IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Menangis Saat Shalat, Batalkah?

Sabtu 23 Februari 2019 9:30 WIB
Menangis Saat Shalat, Batalkah?
Ilustrasi (via Pixabay)
Salah satu hal yang membatalkan shalat adalah berbicara pada saat shalat selain ayat Al-Qur’an atau dzikir. Sehingga ketika seseorang sedang melakukan shalat lalu ia melafalkan ucapan yang terdiri dari dua huruf hijaiyah seperti kata “bar” yang terdiri dari huruf “ba” dan “ra” atau satu huruf hijaiyah namun memiliki makna, seperti lafal “qi” yang memiliki arti “jagalah”, maka shalatnya menjadi batal. Rasulullah dalam salah satu haditsnya menjelaskan:

إن هذه الصلاة لا يصلح فيها شيء من كلام الناس

“Sesungguhnya Shalat ini sama sekali tidak patut ketika didalamnya terdapat perkataan manusia” (HR. Muslim)

Berdasarkan ketentuan di atas, dapat dipahami bahwa standar penghitungan jumlah bilangan dalam perkataan yang dapat membatalkan ibadah shalat bukan didasarkan pada bahasa setempat (dalam hal ini huruf alfabet Latin), tapi pada huruf hijaiyah yang memang menjadi standar pelafalan bahasa Arab.

Namun terkadang munculnya huruf-huruf hijaiyah dari mulut seseorang bukan berasal dari perkataan yang sengaja diucapkannya dalam bentuk pembicaraan, tapi lewat hal-hal lain seperti menangis, berdehem, batuk, dan perbuatan lain yang seringkali memunculkan huruf-huruf tertentu.

Baca juga:
Serdawa ketika Shalat, Batalkah?
Hukum Menahan Tawa ketika Shalat
Dari berbagai hal di atas, permasalahan yang penting untuk disikapi adalah tentang menangis saat shalat. Benarkah menangis saat shalat dapat membatalkan shalat yang dilakukan seseorang?

Dalam menjawab hukum menangis saat shalat, rupanya para ulama Syafi’iyah berbeda pendapat soal apakah menangis termasuk sebagai jenis perkataan atau tidak. Menurut pendapat yang kuat, menangis termasuk jenis perkataan, sehingga ketika dari tangisan seseorang muncul dua huruf hijaiyah, maka shalatnya dihukumi batal, sedangkan ketika tangisannya hanya sebatas tetesan air mata saja atau hanya memunculkan suara yang samar dan tidak terkandung dua huruf hijaiyah di dalamnya, maka shalatnya tetap dihukumi sah.

Pendapat kedua berpandangan bahwa menangis bukan bagian dari jenis perkataan, sehingga ketika seseorang menangis pada saat shalat, bagaimanapun bentuk tangisannya maka shalatnya tetap dihukumi sah. Perbedaan pandangan di atas secara tegas dijelaskan dalam kitab Hasyiyata al-Qulyubi wa ‘Umairah:

 ـ (والأصح أن التنحنح والضحك والبكاء والأنين والنفخ إن ظهر به) أي بكل مما ذكر (حرفان بطلت وإلا فلا) تبطل به ، والثاني لا تبطل به مطلقا لأنه ليس من جنس الكلام 

“Menurut qaul ashah (pendapat yang paling benar) bahwa berdehem, tertawa, menangis, merintih, dan meniup, ketika tampak dari perbuatan tersebut dua huruf, maka dapat membatalkan shalat; jika tidak tampak, maka shalat tetap sah (tidak batal). Pendapat kedua berpandangan bahwa hal-hal tersebut tidak membatalkan shalat secara mutlak, sebab bukan merupakan bagian dari jenis perkataan” (Syihabuddin al-Qulyubi dan Ahmad al-Barlasi ‘Umairah, Hasyiyata al-Qulyubi wa ‘Umairah, juz 2, hal. 499)

Perbedaan hukum di atas juga berlaku meskipun penyebab tangisan seseorang adalah hal akhirat, misalnya menangis karena terlalu khusyu’ dalam memikirkan kandungan arti bacaan shalat. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-‘Iqna’:

ـ (و) العاشر (القهقهة) في الضحك بخروج حرفين فأكثر، والبكاء: ولو من خوف الآخرة، والانين والتأوه والنفخ من الفم أو الانف مثل الضحك إن ظهر بواحد مما ذكر حرفان فأكثر كما مرت الاشارة إليه

“Perkara yang membatalkan kesepuluh adalah tertawa dengan mengeluarkan dua huruf atau lebih. Adapun menangis, meskipun karena kekhawatiran pada hal akhirat, merintih, mengerang kesakitan,  meniup dari mulut atau hidung itu hukumnya sama dengan tertawa (dapat membatalkan) jika tampak dari perbuatan tersebut dua huruf atau lebih, seperti halnya yang telah dijelaskan.” (Syekh Khatib Asy-Syirbini, al-Iqna’ ala Alfadz al-Minhaj, juz 1, hal. 140)

Namun hukum di atas dikecualikan ketika penyebab tangisan pada seseorang saat shalat terjadi karena terdesak. Dalam arti, seseorang menangis saat shalat tanpa ada upaya dari dirinya sendiri dan tanpa disadari olehnya tiba-tiba dirinya menangis sampai mengeluarkan dua huruf atau lebih. Maka dalam keadaan ini, shalatnya tetap dihukumi sah ketika huruf yang muncul dari tangisan tersebut hanya sedikit. Dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib menjelaskan perihal tentang hukum ini:

ـ (حرفان) أو حرف مفهم كما هو ظاهر . نعم إن غلبه لم يضر إن قلت الحروف عرفا وكالضحك فيما تقرر البكاء ونحوه سم

“Maksud dari dua huruf juga mencakup satu huruf tapi yang dapat memahamkan, seperti yang sudah jelas. Memang benar ketika seseorang melakukan hal di atas karena terdesak, maka tidak membahayakan terhadap shalatnya, jika memang huruf yang keluar hanya sedikit secara urf. Seperti halnya tertawa dalam ketentuan hukum yang telah dijelaskan adalah menangis dan lainnya.” (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 4, hal. 454)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa para ulama Syafi’iyah berbeda pandangan dalam menyikapi hukum menangis saat shalat. Menurut qaul ashah (pendapat terkuat), menangis dapat membatalkan shalat ketika tampak dua huruf hijaiyah dari tangisannya. Bila tak ada kata-kata yang terucap tentu tidak ada masalah. Sedangkan menurut pendapat muqabil al-ashah (pembanding qaul ashah) menangis secara mutlak tidak membatalkan shalat. Perbedaan pendapat ini sama-sama dapat diamalkan dan merupakan hal yang biasa terjadi di antara para ulama dalam menyikapi berbagai hukum. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Ahad 17 Februari 2019 11:30 WIB
Bolehkah Mengqashar Shalat yang Diqadha ketika Tiba di Rumah?
Bolehkah Mengqashar Shalat yang Diqadha ketika Tiba di Rumah?
(Foto: @info-islam.ru)
Qashar merupakan salah satu keringanan dalam ibadah yang di dapatkan bagi seseorang yang sedang bepergian jauh. Menurut Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam Kitab Tanwirul Qulub, jarak bepergian yang memperbolehkan untuk mengqashar adalah sekitar 80,6 Kilometer. Ketika  jarak tempuh bepergian seseorang melebihi dari jarak tersebut, maka boleh baginya untuk mengqashar shalatnya. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam firman Allah:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرض فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصلاة إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الذين كفروا

Artinya, “Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qashar shalat, jika kamu takut di serang orang kafir,” (Surat An-Nisa’ ayat 101).

Diksi “takut diserang orang kafir” dalam ayat di atas bukanlah suatu syarat dalam bolehnya melaksanakan qashar sehingga melaksanakan qashar tetap boleh meskipun tidak ada kekhawatiran atas serangan oleh pihak tertentu.

Namun kadang kala dalam perjalanan sering kali terjadi berbagai macam problem yang tidak sesuai dengan rencana. Tak jarang orang yang bepergian mengalami kendala dalam hal melaksanakan shalat sesuai dengan waktu shalat yang telah ditentukan.  Baik karena faktor jadwal yang tidak menentu, atau karena faktor lain.

