IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Mengapa Menggunjing Non-Muslim juga Haram? Ini Jawaban Imam al-Ghazali

Rabu 13 Februari 2019 16:30 WIB
Share:
Mengapa Menggunjing Non-Muslim juga Haram? Ini Jawaban Imam al-Ghazali
Ilustrasi (via psmag.com)
Menggunjing atau ghîbah (membicarakan keburukan atau aib orang lain) adalah satu hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Menggunjing diibaratkan seperti orang yang memakan bangkai daging saudaranya. Dalam Al-Qur’an secara tegas Allah subhânahu wa ta’âlâ bersabda: 

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya: “Dan janganlah sebagian dari kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan bangkai dari daging saudaranya. Tentu kalian merasa jijik.” (QS Al-Hujurât: 12) 

Hadits riwayat al-Baihaqi dan at-Thabrani, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ghibah lebih dahsyat daripada zina.

الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَزْنِي فَيَتُوبُ فَيَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ حَمْزَةَ فَيَتُوبُ فَيَغْفِرُ لَهُ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَهَا لَهُ صَاحِبُهُ

Artinya: “Ghîbah itu dampaknya lebih besar daripada zina.’ Sahabat bertanya ‘Ya Rasulallah, mengapa ghibah lebih besar efeknya daripada zina?.’ Rasulullah menjawab ‘Sesungguhnya seseorang yang melakukan perzinaan lalu bertaubat, Allah akan mengampuni taubatnya. Nah orang yang ghibah, saat ia bertaubat, tidak akan diampuni oleh Allah begitu saja sampai orang yang digunjing juga memaafkannya.” (Abu Bakar al-Baihaqi, Syu’abul Îman, [Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, 2003], juz 9, halaman 98). 

Menggunjing lebih dahsyat efeknya daripada zina tidak bisa diartikan bahwa zina itu dosanya kecil lalu menggunjing dosa besar. Masing-masing dosanya sama besarnya. Perlu diketahui, orang yang terbukti melakukan zina, hukumannya sangat berat melebihi hukuman seorang pembunuh.

Hukuman pembunuh (qishas) adalah pembunuhnya gantian dibunuh oleh pemerintah yang sah dengan cara dipenggal lehernya. Sekitar 10 menit bisa dinyatakan dokter benar-benar meninggal. Artinya ini sangat simpel. Bedakan dengan had orang yang berzina! 

Hukuman orang zina muhshan adalah dibunuh dengan cara mengenaskan. Tidak sesimpel zina muhshan yang sekali tebas, selesai. Melainkan dengan dilempari batu sampai mati. Artinya, proses sanksi berlangsung perlahan-lahan yang tentu saja menyebabkan penderitaan yang lebih berat.

Baca juga:
Benarkah Kejahatan Ghibah Lebih Berat dari Zina?
Ini Enam Kondisi Seorang Boleh Lakukan Ghibah 
Dialog Nabi Isa dan Iblis perihal Ghibah
 Zina yang sedemikian berat hukumannya, Baginda Nabi menyatakan masih lebih dahsyat ghîbah. Dengan demikian, ghîbah adalah satu hal yang benar-benar harus dihindari. Ia mempunyai efek yang sangat berbahaya. Bisa jadi, sebab seseorang digunjing di depan orang lain, ia gagal kariernya, rezekinya menjadi tertutup, dipecat dari perusahaan atau ditolak bekerja di satu tempat dan lain sebagainya. 

Lalu, apakah yang dilarang itu hanya menggunjing kepada sesama Muslim atau juga berlaku kepada non-Muslim? 

Ada dua pendapat. Imam al-Ghazali mengatakan, menggunjing non-Muslim yang tidak memerangi orang Islam adalah haram. Sedangkan Ibnul Mundzir menyatakan sebaliknya. 

