IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Berkah Memuliakan Sifat Allah

Senin 18 Februari 2019 6:0 WIB
Share:
Berkah Memuliakan Sifat Allah
Berkah Memuliakan Sifat Allah
Seorang sufi besar Bisyir Al-Hafi kala itu sedang berjalan menuju suatu tempat. Di tengah derap langkah gontainya, tiba-tiba ia menemukan sebuah lembaran. Betapa terkaget ia. Ternyata dalam kertas tersebut bertuliskan asma Allah yang maha mulia, “bismillahir rahmanir rahim”.

Begitulah lafal yang tertera dalam lembaran yang ia temukan. Dengan penuh rasa iba, ia kantongi lembaran tersebut. Dibawanya kertas itu dengan hati-hati. Sesampainya di rumah, ia bersihkan kertas bertuliskan kalimat Allah dari debu yang menodai.

Tidak hanya itu, ia pun juga mengoleskan wewangian demi memuliakannya. Ia menaruhnya di salah satu sudut rumahnya sekira tidak mungkin terinjak oleh orang lain.

Demikianlah, ia kini merasa tenang. Lembaran mulia yang awalnya terinjak dan penuh noda, kini telah tersimpan rapi dan wangi di dalam rumahnya. Malam harinya, ia tidur dan bermimpi tak biasa. Hatif, suara tanpa rupa, menuturkan sesuatu yang membuatnya kaget bukan terkira.


يا بشر طيبت إسمي في الدنيا طيبت إسمك في الدنيا و الأخرة 

Artinya, “Duhai Bisyir, engkau telah mengharumkan nama-Ku di dunia, maka Kuharumkan namamu di dunia dan di akhirat,” begitulah suara hatif itu seraya Bisyir kembali terjaga dari tidur lelapnya. 

Subhanallah, mulai malam itu juga Bisyr diangkat menjadi kekasih Allah, waliyullah ‘aza wa jalla. Wallahu a ‘lam.


(Ustadz Ulin Nuha Karim)

Riwayat ini dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al-Mubarok Baidlowie saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain yang bersumber dari taushiyah Habib Ahmad Al-Habsyi, Solo.
Tags:
Share:
Ahad 17 Februari 2019 20:0 WIB
Bolehkah Berdoa Memohon Kematian dalam Islam?
Bolehkah Berdoa Memohon Kematian dalam Islam?
(Foto: @lovlist.org)
Dalam menjalani bahtera kehidupan, seorang manusia pastinya melewati lika-liku jalan kehidupan, kadang bernasib baik dan kadangan sebaliknya. Jalan baik menghadapi semuanya adalah pasrah dengan ketentuan Allah Swt. 

Namun ada kalanya, ketika seseorang berada pada titik jenuh dan lelah dalam menghadapi segala masalah yang menimpanya, tak jarang terbersit dalam hati bahwa jalan keluarnya adalah memohon kepada Allah untuk memutus ajalnya. Lantas apakah boleh berdoa memohon kematian?

Dalam kitab hadits Sunan An-Nasâi tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas RA:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan mati sebab kesengsaraan yang menimpanya,” (HR An-Nasâ`i).

Hadits di atas menunjukkan suatu larangan akan meminta kematian karena kesengsaraan yang menimpanya, seakan-akan menunjukkan kejenuhannya dalam menerima takdir Allah SWT. Padahal jika ia mampu menghadapinya, maka Allah akan mengganjarnya dengan pahala.

Namun ada pengecualian, sebagaimana yang dijelaskan oleh As-Sindi dalam Hâsyiyah Sunan An-Nasâi:

وَلَا يُكْرَهُ التَّمَنِّي لِخَوْفٍ فِي دِيْنِهِ مِنْ فَسَادٍ

Artinya, “Dan tidak makruh meminta mati karena takut agamnya rusak,” (Lihat Syekh Abul Hasan As-Sindi, Hâsyiyatus Sindi ‘alân Nasâ`i, [Maktabah al-Mathbû’ah al-Islâmiyyah], juz IV, hal 2).

Meski demikian ketika seseorang melakukan kemaksiatan dan dosa, hingga putus harapan dari ampunan Allah SWT dan terbersit dalam benaknya bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar agar tidak berbuat dosa lagi bukanlah suatu hal yang baik.

