IMG-LOGO
Jumat

Setelah Shalat Jumat, Sebaiknya Baca Wirid atau Shalat Ghaib?

Sabtu 9 Maret 2019 12:30 WIB
Setelah Shalat Jumat, Sebaiknya Baca Wirid atau Shalat Ghaib?
(Foto: @alray.ps)
Setelah salam shalat Jumat, dianjurkan untuk berzikir, sebagaimana anjuran membaca zikir setelah shalat fardhu yang lain. Salah satu zikir yang dianjurkan untuk dibaca setelah salam shalat Jumat adalah membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan Al-Fatihah, masing-masing tujuh kali. Zikir tersebut dilakukan sebelum kaki berpindah dari posisi saat salam.

Namun, terkadang posisi kaki bisa berpindah ketika diadakan ritual shalat ghaib setelah salam shalat Jumat. Saat ada tokoh, saudara, ulama atau Muslim daerah setempat yang meninggal, imam masjid biasanya mengajak para jamaah melaksanakan shalat ghaib sebelum membaca wiridan bersama-sama.

Pertanyaannya adalah, manakah lebih utama dilakukan setelah salam shalat Jumat, shalat ghaib atau membaca wirid? 

Membaca surat-surat pendek sebagaimana dijelaskan di atas, memiliki keutamaan berupa terampuninya dosa dan mendapat pahala sebanyak orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dalam riwayat Ibnu Sunni, bacaan tersebut dapat menjaga seseorang dari keburukan sampai Jumat berikutnya. Riwayat Ibnu Sunni ini tidak menyertakan Surat Al-Fatihah. Dalam riwayat lain, dijaga agama, dunia, istri dan anaknya. Riwayat tersebut menambahkan redaksi “sebelum berbicara”.

Syekh Abdul Hamid As-Syarwani menegaskan:

قوله (فائدة) ورد أن من قرأ عقب سلامه من الجمعة قبل أن يثني رجله الفاتحة والإخلاص والمعوذتين سبعا سبعا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأعطي من الأجر بعدد من آمن بالله ورسوله وفي رواية لابن السني أن ذلك بإسقاط الفاتحة يعيذ من السوء إلى الجمعة الأخرى وفي رواية بزيادة وقبل أن يتكلم حفظ له دينه ودنياه وأهله وولده ا هـ  

Artinya, “Faidah. Telah sampai dari Nabi, barang siapa setelah salam shalat Jumat dan sebelum memindahkan kakinya, membaca Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Mu’awwidzatain, masing-masing tujuh kali, maka diampuni baginya, dosa-dosa terdahulu dan terakhir, ia mendapat pahala sebanyak jumlah orang yang berimana kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam riwayatnya Imam Ibnu Sunni, dengan menggugurkan Surat Al-Fatihah, bacaan tersebut dapat menjaga seseorang dari keburukan hingga Jumat berikutnya. Dalam riwayat lain, dengan menambahkan redaksi ‘dan sebelum berbicara’, keutamaannya adalah dapat menjaga agama, dunia, istri dan anak bagi para pembacanya,” (Lihat Syekh Abdul Hamid As-Syarwani, Hasyiyatus Syarwani ‘alat Tuhfah, juz III, halaman 377).

Apabila kaki berpindah dari posisi duduk saat salam, maka keutamaan membaca surat-surat di atas tidak bisa didapatkan secara sempurna, meski diakibatkan karena mengikuti ibadah shalat ghaib.

Syekh Abdul Hamid As-Syarwani mengutip penjelasan Syekh Sayyid Al-Bashri berikut ini:

وبكل تقدير قد تتفق صلاة على جنازة حاضرة أو غائبة قبل تمام ما ذكر أو قبل شروعه فيه فهل يغتفر اشتغاله بها وماذا يفعل....الى ان قال...

Artinya, “Dengan beberapa kemungkinan, terkadang bertepatan dengan pelaksanaan shalat jenazah, baik yang hadir atau ghaib sebelum sempurna membaca surat-surat tersebut, atau sebelum membacanya. Maka, apakah menyibukkan diri dengan shalat jenazah dapat dimaafkan dan bagaimana yang sebaiknya dilakukan?”

