IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Enam Belas Adab Istri terhadap Suami

Kamis 21 Februari 2019 20:15 WIB
Share:
Enam Belas Adab Istri terhadap Suami
Ilustrasi (via Pinterest)
Istri dan suami adalah dua insan yang saling mengikatkan diri melalui perkawinan. Terdapat hak dan kewajiban bagi  masing-masing termasuk yang berkaitan dengan adab. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab istri terhadap suami sebagai berikut:

آداب المرأة مع زوجها: دوام الحياء منه، وقلة المماراة له، ولزوم الطاعة لأمره، والسكون عند كلامه، والحفظ له في غيبته، وترك الخيانة في ماله، وطيب الرائحة، وتعهد الفم ونظافة الثوب، وإظهار القناعة، واستعمال الشفقة، ودوام الزينة، وإكرام أهله وقرابته، ورؤية حاله بالفضل، وقبول فعله بالشكر، وإظهار الحب له عند القرب منه، وإظهار السرور عند الرؤية له..

Artinya: “Adab istri terhadap suami, yakni: selalu merasa malu, tidak banyak mendebat, senantiasa taat atas perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara,  menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami, menjaga badan tetap berbau harum, mulut berbau harum dan berpakaian bersih, menampakkan qana’ah, menampilkan sikap belas kasih, selalu berhias, memuliakan kerabat dan keluarga suami, melihat kenyataan suami dengan keutamaan, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya, menampakkan rasa gembira di kala melihat suami.” 

Baca juga:
Dua Belas Adab Suami terhadap Istri
Lima Tanda Suami Saleh Menurut Perempuan
Dari kutipan di atas dapat diuraikan keenam belas adab istri terhadap suami sebagai berikut:

Pertama, senantiasa merasa malu terhadap suami. Seorang istri hendaknya tetap mempertahankan rasa malu kepada suami meski sudah bukan pengantin baru lagi. Tentu saja malu dalam konteks ini adalah rasa malu dalam arti positif,  seperti malu ketika bau badannya menimbulkan ketidaknyamanan; malu berpenampilan tidak menarik; atau malu berperilaku buruk, dan sebagainya. 

Kedua, tidak banyak mendebat. Perdebatan yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan ketegangan dan konflik. Seorang istri hendaknya tidak  mendebat suami dalam hal-hal yang tidak perlu. Namun demikian diskusi serius dengan suami  untuk mencari solusi terbaik dari suatu permasalahan tidak sebaiknya dihindari. Hal ini justru baik dalam rangka bermusyawarah. 

Ketiga, senantiasa taat atas perintahnya. Taat pada suami adalah kewajiban. Namun demikian apabila perintah suami bertentangan dengan syara’, seorang istri dapat mengajukan keberatan dengan tetap mengedepankan kesopanan dan cara yang baik dalam menolaknya. Atau, istri dapat mengajukan alternatif lain dari perintah suami. 

Keempat, diam ketika suami sedang berbicara. Seorang istri hendaknya mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan suaminya. Jika ia bermaksud memotong pembicaraannya sebaiknya meminta persetujuannya terlebih dahulu. Jika ternyata suami tidak memberi ijin, sebaiknya istri diam dan tidak memprotes secara keras demi mencegah timbulnya ketegangan.  

Kelima, menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi. Seorang istri hendaknya tetap berperilaku baik meski suami sedang tak ada dirumah. Dalam situasi seperti ini seorang istri hendaknya tidak memanfaatkan kesempatan untuk bersenang-senang menuruti hawa nafsu, misalnya dengan  pergaulan yang sangat longgar. Hal ini sangat tidak baik sebab bisa berpotensi menimbulkan fitnah.    

Keenam, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami. Seorang istri adalah pihak yang paling dipercaya suami untuk menjaga hartanya. Kepercayaan ini tidak sebaiknya dikhianati dengan penghambur-hamburan yang tidak perlu. Apalagi jika harta itu digunakan untuk kemaskiatan yang sudah pasti akan menimbulkan persoalan yang tidak baik di kemudian hari.  