Nabi SAW bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْمَوْتَ، إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

Artinya, “Janganlah salah seorang dari kalian berharap untuk mati, ada kalanya ia seorang yang baik, barang kali kebaikannya akan bertambah, dan ada kalanya dia adalah orang yang berbuat keburukan, barang kali ia akan bertobat dari kesalahannya,” (HR An-Nasâ`i).

Syekh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan hadits di atas dalam Hâsyiyah-nya:

اما يكون محسنا فليس له أن يتمنى فإنه لعله يزداد خيرا بالحياة وأما مسيئا فكذلك ليس له أن يتمنى فإنه لعله أن يستعتب أي يرجع عن الإساءة ويطلب رضا الله تعالى بالتوبة

Artinya, “Ada kalanya dia adalah seorang yang berbuat baik, maka tidak berhak baginya berharap untuk mati, barang kali kebaikannya akan bertambah jika ia hidup, dan ada kalanya dia orang yang berbuat keburukan, begitu pula tidak berhak baginya berharap untuk mati, barang kali ia tobat atau berhenti dari perbuatan buruk itu dan meminta keridhaan Allah SWT dengan bertobat,” (Lihat Syekh Abul Hasan As-Sindi, Hâsyiyatus Sindi ‘alân Nasâ`i, [Maktabah al-Mathbû’ah al-Islâmiyyah], juz IV, hal 2).

Berharap mati memang tidak boleh, apalagi disebabkan oleh kesengsaraan yang menimpa kita, karena kita tidak tahu apakah kematian ketika itu adalah hal baik atau buruk untuk kita. Maka dari itu, Nabi menganjurkan agar tidak berdoa meminta kematian, namun berdoalah memita kebaikan seperti doa berikut ini:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

Artinya, “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku selama wafat itu baik bagiku,” (HR An-Nasâ`i).

Dari penjelasan di atas, hendaknya kita selalu bersabar atas ujian yang menimpa dalam kehidupan kita, barang kali ujian tersebut merupakan ladang pahala bagi kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam.


(Ustadz Amien Nurhakim)
Ahad 17 Februari 2019 16:0 WIB
Ketika Tidak Ada Orang Tua Renta di Surga
Ketika Tidak Ada Orang Tua Renta di Surga
(Foto: @wix.com)
Humor tidak dilarang dalam Islam. Beberapa kali Baginda Nabi Muhammad SAW tampak menikmati atau bahkan melakukan kegiatan yang berbau humor. Di antaranya pernah suatu ketika Rasulullah SAW kedatangan seorang wanita yang sudah tua renta.

Wanita ini mendatangi Nabi Muhammad SAW seraya memohon untuk didoakan supaya masuk surga.

“Ya Rasulullah, kami mohon agar kau berkenan mendoakan kami supaya Allah memasukkan kami ke surga-Nya.”

Rasul kemudian menjawab, “Mbah, di surga itu tidak ada nenek-nenek tua renta seperti Anda ini.”

Mendengar penjelasan Rasul, sang nenek kaget. Hatinya kalut. Ia lalu berpaling dari Nabi, kemudian berjalan pulang dengan isakan tangis penuh deraian air mata yang mengalir melewati kedua pipi keriputnya.

Rasul melihat kejadian itu. Baru kemudian setelah berjalan beberapa langkah, Nabi kemudian bersabda kepada sahabat supaya menyampaikan kepada wanita yang dimaksud “Tolong sampaikan kepadanya. Dia tidak akan masuk surga sedang ia dalam keadaan masih tua renta. Sebab sebagaimana firman Allah 

إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً - فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا

Artinya, ‘Kami menciptakan bidadari secara langsung. Saya jadikan mereka perawan-perawan.’ (Surat Al-Waqiah ayat 35-36).”

Kisah yang diambil dari tulisan Ali Al-Qâri dalam Mirqâtul Mafâtîh Syarah Misykâtul Mashâbih di atas menunjukkan bahwa Rasul terkadang juga iseng melontarkan humor dengan tanpa ada bohong di dalamnya.

Selain itu, Rasul juga memberikan pemahaman bagi kita, di surga tidak ada orang tua sama sekali. Dalam arti, jika ada orang tua yang mendapatkan balasan surga, sebelum ia sampai masuk, akan dijadikan muda dan perawan terlebih dahulu oleh Allah SWT baru kemudian dimasukkan surga. Wallahu a‘lam.