وقول السائل فهل يغتفر إلخ محل تأمل والذي يظهر بناء على ذلك الظاهر عدم الاغتفار بالنسبة إلى ترتب ما ترتب عليه لأن المشروط يفوت بفوات شرطه 

Artinya, “Ucapan penanya, apakah diamaafkan dan seterusnya, ini titik yang perlu dikaji. Adapun pendapat yang jelas menurutku, berpijak dari penjelasan di atas adalah tidak dimaafkan dengan mengaitkan konsekuensi yang ditimbulkan dari pelaksanaan shalat jenazah setelah salam shalat Jumat, sebab keutamaan zikir-zikir khusus yang bersyarat menjadi hilang disebabkan tidak terpenuhinya syaratnya,” (Lihat Syekh Abdul Hamid As-Syarwani, Hasyiyatus Syarwani ‘alat Tuhfah, juz III, halaman 377).

Meski keutamaan membaca zikir di atas tidak didapatkan secara sempurna, namun masih mendapatkan pahala berzikir dan membaca Al-Quran secara umum. Bahkan, shalat ghaib lebih utama untuk didahulukan dari pada membaca surat-surat tersebut. Sebab shalat ghaib hukumnya fardhu kifayah dan memiliki pahala yang besar.

Masih dalam kitab yang sama, Syekh Abdul Hamid As-Syarwani melanjutkan kutipan fatwa Syekh Sayyid Al-Bashri sebagai berikut:

وأما حصول الثواب في الجملة فلا نزاع فيه وقوله وماذا يفعل يظهر أنه يشتغل بصلاة الجنازة لكونها فرض كفاية ولعظم ما ورد فيها وفي فضلها والفقير الصادق من حقه الاشتغال بما هو الأهم يعني صلاة الجنازة  إهـ

Artinya, “Adapun hasilnya pahala secara umum, maka tidak dipertentangkan dalam hal tersebutkan. Ucapan penanya, apa yang sebaiknya dilakukan, pendapat yang jelas adalah lebih baik menyibukan diri dengan shalat jenazah, karena ia fardhu kifayah dan besarnya pahala di dalamnya. Orang yang bersungguh-sungguh membutuhkan rahmat-Nya tentu akan menyibukan diri dengan hal yang lebih urgens, maksudnya adalah shalat jenazah,” (Lihat Syekh Abdul Hamid As-Syarwani, Hasyiyatus Syarwani ‘alat Tuhfah, juz III, halaman 377).

Demikian penjelasan mengenai mana yang lebih baik didahulukan setelah salam shalat Jumat, shalat ghaib atau wiridan. Simpulannya, tradisi mendahulukan shalat ghaib sebelum membaca wirid setelah shalat Jumat adalah benar secara syariat sebagaimana fatwa Syekh Sayyid Al-Bashri di atas. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
Tags:
Jumat 15 Februari 2019 10:30 WIB
Hukum Jumatan dengan Tujuan Pamer
Hukum Jumatan dengan Tujuan Pamer
(Foto: @suffnetrucuter.tk)
Shalat Jumat merupakan salah satu kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki yang telah memenuhi syarat-syarat wajibnya. Shalat Jumat tidak beda dengan shalat fardlu lima waktu yang rutin dilakukan setiap hari, sama-sama merupakan ibadah yang seharusnya setiap Muslim sadar betul akan kewajibannya.

Meski demikian, kesadaran tersebut belum bisa tertanam dengan baik bagi sebagian orang. Mungkin karena kepentingan tertentu, terkadang dalam menjalankannya disertai dengan niat pamer. Pertanyaannya adalah, bagaimana hukum Jumatan dengan tujuan pamer?

Masalah ini perlu disikapi dalam dua sudut pandang. Pertama, berkaitan dengan keabsahan Jumat. Kedua, berkaitan dengan pahala Jumat.

Pertama, berkaitan dengan keabsahan.

Seseorang yang melaksanakan Jumatnya disertai dengan niat pamer, tetap sah jumatannya asalkan disertai dengan tata cara niat shalat Jumat yang benar saat takbiratul ihram dan telah terpenuhi syarat rukun Jumat.

