IMG-LOGO
Thaharah

Memakai Plester Luka, Wajibkah Melepasnya saat Wudhu?

Senin 25 Februari 2019 12:0 WIB
Share:
Memakai Plester Luka, Wajibkah Melepasnya saat Wudhu?
Ilustrasi (via eyeni.biz)
Luka di tubuh bisa memunculkan sejumlah persoalan, termasuk dalam konteks keabsahan ritual bersuci seperti wudhu dan mandi wajib. Jika hanya sebatas luka ringan dan ia tidak membalutnya dengan plester perekat luka atau perban, maka dalam hal ini cara bersucinya sama persis seperti cara bersuci biasanya yakni membasuh seluruh bagian tubuh yang wajib dibasuh, termasuk membasuh luka itu. 

Namun jika luka ringan tersebut dibalut dengan plester perekat luka dengan tujuan agar luka ringannya cepat sembuh, maka dalam hal ini wajib baginya untuk mencopot plester tersebut serta membersihkan sisa-sisa kotoran perekat plester yang biasa melekat pada kulit. Tujuannya, agar air dapat sampai pada kulit yang wajib dibasuh, pada kulit di sekitar bagian luka bila memang luka tidak boleh terkena air. Umumnya, luka yang dibalut plester hanyalah luka ringan yang tak membahayakan kulit atau anggota tubuh seandainya plester dilepas. Ketentuan demikian seperti dijelaskan dalam kitab al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i:

فإذا وضع الجبيرة، ثم أراد الغسل أو الوضوء، فإن كان لا يخاف من نزعها ضررً نزعها وغسل ما يقدر عليه من ذلك، وتيمم عما لا يقدر عليه

“Ketika melekatkan perban, lalu ia hendak melaksanakan mandi wajib atau wudhu, maka jika ia tidak khawatir adanya bahaya (ketika perban dilepas) maka wajib untuk melepas perban tersebut dan wajib pula membasuh bagian yang dapat dibasuh dari luka tersebut dan wajib tayammum atas bagian yang tidak dapat dibasuh.” (Syekh Yahya bin Abi al-Khair bin Salim al-Yamani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 331)

Baca juga:
Cara Berwudhu Anggota Badan yang Diperban
Kapan Orang dengan Luka Diperban Wajib Mengulang Shalatnya?
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?

Sedangkan jenis luka yang selain menggunakan pembalut luka (plester), seperti luka berat yang biasa diperban atau dipasang gips, maka tidak wajib untuk melepasnya ketika memang khawatir akan terjadi bahaya pada dirinya. Batasan khawatir terjadinya bahaya (dlarar) pada permasalahan ini adalah sekiranya ketika perban atau gips dilepas, akan terjadi bahaya (1) hilangnya nyawa, (2) hilangnya fungsi anggota tubuh, (3) sembuhnya luka semakin lama, atau (4) bertambah sakitnya luka. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam lanjutan referensi di atas:

وإن خاف من نزعها تلف النفس، أو تلف عضو، أو إبطاء البرء أو الزيادة في الألم إذا قلنا: إنه كخوف التلف.. لم يلزمه حلها، ولزمه غسل ما جاوز موضع الشد، والمسح على الجبيرة

Namun jika perban tersebut dilepas ia khawatir salah satu dari rusaknya tubuh (hilangnya nyawa) atau anggota tubuh atau kesembuhan yang lama atau bertambah parahnya luka -ketika kita berpijak  pada pendapat bahwa hal tersebut sama seperti khawatir rusaknya tubuh- maka tidak wajib untuk melepas perban, namun tetap wajib membasuh anggota tubuh  di luar ikatan perban dan mengusap dengan air pada perban tersebut” (Syekh Yahya bin Abi al-Khair bin Salim al-Yamani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i, Juz 1, Hal. 331)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melepas plester perekat luka adalah hal yang wajib dilakukan ketika hendak melakukan wudhu atau mandi wajib, sebab tidak tergolong sebagai luka yang membahayakan ketika plester dilepas. Sedangkan dalam hal wajib tidaknya membasuhkan air pada luka tersebut, maka diperinci: seandainya luka tidak bahaya jika terkena air maka wajib untuk dibasuh; namun jika akan terjadi bahaya maka tidak wajib membasuh luka tersebut dengan air, namun diganti dengan tayammum. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri

Share:
Sabtu 23 Februari 2019 19:0 WIB
Kotoran di Bawah Kuku, Apakah Menghalangi Sahnya Wudhu?
Kotoran di Bawah Kuku, Apakah Menghalangi Sahnya Wudhu?
Ilustrasi (via wired.com)
Salah satu syarat sahnya wudhu adalah tidak adanya benda-benda yang melekat dalam kulit yang wajib dibasuh. Syarat ini dimaksudkan agar seluruh anggota wudhu dapat terbasuh dengan air.  Jadi, ketika terdapat benda atau kotoran yang melekat pada kulit seseorang, lalu ia wudhu tanpa menghilangkan benda dan kotoran tersebut, maka wudhu yang dilakukan olehnya dihukumi tidak sah. 

Namun, apakah ketentuan tersebut juga berlaku pada kotoran-kotoran yang terdapat pada kuku, mengingat hal tersebut sering sekali terjadi?

Dalam menjelaskan status kotoran yang terdapat di bawah kuku, para ulama terjadi perbedaan pendapat dalam tiga pandangan.

Pertama, status kotoran di bawah kuku sama seperti kotoran-kotoran lain yang dianggap sebagai benda yang menghalangi sampainya air pada kulit di bawah kuku, maka wujudnya kotoran ini dianggap sebagai hal yang menghalangi sahnya wudhu. Pendapat ini dijadikan pijakan oleh banyak ulama Syafi’iyah.

Kedua, status kotoran di bawah kuku bukan sebagai penghalang sahnya wudhu, sebab kotoran-kotoran ini merupakan hal yang sering terjadi (‘umum al-balwa) pada banyak orang dan sulit untuk menghilangkannya pada setiap akan memulai wudhu. Kotoran kuku yang dimaksud  mengecualikan terhadap kotoran-kotoran yang jarang melekat dalam kuku, seperti kotoran yang muncul dari adonan roti, tepung, mentega dan hal sesamanya, maka dalam jenis kotoran demikian wajib bagi seseorang untuk menghilangkannya. Pendapat demikian merupakan pandangan Imam al-Ghazali, az-Zarkasyi dan ulama lainnya.

Ketiga, kotoran di bawah kuku yang ditoleransi (ma’fu) hanya terbatas pada kotoran yang berasal dari tubuh, misalnya seperti keringat yang muncul dari kulit lalu melekat dalam bawah kuku, maka kotoran jenis demikian tetap tidak berpengaruh dalam keabsahan wudhu. Sedangkan kotoran yang berasal dari benda lain, seperti dari debu, tanah dan semacamnya maka dapat mencegah sahnya wudhu. Klasifikasi tersebut tidak hanya berlaku pada kotoran di bawah kuku, tapi juga berlaku pada kotoran-kotoran lain yang melekat dalam anggota wudhu. Pendapat ini merupakan pandangan Imam al-Baghawi. 

Ketiga pendapat di atas dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وكذا يشترط على ما جزم به كثيرون أن لا يكون وسخ تحت ظفر يمنع وصول الماء لما تحته خلافا لجمع منهم الغزالي والزركشي وغيرهما وأطالوا في ترجيحه وصرحوا بالمسامحة عما تحتها من الوسخ دون نحو العجين 
 وأشار الأذرعي وغيره إلى ضعف مقالتهم 
 وقد صرح في التتمة وغيرها بما في الروضة وغيرها من عدم المسامحة بشيء مما تحتها حيث منع وصول الماء بمحله 
 وأفتى البغوي في وسخ حصل من غبار بأنه يمنع صحة الوضوء بخلاف ما نشأ من بدنه وهو العرق المتجمد 

“Begitu juga disyaratkan (dalam keabsahan wudhu) seperti yang diyakini oleh banyak ulama bahwa tidak diperbolehkan wujudnya kotoran di bawah kuku yang dapat menghalangi sampainya air pada bagian kulit di bawah kuku. Hukum tersebut berbeda menurut sekumpulan ulama diantaranya imam al-Ghazali, Imam az-Zarkasyi dan imam-imam lainnya. Mereka memberi penjelasan yang panjang dalam mengunggulkan pendapat ini dan menegaskan bahwa kotoran yang berada di bawah kuku adalah hal yang ditolelir dalam keabsahan wudhu kecuali kotoran tersebut berupa kotoran-kotoran sejenis adonan roti. 

