IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad

Jumat 22 Februari 2019 6:0 WIB
Share:
Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad
“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua lelaki ini, Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattab,” doa Nabi Muhammad saw. untuk Abu Jahal dan Umar bin Khattab.

Abu Jahal atau Amr bin Hisyam adalah salah satu elit Quraisy yang sangat memusuhi dakwah Islam yang diemban Nabi Muhammad saw. Dia dikenal sebagai pribadi yang kejam, bengis, dan tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Karena sikapnya yang seperti itu lah, Abu Jahal dijuluki sebagai Fir’aun pada zaman Nabi Muhammad saw. Salah satu sahabat yang merasakan tangan dingin Abu Jahal adalah Sumayyah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang gugur setelah mendapatkan siksaan dari Abu Jahal.

Berbagai macam cara dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari mengintimidasi umat Islam hingga mengancam Nabi Muhammad saw. secara terang-terangan. Bahkan, suatu ketika Abu Jahal pernah melarang Nabi Muhammad saw. untuk mengerjakan shalat. Namun, Rasulullah tidak gentar dengan gertakan Abu Jahal tersebut. 

Abu Jahal juga adalah orang yang menyulut terjadinya perang Badar. Pada saat itu, pasukan kaum musyrik Quraisy ‘terbelah’. Sebagian mereka ingin terus berperang melawan umat Islam. Sebagian lain menganggap kalau perang itu tidak perlu terjadi karena sudah tidak ada urgensinya lagi. Semula tujuan awal mereka adalah mengamankan kafilah dagang Abu Sufyan. Karena kafilah Abu Sufyan sudah sampai Makkah dengan selamat, maka mereka menganggap kalau perang itu tidak ada urgensinya lagi.

Akan tetapi, Abu Jahal dan elit lainnya mengobarkan semangat tempur pasukan kaum muysrik Quraisy. Kata mereka, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberi pelajaran bagi kaum Muslim yang telah menginjak harga diri dan mencaci maki tuhan mereka. Singkat cerita, lalu meletuslah perang Badar yang kemudian dimenangkan oleh pasukan umat Islam. 

Meski demikian, merujuk buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), pada awal-awal turunnya Al-Qur’an Abu Jahal kerap kali menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Abu Jahal merasakan sebuah keajaiban manakala mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan Nabi Muhammad saw. 

Menariknya, Abu Jahal tidak sendirian ketika menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan Al-Qur'an. Ada Abu Sufan dan al-Akhnas juga. Meski mereka tidak janjian, namun mereka kerap saling kepergok satu sama lain. Dikabarkan kalau kejadian Abu Jahal menyusup rumah Nabi Muhammad saw. berlangsung selama tiga malam berturut-turut. Seolah mereka ketagihan dengan bacaan Al-Qur’an. Meski demikian, hal itu tidak sampai membuat Abu Jahal masuk Islam.

Abu Jahal juga pernah memberikan kesaksian tentang kebenaran dan kejujuran Nabi Muhammad saw. Sebagaimana keterangan dalam buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), al-Miswar bin Makhramah pernah bertanya kepada pamannya, Abu Jahal, perihal sosok Nabi Muhammad saw. Kata Abu Jahal, Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang sangat jujur, tidak pernah berbohong, sehingga dia diberi julukan al-Amin (yang terpercaya). Lalu al-Miswar bertanya lagi mengapa Abu Jahal tidak mau mengikuti Nabi Muhammad saw.

“Wahai anak saudariku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kehormatan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberikan minum, kami pun memberikan minum. Mereka membayar orang untuk bekerja, kami pun sama,” jawab Abu Jahal. 

“Sehingga ketika kami duduk di atas kendaraan kami (karena kami bermusuhan), kami seperti dua ekor kuda taruhan, maka mereka berkata, ‘Di antara kami ada seorang nabi’. Maka kapan kah kami mendapatkan hal tersebut?” lanjutnya.

Hal yang sama juga ditanyakan al-Akhnas bin Syuraiq pada hari perang Badar. Pada waktu itu, al-Akhnas meminta Abu Jahal untuk berkomentar tentang Nabi Muhammad saw. dengan sejujur-jujurnya. Lagi-lagi, Abu Jahal menjawab kalau Nabi Muhammad saw. adalah seorang jujur dan tidak pernah berbohong satu kali pun. 

“Akan tetapi, jika Bani Qushay sudah memegang bendera, menjaga Ka’bah, memberi minum orang haji, dan memiliki kenabian, maka apa lagi yang tersisa untuk Quraisy yang lainnya?” kata Abu Jahal. 