Imam al-Ghazali memandang orang non-Muslim yang tidak melakukan perlawanan/pemberontakan terhadap kafir dzimmi (orang non-Muslim sebagaimana yang banyak ditemukan di Indonesia), hukumnya tidak boleh sebab mereka berhak mendapat perlindungan sebagaimana umat Islam pada umumnya. Mulai dari kehormatan pribadi, darah dan harta benda mereka masing-masing secara resmi dilindungi oleh ikatan-ikatan syariat Islam. Oleh karena itu, menyakiti non-Muslim hukumnya sama dengan hukum menyakiti orang Islam. Berbeda apabila yang digunjing adalah orang non-Muslim (kafir) penyerang Islam (harbi), maka hukumnya boleh.

Selain itu, Imam al-Ghazali memberikan alasan mengapa menggunjing kafir dzimmi dilarang? Sebab yang pertama adalah gunjingan tersebut pasti menyakitkan mereka. Padahal hukum menyakiti Muslim maupun non-Muslim yang tidak melawan (kafir dzimmi), hukumnya haram. 

Kedua, menganggap ada sebuah kekurangan pada ciptaan Allah. Menceritakan kekurangan orang lain baik Muslim maupun non-Muslim sama saja dengan menganggap ada sebuah cacat pada makhluk yang diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, walaupun non-Muslim sekalipun, dia merupakan ciptaan Allah. Apabila kita menggunjing dia, sama saja kita menganggap ada kekurangan pada ciptaan Allah. Menganggap kurang pada ciptaan Allah seperti ini hukumnya makruh. 

Ketiga, membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berfaedah. Menggunjing orang otomatis menggunakan waktu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Sebuah pekerjaan kurang baik. 

سُئِلَ الْغَزَالِيُّ فِي فَتَاوِيهِ عَنْ غِيبَةِ الْكَافِرِ. فَقَالَ: هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ لِثَلَاثِ عِلَلٍ: الْإِيذَاءُ وَتَنْقِيصُ خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ، وَتَضْيِيعُ الْوَقْتِ بِمَا لَا يُعْنِي. الى ان قال وَأَمَّا الذِّمِّيُّ فَكَالْمُسْلِمِ فِيمَا يَرْجِعُ إلَى الْمَنْعِ مِنْ الْإِيذَاءِ،؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ عَصَمَ عِرْضَهُ وَدَمَهُ وَمَالَهُ. 

Artinya: “Al-Ghazali pernah ditanya dalam fatwa-fatwanya tentang bagaimana hukum menggunjing orang kafir. Dia menjawab ‘Bagi seorang Muslim menggunjing orang kafir adalah dilarang karena tiga alasan yaitu menyakiti hatinya, menganggap kurang ciptaan Allah. Sesungguhnya Allah itu yang menciptakan semua aneka macam gerak-gerik hamba-hambanya. Dan boros terhadap waktu dengan digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. 

Kemudian, Imam al-Ghazali menyatakan, kafir dzimmi hukumnya berlaku sebagaimana orang Islam dalam hal masing-masing tidak boleh disakiti. Sesungguhnya syara’ melindungi kehormatan, darah dan hartanya. (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27) 

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا فَلَهُ النَّارُ

Artinya: “Barangsiapa menyampaikan sebuah perkataan yang menyakitkan kepada orang yahudi atau nasrani, orang itu berhak masuk neraka.” (Shahih Ibnu Hibban: 4880) 

Ibnul Mundzir mempunyai pandangan berbeda dengan Imam al-Ghazali. Ia melihat bahwa menggunjing non-Muslim tidak dosa sebab ada sebuah hadits yang mengisahkan, Rasulullah ditanya oleh sahabat, “Ya Rasulallah, apa yang dinamakan ghibah?” Kemudian Baginda Nabi menjawab “Saat kamu menceritakan saudaramu dengan hal yang tidak ia sukai.”

Rasul menyebut kalimat “saudaramu”. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, namanya saudara adalah sesama Muslim. Orang non-Muslim itu bukan seagama, maka dia bukan saudara. Menggunjing mereka tidak dosa.

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي قَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «ذِكْرُك أَخَاك بِمَا يَكْرَهُ» فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ لَيْسَ أَخَاك مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ سَائِرِ أَهْلِ الْمِلَلِ، أَوْ مَنْ أَخْرَجَتْهُ بِدْعَةٌ ابْتَدَعَهَا إلَى غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ لَا غِيبَةَ لَهُ. انْتَهَى

Artinya: “Ibnul Mundzir menyoroti sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ‘Saat kamu menceritakan saudaramu dengan hal yang tidak ia sukai.’ Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak menjadi saudara mungkin karena ia adalah seorang yahudi, nasrani atau beragama lain, atau pula orang yang berbuat bid’ah, melakukan inovasi baru yang tidak Islami, maka menggunjing mereka tidak dinamakan ghîbah.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27).  


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang  

Share:
Selasa 12 Februari 2019 13:0 WIB
Benarkah Kejahatan Ghibah Lebih Berat dari Zina?
Benarkah Kejahatan Ghibah Lebih Berat dari Zina?
Seberapa berat ancaman dan dosa bagi orang-orang yang suka berbuat ghibah atau menggunjing? Surat Al-Hujurat ayat 12 menyatakan bahwa ghibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain) sama saja dengan memakan daging bangkai saudara kita sendiri.

Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka  tentulah kamu merasa jijik kepadanya, (Surat Al-Hujurat ayat 12).

Diriwayatkan, pada zaman Rasulullah SAW bila ada orang yang berbuat ghibah, maka siksanya langsung diperlihatkan, sebagaimana yang terjadi pada dua orang wanita yang diperintah olehnya untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya.

Seiring banyaknya orang menggunjing, seperti sekarang ini, siksaan itu pun tak lagi diperlihatkan. Terlebih dosa besar itu sudah dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi.

Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina:

الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا . قِيلَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي ثُمَّ يَتُوبُ، فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ

Artinya, “’Ghibah itu lebih berat dari zina.’” Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,’” (HR At-Thabrani).

Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS, “Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa beruat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.”

Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka ghibah akan dimintai  pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang dighibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah dighibahnya.

Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang sudah tidak memiliki dirham dan harta benda lain.”

Ia menjelaskan, “Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa amal shalat, amal zakat, amal puasa, namun dia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si sini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini sehingga yang ini dibayar dengan kebaikannya dan yang ini dibayar dengan kebaikannya. Setelah kebaikan-kebaikannya habis sebelum semua kezaliman terbayar, maka diambillah keburukan-keburukan mereka yang pernah dizaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia dilemparkan ke dalam neraka.”

Demikianlah bahaya perbuatan ghibah yang selama ini kita anggap enteng. Mudah-mudahan, berkat uraian ini, kita semakin waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus amal kita, termasuk perbuatan ghibah.

Harapannya, agar amal kita selamat tidak ada yang menggerogoti dan diterima di sisi Allah SWT. Amin. Wallahu ‘alam.


(Ustadz M Tatam Wijaya)
Senin 11 Februari 2019 19:45 WIB
Dialog Nabi Isa dan Iblis perihal Ghibah
Dialog Nabi Isa dan Iblis perihal Ghibah
Mungkin, selama ini kita mengira bahwa perbuatan ghibah hanyalah kesalahan biasa, bahkan menganggapnya bukan sebagai kesalahan, saking seringnya lidah kita dipergunakan untuk menggunjing, mengungkap, dan menyebarkan aib orang lain; atau saking ringannya jari-jari kita dipergunakan untuk menulis kata-kata umpatan dan hinaan kepada orang lain melalui media sosial. Na‘udzu billah.

Padahal, ghibah merupakan perbuatan dosa besar, sebab disebutkan dalam Al-Quran. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain, (Surat Al-Hujurat ayat 12).

Menurut para ulama, di antara kriteria dari perbuatan dosa besar adalah larangan dan ancamannya disebutkan langsung dalam Al-Quran. Namun, sebelum masuk kepada ancaman dan konsekuensi dari perbuatan tersebut, ada baiknya kita melihat bagaimana pengertian ghibah itu sendiri. Sebab, boleh jadi banyaknya orang yang berbuat ghibah karena belum mengenali batasan-batasannya.

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa itu ghibah , ya Rasul?” Ia menjelaskan, “(Ghibah itu) menceritakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya.”

Sahabat tadi bertanya lagi, “Bagaimana jika apa yang aku ceritakan itu benar-benar terjadi pada saudaraku?”

