IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Imam Hamzah az-Zayyat dan Otentisitas Qira’atnya

Selasa 5 Maret 2019 21:0 WIB
Share:
Imam Hamzah az-Zayyat dan Otentisitas Qira’atnya
Ilustrasi (Freepik)
Dalam Islam ada adagium yang sangat terkenal yaitu “konsisten dalam beramal lebih baik daripada seribu karamat”. Adagium ini, barangkali, layak disematkan kepada salah satu imam qira’at sab’ah yang terkenal konsisten dalam berkhidmah kepada kalam-Nya, yaitu Imam Hamzah az-Zayyat.

Konsistensi yang dimiliki imam ini tidak hanya soal ibadah saja tapi juga menyangkut prinsip yang tidak bisa ditawar demi ketulusannya meraih ridha dan surga-Nya.

Ketulusan jiwanya meraih ridha dan surga-Nya, ia impelementasikan dalam kehidupan sehari-harinya tanpa pamrih, walau pun kesulitan yang ia dapatkan. Ia tegas menolak setiap pemberian yang diberikan para murid-muridnya kepadanya walaupun itu berbentuk segelas air minum saat dirinya dahaga di tengah-tengah panasnya terik matahari. Begitu mulyanya yang diucapkannya saat menolak pemberian itu “s]Saya tidak menerima pemberian apa pun dari orang yang pernah belajar Al-Qur’an kepadaku, saya hanya berharap ridha dan surga-Nya”.

Biografi Imam Hamzah

Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin Imarah bin Ismail az-Zayyat al-Kufi al-Taymi. Kuniyahnya Abu Imarah. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Hamzah az-Zayyat (pedangan minyak), karena membawa minyak dari Urf ke Hulwan di Iraq. Dan membawa keju dan kacang-kacangan dari Hulwan ke Kufah.

Imam zahid ini lahir pada tahun 80 H, dan pada saat memasuki usia lima belas tahun, ia memantapkan hafalan bacaan Al-Qur’annya. 

Dalam salah satu riwayat, beliau “menangi” sahabat saat kecil, kemungkinannya beliau pernah melihat dan menjumpai sebagian mereka, maka dari itu, beliau disebut sebagai tabi’in.

Imam Hamzah adalah salah satu imam qira’at sab’ah yang memiliki predikat “al-Hibr” (tinta) dan syaikh al-Qurra’ di Kufah. Ia menjadi panutan masyarakat Kufah dalam bidang Al-Qur’an setelah wafatnya Ashim dan al-A’masy.

Dalam bidang Al-Qur’an, kepakarannya tidak diragukan, sehingga beliau mendapat predikat prestisius, yaitu tsiqah, hujjah, tegak dalam soal kitab Allah, mahir dalam bidang faraidh, bahasa Arab dan banyak hafal hadis.

Imam Abu Hanifah berkata: “Ada dua hal yang Anda mengungguli kami dan tidak terbantahkan oleh kami, yaitu Al-Qur’an dan ilmu Faraidh.

Perjalanan Intelektualnya

Sejak kecil Imam Hamzah sudah mulai menghafal Al-Qur’an, dan saat menginjak umur lima belas tahun, beliau memantapkan hafalan tersebut, kemudian melakukan pengembaraan berguru kepada beberapa ulama yang ahli dalam bidang Al-Qur’an, salah satunya adalah:

1. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran al-A’masy,
2. Abi Hamzah Hamran bin A’yun 
3. Abu Ishaq Amr bin Abdullah al-Sabi’I 
4. Muhammad bin Abi Laila
5. Thalhah bin Mushrif
6. Abi Abdullah Ja’far al-Shadiq

Semua nama-nama gurunya di atas, transmisi sanadnya bermuara kepada empat sahabat, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Artinya qira’at Hamzah adalah qira’at yang dapat dipertanggung-jawabkan kemutawatiran dan kesahihannya. 

Meskipun demikian, dari guru yang telah disebut di atas, secara kwalitas sanad, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Sanad yang tinggi adalah antara Nabi dan Imam Hamzah melalui tiga jalur, sedangkan sanad yang rendah antara Nabi dan Imam Hamzah empat jalur.

Setelah pengembaraan intelektualnya selesai, Imam Hamzah kemudian membuka majlis pengajian Al-Qur’an untuk masyarakat setempat. Setelah Imam Ashim dan Imam al-A’masy wafat, Imam Hamzah menjadi kiblat dan imam dalam bidang al-Qur’an menggantikan posisi keduanya.

Komentar Ulama kepada Imam Hamzah

Kepakaran Imam Hamzah dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak termasuk gurunya sendiri, yaitu Imam al-A’masy, dan memberinya gelar “al-Hibr”.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Imam al-A’masy jika bertemu dengan Imam Hamzah ia memujinya dan berkata: هذا حبر القرأن ini adalah “hibr” (tinta) Al-Qur’an.

Pada suatu kesempatan yang lain, ketika Imam al-A’masy bertemu dengan Imam Hamzah seraya berucap: “وبشر المحسنين”

Kealimannya telah menumbuhkan sikap yang khusyuk, tunduk, menjadi teladan dalam kejujuran dan wira’I (meninggalkan perkara syubhat apalagi haram), ahli ibadah dan zuhud dunia. 

Sikap-sikap di atas diimplementasikan dalam kehidupannya dengan berupaya menjauhi segala bentuk penberian dan upah dari hasil mengajar Al-Qur’an.

Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kalangan orang yang terkenal di Kufah belajar kepada Imam Hamzah. Sebagai ungkapan terima kasih, laki-laki tersebut memberikan sejumlah dirham kepada Imam Hamzah, namun Imam Hamzah menolaknya seraya berkata: “Saya tidak mau mengambil upah dari hasil mengajar Al-Qur’an. Saya hanya berharap surga firdaus.

