IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu

Rabu 6 Maret 2019 23:0 WIB
Share:
Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu
Ilustrasi (via filozofia.al)
Pernahkah Anda mengalami ketika shalat berjamaah di masjid yang penuh sesak tiba-tiba Anda merasa ada cairan yang jatuh di kepala Anda dan ternyata itu adalah kotoran cicak? Atau, pernahkah Anda menaiki sepeda motor di depan sebuah pasar tradisional yang ramai dan tiba-tiba ban sepeda motor Anda terkena paku hingga Anda harus menuntunnya menuju tukang tambal ban?

Bila Anda pernah mengalami itu semua atau yang semisalnya, atau kelak hal semacam itu terjadi pada diri Anda, janganlah menggerutu, marah atau bahkan menyalahkan pihak lain yang belum tentu bersalah. Salahkan saja diri Anda dan introspeksilah. Karena bisa jadi terjadinya sesuatu yang tak menyenangkan pada diri Anda dikarenakan karena dosa dan kesalahan yang pernah Anda perbuat sebelumnya, mungkin satu atau dua jam yang lalu, dua atau tiga hari yang lalu, atau bahkan mungkin dosa yang pernah Anda perbuat sekian tahun yang lalu.

Mengapa demikian?

Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman di dalam Surat An-Nisa ayat 79:

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Artinya: “Dan apapun yang mengenaimu berupa kejelekan maka itu dari dirimu sendiri.”

Penjelasan para ulama ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini menunjukkan satu kesimpulan bahwa kejelekan apapun yang menimpa diri seseorang adalah karena perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Dalam kitab Tafsîr Jalâlain misalnya dijelaskan bahwa kejelekan itu mendatangimu karena dosa-dosa yang telah engkau lakukan mengakibatkan terjadinya kejelekan itu (Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahalli, Tafsîr Jalâlain, [Kairo: Darul Hadis, tt.], hal. 114). 

Sementara Imam ‘Alauddin Ali bin Muhammad Al-Baghdadi atau yang lebih dikenal dengan Al-Khazin di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kejelekan yang menimpa dirimu berupa kesulitan, kepayahan, hal yang tak disenangi, dan penyakit itu semua berasal dari dirimu sendiri sebab dosa yang engkau perbuat menyebabkan terjadinya semua itu. Dan kejelekan itu menimpamu sebagai hukuman atas dosamu itu (‘Alauddin Ali Al-Baghdadi, Tafsîr Al-Khâzin, [Mesir: Darul Kutub Al-Arabiyah Al-Kubra, tt.], juz I, hal. 404).

Lebih jauh dari itu Syekh Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd mengutip sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:

وعن عائشة رضي الله عنها ما من مسلم يصيبه وصب ولا نصب حتى الشوكة يشاكها، وحتى انقطاع شسع نعله إلا بذنب وما يعفو الله عنه أكثر 

Artinya: “Dari Sayidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ: tidaklah seorang muslim terkena sakit dan kepayahan, hingga terkena duri dan terputusnya tali sandal jepitnya, kecuali disebabkan suatu dosa, dan dosa yang dimaafkan Allah lebih banyak.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut: Darul Fikr, 2007], juz I, hal. 179)

Dari sini sangat jelas bahwa hal apapun yang tidak menyenangkan, baik yang berat maupun yang ringan, yang besar maupun yang kecil, yang menimpa diri seseorang itu merupakan efek dari perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Bahkan terputusnya tali sandal jepit yang bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang lumrah terjadi pun merupakan efek dan hukuman atas dosa yang telah lalu.

Dapat dipahami pula bahwa pada dasarnya setiap dosa yang dilakukan seorang manusia akan membawa efek buruk bagi dirinya. Hanya saja rahmat Allah lebih luas. Bahwa dosa-dosa yang diampuni Allah sehingga tak menimbulkan efek buruk bagi pelakunya jauh lebih banyak dari dosa yang mengakibatkan hukuman bagi pelakunya, sebagaimana disebutkan Syekh Nawawi di atas. Tidak bisa dibayangkan, bila tanpa ampunan dan rahmat Allah setiap dosa selalu berefek buruk bisa jadi tak ada seorang pun yang hidup di dunia ini dengan tenang karena setiap harinya ia selalu ditimpa kesusahan akibat tumpukan dosa yang dilakukannya.

Yang juga perlu digarisbawahi adalah bahwa dalam kehidupan bermasyarakat apa yang dijelaskan di atas semestinya digunakan untuk menasihati diri sendiri, bukan untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Tidak pas kiranya bila seorang teman sedang sakit kemudian kita mengatakan kepadanya bahwa sakitnya itu karena banyaknya dosa yang ia lakukan. Sebaliknya, justru ketika diri kita terkena musibah atau kesusahan lainnya maka kita mesti introspeksi dan mawas diri bahwa kita pastilah telah melakukan satu kesalahan sehingga Allah menghukum dengan kesusahan itu.

Lalu adakah satu cara agar terhindar dari efek-efek buruk akibat perbuatan dosa yang dilakukan, mengingat setiap orang setiap harinya bisa jadi tak lepas dari dosa?

Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya menyampaikan:

وَاسْأَلُوهُ الْمَغْفِرَةَ، إذا هِيَ رَأَسُ الْعَمَلِ الَّذِي بِحُصُولِهِ تَزُولُ التَّبِعَاتُ

Artinya: “Mintalah ampunan kepada Allah karena ampunan itu pokok amal yang bila didapatkan maka akan hilanglah efek-efek buruk (perbuatan dosa).” (Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth, [Beirut: Darul Fikr, 2005], juz IX, hal. 286)

Ya, dengan memperbanyak istighfar meminta ampunan kepada Allah diharapkan dapat terhindar dari efek buruk sebagai hukuman atas dosa yang dilakukan. Wallâhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal.

Tags:
Share:
Selasa 5 Maret 2019 17:30 WIB
Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten
Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten
Ilustrasi (Freepik)
Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ.

Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14).

Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih. Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja.

Meski demikian ada kriteria tertentu di mana seseorang melakukan suatu amalan dengan motivasi tertentu namun masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58). Dalam kitab tersebut beliau memaparkan bahwa tingkatan pertama yang merupakan tingkat paling tinggi di dalam ikhlas sebagai berikut:

فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun.

Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. 

Adapun tingkatan ikhlas yang kedua Syekh Nawawi menuturkan lebih lanjut:

والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”

Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya.

Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas. Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak.
Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan:

والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات 

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya.

Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah.

Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat.

Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan:

وما عدا ذلك رياء مذموم

Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

Wallâhu a’lam. 

Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal

Selasa 26 Februari 2019 10:30 WIB
Enam Belas Adab Orang Terhormat
Enam Belas Adab Orang Terhormat
ilustrasi (Bright Side)
Secara sosial masyarakat bisa dibedakan ke dalam dua kelompok besar, yakni orang-orang terhormat dan orang-orang biasa. Orang-orang terhormat umumnya memiliki privilese (hak-hak isitimewa) di masyarakat seperti dihormati dan lain sebagainya.

Namun demikian, orang-orang terhormat hendaknya memperhatikan adab-adab tertentu sebagai mana nasihat Imam Al-Ghazali dalam kitab beliau berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 434) sebagai berikut:

آداب الشريف: يصون شرفه، ولا يأكل بِنَسَبِهِ، ولا يتعدى بِحَسَبِهِ، همته التواضع لربه، والخوف من سيده، ويأخذ بالفضل على من دونه، ولا يساوى من هو مثله، يعرف الفضل لاهل العلم وإن كان مثلهم في العلم أو أعلم، يلازم أهل الدين من أهل الفقه والقرآن، ويهذب أخلاقه، ويتحفظ في ألفاظه عند غضبه وخطابه، ويكرم جلساءه، ويواصل إخوانه، ويصون أقاربه، ويعين جيرانه، ويزين بنفسه أخدانه 

Artinya: “Adab orang terhormat, yakni: menjaga kehormatan diri, tidak makan dengan terlalu bernafsu, tidak melebihi batas kecukupan, bertawadhu kepada Allah SWT, ‘segan kepada pimpinan, menganggap utama orang yang berada di bawahnya, dan tidak menganggap sama orang yang sebetulnya sejajar, mengetahui keutamaan orang berilmu meskipun sejajar ilmunya atau lebih pandai dari diri sendiri meski sebenarnya ia lebih pintar, senantiasa mendekat pada ahli agama dari kalangan ahli fiqih dan ahli Al-Quran, disiplin dalam menjaga akhlak, menjaga kata-kata saat marah dan berbicara, memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya, menyambung persaudaraan, menjaga para kerabat, menolong tetangga dan menjadi hiasan yang indah bagi teman-temannya.” 

Dari kutipan di atas dapat diuraikan keenam belas adab orang terhormat sebagai berikut: 

Pertama, menjaga kehormatan diri. Cara terbaik menjaga kehormatan diri adalah menjaga akhlak yang baik kepada siapapun. Dengan akhlak yang baik, orang-orang terhormat akan tetap terjaga keterhormatannya. Sebaliknya dengan akhlak yang buruk, mereka akan kehilangan keterhormatannya sebab orang lain akan menilainya tidak pantas dihormati.   

Kedua, tidak makan dengan terlalu bernafsu. Cara makan orang-orang terhormat tentu berbeda dengan orang-orang yang hidup dalam serba kekurangan. Jika mereka makan dengan sangat bernafsu karena jarang makan misalnya, maka orang-orang terhormat makan dengan etika tertentu seperti pelan hingga tidak menimbulkan suara kunyahan yang tak perlu. 

Ketiga, tidak melebihi batas kecukupan. Porsi makan orang-orang terhormat hendaknya sewajarnya. Mereka hendaknya menghindari “kethowo” (bahasa Jawa), yakni mengambil porsi makan terlalu banyak karena terlau bernafsu tetapi pada akhirnya tidak bisa menghabiskannya. Hal ini pasti menimbulkan kemubadziran yang dicela agama.  

Keempat, bertawadhu’ kepada Allah SWT. Orang-orang terhormat dituntut bersikap tawadhu’, dalam arti mereka tidak boleh bersikap sombong kepada siapapun, terlebih kepada Allah SWT. Sikap tawadhu’ mereka justru akan mengangkat derajat mereka dan menjadikannya orang-orang mulia di hadapan Allah SWT. 

Kelima, segan kepada pimpinan. Orang-orang terhormat hendaknya tetap menunjukkan rasa segan atau takut kepada para pimpinan dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi. Sebagai contoh, orang-orang terhormat yang tinggal di wilayah tertentu hendaknya menunjukkan sikap hormat kepada para pimpinannya seperti ketua RT, ketua RW, kepala desa dan seterusnya hingga kepala negara. Intinya adalah tidak boleh meremehkan mereka. 

Keenam, menganggap utama orang yang berada di bawahnya. Orang-orang terhormat hendaknya memperlakukan orang lain baik yang berada di bawah maupun di atasnya sebagai orang-orang utama. Artinya orang-orang terhormat tidak boleh merendahkan orang-orang di luar dirinya sekalipun mereka secara sosial berada di bawahnya. 

Ketujuh, tidak menganggap sama orang yang sebetulnya sejajar. Orang-orang terhormat hendaknya menganggap orang-orang yang secara sosial sebetulnya sejajar sebagai orang-orang yang lebih utama. Artinya orang-orang terhormat hendaknya selalu menghormati orang lain tanpa memandang status sosial, misalnya.

Kedelapan, mengetahui keutamaan orang-orang berilmu meskipun ia sejajar ilmunya dengan mereka, atau malahan ia lebih pintar. Orang-orang terhormat yang sekaligus orang-orang pintar hendaknya menganggap orang-orang pintar lainnya sebagai orang yang lebih utama dari pada dirinya sendiri meski ia sebenarnya lebih pandai dari pada mereka. 

Kesembilan, senantiasa mendekat pada ahli agama dari kalangan ahli fiqih dan ahli Al-Quran. Orang-orang terhormat yang tidak berasal dari kalangan agamawan sebaiknya mendekat pada para ulama dari kalangan ahli fiqih dan Ahli Al-Qur’an termasuk para ahli tafsir. Hal ini agar mereka tidak hanya terhormat di mata masyarakat tetapi juga di mata Allah karena ketawaannya.  

Kesepuluh, disiplin dalam menjaga akhlak. Orang-orang terhormat hendaknya senantiasa menjaga budi pekerti. Hendaklah mereka selalu memperhatikan situasi dan kondisi di mana ia berada dan kepada siapa mereka sedang berbicara dan bertingkah laku.

Kesebelas, menjaga kata-kata saat marah dan berbicara. Orang terhormat tidak bebas berucap semaunya, terlebih mengucapkan kata-kata kotor di saat marah. Hal ini karena semakin tinggi kedudukan seseorang di masyarakat semakin kuat tuntutan berakhlak yang baik karena mereka akan diperhatikan dan dicontoh orang-orang di sekitarnya. 

Kedua belas, memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya. Orang-orang terhormat memang tidak bebas berbuat sesukanya. Kedudukannya yang tinggi di masyarakat justru menuntutnya untuk selalu memberikan contoh yang baik seperti memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya meski mereka secara sosial berada di bawahnya. 

Ketiga belas, menyambung persaudaraan. Orang-orang terhormat bisa saja semula adalah orang-orang biasa yang kemudian karena sebab-sebab tertentu mengalamai kenaikan status sosial. Tidak boleh kenaikan status sosial ini kemudian membuat mereka menjadi sombong dengan memutus persaudaraan. 

Keempat belas, menjaga para kerabat. Orang terhormat hendaknya memperhatikan para kerabatnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Misalnya, menjaga agar mereka tidak terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum, baik hukum agama maupun hukum negara, seperti narkoba dan sebagainya. 

Kelima belas, menolong tetangga. Orang terhormat hendaknya peduli terhadap lingkungan sekitarnya khususnya tetangga. Hidup bertetangga memang hendaknya saling membantu karena suatu ketika pihak yang satu membutuhkan pertolongan dari pihak lain, atau sebaliknya. 

Keenam belas, menjadi hiasan yang indah bagi teman-temannya. Orang terhormat hendaknya dapat mewarnai pergaulan dengan teman-temannya dengan warna yang baik sehingga berdampak positif bagi akhlak mereka. Artinya orang terhormat dalam pergaulan sehari-hari hendaknya mewarnai dengan kebaikan dan bukan sebaliknya diwarnai dengan keburukan. 

Demikianlah keenam belas adab atau etika yang hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang secara sosial merupakan orang-orang terhormat baik karena jabatan, keturunan, kepandaian, ketokohan, kekayaan atau lainnya sebagaimana dinasihatkan oleh Imam Al-Ghazali. Intinya adalah semakin tinggi keterhormatan seseorang semakin banyak adab yang hendaknya mereka perhatikan dan laksanakan dengan baik, dan bukan sebaliknya. 

Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU Surakarta.
 


Kamis 21 Februari 2019 20:15 WIB
Enam Belas Adab Istri terhadap Suami
Enam Belas Adab Istri terhadap Suami
Ilustrasi (via Pinterest)
Istri dan suami adalah dua insan yang saling mengikatkan diri melalui perkawinan. Terdapat hak dan kewajiban bagi  masing-masing termasuk yang berkaitan dengan adab. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 442) menjelaskan tentang adab istri terhadap suami sebagai berikut:

آداب المرأة مع زوجها: دوام الحياء منه، وقلة المماراة له، ولزوم الطاعة لأمره، والسكون عند كلامه، والحفظ له في غيبته، وترك الخيانة في ماله، وطيب الرائحة، وتعهد الفم ونظافة الثوب، وإظهار القناعة، واستعمال الشفقة، ودوام الزينة، وإكرام أهله وقرابته، ورؤية حاله بالفضل، وقبول فعله بالشكر، وإظهار الحب له عند القرب منه، وإظهار السرور عند الرؤية له..

Artinya: “Adab istri terhadap suami, yakni: selalu merasa malu, tidak banyak mendebat, senantiasa taat atas perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara,  menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami, menjaga badan tetap berbau harum, mulut berbau harum dan berpakaian bersih, menampakkan qana’ah, menampilkan sikap belas kasih, selalu berhias, memuliakan kerabat dan keluarga suami, melihat kenyataan suami dengan keutamaan, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya, menampakkan rasa gembira di kala melihat suami.” 

Baca juga:
Dua Belas Adab Suami terhadap Istri
Lima Tanda Suami Saleh Menurut Perempuan
Dari kutipan di atas dapat diuraikan keenam belas adab istri terhadap suami sebagai berikut:

Pertama, senantiasa merasa malu terhadap suami. Seorang istri hendaknya tetap mempertahankan rasa malu kepada suami meski sudah bukan pengantin baru lagi. Tentu saja malu dalam konteks ini adalah rasa malu dalam arti positif,  seperti malu ketika bau badannya menimbulkan ketidaknyamanan; malu berpenampilan tidak menarik; atau malu berperilaku buruk, dan sebagainya. 

Kedua, tidak banyak mendebat. Perdebatan yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan ketegangan dan konflik. Seorang istri hendaknya tidak  mendebat suami dalam hal-hal yang tidak perlu. Namun demikian diskusi serius dengan suami  untuk mencari solusi terbaik dari suatu permasalahan tidak sebaiknya dihindari. Hal ini justru baik dalam rangka bermusyawarah. 

Ketiga, senantiasa taat atas perintahnya. Taat pada suami adalah kewajiban. Namun demikian apabila perintah suami bertentangan dengan syara’, seorang istri dapat mengajukan keberatan dengan tetap mengedepankan kesopanan dan cara yang baik dalam menolaknya. Atau, istri dapat mengajukan alternatif lain dari perintah suami. 

Keempat, diam ketika suami sedang berbicara. Seorang istri hendaknya mendengarkan dengan baik apa yang sedang dikatakan suaminya. Jika ia bermaksud memotong pembicaraannya sebaiknya meminta persetujuannya terlebih dahulu. Jika ternyata suami tidak memberi ijin, sebaiknya istri diam dan tidak memprotes secara keras demi mencegah timbulnya ketegangan.  

Kelima, menjaga kehormatan suami ketika ia sedang pergi. Seorang istri hendaknya tetap berperilaku baik meski suami sedang tak ada dirumah. Dalam situasi seperti ini seorang istri hendaknya tidak memanfaatkan kesempatan untuk bersenang-senang menuruti hawa nafsu, misalnya dengan  pergaulan yang sangat longgar. Hal ini sangat tidak baik sebab bisa berpotensi menimbulkan fitnah.    

Keenam, tidak berkiahanat dalam menjaga harta suami. Seorang istri adalah pihak yang paling dipercaya suami untuk menjaga hartanya. Kepercayaan ini tidak sebaiknya dikhianati dengan penghambur-hamburan yang tidak perlu. Apalagi jika harta itu digunakan untuk kemaskiatan yang sudah pasti akan menimbulkan persoalan yang tidak baik di kemudian hari.  

Ketujuh, menjaga badan tetap berbau harum. Seorang istri hendaknya menjaga bau badannya sedemikian rupa sehingga suami merasa nyaman di sampingnya. Namun demikian hal ini tidak berarti seorang istri harus mandi parfum. Mandi secara teratur dengan air dan sabun mandi yang  wangi merupakan cara paling mudah untuk menjaga badan tetap segar.    

