IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Solusi saat Jamaah Jumat Bubar karena Hujan

Jumat 15 Februari 2019 9:50 WIB
Share:
Solusi saat Jamaah Jumat Bubar karena Hujan
(Foto: @alray.ps)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, saya salah satu karyawan sebuah perusahaan di Kawasan Industri di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dalam melaksanakan ibadah shalat 5 waktu, perusahaan sudah menyediakan tempat shalat yang cukup untuk karyawan. Namun khusus untuk ibadah di hari Jum'at (Jum'atan), pagar perusahaan dibuka lebar-lebar sehingga warga di sekitar perusahaan yang kebetulan sedang berada di sekitar, diperbolehkan masuk ke dalam masjid perusahaan. Sehingga jama'ah meluber sampai halaman depan pabrik. Biasanya, Pengurus DKM kemudian menyediakan alas terpal untuk jama'ah yang meluber.

Pertanyaannya adalah pada saat di sebelum Jumatan atau di tengah-tengah proses Jumatan tiba-tiba hujan deras, maka jamaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid (meluber di halaman) dapat dipastikan kocar-kacir. Khutbah Jumat tidak lagi disimak dengan baik. Hanya jamaah yang kebetulan dapat tempat di dalam bangunan masjid saja yang nyaman dan tenang. Bagaimana menyikapi hal ini? Terima kasih. Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq, Wassalamu 'alaikum wr. wb. (Ananto Pratikno/Cikarang)

Jawaban
Wa’alaikumus salam wr. wb.
Bapak Ananto Pratikno yang budiman, terima kasih telah mengajukan pertanyaan ke redaksi kami. Semoga bapak senantiasa diberi kemudahan dalam segala urusannya.

Dalam kasus yang bapak tanyakan, setidaknya ada dua hal yang perlu disikapi.

Pertama, sikap yang harus dilakukan jamaah yang kehujanan.

Jamaah yang bubar barisan karena kehujanan tergolong orang yang dimaklumi/ dimaafkan (ma’dzur). Mereka diperkenankan untuk mencari tempat berteduh. Dalam kondisi terdesak ini, mereka diperkenankan untuk tidak mendengarkan khutbah. Apabila hujan terus berlanjut sampai shalat Jumat selesai, mereka diperkenankan untuk meninggalkan jumatan di tempat tersebut.

Jika memungkinkan, mereka wajib mencari jumatan di tempat lain yang suara adzannya dapat menjangkau pendengaran mereka. Jika mereka tidak menemukan jumatan di tempat lain atau tempat jumatan yang ada suara adzannya tidak dapat didengar dari tempat jamaah, maka mereka tidak berkewajiban jumatan, namun cukup diganti dengan shalat fardhu zhuhur.

Ulama menegaskan bahwa salah satu udzur yang membolehkan meninggalkan jumat adalah ketika terjadi hujan lebat yang menimbulkan keberatan (masyaqqah) dan seseorang tidak memiliki penutup  seperti payung.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan:

قوله (أعذار الجمعة والجماعة المطر) والثلج والبرد ليلا أو نهارا (إن بل) كل منهما (ثوبه) أو كان نحو البرد كبارا يؤذي (ولم يجد كنا) يمشي فيه للاتباع

Artinya, “Udzur-udzur Jumat dan Jamaah di antaranya adalah hujan, salju dan dingin di malam atau siang hari, bila hujan atau salju tersebut membasahi pakaian atau cuaca dingin dalam taraf parah yang menyakitkan, sementara ia tidak menemukan penutup yang dibuat berjalan, hal tersebut karena mengikuti Nabi,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim, halaman 148).

Berkaitan dengan Jumatan hanya wajib bagi jamaah yang mendengarkan adzan, Syekh Zakariyya Al-Anshari mengatakan:

فإن كانوا أقل من أربعين أو أهل خيام مثلا ونداء بلد الجمعة يبلغهم لزمتهم وإن لم يبلغهم فلا لخبر الجمعة على من سمع النداء رواه أبو داود بإسناد ضعيف لكن ذكر له البيهقي شاهدا بإسناد جيد 

Artinya, “Bila mereka kurang dari 40 orang atau statusnya penduduk perkemahan, sementara azan tempat berlangsungnya Jumat sampai pada mereka, maka wajib bagi mereka untuk berjumatan (ke daerah tetangga tersebut), bila tidak terdengar azan, maka tidak wajib Jumat. Karena hadits Nabi, Jumat wajib atas orang yang mendengar azan. Hadits riwayat Abu Daud dengan sanad yang lemah, namun Imam al-Baihaqi menyebutkan dalil pendukung bagi hadits tersebut dengan sanad yang baik (hasan). (Lihat Zakariyya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 263).