Imam Jarir bin Abdul Hamid bercerita bahwa ia bertemu dengan Imam Hamzah di saat terik matahari, (cuaca panas menyelimuti siapapun yang melakukan perjalanan), kemudian saya mengambilkan air minum kepadanya untuk diminum agar hilang rasa dahaganya, namun ia menolak, sebab ia tahu bahwa saya pernah belajar Al-Qur’an kepadanya. 

Maka tidak berlebihan jika Muhammad bin Fadhil berkata: “Saya tidak beranggapan bahwa Allah menolak bala’ (bencana) kepada masyarakat Kufah kecuali dengan adanya Hamzah.

Komentar Ulama Atas Qira’at Imam Hamzah

Qira’at hamzah merupakan qira’at yang banyak disorot oleh para ulama, bahkan dalam kitab-kitab turats banyak jumpai komentar-komentar ulama yang bernada negatif, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, Syu’bah bin Ayyasy, Abdullah bin Idris bin Yazid bin Abdurrahman al-Audi, dan Sufyan bin Uyainah.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Saya tidak suka qira’at Hamzah dalam masalah imalah dan hamzah”.

Imam Syu’bah berkata: “Qira’at Hamzah bid’ah”.

Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Andai saya shalat dibelakang orang yang membaca qira’at Hamzah, saya akan mengulang shalat saya”.

Imam Abdullah bin Idris berkata: “Saya tidak berkenan mengatakan orang yang membaca qira’at Hamzah sebagai shahib sunnah”.

Untuk menjawab komentar di atas, ada sebagian ulama yang menulis secara khusus menjawab komentar-komentar di atas, salah satunya adalah (1) al-Sayyid bin Ahmad Abdurrahim dengan karyanya “Radd al-Kalam wa al-Syubhat ‘An Qira’at min al-Mutawatirah fi al-Radd ‘Ala al-Tha’an fi Qira’at al-Imam Hamzah al-Kufi”; (2) Ali bin Muhammad Taufiq al-Nahhas dengan karyanya “Risalah fi al-Radd ‘Ala Man’I Qira’at Hamzah wa al-Kisa’I”.

Apa yang disampaikan oleh Imam Syu’bah tidak bisa diterima, sebab secara teoritis ushul qira’at dan praktek bacaan, antara Imam Syu’bah dengan Imam Hamzah memiliki banyak kesamaan. Bahkan Imam al-Syatibi menggunakan rumus kata (صحبة) sebagai isyarat tiga imam, yaitu Imam Syu’bah, Hamzah dan Ali al-Kisa’I. 

Sementara itu, secara transmisi periwayatan, Imam Hamzah berguru kepada Imam Ashim. Artinya dalam hal ini, antara Hamzah dan Syu’bah satu perguruan. Ini menunjukkan bahwa qira’at Imam Hamzah tidak jauh berbeda dengan bacaan imam-imam qira’at yang lain. Jika ada beberapa perbedaan, itu soal yang lain sebab Imam Hamzah tidak hanya belajar Al-Qur’an dan qira’atnya kepada satu guru. Bukankah antara Syu’bah dengan Hafs juga ada perbedaan meskipun satu guru, Imam Ashim.

Jika bacaan Imam Ashim dapat diterima, kenapa qira’at Imam Hamzah harus ditolak?!. Bagaimana mungkin qira’at Hamzah dilabeli sebagai qira’at bid’ah, sementara ia pemilik gelar shahib sunnah dan banyak ulama yang menerima bacaannya. Bahkan ulama ternama seperti Sufyan al-Tsauri menerima bacaannya.

Sementara apa yang disampaikan oleh Ahmad bin Hambal juga tidak bisa dibenarkan. Sebab antara Imam Hamzah dengan Ahmad bin Hambal memiliki jarak yang terpaut sangat jauh. Imam Hambal baru lahir setelah Imam Hamzah wafat. Ahmad bin Hambal lahir pada tahun 164 H, sementara Imam Hamzah wafat pada tahun 156 H. Keduanya tidak pernah bertemu, dan tidak semasa.

Ini artinya, bisa jadi apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad tidak dimaksudkan bacaan Imam Hamzah sendiri tetapi bacaan orang lain yang membaca qira’at Hamzah secara tidak tepat. Sehingga menimbulkan kesan bahwa Imam Ahmad tidak menyukai qira’at Imam Hamzah. 

Di samping itu, Imam Ahmad memberikan apresiasi kepada Imam Sufyan al-Tsauri, padahal beliau adalah murid Imam Hamzah. 

Imam Ahmad berkata: “Al-Tsauri adalah orang pertama yang berada di hatiku”.

Secara hirarki periwayatan qira’at, Imam al-Tsauri adalah murid Imam Hamzah yang menghatamkan empat kali bahkan dalam sejarah tidak ditemukan bahwa Imam al-Tsauri mengaji kepada selain Hamzah. 

Apa yang disampaikan oleh Ibnu Idris tidak bisa dipahami secara literal, harus dilihat dari kontek dan kasusnya. Sebab ungkapan itu muncul karena ada seorang yang belajar kepada Imam Sulaim, murid Hamzah, hadir di majlisnya Ibnu Idris, kemudian orang tersebut membaca Al-Qur’an di hadapan Ibnu Idris, beliau mendengar bacaan tersebut berlebih-lebihan dalam mad (ukuran panjangnya) dan hamzah yang dipaksakan. Dari sanalah muncul ketidaksukaan Ibnu Idris.

Ibnu al-Jazari berkata: “Adapun apa yang diucapkan oleh Abdullah bin Idris dan Ahmad bin Hambal atas ketidaksukaan keduanya (terhadap bacaan Hamzah), dimaksudkan kepada orang yang mendengar dari Imam Hamzah dan menukil bacaan Imam Hamzah, tidaklah kerusakan kabar itu kecuali dari pembawa kabarnya”.

