IMG-LOGO
Jumat

Khutbah Jumat, Sebaiknya Panjang atau Pendek?

Ahad 10 Februari 2019 20:0 WIB
Share:
Khutbah Jumat, Sebaiknya Panjang atau Pendek?
Tidak diragukan lagi bahwa khutbah Jumat sangat krusial dalam pelaksanaan Jumat. Tidak hanya berkaitan dengan keabsahannya, namun substansi dan teknis penyampaiannya juga sangat penting untuk didengar jamaah. Karena itu, isi dan cara penyampaian khutbah hendaknya mengena agar bisa diambil manfaatnya oleh Jamaah. 

Berkaitan dengan teknis penyampaian khutbah, salah satu yang sering diperbincangkan adalah mengenai durasi khutbah. Beberapa khatib menyampaikan khutbahnya dengan sangat panjang sehingga para Jamaah bosan dan mengantuk. Sebaliknya, khutbah yang terlampau pendek, dinilai tidak dapat dipahami substansinya dengan baik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana durasi khutbah yang dianjurkan syari’at, panjang atau pendek?
Keseimbangan dalam setiap hal adalah hal yang perlu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam beberapa haditsnya, bahwa sebaik-baiknya perkara adalah yang sedang (tengah-tengah), tidak terkecuali dalam persoalan durasi khutbah. Nabi mengajarkan durasi khutbah sebaiknya sedang, tidak terlalu panjang dan tidak terlampau pendek. Dalam sebuah riwayat ditegaskan:

كانت صلاة النبي صلى الله عليه وسلم قصدا وخطبته قصدا

“Shalatnya Nabi sedang dan khutbahnya sedang.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Dalam menjelaskan hadits tersebut, Syekh Abu Tahyyib Syamsul Haq al-Azhim mengatakan:

ـ (وخطبته قصدا ) القصد في الشيء هو الاقتصاد فيه وترك التطويل وإنما كانت صلاته صلى الله عليه واله وسلم وخطبته كذلك لئلا يمل الناس  والحديث فيه مشروعية إقصار  الخطبة ولا خلاف في ذلك 

“Sedang dalam perkara adalah seimbang di dalamnya dan tidak memanjangkan. Shalat dan khutbah Nabi dilakukan dalam durasi sedang agar manusia tidak bosan. Hadits ini menganjurkan meringkas khutbah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut.” (Syekh Abu Tahyyib Syamsul Haq al-Azhim, ‘Aun al-Ma’bud, juz 3, hal. 316)

Mengapa tidak dianjurkan memanjangkan khutbah? Padahal jamaah akan banyak mendengarkan siraman rohani? Sebab memanjangkan khutbah justru memberatkan kepada jamaah, terlebih jika mereka sedang tidak bersemangat atau masih harus menyelesaikan pekerjaan setelah Jumatan. 

Syekh Badruddin al-‘Aini menjelaskan:

وفيه من السُّنَّة تخفيف الخطبة وتخفيف الصلاة؛ لأن تطويلهما يثقل على الناس، ولا سيما إذا كان القوم كُسالَى

“Di dalam hadits ini menyimpulkan sunahnya meringankan khutbah dan shalat, sebab memanjangkan keduanya dapat memberatkan manusia, terlebih ketika mereka malas.” (Syekh Badruddin al-‘Aini, Syarh Abi Daud, juz 4, hal. 443).

Anjuran membaca khutbah dalam durasi yang sedang tidak bertentangan dengan hadits Nabi lain yang menganjurkan membaca khutbah dengan pendek. Sebab, yang dimaksud pendek dalam hadits tersebut, pendek jika dibandingkan dengan shalat Jumatnya. Sehingga panjang pendek merupakan hal yang relatif (nisbi).