Ketujuh, menjaga badan tetap berbau harum. Seorang istri hendaknya menjaga bau badannya sedemikian rupa sehingga suami merasa nyaman di sampingnya. Namun demikian hal ini tidak berarti seorang istri harus mandi parfum. Mandi secara teratur dengan air dan sabun mandi yang  wangi merupakan cara paling mudah untuk menjaga badan tetap segar.    

Kedelapan, mulut berbau segar dan berpakaian bersih. Tidak hanya terkait dengan bau badan, tetapi juga bau mulut hendaknya menjadi perhatian istri, yakni selalu segar. Demikian pula pakaian yang ia kenakan sehari-hari juga harus bersih. Semua ini adalah agar mereka sama-sama nyaman dalam berinteraksi baik di dalam maupun di luar rumah. 

Kesembilan, menampakkan qana’ah. Seorang istri hendaknya tidak menuntut lebih dari apa yang mampu diberikan suami kepadanya. Ia hendaknya menysukuri berapa pun jumlah atau wujud pemberiannya. Namun demikian hal ini tidak berarti seorang istri tidak boleh mendorong dan mendoakan suami agar lebih maju lagi dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya. 

Kesepuluh, menampilkan sikap belas kasih. Seorang istri hendaknya bersikap belas kasih  kepada suami atas semua jerih payahnya. Jangan sampai ia bersikap kasar atau bahkan menindas  suami yang kondisinya sedang lemah, seperti sakit. Apalagi dengan sengaja menyakiti perasaannya dengan hinaan yang merendahkan dirinya. Bagaimanapun ia harus mengasihi suaminya dengan sepenuh hati. . 

Kesebelas, selalu berhias. Seorang istri hendaknya selalu  tampil menarik di depan suami. Banyak manfaat dari hal ini, misalnya suami menjadi lebih betah di rumah dan tidak terdorong untuk mencari-cari alasan keluar rumah. 

Kedua belas, memuliakan kerabat dan keluarga suami. Seorang istri hendaknya selalu sadar bahwa suami umumnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan para kerabat dan keluarganya.  Oleh karena itu seorang istri hendaknya dapat memperlakukan kerabat dan keluarga suami dengan respek tanpa mempersoalkan status sosial mereka. 

Ketiga belas, melihat kenyataan suami dengan keutamaan. Apapun keadaan suami, seorang isri hendaknya dapat menerimanya sebagai kenyataan. Jika suami keadaannya baik, seorang istri hendaknya mensyukurinya sebagai kenikmatan. Jika sebaliknya, seorang istri hendaknya bersikap sabar. Syukur dan sabar merupakan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala

Keempat belas, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur. Berapa pun penghasilan suami, seorang istri hendaknya dapat mensyukuri. Dengan mensyukuri nikmat-Nya, Allah akan menambahkan dengan berbagai kenikmatan yang lain. 

Kelima belas, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya. Seorang istri hendaknya senantiasa menunjukkan rasa cintanya kepada suami terlebih saat berada di dekatnya. Hal ini karena salah satu tujuan dari pembentukan rumah tangga adalah untuk membentuk keluarga yang saling mencintai. 

Keenam belas,  menampakkan rasa gembira di kala melihat suami. Kapan saja dan di mana saja seorang istri bertemu dengan suaminya, hendaknya ia selalu menunjukkan rasa gembiranya. Hal ini amat penting karena umumnya suami merasa gembira ketika melihat istrinya bergembira. 

Demikianlah keenam belas adab istri terhadap suami sebagaimana dinasihatkan Imam Al-Ghazali. Semakin banyak adab terhadap suami yang bisa dilaksanakan, semakin tinggi derajat kesalehan istri. Istri salehah adalah istri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban. Semakin tinggi nilai-nilai keadaban seseorang sesunguhnya ia semakin tinggi derajat kemuliaannya baik di mata Allah subhanahu wa ta’ala maupun sesama manusia.


Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Tags:
Share:
Kamis 21 Februari 2019 17:30 WIB
Adab Bertetangga dalam Catatan Hadits Imam Al-Ghazali
Adab Bertetangga dalam Catatan Hadits Imam Al-Ghazali
Islam tak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah, tetapi juga mengatur hubungan kita dengan sesama, bahkan dengan sesama makhluk. Tak terkecuali hubungan dengan tetangga. Di tengah masyarakat supersibuk dan heterogen, seperti di perkotaan sekarang ini, hak-hak tetangga kurang mendapat perhatian, terlebih jika seseorang tahu bahwa tetangganya non-Muslim.

Karena itu, perlu kiranya kita mengingat kembali apa saja hak dan kewajiban kita sebagai tetangga dalam kacamata agama kita. Seberapa besar perhatian agama kita dalam urusan bertetangga? Sejauh mana batasan tetangga kita?

Dalam Mukasyafatul Qulub (Terbitan Darul Kitab al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Pertama, Tahun 2005/1426], halaman 301), Imam Al-Ghazali menguraikan tuntunan Rasulullah SAW dalam bertetangga.

Disampaikannya, dasar penetapan hak bertetangga itu sendiri dapat kita simak, salah satunya, dalam hadits berikut ini, “Tetangga itu ada tiga: tetangga yang memiliki satu hak. Tetangga yang memiliki dua hak. Tetangga yang memiliki tiga hak. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga Muslim sekaligus bersaudara, yaitu hak sesama Muslim, hak saudara, dan hak tetangga. Kemudian tetangga yang memiliki dua hak adalah tetangga Muslim, yaitu hak sesama Muslim dan hak tetangga. Sedangkan hak yang memiliki satu hak adalah tetangga yang musyrik,” (HR At-Thabrani).

Berdasarkan hadits di atas, kewajiban kita memenuhi hak tetangga, bukan saja kepada tetangga Muslim saja, tetapi juga kepada tetangga yang non-Muslim.

Dalam sejumlah hadits lainnya, Rasulullah SAW menekankan pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sekaligus ancaman bagi mereka yang mengabaikannya. Antara lain adalah hadits berikut, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga,” (HR Abu Dawud).

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bahkan mengaitkan hak bertetangga dan kesempurnaan iman. “Tidak sempurna keimanan seorang hamba sampai tetangganya aman dari keburukan-keburukannya,” (HR At-Tharani).

Dalam hadits berikutnya ia berpesan, “Perbaikilah hubungan baik dengan orang yang bertetangga denganmu, niscaya engkau akan menjadi Muslim yang baik,” (HR Ibnu Majah).

Kemudian, disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Malaikat Jibril senantiasa mewasiatkan tetangga kepadaku, sampai-sampai aku mengira bahwa Jibril menetapkan hak waris bagi tetangga (HR Malik).

“Sungguh, dua orang pertama yang bermusuhan pada hari Kiamat adalah dua orang yang bertetangga,” (HR Ahmad).

Pertanyaan berikutnya, sejauh manakah batas tetangga kita? Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW pernah memberikan batasan minimalnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Az-Zuhri. Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadukan tetangganya. Kemudian Nabi SAW memerintah laki-laki tersebut untuk berteriak di depan pintu masjid.

“Ingatlah, empat puluh rumah itu masih tetangga.” Dijelaskan oleh Az-Zuhri, “Maksudnya empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana, empat puluh rumah ke arah sana,” kata Rasulullah sambil menunjuk ke empat arah.

Dalam konteks sekarang, tetangga seseorang mungkin saja bertambah ke arah lainnya, seperti ke atas atau ke bawah. Contohnya, orang yang tinggal di apartemen atau di rumah susun.