Shalat yang awalnya dapat dijamak dan diqashar ketika berada di perjalanan, menjadi tidak terlaksana, hingga akhirnya shalat tersebut baru dapat dilaksanakan ketika telah sampai di rumah dengan bentuk qadha, karena waktu shalat yang telah terlewat.

Dalam keadaan demikian muncul sebuah pertanyaan, bolehkah mengqadha shalat tersebut di rumah atau di tempat tujuan dengan cara diqashar?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut dalam Mazhab Syafi’i terdapat dua pandangan. Pertama, menurut qaul qadim (pendapat lama Imam Syafi’i) yang berpandangan boleh baginya untuk mengqadha shalat tersebut dengan cara diqashar, sebab hakikat dari shalat tersebut adalah shalat yang mestinya dilaksanakan di perjalanan dan dapat diqashar, maka tidak ada bedanya ketika shalat tersebut dilaksanakan pada waktunya atau dengan cara diqadha’ di rumah.

Pendapat kedua, menurut qaul jadid (pendapat baru Imam Syafi’i) tidak boleh bagi seseorang dalam permasalahan di atas mengqadha shalat ketika telah sampai di rumah dengan cara qashar, sebab bolehnya mengqashar shalat hanya ketika terdapat udzur berupa bepergian, sedangkan ketika ia sudah tidak lagi bepergian, maka keringanan mengqashar shalat menjadi hilang. Perbedaan pendapat ini secara tegas dijelaskan dalam Kitab Al-Muhadzab:

إذا فاتته صلاة في السفر فقضاها في الحضر ففيه قولان قال في القديم له أن يقصر لانها صلاة سفر فكان قضاؤها كأدائها في العدد كما لو فاتته في الحضر فقضاها في السفر وقال في الجديد لا يجوز له القصر وهو الأصح لانه تخفيف تعلق بعذر فزال بزوال ذلك العذر كالقعود في صلاة المريض

Artinya, “Ketika shalat dalam keadaan perjalanan terlewat lalu seseorang mengqadha shalat tersebut di rumah, maka terjadi dua pendapat. Menurut Qaul Qadim, boleh baginya untuk mengqashar shalat karena shalat tersebut merupakan shalat yang dilakukan dalam keadaan pejalanan maka hukum mengqadhanya sama persis dengan melaksanakan shalat tersebut pada waktunya (yaitu dapat diqashar) dalam hal bilangan rakaat. Seperti halnya terlewatnya shalat pada saat mukim dan diqadha pada saat bepergian.

Sedangkan menurut Qaul Jadid, shalat di atas tidak boleh diqashar. Pendapat ini merupakan pendapat yang paling benar (al-ashahh), sebab qashar merupakan bentuk keringanan yang berhubungan dengan uzur (dalam hal ini adalah bepergian), maka keringanan ini menjadi hilang bersamaan dengan hilangnya uzur tersebut. Seperti halnya keringanan shalat dengan cara duduk bagi orang yang sakit,” (Lihat Syekh  Abu Ishaq As-Sairazi, Al-Muhadzab, juz I, halaman 103-104).

Meski dalam referensi di atas secara tegas dijelaskan bahwa terjadi perbedaan pendapat dalam permasalahan mengqadha shalat yang dapat diqashar ketika telah sampai di rumah, namun dalam ranah amaliyah, terdapat ketentuan bahwa ketika terjadi perbedaan antara qaul qadim dan qaul jadid, maka yang dimenangkan adalah pendapat dari qaul jadid.

Sebab itu dalam permasalahan ini, baiknya bagi kita untuk berpijak pada pendapat qaul jadid yang berpandangan tidak boleh untuk mengqadha’ shalat di rumah dengan cara qashar.