Kedua, status jumatnya jamaah yang tersisa.

Menurut pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i, pelaksanaan Jumat dihukumi sah bila didirikan oleh minimal 40 jamaah orang laki-laki baligh yang betempat tinggal tetap tetap di daerah pelaksanaan Jumat. Sehingga menjadi tidak sah bila jamaah jumat kurang dari bilangan tersebut.

Dalam konteks pertanyaan yang bapak tanyakan, bisa disesuaikan dengan ketentuan ini. Bila jamaah yang tersisa masih terkumpul 40 orang yang dapat mengesahkan Jumat, maka hukum jumatan mereka sah. Namun jika kurang, maka tidak sah.

Dalam kondisi tidak sah, kewajibannya adalah menanti sampai genap 40 jamaah atau bergabung di tempat lain bila hal tersebut memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, maka cukup diganti dengan shalat Zhuhur.

Jika ketentuan hukum di atas sulit terpenuhi, jamaah bisa mengikuti pendapat lain yang mengesahkan jumat dilakukan kurang dari 40 orang. Dalam mazhab Syafi’i, ada tiga pendapat yang mengesahkan jumatan kurang dari 40 orang. Pertama jumlah minimal 12 orang. Kedua, jumlah minimal 4 orang. Ketiga jumlah minimal 3 orang. Tiga pendapat tersebut bisa dijadikan solusi dalam kondisi dibutuhkan.

Demikian jawaban yang kami sampaikan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran.

Wallahul Muwaffiqu ila Aqwamit Thariq
Wassalamu’laikum wr wb.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Tags:
Share:
Jumat 1 Februari 2019 3:0 WIB
Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis
Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebagian orang tua kadang menggunakan tongkat termasuk di dalam shalat. Bagaimana dengan keabsahan shalatnya jika ia menggenggam tongkat yang mengandung najis? Saya mohon penjelasan terkait ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Edi/Semarang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Shalat dengan memegang tongkat pada dasarnya tidak menjadi masalah. Tetapi ulama berbeda pendapat perihal shalat dengan tongkat yang mengandung najis.

Ulama Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa shalat sambil memegang tongkat yang ujungnya terdapat najis tidak sah. Pandangan ini dapat dipahami karena Mazhab Syafi‘i mengharuskan kesucian orang yang shalat pada badan, pakaian, dan tempat shalat. Sementara orang yang melakukan praktik ini serupa dengan orang yang shalat membawa najis.

ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته

Artinya, “Tidak sah shalat orang yang menggenggam benda yang bersambung dengan zat najis sekali pun ia tidak ikut bergerak bersama gerakannya,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 106).

Adapun ulama dari mazhab lainnya, yaitu Mazhab Hanbali, menilai kebasahan shalat orang yang memegang tongkat yang mengandung najis. Pasalnya, bagi Mazhab Hanbali, shalat orang yang membawa zat yang mengandung najis terbilang sah.

Kami menyarankan mereka yang tidak dapat lepas dari tongkat baik karena faktor usia maupun faktor disabilitas hendaknya berusaha untuk menyucikan barang yang akan dibawanya (dipegang) dalam shalat sekalipun. Saran ini dapat dilakukan bila kondisi memungkinkan.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Kamis 31 Januari 2019 2:0 WIB
Hukum Pilih Kasih Orang Tua dalam Pemberian terhadap Anak
Hukum Pilih Kasih Orang Tua dalam Pemberian terhadap Anak
(Foto: @pixabay)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebagian saudara saya mengeluh karena ayahnya memberikan perhatian lebih kepada saudaranya yang lain. Meskipun hal demikian tidak diucapkan, tetapi prioritas terhadap salah satu saudaranya tampak pada pemberian berlebih ayahnya dibanding saudara-saudaranya yang lain. Saya mohon penjelasan perihal pilih kasih orang tua semacam ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Zakiyah/Purwakarta).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Orang tua dituntut untuk bersikap adil di antara anak-anaknya. Mereka tidak boleh memprioritaskan salah satu anaknya dari segi perhatian dan pemberian.

