IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Mengapa Rasulullah Berasal dari Arab?

Selasa 12 Februari 2019 6:0 WIB
Share:
Mengapa Rasulullah Berasal dari Arab?
Rasulullah adalah nabi dan utusan terakhir yang ditugaskan Allah untuk menyebarkan risalah langit kepada umat manusia. Beliau lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 580 M. Meski lahir dan besar di tanah Arab, namun ajaran dan risalah Rasulullah bukan hanya untuk bangsa Arab saja tetapi juga untuk seluruh umat manusia, bahkan bangsa jin. Demikian lah, ajaran yang dibawa Rasulullah melintasi zaman dan geografi, terus berkembang hingga kini.  

Lalu yang kerap kali menjadi pertanyaan adalah mengapa Rasulullah berasal dari bangsa Arab, Makkah tepatnya? Mengapa Rasulullah tidak lahir dari bangsa Romawi, Persia, atau pun India yang pada saat itu merupakan peradaban terbesar dan maju? 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), seorang ulama besar Mesir Syekh Mutawalli as-Sya’rawi mengemukakan kalau bangsa Arab dulu memiliki semangat menjelajah atau hidup perpindah-pindah (nomaden) dan senang berperang. Dengan karakter seperti itu, mereka dinilai selalu siap untuk menyebarkan risalah kenabian ke seluruh penjuru. Meski jiwa dan darah yang menjadi taruhannya. Itulah kenapa Alah memilih rasul dari bangsa Aarab.

“Kalau Allah menghendaki sesuatu, Dia mempersiapkan sebab-sebab-Nya,” kata Syekh Mutawalli as-Sya’rawi.

Sementara menurut ulama masyhur asal India Abu Hasan an-Nadwi menjelaskan kalau Rasulullah dipilih Allah dari bangsa Arab karena 'alasan-alasan tertentu’. Menurut an-Nadwi, masyarakat Arab pada saat itu memiliki jiwa yang relatif bersih dan belum ternodai dengan ide-ide buruk yang tertancap sehingga susah dihapus. Di samping itu, tidak ada keangguhan dan kesombongan di hati masyarakat Arab. Hati mereka hanya tertutup oleh keluguan dan kebodohan. Kebodohan yang sederhana, bukan berganda sehingga mudah dihapus.

Masyarakat Arab pada waktu itu juga memiliki kemauan yang kuat, tegas, ‘hitam-putih. Dalam artian, mereka akan keukeuh memerangi Islam manakala kebenaran Islam tidak dipahaminya. Namun, jika kebenaran Islam sudah merasuk kedalam hati dan jiwanya maka mereka akan membelanya dengan sepenuh hati, raga, dan harta, bahkan nyawa.

Tidak hanya itu, dalam sejarahnya masyarakat Arab tidak pernah dijajah imperium asing. Mereka juga tidak rela diperbudak. Keadaan seperti itu menjadikan mereka bertumbuh menjadi masyarakat yang egaliter, merdeka, dan cinta alam. Plus masyarakat Arab memiliki watak yang tegas, berani, berterus terang, dan tidak suka menipu diri sendiri, apalagi orang lain. Watak dan karakter masyarakat Arab yang seperti itu lah yang membuat Allah memilih utusan-Nya dari bangsa Arab. 

Abu Hasan an-Nadwi juga menyinggung kenapa Rasulullah tidak berasal dari bangsa Romawi, Persia, atau pun India yang notabennya peradaban besar pada saat itu. Kata an-Nadwi, masyarakat India pada saat itu adalah masyarakat yang sombong dengan pengetahuan, peradaban, filsafat, dan budayanya. Hal itu membuat jiwa dan pikiran mereka menjadi kompleks sehingga susah dihapus dan dimasuki dengan ‘ajaran baru’. Begitu pun dengan masyarakat Romawi dan Persia. Jiwa mereka sudah ‘ternodai’ dengan ‘ide-ide buruk’ yang susah dihapus. Wallahu a’lam. (A Muchlishon Rochmat) 
Share:
Ahad 10 Februari 2019 15:30 WIB
Kisah Rasulullah, Seorang Budak, dan Uang Delapan Dirham
Kisah Rasulullah, Seorang Budak, dan Uang Delapan Dirham

Rasulullah adalah seorang yang mandiri. Semuanya pekerjaan dilakukan sendiri. Menjahit baju yang robek, memperbaiki sandal yang rusak, dan mengerjakan segala pekerjaan yang layaknya seorang suami lakukan di dalam rumah. Bahkan, Rasulullah tidak segan-segan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Terkait hal ini, ada kisah menarik.