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

ولا يعارضه خبره أيضا طول صلاة الرجل وقصر خطبته مئنة من فقهه أي علامة عليه فأطيلوا الصلاة واقصروا الخطبة ؛ لأن القصر والطول من الأمور النسبية فالمراد بإقصار الخطبة إقصارها عن الصلاة وبإطالة الصلاة إطالتها على الخطبة

“Dan tidak bertentangan dengan anjuran membaca sedang khutbah, haditsnya Imam Muslim yang lain, yaitu “panjangnya shalat laki-laki dan pendeknya khutbahnya merupakan tanda kepandaiannya, maka panjangkanlah shalat, pendekanlah khutbah.” Sebab pendek panjang termasuk perkara-perkara yang relatif. Maka yang dimaksud dengan memendekan khutbah adalah memendekan dari shalat dan yang dimaksud memanjangkan shalat adalah memanjangkan dari khutbah.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 260).

Lantas, apa standar durasi khutbah dikatakan sedang? Berapa menit? Dalam hal ini tidak ada batasan pasti berapa menitnya. Namun disesuaikan dengan kondisi, waktu dan momennya. Bisa jadi dalam suatu momen atau keadaan tertentu perlu menyampaikan banyak materi seperti masyarakat butuh disampaikan detail materi tentang puasa. Bisa jadi dalam satu kesempatan dicukupkan dengan materi yang singkat. Pada prinsipnya, khutbah disampaikan sesuai kebutuhan, tidak terlalu berlebihan yang dapat mengakibatkan kejenuhan, tidak pula terlalu singat sehingga tidak dapat dipahami substansinya.

Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengutip penjelasan Syekh al-Adzra’i dalam kitabnya Hasyiyah ‘Ala Asna al-Mathalib sebagai berikut:

ـ (قوله متوسطة إلخ) قال الأذرعي وحسن أن يختلف ذلك باختلاف الأحوال وأزمان الأسباب وقد يقتضي الحال الإسهاب كالحث على الجهاد إذا طرق العدو والعياذ بالله تعالى البلاد وغير ذلك من النهي عن الخمور والفواحش والزنا والظلم إذا تتابع الناس فيها وحسن قول الماوردي ويقصد إيراد المعنى الصحيح واختيار اللفظ الفصيح ولا يطيل إطالة تمل ولا يقصر تقصيرا يخل

“Al-Imam al-Adzra’i berkata, standar sedangnya khutbah berbeda-beda sesuai dengan berbedanya kondisi dan waktunya. Terkadanga suatu kondisi menuntut menyampaikan khutbah dengan panjang lebar seperti himbauan berjihad saat musuh menyerang, semoga Allah melindungi kita. Dan hal-hal lain seperti larangan mengkonsumsi khamr, perbuatan nista, zina dan kezaliman di saat banyak orang melakukannya. Bagus sekali ucapannya Syekh al-Mawardi, dan hendaknya khatib menghendaki makan yang benar dan memilih lafazh yang fasih, dan hendaknya tidak memanjangkan khutbah yang membosankan, dan tidak memendekan yang merusak substansi khutbah.” (Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Hasyiyah al-Ramli ‘Ala Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 260).

Demikian penjelasan mengenai anjuran durasi khutbah menuutu syari’at. Sebaiknya para khatib memperhatikan hal demikian, agar khutbah yang disampaikan efektif dan tepat sasaran. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Jumat 25 Januari 2019 8:0 WIB
Hukum Berbicara saat Khutbah Berlangsung
Hukum Berbicara saat Khutbah Berlangsung
Ilustrasi (wikipedia)
Saat khutbah berlangsung, hendaknya jamaah menyimak dengan seksama. Namun, karena kebiasaan atau keperluan tertentu, terkadang sebagian jamaah berbicara kepada rekannya. Bagaimana hukum berbicara saat khutbah berlangsung?