Kedelapan, mulut berbau segar dan berpakaian bersih. Tidak hanya terkait dengan bau badan, tetapi juga bau mulut hendaknya menjadi perhatian istri, yakni selalu segar. Demikian pula pakaian yang ia kenakan sehari-hari juga harus bersih. Semua ini adalah agar mereka sama-sama nyaman dalam berinteraksi baik di dalam maupun di luar rumah. 

Kesembilan, menampakkan qana’ah. Seorang istri hendaknya tidak menuntut lebih dari apa yang mampu diberikan suami kepadanya. Ia hendaknya menysukuri berapa pun jumlah atau wujud pemberiannya. Namun demikian hal ini tidak berarti seorang istri tidak boleh mendorong dan mendoakan suami agar lebih maju lagi dalam bidang ekonomi atau bidang lainnya. 

Kesepuluh, menampilkan sikap belas kasih. Seorang istri hendaknya bersikap belas kasih  kepada suami atas semua jerih payahnya. Jangan sampai ia bersikap kasar atau bahkan menindas  suami yang kondisinya sedang lemah, seperti sakit. Apalagi dengan sengaja menyakiti perasaannya dengan hinaan yang merendahkan dirinya. Bagaimanapun ia harus mengasihi suaminya dengan sepenuh hati. . 

Kesebelas, selalu berhias. Seorang istri hendaknya selalu  tampil menarik di depan suami. Banyak manfaat dari hal ini, misalnya suami menjadi lebih betah di rumah dan tidak terdorong untuk mencari-cari alasan keluar rumah. 

Kedua belas, memuliakan kerabat dan keluarga suami. Seorang istri hendaknya selalu sadar bahwa suami umumnya memiliki hubungan emosional yang kuat dengan para kerabat dan keluarganya.  Oleh karena itu seorang istri hendaknya dapat memperlakukan kerabat dan keluarga suami dengan respek tanpa mempersoalkan status sosial mereka. 

Ketiga belas, melihat kenyataan suami dengan keutamaan. Apapun keadaan suami, seorang isri hendaknya dapat menerimanya sebagai kenyataan. Jika suami keadaannya baik, seorang istri hendaknya mensyukurinya sebagai kenikmatan. Jika sebaliknya, seorang istri hendaknya bersikap sabar. Syukur dan sabar merupakan keutamaan dari Allah subhanahu wa ta’ala

Keempat belas, menerima hasil kerja suami dengan rasa syukur. Berapa pun penghasilan suami, seorang istri hendaknya dapat mensyukuri. Dengan mensyukuri nikmat-Nya, Allah akan menambahkan dengan berbagai kenikmatan yang lain. 

Kelima belas, menampakkan rasa cinta kepada suami kala berada di dekatnya. Seorang istri hendaknya senantiasa menunjukkan rasa cintanya kepada suami terlebih saat berada di dekatnya. Hal ini karena salah satu tujuan dari pembentukan rumah tangga adalah untuk membentuk keluarga yang saling mencintai. 

Keenam belas,  menampakkan rasa gembira di kala melihat suami. Kapan saja dan di mana saja seorang istri bertemu dengan suaminya, hendaknya ia selalu menunjukkan rasa gembiranya. Hal ini amat penting karena umumnya suami merasa gembira ketika melihat istrinya bergembira. 

Demikianlah keenam belas adab istri terhadap suami sebagaimana dinasihatkan Imam Al-Ghazali. Semakin banyak adab terhadap suami yang bisa dilaksanakan, semakin tinggi derajat kesalehan istri. Istri salehah adalah istri yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban. Semakin tinggi nilai-nilai keadaban seseorang sesunguhnya ia semakin tinggi derajat kemuliaannya baik di mata Allah subhanahu wa ta’ala maupun sesama manusia.


Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.