu dekat dengan-Nya. 

وفي الخبر عن الله تعالى الفقر سجني والمرض قيدي أحبس بذلك من أحببت من عبادي

Artinya, “Dalam hadits kudsi, Allah berfirman, ‘Kefakiran adalah penjara-Ku. Penyakit adalah borgol-Ku. Dengan itu semuanya Aku ‘menahan’ hamba-hamba yang Kucintai,’” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Ghayatul Mawahibil Aliyyah fi Syarhil Hikam Al-Atha’iyyah, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 78).

Mereka yang sakit dan kalangan disabilitas umumnya memiliki daya gerak yang terbatas. Hal ini menyebabkan jumlah aktivitas ibadah lahiriah mereka tidak sebanyak mereka yang sehat dan kalangan non-disabilitas. Meski demikian, mereka tetap dapat beribadah secara batin di mana nilai ibadah ini memiliki bobot yang jauh lebih tinggi daripada ibadah lahiriah.

فيها أيضا تحصل له طاعة القلوب وأعمالها وذرة منها خير من أمثال الجبال من أعمال الجوارح وذلك مثل الصبر والرضا والزهد والتوكل وحب لقاء الله تعالى

Artinya, “Pada ujian itu terdapat ketaatan dan amal batin. Sebutir zarah amal batin lebih baik daripada amal ibadah yang menggunung secara lahiriah anggota badan. Amal batin itu adalah sabar, ridha, zuhud, tawakal, dan senang berjumpa dengan Allah,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Ghayatul Mawahibil Aliyyah fi Syarhil Hikam Al-Atha’iyyah, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 78).

Amaliah batin mengandung banyak keutamaan, mulai dari penghapusan dosa, peningkatan derajat di sisi Allah, hingga aneka anugerah ilahi lainnya. Keutamaan dari amaliah batin itu kerap kali tidak mudah diraih melalui ibadah secara lahiriah. Syekh As-Syarqawi menyebutkan ganjaran amaliah batin sebagai berikut:

ومنها أنه يحصل بها كفارة الذنوب والخطايا إلى غير ذلك من الألطاف الإلهية

Artinya, “Dari ujian itu juga muncul penghapusan dosa dan kesalahan, serta pelbagai kelembutan kasih ilahi lainnya,” (Lihat Syekh Abdullah Hijazi As-Syarqawi, Syarhul Hikam Ibnu Athaillah, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 78).

Uraian ini tidak menganjurkan orang untuk mengurangi atau bahkan meninggalkan ibadah lahiriah. Semua keterangan ini dimaksudkan untuk menginformasikan jalan ibadah alternatif yang dapat ditempuh oleh mereka yang sedang mengalami sakit dan kalangan disabilitas. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 7 Januari 2019 18:5 WIB
Ini Sebab Ziarah Kubur Jadi Tak Berguna
Ini Sebab Ziarah Kubur Jadi Tak Berguna
(Foto: @islam.ru)
Islam menganjurkan ziarah kubur sebagai salah satu cara untuk menyadarkan manusia pada keterbatasan dan dunia lain di balik alam nyata. Ziarah kubur salah satunya bertujuan antara lain untuk mengingatkan manusia pada kematian agar setelah itu mereka dapat merenung dan memperbaiki diri.

Hal ini dapat dilihat jejaknya pada hadits riwayat Imam Muslim berikut ini:

زُوْرُوْا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Artinya, “Silakan ziarah karena sungguh ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada kematian,” (HR Muslim).

Pada riwayat lain Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur sebagai salah satu cara untuk mengingatkan seseorang pada alam akhirat dan berlaku zuhud di dunia dalam menjalani sisa hidupnya:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Artinya, “Dulu aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang, silakan ziarah karena sungguh ziarah kubur dapat membuat kalian zuhud di dunia dan dapat mengingatkan kalian pada akhirat,” (HR Ibnu Majah).

Ziarah kubur yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW pada dua riwayat di atas kadang kala dapat tidak bermakna sama sekali. Artinya ziarah kubur pada kondisi tertentu tidak membuat seorang peziarah menjadi zuhud, reflektif, mengingat kematian atau alam akhirat.

Untuk menghindari hal tersebut, para ulama menganjurkan sejumlah adab ziarah kubur yang perlu diperhatikan oleh peziarah. Syekh Ihsan Jampes Kediri mengutip pandangan ulama terkait adab bagi peziarah.

وقال العلماء رضي الله عنهم وينبغي لمن يزور القبور أن يكون جوعان فإن الشبع يحجب العبد عن الاعتبار بالموتى وأن يكون غير عازم على فعل شيء من المعاصي فإن العازم في حضرة الشياطين فلا يصح اعتبار  

Artinya, “Ulama radhiyallahu anhum mengatakan, seyogianya peziarah kubur berada dalam kondisi lapar karena kondisi kenyang dapat menghijab seseorang untuk mengambil pelajaran dari orang yang telah wafat. Peziarah kubur juga seharusnya tidak sedang berniat berniat melakukan sebuah kemaksiatan karena orang yang sedang berniat maksiat sedang berada dalam hadirat setan sehingga tidak mungkin mengambil pelajaran,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 464).

Peziarah dianjurkan untuk memperbanyak puasa dalam ziarah kubur dengan maksud untuk mengosongkan “keinginan” duniawi dari dalam batin. Hal ini sangat penting agar ziarah kubur benar-benar dapat memberikan “pelajaran” bagi peziarah.

وأن يكون زاهدا في الدنيا فإن الراغب فيها من لازمه قساوة القلب ولذلك عدم غالب الناس الاتعاظ برؤية القبور

Artinya, “Seorang peziarah seyogianya bersikap zuhud terhadap dunia karena orang yang cinta dunia lazimnya memiliki hati yang keras sehingga kebanyakan dari mereka tidak mengambil pelajaran hanya dengan melihat kuburan,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 464).

Sebenarnya praktik ziarah kubur bukan tidak berguna sama sekali meski peziarah misalnya tidak mendapat hikmah darinya. Praktik ziarah kubur penting untuk mendidik anak-anak para peziarah untuk mentradisikan sunnah di samping pahala tahlil dan wirid bagi peziarah yang biasa dibaca di makam.

Di samping itu para peziarah juga telah menunaikan kewajiban bakti kepada kedua orang yang telah wafat dengan menziarahi makam keduanya. Para peziarah juga mendapatkan limpahan berkah dari para wali dengan menziarahi makam kekasih Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)