Imam Thahir bin Ghalbun dengan keras memberikan peringatan kepada orang-orang yang menolak bacaan Imam Hamzah: “ Barang siapa yang menolak bacaan Imam Hamzah, maka sesungguhnya ia menolak bacaan yang mengajarkan bacaan tersebut (guru-gurunya Imam Hamzah) dan kepada Nabi Muhammad Saw,. Cukuplah dengan begitu ia telah melakukan dosa besar dan kebodohan yang nyata. Ungkapan ini bukan dalam rangka menghina ulama yang lain tetapi dalam rangka mempertahankan (kesahihan) qira’at Imam Hamzah.

Di samping perdebatan di atas, Imam Hamzah sendiri telah memberi peringatan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an harus dengan bacaan yang baik tidak berlebih-lebihan.

Imam Hamzah menyampaikan kepada seseeorang yang membaca kepadanya yang berlebih-lebihan dalam membaca mad dan tahqiq huruf hamzah “jangan lakukan!” tidakkah kamu tahu bahwa di atas putih adalah belang (belang), di atas keriting adalah kribo (sangat kriting), di atas bacaan yang tepat, adalah sebuah bacaan yang tidak benar.

Otentifikasi Qira’at Hamzah

Imam Uqbah mencaritakan ungkapan ayahnya tentang qira’at Imam Hamzah, seraya berkata: “Kami bersama Sufyan al-Tsauri, kemudian Hamzah mendatangi al-Tsauri dan berbincang-bincang dengannya, setelah selesai, Imam Sufyan bertanya kepada kami: “Apakah kalian tahu siapa orang ini? Ia tidak membaca satu huruf pun dari kitab Allah kecuali menggunakan atsar”.

Imam Hamzah menyatakan bahwa qira’atnya semua berasal dari atsar dengan transmisi yang jelas. Ia meneliti atsar-atsar orang-orang yang menjumpai para ulama qira’at terdahulu, hingga kemudian ia menjadi seorang pakar bidang qira’at dan mazhab-mazhabnya.

Imam Aswad bin Salim bertanya kepada Imam Ali al-Kisa’I tentang guru yang menjadi panutan soal bacaan hamzah dan idgham, apakah Anda memiliki guru yang mengajarkan tentang hamzah dan idgham? Beliau menjawab, Ia, yaitu Imam Hamzah yang menjadi rujukan saya, saya membaca (dengan pola) hamzah dan kasrah (imalah), ia adalah salah satu imam kaum muslimin, dan pemimpin para ahli qira’at yang hidup zuhud, kalau Anda melihatnya, jiwaAnda akan terasa tenang, tentram dari aura peribadatannya (ahli ibadah).

Imam al-Dzahabi berkata: “Qira’at Imam Hamzah adalah qira’at yang disekapati para ulama bahkan menjadi ijma’ ulama atas kesahehan dan kemutawatirannya, meskipun qira’a yang lain tergolong bacaan yang afshah (paling fasih), sebab qira’at yang diakui sebagai qira’at yang sah adalah qira’at yang fasih dan afshah. Ia melanjutkan ucapannya bahwa kesahihan dan kemutawatiran qira’at Imam Hamzah dapat dibuktikan dengan persaksian Imam Sufyan al-Tsauri, yang mengatakan “tidaklah Hamzah membaca Al-Qur’an kecuali dengan atsar”.

Imam Hamzah berkata: “Saya membaca Al-Qur’an kepada Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah, kemudian beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang membaca Al-Qur’an lebih bagus darimu”. Kemudian Imam Hamzah menimpali: “Saya tidak berbeda bacaan dengan Anda kecuali dalam sepuluh huruf, meskipun demikian ia masih diperbolehkan dalam bahasa Arab.

Apresiasi yang diberikan oleh Imam Ja’far al-Shadiq ini menunjukkan bahwa qira’at Imam Hamzah tidak keluar dari bacaan yang sahih, sesuai kaidah bahasa Arab dan sesuai Rasm Ustmani. 

Keistimewaan Imam Hamzah

Konsisten membaca Al-Qur’an dan mengulangnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan imam zahid ini. Bahkan Imam al-Syatibi memberi gelar kepadanya dengan sebutan “shaburan” yang tabah dan sabar mengulang hafalannya.

وحمزة ما أزكاه من متورع *** إماما صبورا للقرأن مرتلا 

Imam Hamzah berkata: “Saya membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf, karena saya kuatir penglihatan saya hilang. Ungkapan yang disampaikan oleh sang imam ini tidak lain adalah konsistensinya dalam membaca Al-Qur’an dan lebih mengedepankan sisi ibadah untuk senantiasa menjaga penglihatannya dari hal selain Al-Qur’an. Dalam membaca Al-Qur’an, Hamzah menggunakan mushaf ejaan Abdullah bin al-Zubair.

Selain konsisten dalam membaca Al-Qur’an, Imam Hamzah juga konsisten mendarma-baktikan jiwanya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an, meskipun dalam waktu yang cukup lama dan menguras tenaga. Hal ini disaksikan oleh Abdullah bin Isa, ia berkata: “Imam Hamzah mengajarkan Al-Qur’an kepada para murid-muridnya (dalam jumlah yang banyak) sampai selesai sampai mereka pulang ke tempat mereka masing-masing. Setelah itu, beliau bangkit melaksanakan shalat empat raka’at, shalat antara dhuhur dan ashar dan antara maghrib dan isya’. Sebagian tetangganya bercerita bahwa beliau tidak pernah tidur malam dan mereka mendengar Imam Hamzah mengisi waktu malamnya dengan membaca Al-Qur’an. Ungkapan yang disampaikan oleh Abdullah bin Isa ini menunjukkan bahwa beliau orang yang tulus mendarma-baktikan dirinya untuk kalam Tuhannya. Sementara itu, waktu yang digunakan untuk mengajar adalah pagi sampai waktu dhuhur dan habis ashar hingga maghrib.

