IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Inti Agama Islam pada Pengagungan Allah dan Kasih Sayang

Senin 11 Maret 2019 15:30 WIB
Share:
Inti Agama Islam pada Pengagungan Allah dan Kasih Sayang
(Foto: @tnews.co.th)
Sebagaimana telah maklum bahwa ajaran Islam sangat komplek dan mencakup segala bidang dan sendi kehidupan umat manusia. Tak ada perilaku manusia sekecil apapun itu kecuali Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuannya.

Islam mengatur masalah aqidah, hukum, pergaulan dengan sesama manusia, hingga persoalan bagaimana sebaiknya seseorang menjalani tidurnya. Semuanya diatur dengan sangat detail oleh Islam. Untuk itu semua 30 juz ayat Allah telah diturunkan, ribuan hadits Rasulullah telah terkodifikasi, dan ajaran para ulama telah tertulis pada ribuan atau bahkan jutaan judul buku yang berjilid-jilid.

Namun demikian bila dicermati lebih jauh ajaran Islam yang begitu kompleksnya sesungguhnya, di bidang apapun, semuanya tidak lepas dan hanya terangkum dalam dua hal. Kedua hal itu adalah mengagungkan Allah subhânahû wa ta’âlâ dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya.

Simpulan ini banyak disampaikan oleh para ulama semisal Syekh Muhammad Nawawi Banten. Di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd ulama asli Indonsia yang bergelar Sayid Ulama Hijaz ini menuturkan:

فان جميع أوامر الله تعالى ترجع الى خصلتين التعظيم لله تعالى والشفقة لخلقه

Artinya, “Sesungguhnya semua perintah-perintah Allah kembali kepada dua hal; mengagungkan Allah ta’âlâ dan berkasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta, Darul Kutul Al-Islamiyah: 2010], halaman 9).

Sementara di dalam kitabnya yang lain, Tafsir Marâh Labîd, Syekh Nawawi mengungkapkan hal yang sama dengan redaksi yang berbeda:

الطاعات محصورة في أمرين: التعظيم لأمر الله، والشفقة على خلق الله

Artinya, “Ketaatan-ketaatan itu terangkum pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berbuat kasih sayang (syafaqah) terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut, Darul Fikr: 2007], juz I, halaman 117).

KH Subhan Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang juga Rais Syuriyah PBNU, dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa seseorang bisa dikatakan telah melakukan ketaatan dengan sebenarnya bila ia telah melakukan kedua hal di atas.

Mereka yang hanya takzhîm memuliakan Allah saja tanpa dibarengi dengan perilaku kasih sayang terhadap sesama makhluk belum dikatakan taat dengan sebenar-benarnya taat.

Ia memberikan satu gambaran, “Ketika Anda di tengah malam bangun untuk melakukan shalat tahajud, lalu ketika Anda hendak mengelar sajadah di tempat shalat ternyata di sana ada sekelompok semut yang sedang mengerubungi bangkai seekor cicak, apa yang akan Anda lakukan?

Apakah Anda akan menyapu bersih semut-semut itu agar Anda dapat bersembahyang di sana, ataukah Anda akan membiarkan mereka tetap menikmati makanannya sementara Anda mencari tempat lain untuk shalat?

Bila Anda menyapu bersih semut-semut itu maka Anda belum dikatakan melaksanakan ketaatan dengan sebenarnya karena Anda hanya mengagungkan Allah dengan bertahajud namun tidak berkasih sayang terhadap makhluk-Nya dengan mengusir semut-semut yang sedang menikmati makanannya.” Demikian Kiai Subhan menjelaskan.