Alkisah, suatu ketika Rasulullah pergi ke pasar dengan membawa uang delapan dirham. Ia bermaksud untuk membeli beberapa bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Ketika berada di tengah pasar, Rasulullah melihat ada seorang budak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasulullah langsung menghampiri orang tersebut dan bertanya apa yang terjadi hingga menyebabkannya menangis seperti itu.

Setelah bercakap-cakap dengan budak perempuan tersebut, Rasulullah baru tahu kalau dia menangis karena uang majikannya hilang. Sehingga ia tidak bisa membeli belanjaan. Jumlah uang miliki budak perempuan yang hilang tersebut delapan dirham. Mendengar keluh kesah budak perempuan tersebut, tanpa pikir panjang Rasulullah langsung memberikan uangnya yang delapan dirham itu untuk budak tersebut. Tidak mengapa dirinya tidak jadi membeli barang belanjaan, asal budak perempuan itu berhenti menangis, bisa berbelanja, dan tidak dimarahi majikannya. Demikian pikir Rasulullah kira-kira.

Namun dugaan Rasulullah ‘meleset.’ Ternyata budak perempuan tersebut tetap menangis meski uangnya yang hilang sudah kembali, diganti Rasulullah tepatnya. Rasulullah lantas bertanya kembali kepada budak tersebut perihal apa yang sebetulnya terjadi kepadanya.

“Apa gerangan yang terjadi kepadamu? Bukan kah uang majikanmu yang hilang telah kembali?” tanya Rasulullah, merujuk buku Samudra Keteladanan Rasulullah (Nurul H Maarif, 2017).

Budak perempuan menjawab bahwa kehilangan uang membuat dirinya jadi terlambat berbelanja, pulang ke rumah, dan memasaknya. Dia takut kalau majikannya marah karena keterlambatannya itu. Rupanya, hal itulah yang membuatnya terus menangis.

Rasulullah tidak pernah setengah-setengah ketika membantu seseorang. Rasulullah akhirnya mengantarkan budak perempuan tersebut ke rumah majikannya setelah membeli beberapa kebutuhannya. Jika majikannya marah, maka Rasulullah yang akan pasang badan untuk budak perempuan tersebut. Begitu pun jika majikannya hendak mencambuknya, maka Rasulullah akan bersedia menjadi orang yang menggantikannya. Begitu lah tawaran Rasulullah yang akhirnya membuat budak tersebut tidak menangis lagi.

Apa yang dilakukan Rasulullah kepada budak perempuan tersebut ternyata membuat sang majikan luluh hatinya. Sang majikan tidak jadi marah atau pun mencambuk budaknya yang terlambat, malah dia memerdekakan budaknya itu karena kagum dengan sikap Rasulullah. Tidak hanya itu, sang majikan juga akhirnya masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah.  

Kata Rasulullah, itu lah delapan dirham yang sangat berkah karena bisa mengganti uang yang hilang, memerdekakan budak, dan membuat sang majikan memeluk Islam. Demikian lah cara Rasulullah membantu seseorang, tidak setengah-setengah. Di samping itu, Rasulullah juga mengorbankan kepentingannya demi kepentingan orang lain. Beliau memberikan uang delapan dirhamnya –yang semula untuk membeli kebutuhannya- kepada seorang budak perempuan yang kehilangan uang. (A Muchlishon Rochmat)

Jumat 8 Februari 2019 19:0 WIB
Sikap Adil Rasulullah Terhadap Non-Muslim
Sikap Adil Rasulullah Terhadap Non-Muslim
“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil­lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..,” (QS Al-Maidah: 8).