Imam Hamzah adalah satu di antara imam qira’at yang memiliki jiwa keikhlasan yang sangat tinggi, ia tidak mau menerima pemberian apapun atas jerih payahnya mengajarkan Al-Qur’an. Hal ini merupakan satu dari keistimewaannya paling terkenal di kalangan murid-muridnya hingga sampai kepada kita.

Imam Khalaf bin Tamim berkata: “Saat ayah saya wafat, ia punya tanggungan. Kemudian saya mendatangi Hamzah untuk disampaikan kepada pemilik hutang. Lalu Imam Hamzah terkejut sambil berkata: “celakalah kamu..!!! Ia adalah orang yang belajar membaca Al-Qur’an kepadaku, sementara saya tidak senang minum dari rumah orang yang belajar kepadaku.

Murid-muridnya

Selain sebagai imam qira’at, Imam Hamzah juga dikenal sebagai pedangang yang jujur. Dalam melaksanakan kedua aktivitasnya, Imam Hamzah membagi waktunya, satu tahun di Hulwan, satu tahun di Kufah. Di sela-selanya berdangang itu mencuri waktu untuk mentransfer imunya kepada para penuntut ilmu. 

Ada banyak yang belajar kepada Imam Hamzah dan tak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah Ibrahim bin Adham, al-Husain bin Ali al-Ju’fi, Sulaim bin Isa, termasuk murid yang paling dhabith, Sufyan al-Tsauri, Ali bin Hamzah al-Kisa’I, termasuk murid senior, Yahya bin Ziyad al-Farra’, Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi.

Setelah mendarma-baktikan seluruh jiwa dan raganya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an tanpa pamrih dan perhitungan, mengantarkannya kepada tempat yang baik di sisi-Nya, beliau wafat pada tahun, 156 di Hulwan pada umur 76 tahun.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; "Radd al-Kalam as-Syubhat 'an Qiraat Mutawatirah" karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Tantha: Darus Shahabah lit Turats, 2006]; Asanid al-Qurra' al-Asyrah wa Ruwwatuhum al-Bararah karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Mesir: al-Jami'ah al-Khairiyah li Tahfidzil Qur'an, 2011])


Baca juga biografi para imam qira’at:
• Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
• Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
• Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
• Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
• Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
• Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi
• Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya

Share:
Senin 25 Februari 2019 8:30 WIB
Imam Hafs dan Imam Syu’bah, Dua Perawi Qira’at Imam Ashim
Imam Hafs dan Imam Syu’bah, Dua Perawi Qira’at Imam Ashim
Ilustrasi (via liveofmuslim.com)
Setiap teori akan terus eksis jika generasi penerusnya melanjutkan dan menyebarkan teori tersebut. Pun demikian, setiap manhaj qira’at (metode atau variasi bacaan Al-Qur’an) tertentu akan tetap eksis selamanya jika para generasi penerusnya melanjutkan dan menyebarkan manhaj tersebut. Generasi yang berjasa mengenalkan dan mesyiarkan ke masyarakat luas itu disebut perawi.

Dalam ilmu qira’at, para imam qira’at, seperti Imam Ashim, berposisi sebagai peramu manhaj atau pemilik qira’at yang dihasilkan dari penyeleksian dan dilestarikan sebagai qira’at bacaanya. Sementara perawi dari imam qira’at berposisi sebagai pelanjut manhaj bacaan sang imam dan memperkenalkannya kepada khalayak masyarakat. Sedangkan perawi berikutnya dari perawi pertama berposisi sebagai yang mengembangkan dan melestarikan bacaan sang imam. Perawi dari perawi pertama ini disebut “thariq” atau jalur perawi.

Dalam ilmu qira’at, setiap imam memiliki dua perawi dan setiap perawi memiliki dua thariq atau jalur bacaan. Dalam qira’at Imam Ashim, beliau memiliki dua perawi yaitu: Syu’bah dan Hafs.

1. Syu’bah bin Ayyasy

Nama lengkapnya adalah Syu’bah bin Ayyasy bin Salim al-Hannath al-Nahsyali al-Kufi, nama panggilannya (kuniyah) Abu Bakar. Beliau lahir pada tahun 95 H.

Beliau merupakan imam besar yang Alim, bergelar “hujjah” dan termasuk pembesar Ahlussunnah. Gelar hujjah Ahlussunnah layak disematkan kepadanya, kerena keteguhannya dalam upaya mempertahankan ideologi Ahlussunnah. Beliau berkata: “Barangsiapa yang menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, maka bagi kami ia adalah kafir zindiq, ia adalah musuh Allah, kita tidak boleh berinteraksi dengannya dan berbicara dengannya.”

Perjalanan Intelektual Imam Syu’bah

Perjalanan intelektual Imam Syu’bah ini diawali dengan menghafal Al-Qur’an, belajar dan menyimakkannya (tasmi’) kepada guru di kampung halamannya, kemudian dilanjutkan pengembaraan intelektualnya dengan belajar kepada satu guru ke guru yang lain, layaknya seorang penuntut ilmu yang haus akan cahaya ilmu. Namun dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya, ia belajar kepada: (1) Ashim bin Abi al-Najud, (2) Atha’ bin al-Saib, (3) Salim al-Munqiri.

Kepada Imam Ashim beliau bermulazamah lama sehingga ia dapat mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari satu kali. Dari Imam Ashim inilah, beliau kemudian menjadi perawi sekaligus murid yang banyak mengisahkan dan meriwayatkan kisah kehidupan sang guru. 