Yang menjadi masalah adalah ketika ia murni melakukan Jumatan karena tujuan pamer, semisal saat takbiratul ihram ia berniat “saya niat jumat karena pamer”. Jika demikian adanya, maka hukumnya tidak sah dan haram, ia berkewajiban mengulangi shalatnya.

Al-Imam Al-Ghazali menegaskan:

أما العبادات كالصدقة والصلاة والصيام والغزو والحج فللمرائي فيه حالتان  إحداهما أن لا يكون له قصد إلا الرياء المحض دون الأجر وهذا يبطل عبادته لأن الأعمال بالنيات وهذا ليس بقصد العبادة لا يقتصر على إحباط عبادته حتى نقول صار كما كان قبل العبادة بل يعصي بذلك ويأثم كما دلت عليه الأخبار والآيات

Artinya, “Adapun beberapa ibadah seperti sedekah, shalat, perang dan haji, maka orang yang pamer di dalam hal tersebut memiliki dua kondisi. Pertama, murni bertujuan pamer, bukan pahala. Yang demikian ini dapat membatalkan ibadahnya, karena keabsahan amal bergantung kepada niat. Yang demikian ini bukan tujuan ibadah, tidak terbatas kepada leburnya pahala sehingga kita berpendapat statusnya sama seperti sebelum dilaksanakannya ibadah. Namun, (lebih dari itu), ia makshiat dan berdosa karena hal tersebut, sebagaimana yang ditunjukan oleh beberapa hadits dan ayat al-Quran,” (Lihat Hujjatul Islam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumid Din, Ihya Ulumid Din pada hamisy Ithafus Sadatil Muttaqin, juz X, halaman 95).

Kedua, berkaitan dengan pahala Jumat.

Ibadah yang telah terpenuhi syarat rukunnya, belum tentu berpahala dan diterima di sisi-Nya. Bisa jadi keabsahannya hanya untuk menggugurkan kewajiban atau menghilangkan dosa. Sebagaimana Shalat Jumat yang disertai niat pamer, meski hukumnya sah dan boleh, namun tidak mendapat pahala Jumat.

Ulama menegaskan, segala ibadah yang disertai niat pamer dapat menghilangkan pahala ibadah yang telah dilakukan, termasuk dalam persoalan Jumatan.

Al-Imam Al-Ghazali menegaskan:

هذا إذا لم يقصد الأجر فأما إذا قصد الأجر والحمد جميعا في صدقته أو صلاته فهو الشرك الذي يناقض الإخلاص  وقد ذكرنا حكمه في كتاب الإخلاص ويدل على ما نقلناه من الآثار قول سعيد بن المسيب وعبادة بن الصامت إنه لا أجر له فيه أصلا

Artinya, “Yang demikian bila tidak bertujuan pahala. Sedangkan bila bertujuan pahala dan agar dipuji di dalam shalat atau sedekahnya, maka tergolong syirik yang bertentangan dengan ikhlas. Telah kami tuturkan hukumnya dalam bab ikhlas. Apa yang kami kutip dari beberapa atsar dikuatkan oleh statemennya Said bin Musayyib dan Ubadah bin al-Shamit, sesungguhnya tidak mendapat pahala sama sekali bagi orang yang pamer,” (Lihat Hujjatul Islam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumid Din, Ihya Ulumid Din pada hamisy Ithafus Sadatil Muttaqin, juz X, halaman 95).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menegaskan bahwa persoalan pamer ini tidak bisa dianalogkan dengan kasus beribadah dengan tujuan duniawi seperti haji disertai niat berdagang, berwudhu disertai niat membersihkan badan dan lain sebagainya.

Dalam persoalan tersebut ulama berbeda pendapat mengenai status gugurnya pahala. Namun, untuk persoalan ibadah dengan niat pamer, ulama sepakat dapat menggugurkan pahala. Ia menegaskan:

قوله : (من أمر دنيوي) أي غير الرياء أما هو فإنه محبط للثواب مطلقاً للحديث القدسي : (أنا أغنى الشركاء عن الشرك فمن عمل عملاً أشرك فيه غيري فأنا منه بريء وهو للذي أشرك) . والمراد بالقصد الدنيوي مثل نية التبرد والتنظف ونحو ذلك

Artinya, “Ucapan Syekh Khatib dari perkara duniawai, maksudnya selain pamer. Adapun pamer maka dapat menghilangkan pahala secara mutlak, berdasarkan firman Allah dalam hadits Qudsi, “Aku yang paling tidak butuh disekutukan. Barang siapa yang beramal, ia menyekutukan selainKu di dalamnya, maka aku terbebas darinya. Ia menjadi milik perkara yang ia jadikan sekutu”. Sedangkan yang dikehendaki dengan tujuan duniawi adalah niat menyegarkan, niat membersihkan badan dan sejenisnya (bukan niat pamer),” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Iqna’, juz I, halaman 198).

