IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi

Selasa 5 Maret 2019 21:30 WIB
Share:
Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi
(Foto: @pinterest)
Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi
Seorang artis yang baru hijrah enggan mengadzani anaknya yang baru lahir karena mengira bahwa tidak ada anjuran Rasul terkait hal tersebut. Bahkan ia berpendapat bahwa hadits yang menganjurkan untuk mengadzani bayi yang baru lahir adalah daif. Oleh karena itu, menurutnya, itu bagian dari bidah, dan tidak perlu diamalkan.

Benarkah demikian?

Sebenarnya pada prinsipnya, hadits daif yang tidak boleh diamalkan adalah pertama, hadits daif yang parah, yakni salah satu perawinya ada yang muttaham bil kadzzab, yakni rawi tersebut sering berbohong sehingga tidak bisa dipastikan apakah ia berbohong atau tidak ketika meriwayatkan hadits.

Kedua, hadits tersebut tidak berkaitan dengan tema aqidah, halal dan haram. Oleh karena itu, hadits berkaitan dengan keutamaan mengerjakan sesuatu (fadhailul amal) masih bisa diamalkan, karena tidak berkaitan dengan aqidah, halal dan haram.

Yang paling penting adalah hadits tersebut bisa diamalkan oleh semua orang. (Lihat Maḥmūd At-Ṭaḥḥān, Taysīrul Musṭalāhil Hadīts, (Riyadh: Maktabah Maʽarif, 2004), halaman 80-81).

Dalam kasus hadits adzan yang divonis daif tersebut, memang ada sebuah hadits yang salah satu perawinya tergolong dhaif.

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَة ِرضي الله عنهم

Artinya, “Aku melihat Rasulullah SAW mengadzankan seperti adzan shalat pada telinga (cucunya) Husein bin Ali ketika Fatimah Ra. melahirkan.”

Salah satu perawi hadits di atas, ada yang bernama ʽAshim bin Ubaidillah, yang divonis oleh beberapa ulama hadits sebagai orang yang dhaif, seperti Imam Malik, Ibn Maʽīn dan beberapa ulama hadits lain.

Namun, Imam At-Tirmidzi menilai bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan sahih. Menurut At-Ṭaḥḥān, ketika Imam At-Tirmidzi menyebutkan “hasan sahih” maka kemungkinannya ada dua.

Pertama, jika hadits tersebut memiliki satu sanad, maka hadits tersebut hasan menurut ulama tertentu, dan sahih menurut ulama lain. Kedua, jika hadits tersebut memiliki sanad yang lebih satu, maka sanad pertama hasan, sedangkan sanad lain sahih.

Walaupun hadits tersebut masih tetap dihukumi daif (tidak mengikuti pendapat Imam At-Tirmidzi) maka tetap masih bisa diamalkan, karena tingkat kedhaifannya tidak sampai parah dan tidak berkaitan dengan aqidah serta halal haram. Hadits tersebut lebih pantas jika kita golongkan sebagai hadits yang berkaitan dengan keutamaan beramal (fadhailul amal).

Selain itu, ada hadits lain yang menguatkan hadits di atas, yakni hadits yang diriwayatkan oleh Husain bin Ali berikut:

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصبيان

Artinya, “Orang yang anaknya baru lahir, maka adzankanlah pada telinga kanannya, dan bacakanlah iqamat pada telinga kirinya. Dijamin anak itu tidak akan diganggu kuntilanak.”

Imam Al-Mubarakfuri ketika ditanya terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif tentang adzan pada telinga bayi di atas, menjawab bahwa bisa diamalkan karena ada hadits lain yang menguatkan hadits dhaif di atas, yaitu hadits marfu dari Husain bin Ali yang diriwayatkan oleh Abu Yaʽlā al-Mūṣilī dan Ibn Sunnī.