Ulama Syafi’iyyah menegaskan bahwa berbicara saat khutbah bagi jamaah Jumat hukumnya makruh. Kemakruhan ini berdasarkan petunjuk ayat:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Apabila dibacakan Al-Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Surat Al-A’raf, ayat 204)

Demikian pula hadits riwayat Imam Muslim:

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya, “Jika kamu katakan kepada temanmu, ‘diamlah!’, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).” (HR Muslim)

Redaksi “Laghauta” memiliki banyak versi. Ada yang mengartikan merugi dari pahala, batalnya keutamaan Jumat dan Jumatnya menjadi Zhuhur. Yang dimaksud Jumatnya menjadi Zhuhur adalah, Jumatnya sah, namun tidak mendapatkan keutamaannya.

Syekh Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan: 

قَالَ النَّضْر بْن شُمَيْلٍ مَعْنَاهُ خِبْت مِنْ الْأَجْر وَقِيلَ بَطَلَتْ فَضِيلَة جُمْعَتك وَقِيلَ صَارَتْ جُمْعَتك ظُهْرًا قَالَ الْحَافِظ اِبْن حَجَر وَيَشْهَد لِلْقَوْلِ الْأَخِير حَدِيث أَبِي دَاوُدَ مَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَاب النَّاس كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا قَالَ اِبْن وَهْب أَحَد رُوَاته مَعْنَاهُ أَجْزَأَتْ عَنْهُ الصَّلَاة وَحُرِمَ فَضِيلَة الْجُمْعَة

“Nadlr bin Syumail berkata, makna hadits tersebut adalah, kamu merugi dari pahala. Pendapat lain, batal keutamaan Jumatmu. Pendapat lain, Jumatmu menjadi Zhuhur. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, pendapat terakhir didukung oleh haditsnya Abu Daud, barangsiapa yang menganggur dan melangkahi leher manusia, maka Jumat baginya menjadi shalat Zhuhur. Ibnu Wahab, salah satu perawi hadits tersebut berkata, maknanya adalah tercukupi baginya shalat Jumat dan ia terhalang dari keutamaan Jumat.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, Hasyiyah al-Suyuthi ‘ala Sunan al-Nasa’i, juz 2, hal. 452)

Senada dengan penjelasan al-Suyuthi di atas, Syekh Abdurrahman al-Mubarakfauri mengatakan:

قال العلماء معناه لا جمعة له كاملة للإجماع على إسقاط فرض الوقت عنه انتهى

“Ulama berkata, makna hadits tersebut adalah, tidak ada Jumat sempurna baginya, karena kesepakatan ulama atas gugurnya kewajiban Jumat bagi orang tersebut.” (Syekh Abdurrahman al-Mubarakfauri, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 3, hal. 32).

Mengapa hukum berbicara tidak haram, padahal ayat di atas tegas memerintahkan untuk diam saat khutbah dibacakan?

Syekh Zakariyya al-Anshari menjelaskan bahwa ada beberapa hadits yang menunjukan berbicara saat khutbah tidak haram, seperti hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang seorang Baduwi yang datang saat Nabi sedang berkhutbah, ia mengadu hartanya hilang, keluarganya lapar dan meminta Nabi mendoakannya. Nabi tidak mengingkari perilaku Baduwi tersebut, bahkan Nabi mendoakannya.

Berikut ini bunyi penjelasan Syekh Zakariyya dalam kitabnya Asna al-Mathalib:

ويكره للحاضرين الكلام  فيها لظاهر الآية السابقة وخبر مسلم إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت

“Makruh bagi hadirin jamaah Jumat berbicara saat khutbah, karena zhahir ayat di atas dan haditsnya Imam Muslim, Jika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).”

ولا يحرم  للأخبار الدالة على جوازه كخبر الصحيحين عن أنس  بينما النبي صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة قام أعرابي فقال يا رسول الله هلك المال وجاع العيال فادع الله لنا فرفع يديه ودعا  

“Dan berbicara hukumnya tidak haram karena terdapat beberapa hadits yang menunjukan kebolehannya, seperti haditsnya al-Bukhari dan Muslim dari Sahabat Anas, suatu ketika Nabi tengah berkhutbah di hari Jumat, berdirilah seorang Baduwi, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta kami rusak, keluarga kami lapar, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.’ Lalu Nabi mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Baduwi tersebut.”

وجه الدلالة أنه لم ينكر عليه الكلام ولم يبين له وجوب السكوت والأمر في الآية للندب 

“Sudut pandang petunjuknya adalah bahwa Nabi tidak mengingkari percakapan sang Baduwi, Nabi tidak menjelaskan kepadanya kewajiban diam saat khutbah. Perintah diam dalam ayat diarahkan kepada perintah sunnah.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 2, hal. 138)

Bagaimana bila ada hajat untuk berbicara, semisal mengingatkan rekannya yang salah atau khatib yang tidak membaca salah satu rukun khutbah? Apakah juga dilarang?.

Jika terdapat hal-hal mendesak yang memerlukan bicara sebagaimana contoh-contoh tersebut, maka hukumnya boleh (tidak makruh), bahkan berbicara bisa menjadi wajib dalam sebagian kasus seperti memperingatkan rekan jamaah dari bahaya binatang yang hendak melukai atau khatib yang cacat khutbahnya.

Meski berbicara hukumnya boleh saat ada hajat, namun sebaiknya dihindari, cukup dengan berisyarat bila hal tersebut telah mencukupi dalam menyampaikan maksud.

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

وإن عرض مهم  ناجز  كتعليم خبر ونهي عن منكر  وإنذار إنسان عقربا أو أعمى بئرا  لم يمنع منه  أي من الكلام بل قد يجب عليه  لكن يستحب أن يقتصر على الإشارة  إن أغنت 

“Bila baru datang perkara penting yang mendesak seperti memberitahukan kewaspadaan, melarang kemunkaran, memperingatkan manusia dari kalajengking atau orang buta agar tidak jatuh ke sumur, maka berbicara tidak dicegah, bahkan terkadang wajib. Namun sunah mencukupkan dengan isyarah bila hal tersebut mencukupi.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 2, hal. 139)

Selain ada kebutuhan mendesak, berbicara juga diperbolehkan dalam beberapa kondisi yang dianjurkan, seperti membaca shalawat saat khatib menyebut nama atau sifat Nabi, mendoakan orang yang bersin, mendoakan taradldli (radliyaallah ‘anhu) saat nama sahabat disebut dan mengamini doanya khatib. Beberapa anjuran tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Inilah Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah.”

Demikian penjelasan mengenai hukum berbicara saat khutbah, semoga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah Jumat dengan memenuhi tata cara dan adab-adabnya.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 24 Januari 2019 18:0 WIB
Keutamaan Waktu Bakda Ashar Hari Jumat
Keutamaan Waktu Bakda Ashar Hari Jumat
Hari Jumat merupakan hari yang agung. Keutamaannya tidak diragukan lagi. Terdapat satu waktu dalam satu kali 24 jam hari Jumat yang mustajab untuk dibuat berdoa. Waktu tersebut dirahasiakan oleh Allah ﷻ, sebagaimana Allah merahasiakan Lailatul Qadar. Ada beberapa pendapat mengenai waktu mustajab tersebut. Di antaranya adalah pendapat yang menyatakan waktu ijabah adalah setelah Ashar di hari Jumat.

Pendapat tersebut berdasar pada hadits sebagai berikut:

يوم الجمعة اثنتا عشرة ساعة منها ساعة لا يوجد عبد مسلم يسأل الله شيئا إلا أتاه إياه فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر

“Dua belas jam pada hari Jumat di antaranya terdapat waktu yang seorang hamba Muslim tidaklah meminta sesuatu kepada Allah di waktu tersebut, kecuali Allah mengabulkan permintaannya. Maka carilah waktu tersebut di akhir waktu setelah Ashar.” (HR. Abu Daud, al-Nasa’i, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Hadits tersebut disahihkan oleh Imam al-Hakim, beliau sebagaimana dikutip al-‘Iraqi menegaskan:

قال الحاكم صحيح على شرط مسلم

“Dan al-Hakim berkata, hadits ini sahih sesuai standar kesahihannya Imam Muslim.” (Syekh Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain al-‘Iraqi, juz 3, hal. 190).