Dijawab oleh Rasulullah SAW, “Jika apa yang kauceritakan itu benar-benar terjadi, berarti kau telah mengghibahnya. Namun, jika apa yang kauceritakan itu tidak terjadi, berarti kautelah berbuat kebohongan padanya.”

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa ghibah artinya menceritakan apa yang terjadi pada orang lain yang apabila terdengar oleh orang yang diceritakannya pasti tidak menyukainya, meski apa yang diceritakan itu benar-benar terjadi padanya.

Suatu hari, Siti ‘Aisyah pernah bercerita di hadapan Nabi SAW tentang seorang wanita. Terakhir, Siti ‘Aisyah memungkas, “Alangkah pendeknya wanita itu, ya Rasul!” Mendengar demikian, ia langsung menegur, “Sungguh kau telah menggunjingnya.” Pernyataan Rasulullah SAW itu mengisyaratkan bahwa apabila yang disampaikan Siti ‘Aisyah itu terdengar oleh wanita tadi, pasti tidak menyukainnya, meski keadaan wanita tersebut memang demikian adanya.

Anehnya, mengapa para pelaku ghibah seakan mendapatkan “kenikmatan” tersendiri saat melakukannya. Tidaklah mengherankan karena Iblis senantiasa menggoda manusia melalui berbagai pintu, termasuk dari ghibah ini.

Konon, bibir orang-orang yang senang berbuat ghibah , oleh Iblis dilumati dengan madu, sebagaimana dikisahkan Al-Ghazali dalam Mukâsyafatul Qulub. Tujuannya agar mereka selalu merasa “manis” saat membicarakan dan menyebarkan aib orang.

Dikisahkan, dalam sebuah perjalanan, Nabi Isa AS pernah bertemu dengan Iblis yang sedang membawa madu di salah satu tangannya dan membawa abu di tangan lainnya.

Ditanya oleh Nabi Isa, “Apa yang akan kaulakukan dengan madu dan pasir itu, hai musuh Allah?”

Iblis menjawab, “Madu ini akan kuoleskan pada bibir para ahli ghibah agar mereka merasa manis dan semakin giat melakukan ghibahnya. Sementara abu ini kubalurkan pada wajah anak-anak yatim, sehingga orang-orang merasa benci kepada mereka.” Wallahu ‘alam.


(Ustadz M Tatam Wijaya)
Senin 11 Februari 2019 19:15 WIB
Dua Belas Adab Suami terhadap Istri
Dua Belas Adab Suami terhadap Istri
Ilustrasi (via playbuzz.com)
Suami dan istri adalah dua insan yang saling mengikatkan diri. Ada hak dan kewajiban bagi  mereka termasuk yang berkaitan dengan adab. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab seorang suami terhadap istri sebagai berikut:

آداب الرجل مع زوجته: حسن العشرة، ولطافة الكلمة، وإظهار المودة، والبسط في الخلوة، والتغافل عن الزلة وإقالة العثرة، وصيانة عرضها، وقلة مجادلتها، وبذل المؤونة بلا بخل لها، وإكرام أهلها، ودوام الوعد الجميل، وشدة الغيرة عليها

Artinya: Adab suami terhadap Istri, yakni: berinteraksi dengan baik, bertutur kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih, bersikap lapang ketika sendiri, tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan, memaafkan jika istri berbuat salah, menjaga harta istri, tidak banyak mendebat, mengeluarkan biaya untuk kebutuhan istri secara tidak bakhil, memuliakan keluarga istri, senantiasa memberi janji yang baik, dan selalu bersemangat terhadap istri.  

Dari kutipan di atas, dapat diuraikan kedua belas adab suami terhadap istri  sebagai berikut: 

Pertama, bergaul dengan baik.  Seorang suami hendaknya berinteraksi dengan istri secara baik. Seorang suami adalah pelindung bagi istrinya. Tidak selayaknya ia mengambil jarak dari istrinya karena merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dalam keluarga. 

Kedua, bertutur kata yang lembut. Seorang suami hendaknya berbicara kepada istrinya dengan bahasa yang lembut. Kata-kata kasar dan caci maki yang menyakitkan istri harus dihindari. Jika hubungan suami dan istri baik tentulah suasana rumah tangga sangat menyenangkan. 