Berkaitan dengan bahaya memamerkan ibadah, Syekh Jamaluddin Al-Qasimi mengatakan:

وقسم من الرياء دون الأول بكثير كمن يحضر الجمعة أو الصلاة ولولا خوف المذمة لكان لا يحضرها أو يصل رحمه أو يبر والديه لا عن رغبة لكن خوفا من الناس أو يزكي أو يحج كذلك فيكون خوفه من مذمة الناس أعظم من خوفه من عقاب الله وهذا غاية الجهل وما أجدر صاحبه بالمقت

Artinya, “Dan satu bagian dari pamer di bawah level pertama dengan banyak perbedaan, yaitu seperti orang yang menghadiri Jumat atau shalat. Bila tidak takut dicela manusia, ia tidak menghadirinya. Bersilaturrahim atau berbakti kepada kedua orang tua, bukan karena cinta, namun karena takut kepada manusia, demikian pula saat berzakat atau haji. Ketakutannya kepada manusia lebih besar dari pada takutnya kepada siksa Allah. Yang demikian ini adalah puncaknya kebodohan. Sungguh alangkah pantasnya bagi sang pelaku mendapat murka Allah,” (Lihat Syekh Jamaluddin Al-Qasimi, Mauizhatul Mu’minin min Ihya’i Ulumid Din, juz I, halaman 235).

Demikianlah penjelasan mengenai hukum shalat Jumat dengan tujuan pamer. Meski dinyatakan sah secara fikih sepanjang ketentuan pelaksanaannya terpenuhi, namun alangkah sangat meruginya bila ibadah Jumat yang telah susah payah dilakukan tidak mendapat nilai pahala. Semoga kita terhindar dari rasa pamer dalam beribadah.


(Ustadz M Mubasysyarum Bih)
Ahad 10 Februari 2019 20:0 WIB
Khutbah Jumat, Sebaiknya Panjang atau Pendek?
Khutbah Jumat, Sebaiknya Panjang atau Pendek?
Tidak diragukan lagi bahwa khutbah Jumat sangat krusial dalam pelaksanaan Jumat. Tidak hanya berkaitan dengan keabsahannya, namun substansi dan teknis penyampaiannya juga sangat penting untuk didengar jamaah. Karena itu, isi dan cara penyampaian khutbah hendaknya mengena agar bisa diambil manfaatnya oleh Jamaah. 

Berkaitan dengan teknis penyampaian khutbah, salah satu yang sering diperbincangkan adalah mengenai durasi khutbah. Beberapa khatib menyampaikan khutbahnya dengan sangat panjang sehingga para Jamaah bosan dan mengantuk. Sebaliknya, khutbah yang terlampau pendek, dinilai tidak dapat dipahami substansinya dengan baik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana durasi khutbah yang dianjurkan syari’at, panjang atau pendek?
Keseimbangan dalam setiap hal adalah hal yang perlu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam beberapa haditsnya, bahwa sebaik-baiknya perkara adalah yang sedang (tengah-tengah), tidak terkecuali dalam persoalan durasi khutbah. Nabi mengajarkan durasi khutbah sebaiknya sedang, tidak terlalu panjang dan tidak terlampau pendek. Dalam sebuah riwayat ditegaskan:

كانت صلاة النبي صلى الله عليه وسلم قصدا وخطبته قصدا

“Shalatnya Nabi sedang dan khutbahnya sedang.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Dalam menjelaskan hadits tersebut, Syekh Abu Tahyyib Syamsul Haq al-Azhim mengatakan:

ـ (وخطبته قصدا ) القصد في الشيء هو الاقتصاد فيه وترك التطويل وإنما كانت صلاته صلى الله عليه واله وسلم وخطبته كذلك لئلا يمل الناس  والحديث فيه مشروعية إقصار  الخطبة ولا خلاف في ذلك 