Sedangkan ketika mengqadha shalat yang dapat diqashar dilakukan ketika masih dalam keadaan bepergian, maka juga terjadi perbedaan pendapat di antara ulama’. Perbedaan tersebut dijelaskan dalam lanjutan referensi di atas:

وإن فاتته في السفر فقضاها في السفر ففيه قولان أحدهما لا يقصر لانها صلاة ردت من أربع إلى ركعتين فكان من شرطها الوقت كصلاة الجمعة والثاني له أن يقصر وهو الأصح لانه تخفيف تعلق بعذر والعذر باق فكان التخفيف باقيا كالقعود في صلاة المريض 

Artinya, “Jika shalat dalam keadaan bepergian terlewat, namun seseorang mengqadhanya juga pada saat bepergian, maka juga terdapat dua perbedaan pendapat. Pertama, tidak dapat di qashar karena shalat ini merupakan shalat yang awalnya empat rakaat diubah menjadi dua rakaat, dan salah satu syaratnya adalah dilaksanakan pada waktunya, seperti halnya yang terjadi pada shalat Jumat.

Kedua, boleh baginya untuk mengqashar shalat, pendapat ini merupakan pendapat yang paling benar (al-ashahh), karena shalat qashar merupakan bentuk keringanan yang berhubungan dengan uzur, sedangkan uzur dalam hal ini masih tetap, seperti halnya keringanan duduk pada shalatnya orang yang sakit.

Jika shalat terlewat pada saat mukim, lalu seseorang hendak mengqadhanya di waktu perjalanan maka tidak boleh baginya untuk mengqashar shalat, sebab yang menjadi tanggungannya adalah shalat secara sempurna (bukan dalam bentuk qashar), maka tidak boleh baginya untuk mengqashar, seperti halnya orang yang bernazar untuk shalat empat rakaat,” (Lihat Syekh  Abu Ishaq As-Sairazi, Al-Muhadzab, juz I, halaman 104).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengqadha shalat yang dapat diqashar ketika dilaksanakan di rumah atau di tempat tujuan, maka tidak boleh untuk dilaksanakan dengan cara qashar, berdasarkan pendapat qaul jadid dalam Madzhab Syafi’i. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)
Rabu 13 Februari 2019 20:0 WIB
Kucing Lewat di Depan Orang Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Kucing Lewat di Depan Orang Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi (Anadolu Agency)
Seringkali seseorang mengalami berbagai macam problem yang terjadi saat tengah melakukan shalat, salah satunya ketika terdapat hewan yang melintas di depannya. Kucing merupakan salah satu hewan yang seringkali berlalu lalang di berbagai tempat, termasuk di sekitar orang yang sedang shalat. Dalam hal ini, ketika kucing melintasi orang yang sedang shalat, apakah shalatnya menjadi batal?

Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab menegaskan bahwa lewatnya manusia atau hewan di depan orang yang sedang shalat tidak sampai berakibat pada batalnya shalat tersebut. Bahkan pendapat ini merupakan pandangan mayoritas ulama kecuali menurut imam Hasan al-Basri. Berikut penjelasan beliau:

إذا صلى إلى سترة فمر بينه وبينها رجل أو امرأة أو صبي أو كافر أو كلب أسود أو حمار أو غيرها من الدواب لا تبطل صلاته عندنا قال الشيخ أبو حامد والأصحاب وبه قال عامة أهل العلم الا الحسن البصري

“Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas) lalu ada seorang lelaki atau wanita, anak kecil, orang kafir, anjing hitam, keledai  atau hewan-hewan yang lain melewatinya maka hal tersebut tidak membatalkan shalatnya, menurut mazhab kami (mazhab Syafi’i). Syekh Abu Hamid dan para murid Imam Syafi’i berkata, ‘Pendapat ini juga dijadikan pijakan para ulama secara umum kecuali Imam Hasan al-Basri’.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, hal. 250)

Imam Hasan al-Basri berpandangan berbeda dengan mengatakan shalat seseorang akan menjadi batal ketika dilintasi oleh manusia ataupun hewan. Pendapat beliau ini salah satunya didasarkan pada hadits: 

يَقْطَعُ الصَّلاَةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ

“Wanita, keledai dan anjing dapat memutus shalat” (HR Muslim)