Ketahuilah bahwa hak tetangga itu bukan saja menghentikan sikap menyakitkan, tetapi juga menahan penderitaan darinya. Dengan kata lain, menghentikan sikap kurang baik atau menahan penderitaan dari tetangga, belum cukup dalam memenuhi hak tetangga. Sebab, masih ada hak lain yang harus dipenuhi, yaitu bersikap lemah lembut dan tetap mendorong mereka kepada kebaikan.

Tak heran jika pada hari Kiamat, seorang tetangga yang miskin akan mengadukan tetangganya yang kaya, “Wahai Rabb, tanyalah tetanggaku ini, mengapa dia menghalangi kebaikannya untukku dan juga menutup pintunya kepada selainku.” 

Lebih lanjut, Rasulullah SAW memaparkan hak-hak tetangga:

أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ؟ إِنِ اسْتَعَانَكَ أَعَنْتَهُ، وَإِنِ اسْتَقْرَضَكَ أَقْرَضْتَهُ، وَإِنِ افْتَقَرَ عُدْتَ عَلَيْهِ، وَإِنْ مَرِضَ عُدْتَهُ، وَإِنْ مَاتَ شَهِدْتَ جَنَازَتَهُ، وَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ هَنَّأْتَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ عَزَّيْتَهُ، وَلَا تَسْتَطِيلَ عَلَيْهِ بِالْبِنَاءِ، فَتَحْجُبَ عَنْهُ الرِّيحَ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَإِذَا شَرَيْتَ فَاكِهَةً فَاهْدِ لَهُ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَأَدْخِلْهَا سِرًّا، وَلَا يَخْرُجْ بِهَا وَلَدُكَ لِيَغِيظَ بِهَا وَلَدَهُ، وَلَا تُؤْذِهِ بِقِيثَارِ قَدْرِكَ إِلَّا أَنْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا  أَتَدْرُونَ مَا حَقُّ الْجَارِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَبْلُغُ حَقُّ الْجَارِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ رَحِمَ اللهُ

Artinya, “Apakah kalian tahu hak tetangga? Jika tetanggamu meminta bantuan kepadamu, engkau harus menolongnya. Jika dia meminta pinjaman, engkau meminjaminya. Jika dia fakir, engkau memberinya. Jika dia sakit, engkau menjenguknya. Jika dia meninggal, engkau mengantar jenazahnya. Jika dia mendapat kebaikan, engkau menyampaikan selamat untuknya. Jika dia ditimpa kesulitan, engkau menghiburnya. Janganlah engkau meninggikan bangunanmu di atas bangunannya, hingga engkau menghalangi angin yang menghembus untuknya, kecuali atas izinnya. Jika engkau membeli buah, hadiahkanlah sebagian untuknya. Jika tidak melakukannya, maka simpanlah buah itu secara sembunyi-sembunyi. Janganlah anakmu membawa buah itu agar anaknya menjadi marah. Janganlah engkau menyakitinya dengan suara wajanmu kecuali engkau menciduk sebagian isi wajan itu untuknya. Apakah kalian tahu hak tetangga? Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidaklah hak tetangga sampai kecuali sedikit dari orang yang dirahmati Allah,” (HR At-Thabarani).

Dalam hadits lainnya disebutkan, termasuk mengganggu dan menyakiti perasaan tetangga walaupun hanya dengan memukul hewan peliharaannya, “Jika engkau melempar anjing tetanggamu, sejatinya engkau telah menyakiti tetanggamu.”

Tidak ringan ganjaran seorang yang menyakiti perasaan tetangganya. Sebab pernah disampaikan kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya, si fulanah selalu berpuasa di siang hari dan shalat malam di malam hari, namun dia suka menyakiti para tetangganya.” Berliau bersabda, “Dia akan ada di neraka.”

Begitu pun saat kita memasak makanan. Khawatir aromanya mengganggu tetangga, kita diperintahkan untuk membaginya, sebagaimana riwayat Abu Dzar. “Jika engkau memasak makanan, maka perbanyaklah airnya. Kemudian lihatlah sebagian ahli bait yang menjadi tetanggamu, lalu ciduklah sebagian itu untuk mereka.”

Sebuah kisah menarik dalam menjaga hak tetangga pernah terjadi pada seorang laki-laki yang mengeluhkan banyaknya tikus di rumahnya. Seorang kawannya menyarankan, “Mengapa engkau tidak memelihara kucing saja?” Laki-laki tersebut menjawab, “Aku takut, jika mendengar suara kucing, tikus-tikus di rumahku lari ke rumah tetangga. Sedangkan aku tak ingin keadaan yang tidak aku sukai ini dialami oleh mereka.”

Ditambahkan oleh Al-Ghazali, termasuk hak tetangga adalah diberi ucapan salam lebih dahulu, tidak terlalu lama jika diajak bicara, tidak banyak ditanya, dijenguk bila sedang sakit, dihibur jika sedang mendapat musibah, mendapat ungkapan bela sungkawa, mendapat ucapan selamat saat mendapat kebahagiaan, didampingi saat mendapat kegembiraan, dimaafkan saat melakukan kesalahan, ditutupi kekurangan-kekurangannya, tak diganggu tempat tinggalnya, seperti dipakai menyimpan barang, tidak dialiri saluran airnya oleh air dari rumah kita, tidak dikotori halamannya oleh tanah kita, tidak dipersempit jalan menuju rumahnya, tidak mengintip barang bawaan yang dibawa ke rumahnya, ditutupi aib keburukannya, diringankan kesulitan dan kebutuhannya, dijaga rumahnya saat dia berpergian, tidak diintip pembicaraannya, dijaga kehormatannya, tidak diganggu pelayannya, berlemah-lembut kepada anaknya terutama melalui pembicaraan, ditunjukkan ke jalan yang belum diketahuinya, baik urusan dunia maupun urusan akhirat.

Itulah sejumlah hak tetangga di tengah kaum Muslimin, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Amr ibn Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi SAW.

Perlakuan itu tidak saja diberikan kepada tetangga kita yang latar belakangnya beragama Islam, tetapi juga kepada tetangga kita yang non-Muslim. Bahkan, demi menjaga hak dan kehormatan tetangga, Al-Hasan tidak mempermasalahkan memberikan daging kurban kepada tetangga yang non-Muslim, baik Yahudi maupun Nasrani. Wallahu a’lam.


(Ustadz M Tatam Wijaya)
Selasa 19 Februari 2019 19:15 WIB
Mencari Ilmu supaya Dapat Gelar dan Jabatan?
Mencari Ilmu supaya Dapat Gelar dan Jabatan?
Ilustrasi (via pixels.com)
Sudah maklum bahwa hukum mencari ilmu adalah wajib bagi semua umat Islam baik laki-laki maupun perempuan. Ilmu menjadi dasar orang bisa dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang yang memiliki ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah. 

Ada pesan menarik dari Sayyidina Ali, orang yang mencari ilmu hendaknya tidak mempunyai niat untuk membanggakan dirinya sendiri, supaya bisa berdebat dengan orang bodoh, pamer kepada sesama manusia dan untuk mendapatkan kedudukan. 

Mencari ilmu supaya mendapatkan gelar akademik semata sehingga menaikkan strata sosial di tengah-tengah masyarakat atau jabatan-jabatan tertentu, dilarang oleh agama. Selain pesan Sayyidina Ali di atas, terlebih dahulu Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai berikut: 

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa belajar ilmu dengan tujuan seharusnya untuk mencari ridha Allah azza wa jalla semata, namun ia tidak mempelajarinya kecuali hanya bisa mendapatkan materi duniawi, ia tidak akan pernah bisa mencium baunya surga pada hari kiamat.” (Sunan Abi Dawud: 3664)
Dua keterangan di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang mencari ilmu harus bersih niatnya sejak awal. Jangan sampai diniatkan semata untuk mendapatkan gelar, supaya dapat istri cantik, dan lain sebagainya. 

Ada cerita yang cukup tenar di kalangan kita sebagaimana sebagaimana dikutip dalam kitab Manhaju Dzawin Nadzar, Imam Al-Ghazali dalam mencari ilmu tidak murni karena Allah. Beliau dan saudaranya Ahmad, sebelum alim di kemudian hari, awalnya juga dimulai dari mencari ilmu bukan karena Allah semata. Mereka berdua mencari ilmu agar dapat makan gratis. Baru setelah mereka mendapatkan ilmu yang banyak, ilmu yang mereka peroleh, mengantarkan keduanya dekat kepada Allah. 

Meskipun begitu, Imam Al-Ghazali sendiri tetap berpesan supaya orang-orang tidak tertipu dengan quote Sufyan ats-Tsauri:

ولا ينبغي أن يغتر الإنسان بقول سفيان "تعلمنا العلم لغير الله فأبى العلم أن يكون إلا لله فإن الفقهاء يتعلمون لغير الله ثم يرجعون الى الله

Artinya: “Sebaiknya jangan sampai ada orang yang tertipu dengan perkataan Sufyan ats-Tsauri ‘Kami belajar ilmu bukan karena Allah, namun kemudian ilmu itu akan dengan sendirinya tidak mau kecuali hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sesungguhnya para pakar fiqih, mereka mencari ilmu bukan karena Allah, namun mereka kemudian kembali (lurus niatnya) karena Allah.” (Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Darul Ma’rifah, Beirut], juz 2, halaman 237) 

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kata Sufyan di atas sesuai dengan realitas. “Lihatlah akhir hayat para pakar fiqih itu, mereka akhirnya meninggal dalam keadaan masih tetap saja mencari dunia. Karena quote Sufyan memang tak sesuai realitas,” kata Al-Ghazali. 

Menurut pandangan beliau, yang dikehendaki oleh Sufyan As-Tsauri bahwa ilmu yang nantinya bisa menuntun orang yang bisa otomatis menjadi dekat dengan Allah adalah ilmu hadits, tafsir Al-Quran, kisah para Nabi dan shahabat. Sebab keilmuan-keilmuan yang seperti demikian akan bisa menimbulkan takut kepada Allah. Andai pun tidak bisa mendekatkan sekarang, mungkin pada suatu saat nanti. Dalam Ihya’ Ulumiddin juga dijelaskan:

واعلم أن العلم الذي أشار اليه سفيان هو علم الحديث وتفسير القرآن ومعرفة سير الأنبياء والصحابة فإن فيها التخويف والتحذير وهو سبب لإثارة الخوف من الله فإن لم يؤثر في الحال أثر في المآل

Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya ilmu yang dikehendaki oleh Sufyan adalah ilmu hadits, tafsir Al-Quran, sejarah para nabi dan sahabat. Sesungguhnya ilmu-ilmu tersebut bisa menjadikan orang takut kepada Allah dan memberikan warning. Ilmu-ilmu ini bisa menyebabkan orang takut kepada Allah. Jika tidak mempunyai efek seketika, akan bermanfaat suatu saat kelak.” 

Sedangkan ilmu yang membahas tentang ilmu kalam, fiqih yang hanya bersinggungan dengan fatwa-fatwa konsep muamalah saja, ilmu perdebatan (tanpa dibarengi ilmu pendekatan kepadan Allah) akan menjadikan orang tersebut selalu tamak kepada dunia sampai akhir hayatnya. 

