IMG-LOGO
Hikmah

Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas

Selasa 26 Februari 2019 17:45 WIB
Share:
Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas
Ilustrasi (via bloomberg.com)
Adalah Habib Umar bin Abdul Rahman Al Attas, salah satu cicit Nabi yang begitu menghormati para tamu yang sowan kepadanya. Suatu ketika, datanglah serombongan tamu berniat sowan silaturahim. Seketika, seorang alim yang juga pengarang Ratibul Attas yang masyhur ini pun memanggil salah satu khadimnya, santri pelayan di dalam rumahnya.

"Wahai Fulan, pilihlah kambing terbesar dan terbaik di kandang sana. Kemudian sembelihlah untuk jamuan makan para tamu," tuturnya.

Seraya undur diri, sang khadim pun bergegas menjalankan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Beranjak ke kandang, memilih kambing terbaik, kemudian segera menyembelihnya. 

Namun, nahas menimpanya. Ternyata si kambing gagah nan gemuk itu tak sejinak yang ia bayangkan. Ketika sebilah golok ingin disayatkan di lehernya. Kambing itu berontak menarik-narik tali kekang sekuat tenaga. Akhirnya kambing itu pun mati sia-sia terlilit tali kekang tanpa berhasil disembelih sesuai syari'at. 

Khadim itu pun kemudian mengadu sambil tergugup kepada sang habib. Kemudian empunya Ratibul Attas ini pun sejenak termenung dan menitikan air mata. Kegundahan khadim pun semakin menjadi. Setelah alpa dalam menyembelih kambing terbaik milik gurunya, ia kembali merasa bersalah atas tangisan gurunya. 

Ia kemudian berniat untuk mencarikan ganti kambing terbaik itu. Namun sang guru mencegahnya dan berkata,

"Wahai muridku, tahukah engkau apa yang kusedihkan? Sekali-kali tidaklah aku menangis karena aku kehilangan kambing terbaikku. Aku merenung dan mencoba menerapkannya pada kehidupan kita. Coba engkau pikirkan. Selama ini, kambing terbaik itu terlihat baik-baik saja. Bahkan ia terhitung jinak nan menyenangkan hati dengan makan dan minum sangat lahap. Namun, ternyata Allah menakdirkannya untuk mati dalam keadaan su'ul khatimah, akhir yang buruk. Ia mati menjadi bangkai yang haram dimakan.

Lantas... bagaimana dengan keadaan kita. Kita bisa saja berakhir nahas layaknya kambing itu. Menemui ajal dan berakhir dengan buruk. Maka, tiadalah dzat yang dapat menolong kita kecuali Allah ta'ala. Oleh karenanya, tetplah kamu membiasakan berbuat baik. Hingga suatu ketika, jika engkau sewaktu-waktu dipanggil menuju kehadirat-Nya, mudah-mudahan dalam keadaan husnul khatimah, akhir yang baik." Seketika hening, sedang para murid tertunduk malu.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.

Share:
Sabtu 23 Februari 2019 12:0 WIB
Waliyullah Ini Miliki Kebiasaan ‘Nyeker’, Mengapa?
Waliyullah Ini Miliki Kebiasaan ‘Nyeker’, Mengapa?
Ilustrasi (via tygpress.com)
Bisyr adalah seorang ulama sekaligus wali Allah yang masyhur pada masanya. Murid-muridnya datang dari daerah yang berbeda-beda. Seperti layaknya seorang guru, Bisyr-lah yang memimpin segala ritual keagamaan.

Suatu ketika ia sedang mengimami shalat berjamaah. Layaknya amaliah ulama salafus shalih, selesai shalat, Bisyr tak lantas beranjak dari pasujudannya. Ia lantas menyambungnya dengan rapalan dzikir tasbih, tahmid, takdir, dan juga tahlil yang diakhiri dengan doa, sedangkan murid-muridnya mengamini belakangan.

Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal
Ketika berniat undur diri setelah ibadah, Bisyr terhenti langkahnya di ambalan masjid. Terompah yang tadi ia pakai berangkat jamaah, telah raib hilang entah ke mana. Ia terpekur sejenak, kemudian linangan air mata membasahi kedua pipinya. 

Duhai, betapa keheranan para muridnya. Seorang guru alim nan bersahaja yang mereka cintai menangis tersedu sedan hanya karena kehilangan alas kaki yang notabenenya perkara duniawi. Dengan terbata, salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya pada sang guru,

"Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?"