“Sedang dalam perkara adalah seimbang di dalamnya dan tidak memanjangkan. Shalat dan khutbah Nabi dilakukan dalam durasi sedang agar manusia tidak bosan. Hadits ini menganjurkan meringkas khutbah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut.” (Syekh Abu Tahyyib Syamsul Haq al-Azhim, ‘Aun al-Ma’bud, juz 3, hal. 316)

Mengapa tidak dianjurkan memanjangkan khutbah? Padahal jamaah akan banyak mendengarkan siraman rohani? Sebab memanjangkan khutbah justru memberatkan kepada jamaah, terlebih jika mereka sedang tidak bersemangat atau masih harus menyelesaikan pekerjaan setelah Jumatan. 

Syekh Badruddin al-‘Aini menjelaskan:

وفيه من السُّنَّة تخفيف الخطبة وتخفيف الصلاة؛ لأن تطويلهما يثقل على الناس، ولا سيما إذا كان القوم كُسالَى

“Di dalam hadits ini menyimpulkan sunahnya meringankan khutbah dan shalat, sebab memanjangkan keduanya dapat memberatkan manusia, terlebih ketika mereka malas.” (Syekh Badruddin al-‘Aini, Syarh Abi Daud, juz 4, hal. 443).

Anjuran membaca khutbah dalam durasi yang sedang tidak bertentangan dengan hadits Nabi lain yang menganjurkan membaca khutbah dengan pendek. Sebab, yang dimaksud pendek dalam hadits tersebut, pendek jika dibandingkan dengan shalat Jumatnya. Sehingga panjang pendek merupakan hal yang relatif (nisbi).

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

ولا يعارضه خبره أيضا طول صلاة الرجل وقصر خطبته مئنة من فقهه أي علامة عليه فأطيلوا الصلاة واقصروا الخطبة ؛ لأن القصر والطول من الأمور النسبية فالمراد بإقصار الخطبة إقصارها عن الصلاة وبإطالة الصلاة إطالتها على الخطبة

“Dan tidak bertentangan dengan anjuran membaca sedang khutbah, haditsnya Imam Muslim yang lain, yaitu “panjangnya shalat laki-laki dan pendeknya khutbahnya merupakan tanda kepandaiannya, maka panjangkanlah shalat, pendekanlah khutbah.” Sebab pendek panjang termasuk perkara-perkara yang relatif. Maka yang dimaksud dengan memendekan khutbah adalah memendekan dari shalat dan yang dimaksud memanjangkan shalat adalah memanjangkan dari khutbah.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 260).

Lantas, apa standar durasi khutbah dikatakan sedang? Berapa menit? Dalam hal ini tidak ada batasan pasti berapa menitnya. Namun disesuaikan dengan kondisi, waktu dan momennya. Bisa jadi dalam suatu momen atau keadaan tertentu perlu menyampaikan banyak materi seperti masyarakat butuh disampaikan detail materi tentang puasa. Bisa jadi dalam satu kesempatan dicukupkan dengan materi yang singkat. Pada prinsipnya, khutbah disampaikan sesuai kebutuhan, tidak terlalu berlebihan yang dapat mengakibatkan kejenuhan, tidak pula terlalu singat sehingga tidak dapat dipahami substansinya.

Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli mengutip penjelasan Syekh al-Adzra’i dalam kitabnya Hasyiyah ‘Ala Asna al-Mathalib sebagai berikut:

ـ (قوله متوسطة إلخ) قال الأذرعي وحسن أن يختلف ذلك باختلاف الأحوال وأزمان الأسباب وقد يقتضي الحال الإسهاب كالحث على الجهاد إذا طرق العدو والعياذ بالله تعالى البلاد وغير ذلك من النهي عن الخمور والفواحش والزنا والظلم إذا تتابع الناس فيها وحسن قول الماوردي ويقصد إيراد المعنى الصحيح واختيار اللفظ الفصيح ولا يطيل إطالة تمل ولا يقصر تقصيرا يخل