فَإِنْ قُلْتُ كَيْفَ الْعَمَلُ عَلَيْهِ وَهُوَ ضَعِيفٌ لِأَنَّ فِي سَنَدِهِ عَاصِمَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ كَمَا عَرَفْتَ قُلْتُ نَعَمْ هُوَ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ يُعْتَضَدُ بِحَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الَّذِي رَوَاهُ أبو يعلي الموصلي وبن السُّنِّيِّ

Artinya, “Jika aku bertanya, bagaimana mengamalkan hadits dhaif tersebut karena di sanadnya terdapat Āṣim bin Ubaidillah sebagaimana yang kamu ketahui. Maka aku menjawab, iya, walaupun hadits itu dhaif, tetapi hadits itu dikuatkan dengan hadits Husain bin Ali RA. yang diriwayatkan oleh Abu Yaʽlā al-Mūṣilī dan Ibn Sunnī,” (Lihat Aburrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfurī, Tuḥfatul Aḥwadzi bi Syarḥ Jāmiʽ al-Tirmidzī, [Beirut, Dār Kutub: tanpa catatan tahun], juz V, halaman 90).

Bisa disimpulkan walaupun hadits tentang mengadzani bayi yang baru lahir adalah dhaif, akan tetapi masih bisa diamalkan karena ada hadits lain yang menguatkan. Selain itu, hadits tersebut juga masih memenuhi syarat untuk diamalkan karena tidak daif parah, dan berkaitan dengan fadhail amal.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar An-Nawawi menjadikan kedua hadits di atas sebagai landasan hukum kesunahan mengadzani bayi yang baru lahir di telinga kanannya dan men-qamati di telinga kirinya. (Lihat Muhyiddin An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Dār Fikr: 1994], juz II, halaman 106).

Oleh karena itu, dalam memutuskan sebuah hukum tidak serta merta hanya dengan menggunakan satu hadits saja. Dibutuhkan beberapa bidang keilmuan, seperti Ilmu Takhrij dan ilmu-ilmu lain untuk mengkaji sebuah hadits agar lebih komprehensif dan tidak setengah-setengah. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi
Tags:
Share:
Sabtu 9 Februari 2019 10:0 WIB
Mengenal Mubham, Sosok yang Tidak Disebut Namanya dalam Hadits
Mengenal Mubham, Sosok yang Tidak Disebut Namanya dalam Hadits
Ilustrasi (via muis.org.my)
Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi.

Para sahabat yang mengetahuinya emosi. Kurang ajar, beraninya kencing di masjid? Barangkali demikian perasaan yang berkecamuk di antara mereka. Nabi Muhammad setiba di lokasi, langsung meminta bekas kencing tadi disiram sampai bersih.

Kita tak tahu siapa nama orang Arab kampung yang kencing di masjid Nabawi. Dalam redaksi hadits, hanya tertulis “rajulun” yang artinya seorang pria, atau dalam redaksi matan yang lebih spesifik, rajul min a’rabiy, seorang pria dari kalangan Arab kampung.

Namanya tak kita ketahui hingga kini, kendati kisahnya demikian populer. Dalam hadits, rupanya banyak sosok yang tidak disebutkan namanya, baik dalam sanad atau matan hadits. Berdasarkan ilmu hadits, sosok yang tidak disebutkanya namanya ini disebut mubham. Mubham berasal dari kata abhama-yubhimu yang artinya “tidak jelas”.

Baca juga:
Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Ini Kategori Referensi Otentik dalam Verifikasi Hadits atau Takhrij
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
Sebagaimana disinggung di atas, sosok yang mubham ini berada dalam matan hadits. Banyak kisah Nabi didatangi pria atau perempuan yang tidak disebutkan siapa identitasnya, atau hanya sekilas belaka. 

Semisal pada peristiwa Haji Wada’, Nabi Muhammad yang sedang dibonceng di unta oleh sahabat Al Fadhl bin Abbas, didatangi oleh perempuan dari Bani Khats’am yang menanyakan apakah ia boleh menghajikan bapaknya yang sudah renta. Siapakah nama perempuan itu? Tidak disebutkan.

Kadang dalam matan sendiri dijelaskan siapa orang yang dimaksud. Semisal hadits yang dikenal sebagai hadits tentang Iman, Islam dan Ihsan. Dalam berbagai riwayat disebutkan Nabi kedatangan seorang pria rupawan, rambutnya klimis, tiba-tiba muncul dari padang pasir tanpa ada bekas perjalanan, dan duduk di depan Nabi menanyakan seputar Iman, Islam, Ihsan dan tanda kiamat. 