Dalam pengabdian ilmunya, Allah menganugerahkannya umur yang panjang kepadanya,sehingga memberikan peluang kepadanya menabung pundi-pundi amal baik dan pengabdian yang tulus, namundi akhir sisa hidupnya ia memutuskan tidak mengajar Al-Qur’an selama tujuh tahun.

Komentar Ulama

Atas ketulusan dan keikhlasannya mengabdi kepada kalam-Nya, beliau menempati posisi yang amat terpuji, sehingga Imam al-Jazari memberikan apresiasi yang sangat tinggi. 

Imam al-Jazari berkata: “Syu’bah adakah seorang imam besar, yang alim dan mengamalkan ilmunya, dan termasuk pembesar ulama sunnah”. 

Murid-murid Imam Syu’bah

Setalah dirasa cukup pengembaraan intelektualnya kepada beberapa guru-guru yang tersebut di atas, maka ia kemudian membuka pengajian atau menerima setoran Al-Qur’an dari berbagai kalangan, salah satunya adalah: Abu Yusuf Ya’kub bin Khalifah al-A’syi, Abdurrahman bin Abi Hammah, Yahya bin Muhammad al-Ulaimi, Urwah bin Muhammad al-Asadi, Sahal bin Syuaib.

Selain murid-murid di atas, ada beberapa murid-muridnya yang hanya meriwatkan bacaan Imam Syu’bah tanpa melalui setoran atau tasmi’ bacaan kepadanya, salah satunya adalah Ishaq bin Isa, Ishaq bin Yusuf al-Azraq, Ahmad bin Jabar, Abdul Jabbar bin Muhammad al-Atharidi, Ali bin Hamzah al-Kisa’I, Yahya bin Adam.

Syu’bah dan Saudara Perempuannya

Ketika Imam Syu’bah mendekati ajalnya, saudara perempuannya menangis sambil menghampirinya. Melihat tangisan saudarinya itu, Imam Syu’bah bertanya: “Kenapa kamu menangis?. (tidak usah menangis), lihatlah di pojokan itu, di sana saya telah menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 1800 kali khataman.

Ungkapan yang disampaikan Syu’bah kepada saudarinya ini menunjukkan betapa tulusnya Syu’bah mengabdi kepada Tuhan dan kalam-Nya. Di sisi lain, isyarah ke pojokan itu sebagai bentuk wasiat kepada saudarinya untuk melestarikan dan meneruskan perjuangannya.

Setelah mendarma-baktikan dirinya kepada Al-Qur’’an, beliau wafat pada tahun Jumadil Ula tahun 193 H.

2. Hafs bin Sulaiman

Nama lengkapnya adalah Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah bin Abi Daud al-Asadi, al-Kufi al-Bazzar. Kata al-Bazzar dinisbatkan kepada penjual baju, kuniyahnya Abu Umar. 

Ada banyak gelar yang dimiliki oleh imam ini, salah satunya adalah “al-Hujjah”, tsabat (mantab), pemilik riwayat yang terkenal, bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa riwayat Imam Hafs ini adalah satu-satunya riwayat yang paling banyak dibaca di dunia Islam. Beliau lahir pada tahun 90 H.

Perjalanan Intelektualnya

Setelah ayahnya meninggal,kemudian ibunya menikah lagi dengan Imam Ashim. Secara otomastis ia menjadi anak tirinya. Atas bimbingan dan didikan Imam Ashim, pemilik riwayat yang paling terkenal ini di didik secara intens, baik secara talqin (dibacakan kemudian ditiru) mapun secara tasmi’ (memperdengarkan bacaannya). 

Setelah menginjak dewasa, Imam Hafs menggantikan posisi ayah tirinya sebagai guru dalam bidang Al-Qur’an, bahkan manjadi seorang imam besar dalam bidang itu.

Kemasyhuran Riwayat Imam Hafs

Tidak berlebihan jika saat ini bacaan riwayat yang paling banyak dibaca di muka bumi ini adalah riwayat Imam Hafs. Mengapa demikian ?

Jika dilihat dari jejak rekam pengembaraan Imam Hafs ini, maka akan ditemukan bahwa beliau pernah mengembara dan tinggal di dua negara yang pada saat itu sebagai ibu kota. Hal ini dibuktikan oleh ungkapan Imam Abi Amr al-Dani: “Ia belajar kepada Imam Ashim dan diajarkan kepada masyarakat bacaan tersebut. Kemudian ia tinggal di Baghdad di sana ia mengajarkan (bacaannya) dan kemudian tinggal di Makkah di sana ia juga mengajarkan (bacaanya).

Dari sini bisa dibayangkan berapa jumlah murid-murid Imam Hafs di dua negara tersebut, kemudian mereka menyebarkan riwayat ke negaranya masing-masing. Maka tidak aneh, jika bacaan riwayat Imam Hafs menjadi tersohor di dunia. Ini dari sisi penyebaran lewat periwayatan.

Dari sisi yang lain, hampir seluruh Al-Qur’an dicetak menggunakan riwayat Imam Hafs. Pada tahun 1106 H, Al-Qur’an yang dicetak di Jerman menggunakan riwayat Imam Hafs.

Antara Hafs dan Syu’bah 

Tidak mengherankan jika riwayat Hafs ini paling masyhur di dunia, sebab ia mengajar masyarakat sangat lama sekali. Kenapa riwayat Imam Syu’bah tidak semasyhur riwayat Imam Hafs, padahal sama-sama lama mengajar dan sama-sama murid dari Imam Ashim?

Sebab Imam Syu’bah berhenti mengajarkan Al-Qur’an menjelang wafatnya selama tujuh tahun, dan kemudian disibukkan oleh ilmu hadits. Maka dengan demikian, beliau mendapatkan gelar pembesar sunnah. Dalam hal yang lain, sejarah tidak mencatat bahwa Imam Syu’bah mengajarkan bacaaanya di dua negera yang berbeda.