Lebih jauh terpenuhinya dua hal yang menjadi rangkuman dari ajaran Islam itu erat kaitannya dengan kebahagiaan sejati yang dapat diraih oleh manusia. Menurut Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya Al-Bahrul Muhîth bahwa kebahagiaan itu terikat dengan dua hal, yakni mengagungkan Allah SWT dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Dalam tafsir tersebut Abu Hayan menegaskan:

بِأَنَّ السَّعَادَةَ مَرْبُوطَةٌ بِأَمْرَيْنِ التَّعْظِيمِ لِلَّهِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِهِ

Artinya, “Bahwa seseungguhnya kebahagiaan itu terikat pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Lebih lanjut Abu Hayan juga menuturkan bahwa kecelakaan, kebinasaan dan kesedihan mengenai orang-orang musyrik karena mereka tidak mau mengagungkan Allah dengan menauhidkan-Nya dan menafikan sekutu bagi-Nya serta mereka tidak mau berkasih sayang terhadap makhluk-Nya dengan memberikan kebaikan bagi mereka. (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Dari penjelasan para ulama di atas kiranya dapat diambil satu pemahaman bahwa seseorang akan dapat meraih kebahagiaan yang sesungguhnya baik di dunia maupun di akhirat kelak bila ia mau melakukan dua hal yang menjadi ajaran inti agama Islam, yakni mengagungkan Allah dan mengasihi sesama makhluk-Nya.

Berbaik-baik kepada Allah saja tidak cukup. Bagaimana mungkin Allah merasa senang dengan seseorang yang berperilaku baik kepada-Nya, namun sementara itu Allah melihat makhluk ciptaan-Nya diperlakukan tidak semestinya. Dalam keadaan seperti ini tentunya bukan kebahagiaan yang akan diperoleh dari Allah, namun bisa jadi kemurkaan-Nya.

Bisa digambarkan pada diri kita, akankah kita merasa senang ketika kita begitu dihormati oleh seseorang namun di sisi lain kita melihat anak kita diperlakukan tidak baik oleh orang itu? Tentunya yang akan kita berikan kepada orang itu bukanlah rasa simpatik dan hormat, tapi justru kemarahan dan kebencian. Bukan begitu? Wallâhu a’lam.


Ustadz Yazid Muttaqin, aktif di PCNU Kota Tegal.
Share:
Rabu 6 Maret 2019 23:0 WIB
Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu
Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu
Ilustrasi (via filozofia.al)
Pernahkah Anda mengalami ketika shalat berjamaah di masjid yang penuh sesak tiba-tiba Anda merasa ada cairan yang jatuh di kepala Anda dan ternyata itu adalah kotoran cicak? Atau, pernahkah Anda menaiki sepeda motor di depan sebuah pasar tradisional yang ramai dan tiba-tiba ban sepeda motor Anda terkena paku hingga Anda harus menuntunnya menuju tukang tambal ban?

Bila Anda pernah mengalami itu semua atau yang semisalnya, atau kelak hal semacam itu terjadi pada diri Anda, janganlah menggerutu, marah atau bahkan menyalahkan pihak lain yang belum tentu bersalah. Salahkan saja diri Anda dan introspeksilah. Karena bisa jadi terjadinya sesuatu yang tak menyenangkan pada diri Anda dikarenakan karena dosa dan kesalahan yang pernah Anda perbuat sebelumnya, mungkin satu atau dua jam yang lalu, dua atau tiga hari yang lalu, atau bahkan mungkin dosa yang pernah Anda perbuat sekian tahun yang lalu.

Mengapa demikian?

Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman di dalam Surat An-Nisa ayat 79:

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Artinya: “Dan apapun yang mengenaimu berupa kejelekan maka itu dari dirimu sendiri.”

Penjelasan para ulama ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini menunjukkan satu kesimpulan bahwa kejelekan apapun yang menimpa diri seseorang adalah karena perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Dalam kitab Tafsîr Jalâlain misalnya dijelaskan bahwa kejelekan itu mendatangimu karena dosa-dosa yang telah engkau lakukan mengakibatkan terjadinya kejelekan itu (Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahalli, Tafsîr Jalâlain, [Kairo: Darul Hadis, tt.], hal. 114). 

Sementara Imam ‘Alauddin Ali bin Muhammad Al-Baghdadi atau yang lebih dikenal dengan Al-Khazin di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kejelekan yang menimpa dirimu berupa kesulitan, kepayahan, hal yang tak disenangi, dan penyakit itu semua berasal dari dirimu sendiri sebab dosa yang engkau perbuat menyebabkan terjadinya semua itu. Dan kejelekan itu menimpamu sebagai hukuman atas dosamu itu (‘Alauddin Ali Al-Baghdadi, Tafsîr Al-Khâzin, [Mesir: Darul Kutub Al-Arabiyah Al-Kubra, tt.], juz I, hal. 404).

Lebih jauh dari itu Syekh Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd mengutip sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:

وعن عائشة رضي الله عنها ما من مسلم يصيبه وصب ولا نصب حتى الشوكة يشاكها، وحتى انقطاع شسع نعله إلا بذنب وما يعفو الله عنه أكثر 

Artinya: “Dari Sayidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ: tidaklah seorang muslim terkena sakit dan kepayahan, hingga terkena duri dan terputusnya tali sandal jepitnya, kecuali disebabkan suatu dosa, dan dosa yang dimaafkan Allah lebih banyak.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut: Darul Fikr, 2007], juz I, hal. 179)

Dari sini sangat jelas bahwa hal apapun yang tidak menyenangkan, baik yang berat maupun yang ringan, yang besar maupun yang kecil, yang menimpa diri seseorang itu merupakan efek dari perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Bahkan terputusnya tali sandal jepit yang bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang lumrah terjadi pun merupakan efek dan hukuman atas dosa yang telah lalu.

Dapat dipahami pula bahwa pada dasarnya setiap dosa yang dilakukan seorang manusia akan membawa efek buruk bagi dirinya. Hanya saja rahmat Allah lebih luas. Bahwa dosa-dosa yang diampuni Allah sehingga tak menimbulkan efek buruk bagi pelakunya jauh lebih banyak dari dosa yang mengakibatkan hukuman bagi pelakunya, sebagaimana disebutkan Syekh Nawawi di atas. Tidak bisa dibayangkan, bila tanpa ampunan dan rahmat Allah setiap dosa selalu berefek buruk bisa jadi tak ada seorang pun yang hidup di dunia ini dengan tenang karena setiap harinya ia selalu ditimpa kesusahan akibat tumpukan dosa yang dilakukannya.

Yang juga perlu digarisbawahi adalah bahwa dalam kehidupan bermasyarakat apa yang dijelaskan di atas semestinya digunakan untuk menasihati diri sendiri, bukan untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Tidak pas kiranya bila seorang teman sedang sakit kemudian kita mengatakan kepadanya bahwa sakitnya itu karena banyaknya dosa yang ia lakukan. Sebaliknya, justru ketika diri kita terkena musibah atau kesusahan lainnya maka kita mesti introspeksi dan mawas diri bahwa kita pastilah telah melakukan satu kesalahan sehingga Allah menghukum dengan kesusahan itu.

Lalu adakah satu cara agar terhindar dari efek-efek buruk akibat perbuatan dosa yang dilakukan, mengingat setiap orang setiap harinya bisa jadi tak lepas dari dosa?

Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya menyampaikan:

وَاسْأَلُوهُ الْمَغْفِرَةَ، إذا هِيَ رَأَسُ الْعَمَلِ الَّذِي بِحُصُولِهِ تَزُولُ التَّبِعَاتُ

Artinya: “Mintalah ampunan kepada Allah karena ampunan itu pokok amal yang bila didapatkan maka akan hilanglah efek-efek buruk (perbuatan dosa).” (Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth, [Beirut: Darul Fikr, 2005], juz IX, hal. 286)

Ya, dengan memperbanyak istighfar meminta ampunan kepada Allah diharapkan dapat terhindar dari efek buruk sebagai hukuman atas dosa yang dilakukan. Wallâhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal.

Selasa 5 Maret 2019 17:30 WIB
Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten
Tiga Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Banten
Ilustrasi (Freepik)
Sudah menjadi maklum bahwa ikhlas merupakan satu syarat diterimanya amal ibadah seseorang. Tanpa keikhlasan sebaik apapun amal yang dilakukan oleh seorang mukmin tak akan ada nilainya di sisi Allah subhânahû wa ta’âlâ.

Di dalam kitab At-Ta’rîfât karya Ali Al-Jurjani disebutkan bahwa ikhlas adalah engkau tidak mencari orang yang menyaksikan amalmu selain Allah. Ikhlas juga diartikan membersihkan amal dari berbagai kotoran (Ali Al-Jurjani, At-Ta’rîfât, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1983], hal. 14).

Dalam berbagai kesempatan kajian ilmiah Prof. Dr. M. Qurais Shihab seringkali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang penuh air putih. Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun. Itulah yang disebut dengan ikhlas. Seseorang melakukan satu amalan hanya karna Allah semata, tak ada satu pun motivasi lain yang mencampurinya. Tak ada harapan surga, tak ada keinginan enaknya hidup di dunia, semua murni karena menghamba kepada Allah saja.

Meski demikian ada kriteria tertentu di mana seseorang melakukan suatu amalan dengan motivasi tertentu namun masih dikategorikan sebagai ikhlas. Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2010], hal. 58). Dalam kitab tersebut beliau memaparkan bahwa tingkatan pertama yang merupakan tingkat paling tinggi di dalam ikhlas sebagai berikut:

فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

Pada tingkatan ini orang yang melakukan amalan atau ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Ia menyadari bahwa dirinya adalah hamba atau budaknya Allah sedangkan Allah adalah tuannya. Maka baginya sudah selayaknya seorang hamba taat dan patuh serta menuruti apapun yang diperintahkan oleh tuannya tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun.

Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu. Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridlo Tuhannya. 

Adapun tingkatan ikhlas yang kedua Syekh Nawawi menuturkan lebih lanjut:

والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها

Artinya: “Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”

Pada tingkatan kedua ini orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah namun di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akherat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Ia beribadah dengan harapan kelak di hari kiamat terselamatkan dari berbagai keadaannya yang mengerikan, terlindungi dari panas yang menyengat, dimudahkan hisabnya, hingga pada akhirnya ia tidak dimasukkan ke dalam api neraka tapi sebaliknya Allah berkenan memasukkannya ke dalam surga sehingga ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang tiada duanya.

Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas, hanya saja bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas. Keikhlasan seperti ini ada pada tingkatan kedua di bawah tingkat keikhlasan pertama. Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala yang besar dan kenikmatan yang luar biasa di akhirat kelak.
Lebih lanjut Syekh Nawawi menuturkan:

والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات 

Artinya: “Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rizki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”

Tingkat keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana orang yang beribadah dilakukan karena Allah namun ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu. Sebagai contoh orang yang melakukan shalat dluha dengan motivasi akan diluaskan rejekinya, aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia, banyak membaca istighfar agar dimudahkan mendapatkan keturunan dan lain sebagainya.

Hal yang demikian ini masih tetap dianggap sebagai ikhlas karena agama sendiri menawarkan imbalan-imbalan tersebut ketika memotivasi umat untuk melakukan suatu amalan tertentu. Hanya saja tingkat keikhlasannya adalah tingkat paling rendah.

Lalu bagaimana bila seorang yang beribadah atau melakukan suatu amalan dengan motivasi selain tiga hal di atas? Semisal orang beribadah dengan harapan akan dipuji dan dianggap orang lain sebagai orang yang taat, mencari ilmu dengan harapan akan dihormati orang lain sebagai orang yang alim, bersedekah dengan harapan akan mendapatkan suara banyak dalam pemilihan lurah, kepala daerah atau wakil rakyat.

Masih menurut Syekh Nawawi bahwa yang demikian itu termasuk sikap riya yang tercela, bukan ikhlas. Beliau menegaskan:

وما عدا ذلك رياء مذموم

Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”

Wallâhu a’lam. 

Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal

Selasa 26 Februari 2019 10:30 WIB
Enam Belas Adab Orang Terhormat
Enam Belas Adab Orang Terhormat
ilustrasi (Bright Side)
Secara sosial masyarakat bisa dibedakan ke dalam dua kelompok besar, yakni orang-orang terhormat dan orang-orang biasa. Orang-orang terhormat umumnya memiliki privilese (hak-hak isitimewa) di masyarakat seperti dihormati dan lain sebagainya.

Namun demikian, orang-orang terhormat hendaknya memperhatikan adab-adab tertentu sebagai mana nasihat Imam Al-Ghazali dalam kitab beliau berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 434) sebagai berikut:

آداب الشريف: يصون شرفه، ولا يأكل بِنَسَبِهِ، ولا يتعدى بِحَسَبِهِ، همته التواضع لربه، والخوف من سيده، ويأخذ بالفضل على من دونه، ولا يساوى من هو مثله، يعرف الفضل لاهل العلم وإن كان مثلهم في العلم أو أعلم، يلازم أهل الدين من أهل الفقه والقرآن، ويهذب أخلاقه، ويتحفظ في ألفاظه عند غضبه وخطابه، ويكرم جلساءه، ويواصل إخوانه، ويصون أقاربه، ويعين جيرانه، ويزين بنفسه أخدانه 

Artinya: “Adab orang terhormat, yakni: menjaga kehormatan diri, tidak makan dengan terlalu bernafsu, tidak melebihi batas kecukupan, bertawadhu kepada Allah SWT, ‘segan kepada pimpinan, menganggap utama orang yang berada di bawahnya, dan tidak menganggap sama orang yang sebetulnya sejajar, mengetahui keutamaan orang berilmu meskipun sejajar ilmunya atau lebih pandai dari diri sendiri meski sebenarnya ia lebih pintar, senantiasa mendekat pada ahli agama dari kalangan ahli fiqih dan ahli Al-Quran, disiplin dalam menjaga akhlak, menjaga kata-kata saat marah dan berbicara, memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya, menyambung persaudaraan, menjaga para kerabat, menolong tetangga dan menjadi hiasan yang indah bagi teman-temannya.” 

Dari kutipan di atas dapat diuraikan keenam belas adab orang terhormat sebagai berikut: 

Pertama, menjaga kehormatan diri. Cara terbaik menjaga kehormatan diri adalah menjaga akhlak yang baik kepada siapapun. Dengan akhlak yang baik, orang-orang terhormat akan tetap terjaga keterhormatannya. Sebaliknya dengan akhlak yang buruk, mereka akan kehilangan keterhormatannya sebab orang lain akan menilainya tidak pantas dihormati.   

Kedua, tidak makan dengan terlalu bernafsu. Cara makan orang-orang terhormat tentu berbeda dengan orang-orang yang hidup dalam serba kekurangan. Jika mereka makan dengan sangat bernafsu karena jarang makan misalnya, maka orang-orang terhormat makan dengan etika tertentu seperti pelan hingga tidak menimbulkan suara kunyahan yang tak perlu. 

Ketiga, tidak melebihi batas kecukupan. Porsi makan orang-orang terhormat hendaknya sewajarnya. Mereka hendaknya menghindari “kethowo” (bahasa Jawa), yakni mengambil porsi makan terlalu banyak karena terlau bernafsu tetapi pada akhirnya tidak bisa menghabiskannya. Hal ini pasti menimbulkan kemubadziran yang dicela agama.  

Keempat, bertawadhu’ kepada Allah SWT. Orang-orang terhormat dituntut bersikap tawadhu’, dalam arti mereka tidak boleh bersikap sombong kepada siapapun, terlebih kepada Allah SWT. Sikap tawadhu’ mereka justru akan mengangkat derajat mereka dan menjadikannya orang-orang mulia di hadapan Allah SWT. 

Kelima, segan kepada pimpinan. Orang-orang terhormat hendaknya tetap menunjukkan rasa segan atau takut kepada para pimpinan dari tingkat terendah hingga tingkat tertinggi. Sebagai contoh, orang-orang terhormat yang tinggal di wilayah tertentu hendaknya menunjukkan sikap hormat kepada para pimpinannya seperti ketua RT, ketua RW, kepala desa dan seterusnya hingga kepala negara. Intinya adalah tidak boleh meremehkan mereka. 

Keenam, menganggap utama orang yang berada di bawahnya. Orang-orang terhormat hendaknya memperlakukan orang lain baik yang berada di bawah maupun di atasnya sebagai orang-orang utama. Artinya orang-orang terhormat tidak boleh merendahkan orang-orang di luar dirinya sekalipun mereka secara sosial berada di bawahnya. 

Ketujuh, tidak menganggap sama orang yang sebetulnya sejajar. Orang-orang terhormat hendaknya menganggap orang-orang yang secara sosial sebetulnya sejajar sebagai orang-orang yang lebih utama. Artinya orang-orang terhormat hendaknya selalu menghormati orang lain tanpa memandang status sosial, misalnya.

Kedelapan, mengetahui keutamaan orang-orang berilmu meskipun ia sejajar ilmunya dengan mereka, atau malahan ia lebih pintar. Orang-orang terhormat yang sekaligus orang-orang pintar hendaknya menganggap orang-orang pintar lainnya sebagai orang yang lebih utama dari pada dirinya sendiri meski ia sebenarnya lebih pandai dari pada mereka. 

Kesembilan, senantiasa mendekat pada ahli agama dari kalangan ahli fiqih dan ahli Al-Quran. Orang-orang terhormat yang tidak berasal dari kalangan agamawan sebaiknya mendekat pada para ulama dari kalangan ahli fiqih dan Ahli Al-Qur’an termasuk para ahli tafsir. Hal ini agar mereka tidak hanya terhormat di mata masyarakat tetapi juga di mata Allah karena ketawaannya.  

Kesepuluh, disiplin dalam menjaga akhlak. Orang-orang terhormat hendaknya senantiasa menjaga budi pekerti. Hendaklah mereka selalu memperhatikan situasi dan kondisi di mana ia berada dan kepada siapa mereka sedang berbicara dan bertingkah laku.

Kesebelas, menjaga kata-kata saat marah dan berbicara. Orang terhormat tidak bebas berucap semaunya, terlebih mengucapkan kata-kata kotor di saat marah. Hal ini karena semakin tinggi kedudukan seseorang di masyarakat semakin kuat tuntutan berakhlak yang baik karena mereka akan diperhatikan dan dicontoh orang-orang di sekitarnya. 

Kedua belas, memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya. Orang-orang terhormat memang tidak bebas berbuat sesukanya. Kedudukannya yang tinggi di masyarakat justru menuntutnya untuk selalu memberikan contoh yang baik seperti memuliakan orang-orang yang duduk bersamanya meski mereka secara sosial berada di bawahnya. 

Ketiga belas, menyambung persaudaraan. Orang-orang terhormat bisa saja semula adalah orang-orang biasa yang kemudian karena sebab-sebab tertentu mengalamai kenaikan status sosial. Tidak boleh kenaikan status sosial ini kemudian membuat mereka menjadi sombong dengan memutus persaudaraan. 

Keempat belas, menjaga para kerabat. Orang terhormat hendaknya memperhatikan para kerabatnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Misalnya, menjaga agar mereka tidak terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum, baik hukum agama maupun hukum negara, seperti narkoba dan sebagainya. 

Kelima belas, menolong tetangga. Orang terhormat hendaknya peduli terhadap lingkungan sekitarnya khususnya tetangga. Hidup bertetangga memang hendaknya saling membantu karena suatu ketika pihak yang satu membutuhkan pertolongan dari pihak lain, atau sebaliknya. 

Keenam belas, menjadi hiasan yang indah bagi teman-temannya. Orang terhormat hendaknya dapat mewarnai pergaulan dengan teman-temannya dengan warna yang baik sehingga berdampak positif bagi akhlak mereka. Artinya orang terhormat dalam pergaulan sehari-hari hendaknya mewarnai dengan kebaikan dan bukan sebaliknya diwarnai dengan keburukan. 

Demikianlah keenam belas adab atau etika yang hendaknya diperhatikan oleh orang-orang yang secara sosial merupakan orang-orang terhormat baik karena jabatan, keturunan, kepandaian, ketokohan, kekayaan atau lainnya sebagaimana dinasihatkan oleh Imam Al-Ghazali. Intinya adalah semakin tinggi keterhormatan seseorang semakin banyak adab yang hendaknya mereka perhatikan dan laksanakan dengan baik, dan bukan sebaliknya. 

Ustadz Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU Surakarta.