Sikap permusuhan dan pertentangan yang ditunjukkan Abu Jahal bukan karena keyakinan kalau Nabi Muhammad saw. berdusta dan hanya mengaku-aku saja sebagai nabi dan rasul Allah. Akan tetapi, sikapnya itu lebih didasarkan kepada fanatisme golongan. Tidak rela kalau Bani Qushay menguasai segalanya. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Rabu 20 Februari 2019 6:0 WIB
Saat Wahyu Terhenti Beberapa Lama
Saat Wahyu Terhenti Beberapa Lama
Menurut riwayat yang masyhur, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu yang pertama –Surat al-‘Alaq ayat satu sampai lima- dari malaikat Jibril pada malam ke-17 Ramadhan atau bertepatan dengan 6 Agustus 610 M di Gua Hira. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad saw. langsung pulang ke rumah dengan keadaan takut dan gemetaran. Beliau langsung meminta Sayyidah Khadijah –istrinya- untuk menyelimutinya ketika tiba di rumah. Nabi Muhammad saw. menceritakan semua pengalamannya di Gua Hira kepada sang istri. Perjumpaannya dengan seseorang laki-laki (malaikat Jibril) yang memaksanya untuk membaca (iqra’)

Sayyidah Khadijah berusaha untuk menenangkan dan membesarkan hati suaminya.  Kemudian Sayyidah Khadijah mengajak Nabi Muhammad saw. untuk bertemu dengan anak pamannya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Bibel dan sudah menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. 

Setelah mendengar cerita dari Nabi Muhammad saw., Waraqah yakin bahwa suami Sayyidah Khadijah itu adalah benar-benar seorang nabi yang diutus Allah bagi umat ini. Waraqah membeberkan kalau lelaki yang datang kepada Nabi Muhammad saw. di Gua Hira adalah an-Namus (Jibril), sama seperti yang datang kepada Musa dulu. Waraqah juga memperingatkan kalau nantinya Nabi Muhammad saw. akan didustakan, diganggu, diusir, dan diperangi oleh kaumnya sendiri. 

“Kalau aku mencapai masa itu, usiaku panjang, niscaya aku akan membelamu (Nabi Muhammad saw.) dengan pembelaan yang kuat,” kata Waraqah. Meski demikian, di dalam hati Nabi Muhammad saw. masih keragu-raguan. Sayyidah Khadijah keukeuh meyakinkan suaminya bahwa yang datang di Gua Hira itu adalah malaikat, bukan setan. 

Setelah wahyu pertama turun, malaikat Jibril tidak turun-turun lagi menemui Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan wahyu. Jadi, ada masa jeda beberapa saat antara turunnya wahyu yang pertama dengan wahyu yang selanjutnya. Ada yang berpendapat terkait hal ini; ada yang berpendapat kalau wahyu terhenti selama tiga tahun, dua setengah tahun, enam bulan, dan ada yang menyatakan wahyu terhenti hanya tiga hari saja. 

Sesuai dengan buku Membaca Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), selama penantian itu Nabi Muhammad saw. tetap merasa takut dan bimbang, setelah bertemu dengan malaikat Jibril dan menerima wahyu yang pertama. Menurut Quraish Shihab, wahyu memang pernah terhenti turun kepada Nabi Muhammad saw., namun itu tidak dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya pun untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti Nabi Muhamamd saw. ketika menerima wahyu pertama dan juga untuk menimbulkan kerinduan akan hadirnya wahyu yang kedua.

Quraish Shihab ‘tidak sependapat’ dengan satu hadits riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. sangat sedih ketika wahyu terhenti sehingga membuatnya berniat untuk bunuh diri. Setidaknya ada dua alasan ‘ketidaksepakatan’ yang dikemukakan Quraish Shihab atas hadits tersebut. Pertama, dalam riwayat hadits tersebut seolah-olah masa terhentinya wahyu lama sekali. Padahal ada riwayat yang menyebutkan kalau wahyu terhenti hanya beberapa hari saja. 

Kedua, Imam Bukhari tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan informasi dalam hadist tersebut. Sepanjang informasi itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad saw. langsung, meskipun dari sahabat, maka informasinya wajar saja kalau diragukan. Karena bagaimanapun niatan bunuh diri hanya diketahui oleh yang bersangkutan. Dan bagaimana mungkin seorang Nabi Muhammad saw. yang memiliki kepribadian utuh dan kuat hendak melakukan hal semacam itu?