Mendengar pertanyaan muridnya, Bisyr tak lantas menjawab. Ia masih saja diam meratapi sesuatu yang sungguh berbeda dengan apa yang dilihat oleh muridnya. Sembari menghela napas ia berkata,

"Muridku, tangisanku sama sekali menyesali sandalku yang hilang. Melainkan aku menyesalkan akan diriku sendiri. Ya, tahukah engkau muridku, sesungguhnya aku sangat menyesal mengapa diriku membawa alas kaki yang menarik pandangan mata orang lain. Sehingga orang tersebut memberanikan diri maksiat kepada Allah dengan mencuri. Oh, aku begitu menyesal. Oleh sebabku, ia berani mendurhakai Allah subhanahu wata'ala."

Sontak seluruh muridnya pun tertunduk malu. Ternyata pandangan luaran semata telah mengaburkan sifat takzim, hormat kepada guru. Akhirnya setelah kejadian itu, Bisyr pun tak berani lagi memakai alas kaki. Hingga di kalangan penduduknya ia pun diberi gelar al-hafi, orang yang tidak memakai alas kaki (nyeker). 

Seperti itulah akhlak dari salafus salih, ulama terdahulu nan alim dan rajin beribadah. Mereka begitu pandai memalingkan nafsu amarah kepada pandangan penuh hikmah ilahiyah. Mereka tak mudah untuk marah dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya mereka justru mensyukuri segala sesuatu yang terjadi sebagai takdir terindah utuk diambil hikmah, sari pati pelajaran kebijaksanaan.

(Ulin Nuha Karim)


Dikisahkan oleh KH Muhammad Shofi Al Mubarok Baidlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.

Jumat 22 Februari 2019 16:0 WIB
Mengapa Para Wali Dikaruniai Karomah?
Mengapa Para Wali Dikaruniai Karomah?
Ilustrasi (ist)
Pada masa Nabi orang tidak heran dengan kisah-kisah Mukjizat yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Lain halnya ketika umat semakin jauh dari masa kenabian, umat bakal bertanya-tanya tentang kebenaran kisah-kisah tersebut. Di benak sebagian umat, mereka bertanya-tanya, apa benar kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu, hanya fiktif atau legenda belaka?

Hal ini sangat terkait dengan keimanan yang bagi sebagian orang perlu pembuktian terdekat. Maka dari itu, munculnya karomah-karomah di tangan ulama-ulama besar dan para wali seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani salah satunya untuk mengangkat kepercayaan umat supaya lebih tebal keimanannya terhadap mukjizat Nabi Muhammad SAW atau mukjizat-mukjizat yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Maka, lahirlah karomah-karomah atau keistimewaan-keistimewaan tersebut, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani yang dikisahkan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) memiliki karomah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Hal ini akan mempertebal keimanan seseorang bahwa mukjizat yang dimiliki para Nabi adalah benar. Buktinya, para ulama penerusnya memiliki keistimewaan yang tidak dipunyai setiap orang.

Orang awam atau umum akan semakin kuat, tebal, dan semakin percaya terhadap keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada para manusia pilihannya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karomah-karomahnya juga bisa menghidupkan orang mati. 

Habib Luthfi meriwayatkan, suatu ketika berjalan dengan romobongan dari Tarim, Hadhramaut, Yaman, rombongan tersebut hendak ziarah ke Baitullah al-Haram Makkah kemudian ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan ke Madinah setelah dari Makkah, seorang rombongannya ada yang meninggal. Kemudian ada yang melapor kepada Imam Yahya bahwa ada anggota rombongan yang meninggal. 

Lalu Imam Yahya datang dan memegang telinga orang tersebut dan berkata: “Hai kamu mau saya ajak ziarah ke jaddana (kakekku) al-Musthafa SAW. Nanti setelah berziarah ke jaddana al-Musthafa SAW, mau mati, matilah. Ayo qum biidznillah, hiduplah kembali dengan izin Allah.”

Akhirnya seorang anggota rombongan yang mati itu hidup kembali. Tetapi ketika kembali sampai di Tarim setelah ziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad SAW, orang tersebut meninggal lagi. 

Itulah asal-usulnya kenapa disebut Bin Yahya, karena mempunyai karamah bisa menghidupkan. Menurut sumber kedua, disebut Yahya itu memang yang memberikan nama adalah Baginda Nabi SAW sesuai keterangan Habib Alwi bin Thahir Al-Hadad, Mufti Johor.

Karomah-karomah seperti itu tercatat tidak sedikit. Mukjizatnya Nabi Allah Uzair, hewan yang sudah mati sekian ratus tahun bisa dihidupkan kembali. Umat Sayidina Muhammad SAW ada yang seperti itu, bisa menghidupkan hewan yang sudah mati, yaitu Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib al-Athas. Kambing kesenangannya mati, akhirnya dihidupkan kembali oleh Habib Abu Bakar.

Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat. (Fathoni)
Ahad 17 Februari 2019 15:15 WIB
Dialog Abul Hasan dan Wanita Cantik yang Tabah
Dialog Abul Hasan dan Wanita Cantik yang Tabah
(Foto: @123RF.com)
Pada saat menjalankan ibadah thawaf, Abul Hasan sempat melihat di antara orang yang sedang thawaf terdapat seorang wanita yang wajahnya bersinar terang mengagumkan. Keelokan wajahnya memaksa Abul Hasan menjadi terheran-heran.

Ia sampai melontarkan perkataan, “Demi Allah seumur-umur saya belum pernah melihat wajah wanita begitu bersinar melebihi wanita ini. Saya yakin, orang seperti demikian pasti tidak punya pikulan beban pikiran berat dalam hidupnya.”

Entah dengan sebab apa, wanita super cantik yang dikagumi tersebut bercerita atas kejadian yang menimpa pribadinya. “Demi Allah, sebenarnya saya adalah orang yang mempunyai pikulan beban pikiran sungguh berat. Hatiku kalut. Jiwa saya penuh dengan kesusahan. Tidak ada seorang pun yang dapat ikut merasakan beban beratku ini,” kata wanita ini memulai curhatnya.

Kisahnya, pada saat hari raya Idul Adha tiba, kami berkurban. Suamiku bertindak sebagai penyembelih kambing yang telah kami persiapkan sebelumnya. Salah seorang anakku menyaksikan proses penyembelihan.

Setelah melihat, anakku yang besar tersebut bertanya kepada adiknya, “Mau nggak saya kasih tahu bagaimana ayah tadi menyembelih hewan kambing kurban?” Karena mereka masing-masing masih kecil, adiknya yang masih kecil itupun juga mengiyakan begitu saja.

Saat itu, saya sedang di dapur untuk memasakkan keluarga kecilku tersebut. Anak saya yang paling kecil masih minum air susu sembari saya gendong. Mereka bercakap-cakap dan kemudian bermain seolah sang kakak bertindak sebagai ayahnya. Sedangkan adiknya menjadi seekor kambingnya.

Saat mereka main sembelih-sembelihan kurban, mereka tidak menggunakan pisau mainan, namun pisau asli. Pada akhirnya anakku yang besar bermain menyembelih kambing yang digantikan adiknya dengan pisau asli. Dan kemudian si adik benar-benar wafat.

Karena ketakutan, sang kakak melarikan diri dari rumah. Ia lari ke hutan. Namun apa daya. Ia diterkam singa hingga tamatlah riwayatnya. Yang lebih tragis. Ayahnya anak-anak masih mencoba mencarinya barang kali anak saya masih selamat. Namun sayang, suami saya malah tidak segera kembali pulang.

Saya susul di hutan. Anakku yang tadinya saya gendong saya lepaskan. Saya mencoba ingin tahu bagaimana keadaan suamiku. Ternyata suamiku mati kehausan. Satu-satunya anak yang masih saya gendong tadi, karena belum bisa berjalan, ia mencoba meraih apa saja yang ada di dapur.

Namun apa yang terjadi, ia meraih kuali yang masih panas di atas bara api. Airnya tumpah. Tubuh anak saya yang kecil itu melepuh bahkan sampai tulang-tulangnya. Ia pun menyusul mati kemudian.

Anakku tinggal satu, yaitu wanita yang sudah menikah. Cerita masih berlanjut. Anakku wanita yang sudah menikah tersebut, setelah mendengar kisah yang kami alami, karena tidak kuat, ia pun akhirnya terjun ke jurang, bunuh diri. Sepanjang masa itu saya menjadi hidup sebatang kara.

Mendengar kisah demikian, Abul Hasan kemudian bertanya kepada wanita tersebut. “Lalu bagaimana cara kesabaranmu menghadapi masalah yang kamu hadapi?”

Wanita itu menjawab “Tidak ada seorang pun baik yang bersabar maupun mengeluh kecuali memang di antara mereka terdapat perbedaan yang signifikan. Orang yang sabar, bersikap baik secara lahiriyahnya, ia akan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang terpuji di kemudian hari. Adapun orang yang cemas dan mengeluh, ia tidak akan mendapatkan ganti rugi.”

Aku mulai meninggalkan wanita itu, kata Abul Hasan. Sang wanita menutup perkataannya dengan kalimat “Saya bersabar, sebab sabar adalah ratapan terbaik. Aku bersabar terhadap satu hal jika engkau merasakan sebagian saja akan membuahkan deraian air mata sampai engkau mampu mengusapnya.” (Ustadz Ahmad Mundzir)


Disarikan dari Kitab Syekh Muhammad bin Salim, Is’adur Rafîq, [Al-Haramain, Jeddah], juz II, halaman 16.