“Al-Imam al-Adzra’i berkata, standar sedangnya khutbah berbeda-beda sesuai dengan berbedanya kondisi dan waktunya. Terkadanga suatu kondisi menuntut menyampaikan khutbah dengan panjang lebar seperti himbauan berjihad saat musuh menyerang, semoga Allah melindungi kita. Dan hal-hal lain seperti larangan mengkonsumsi khamr, perbuatan nista, zina dan kezaliman di saat banyak orang melakukannya. Bagus sekali ucapannya Syekh al-Mawardi, dan hendaknya khatib menghendaki makan yang benar dan memilih lafazh yang fasih, dan hendaknya tidak memanjangkan khutbah yang membosankan, dan tidak memendekan yang merusak substansi khutbah.” (Syekh Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Hasyiyah al-Ramli ‘Ala Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 260).

Demikian penjelasan mengenai anjuran durasi khutbah menuutu syari’at. Sebaiknya para khatib memperhatikan hal demikian, agar khutbah yang disampaikan efektif dan tepat sasaran. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 25 Januari 2019 8:0 WIB
Hukum Berbicara saat Khutbah Berlangsung
Hukum Berbicara saat Khutbah Berlangsung
Ilustrasi (wikipedia)
Saat khutbah berlangsung, hendaknya jamaah menyimak dengan seksama. Namun, karena kebiasaan atau keperluan tertentu, terkadang sebagian jamaah berbicara kepada rekannya. Bagaimana hukum berbicara saat khutbah berlangsung?

Ulama Syafi’iyyah menegaskan bahwa berbicara saat khutbah bagi jamaah Jumat hukumnya makruh. Kemakruhan ini berdasarkan petunjuk ayat:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Apabila dibacakan Al-Quran (khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Surat Al-A’raf, ayat 204)

Demikian pula hadits riwayat Imam Muslim:

إذَا قُلْت لِصَاحِبِك أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya, “Jika kamu katakan kepada temanmu, ‘diamlah!’, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).” (HR Muslim)

Redaksi “Laghauta” memiliki banyak versi. Ada yang mengartikan merugi dari pahala, batalnya keutamaan Jumat dan Jumatnya menjadi Zhuhur. Yang dimaksud Jumatnya menjadi Zhuhur adalah, Jumatnya sah, namun tidak mendapatkan keutamaannya.

Syekh Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan: 

قَالَ النَّضْر بْن شُمَيْلٍ مَعْنَاهُ خِبْت مِنْ الْأَجْر وَقِيلَ بَطَلَتْ فَضِيلَة جُمْعَتك وَقِيلَ صَارَتْ جُمْعَتك ظُهْرًا قَالَ الْحَافِظ اِبْن حَجَر وَيَشْهَد لِلْقَوْلِ الْأَخِير حَدِيث أَبِي دَاوُدَ مَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَاب النَّاس كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا قَالَ اِبْن وَهْب أَحَد رُوَاته مَعْنَاهُ أَجْزَأَتْ عَنْهُ الصَّلَاة وَحُرِمَ فَضِيلَة الْجُمْعَة

“Nadlr bin Syumail berkata, makna hadits tersebut adalah, kamu merugi dari pahala. Pendapat lain, batal keutamaan Jumatmu. Pendapat lain, Jumatmu menjadi Zhuhur. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, pendapat terakhir didukung oleh haditsnya Abu Daud, barangsiapa yang menganggur dan melangkahi leher manusia, maka Jumat baginya menjadi shalat Zhuhur. Ibnu Wahab, salah satu perawi hadits tersebut berkata, maknanya adalah tercukupi baginya shalat Jumat dan ia terhalang dari keutamaan Jumat.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, Hasyiyah al-Suyuthi ‘ala Sunan al-Nasa’i, juz 2, hal. 452)

Senada dengan penjelasan al-Suyuthi di atas, Syekh Abdurrahman al-Mubarakfauri mengatakan:

قال العلماء معناه لا جمعة له كاملة للإجماع على إسقاط فرض الوقت عنه انتهى

“Ulama berkata, makna hadits tersebut adalah, tidak ada Jumat sempurna baginya, karena kesepakatan ulama atas gugurnya kewajiban Jumat bagi orang tersebut.” (Syekh Abdurrahman al-Mubarakfauri, Tuhfah al-Ahwadzi, juz 3, hal. 32).