Sementara merujuk buku Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2015), pada saat wahyu terhenti turun Nabi Muhammad saw. merasa terasing dari orang-orang. Beliau juga merasa ketakutan, sama seperti sebelum turunnya wahyu. Terlebih Nabi Muhammad saw. juga merasa kalau dirinya ditinggalkan Allah sesudah dipilih-Nya. 

Begitu pun keterangan dalam buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), pada saat terhentinya wahyu tersebut Nabi Muhammad saw. kaget dan bingung. Bahkan terdiam dalam keadaan sedih. Namun demikian, ketakutan, keraguan, kecemasan, dan kesedihan Nabi Muhammad saw. sirna manakala turun wahyu yang kedua. Terkait wahyu yang kedua, para ulama juga berbeda pendapat. Ada yang berpendapat kalau wahyu kedua adalah QS al-Mudatsir 1-5. Dan ada juga yang menyatakan kalau wahyu kedua adalah awal Surat al-Qalam. Waallahu ‘Alam. (A Muchlishon Rochmat) 
Selasa 19 Februari 2019 18:0 WIB
Ketika Nabi Muhammad Melarang Seorang Pemuda Berhijrah
Ketika Nabi Muhammad Melarang Seorang Pemuda Berhijrah
Pada 622 M Nabi Muhammad saw. dan umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berhijrah (bermigrasi) ke Yatsrib –kota ini kemudian diubah namanya oleh Nabi Muhammad saw. menjadi Madinah. Sebuah kota yang terletak 450 kilometer ke arah utara Makkah. Mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi dan berpencar agar tidak diketahui kaum musyrik Quraisy. 

Perintah untuk berhijrah tersebut turun setelah Nabi Muhammad saw. mendakwahkan Islam di Makkah selama 13 tahun. Terutama setelah wafatnya Abu Thalib (619 M) dan Sayyidah Khadijah (620 M). Dua orang yang sebelumnya menjadi pelindung Nabi Muhammad saw. dalam mendakwahkan ajaran Islam. Wafatnya dua orang tersebut membuat kafir Quraisy semakin terang-terangan dan berani memusuhi dakwah Islam sehingga membuat kondisi Nabi Muhammad saw. dan umat Islam sulit. 

Perintah untuk berhijrah ke Madinah ini tentu menjadi ‘dilema’ tersendiri Nabi Muhammad saw. dan umat Islam. Di satu sisi, mereka gembira karena akan terlepas dari segala macam gangguan kaum musyrik Makkah dan akan mendapatkan saudara baru di Madinah. Namun di sisi lain, mereka sedih karena harus meninggalkan kampung halamannya Makkah, para kerabatnya yang belum memeluk Islam, dan harta bendanya. 

Hijrah dari Makkah ke Madinah diikuti oleh hampir seluruh umat Islam –ada beberapa umat Islam yang masih di Makkah ketika hijrah dilaksanakan seperti Sayyidah Zainab, putri sulung Nabi Muhammad saw. Proses hijrah ini sangat berat. Nyawa menjadi taruhannya. Para kaum musyrik Makkah terus memburu bahkan hingga Nabi Muhammad saw. dan umat Islam tengah berada dalam perjalanan menuju Madinah. Oleh karena itu banyak upaya dilakukan untuk mengelabui kaum musyrik Makkah. Diantaranya berangkat pada tengah malam, menghapus jejak kaki, melalui rute yang berbeda, dan lainnya. 

Di balik proses hijrah ke Madinah yang begitu menegangkan, ada kisah yang penuh hikmah. Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), pada saat umat Islam hendak berhijrah agar diperbolehkan berhijrah bersama Nabi Muhammad saw.. Setalah meminta izin seperti itu, pemuda itu tanpa tedeng aling-aling mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. kalau dirinya baru saja membuat orang tuanya menangis. 

Nabi Muhammad saw. tidak mengizinkan pemuda tersebut untuk berhijrah. Malah, beliau menyuruh pemuda tersebut untuk kembali ke rumahnya dan membuat orang tuanya tertawa, sebagaimana dia membuat mereka menangis. 

“Kembalilah kepada orang tuamu, dan buatlah mereka ketawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis,” kata Nabi Muhammad saw. 

Begitu lah sikap Nabi Muhammad saw. jika sudah menyangkut orang tua. Nabi Muhammad saw. tidak bersedia membaiat pemuda yang ingin berhijrah bersamanya tersebut karena dia tidak mendapatkan restu dari orang tuanya sehingga mereka menangis. Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad saw. menekankan bahwa berbakti kepada orang tua adalah segala-galanya. Kecuali kalau mereka menyuruh untuk bermaksiat kepada Allah, maka tidak perlu diikuti.

“Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua,” kata  Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi. (A Muchlishon Rrochmat)
Sabtu 16 Februari 2019 18:0 WIB
Ketika Sahabat Berprasangka Buruk kepada Rasulullah
Ketika Sahabat Berprasangka Buruk kepada Rasulullah
Para sahabat Rasulullah adalah manusia biasa. Tidak terjaga dari melakukan perbuatan dosa (maksum). Terkadang mereka melakukan kesalahan dan kekhilafan sebagaimana umat Islam pada umumnya. Sebagian dari mereka juga pernah ada yang berprasangka buruk atau protes terhadap apa yang dilakukan Rasulullah. 

Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Sebagaimana manusia biasa, prasangka buruk sebagian sahabat itu terjadi ketika keputusan Rasulullah dianggap tidak adil atau ‘tidak menguntungkan’ kelompok atau sukunya. Mereka lantas melayangkan nota protes kepada Rasulullah. Namun setelah Rasulullah menjelaskan apa maksud dan tujuannya, mereka bisa menerimanya dengan baik. Bahkan menyesali aksi protesnya.

Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), pada saat perang Hunain Rasulullah memberikan unta untuk al-Aqra’ bin Habis dan Uyainah. Masing-masing 100 ekor unta. Ternyata, keputusan Rasulullah itu dianggap tidak adil bagi sebagian sahabat. Mereka bahkan menuduh Rasulullah kalau pemberian itu tidak dilandasi untuk mendapatkan ridha Allah. 

Usai perang, ada seorang sahabat yang mendatangi Rasulullah. Dia protes karena Rasulullah hanya memberi unta kepada al-Aqra’ bin Habis dan Uyainah. Sementara Ju’ail bin Saraqah tidak dikasih unta barang seekor pun. 

Rasulullah lantas menjelaskan mengapa dia melakukan itu. Kata Rasulullah, Ju’ail bin Saraqah sudah mantap dan kokoh keislamannya sehingga tidak perlu diberi harta benda. Sementara Uyainah dan al-Aqra diberi unta –masing-masing 100 ekor- agar keislaman mereka menjadi kuat. Karena mereka termasuk al-muallafah qulububum (orang yang dilunakkan hatinya), sementara Ju’ail bin Saraqah tidak.

Begitu pun setelah perang Hawazin, Rasulullah memberikan ghanimah hanya kepada kaum Muhajir dan al-muallafah qulububum, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian. Tentu saja hal ini memicu prasangka buruk dan gelombang protes dari kaum Anshar. Bahkan, Hassan bin Tsabit membuat syair kritikan untuk Rasulullah karena kebijakan Rasulullah itu dianggap tidak adil, berat sebelah, dan lebih mengutamakan kaumnya sendiri.

Sa’ad bin Ubadah dari kaum Anshar lalu menghadap Rasulullah dan memberi tahu tentang hal itu. Rasulullah lantas menyuruh Sa’ad bin Ubadah untuk mengumpulkan kaumnya di dalam satu tempat. Setelah semuanya berkumpul, Rasulullah berdiri di hadapan mereka dan menyampaikan khutbah tentang kebijakannya itu. Mengapa kaum Muhajirin dan al-muallafah qulububum yang mendapatkan bagian, sementara kaum Anshar tidak?

“Wahai kaum Anshar, tidakkah kamu merelakan sedikit harta yang bisa aku gunakan untuk menarik suatu kaum supaya masuk Islam. (Ketahuilah) saya sangat yakin dengan keislaman kalian (sehingga tidak perlu mendapatkan bagian itu)?” kata Rasulullah dalam khutbahnya.

“Wahai kaum Anshar tidakkah kamu rela, orang-orang pulang bersama kambing dan unta sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah?”

“Demi Dzat yang Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, kalau tidak ada (takdir untuk) hijrah, tentu saya (ingin) menjadi orang Anshar. Kalau seandainya orang-orang melewati satu jalan dan orang Anshar melewati jalan lain, tentu saya akan melewati jalan yang dilewati oleh kaum Anshar.” 

Di akhir khutbahnya, Rasulullah mendoakan agar kaum Anshar, anak-anak, dan cucu-cucunya mendapatkan kasih sayang dari Allah. Kaum Anshar menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Rasulullah. Mereka membetulkan semua yang disampaikan Rasulullah. Rela atas kebijakan Rasulullah dalam pembagian ghanimah tersebut. Setelah mendengarkan khutbah Rasulullah, mereka menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi jenggotnya. (A Muchlishon Rochmat)