Kita tidak tahu siapakah sang pria, sampai Nabi menjelaskannya kepada para sahabat di akhir kisah: “Dia adalah Jibril, ia datang untuk mengabarkan tentang agama kalian.”

Secara garis besar, cara mengetahui sosok mubham ini, menurut Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalahil Hadits, dilakukan dengan membandingkan berbagai riwayat hadits yang serupa, atau melalui keterangan ahli biografi dan sejarah. 

Pada taraf yang lebih lanjut, tentu sosok mubham diketahui lewat hubungan guru-murid, wilayah tinggal, dan banyak lagi cara ulama “menemukan” nama mereka. Sebagai contoh, hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas tentang seorang pria yang bertanya kepada Nabi,

“Wahai Nabi, apakah haji itu setiap tahun?” Pria yang disebutkan Abdullah bin Abbas ini, setelah dilacak oleh para ulama ternyata bernama Al Aqra’ bin Habis.

Berikut hadits yang juga diriwayatkan Abdullah bin Abbas, tentang seorang perempuan dari Bani Juhainah yang menanyakan apakah ia bisa meng-qadhahaji ibunya yang telah wafat. Imam an-Nasa’i menyebutkan bahwa ia adalah istri sahabat Sinan bin Salamah Al Juhani, dan Imam Ahmad menyimpulkan ia adalah istri Sinan bin Abdullah Al Juhani.

Demikianlah contoh sosok mubham dalam matan. Menurut para ulama hadits, mengetahui nama yang mubham pada matan akan menunjang pemahaman yang lebih baik akan suatu hadits.

Sementara ulama, tanpa mengabaikan pentingnya mengetahui nama tokoh dalam hadits, memahami tujuan disampaikannya hadits lebih penting dibanding debat seputar siapa orang dalam hadits itu. Tentu dengan syarat persoalan penilaian sanad hadits sudah rampung.

Bagaimana jika mubham itu berada dalam rantai sanad? Ulama berbeda pendapat soal ini. Dikarenakan penilaian sanad hadits memiliki standar ilmiah ketat dengan keharusan identifikasi tiap profil perawi hadits, maka adanya sosok yang samar dalam sanad, apalagi tidak diketahui namanya, bisa membikin penilaian akan suatu hadits terhambat – atau malah mengurangi kualitasnya. Bagaimana para peneliti hadits bisa menilai kualitas sanad dari beragam aspeknya, jika nama perawinya saja tidak tahu?

Sebagai pengecualian, oleh mayoritas ulama hadits, jika perawi yang sosoknya tidak disebutkan namanya itu berasal dari kalangan sahabat, maka “rajulun” itu dinilai sebagai pribadi tsiqoh kendati tidak diketahui siapa dia. Kaidahnya: setiap sahabat itu ‘udul (berkepribadian baik – tidak mungkin berbohong atas nama Nabi).

Demikian sekilas pembahasan perihal sosok-sosok yang tidak disebut namanya dalam hadits. Memperhatikan detail nama tokoh dalam hadits, juga perawi yang belum atau tidak tercatat namanya oleh para ulama, adalah kekayaan khazanah keilmuan Islam khususnya bidang hadits, yang membikin ulama tidak terburu-buru dalam menelaah ilmu agama. 

Untuk lebih lanjut soal sosok mubham dalam hadits, Anda bisa merujuk kitab al-Mustafad min Mubhamatil Matn wal Isnad karya Syekh Al ‘Iraqi. Wallahu A’lam.


(Muhammad Iqbal Syauqi)

Selasa 29 Januari 2019 6:30 WIB
Tips Membedakan Agama dan Budaya dalam Memahami Hadits
Tips Membedakan Agama dan Budaya dalam Memahami Hadits
Ilustrasi (via wejdan.org)
Nabi Muhammad ﷺ adalah orang Arab yang tidak terlepas dari unsur-unsur budaya Arab pada masa beliau hidup. Hal ini tentu memengaruhi pembacaan kita atas hadits. Dalam kajian ilmu hadits, tidak semua hadits itu merupakan sunnah. Karena ada sebagian hadits yang sekadar menjelaskan budaya Arab pada saat itu.

Kiai Ali Mustafa Yaqub memberikan pandangan bahwa dalam memahami hadits diharuskan bisa memisahkan antara budaya dan sunnah Rasulullah ﷺ. Dalam karyanya yang berjudul at-Thuruq as-Shahihah fi Fahmi Sunnah an-Nabawiyah disebutkan beberapa kiat untuk membedakan antara agama dan budaya dalam sabda Rasulullah ﷺ. (Lihat: Ali Mustafa Yaqub, at-Thuruq as-Shohihah fi Fahmi Sunnah an-Nabawiyah, [Ciputat: Maktabah Darus-Sunnah, 2016], h. 103)

Pertama, ajaran agama Islam hanya dilakukan oleh kaum Muslimin. Hal ini berbeda dengan budaya yang selain kaum Muslimin pun melakukannya. Sebut saja serban. Serban merupakan budaya Arab. Hal ini bisa dibuktikan bahwa serban tidak hanya dipakai kaum Muslimin pada saat itu. Bahkan pesohor kafir Quraisy seperti Abu Jahal pun memakainya.

Kedua, ada beberapa budaya yang hadir sebelum munculnya Islam. Seperti al-jummah pada rambut kepala yang terus berlanjut hingga Islam datang. Hal ini tentu berbeda dengan agama yang muncul setelah Islam datang. Karena syariat atau agama hanya ada setelah datangnya Islam.

Ketiga, ada beberapa budaya yang muncul sebelum Islam datang. Namun setelah datang Islam, turunlah wahyu dari Allah ﷻ. Maka, walaupun hal tersebut ada sebelum Islam datang, namun keberadaanya menjadi syariat berdasarkan wahyu yang diturunkan. Sebagaimana perhitungan bulan Qamariyah dan manasik haji.

Dahulu sebelum Islam datang, keduanya adalah budaya jahiliyah dan syariat Nabi Ibrahim As. Ketika Islam datang dan menetapkan hal tersebut, maka hal itu menjadi bagian dari syariat Islam. Kaum Muslimin yang menggunakan bulan qamariyah tidak lantas mengikuti budaya jahiliyah, melainkan mengamalkan ajaran syariat Islam.

Hal ini diperkuat dengan pendapat Imam Muslim (w. 256 H) yang membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul:

باب وُجُوبِ امْتِثَالِ مَا قَالَهُ شَرْعًا دُونَ مَا ذَكَرَهُ صلى الله عليه وسلم مِنْ مَعَايِشِ الدُّنْيَا عَلَى سَبِيلِ الرَّأْىِ

Artinya, “Bab Kewajiban Mengikuti Sabda Nabi yang Berupa Syariat, Bukan Pernyataan Beliau tentang Kehidupan Dunia Menurut Pendapatnya. (Lihat: Abû al-Hajjâj Muslim, Saḥiḥ Muslim, [Beirut: Dâr al-Jîl, t.t], j. 7, h. 95)

Imam al-Nawawi dalam kitab al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, sebagaimana dikutip Kiai Ali Mustafa, juga menguatkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat dalam permasalahan ini. Sehingga hal tersebut bisa dikategorikan sebagai bagian dari konsensus (ijma’) ulama.

Maka dari itu kita perlu meneliti lebih dalam ketika membaca sebuah hadits. Karena tidak semua hal yang kita temukan dalam hadits itu wajib kita ikuti. Kita wajib mengikuti jika hal tersebut merupakan bagian dari agama. Namun sebaliknya, jika tidak berkaitan dengan agama, maka kita tidak wajib mengikuti. Wallahu a’lam.

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)

Ahad 25 November 2018 10:0 WIB
Umur Berapa Anak Boleh Belajar Hadits?
Umur Berapa Anak Boleh Belajar Hadits?
istockphoto.com
Maraknya semangat belajar Islam di beberapa kalangan masyarakat, tak lepas dari keinginan pula menjadikan anak-anak generasi saleh-salehah, yang mengenal dan mencintai agamanya. Pendidikan agama masuk dalam kegiatan-kegiatan sekolah – bahkan ada yang menjadikannya sebagai “nilai plus” institusi pendidikan.