(Ustadz Ahmad Mundzir)
Rabu 13 Februari 2019 16:30 WIB
Mengapa Menggunjing Non-Muslim juga Haram? Ini Jawaban Imam al-Ghazali
Mengapa Menggunjing Non-Muslim juga Haram? Ini Jawaban Imam al-Ghazali
Ilustrasi (via psmag.com)
Menggunjing atau ghîbah (membicarakan keburukan atau aib orang lain) adalah satu hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Menggunjing diibaratkan seperti orang yang memakan bangkai daging saudaranya. Dalam Al-Qur’an secara tegas Allah subhânahu wa ta’âlâ bersabda: 

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya: “Dan janganlah sebagian dari kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan bangkai dari daging saudaranya. Tentu kalian merasa jijik.” (QS Al-Hujurât: 12) 

Hadits riwayat al-Baihaqi dan at-Thabrani, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ghibah lebih dahsyat daripada zina.

الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَزْنِي فَيَتُوبُ فَيَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ حَمْزَةَ فَيَتُوبُ فَيَغْفِرُ لَهُ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَهَا لَهُ صَاحِبُهُ

Artinya: “Ghîbah itu dampaknya lebih besar daripada zina.’ Sahabat bertanya ‘Ya Rasulallah, mengapa ghibah lebih besar efeknya daripada zina?.’ Rasulullah menjawab ‘Sesungguhnya seseorang yang melakukan perzinaan lalu bertaubat, Allah akan mengampuni taubatnya. Nah orang yang ghibah, saat ia bertaubat, tidak akan diampuni oleh Allah begitu saja sampai orang yang digunjing juga memaafkannya.” (Abu Bakar al-Baihaqi, Syu’abul Îman, [Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, 2003], juz 9, halaman 98). 

Menggunjing lebih dahsyat efeknya daripada zina tidak bisa diartikan bahwa zina itu dosanya kecil lalu menggunjing dosa besar. Masing-masing dosanya sama besarnya. Perlu diketahui, orang yang terbukti melakukan zina, hukumannya sangat berat melebihi hukuman seorang pembunuh.

Hukuman pembunuh (qishas) adalah pembunuhnya gantian dibunuh oleh pemerintah yang sah dengan cara dipenggal lehernya. Sekitar 10 menit bisa dinyatakan dokter benar-benar meninggal. Artinya ini sangat simpel. Bedakan dengan had orang yang berzina! 

Hukuman orang zina muhshan adalah dibunuh dengan cara mengenaskan. Tidak sesimpel zina muhshan yang sekali tebas, selesai. Melainkan dengan dilempari batu sampai mati. Artinya, proses sanksi berlangsung perlahan-lahan yang tentu saja menyebabkan penderitaan yang lebih berat.

Baca juga:
Benarkah Kejahatan Ghibah Lebih Berat dari Zina?
Ini Enam Kondisi Seorang Boleh Lakukan Ghibah 
Dialog Nabi Isa dan Iblis perihal Ghibah
 Zina yang sedemikian berat hukumannya, Baginda Nabi menyatakan masih lebih dahsyat ghîbah. Dengan demikian, ghîbah adalah satu hal yang benar-benar harus dihindari. Ia mempunyai efek yang sangat berbahaya. Bisa jadi, sebab seseorang digunjing di depan orang lain, ia gagal kariernya, rezekinya menjadi tertutup, dipecat dari perusahaan atau ditolak bekerja di satu tempat dan lain sebagainya. 

Lalu, apakah yang dilarang itu hanya menggunjing kepada sesama Muslim atau juga berlaku kepada non-Muslim? 

Ada dua pendapat. Imam al-Ghazali mengatakan, menggunjing non-Muslim yang tidak memerangi orang Islam adalah haram. Sedangkan Ibnul Mundzir menyatakan sebaliknya. 

Imam al-Ghazali memandang orang non-Muslim yang tidak melakukan perlawanan/pemberontakan terhadap kafir dzimmi (orang non-Muslim sebagaimana yang banyak ditemukan di Indonesia), hukumnya tidak boleh sebab mereka berhak mendapat perlindungan sebagaimana umat Islam pada umumnya. Mulai dari kehormatan pribadi, darah dan harta benda mereka masing-masing secara resmi dilindungi oleh ikatan-ikatan syariat Islam. Oleh karena itu, menyakiti non-Muslim hukumnya sama dengan hukum menyakiti orang Islam. Berbeda apabila yang digunjing adalah orang non-Muslim (kafir) penyerang Islam (harbi), maka hukumnya boleh.