Sedangkan Imam al-Adzra’i mengisyaratkan lemahnya pendapat mereka dan menjelaskan dalam kitab at-Tatimmah dan kitab lainnya dengan berpijak pada penjelasan dalam kitab ar-Rawdhah dan kitab lainnya bahwa kotoran di bawah kuku tidak dapat ditolelir, sekiranya kotoran tersebut mencegah sampainya air pada tempat di bawah kuku. Sedangkan Imam al-Baghawi memfatwakan bahwa  kotoran yang berasal dari debu dapat mencegah sahnya wudhu berbeda hukumnya ketika kotoran berasal dari hal yang muncul dari badan seseorang yaitu keringat yang mengeras (lalu menjadi kotoran)”  (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, Hal. 35)

Dari ketiga pendapat di atas, pendapat yang dianggap ringan dan tidak sulit untuk diamalkan adalah pendapat kedua, terlebih ketika diterapkan bagi orang awam. Sebab dengan berpijak pada pendapat tersebut, kotoran kuku yang berasal dari debu dan semacamnya dianggap bukan sebagai penghalang sahnya wudhu, selama jenis kotoran bukan berasal dari benda yang langka atau jarang melekat dalam bagian bawah kuku, karena jenis kotoran ini mudah untuk menghilangkannya. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Hawasyi Asy-Syarwani wa al-‘Ubadi:

ـ (أو جرم كثيف) كدهن جامد وكوسخ تحت الاظفار نهاية زاد شرح بافضل خلاف للغزالي اه قال الكردي عليه قال الزيادي في شرح المحرر وهذه المسألة مما تعم بها البلوى فقل من يسلم من وسخ تحت أظفار يديه أو رجليه فليتفطن لذلك انتهى وقال الشارح في حاشية التحفة وفي زيادات العبادي وسخ الاظفار لا يمنع جواز الطهارة لانه تشق إزالته بخلاف نحو العجين تجب إزالته قطعا لانه نادر ولا يشق الاحتراز عنه واختار في الاحياء والذخائر هذا فقال يعفى عنه وإن منع وصول الماء ما تحته

“Benda yang tebal -pada kulit- (dapat mencegah sahnya wudhu) seperti minyak yang mengeras dan seperti halnya kotoran yang berada di bawah kuku, berbeda halnya menurut pendapat Imam al-ghazali. Imam al-Kurdi berkata “Berkata Imam az-Zayadi dalam Syarh al-Muharrar “permasalahan ini merupakan sebagian dari hal yang umum terjadi, sedikit orang yang terhindar dari kotoran di bawah kuku kedua tangannya atau kakinya, hendaknya engkau mengerti hal tersebut” Asy-Syarih berkata dalam kitab Hasyiyah at-Tuhfah dan dalam Ziyadat al-‘Ubadi bahwa kotoran kuku tidak mencegah keabsahan bersuci sebab kotoran tersebut sulit untuk dihilangkan, berbeda halnya benda seperti adonan roti, maka wajib untuk menghilangkannya karena dianggap sangat langka dan tidak sulit untuk menghindarinya” pendapat tersebut dipilih dalam kitab al-Ihya’ dan ad-Dakhair, lalu beliau berkata “kotoran dibawah kuku merupakan hal yang di ma’fu meskipun sampai mencegah sampainya air terhadap bagian kulit dibawah kuku” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syarwani dan Ahmad bin Qasim al-‘Ubadi, Hawasyi asy-Syarwani wa al-‘Ubadi, Juz 1, Hal. 187). 

Ketiga pendapat di atas sama-sama dapat diamalkan, sebab berasal dari para ulama Syafi’iyah yang dapat dipertanggungjawabkan. Tinggal pendapat mana yang menurut kita lebih baik untuk diamalkan dan sesuai dengan pilihan kemantapan hati kita. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)


Selasa 12 Februari 2019 22:31 WIB
Adab Buang Air Menurut Imam Al-Ghazali
Adab Buang Air Menurut Imam Al-Ghazali
Foto: ilustrasi
Islam mengajarkan prinsip-prinsip kehidupan kepada manusia. Islam mengajarkan manusia bagaimana menjalani kehidupannya sebagai wakil Tuhan di dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari masalah yang besar, sampai masalah yang kecil-kecil. Namun, apa yang dijelaskan Allah dalam Al-Quran hanyalah prinsip-prinsipnya saja. 