Sekolah secara mandiri turut memberikan pelajaran agama mencakup tata cara ibadah sehari-hari, misalnya seperti shalat atau puasa. Bahkan ada pula yang menambahkan program hafalan Al-Qur’an dan hadits sedari dini.

Tentu memperkenalkan, membaca bahkan menghafal Al-Qur’an dan hadits sedari dini tidaklah buruk. Di beberapa bagian dunia dan dalam sejarah, kita kenal para ulama yang sudah hafal Al-Qur’an 30 juz pada usia belia. Terlepas dari plus-minus pendidikan keislaman sebagai nilai tambah lembaga sekolah formal, hal yang menarik dicermati adalah soal bagaimana anak-anak belajar hadits.

Hadits adalah bidang ilmu keislaman yang terhitung kompleks. Kompleksitas ini didapat tidak hanya dari persoalan konten hadits, tapi juga tentang sejarah dan cara periwayatannya, yang akan berimbas pada kualitas dan penggunaannya dalam hukum Islam.

Semisal kita waktu kecil, mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) atau madrasah. Kita diajarkan hadits-hadits pendek yang mudah dihafal, yang dipilihkan dari kitab-kitab dasar seperti 101 Hadits Budi Luhur atau Al-Arbain an-Nawawiyah karya Imam an-Nawawi. 

Hadits kerap diajarkan kepada anak untuk dihafal, atau dipahami sebagai pedoman bertata krama sehari-hari. Kendati sedari awal sudah diajarkan etika kebersihan, menjenguk orang sakit, atau mendahulukan kaki kanan dalam ibadah, “alasan” mengapa harus begitu menurut Islam dijelaskan dalam hadits. Selain itu, biasanya hadits diperkenalkan pada anak-anak yang sudah cukup cakap membaca Al-Qur’an.

Menurut saya, tentu bangga – juga nggemesin – ketika anak-anak sudah pandai menyitir satu dua hadits, dan mereka memahami isinya. Bagaimana anak-anak baiknya belajar hadits? Pada usia berapa mereka diperkenankan, atau sudah dianggap pantas?

Para ulama klasik, mengingat ilmu hadits cukup kompleks terkait matan dan sanad, sebagaimana dicatat oleh Syekh Mustafa Al Azami dalam Studies in Hadith Methodology and Literature, mempelajarinya perlu kecakapan ilmu-ilmu keislaman dasar seperti Al-Qur’an dan bahasa Arab. Syekh Azami, mengutip keterangan Imam ar-Ramahurmuzi dalam kitab al Muhaddits al Fashil bayna ar Rawi wal Wa’i, para ulama kebanyakan baru join belajar hadits sekitar usia 20-an.

Salah satu ulama hadits terkemuka bernama Sufyan bin ‘Uyaynah, disebutkan belajar hadits mulai usia 15 tahun. Sufyan ats-Tsauri, mulai belajar hadits pada usia 20 tahun, dan pendiri mazhab Hanbali, Ahmad bin Hanbal, mulai belajar dan menghafal hadits di usia 16 tahun. 

Tidak ada kesimpulan tertentu mengenai batasan umur minimal seorang anak boleh belajar hadits. Usia Imam Ahmad bin Hanbal yang belasan tahun – kita dapat nilai sebagai orang yang beranjak dewasa – dengan kecerdasannya yang luar biasa, kemudian Imam Syafii misalnya, yang belajar Al-Muwaththa’ kepada Imam Malik bin Anas pada usia remaja bisa menjadi catatan. 

Usia belasan atau dewasa muda itu menunjukkan bahwa pada usia itu mereka belajar hadits secara fokus sebagai sebuah ilmu, setelah mapan dengan ilmu-ilmu lain seperti Al-Qur’an, kaidah bahasa Arab, dan persoalan-persoalan fiqih yang pelik.