Selain itu, Imam al-Ghazali memberikan alasan mengapa menggunjing kafir dzimmi dilarang? Sebab yang pertama adalah gunjingan tersebut pasti menyakitkan mereka. Padahal hukum menyakiti Muslim maupun non-Muslim yang tidak melawan (kafir dzimmi), hukumnya haram. 

Kedua, menganggap ada sebuah kekurangan pada ciptaan Allah. Menceritakan kekurangan orang lain baik Muslim maupun non-Muslim sama saja dengan menganggap ada sebuah cacat pada makhluk yang diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, walaupun non-Muslim sekalipun, dia merupakan ciptaan Allah. Apabila kita menggunjing dia, sama saja kita menganggap ada kekurangan pada ciptaan Allah. Menganggap kurang pada ciptaan Allah seperti ini hukumnya makruh. 

Ketiga, membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berfaedah. Menggunjing orang otomatis menggunakan waktu yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Sebuah pekerjaan kurang baik. 

سُئِلَ الْغَزَالِيُّ فِي فَتَاوِيهِ عَنْ غِيبَةِ الْكَافِرِ. فَقَالَ: هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ لِثَلَاثِ عِلَلٍ: الْإِيذَاءُ وَتَنْقِيصُ خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ، وَتَضْيِيعُ الْوَقْتِ بِمَا لَا يُعْنِي. الى ان قال وَأَمَّا الذِّمِّيُّ فَكَالْمُسْلِمِ فِيمَا يَرْجِعُ إلَى الْمَنْعِ مِنْ الْإِيذَاءِ،؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ عَصَمَ عِرْضَهُ وَدَمَهُ وَمَالَهُ. 

Artinya: “Al-Ghazali pernah ditanya dalam fatwa-fatwanya tentang bagaimana hukum menggunjing orang kafir. Dia menjawab ‘Bagi seorang Muslim menggunjing orang kafir adalah dilarang karena tiga alasan yaitu menyakiti hatinya, menganggap kurang ciptaan Allah. Sesungguhnya Allah itu yang menciptakan semua aneka macam gerak-gerik hamba-hambanya. Dan boros terhadap waktu dengan digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. 

Kemudian, Imam al-Ghazali menyatakan, kafir dzimmi hukumnya berlaku sebagaimana orang Islam dalam hal masing-masing tidak boleh disakiti. Sesungguhnya syara’ melindungi kehormatan, darah dan hartanya. (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27) 

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا فَلَهُ النَّارُ

Artinya: “Barangsiapa menyampaikan sebuah perkataan yang menyakitkan kepada orang yahudi atau nasrani, orang itu berhak masuk neraka.” (Shahih Ibnu Hibban: 4880) 

Ibnul Mundzir mempunyai pandangan berbeda dengan Imam al-Ghazali. Ia melihat bahwa menggunjing non-Muslim tidak dosa sebab ada sebuah hadits yang mengisahkan, Rasulullah ditanya oleh sahabat, “Ya Rasulallah, apa yang dinamakan ghibah?” Kemudian Baginda Nabi menjawab “Saat kamu menceritakan saudaramu dengan hal yang tidak ia sukai.”

Rasul menyebut kalimat “saudaramu”. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, namanya saudara adalah sesama Muslim. Orang non-Muslim itu bukan seagama, maka dia bukan saudara. Menggunjing mereka tidak dosa.

وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ فِي قَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «ذِكْرُك أَخَاك بِمَا يَكْرَهُ» فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ مَنْ لَيْسَ أَخَاك مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى أَوْ سَائِرِ أَهْلِ الْمِلَلِ، أَوْ مَنْ أَخْرَجَتْهُ بِدْعَةٌ ابْتَدَعَهَا إلَى غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ لَا غِيبَةَ لَهُ. انْتَهَى

Artinya: “Ibnul Mundzir menyoroti sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ‘Saat kamu menceritakan saudaramu dengan hal yang tidak ia sukai.’ Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang tidak menjadi saudara mungkin karena ia adalah seorang yahudi, nasrani atau beragama lain, atau pula orang yang berbuat bid’ah, melakukan inovasi baru yang tidak Islami, maka menggunjing mereka tidak dinamakan ghîbah.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27).  


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang