IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Ini Alasan Ulama Hadits Lakukan Rihlah

Senin 11 Maret 2019 11:0 WIB
Share:
Ini Alasan Ulama Hadits Lakukan Rihlah
(Foto: @shutterstock)
Ajaran Nabi bisa sampai kepada kita melalui hadits yang diriwayatkan dan dicatat oleh ulama, baik dalam karya kitab mereka maupun dari majelis ke majelis. Hadits yang diriwayatkan lewat sanad itu, melalui proses verifikasi dan penelitian yang detail demi menguji kualitas hadits tersebut, sehingga dapat menjadi sumber hukum agama.

Sedemikian perhatiannya para ulama akan hadits, perjuangan mereka demi bidang ilmu ini tidak sekadar berguru dari ulama di daerah sekitar mereka saja. Kita kerap mendengar kisah ulama hadits rela berekspedisi menuju daerah yang jauh demi mempelajari dan meriwayatkan hadits.

Rihlah para ulama ini biasa diabadikan dalam kitab-kitab rijalul hadits atau biografi perawi hadits. Selain itu, salah satu karya yang secara khusus membahasa perjalanan para perawi hadits adalah Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits karya Imam Al Khatib Abu Bakar Al-Baghdadi.

Salah satu orang yang meneliti kitab tersebut adalah Nuruddin ‘Itr, pakar hadits dari Universitas Damaskus. Nuruddin ‘Itr, dalam pengantarnya sebagai muhaqqiq di Kitab Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah, memberikan catatan perihal mengapa hadits di masa lampau dicari dan dipelajari sampai ke negeri-negeri yang jauh. Mulai dari kalangan sahabat, tabi’in, sampai generasi setelahnya rela bertandang ke suatu negeri, demi mendapatkan–atau sekadar memantapkan–sedikit riwayat hadits.

Semangat ini, rupanya tidak semata karena motif ideologis. Hadits memang sumber hukum Islam yang utama setelah Al-Quran, dan keutamaan orang yang mempelajarinya banyak disebutkan dalam hadits. Namun, rupanya di balik kunjungan-kunjungan yang jauh itu, ada tujuan-tujuan yang diungkap oleh Nuruddin ‘Itr. Berikut di antaranya:

1. Mendapatkan Hadits (tahshilul hadits). 
Tujuan ini biasa menjadi motif utama, karena tidak semua hadits bisa didapatkan di satu daerah saja. Kondisi ini terutama saat kitab-kitab hadits belum banyak disusun, sehingga untuk mendapatkan dan mengumpulkan hadits mesti menempuh perjalanan jauh antarnegeri.

Pasca-Nabi wafat, Islam menyebar melalui sahabat Nabi yang diutus menjadi pejabat atau gubernur di luar daerah Madinah. Persebaran ini, membuat hadits yang tidak semua sahabat mendengarkannya dari Nabi, mesti dipastikan ke mereka yang telah berdiaspora itu. Persebaran ini diketahui melalui adanya sahabat yang bermukim di Kufah, Basrah, Mesir, dan beragam tempat lainnya, diikuti dengan hadits-hadits yang banyak diriwayatkan dari sana.

2. Memantapkan Hadits yang Dimiliki (tatsabbut minal hadits). 
Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari disebutkan rela jauh-jauh dari Madinah menuju Mesir, untuk memastikan hadits yang konon hanya diriwayatkan sahabat Uqbah bin Amir yang kala itu menjadi pejabat di Mesir.

Begitu pula dilakukan Syu’bah bin Al-Hajjaj, guna memastikan suatu hadits tentang keutamaan wudhu. Sebelumnya, ia mendengar dari Abu Ishaq As-Sabi’i tentang hadits itu, namun hemat Syu’bah, ia merasa ada tadlis atau perawi yang disembunyikan dalam sanad. Setelah berguru ke berbagai negeri, ia mendapat simpulan bahwa dalam sanad hadits tersebut ada perawi yang kurang baik kualitasnya, namun disembunyikan dalam periwayatan.

Pemantapan hadits ini menjadi sarana para pelajar maupun ulama hadits untuk membandingkan riwayat hadits dari guru mereka, baik sanad maupun matan. Ragam riwayat tersebut, membuat mereka bisa menelaah kualitas hadits yang ada sebagaimana kisah Syu’bah bin Al-Hajjaj.

3. Mencari Tingkatan Sanad yang Lebih Tinggi.
Dalam hadits dikenal istilah sanad yang ‘ali dan nazil. Sanad ‘ali adalah sanad yang jumlah perawinya lebih sedikit agar sampai kepada Nabi. Siapa yang tahu ternyata seorang guru di suatu negeri, sanadnya lebih dekat kepada Nabi dibanding perawi di daerah lain. Imam Ahmad bin Hanbal, menyebutkan bahwa mencari sanad yang lebih dekat pada Nabi adalah hal mulia yang dilakukan generasi ulama terdahulu.

Mengapa mesti perlu sanad ‘ali? Dengan sanad ‘ali yang lebih dekat dengan Nabi, setiap perawi lebih mudah dicek syarat keshahihannya, dan memudahkan telaah hadits. Dengan memiliki hadits dengan sanad yang ‘ali, seorang pelajar hadits bisa dengan baik memastikan kualitas hadits yang dimilikinya. Selain itu, sanad yang lebih dekat pada Nabi dipandang lebih “mulia dan berkah”.

4. Mendapat Informasi tentang Kepribadian Perawi. 
Berpergian ke berbagai negeri demi belajar hadits membuat para pelajar maupun ulama bisa mengecek langsung kepribadian guru mereka yang menyampaikan hadits. Bahkan, beberapa ulama yang sudah pakar melakukan rihlah untuk “menguji” kemampuan para perawi yang ada dalam hadits mereka.

Yahya bin Ma’in contohnya, mendatangi seorang ulama bernama Abu Nuaim Al-Fadhl bin Dakkin, untuk menguji keilmuannya. Setelah bersua dengan Syekh Abu Nu’aim, Yahya bin Ma’in bersimpulan bahwa sosok yang ia hadapi itu memang mumpuni ilmunya.

5. Menjadi Sarana Ulama untuk Diskusi dan Menelaah Hadits-Hadits yang Sudah Dimiliki. 
Meskipun telah menjadi sosok yang mumpuni, tetap saja dalam persoalan hadits para ulama kerap memerlukan telaah lebih lanjut dan update seputar hadits, termasuk tentang ilmu ‘illat hadits. Konon ilmu ‘illat hadits ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, adalah ilmu yang mensyaratkan penguasaan hadits dan ilmunya pada level tinggi.

Persoalan ‘illat menjadi wilayah diskusi para pakar hadits, yang sangat mungkin berjumpa dalam ekspedisi mereka mencari ilmu. Dikisahkan Sufyan bin Uyaynah yang sudah top sebagai ulama hadits di Makkah, bertandang ke Iraq untuk menjumpai pakar hadits Ali bin Al-Madini.

Begitu pula Imam At Tirmidzi, guna menelaah dan mendiskusikan hadits-hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, perjalanan jauh ke Bukhara ditempuh dan menghasilkan Kitab Al-‘Ilalul Kabir, yang merupakan kritik hadits dalam sekian kitab yang disusun Imam Al-Bukhari. Bahkan, Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa Kitab Sunan At-Tirmidzi yang kita kenal sekarang ini, tidak lepas dari diskusinya dengan Imam Al-Bukhari.

Sekian tujuan di atas adalah motif keilmuan para pelajar ulama hadits terkait dengan keilmuan mereka. Tentu tidak terbatas itu saja. Beberapa tujuan di atas menegaskan bahwa mempelajari hadits memerlukan ketelitian dan semangat tersendiri khususnya pada masa itu. Jika mencari dan mencek hadits saja dibelani mengarungi negeri dan lautan, bagaimana semangat dan tujuan yang saat ini perlu kita miliki dalam belajar? Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Iqbal Syauqi
Share:
Selasa 5 Maret 2019 21:30 WIB
Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi
Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi
(Foto: @pinterest)
Tinjauan atas Kualitas Keshahihan Hadits Adzan untuk Bayi
Seorang artis yang baru hijrah enggan mengadzani anaknya yang baru lahir karena mengira bahwa tidak ada anjuran Rasul terkait hal tersebut. Bahkan ia berpendapat bahwa hadits yang menganjurkan untuk mengadzani bayi yang baru lahir adalah daif. Oleh karena itu, menurutnya, itu bagian dari bidah, dan tidak perlu diamalkan.

Benarkah demikian?

Sebenarnya pada prinsipnya, hadits daif yang tidak boleh diamalkan adalah pertama, hadits daif yang parah, yakni salah satu perawinya ada yang muttaham bil kadzzab, yakni rawi tersebut sering berbohong sehingga tidak bisa dipastikan apakah ia berbohong atau tidak ketika meriwayatkan hadits.

Kedua, hadits tersebut tidak berkaitan dengan tema aqidah, halal dan haram. Oleh karena itu, hadits berkaitan dengan keutamaan mengerjakan sesuatu (fadhailul amal) masih bisa diamalkan, karena tidak berkaitan dengan aqidah, halal dan haram.

Yang paling penting adalah hadits tersebut bisa diamalkan oleh semua orang. (Lihat Maḥmūd At-Ṭaḥḥān, Taysīrul Musṭalāhil Hadīts, (Riyadh: Maktabah Maʽarif, 2004), halaman 80-81).

Dalam kasus hadits adzan yang divonis daif tersebut, memang ada sebuah hadits yang salah satu perawinya tergolong dhaif.

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَة ِرضي الله عنهم

Artinya, “Aku melihat Rasulullah SAW mengadzankan seperti adzan shalat pada telinga (cucunya) Husein bin Ali ketika Fatimah Ra. melahirkan.”

Salah satu perawi hadits di atas, ada yang bernama ʽAshim bin Ubaidillah, yang divonis oleh beberapa ulama hadits sebagai orang yang dhaif, seperti Imam Malik, Ibn Maʽīn dan beberapa ulama hadits lain.

Namun, Imam At-Tirmidzi menilai bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan sahih. Menurut At-Ṭaḥḥān, ketika Imam At-Tirmidzi menyebutkan “hasan sahih” maka kemungkinannya ada dua.

Pertama, jika hadits tersebut memiliki satu sanad, maka hadits tersebut hasan menurut ulama tertentu, dan sahih menurut ulama lain. Kedua, jika hadits tersebut memiliki sanad yang lebih satu, maka sanad pertama hasan, sedangkan sanad lain sahih.

Walaupun hadits tersebut masih tetap dihukumi daif (tidak mengikuti pendapat Imam At-Tirmidzi) maka tetap masih bisa diamalkan, karena tingkat kedhaifannya tidak sampai parah dan tidak berkaitan dengan aqidah serta halal haram. Hadits tersebut lebih pantas jika kita golongkan sebagai hadits yang berkaitan dengan keutamaan beramal (fadhailul amal).

Selain itu, ada hadits lain yang menguatkan hadits di atas, yakni hadits yang diriwayatkan oleh Husain bin Ali berikut:

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصبيان

Artinya, “Orang yang anaknya baru lahir, maka adzankanlah pada telinga kanannya, dan bacakanlah iqamat pada telinga kirinya. Dijamin anak itu tidak akan diganggu kuntilanak.”

Imam Al-Mubarakfuri ketika ditanya terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif tentang adzan pada telinga bayi di atas, menjawab bahwa bisa diamalkan karena ada hadits lain yang menguatkan hadits dhaif di atas, yaitu hadits marfu dari Husain bin Ali yang diriwayatkan oleh Abu Yaʽlā al-Mūṣilī dan Ibn Sunnī.