Ulama dengan penilaian hadits yang cenderung ketat menyatakan bahwa orang yang meriwayatkan hadits ketika masih anak-anak, riwayatnya bisa dinilai dla’if (lemah). Namun ada juga yang mengomentari bahwa jika seorang anak sudah mampu membedakan sapi dan keledai, maka ia sudah diperkenankan belajar dan meriwayatkan hadits. Bahkan salah satu murid Imam Abdur Razzaq al Shan’ani, salah satu ulama pendahulu yang membukukan hadits, disebutkan masih berusia 7 tahun.

Tapi seiring masa, meriwayatkan hadits dari ulama, meski hanya membacakan atau mendengarkan saja demi suatu sanad, menjadi hal yang istimewa. Para ulama klasik , barangkali juga tetap dilestarikan di masa sekarang, kerap membawa anak-anaknya, bahkan yang masih bayi, ke majelis-majelis ijazah dan semaan hadits. Mencari berkah toh tak ada salahnya. 

Tapi bagaimana kaitannya dengan tradisi belajar hadits? Saat anak sudah mampu membaca teks hadits, maka di masa yang akan datang, setidaknya mereka dipandang memiliki legitimasi untuk meriwayatkannya kepada orang lain. Demikianlah, dalam tradisi periwayatan hadits dengan ijazah, murid tidak dituntut paham atau menjelaskan konten hadits yang didapatnya.

Legitimasi, atau ijazah sanad hadits bagi anak-anak, oleh para ulama dinilai akan merawat kualitas sanad sehingga bisa lebih dekat kepada Nabi (isnad ‘ali), yang menambah keistimewaan suatu hadits. Ijazah dalam periwayatan sanad, juga berfungsi untuk menjaga otoritas tersambungnya riwayat sampai Kanjeng Nabi.

Dari keterangan di atas, setidaknya berikut bisa kita simpulkan. Pertama, untuk mengenal hadits, seorang anak yang sudah bisa mengenal bahasa Arab bisa diperkenankan untuk itu. Mungkin tidak ada salahnya memperkenalkan ajaran Nabi Muhammad dalam bentuk teksnya sedari dini. 

Karena itu, hemat penulis, hadits-hadits yang sesuai untuk mereka adalah yang mudah diingat, dan terkait tata krama sehari-hari. Jelas bukan kompetensi yang pantas untuk mereka tahu hadits-hadits seputar hukum, apalagi yang redaksinya panjang. Selain itu, di masa sekarang, mengajak anak ke majelis semaan hadits untuk ngalap berkah juga bisa menjadi bentuk pengenalan hadits yang baik. 

Kedua, jika tujuannya adalah fokus pembelajaran hadits, terlebih soal ilmu hadits dan sanad, serta fiqih atau akidah, tentu perlu usia dan penguasaan ilmu yang lebih mapan. Hal ini berkaitan erat dengan kebijaksanaan guru, atau orang tua yang memahami kepentingan belajar hadits sebagai dasar hukum Islam. 

Usia remaja atau beranjak dewasa tentu lebih pantas karena dinilai mapan secara penguasaan diri. Di samping itu, jika disertai pemahaman kaidah bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman dasar lain, menjadikannya pantas untuk mulai belajar hadits dengan tujuan untuk memperdalam ajaran Islam.

Hadits adalah ilmu dan khazanah keislaman yang kini mudah ditemukan dalam keseharian kita. Namun belajar Islam tentu tidak terbatas pada hadits yang terbatas. Banyak sekali riwayat hadits, keterangan ulama, serta cara memahami hadits yang menjadikan perkenalan dan pembelajaran kita akan hadits sejalan dengan tujuan untuk mengenal sosok Nabi yang welas asih. 

Melihat kondisi tersebut, perkenalan dan belajar hadits untuk anak, tentu adalah tantangan tersendiri. Persoalannya bukan masalah boleh tidaknya anak-anak belajar hadits. Tapi untuk anak-anak yang memiliki dunianya sendiri, persoalannya adalah mereka sudah mampu dan sesuai atau belum untuk hal itu. Wallahu a’lam.

(Muhammad Iqbal Syauqi)