Beberapa teknis kemudian dijelaskan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Namun, setelah kewafatan Nabi maka tonggak ajaran Islam dipegang oleh para ulama setelahnya.

Ulama adalah pewaris Nabi dalam masalah agama. Ungkapan tersebut adalah hadits nabi, maka selayaknyalah seorang muslim mengambil ilmu dari para ulama. Berikut ini adab masuk toilet/jamban menurut Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Hendaknya setiap orang muslim yang hendak masuk toilet/jamban melakukan hal-hal di bawah ini:

A. Jika buang air di WC/Toilet

1. Mendahulukan kaki kiri ketika hendak masuk ke toilet/jamban dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar.

2. Jangan membawa sesuatu yang di dalamnya adala Asma Allah dan Nabi/Rasulnya.

3. Hendaknya masuk dalam kondisi kepala memakai penutup (kopiah atau sejenisnya) dan memakai alas kaki.

4. Ketika hendak masuk (di depan pintu toilet) membaca doa berikut ini:

بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجْسِ الْخَبِيْثِ الْنُخْبِثِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

Artinya:
Dengan menyebut nama Allah aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang menjijikkan dan keburukan yang menjatuhkan manusia dalam keburukan yaitu Syaitan yang terkutuk


5. Ketika hendak keluar membaca doa berikut (dalam hati):

غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ للهِ الَّذِى أَذْهَبَ عَنِّى مَايُؤَذِّنِى وَأَبْقَى فِيْمَا يَنْفَعُنِى

Artinya:
Aku memohon ampunan kepadamu ya Allah dengan dengan sifat maha pengamounmu. Segala puji hanya milik Allah yang telah menghilangkan sesuatu yang berbahaya dariku dan menyisakan apa yang bermanfaat bagiku.

6. Hendaknya (tidak wajib) menyediakan (membawa) 3 (tiga) batu sebagai alat istinja (cebok) sebelum menggunakan air.
Mungkin batu adalah alat yang digunakan di masa itu. Masa ketika Imam Al-Ghazali menulis kitabnya. Namun untuk saat ini mungkin bisa diganti dengan tisu sebagaimana kebiasaan orang barat. Hanya saja, jika kebiasaan orang barat adalah menggunakan kertas tisu saja, maka Islam menganjurkan penggunaan air setelah menggunakan batu atau tisu untuk istinja.

7. Tidak boleh beristinja (cebok) di dalam tempat air (bak mandi) tempat istinja’ melainkan harus disiram di luar bak mandi.

8. Menuntaskan buang air (kecil) dengan berdehem 3 (tiga) kali dan memijat kemaluan 3 (tiga) kali. Maksudnya untuk memastikan dan supaya semua kotoran keluar dari tubuh.

9. Menggunakan tangan kiri untuk membersihkan kotoran pada kemaluan. Dan menggunakan tangna kanan untuk menyiramkan air.

B. Buang air di tempat agak terbuka (bukan di toilet)

1. Memilih tempat yang jauh dari keramaian dan menghindari sebisa mungkin dari kemungkinan dilihat orang. Gunakan penutup/pelindung yang aman.

2. Menutupi aurat ketika sedang buang air.

3. Jangan menghadap matahari maupun bulan dan juga membelakangi keduanya.

4. Tidak menghadap kiblat saat buang air dan juga tidak membelakanginya. 

5. Jangan berbicara ketika sedang buang air.

6. Tidak buang air di tempat-tempat sebagai berikut:

    a. Air yang menggenang (diam, tidak mengalir)
    b. Di bawah pohon yang berbuah
    c. Pada batu
    d. Tanah yang basah
    e. Tempat di mana angin bertiup kencang

7. Tidak boleh kencing dengan berdiri kecuali dalam kondisi darurat.

8. Menggunakan batu atau tisu yang disusul kemudian dengan air dalam beristinja (cebok). Jika harus memilih maka pilihlah air sebagai alat istinja. Namun jikalau memilih batu atau tisu sebagai alat pembersih maka pakailah batu atau tisu dengan agak banyak.