Oleh karena itu, bagi orang yang mencari ilmu dengan tujuan apapun, selama yang dicari adalah ilmu yang mempelajari Al-Quran hadits, dengan niatan apapun sehingga seumpama ada orang yang mencari ilmu untuk mencari gelar, mencari dunia, bagi para pemula diperbolehkan. Sedangkan bagi para pencari ilmu selain kedua disiplin ilmu di atas, harusnya diniati sejak awal bahwa niat yang baik, yaitu mencari ilmu adalah untuk menjalankan perintah dan mencari ridla Allah dan Rasul-Nya. 

Atau bisa saja mencari ilmu dengan niatan melengkapi kehidupan dengan ilmu fardhu kifayah. Seperti menjadi dokter, misalnya. Tidak boleh ada satu masyarakat yang tidak ada satupun penduduknya menjadi dokter, maka mencari ilmu untuk memenuhi kebutuhan fardhu kifayah seperti ini tentu diperbolehkan. 

Menurut sebagian ulama, orang yang mencari ilmu dengan tujuan duniawi seperti hanya untuk mendapatkan gelar, kedudukan dan sebagainya, hal tersebut bagaikan orang yang mengambil kotoran namun dengan sendok emas. Dunia seisinya itu adalah kotoran, sedangkan ilmu adalah emas. Bagaimana ada orang tega menggunakan emas hanya untuk menyendok kotoran?

Kesimpulannya, bahwa mencari ilmu apa pun yang penting bermanfaat untuk kehidupan masyarakat diperbolehkan, asalkan dari awal harus dibangun niat-niat yang baik, seperti memenuhi kebutuhan fardhu kifayah masyarakat, mengikuti perintah Allah dan lain sebagainya. Yang penting tidak semata-mata mencari gelar dan jabatan di tengah masyarakat. Karena hal ini sangat remeh-temeh jika dibanding dengan kebesaran ilmu itu sendiri.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang  

Senin 18 Februari 2019 6:0 WIB
Berkah Memuliakan Sifat Allah
Berkah Memuliakan Sifat Allah
Berkah Memuliakan Sifat Allah
Seorang sufi besar Bisyir Al-Hafi kala itu sedang berjalan menuju suatu tempat. Di tengah derap langkah gontainya, tiba-tiba ia menemukan sebuah lembaran. Betapa terkaget ia. Ternyata dalam kertas tersebut bertuliskan asma Allah yang maha mulia, “bismillahir rahmanir rahim”.

Begitulah lafal yang tertera dalam lembaran yang ia temukan. Dengan penuh rasa iba, ia kantongi lembaran tersebut. Dibawanya kertas itu dengan hati-hati. Sesampainya di rumah, ia bersihkan kertas bertuliskan kalimat Allah dari debu yang menodai.

Tidak hanya itu, ia pun juga mengoleskan wewangian demi memuliakannya. Ia menaruhnya di salah satu sudut rumahnya sekira tidak mungkin terinjak oleh orang lain.

Demikianlah, ia kini merasa tenang. Lembaran mulia yang awalnya terinjak dan penuh noda, kini telah tersimpan rapi dan wangi di dalam rumahnya. Malam harinya, ia tidur dan bermimpi tak biasa. Hatif, suara tanpa rupa, menuturkan sesuatu yang membuatnya kaget bukan terkira.


يا بشر طيبت إسمي في الدنيا طيبت إسمك في الدنيا و الأخرة 

Artinya, “Duhai Bisyir, engkau telah mengharumkan nama-Ku di dunia, maka Kuharumkan namamu di dunia dan di akhirat,” begitulah suara hatif itu seraya Bisyir kembali terjaga dari tidur lelapnya. 

Subhanallah, mulai malam itu juga Bisyr diangkat menjadi kekasih Allah, waliyullah ‘aza wa jalla. Wallahu a ‘lam.


(Ustadz Ulin Nuha Karim)

Riwayat ini dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al-Mubarok Baidlowie saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain yang bersumber dari taushiyah Habib Ahmad Al-Habsyi, Solo.