Sementara menurut keterangan hadits riwayat Imam Muslim, waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar hingga Imam shalat Jumat menyelesaikan shalat Jumat. Riwayat Imam Muslim inilah yang kemudian dipilih oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah dalam menentukan waktu ijabah.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:

ساعة الإجابة هي ما بين أن يجلس الإمام على المنبر أول صعوده إلى أن يقضي الإمام الصلاة ثبت هذا في صحيح مسلم من كلام رسول الله صلى الله عليه و سلم من رواية أبي موسى الأشعري وقيل فيها اقوال كثيرة مشهورة غير هذا اشهرها أنها بعد العصر والصواب الأول

Artinya, “Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik hingga imam shalat Jumat menyelesaikan shalatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Shahih Muslim dari sabda Nabi, riwayat Sahabat Abi Musa Al-Asy’ari. Pendapat lain mengatakan, ada beberapa versi yang banyak dan masyhur selain pendapat yang pertama. Yang paling masyhur adalah setelah Ashar hari Jumat. Pendapat yang benar adalah yang pertama,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Tahriru Alfazhit Tanbih, juz I, halaman 87).

Bagaimana memahami dua riwayat Imam Abu Daud dan Imam Muslim yang bertentangan? Padahal keduanya sama-sama sahih?

Al-Nawawi menegaskan bahwa dimungkinkan waktu ijabah berganti-ganti di setiap Jumatnya. Di hari Jumat tertentu, terkadang sesuai penegasan dalam riwayat Abu Daud, di Jumat yang lain terkadang sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Imam Muslim. Pola ini sebagaimana yang dipilih oleh al-Nawawi dalam mengorelasikan riwayat tentang Lailatul Qadar yang berbeda-beda.

Al-Imam al-Nawawi menegaskan:

ويحتمل أن هذه منتقلة تكون في بعض الايام في وقت وفى بعضها في وقت كما هو المختار في ليلة القدر والله اعلم

“Dan mungkin bahwa sesungguhnya waktu ijabah berpindah-pindah, di sebagian Jumat berada waktu tertentu, di Jumat yang lain terjadi di waktu yang lain, sebagaimana pendapat yang dipiilih dalam Lailatul Qadar.” (al-Imam al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 426)

Walhasil, bagaimanapun juga waktu bakda Ashar di hari Jumat memiliki keutamaan yang besar, terlepas dari beberapa perbedaan riwayat berkaitan dengan waktu ijabah di hari Jumat. Seyogianya di sepanjang hari Jumat, seorang Muslim memperbanyak berdoa, dengan harapan menemui waktu ijabah yang bisa jadi berpindah-pindah di setiap Jumatnya. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 18 Januari 2019 10:0 WIB
Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah
Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah
Ilustrasi (via suffnetrucuter.tk)
Dalam khutbah, di samping ada beberapa anjuran bagi khatib, juga terdapat beberapa anjuran bagi para pendengarnya. Apa saja adab (etika) saat mendengarkan khutbah? Berikut ini penjelasannya.

Adab pertama, menghadap khatib.
Jamaah dianjurkan untuk menghadap khatib dengan wajahnya. Ada dua alasan kenapa hal ini dianjurkan. Pertama, karena menjalankan etika berkomunikasi. Kedua agar jamaah memperoleh keutamaan menghadap kiblat. Syekh Zakariya Al-Anshari mengatakan:

ـ (وينبغي) أي يستحب للقوم السامعين وغيرهم (أن يقبلوا عليه) بوجوههم ؛ لأنه الأدب ولما فيه من توجههم القبلة

Artinya, “Seyogianya, maksudnya disunahkan bagi jamaah yang mendengarkan dan selainnya, menghadap khatib dengan wajah mereka karena sebagai bentuk etika dan agar mereka dapat menghadap kiblat,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 258).