Rasulullah betul-betul menjadi suri teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau menjalankan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Termasuk menjalankan perintah Allah dalam ayat di atas, yaitu berbuat adil. Sebuah sikap yang tidak mudah dilaksanakan manusia karena kebencian dan ‘perbedaan’ yang ada diantara mereka. 

Biasanya, seseorang akan berlaku adil manakala situasi dan kondisinya menguntungkan diri, keluarga, sahabat atau pun kelompoknya. Akan tetapi, jika keadaannya merugikan dirinya maka niscaya ia akan berat –bahkan tidak- berlaku adil.  

Hal itu tidak berlaku bagi Rasulullah. Rasulullah adalah seorang yang berlaku adil kepada semuanya; kepada dirinya, keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam sendiri. Rasulullah menjadikan keadilan sebagai sebuah hukum dan sistem yang harus ditegakkan dalam setiap situasi dan kondisi apapun. 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku pasti memotong tangannya. Pada saat itu, hukuman dari seorang pencuri adalah potong tangan. Melalui hadits itu, Rasulullah menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan setegak-tegaknya. Apabila salah, maka harus dihukum. Tidak peduli yang melakukan kesalahan itu keluarganya sendiri, bahkan putri tercintanya.

Tidak hanya itu, Rasulullah juga menegakkan keadilan kepada mereka yang tidak se-iman atau tidak se-agama. Iya, keadilan Rasulullah meliputi non-Muslim. Merujuk buku  Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), dikisahkan bahwa suatu ketika al-Asy’ats bin Qais dan seorang Yahudi menghadap Rasulullah. Al-Asy’ats mengadu dan meminta keadilan kepada Rasulullah karena tanahnya diambil seorang Yahudi tersebut.

Setelah mendengar curhatan dan keluh kesah al-Asy’ats, Rasulullah tidak langsung menyalahkan seorang Yahudi dan memintanya untuk mengembalikan tanah yang diperebutkan tersebut kepada al-Asy'ats. Rasulullah malah bertanya kepada al-Asy’ats apakah dirinya memiliki bukti kepemilikan atas tanah tersebut. Al-Asy’ats mengaku tidak memilikinya. 

Rasulullah kemudian meminta seorang Yahudi tersebut untuk bersumpah bahwa tanah itu memang miliknya, bukan milik al-Asy’ats sebagaimana yang dituduhkan. Rupanya al-Asy’ats keberatan dengan cara Rasulullah itu. Ia mengklaim, kalau seandainya disuruh bersumpah untuk memenangkan persengketaan tanah itu maka seorang Yahudi tersebut akan melakukan hal itu dan mengambil tanahnya.

Keberatan al-Asy’ats itu langsung dijawab Allah dengan turunnya Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 77: Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapatkan bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Dalam kasus itu, Rasulullah menegakkan keadilan dengan dua cara. Pertama, orang yang menuntut atau mengaku memiliki hak (al-Asy’ast) harus bisa menghadirkan bukti kepemilikan tanah. Kedua, orang yang dituntut (seorang Yahudi) harus bersumpah kepada Tuhan bahwa ia tidak melakukan apa yang dituduhkan orang mengaku memiliki hak (al-Asy’ast). Jika orang yang menuntut tidak mampu memberikan bukti-bukti kepemilikannya, maka tanah itu menjadi milik orang yang dituntut.

Begitu lah sikap adil Rasulullah. Beliau tetap berlaku adil meski pun itu terhadap non-Muslim. Beda agama tidak menjadikan Rasulullah berbuat tidak adil. Sikap adil Rasulullah itu seharusnya menjadi pegangan dan teladan bagi umat Islam agar berlaku adil dalam situasi dan keadaan apapun, termasuk kepada non-Muslim sekalipun. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 7 Februari 2019 18:0 WIB
Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)
Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)
“Di banyak bagian dari kitab-kitab penganut ajaran Brahmaisme, Majusi, di samping Yahudi dan Nasrani, terdapat teks-teks yang menunjukkan bahwa nama Muhammad telah diperkenalkan di sana,” kata Abbas al-Aqqad dalam bukunya Mathla’ an-Nur. 