Ketiga, menunjukkan cinta kasih. Seorang suami hendaknya selalu menunjukkan cinta dan kasih sayangnya kepada istri. Dalam suasana marah pun, seorang suami tetap dituntut dapat menunjukkan kasih dan sayangnya kepada istri. 

Keempat, bersikap lapang ketika sendiri. Seorang suami hendaknya tetap memiliki kemandirian sehingga jika suatu ketika harus sendirian di rumah, misalnya karena istri ada perlu di luar rumah yang tidak bisa dihindari, ia dapat melayani dirinya sendiri dengan baik tanpa banyak keluhan. Apalagi menyalahkan istri. 

Kelima, tidak terlalu mempersoalkan kesalahan istri. Setiap orang bisa berbuat salah meskipun mungkin telah berusaha bersikap hati-hati. Jika istri berbuat salah, seorang suami hendaknya  dapat menasihatinya dengan bijak. Tentu saja tidak setiap kesalahan harus dipersoalkan secara serius dan berlarut-larut sebab hal ini dapat memperburuk hubungan. 

Keenam, memaafkan jika istri berbuat salah. Dalam Islam memaafkan sangat dianjurkan. Oleh karena itu seorang suami, diminta atau tidak, hendaknya dapat memaafkan kesalahan istri. Memaafkan adalah sikap moral yang sangat terpuji dan menunjukkan jiwa besar.  

Ketujuh, menjaga harta istri. Harta istri seperti mahar dari suami atau hasil bekerja sendiri merupakan milik istri. Oleh karena itu seorang suami hendaknya menjaga harta itu dengan baik dan tidak mengklaim sebagai miliknya. Jika ia bermasud menggukan sebagian atau seluruh harta itu, maka harus meminta izin dari istrinya hingga  mendapatkan persetujuan. 

Kedelapan, tidak banyak mendebat. Perdebatan tidak selalu berdampak baik. Oleh karena itu seorang suami hendaknya dapat menghargai pendapat istri sekalipun mungkin kurang setuju. Tentu saja hal ini berlaku untuk masalah-masalah yang memang kurang prinsipil.   

Kesembilan, mengeluarkan biaya untuk mencukupi kebutuhan istri secara tidak bakhil. Sebuah parikan bahasa Jawa berbunyi: Lombok ijo lombok jeprit, karo bojo ojo medhit. Maksudnya,  suami-istri jangan pelit satu sama lain sebab hal ini akan berdampak kurang baik dalam keharmonisan keluarga.  Suami dan istri hendaknya bersikap longgar satu sama lain untuk saling membantu.    

Kesepuluh, memuliakan keluarga istri. Secara naluri seorang istri umumnya memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dengan keluarganya. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu seorang suami hendaknya bersikap baik terhadap keluarga istrinya dengan menghormati mereka.  Sikap sebaliknya akan melukai perasaan istri.  

Kesebelas, senantiasa memberi janji yang baik. Menjanjikan sesuatu yang baik kepada istri adalah baik terutama dalam rangka mendorong kebiasaan yang baik dalam keluarga. Sebaliknya, sangat sering memberi ancaman-ancaman tentu tidak bijaksana sebab akan menimbulkan ketakutan-ketakutan yang  berdampak kurang baik.

Kedua belas, selalu bersemangat terhadap istri. Kegairahan hidup berumah tangga harus selalu dirawat dengan baik. Oleh karena itu seorang suami hendaknya menunjukkan semangatnya dalam berinteraksi dengan istri termasuk dalam memenuhi nafkah lahir dan batinnya. 

Demkianlah kedua belas adab suami terhadap istri sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali. Nasihat ini sekaligus menepis anggapan bahwa seorang suami boleh berbuat sesuka hati kepada istrinya. Tentu saja hal ini tidak benar sama sekali karena Islam sangat menekankan sikap adil. Jangankan kepada istri yang kita cintai, kepada pihak lain yang mungkin kita tidak suka, kita tetap dituntut bersikap adil.  


Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.