Secara transmisi sanad, bacaan yang diriwayatkan oleh Imam Hafs bermuara kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sedangkan transmisi sanad yang diriwayatkan Imam Syu’bah bermuara kepada Abdullah bin Mas’ud.

Imam Hafs menceritakan tentang komunikasinya dengan Imam Ashim. Ia bertanya kepada gurunya: “Kenapa bacaan Syu’bah berbeda dengan bacaan saya? Imam Ashim menjawab: “Bacaan yang kamu pelajari seperti yang saya pelajari dari Abdurrahman al-Sullami yang transmisi sanadnya sampai pada Sayyidina Ali. Sedangkan saya mengajarkan kepada Syu’bah sebagaimana yang saya pelajari dari Zir bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud.”

Imam Mujahid berkata: “Perbedaan antara bacaan Imam Hafs dan Syu’bah sekitar 520 bacaan.”

Komentar Ulama

Ada banyak pujian yang disampaikan oleh ulama kepada Imam Hasf atas dedikasinya terhadap Al-Qur’an dan qira’atnya.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Riwayat yang sahih dari Imam Ashim adalah dari perawi Imam Hafs bin Sulaiman. Pujian ini bukan berarti menafikan riwayat Imam Syu’bah tapi hanya sebagai bentuk apresiasi kepada Imam Hafs atas dedikasinya.

Imam Abi Hisyam al-Rifa’I berkata: “Hafs adalah murid Imam Ashim yang paling mengerti atas qira’at Ashim, ia lebih unggul daripada Imam Syu’bah dalam soal ketepatan huruf (dhabt al-huruf).

Imam al-Dzahabi berkata: “Ia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabat (mantap), dan tepat (dhabt)”. 

Imam al-Munadi berkata: “Ia membaca kepada Imam Ashim berulangkali. Para ulama terdahulu mengangggapnya sebagai orang yang hafal melebihi Imam Syu’bah, dan mensifatinya sebagai orang yang tepat dalam mengucapkan huruf yang diajarkan oleh Imam Ashim”.

Imam Hafs menyatakan bahwa riwayat bacaannya tidak ada yang menyalahi qira’at Imam Ashim kecuali pada satu kata: yaitu pada Surat ar-Rum ayat 54 (ضعفا، ضعف). Pada kata itu, Imam Hafs membaca dengan dhammah (pada huruf dlad), sedangkan Imam Ashim membaca dengan fathah. Artinya, Imam Hafs dalam hal ini memiliki dua bacaan, yaitu dhammah dan fathah.

Dalam masalah ini, Imam Hafs mengikuti kebanyakan ulama qira’at yang lebih memilih membaca dhammah dan tidak meninggalkan bacaan gurunya. Sehingga Imam al-Syatibi menyampaikan tentang masalah ini dengan dua pendapat: dibaca dhammah dan fathah.

Murid-murid Imam Hafs

Ada banyak murid-murid Imam Hafs bahkan tak terhitung jumlahnya, baik yang belajar secara setoran (ardh) maupun sima’an saja, sebab ia pernah singgah di dua negara dan mengajar di sana, salah satu muridnya adalah: Husain bin Muhammad al-Maruzi, Amr bin al-Shabbah, Ubaid bin Shabbah, al-Fadhl bin Yahya al-Anbari dan Abu Syuaib al-Qawwas.

Setelah mengabdikan dirinya kepada kalam-Nya, beliau wafat pada tahun 180 H.

Wallahu A’lam


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010, hal, 28; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992. hal. 210 dan 294)


Baca juga biografi para imam qira’at:
 Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
 Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
 Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
 Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
 Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
 Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi
Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya

Sabtu 23 Februari 2019 11:0 WIB
Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya
Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya
Ilustrasi (aboutislam.net)
Kufah merupakan sebuah kota yang menjadi pusat administrasi pemerintahan khalifah keempat, Sayyidina Ali. Di kota inilah banyak intelektual Muslim bermukim dan mengembangkan keilmuannya, salah satunya adalah Imam Ashim bin Abi al-Najud.

Ada tiga nama imam qira’at sab’ah yang bermukim di kota ini, yaitu Ashim bin Abi al-Najud, Hamzah al-Zayyat, dan Ali al-Kisa’i. Ketiga imam ini memiliki integralisasi transmisi periwayatan yang tidak terputus, namun berdiri secara mandiri.

Imam Hamzah pernah belajar kepada Ashim, sementara Imam al-Kisa’i pernah belajar kepada Imam Hamzah. Oleh karena itu, maka wajar Imam Ashim menempati urutan pertama diantara mereka berdua. 

Selain itu, dari sisi sanad, Imam Ashim memiliki sanad tertinggi diantara mereka berdua, bahkan tertinggi ketiga diantara para imam qira’at sab’ah, setelah Imam Ibnu Amir dan Imam Ibnu Katsir.

Biorgafi Imam Ashim

Nama lengkapnya adalah Ashim bin Abi Najud al-Asadi. Nama panggilannya (kuniyah), Abu bakar. Sebagian riwayat mengatakan bahwa nama bapaknya adalah Bahdalah, sebagian riwayat yang lain mengatakan bahwa Bahdalah adalah nama ibunya, sebagian riwayat yang lain juga mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdulllah sedangkan Abi Najud adalah kuniyahnya.

Secara garis keturunan, ia termasuk marga al-Asadi al-Kufi. Kata “al-Asadi” dinisbatkan kepada marganya, sedangkan “al-Kufi” dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, yaitu Kufah.

Beliau adalah salah satu imam qira’at sab’ah dari kalangan ulama Kufah, dan termasuk tabi’in yang agung. Setelah gurunya, Abdurrahman al-Sullami, wafat, ia menggantikan posisinya sebagai masyikhah iqra’ di Kufah, sehingga banyak para pelajar datang dari berbagai negara untuk belajar kepadanya. 