فَإِنْ قُلْتُ كَيْفَ الْعَمَلُ عَلَيْهِ وَهُوَ ضَعِيفٌ لِأَنَّ فِي سَنَدِهِ عَاصِمَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ كَمَا عَرَفْتَ قُلْتُ نَعَمْ هُوَ ضَعِيفٌ لَكِنَّهُ يُعْتَضَدُ بِحَدِيثِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا الَّذِي رَوَاهُ أبو يعلي الموصلي وبن السُّنِّيِّ

Artinya, “Jika aku bertanya, bagaimana mengamalkan hadits dhaif tersebut karena di sanadnya terdapat Āṣim bin Ubaidillah sebagaimana yang kamu ketahui. Maka aku menjawab, iya, walaupun hadits itu dhaif, tetapi hadits itu dikuatkan dengan hadits Husain bin Ali RA. yang diriwayatkan oleh Abu Yaʽlā al-Mūṣilī dan Ibn Sunnī,” (Lihat Aburrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfurī, Tuḥfatul Aḥwadzi bi Syarḥ Jāmiʽ al-Tirmidzī, [Beirut, Dār Kutub: tanpa catatan tahun], juz V, halaman 90).

Bisa disimpulkan walaupun hadits tentang mengadzani bayi yang baru lahir adalah dhaif, akan tetapi masih bisa diamalkan karena ada hadits lain yang menguatkan. Selain itu, hadits tersebut juga masih memenuhi syarat untuk diamalkan karena tidak daif parah, dan berkaitan dengan fadhail amal.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar An-Nawawi menjadikan kedua hadits di atas sebagai landasan hukum kesunahan mengadzani bayi yang baru lahir di telinga kanannya dan men-qamati di telinga kirinya. (Lihat Muhyiddin An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Dār Fikr: 1994], juz II, halaman 106).

Oleh karena itu, dalam memutuskan sebuah hukum tidak serta merta hanya dengan menggunakan satu hadits saja. Dibutuhkan beberapa bidang keilmuan, seperti Ilmu Takhrij dan ilmu-ilmu lain untuk mengkaji sebuah hadits agar lebih komprehensif dan tidak setengah-setengah. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi
Sabtu 9 Februari 2019 10:0 WIB
Mengenal Mubham, Sosok yang Tidak Disebut Namanya dalam Hadits
Mengenal Mubham, Sosok yang Tidak Disebut Namanya dalam Hadits
Ilustrasi (via muis.org.my)
Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi.

Para sahabat yang mengetahuinya emosi. Kurang ajar, beraninya kencing di masjid? Barangkali demikian perasaan yang berkecamuk di antara mereka. Nabi Muhammad setiba di lokasi, langsung meminta bekas kencing tadi disiram sampai bersih.

Kita tak tahu siapa nama orang Arab kampung yang kencing di masjid Nabawi. Dalam redaksi hadits, hanya tertulis “rajulun” yang artinya seorang pria, atau dalam redaksi matan yang lebih spesifik, rajul min a’rabiy, seorang pria dari kalangan Arab kampung.

Namanya tak kita ketahui hingga kini, kendati kisahnya demikian populer. Dalam hadits, rupanya banyak sosok yang tidak disebutkan namanya, baik dalam sanad atau matan hadits. Berdasarkan ilmu hadits, sosok yang tidak disebutkanya namanya ini disebut mubham. Mubham berasal dari kata abhama-yubhimu yang artinya “tidak jelas”.

Baca juga:
Mengenal Kredibilitas Perawi Hadits lewat Jarh dan Ta’dil
Ini Kategori Referensi Otentik dalam Verifikasi Hadits atau Takhrij
Ini Cara Al-Iraqi Verifikasi Hadits di Kitab Ihya’ Ulumiddin
Sebagaimana disinggung di atas, sosok yang mubham ini berada dalam matan hadits. Banyak kisah Nabi didatangi pria atau perempuan yang tidak disebutkan siapa identitasnya, atau hanya sekilas belaka. 

Semisal pada peristiwa Haji Wada’, Nabi Muhammad yang sedang dibonceng di unta oleh sahabat Al Fadhl bin Abbas, didatangi oleh perempuan dari Bani Khats’am yang menanyakan apakah ia boleh menghajikan bapaknya yang sudah renta. Siapakah nama perempuan itu? Tidak disebutkan.

Kadang dalam matan sendiri dijelaskan siapa orang yang dimaksud. Semisal hadits yang dikenal sebagai hadits tentang Iman, Islam dan Ihsan. Dalam berbagai riwayat disebutkan Nabi kedatangan seorang pria rupawan, rambutnya klimis, tiba-tiba muncul dari padang pasir tanpa ada bekas perjalanan, dan duduk di depan Nabi menanyakan seputar Iman, Islam, Ihsan dan tanda kiamat. 

Kita tidak tahu siapakah sang pria, sampai Nabi menjelaskannya kepada para sahabat di akhir kisah: “Dia adalah Jibril, ia datang untuk mengabarkan tentang agama kalian.”

Secara garis besar, cara mengetahui sosok mubham ini, menurut Mahmud Thahhan dalam Taysir Musthalahil Hadits, dilakukan dengan membandingkan berbagai riwayat hadits yang serupa, atau melalui keterangan ahli biografi dan sejarah. 

Pada taraf yang lebih lanjut, tentu sosok mubham diketahui lewat hubungan guru-murid, wilayah tinggal, dan banyak lagi cara ulama “menemukan” nama mereka. Sebagai contoh, hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas tentang seorang pria yang bertanya kepada Nabi,

“Wahai Nabi, apakah haji itu setiap tahun?” Pria yang disebutkan Abdullah bin Abbas ini, setelah dilacak oleh para ulama ternyata bernama Al Aqra’ bin Habis.

Berikut hadits yang juga diriwayatkan Abdullah bin Abbas, tentang seorang perempuan dari Bani Juhainah yang menanyakan apakah ia bisa meng-qadhahaji ibunya yang telah wafat. Imam an-Nasa’i menyebutkan bahwa ia adalah istri sahabat Sinan bin Salamah Al Juhani, dan Imam Ahmad menyimpulkan ia adalah istri Sinan bin Abdullah Al Juhani.

Demikianlah contoh sosok mubham dalam matan. Menurut para ulama hadits, mengetahui nama yang mubham pada matan akan menunjang pemahaman yang lebih baik akan suatu hadits.

Sementara ulama, tanpa mengabaikan pentingnya mengetahui nama tokoh dalam hadits, memahami tujuan disampaikannya hadits lebih penting dibanding debat seputar siapa orang dalam hadits itu. Tentu dengan syarat persoalan penilaian sanad hadits sudah rampung.

Bagaimana jika mubham itu berada dalam rantai sanad? Ulama berbeda pendapat soal ini. Dikarenakan penilaian sanad hadits memiliki standar ilmiah ketat dengan keharusan identifikasi tiap profil perawi hadits, maka adanya sosok yang samar dalam sanad, apalagi tidak diketahui namanya, bisa membikin penilaian akan suatu hadits terhambat – atau malah mengurangi kualitasnya. Bagaimana para peneliti hadits bisa menilai kualitas sanad dari beragam aspeknya, jika nama perawinya saja tidak tahu?

Sebagai pengecualian, oleh mayoritas ulama hadits, jika perawi yang sosoknya tidak disebutkan namanya itu berasal dari kalangan sahabat, maka “rajulun” itu dinilai sebagai pribadi tsiqoh kendati tidak diketahui siapa dia. Kaidahnya: setiap sahabat itu ‘udul (berkepribadian baik – tidak mungkin berbohong atas nama Nabi).

Demikian sekilas pembahasan perihal sosok-sosok yang tidak disebut namanya dalam hadits. Memperhatikan detail nama tokoh dalam hadits, juga perawi yang belum atau tidak tercatat namanya oleh para ulama, adalah kekayaan khazanah keilmuan Islam khususnya bidang hadits, yang membikin ulama tidak terburu-buru dalam menelaah ilmu agama. 

Untuk lebih lanjut soal sosok mubham dalam hadits, Anda bisa merujuk kitab al-Mustafad min Mubhamatil Matn wal Isnad karya Syekh Al ‘Iraqi. Wallahu A’lam.


(Muhammad Iqbal Syauqi)

Selasa 29 Januari 2019 6:30 WIB
Tips Membedakan Agama dan Budaya dalam Memahami Hadits
Tips Membedakan Agama dan Budaya dalam Memahami Hadits
Ilustrasi (via wejdan.org)
Nabi Muhammad ﷺ adalah orang Arab yang tidak terlepas dari unsur-unsur budaya Arab pada masa beliau hidup. Hal ini tentu memengaruhi pembacaan kita atas hadits. Dalam kajian ilmu hadits, tidak semua hadits itu merupakan sunnah. Karena ada sebagian hadits yang sekadar menjelaskan budaya Arab pada saat itu.

Kiai Ali Mustafa Yaqub memberikan pandangan bahwa dalam memahami hadits diharuskan bisa memisahkan antara budaya dan sunnah Rasulullah ﷺ. Dalam karyanya yang berjudul at-Thuruq as-Shahihah fi Fahmi Sunnah an-Nabawiyah disebutkan beberapa kiat untuk membedakan antara agama dan budaya dalam sabda Rasulullah ﷺ. (Lihat: Ali Mustafa Yaqub, at-Thuruq as-Shohihah fi Fahmi Sunnah an-Nabawiyah, [Ciputat: Maktabah Darus-Sunnah, 2016], h. 103)

Pertama, ajaran agama Islam hanya dilakukan oleh kaum Muslimin. Hal ini berbeda dengan budaya yang selain kaum Muslimin pun melakukannya. Sebut saja serban. Serban merupakan budaya Arab. Hal ini bisa dibuktikan bahwa serban tidak hanya dipakai kaum Muslimin pada saat itu. Bahkan pesohor kafir Quraisy seperti Abu Jahal pun memakainya.

Kedua, ada beberapa budaya yang hadir sebelum munculnya Islam. Seperti al-jummah pada rambut kepala yang terus berlanjut hingga Islam datang. Hal ini tentu berbeda dengan agama yang muncul setelah Islam datang. Karena syariat atau agama hanya ada setelah datangnya Islam.

Ketiga, ada beberapa budaya yang muncul sebelum Islam datang. Namun setelah datang Islam, turunlah wahyu dari Allah ﷻ. Maka, walaupun hal tersebut ada sebelum Islam datang, namun keberadaanya menjadi syariat berdasarkan wahyu yang diturunkan. Sebagaimana perhitungan bulan Qamariyah dan manasik haji.

Dahulu sebelum Islam datang, keduanya adalah budaya jahiliyah dan syariat Nabi Ibrahim As. Ketika Islam datang dan menetapkan hal tersebut, maka hal itu menjadi bagian dari syariat Islam. Kaum Muslimin yang menggunakan bulan qamariyah tidak lantas mengikuti budaya jahiliyah, melainkan mengamalkan ajaran syariat Islam.

Hal ini diperkuat dengan pendapat Imam Muslim (w. 256 H) yang membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul:

باب وُجُوبِ امْتِثَالِ مَا قَالَهُ شَرْعًا دُونَ مَا ذَكَرَهُ صلى الله عليه وسلم مِنْ مَعَايِشِ الدُّنْيَا عَلَى سَبِيلِ الرَّأْىِ

Artinya, “Bab Kewajiban Mengikuti Sabda Nabi yang Berupa Syariat, Bukan Pernyataan Beliau tentang Kehidupan Dunia Menurut Pendapatnya. (Lihat: Abû al-Hajjâj Muslim, Saḥiḥ Muslim, [Beirut: Dâr al-Jîl, t.t], j. 7, h. 95)

Imam al-Nawawi dalam kitab al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, sebagaimana dikutip Kiai Ali Mustafa, juga menguatkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat dalam permasalahan ini. Sehingga hal tersebut bisa dikategorikan sebagai bagian dari konsensus (ijma’) ulama.

Maka dari itu kita perlu meneliti lebih dalam ketika membaca sebuah hadits. Karena tidak semua hal yang kita temukan dalam hadits itu wajib kita ikuti. Kita wajib mengikuti jika hal tersebut merupakan bagian dari agama. Namun sebaliknya, jika tidak berkaitan dengan agama, maka kita tidak wajib mengikuti. Wallahu a’lam.

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)