Adab kedua, diam dan mendengarkan
Jamaah disunahkan untuk diam dan mendengarkan secara seksama pesan khutbah yang disampaikan khatib. Anjuran ini berlandaskan firman Allah:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Apabila dibacakan Al-Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,” (Surat Al-A’raf, ayat 204).

Menurut mayoritas pakar tafsir, ayat tersebut turun saat menjelaskan khutbah Jumat. Ada dua kata anjuran dalam ayat di atas. Pertama “al-istima’”. Kedua “al-inshat”. Al-istima’ adalah menyibukkan telinga dengan mendengarkan khutbah. Sedangkan al-inshat artinya diam.

Syekh Zakariya Al-Anshari mengatakan:

و أن (ينصتوا ويستمعوا) قال تعالى {وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا} ذكر كثير من المفسرين أنه ورد في الخطبة وسميت قرآنا لاشتمالها عليه

Artinya, “Dan sunah bagi mereka untuk memperhatikan dan mendengarkan khutbah. Allah ﷻ berfirman, Dan apabila dibacakan Al-Qur'an (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang. Mayoritas pakar tafsir menyebutkan bahwa ayat tersebut turun dalam persoalan khutbah, disebut dengan Al-Quran, karena khutbah memuat ayat Al-Qur'an.”

قال في الأصل والإنصات السكوت والاستماع شغل السمع بالسماع انتهى فبينهما عموم وخصوص من وجه

Artinya, “Berkata dalam kitab asal, al-inshat adalah diam. Sedangkan al-istima’ adalah menyibukkan pendengaran dengan mendengarkan khutbah. Maka di antara keduanya terdapat sisi umum dan khusus dari satu sudut pandang,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 258).

Adab ketiga, menghindari hal-hal yang dapat melalaikan khutbah.
Saat khutbah berlangsung, jamaah hendaknya tidak mengobrol, bermain gadget, bergurau dan hal-hal lain yang dapat menghilangkan fokus dalam menyimak khutbah. Oleh karenanya, Nabi melarang orang yang bebicara saat khutbah berlangsung. Nabi bersabda:

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya, “Jika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna),” (HR Muslim).

Berkaitan dengan larangan melakukan aktivitas yang melalaikan khutbah, Syekh Sulaiman Al-Jamal mengatakan:

ويكره المشي بين الصفوف للسؤال ودوران الإبريق والقرب لسقي الماء وتفرقة الأوراق والتصدق عليهم ؛ لأنه يلهي الناس عن الذكر واستماع الخطبة ا هـ . برماوي .

Artinya, “Makruh berjalan di antara shaf untuk meminta-minta, mengedarkan kendi atau geriba untuk memberi minuman, membagikan kertas dan bersedekah kepada jamaah, sebab hal tersebut dapat melalaikan manusia dari zikir dan mendengarkan khutbah,” (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, juz II, halaman 36).

Adab keempat, berdoa di dalam hati
Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat mujarab untuk dibuat berdoa. Ulama mengistilahkan waktu tersebut dengan “Sa’atul Ijabah” (waktu terkabulnya doa). Barang siapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Artinya, “Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat, ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar,” (HR Al-Bukhari).

Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik, sampai salamnya imam jamaah shalat Jumat.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:

ساعة الإجابة هي ما بين أن يجلس الإمام على المنبر أول صعوده إلى أن يقضي الإمام الصلاة ثبت هذا في صحيح مسلم من كلام رسول الله صلى الله عليه و سلم من رواية أبي موسى الأشعري وقيل فيها اقوال كثيرة مشهورة غير هذا اشهرها أنها بعد العصر والصواب الأول

Artinya, “Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik, hingga imam shalat Jumat menyelesaikan shalatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Shahih Muslim dari sabda Nabi, riwayatnya Sahabat Abi Musa Al-Asy’ari. Pendapat lain mengatakan, ada beberapa versi yang banyak dan masyhur selain pendapat yang pertama. Yang paling masyhur adalah setelah Ashar hari Jumat. Pendapat yang benar adalah yang pertama,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Tahriru Alfazhit Tanbih, juz I, halaman 87).