Secara profesionalitas keilmuan, beliau merangkap dua keahlian, yaitu fashahah-tajwid dan teliti-mutqin. Beliau tidak hanya memiliki penguasaan dalam bidang fashahah dan mutiqin, namun beliau juga memilikii suara yang indah saat membaca al-qura’an. Hal ini dibuktikan oleh persaksiannya Imam Syu’bah: Saya berulangkali mendengar Abi Ishaq al-Sabi’i berkata: “Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih bagus membaca al-Qur’an dibandingkan Ashim bin Najud. Ia alim dalam bidang sunnah, bahasa, nahwu dan fiqih”.

Perjalanan Intelektual Imam Ashim

Dalam bidang ilmu al-Qur’an dan qira’atnya, beliau belajar kepada tiga orang guru, yaitu Abu Abdurrahman al-Sullami, Zir bin Hubaisy, Sa’ad bin Ilyas al-Syaibani. Secara transmisi sanad beliau menempati posisi ketiga setelah Nabi Muhammad ﷺ.

Berikut adalah transmisi sanadnya yang bersambung secara muttasil kepada Nabi Muhammad ﷺ:

1. Al- Sullami belajar kepada lima sahabat; Ustman, Abdullah bin Mas’un, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Mereka belajar langsung dari Nabi Muhammad ﷺ.

2. Zir bin Hubaisy belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad ﷺ.

3. Al-Syaibani belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam bidang hadis, beliau meriwayatkan dari Abi Ramatsah Rifa’ah al-Tamimi dan Harits bin Hassan al-Bakri. Keduanya bersahabat. Adapun hadis yang diriwayatkan dari Abi Ramatsah dapat djumpai di Musnad Ahmad bin Hambal, sedangkan hadis yang diriwayatkan dari Harits bin Hasan dapat dijumpai di kitabnya Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam.

Imam Ashim termasuk ulama yang diperhitungkan dalam bidang hadis, ia termasuk personal yang memiliki predikat tsiqah (terpercaya). 

Imam Ahmad menyatakan bahwa Imam Ashim adalah laki-laki saleh, baik juga tsiqah, senada dengan Imam Ahmad, Imam Zar’ah dan para ulama hadis menyatakan bahwa Imam Ashim adalah orang yang tsiqah.

Imam Abu Hatim juga menyatakan bahwa Imam Ashim adalah (mahalluhu al-shidq) dan hadi-hadis dapat dijumpai di kutub sittah.

Keistimewaan Imam Ashim

Setiap manusia yang beriman dengan benar, beramal saleh dan konsisten dalam beramal (istiqamah), maka Allah akan mengangkat derajatnya. Imam Ashim merupakan salah satu ulama yang konsisten berkhidmah terhadap kalam-Nya. Salah satu karomahnya adalah ia membaca Al-Qur’an dengan sangat mutqin atau lancar walau ditinggal beberapa tahun tanpa murajaah (membaca ulang agar tetap hafal). 

Imam Ashim berkata kepada Imam Syu’bah: “Saya mengalami sakit selama dua tahun, (selama dua tahun itu, saya tidak muraja’ah hafalan Al-Qur’an saya), setelah saya sembuh,kemudian saya membaca Al-Qur’an dan tidak ada satupun kesalahan dan kekeliruan pada bacaan saya”.

Imam Abu Bakar berkata: “Ashim jika shalat ia tegak seperti kayu, dan ia mendirikan shalat pada hari jumat sampai menjelang shalat ashar. Ia adalah seorang abid (ahli ibadah), baik, selalu mendirikan shalat. Jika ia punya keperluan, kemudian melihat sebuah masjid, maka akan berkata: mari kita mampir ke masjid, karena keperluan kita tidak akan habis. Ia pun masuk ke masjid dan malaksanakan shalat. 

Komentar Ulama

Imam Ashim adalah seorang ulama yang selalu meniru dan menggugu aktifitas dan kebiasaan gurunya. Apa yang dilakukan oleh gurunya, beliau ikuti sebagai jalan dan teladannya. Hal ini disaksikan oleh Hammad bin Salamah, ia berkata: “Saya melihat Ashim bin Bahdalah melakukan seperti yang dilakukan oleh gurunya Abdullah bin Habib al-Sullami”.

Putra Ahmad bin Hambal, Abdullah, bertanya kepada ayahnya tentang pribadi Imam Ashim, beliau menjawab: “Ia adalah laki-laki saleh, baik dan terpercaya. Kemudian saya bertanya lagi: “Bacaan siapa yang disukai oleh ayah?. Ahmad bin Hambal menjawab: “Bacaan imam Madinah (Nafi’). kemudian putranya kembali bertanya. Selain itu?. bacaan Imam Ashim.

Imam Hasan bin Saleh berkata: “Saya tidak pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dari pada Ashim, jika ia berbicara maka ucapannya akan menjadi magnet.”

Imam Syu’bah berkata: “Saya mengunjungi Imam Ashim saat menjelang ajalnya, saya mendengar ia mengulang-ulang membaca ayat 62 Surat al-An’am: (ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ), ia membacanya dengan jelas dan bagus seakan-akan ia membaca dalam keadaan shalat, karena tajwid bacaannya telah mendarah daging (watak alaminya) dalam dirinya.”

Imam Salamah bin Ashim berkata: “Ashim adalah seorang yang memiliki adab, sopan santun, agamis, fasih dan bagus suaranya (bacaannya).