Perintah untuk bersikap adil ini dapat ditemukan dalam sabda Rasulullah SAW berikut ini:

فَاتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ

Artinya, “Bertakwalah kepada Allah. Bersikap adillah terhadap anak-anakmu,” (HR Bukhari).

Hadits ini dipahami oleh para ulama sebagai bentuk larangan bagi orang tua dalam bersikap pilih kasih terhadap anak kesayangan entah karena anak tertua, anak terakhir, anak berprestasi, anak paling saleh, anak paling berbakti dan seterusnya.

Pilih kasih orang tua dilarang oleh agama karena jelas dapat menimbulkan keretakan dan kecemburuan sosial di lingkungan rumah tangga. Pilih kasih orang tua di kalangan anaknya termasuk cucu sebagai keturunan di bawahnya dilarang dalam agama Islam.

وَيُكْرَهُ لِأَصْلٍ تَفْضِيْلٌ فِيْ عَطِيَةِ فُرُوْعٍ وَإِنْ سَفَلُوْا وَلَوِ اْلأَحْفَادَ مَعَ وُجُوْدِ اْلأَوْلاَد

Artinya, “Orang tua dimakruh bersikap pilih kasih dalam pemberian terhadap anak, walaupun ke bawah atau cucu meski anaknya masih ada,” (Lihat Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada I’anatut Thalibin, [Singapura, Sulaiman Mar’i: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 153).

Kami menyarankan agar orang tua bersikap adil terhadap semua anaknya. Orang tua dituntut untuk menjaga kerukunan di kalangan anak-anaknya dengan cara menjauhi sikap pilih kasih dalam hal pemberian terhadap salah satu anaknya karena hal ini cukup berisiko bagi keharmonisan keluarganya.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 29 Januari 2019 18:0 WIB
Hukum Shalat di Atas Kursi Roda yang Terkena Najis
Hukum Shalat di Atas Kursi Roda yang Terkena Najis
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sekarang kita menemukan banyak orang berkursi roda ikut shalat berjamaah atau shalat Jumat di kota-kota besar. Bagaimana dengan status shalatnya jika roda pada kursinya terkena najis karena roda berfungsi sebagai alas kaki seperti sandal dan sepatu? Mohon penjelasan terkait hal ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Zainal/Semarang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Pada ibadah shalat seseorang disyaratkan untuk berada dalam kondisi suci baik di badan, pakaian, dan tempat shalat.

Dengan ketentuan demikian, shalat seseorang yang tidak memenuhi syarat tersebut terbilang tidak sah. Artinya, ia harus mengulangi kembali shalatnya dengan memenuhi syarat sah shalat.

Lalu bagaimana dengan mereka yang shalat di atas kursi roda dengan najis pada bagian tertentu di roda? Apakah ia termasuk orang yang shalat di tempat najis?

Kasus orang yang melakukan shalat di atas kursi roda ini, menurut Mazhab Syafi‘i, tidak dapat disamakan dengan orang yang melakukan shalat di tempat najis. Kasus ini lebih dekat pada aktivitas shalat di atas bagian karpet yang suci meski bagian karpet lainnya terkena najis.

Kasus orang yang melakukan shalat di atas kursi roda ini dapat disamakan dengan kasus lain, yaitu seperti orang yang melakukan shalat di hamparan karpet yang digelar di atas benda yang terkena najis.

وخرج بقابض وما بعده ما لو جعله المصلي تحت قدمه فلا يضر وإن تحرك بحركته كما لو صلى على بساط مفروش على نجس أو بعضه الذي لا يماسه نجس

Artinya, “Di luar cakupan dari redaksi ‘orang yang menggenggam dan seterusnya’ adalah orang yang menjadikan najis itu di bawah kakinya. Kalau begini kasusnya, maka shalatnya tidak masalah sekalipun ia ikut bergerak bersama gerakannya. Hal ini berlaku ketika seseorang shalat di atas hamparan tikar yang digelar di atas benda najis atau di atas sebagian tikar yang tidak tersentuh najis,” (Lihat Sayid Bakri M Syatha, I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 107).

Dengan demikian, shalat seseorang di atas kursi roda yang terkena najis tetap sah karena ia sebenarnya melakukan shalat di tempat suci pada umumnya, yaitu kursinya. Sedangkan benda yang mengandung najis adalah salah satu bagian tertentu rodanya.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)