Para ulama yang berbeda pendapat dengan Hasan al-Bisri tidak memaknai hadits sahih tersebut secara tekstual. Sebab bagi mereka hal itu akan bertentangan dengan berbagai macam konsep dan ketentuan yang terdapat dalam bab shalat. Sehingga hadits di atas harus ditakwil, misalnya seperti takwil yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i bahwa maksud dari “memutus shalat” dalam redaksi hadits tersebut adalah memutus kekhusyuan shalat, sehingga tidak sampai membatalkan  shalat. Penjelasan ini dijelaskan dalam referensi yang sama:

وأما الجواب عن الأحاديث الصحيحة التي احتجوا بها فمن وجهين أصحهما وأحسنهما ما أجاب به الشافعي والخطابي والمحققون من الفقهاء والمحدثين أن المراد بالقطع القطع عن الخشوع والذكر للشغل بها والالتفات إليها لا أنها تفسد الصلاة

“Dalam menjawab berbagai macam hadits shahih yang dijadikan dalil oleh para ulama atas batalnya shalat, maka dapat dijawab dari dua sudut pandang. Sedangkan jawaban yang paling sahih dan paling baik yaitu jawaban yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i, al-Khuthabi dan ulama muhaqqiqun dari para pakar fikih dan hadits bahwa yang dimaksud dengan memutus shalat adalah memutus kekhusyu’an shalat dan dzikir karena disibukkan dengan wanita, keledai dan anjing yang lewat dan menoleh kepadanya, bukan malah diartikan merusak terhadap shalat yang dilakukannya” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, Hal. 251)

Berdasarkan berbagai pertimbangan dalam referensi di atas, maka lewatnya kucing di depan orang yang shalat bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan sebab tidak sampai membatalkan shalat. 

Meski begitu, orang yang shalat tetap dianjurkan untuk mencegah kucing tersebut lewat di depannya, seperti halnya anjuran untuk mencegah orang agar tidak melintas di depan seseorang yang sedang shalat. Seperti dijelaskan dalam hadits:

إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه

“Ketika kalian shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas), lalu ada seseorang yang hendak akan lewat di depan kalian, maka cegahlah” (HR Bukhari Muslim)

Mencegah kucing yang hendak lewat di depan seseorang yang sedang lewat harus dilakukan dengan gerakan yang sedikit, sekiranya tidak sampai tiga gerakan. Sebab jika sampai melakukan gerakan yang banyak, maka shalatnya akan batal. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab  Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ومحله إذا لم يأت بأفعال كثيرة وإلا بطلت

“Mencegah orang yang lewat hanya ketika tidak sampai melakukan gerakan yang banyak, jika sampai melakukan gerakan yang banyak maka shalatnya batal.” (Syekh Abu Bakar Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, Juz 1, Hal. 222) 

Berbeda halnya ketika dalam tubuh kucing terdapat benda najis, seperti di kakinya misalnya. Maka dalam keadaan demikian mencegah kucing tersebut agar tidak melewati tempat di depannya menjadi lebih dianjurkan. Sedangkan ketika kucing sudah terlanjur lewat, maka orang yang shalat harus beranjak pada tempat yang lain, agar tidak terkena najis yang terdapat pada tempat yang dilewati oleh kucing, agar shalatnya tidak menjadi batal. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Rabu 13 Februari 2019 15:30 WIB
Hukum Memakai Kaos Partai saat Shalat di Masjid
Hukum Memakai Kaos Partai saat Shalat di Masjid
Ilustrasi (via ctvnews.ca)
Pada tahun politik ini, masyarakat banyak membicarakan tentang pemilu. Masing-masing memiliki calon pemimpin yang mereka jagokan. Beberapa aksi dukungan tampak berdatangan baik melalui media sosial atau di dunia nyata. Saat berkampanye, tidak lepas dari beberapa atribut yang identik dengan partai politik atau calon yang didukung, seperti jaket, kaos, bendera partai, syal dan lain sebagainya. Terkadang, saat mereka beristirahat sejenak untuk menunaikan shalat di masjid, atribut tersebut masih dikenakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana hukum memakai atribut kampanye, semisal kaos partai saat menunaikan shalat di masjid?