Waktu ijabah yang dimaksud sangat sebentar. Oleh karenanya bagi jamaah dianjurkan untuk berdoa di dalam hati selama khutbah berlangsung, dengan harapan bisa menemui waktu ijabah tersebut. Berdoa saat khutbah berlangsung tidak perlu diucapkan dengan lisan, namun cukup dihadirkan di dalam hati, sehingga hal tersebut tidak bertentangan dengan anjuran diam saat khutbah berlangsung.

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjawab sebagai berikut.

وَسُئِلَ الْبُلْقِيْنِيُّ كَيْفَ يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ فِيْ حَالِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِالْإِنْصَاتِ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الدُّعَاءِ اّلتَّلَفُّظُ بَلِ اسْتِحْضَارُ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ كَافٍ فِيْ ذَلِكَ

Artinya, “Imam Al-Bulqini ditanya. ‘Bagaimana mungkin jamaah Jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab, ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup,’” (Lihat Syekh Mahfuzh Termas, Hasyiyatut Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, [Jeddah, Darul Minhaj: 2011 M], cetakan pertama, juz 4, halaman 344).

Adab kelima, mendoakan jamaah yang bersin
Saat jamaah mendengar orang yang bersin dan ia mengucapkan hamdalah, maka sunah untuk mendoakannya. Mendoakan orang yang bersin adalah dengan berkata “Yarhamukallah” (semoga Allah merahmatimu). Demikian pula sunah bagi jamaah yang bersin untuk mendoakan balik orang yang mendoakannya, dengan ucapan “Yahdikumullah wa yushlihu balakum” (Semoga Allah menunjukanmu dan memperbaiki keadaanmu). Anjuran ini sebagaimana dijelaskan oleh beberapa hadits Nabi.

Adab keenam, membaca shalawat ketika khatib menyebut nama atau sifat Nabi
Saat Khatib menyebut nama atau sifat Nabi, semisal ketika khatib membaca “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad”, maka jamaah dianjurkan untuk membaca shalawat. Bacaan shalawat tersebut dianjurkan tidak terlalu keras agar tidak mengganggu keberlangsungan khutbah.

Adab ketujuh, mendoakan taraddhi untuk para sahabat ketika nama mereka disebut
Di bagian akhir khutbah kedua, biasanya khatib menyebut para nama sahabat seperti Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Maka, ketika mendengar nama mereka, jamaah disunahkan membaca taraddhi, yaitu mendoakan ridla untuk mereka, contohnya “Radliyallahu ‘anhum” (Semoga Allah meridhai mereka).

Adab kedelapan, mengamini doanya khatib
Ketika khatib berdoa, jamaah dianjurkan untuk membaca “Amin”. Anjuran membaca “amin” dan taraddhi sebaiknya dilakukan tidak dengan suara yang keras agar tidak mengganggu.

Syekh Zainuddin Al-Malibari mengatakan:

ويسن تشميت العاطس والرد عليه ورفع الصوت من غير مبالغة بالصلاة والسلام عليه صلى الله عليه وسلم عند ذكر الخطيب اسمه أو وصفه صلى الله عليه وسلم  قال شيخنا ولا يبعد ندب الترضي عن الصحابة بلا رفع صوت  وكذا التأمين لدعاء الخطيب  اه

Artinya, “Sunah mendoakan orang yang bersin dan baginya sunah membalas mendoakan. Demikian pula sunah mengeraskan suara dengan tidak berlebihan, dengan bacaan shalawat dan salam kepada Nabi ketika khatib menyebut nama atau sifat Nabi. Guruku berkata, tidak jauh dari kebenaran kesunahan membaca taraddli untuk para sahabat tanpa mengeraskan suara, demikian pula sunah mengamini doanya khathib,” (Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in Hamisy I’anatut Thalibin, juz II, halaman 99).

Demikianlah delapan adab saat mendengarkan khotbah. Semoga kita bisa mengamalkannya.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)