Mengapa hukum berbicara tidak haram, padahal ayat di atas tegas memerintahkan untuk diam saat khutbah dibacakan?

Syekh Zakariyya al-Anshari menjelaskan bahwa ada beberapa hadits yang menunjukan berbicara saat khutbah tidak haram, seperti hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang seorang Baduwi yang datang saat Nabi sedang berkhutbah, ia mengadu hartanya hilang, keluarganya lapar dan meminta Nabi mendoakannya. Nabi tidak mengingkari perilaku Baduwi tersebut, bahkan Nabi mendoakannya.

Berikut ini bunyi penjelasan Syekh Zakariyya dalam kitabnya Asna al-Mathalib:

ويكره للحاضرين الكلام  فيها لظاهر الآية السابقة وخبر مسلم إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت

“Makruh bagi hadirin jamaah Jumat berbicara saat khutbah, karena zhahir ayat di atas dan haditsnya Imam Muslim, Jika kamu katakan kepada temanmu, diamlah, di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).”

ولا يحرم  للأخبار الدالة على جوازه كخبر الصحيحين عن أنس  بينما النبي صلى الله عليه وسلم يخطب يوم الجمعة قام أعرابي فقال يا رسول الله هلك المال وجاع العيال فادع الله لنا فرفع يديه ودعا  

“Dan berbicara hukumnya tidak haram karena terdapat beberapa hadits yang menunjukan kebolehannya, seperti haditsnya al-Bukhari dan Muslim dari Sahabat Anas, suatu ketika Nabi tengah berkhutbah di hari Jumat, berdirilah seorang Baduwi, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta kami rusak, keluarga kami lapar, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.’ Lalu Nabi mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk Baduwi tersebut.”

وجه الدلالة أنه لم ينكر عليه الكلام ولم يبين له وجوب السكوت والأمر في الآية للندب 

“Sudut pandang petunjuknya adalah bahwa Nabi tidak mengingkari percakapan sang Baduwi, Nabi tidak menjelaskan kepadanya kewajiban diam saat khutbah. Perintah diam dalam ayat diarahkan kepada perintah sunnah.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 2, hal. 138)

Bagaimana bila ada hajat untuk berbicara, semisal mengingatkan rekannya yang salah atau khatib yang tidak membaca salah satu rukun khutbah? Apakah juga dilarang?.

Jika terdapat hal-hal mendesak yang memerlukan bicara sebagaimana contoh-contoh tersebut, maka hukumnya boleh (tidak makruh), bahkan berbicara bisa menjadi wajib dalam sebagian kasus seperti memperingatkan rekan jamaah dari bahaya binatang yang hendak melukai atau khatib yang cacat khutbahnya.

Meski berbicara hukumnya boleh saat ada hajat, namun sebaiknya dihindari, cukup dengan berisyarat bila hal tersebut telah mencukupi dalam menyampaikan maksud.

Syekh Zakariyya al-Anshari mengatakan:

وإن عرض مهم  ناجز  كتعليم خبر ونهي عن منكر  وإنذار إنسان عقربا أو أعمى بئرا  لم يمنع منه  أي من الكلام بل قد يجب عليه  لكن يستحب أن يقتصر على الإشارة  إن أغنت 

“Bila baru datang perkara penting yang mendesak seperti memberitahukan kewaspadaan, melarang kemunkaran, memperingatkan manusia dari kalajengking atau orang buta agar tidak jatuh ke sumur, maka berbicara tidak dicegah, bahkan terkadang wajib. Namun sunah mencukupkan dengan isyarah bila hal tersebut mencukupi.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 2, hal. 139)

Selain ada kebutuhan mendesak, berbicara juga diperbolehkan dalam beberapa kondisi yang dianjurkan, seperti membaca shalawat saat khatib menyebut nama atau sifat Nabi, mendoakan orang yang bersin, mendoakan taradldli (radliyaallah ‘anhu) saat nama sahabat disebut dan mengamini doanya khatib. Beberapa anjuran tersebut sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Inilah Delapan Adab saat Mendengarkan Khutbah.”

Demikian penjelasan mengenai hukum berbicara saat khutbah, semoga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah Jumat dengan memenuhi tata cara dan adab-adabnya.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)