IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Pengertian Keimanan Menurut Sejumlah Ulama

Jumat 15 Februari 2019 4:45 WIB
Share:
Pengertian Keimanan Menurut Sejumlah Ulama
Dalam Kitab Kasyifatus Saja, syarah Kitab Safînatun Naja, Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan tingkatan-tingkatan iman kepada Allah. Namun, ada baiknya jika kita terlebih dahulu melihat pengertian iman itu sendiri, menurut beberapa ulama.

Menurut Al-Jurjani (wafat pada 816 H) dalam At-Takrifat, secara bahasa, iman adalah membenarkan dengan hati. Sementara menurut syariat, iman adalah meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan. 

Definisi itu sejalan dengan yang dikemukakan Ibnu Hazm Al-Andalusi Al-Qurthubi (wafat pada 456 H) dalam Al-Fashlu fil Milal. Hanya saja, menurut Ibnu Hazm, keyakinan hati dan pengakuan lisan itu harus berlangsung secara bersamaan.

Ia menambahkan, amal perbuatan tidak termasuk ke dalam unsur definisi iman, sebagaimana yang dikemukakan para ulama lain, karena amal perbuatan adalah konsekuensi dari iman itu sendiri.

Karena itu, berdasarkan definisi di atas, Al-Jurjani mengatakan, orang yang bersaksi (berikrar) dan meyakini, tetapi tidak beramal, maka dia adalah fasik. Sementara orang yang bersaksi dan beramal, tetapi tidak meyakini, maka dia adalah munafik. Orang yang tidak bersaksi, meskipun meyakini dan beramal, tetaplah dia orang yang kufur.

Ada pula yang berpendapat bahwa iman adalah pembenaran yang pasti terhadap perkara yang sesuai dengan realita berdasarkan dalil-dalil yang kuat, baik dalil aqli maupun dalil naqli.

“Pembenaran pasti” maksudnya tidak ada keraguan sedikit pun terhadap perkara yang diimani. Kemudian “sesuai dengan realitas” maksudnya tidak dapat dibenarkan keimanan kepada perkara yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, seperti beriman bahwa malaikat adalah anak Allah, sebab faktanya tidaklah demikian. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Adapun “berdasarkan dalil” artinya keimanan harus dibangun di atas dalil, bukti, dan argumen yang kuat.  

Setelah memberikan pengertian, Al-Jurjani kemudian membagi iman menjadi lima macam: (1) iman mathbu‘, yakni iman para malaikat; (2) iman ma‘shum, yakni iman para nabi; (3) iman maqbul, yakni iman orang-orang mukmin; (4) iman mauquf, yakni iman orang-orang bid‘ah; (5) iman mardud, yakni iman orang-orang munafik.

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memiliki keimanan yang kuat dan diberi kemampuan untuk mempertahankannya sampai nafas penghabisan. Wallahu ‘alam.


(Ustadz M Tatam Wijaya)
Tags:
Share:
Jumat 4 Januari 2019 15:30 WIB
Keramat Para Wali dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah
Keramat Para Wali dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah
Masalah keramat para wali hampir selalu memicu diskusi yang berkepanjangan. Sebagian kecil orang memahami kepercayaan atas keramat para wali sebagai kemusyrikan. Sementara sebagian orang lainnya mempercayai keramat para wali sebagai bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka. 

Kelompok Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) seperti yang dianut oleh warga NU termasuk ke dalam kelompok kedua, yaitu mereka yang mempercayai keramat para wali. Kelompok Aswaja meyakini bahwa berkat keramat para wali sesuatu yang diharapkan atau dikehendaki dapat terjadi tanpa mencederai tauhid karena semuanya dipercaya terjadi karena Allah.

Bagi kalangan Aswaja, kepercayaan seperti ini tidak dapat dikategorikan sebagai kemusyrikan seperti yang dituduhkan oleh kelompok pertama. Pasalnya, mereka tetap meyakini bahwa sesuatu terjadi karena Allah semata, bukan karena keramat para wali sebagaimana penjelesan Syekh Ihsan Jampes Kediri berikut ini.

وهذا معنى قول بعضهم إن لهم التصرف فالتصرف الحقيقي الذي هو التأثير والخلق والإيجاد لله تعالى وحده لا شريك له، ولا تأثير للولي ولا غيره في شيء قط لا حيا ولا ميتا. فمن اعتقد أن للولي أو غيره تأثيرا في شيء فهو كافر باالله تعالى فأهل البرزخ من الأولياء في حضرة الله، فمن توجه إليهم وتوسل بهم فإنهم يتوجهون إلى الله تعالى في حصول مطلوبه فالتصرف الحاصل منهم هو توجههم بأرواحهم إلى الله تعالى والتصرف الحقيقي لله وحده

Artinya, “Ini pengertian ucapan sebagian ulama bahwa para wali dapat berbuat sesuatu. Perbuatan sejati yaitu memberikan dampak, menciptakan, dan mengadakan sesuatu hanya dilakukan oleh Allah yang esa, tanpa sekutu. Wali dan orang bukan wali tidak memberi dampak sedikit pun terhadap sesuatu baik ketika hidup maupun setelah wafat. Siapa saja yang meyakini bahwa wali dan orang bukan wali memberi dampak pada sesuatu, maka ia telah kufur terhadap Allah. Para wali di alam barzakh berada di hadirat Allah. Siapa saja yang mengarah kepada mereka dan bertawassul melalui mereka, maka sungguh mereka mengarah kepada Allah dalam  mewujudkan permintaan tersebut. Perbuatan para wali yang terwujud hakikatnya adalah tawajuh mereka kepada Allah sehingga perbuatan hakiki dilakukan oleh Allah sendiri,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466-467).

Bagi kalangan Aswaja, keramat para wali dipahami sebagai sebab adat yang tidak berpengaruh seperti hubungan makanan-kenyang, obat-kesembuhan, dan hubungan sebab-akibat lainnya. Sebab hakiki, bagi kalangan Aswaja, adalah Allah sehingga dalam keyakinan mereka Allah pemberi rasa kenyang dan Allah pemberi kesembuhan.

فالواقع منهم من جملة الأسباب العادية التي لا تأثير لها وإنما يوجد الأمر عندها لا بهاعلى حسب ما أجراه الله تعالى من العوائد ولا تغتر بالشبهات التى تمسك بها الوهابية في منع التوسل والزيارة فإنها حجة باطلة 

Artinya, “Sesuatu yang terjadi dari para wali itu hanya sebab adat (sabab adi) yang tidak memiliki dampak. Sesuatu terjadi hanya berdampingan dengan sebab, bukan karena dipengaruhi oleh sebab tersebut sesuai dengan hukum kebiasaan yang diberlakukan oleh Allah. Jangan tertipu oleh propaganda kelompok wahabi untuk membuat ragu dalam menolak tawasul dan ziarah karena propaganda mereka adalah hujah yang batil,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466-467).

Adapun sebagian kelompok melancarkan propaganda batil yang bertujuan membuat ragu kalangan Aswaja. Propaganda sebagian kelompok ini kemudian diuji dan dipatahkan oleh seorang mufti Syafi’iyah di Mekkah pada abad ke-19 M, yaitu Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.

وقد بسط الكلام على ردها العلامة السيد أحمد دحلان في كتاب خلاصة الكلام في بيان أمراء البلد الحرام ونقله العلامة يوسف النبهاني في كتاب شواهد الحق فانظره فإنه مهم  

Artinya, “Sayyid Ahmad Zaini Dahlan telah membuat ulasan panjang perihal kelemahan hujah propaganda wahabi dalam karyanya Khulashatul Kalam fi Bayani Umara’il Baladil Haram. Penjelasan Syekh Ahmad Zaini Dahlan ini dikutip oleh Syekh Yusuf An-Nabhani dalam Kitab Syawahidul Haq. Perhatikan ulasan tersebut karena ini pasal penting,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 466-467).

Perbedaan pandangan soal praktik tawasul dan keramat para wali ini seharusnya disikapi secara bijaksana. Pendukung kedua kelompok yang berbeda ini seharusnya saling menghargai, bukan saling mencaci. Wallahu a ‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 27 Desember 2018 16:0 WIB
Termasuk Bid’ah adalah Menetapkan Arah bagi Allah
Termasuk Bid’ah adalah Menetapkan Arah bagi Allah
Salah satu nama yang paling banyak disebut ketika membahas teori tentang bid’ah adalah Imam asy-Syatibi. Beliau adalah seorang tokoh pakar ushul fiqh bermazhab Malikiyah. Kebanyakan para pendaku Salafi modern ini menganggap teorisasi bid’ah yang dilakukan oleh asy-Syatibi dalam kitabnya yang berjudul al-I’tishâm sebagai konsep teori bid’ah yang paling baik, bahkan seolah kebenaran yang tak bisa ditawar. Berbeda dari teori mayoritas ulama empat mazhab, beliau tidak membagi bid’ah secara umum menjadi dua (sebagai bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah) atau secara rinci menjadi lima hukum (haram, makruh, mubah, sunnah dan wajib). Bagi Imam asy-Syatibi, bid’ah hanyalah satu macam saja, yakni haram saja. Konsep beliau yang menyelisihi mayoritas ulama ini menarik, tetapi bukan bahasan kita kali ini. 
 
Baca juga:
Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Kali ini penulis akan membahas tentang bagian yang berkaitan dengan teologi atau aqidah dalam kitab al-I’tishâm. Dalam pandangan asy-Syatibi, bid'ah itu ada dua tingkat, yakni yang kesesatannya di level kafir (keluar dari Islam) dan tidak sampai kafir. Berikut pernyataan beliau selengkapnya:

لَا شَكَّ فِي أَنَّ الْبِدَعَ يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مِنْهَا مَا هُوَ كُفْرٌ كَاتِّخَاذِ الْأَصْنَامِ لِتُقَرِّبَهُمْ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى، وَمِنْهَا مَا لَيْسَ بِكُفْرٍ كَالْقَوْلِ بِالْجِهَةِ عِنْدَ جَمَاعَةٍ وَإِنْكَارِ الْإِجْمَاعِ وَإِنْكَارِ الْقِيَاسِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

"Tak diragukan bahwa bid'ah itu ada yang berupa kekafiran, seperti membuat patung berhala (untuk disembah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Dan ada juga yang tidak sampai pada level kafir, seperti berpendapat adanya arah (bagi Allah) menurut sebagian kelompok, mengingkari konsensus ulama, mengingkari qiyas dan sebagainya." (Asy-Syatibi, al-i'tishâm, juz II, halaman 707)

Jadi menurut Imam asy-Syatibi, menetapkan adanya arah tertentu bagi keberadaan Dzat Allah, misalnya dengan meyakini bahwa Allah ada di arah atas sana, adalah sebuah keyakinan bid’ah. Hanya saja keyakinan bid’ah ini tidak sampai berkonsekuensi kekafiran, hanya dianggap sesat dan berdosa. Lalu bagaimana tentang berbagai ayat atau hadits yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa Allah ada di atas sana, di langit, di atas Arasy? Bukannya itu semua sama saja dengan menetapkan arah bagi keberadaan Allah? Seperti mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) lainnya, Imam Syatibi di kitabnya yang lain menjelaskannya demikian:

قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ} [النَّحْلِ: ٥٠] ، {أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} [الملك: ١٦] وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ، إِنَّمَا جَرَى عَلَى مُعْتَادِهِمْ فِي اتِّخَاذِ الْآلِهَةِ فِي الْأَرْضِ، وَإِنْ كَانُوا مُقِرِّينَ بِإِلَهِيَّةِ الْوَاحِدِ الْحَقِّ؛ فَجَاءَتِ الْآيَاتُ بِتَعْيِينِ الْفَوْقِ وَتَخْصِيصِهِ تَنْبِيهًا عَلَى نَفْيِ مَا ادَّعَوْهُ فِي الْأَرْضِ؛ فَلَا يَكُونُ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى إِثْبَاتِ جِهَةٍ أَلْبَتَّةَ؛ وَلِذَلِكَ قَالَ تَعَالَى: {فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ} [النَّحْلِ: ٢٦] ؛ فَتَأَمَّلْهُ، وَاجْرِ عَلَى هَذَا الْمَجْرَى فِي سَائِرِ الْآيَاتِ وَالْأَحَادِيثِ.

“Firman Allah Ta'ala: "Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka" (an-Nahl: 50), "Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit" (al-Mulk: 16), dan ayat semisal itu sesungguhnya tidak lain hanyalah dalam konteks kebiasaan mereka dalam membuat berbagai sesembahan di bumi meskipun mereka juga mengakui Ketuhanan Allah Yang Maha Esa dan Maha Benar. Kemudian ayat-ayat itu datang dengan menentukan ketinggian dan  mengkhususkannya dalam rangka memperingatkan penegasian terhadap apa yang mereka sembah di bumi. Maka hal itu sama sekali tidak menunjukkan penetapan arah Tuhan. Karena itu, Allah berfirman:  "Lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa dari atas mereka" (an-Nahl:26), maka renungkanlah ini dan terapkan metode ini dalam seluruh ayat dan hadits.” (as-Syatibi, al-Muwâfaqât, juz IV, halaman 155)

Dalam pandangan asy-Syatibi, semua ayat atau hadits yang seolah mengatakan bahwa Allah berada di arah atas harus dibaca dalam konteks saat turunnya ayat itu tatkala marak penyembahan berhala. Semua berhala itu ada di bumi; di depan, di belakang, atau di samping manusia. Maksud semua ayat itu tak lain hanyalah untuk manafikan keberadaan seluruh berhala yang di bumi itu sebagai sosok Tuhan, bukannya untuk menetapkan bahwa Dzat Allah berada di arah atas. 

Seperti halnya dalam ungkapan “atap jatuh dari atas” dalam ayat an-Nahl:26, sama sekali tidak bermaksud menegaskan bahwa atap pastilah selalu berada di atas, tetapi hanya ungkapan kebiasaan bahwa atap biasanya diposisikan berada di atas. Kenyataannya, atap tetaplah atap meskipun ia belum diletakkan di atas sekalipun. Dalam kasus Dzat Allah,  Allah tetaplah Allah sebagai Tuhan yang tak berarah atau pun bertempat sebab Ia sudah ada sebelum semua tempat tercipta dan otomatis juga sebelum adanya arah apapun. 

Pemahaman seperti ini menurutnya adalah kaidah yang harus diberlakukan ketika menghadapi semua ayat atau hadits yang seolah menetapkan adanya arah atas bagi Allah. Ini adalah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang ada sejak masa salaf hingga sekarang. Karena itu jangan ada yang mengkhayalkan bahwa Allah berada atau bertempat di atas. Khayalan semacam ini adalah bid’ah, hal baru yang dibuat-buat belakangan oleh Aliran Mujassimah dan Hasyawiyah. Kemahatinggian Allah sama sekali tak bermakna bahwa Dzat Allah bertempat di lokasi yang tinggi, tetapi Kemahatinggian dalam konteks sifat ‘uluw yang telah dibahas di artikel sebelumnya. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Senin 10 Desember 2018 18:15 WIB
Pertanyaan bagi yang Meyakini Allah Berada dalam Arah Tertentu
Pertanyaan bagi yang Meyakini Allah Berada dalam Arah Tertentu
Sudah maklum bahwa dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) ditegaskan bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat sebab Dzat Allah bukanlah jism (sesuatu yang punya volume). Allah tidak bisa dianggap berada dalam lokasi atau koordinat tertentu sebab yang demikian hanyalah jism belaka. Dalam hal ini Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata:

وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ جِهَتَيِ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُوصَفَ بِالْعُلُوِّ لِأَنَّ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَالْمُسْتَحِيلُ كَوْنُ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْحِسِّ وَلِذَلِكَ وَرَدَ فِي صِفَتِهِ الْعَالِي وَالْعَلِيُّ وَالْمُتَعَالِي وَلَمْ يَرِدْ ضِدُّ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْء علما جلّ وَعز

“Kemustahilan arah atas dan bawah bagi Allah tidak menunjukkan bahwa Allah tidak bisa disifati dengan sifat Kemahatinggian (al-‘Uluw) sebab penyifatan Allah dengan sifat Maha Tinggi adalah dari sisi maknawi. Yang mustahil adalah penyifatan Itu dari sisi indrawi. Karenanya, ada ayat atau hadits tentang sifat al-‘Âliy, al-‘Aliyy, dan al-Muta’âly (kesemuanya bermakna Yang Maha Tinggi) dan tak ada satu pun kebalikannya, meskipun Allah yang Maha Agung meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâry, Juz VI, halaman 136)

Demikian juga seluruh imam Ahlussunnah yang lain sepakat menafikan adanya arah bagi Allah sehingga Allah diyakini ada tetapi keberadaan-Nya tak bisa disebut dengan ungkapan di atas, di bawah, di samping, di depan atau di belakang dalam makna indrawi atau makna lokasi. Kemahatinggian Allah tak lain bermakna kemahatinggian mutlak dalam derajat dan keagungan-Nya yang tak dapat dicapai siapa pun. 

Baca juga:
• Sifat Kemahatinggian Allah Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah
• Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?

Namun demikian, selalu saja orang yang bersikukuh menebar propaganda bahwa Allah bertempat dan pastinya juga berada dalam arah tertentu. Mereka meyakini bahwa Allah bertempat secara fisikal (indrawi) di atas sana dan hanya terbatas di arah atas sana saja dengan berpedoman pada segelintir dalil yang tak dipahami secara komprehensif seperti arahan para ulama. Untuk mematahkan propaganda mereka, Syekh Saif bin Ali al-Ashri dalam kitab fenomenalnya, al-Qawl at-Tamâm Bi-Itsbât at-Tafwîdh Madzhaban Lis-Salaf al-Kirâm mengajukan beberapa pertanyaan sederhana sebagai berikut:

Apa pendapat kalian tentang aqidah Hulul (aqidah yang mengatakan bahwa Allah menyatu/bertempat di dalam makhluk)?

Bila kalian menjawab bahwa aqidah hulul adalah sesat, maka jawaban itu benar tetapi hal ini justru menafikan keberadaan Allah secara indrawi di arah atas sana.

Arah atas yang kalian tetapkan apakah makhluk atau bukan makhluk?

Bila kalian berkata bahwa arah atas itu makhluk, maka kalian sama saja telah meyakini aqidah hulul yang menyatakan  Allah menyatu dalam makhluk, dan ini kufur. Namun bila kalian berkata bahwa arah atas itu bukan makhluk, maka kalian sudah menyelisihi firman Allah yang artinya: “Allah Maha Menciptakan segala sesuatu.” (QS. Ar-Ra’d: 16). Adapun bila kalian berkata bahwa arah itu adalah ketiadaan bukan sesuatu yang ada, maka sama saja kalian mengatakan Allah itu tidak ada sebab tak mungkin ada sesuatu yang ada di dalam ketiadaan. 

Demikianlah pertanyaan dari Syekh Saif bin Ali al-Ashri yang tampaknya mustahil dijawab oleh mereka yang meyakini bahwa Allah bertempat dalam arah atau koordinat tertentu. Sudah maklum bagi semua yang berakal bahwa arah tak lain merupakan perspektif dari dua jism. Arah atas berarti perspektif dari jism yang di bawah terhadap jism lain yang lokasinya di atasnya. Arah bawah adalah perspektif dari jism yang di atas terhadap jism lain yang lokasinya di bawahnya, dan demikian seterusnya. Arah ini sudah pasti adalah makhluk sebab ia ada perspektif dari makhluk. Arah juga sesuatu yang riil atau nyata, bukan sesuatu yang tidak ada. Dengan demikian, meyakini bahwa Allah berada dalam arah tertentu sama halnya dengan meyakini bahwa Allah berada dalam makhluk tertentu dan ini sudah disepakati sebagai aqidah yang menyimpang. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jatim.