Menariknya, pemberitaan tentang nama dan kedatangan Rasulullah tidak hanya terdapat di kitab suci ‘agama samawi’. Informasi tentang nama Nabi Muhammad saw. juga ada dalam kitab-kitab penganut ajaran Majusi, Budha, dan Hindu, dan Brahma. 

Dalam kitab suci umat Hindu, Adharwhidma, misalnya. Nama Muhammad sudah diperkenalkan. Dalam salah satu ayatnya disebutkan, “Wahai manusia, dengarlah dan sadarlah, Muhammad akan diutus diantara manusia, keagungannya dipuji sampai di surga dan dia menjadikan surga itu tunduk kepadanya, dan dia adalah Muhamid.

Begitu pun dalam Bhawisyapurana, kitab Hindu lainnya. Dalam salah satu ayatnya disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.: “Pada saat itu, diutus lah seorang asing bersama para sahabatnya dengan nama Muhamid yang diberi gelar ‘tuan dunia’ dan raja, ia membersihkan dunia dengan lima pembersih. 

Muhamid dalam kitab umat Hindu tersebut diyakini sebagai Nabi Muhammad saw. Sedangkan yang dimaksud ‘lima pembersih dunia’ dalam ayat tersebut di atas adalah shalat lima waktu. Teks tersebut juga menyebutkan sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka digambarkan sebagai orang yang berkhitan, tidak memotong rambut sebelah, memakan hewan kecuali babi, tidak menggunakan tumbuhan darba untuk membersihkan dosa, dan mereka dinamakan musalli (muslimin). 

Sosok Nabi Muhammad saw. juga terdapat dalam kitab suci Weda dan sejumlah kitab suci umat Hindu yang berbeda-beda lainnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti India, terdapat pribadi ‘Narasyans’ dalam kitab-kitab Hindu tersebut. Narasyans sendiri berasal dari kata nar (manusia) dan asyans (dipuji). Dengan demikian, Narasyans merupakan orang yang dipuji atau orang yang terpuji, sepadan dengan kata Muhammad.    

Baca juga: Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian-I)

Begitu pun mantra-mantra dalam kitab dalam kitab Weda dan kitab suci umat Hindu lainnya. Diantara bunyi mantranya: “Dengarlah manusia dengan penuh hormat, sesungguhnya Narasyans dipuji dan disanjung, sedangkan kita menjaga orang yang berhijrah –orang yang membawa bendera keamanan itu- antara enam puluh ribu sembilan puluh musuh.”

Raghib as-Sirjani dalam bukunya Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (2011) mengemukakan bahwa mantra dalam kitab suci umat Hindu itu menunjuk kepada Nabi Muhammad saw. Teks itu menyebut tentang Narasyans yang dipuji dan disanjung. Menurut Raghib, tidak ada manusia di dunia yang dipuji dan disanjung sebanyak Nabi Muhammad saw. 

Teks mantra itu juga menyebut tentang orang yang behijrah. Dan Nabi Muhammad saw. juga adalah orang yang berhijrah, dari Makkah ke Madinah. Bahkan, hijrah Nabi Muhammad saw. menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Terakhir, teks itu juga menyebutkan tentang jumlah musuh, yaitu enam puluh ribu sembilan puluh. Jumlah ini diyakini mendekati dengan jumlah musuh Rasulullah selama hidupnya.

Mantra lainnya berbunyi: “Kendaraannya adalah unta, istri-istrinya adalah 12 orang. Ia mendapatkan kedudukan yang tinggi dan dengan kecepatan kendaraannya ia dapat menyentuh langit lalu turun.”

Teks mantra ini membuat informasi tentang Nabi Muhammad saw. menjadi detil. Disebutkan juga tentang jenis kendaraannya, jumlah istrinya, dan kemuliannya. Bahkan, di dalam teks itu juga secara tersirat menginformasikan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. dari Makkah hingga ke Sidratil Muntaha. 

Bukan kah di dalam Al-Qur’an Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia telah mengutus seorang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi setiap umat. Sebagaimana dalam QS Fathir ayat 24:”Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (A Muchlishon Rochmat)