9. Gunakanlah tangan kiri saat membersihkan kemaluan dari kotoran.

C. Ketika selesai buang air (baik di toilet maupun tidak)

1. Membaca doa sebagaimana berikut:

أَللهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِى مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِى مِنَ الْفَوَخِشِ.

Artinya:
Ya Allah bersihkanlah hatiku dari sifat munafik dan jagalah kemaulanku dari berbagai kejelekan

2. Mengusapkan tangan kiri yang dipakai membersihkan kemaluan dari kotoran pada tanah. Di masa itu mungkin sabun belum ditemukan. Namun saat ini karena sudah ada sabun bisa dipakai untuk menggantikan pengusapan tangan pada tanah.

(Ahmad Nur Kholis)


Sumber:
Kitab Bidayah Hidayah oleh Imam Al-Ghazali.
Kitab Maraqil Ubudiyyah Syarah Bidayah oleh Syaikh Nawawi Banten.

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 17 Februari 2016 pukul 15:01 Redaksi mengunggahnya ulang tanpa penyuntingan.

Rabu 30 Januari 2019 16:0 WIB
Apakah Air Ketuban itu Najis?
Apakah Air Ketuban itu Najis?
Ilustrasi (WordPress.com)
Orang yang melahirkan tidak akan lepas dari wujudnya air ketuban yang keluar dari rahim sebelum keluarnya janin. Air ketuban sendiri merupakan cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Salah satu fungsi dari air ketuban di antaranya sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan, serta berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara. 

Menurut Wikipedia, saat persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim wanita yang hamil dapat membuka dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir janin.

Lalu bagaimanakah sebenarnya status dari air ketuban ini? Apakah air tersebut dihukumi suci atau najis?

Para ulama menghukumi air ketuban sebagai cairan yang najis, sehingga wajib untuk dibasuh sebelum melaksanakan shalat ketika air tersebut mengenai pakaian atau badan seseorang. Air ketuban disamakan dengan status air kencing lantaran bersumber dari bagian dalam tubuh. Setiap hal yang keluar dari kelamin yang bersumber dari dalam tubuh dihukumi najis, termasuk air ketuban ini. Berbeda halnya dengan cairan yang biasa keluar dari alat kelamin perempuan (keputihan) maka cairan tersebut dihukumi suci, karena sumber cairan ini bukan dari bagian tubuh yang dalam. Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Maliabari dalam kitab Fath al-Mu’in:

ورطوبة فرج، أي قبل على الاصح. وهي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق، يخرجمن باطن الفرج الذي لا يجب غسله، بخلاف ما يخرج مما يجب غسله فإنه طاهر قطعا، وما يخرج من وراء باطن الفرج فإنه نجس قطعا، ككل خارج من الباطن، وكالماء الخارج مع الولد أو قبله
ـ (قوله: وكالماء الخارج مع الولد) أي فإنه نجس

“Cairan yang terdapat dalam kelamin perempuan (jalan depan) dihukumi suci. cairan tersebut berwarna putih yang merupakan kombinasi antara air madzi dan air keringat. Cairan tersebut keluar dari dalam rahim yang tidak wajib dibasuh (ketika mandi besar). Berbeda halnya hukumnya dengan cairan yang keluar dari Rahim (kelamin) yang wajib dibasuh, maka cairan tersebut sangat dipastikan dihukumi suci. sedangkan cairan yang keuar dari belakang bagian dalam Rahim maka secara pasti dihukumi najis, seperti halnya setiap cairan yang keluar dari bagian dalam (tubuh) dan seperti cairan yang keluar bersamaan dengan janin atau cairan yang keluar sebelum keluarnya janin, maka sesungguhnya cairan ini dihukumi najis.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 104)

Hal lain yang patut diketahui, air ketuban bukan merupakan pertanda nifas yang membuat seorang wanita tidak wajib shalat, sebab ciri-ciri seseorang yang nifas adalah keluarnya darah dari rahim, sedangkan air ketuban bukan termasuk dari kategori tersebut. Sehingga, jika seorang wanita melahirkan namun sesuatu yang keluar dari rahimnya hanya berupa air ketuban, tanpa mengeluarkan darah, maka wanita tersebut tetap wajib untuk melaksanakan shalat, namun sebelumnya wajib baginya untuk menyucikan badan dan pakaiannya dari cipratan air ketuban yang mengenainya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)