IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Hukum Ziarah Kubur bagi Perempuan

Jumat 8 Maret 2019 12:0 WIB
Share:
Hukum Ziarah Kubur bagi Perempuan
(Foto: @vocativ.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, kami kerap ikut rombongan ziarah walisongo di samping berziarah ke makam orang tua dan guru-guru kami sendiri. Sementara sebagian ustadzah melarang perempuan berziarah kubur. Mohon penjelasan agama atas hal ini. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Ida Nur Fathimah)

Jawaban
Ibu penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Larangan ustadzah ibu mungkin tidak berlebihan. Pasalnya, ulama berbeda pendapat perihal praktik ziarah kubur bagi perempuan. Sedangkan ustadzah ibu mengikuti pandangan ulama yang mengharamkannya.

Ulama yang mengharamkan ziarah kubur bagi bagi perempuan melandasakan pandangannya setidaknya pada hadits riwayat At-Tirmidzi yang dikutip di dalam Bulughul Maram. Bunyi hadits tersebut secara lengkap adalah sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه أن رسول الله لعن زائرات القبور أخرجه الترمذي وصححه ابن حبان

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW melaknat perempuan peziarah kubur,” (HR At-Tirmidzi dan disahihkan Ibnu Hibban).

Tindakan yang dilaknat, dikenakan sanksi rajam atau had, atau diancam keras dalam syariat adalah tindakan yang diharamkan. Hal ini berlaku untuk tindakan ziarah kubur bagi perempuan sebagaimana bunyi hadits riwayat At-Tirmidzi.

Adapun ulama yang membolehkan tindakan ziarah kubur bagi perempuan memaknai hadits sebagai larangan atas kemungkaran yang potensial dilakukan oleh perempuan ketika ziarah kubur, bukan semata atas praktik ziarahnya itu sendiri sebagaimana keterangan dalam Ibanatul Ahkam, syarah Bulughul Maram berikut ini:

اللعن الطرد من رحمة الله عز وجل ومن علاماته الكبيرة أن يرتب عليها الشارع الرجم أو الحد أو الوعيد الشديد، وقد لعن صلى الله عليه وسلم زائرات القبور وهذا دليل لمن قال بتحريم زيارتهن القبور مطلقا، ومن قال بجواز ذلك حمل هذا الحديث على من ارتكبت منكرا عند زيارتهن كلطم خدود وشق جيوب ونياحة ذلك لقلة صبرهن وكثرة جزعهن

Artinya, “Laknat adalah pengusiran dari rahmat Allah. Salah satu tanda besar tindakan yang dilaknat adalah konsekuensi rajam, had, atau ancaman keras dari pembuat syariat. Sementara Rasulullah SAW melaknat perempauan peziarah kubur. Ini menjadi dalil bagi ulama yang mengharamkan secara mutlak ziarah kubur bagi perempuan. Sementara ulama yang membolehkannya memahami hadits ini sebagai keharaman atas perempuan yang melakukan kemungkaran saat berziarah seperti histeris menampar pipi, menyobek kantong pakaian, dan meratap karena kekurangan rasa sabar dan kebanyakan rasa sedih mereka,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 199).

Bagi ulama yang membolehkan perempuan berziarah, larangan ziarah kubur bagi perempuan terletak pada kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan saat ziarah kubur seperti histeris dan meratap, dan mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya.

تحريم زيارة القبور للنساء لما يقع منهن حال الزيارة من الجزع وشق الجيوب ولطم الخدود وتضييع حق الزوج والتبرج

Artinya, “Pengharaman ziarah kubur bagi perempuan dilakukan karena rasa sedih/cemas mendalam, merobek kantong pakaian, menampar pipi, menyia-nyiakan hak suami, dan bersolek mentereng saat ziarah,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 200).

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Senin 18 Februari 2019 12:15 WIB
Bagaimana Shalat di Tempat yang Terkena Najis Anjing?
Bagaimana Shalat di Tempat yang Terkena Najis Anjing?
(Foto: @shutterstock)
Bagaimana Shalat di Tempat yang Terkena Najis Anjing?  
Assalamu alaikum wr. wb.
Pak ustadz saya tinggal dengan ibu saya (non-Muslim). Sejak ayah meninggal, ibu saya murtad. Beberapa tahun kemudian ibu saya pelihara anjing di rumah yang awalnya diikat di teras rumah tapi lama-kelamaan anjingnya dimasukkan ke dalam rumah dan sangat mungkin mengenai semua barang rumah.

Pertanyaan saya, apakah shalat saya tidak sah, tidak diterima, karena saya bernajis? Kalau memang tidak sah shalat saya, haruskah saya tinggalkan shalat sampai saya selesai mensucikan najisnya? Ataukah saya harus tinggalkan ibu saya dan saya cari rumah yang lain? Mohon jawabannya. (Yudha Prawira) 

Jawaban
Wa’alaikum salam wr. wb.
Saudara penanya yang budiman, semoga diberikan pemahaman dan amaliah agama yang semakin bertambah baik. Shalat harus dikerjakan dalam keadaan atau kondisi apapun.

Dalam kasus Saudara, maka tetap berkewajiban menunaikan shalat. Shalat yang Saudara lakukan di rumah yang terkena najis anjing itu berdasarkan madzhab Syafiiyah tidaklah sah sehingga wajib diulangi (i‘âdah) dengan menggunakan pakaian yang suci, di tempat dan badan yang jelas dipastikan sucinya dari najis tersebut.

Solusinya, bila rumah dan perangkat alat shalat yang digunakan di dalamnya belum dipastikan kesuciannya, maka Saudara bisa melaksanakan shalat di masjid, mushala atau tempat lain menggunakan pakaian yang suci, bisa dengan meminjam teman atau tetangga. 

Untuk itu, rumah tersebut wajib dibersihkan dan disucikan sebisa mungkin, dengan cara yang tidak memberatkan, dengan cara bertahap, agar bisa digunakan shalat dengan baik. Dengan cara seperti ini, Saudara tetap bersama-sama dengan sang ibu di rumah, dan merupakan ihsan (berbakti dan berbuat kebajikan) kepadanya.

Cara seperti ini bisa lebih menenteramkan hati dalam hal ibadah dan berhubungan dengan orang tua.  

Berkaitan dengan ketentuan sucinya pakaian dan tempat shalat, Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan sebagai berikut:

وقال الشافعية:... وإن كانت الأرض صغيرة كبيت، لم يجز أن يصلي فيه حتى يغسله، كما في حالة الشك بنجاسة جزء من الثوب؛ لأن البيت ونحوه يمكن غسله وحفظه من النجاسة، فإذا نجس أمكن غسله،.... 

Artinya, “Madzhab Syafiiyah berkata bahwa jika sebidang tanah itu kecil seperti rumah, maka seseorang tidak boleh shalat di dalamnya sehingga ia menyucikannya, sebagaimana keadaan ragu-ragu terhadap bagian pakaian yang terkena najis; karena rumah dan semacamnya dapat disucikan dan dijaga dari najis, ketika terkena najis yang dapat disucikan,” (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islâmi wa Adillatuh, [Damaskus, Dârul Fikr: 2009], juz I, halaman 627-632).

Demikian penjelasan ini semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka menerima masukan dari pembaca yang budiman.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, 
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Ustadz Ahmad Ali MD)
Jumat 15 Februari 2019 9:50 WIB
Solusi saat Jamaah Jumat Bubar karena Hujan
Solusi saat Jamaah Jumat Bubar karena Hujan
(Foto: @alray.ps)
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, saya salah satu karyawan sebuah perusahaan di Kawasan Industri di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dalam melaksanakan ibadah shalat 5 waktu, perusahaan sudah menyediakan tempat shalat yang cukup untuk karyawan. Namun khusus untuk ibadah di hari Jum'at (Jum'atan), pagar perusahaan dibuka lebar-lebar sehingga warga di sekitar perusahaan yang kebetulan sedang berada di sekitar, diperbolehkan masuk ke dalam masjid perusahaan. Sehingga jama'ah meluber sampai halaman depan pabrik. Biasanya, Pengurus DKM kemudian menyediakan alas terpal untuk jama'ah yang meluber.

Pertanyaannya adalah pada saat di sebelum Jumatan atau di tengah-tengah proses Jumatan tiba-tiba hujan deras, maka jamaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid (meluber di halaman) dapat dipastikan kocar-kacir. Khutbah Jumat tidak lagi disimak dengan baik. Hanya jamaah yang kebetulan dapat tempat di dalam bangunan masjid saja yang nyaman dan tenang. Bagaimana menyikapi hal ini? Terima kasih. Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq, Wassalamu 'alaikum wr. wb. (Ananto Pratikno/Cikarang)

Jawaban
Wa’alaikumus salam wr. wb.
Bapak Ananto Pratikno yang budiman, terima kasih telah mengajukan pertanyaan ke redaksi kami. Semoga bapak senantiasa diberi kemudahan dalam segala urusannya.

Dalam kasus yang bapak tanyakan, setidaknya ada dua hal yang perlu disikapi.

Pertama, sikap yang harus dilakukan jamaah yang kehujanan.

Jamaah yang bubar barisan karena kehujanan tergolong orang yang dimaklumi/ dimaafkan (ma’dzur). Mereka diperkenankan untuk mencari tempat berteduh. Dalam kondisi terdesak ini, mereka diperkenankan untuk tidak mendengarkan khutbah. Apabila hujan terus berlanjut sampai shalat Jumat selesai, mereka diperkenankan untuk meninggalkan jumatan di tempat tersebut.

Jika memungkinkan, mereka wajib mencari jumatan di tempat lain yang suara adzannya dapat menjangkau pendengaran mereka. Jika mereka tidak menemukan jumatan di tempat lain atau tempat jumatan yang ada suara adzannya tidak dapat didengar dari tempat jamaah, maka mereka tidak berkewajiban jumatan, namun cukup diganti dengan shalat fardhu zhuhur.

Ulama menegaskan bahwa salah satu udzur yang membolehkan meninggalkan jumat adalah ketika terjadi hujan lebat yang menimbulkan keberatan (masyaqqah) dan seseorang tidak memiliki penutup  seperti payung.

Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan:

قوله (أعذار الجمعة والجماعة المطر) والثلج والبرد ليلا أو نهارا (إن بل) كل منهما (ثوبه) أو كان نحو البرد كبارا يؤذي (ولم يجد كنا) يمشي فيه للاتباع

Artinya, “Udzur-udzur Jumat dan Jamaah di antaranya adalah hujan, salju dan dingin di malam atau siang hari, bila hujan atau salju tersebut membasahi pakaian atau cuaca dingin dalam taraf parah yang menyakitkan, sementara ia tidak menemukan penutup yang dibuat berjalan, hal tersebut karena mengikuti Nabi,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim, halaman 148).

Berkaitan dengan Jumatan hanya wajib bagi jamaah yang mendengarkan adzan, Syekh Zakariyya Al-Anshari mengatakan:

فإن كانوا أقل من أربعين أو أهل خيام مثلا ونداء بلد الجمعة يبلغهم لزمتهم وإن لم يبلغهم فلا لخبر الجمعة على من سمع النداء رواه أبو داود بإسناد ضعيف لكن ذكر له البيهقي شاهدا بإسناد جيد 

Artinya, “Bila mereka kurang dari 40 orang atau statusnya penduduk perkemahan, sementara azan tempat berlangsungnya Jumat sampai pada mereka, maka wajib bagi mereka untuk berjumatan (ke daerah tetangga tersebut), bila tidak terdengar azan, maka tidak wajib Jumat. Karena hadits Nabi, Jumat wajib atas orang yang mendengar azan. Hadits riwayat Abu Daud dengan sanad yang lemah, namun Imam al-Baihaqi menyebutkan dalil pendukung bagi hadits tersebut dengan sanad yang baik (hasan). (Lihat Zakariyya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz I, halaman 263).

Kedua, status jumatnya jamaah yang tersisa.

Menurut pendapat kuat dalam mazhab Syafi’i, pelaksanaan Jumat dihukumi sah bila didirikan oleh minimal 40 jamaah orang laki-laki baligh yang betempat tinggal tetap tetap di daerah pelaksanaan Jumat. Sehingga menjadi tidak sah bila jamaah jumat kurang dari bilangan tersebut.

Dalam konteks pertanyaan yang bapak tanyakan, bisa disesuaikan dengan ketentuan ini. Bila jamaah yang tersisa masih terkumpul 40 orang yang dapat mengesahkan Jumat, maka hukum jumatan mereka sah. Namun jika kurang, maka tidak sah.

Dalam kondisi tidak sah, kewajibannya adalah menanti sampai genap 40 jamaah atau bergabung di tempat lain bila hal tersebut memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, maka cukup diganti dengan shalat Zhuhur.

Jika ketentuan hukum di atas sulit terpenuhi, jamaah bisa mengikuti pendapat lain yang mengesahkan jumat dilakukan kurang dari 40 orang. Dalam mazhab Syafi’i, ada tiga pendapat yang mengesahkan jumatan kurang dari 40 orang. Pertama jumlah minimal 12 orang. Kedua, jumlah minimal 4 orang. Ketiga jumlah minimal 3 orang. Tiga pendapat tersebut bisa dijadikan solusi dalam kondisi dibutuhkan.

Demikian jawaban yang kami sampaikan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran.

Wallahul Muwaffiqu ila Aqwamit Thariq
Wassalamu’laikum wr wb.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Jumat 1 Februari 2019 3:0 WIB
Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis
Hukum Shalat dengan Kursi Lipat atau Tongkat yang Najis
Assalamu 'alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, sebagian orang tua kadang menggunakan tongkat termasuk di dalam shalat. Bagaimana dengan keabsahan shalatnya jika ia menggenggam tongkat yang mengandung najis? Saya mohon penjelasan terkait ini. Wassalamu 'alakum wr. wb. (Edi/Semarang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Shalat dengan memegang tongkat pada dasarnya tidak menjadi masalah. Tetapi ulama berbeda pendapat perihal shalat dengan tongkat yang mengandung najis.

Ulama Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa shalat sambil memegang tongkat yang ujungnya terdapat najis tidak sah. Pandangan ini dapat dipahami karena Mazhab Syafi‘i mengharuskan kesucian orang yang shalat pada badan, pakaian, dan tempat shalat. Sementara orang yang melakukan praktik ini serupa dengan orang yang shalat membawa najis.

ولا صلاة قابض طرف متصل بنجس وإن لم يتحرك بحركته

Artinya, “Tidak sah shalat orang yang menggenggam benda yang bersambung dengan zat najis sekali pun ia tidak ikut bergerak bersama gerakannya,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in pada hamisy I‘anatut Thalibin, [Mesir, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 106).

Adapun ulama dari mazhab lainnya, yaitu Mazhab Hanbali, menilai kebasahan shalat orang yang memegang tongkat yang mengandung najis. Pasalnya, bagi Mazhab Hanbali, shalat orang yang membawa zat yang mengandung najis terbilang sah.

Kami menyarankan mereka yang tidak dapat lepas dari tongkat baik karena faktor usia maupun faktor disabilitas hendaknya berusaha untuk menyucikan barang yang akan dibawanya (dipegang) dalam shalat sekalipun. Saran ini dapat dilakukan bila kondisi memungkinkan.

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)