Dalam aturan fiqih, tidak ada aturan baku mengenai pakaian yang dikenakan saat shalat. Semua jenis pakaian apa pun, asalkan suci dan dapat menutupi aurat, maka boleh dan sah digunakan shalat, termasuk di antaranya kaos partai. Aurat laki-laki dalam shalat adalah anggota di antara pusar dan lutut. Sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Kebolehan memakai kaos partai saat shalat tersebut juga berlaku ketika shalat dilaksanakan di masjid.

Syekh Abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khairn al-Umrani mengatakan:

ويجب ستر العورة بما لا يصف لون البشرة، وهو: صفة جلده: أنه أسود، أو أبيض، وذلك يحصل بالثوب، والجلد، وما أشبههما

“Wajib menutup aurat dengan penutup yang tidak dapat menampakan warna kulit, yaitu sifatnya kulit meliputi hitam atau putih. Menutupi aurat bisa hasil dengan pakaian, kulit dan yang menyerupai keduanya.” (Syekh Abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khairn al-Umrani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i, juz 2, hal. 120).

Berkaitan dengan keharusan memakai pakaian yang suci, Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi menegaskan:

ويكون ستر العورة بلباس طاهر

“Dan menutup aurat wajib dengan pakaian yang suci.” (Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, Fath al-Qarib, hal. 30)

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mengenakan kaos partai saat shalat hendaknya dihindari, karena dua hal.  Pertama, ada anjuran untuk mengenakan pakaian yang sopan dan layak menurut pandangan umum saat shalat. Dalam titik ini, memakai kaos partai saat shalat tergolong kurang etis dalam budaya daerah kita. Kedua, ada anjuran untuk menghindari pakaian yang bergambar. Dalam kenyataannya, kaos partai tidak bisa dilepaskan dari gambar. Dalam literatur mazhab Syafi’i, hukumnya makruh memakai pakaian yang terdapat gambarnya.

Berkaitan dengan anjuran memakai pakaian yang sopan secara adat, Syekh Abu Bakr bin Syatha menegaskan:

ـ (قوله ويسن أن يلبس أحسن ثيابه) أي ويحافظ على ما يتجمل به عادة ولو أكثر من اثنين لظاهر قوله تعالى {يا بني آدم خذوا زينتكم عند كل مسجد} ولقوله صلى الله عليه وسلم إذا صلى أحدكم فليلبس ثوبيه فإن الله أحق أن يزين له

“Ucapan Syekh Zainuddin, sunah memakai pakaian terbaiknya, dan juga menjaga pakaian yang indah/ sopan secara adat, meski lebih dari dua jenis pakaian. Hal ini berdasarkan makna lahir dari firman Allah, pakailah perhiasaaan kalian setiap kali shalat, dan berdasarkan sabda Nabi, bila salah satu dari kalian shalat, maka pakailah dua pakaiannya, sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditampakan keindahan kepadaNya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’nah al-Thalibin, juz 1, hal. 114).

Berkaitan dengan kemakruhan memakai pakaian bergambar saat shalat, Syekh Taqiyuddin al-Hishni menegaskan:

ويكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل

“Makruh shalat mengenakan baju yang bergambar.” (Syekh Taqiyuddin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, juz 1, hal. 93).

Di sisi lain, memakai kaos partai, di mana pun tempatnya, masih disangsikan kehalalannya. Terdapat perdebatan panjang mengenai hukum menerima kaos partai dari tim sukses, apakah termasuk menerima risywah (suap) yang diharamkan atau bukan. Sebab ketiadaan nash sharih baik dari Al-Qur’an, hadits, atau statemen para ulama dalam kutub al-turats (literatur toritatif tradisional). 

Walhasil, memakai kaos partai saat shalat sebaiknya dihindari, terlebih jika dilakukan di masjid. Sebab kita diajarkan untuk menghadap Allah dengan pakaian yang indah, sopan dan bersih dari keharaman serta perkara syubhat. Dan agar masjid dibersihkan dari aroma politik. Bila saat menghadap presiden atau pemimpin, kita betul-betul menyiapkan penampilan sebaik mungkin, bagaimana mungkin saat menghadap Sang Maha-Pencipta kita memakai baju yang tidak sopan?

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)