Murid-murid Imam Ashim

Setelah kepergian Imam Abu Abdurrahman al-Sullami kepangkuan Tuhannya, Imam Ashim menduduki posisinya sebagai ganti dari apa yang dirintis oleh gurunya sebagai syakh qira’at Al-Qur’an. Oleh karena itu, dengan kepakaran dan keahlian yang dimiliki oleh Imam Ashim ini, banyak para pelajar yang berdatangan untuk belajar kepadanya, salah satunya adalah: Hafs bin Sulaiman, Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy, Abban bin Taghlib, Hammad bin Salamah, Sulaiman bin Mahran al-A’masy, Abu Mundzir Sallam bin Sulaiman, Sahal bin Syuaib, Syaiban bin Muawiyah. 

Selain nama-nama murid Imam Ashim di atas, ada beberapa murid Imam Ashim yang hanya belajar beberapa huruf (bacaan), yaitu: Abu Amr bin al-Ala’, Khalil bin Ahmad dan Hamzah bin Zayyat.

Setelah mendarma-baktikan diri berkhidmah kepada kalam-Nya, beliau kembali kepada pangkuan Tuhannya pada tahun 127 H di Kufah.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 


(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa Ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi [Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010, hal. 27-28] dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin, jilid I [Bairut: Dar al-Jayl, 1992. hal 330]).


Baca juga biografi imam qira’at lainnya:
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi


Ahad 17 Februari 2019 11:15 WIB
Berapa Kali Idealnya Kita Khatamkan Al-Qur'an dalam Sebulan?
Berapa Kali Idealnya Kita Khatamkan Al-Qur'an dalam Sebulan?
(Foto: @thenational.ae)
Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup setiap Muslim. Seperti peta, orang yang tidak ingin tersesat akan selalu membaca dan memantau bagaimana arahan dalam peta. Peta dibaca setiap sudut-sudutnya.

Begitu pula Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, ia harus dibaca terus menerus oleh setiap Muslim supaya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Dalam mengisi hari-hari kita, apabila kita disuruh memilih lebih baik mana antara membaca Al-Qur’an dengan zikir-zikir yang lain, menurut mazhab shahîh yang dibuat pegangan para ulama adalah bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama daripada zikir-zikir yang lain. Keterangan ini disampaikan oleh Imam Nawawi dalam karyanya At-Tibyan fi Hamalatil Qur’an sebagai berikut: 

اعلم أن المذهب الصحيح المختار الذي عليه من يعتمد من العلماء أن قراءة القرآن أفضل من التسبيح والتهليل وغيرهما من الأذكار وقد تظاهرت الأدلة على ذلك والله أعلم

Artinya, “Ketahuilah, sungguh madzhab shahih yang dibuat pegangan para ulama adalah bacaan Al-Qur’an lebih utama daripada tasbih, tahlil dan zikir-zikir yang lain. Dalil-dalil atas demikian cukup tampak sekali. Wallâhu a‘lam,” (Lihat An-Nawawi, At-Tibyân fi Hamalatil Qur’an, [Beirut, Daru Ibni Hazm: 1994 M], halaman 24).

Namun berapa ukuran standar kita membaca Al-Qur’an itu? Apakah sebaiknya sehari khatam sekali atau bagaimana? Berikut pengakuan Abdullah bin Umar yang mengisahkan percakapannya dengan Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِي كَمْ أَخْتِمُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي كُلِّ شَهْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ وعشرين» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خمس عشرة» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي عَشْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ» قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «فَمَا رَخَّصَ لِي»

Artinya, “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, sebaiknya dalam sebulan saya mengkhatamkan Al-Qur’an berapa kali?’ Rasul menjawab, ‘khatamkan satu kali dalam sebulan.’ Aku kembali bertanya, ‘Saya kuat khatam melebihi itu, Ya Rasul.’ Beliau menjawab, ‘Khatamkan dalam 25 hari.’ ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 15 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih mampu lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 10 hari,’ jawab Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 5 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu, Ya Rasul,’ kataku. Kemudian setelah aku menyatakan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari lima hari, Rasul tidak memberikan keringanan lebih lanjut,” (Lihat As-Sunanul Kubra, 8011).

Pada hadits di atas, Rasulullah memberikan batas seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sebulan adalah sekali khataman. Dalam rangka mempermudah, KH Najib Abdul Qadir, Krapyak, Yogyakarta menyarankan untuk menyesuaikan bacaan juz Al-Qur’an sesuai tanggal hijriyah.

Misalkan hari ini tanggal 1 Jumadil Akhir, maka tugasnya membaca juz 1. Tanggal 2 membaca juz 2. Begitu seterusnya. Apabila tanggal hijriyahnya hanya 29 hari, maka pada tanggal 29, dibaca dua juz dalam sehari terakhir. Saran Kiai Najib ini disampaikan ulang oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubaroh Baedlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan.

Maksimal, atau paling banyak orang yang membaca Al-Quran sampai khatam seseuai hadits di atas adalah dalam kurun waktu lima hari satu kali khataman atau setara sekitar enam juz dalam sehari.

Apabila ada batas maksimal-minimal sesuai petunjuk Rasul di atas, kemungkinan di antara hikmahnya adalah orang akan membaca Al-Quran tidak kemudian membaca secara kebut-kebutan mengejar target sehari khatam, sehingga membaca serampangan dengan mengabaikan tajwidnya.

Selain itu, supaya orang tidak terlalu berlebihan dalam beribadah. Dengan begitu, kegiatan atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban bisa berjalan semua. Padahal bekerja mencari nafkah, merawat anak dan lain sebagainya hukumnya tidak kalah wajibnya.

Adapun membaca Al-Qur’an secara berlebihan, bisa jadi hari ini sehari khatam namun dua bulan berikutnya baru membaca Al-Qur’an lagi dalam arti tidak bisa istiqamah, justru hal demikian perlu dihindari. Sedikit istiqamah lebih baik daripada banyak namun tidak istiqamah. Wallahu a’lam


(Ustadz Ahmad Mundzir)