IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (4)

Rabu 13 Maret 2019 20:15 WIB
Share:
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (4)
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Kesepuluh, tertib mengambil giliran

Dalam penggunaan fasilitas umum atau hak milik bersama, pelajar harus tertib mengambil giliran, ia tidak boleh mendahului hak orang lain yang datang lebih awal tanpa kerelaan darinya. KH Muhammad Hasyim Asy’ari selanjutnya meriwayatkan sebuah hadits tentang kewajiban antri mengambil giliran.

Bahwa salah seorang sahabat Anshar mendatangi Nabi untuk menanyakan sebuah persoalan, lalu datang seorang pria dari daerah Tsaqif juga bermaksud untuk berkonsultasi kepada Nabi. Karena sahabat Anshar datang lebih dahulu, Nabi menertibkan giliran dua orang tersebut, beliau bersabda: “Wahai saudara dari Tsaqif, sesungguhnya orang Anshar telah mendahuluimu bertanya, maka duduklah, agar kami selesaikan dulu kebutuhannya sebelum keperluanmu.”

Baca juga:
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (3)
Syekh al-Khathib al-Baghdadi berkata “disunnahkan bagi orang yang datang awal, mendahulukan orang asing, karena sangat kuat kemuliannya. Demikian pula bila orang yang datang akhir memiliki kebutuhan mendesak, dianjurkan untuk mendahulukannya atau sang guru memberi isyarat untuk mendahulukan orang yang datang lebih akhir karena sebuah hal yang menurutnya mashlahat.”

Bisa dianggap mendapat giliran lebih dulu dengan datang lebih awal di majlisnya guru atau kediamannya. Hak mendapat terdepan tidak menjadi gugur dengan beranjak sejenak untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak seperti membuang hajat, memperbarui wudlu dan lain sebagainya. 

Bila dua orang datang dahulu dan mereka berselisih, maka untuk menentukan siapa yang lebih layak didahulukan adalah dengan cara diundi atau kebijakan guru dengan kerelaan dari salah satu pihak atau keduanya.

Kesebelas, duduk di depan guru dengan penuh adab

Duduknya pelajar di depan guru hendaknya yang sopan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan oleh KHM. Hasyim Asy’ari dalam fasal “Etika murid kepada gurunya.”

Seorang murid hendaknya membawa kitab yang ia pelajari dari sang guru, hendaknya kitab tidak diletakan di lantai dalam keadaan terbuka saat membacanya, akan tetapi diangkat dan dipegang dengan tangan.

Pelajar hendaknya tidak memulai membaca sebelum dipersilakan guru. Jangan membaca atau berkonsultasi dengan guru ketika beliau sedang sibuk, bosan atau marah.

Bila dipersilakan membaca, maka mulailah dengan bacaan ta’awwudz, basmalah, hamdalah dan membaca shalawat kepada Nabi beserta keluarga dan para sahabatnya. Lalu mendoakan untuk guru, kedua orang tua, masyayikh, diri sendiri dan segenap kaum muslimin.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari menganjurkan untuk mendoakan tarahhum (Memohon limpahan rahmat) untuk pengarang kitab ketika namanya disebut. Semisal “telah berkata Imam al-Ghazali Rahimahullah”, “menurut pendapat al-Imam al-Nawawi Rahimahullah demikian”, “Syekh Abdul Qadir al-Jailani Rahimahullah adalah wali Allah yang agung.”

Hadratussyekh juga memberi contoh redaksi mendoakan guru saat membaca kitab di hadapannya, semisal “Radliya Allahu ‘Ankum, semoga Allah meridhai engkau”, “Radliya Allahu ‘an Syaikhina, semoga Allah meridhai guru kami”, “Radliya Allahu ‘an Imamina, semoga Allah meridhai imam kita.” Redaksi-redaksi doa tersebut diniati dan ditujukan untuk sang guru.

Ketika telah selesai belajar, dianjurkan pula untuk mendoakan sang guru. Bagi sang guru sendiri, bila beberapa etika di atas tidak dilakukan oleh murid, semisal karena lupa atau bodoh, hendaknya diingatkan dan diajarkan, sebab hal tersebut termasuk etika yang sangat penting.

Demikian pentingnya seorang murid mendoakan gurunya, karena salah satu kunci kesuksesan para ulama salaf adalah dengan mendoakan guru-gurunya. Penekanan Hadratussyekh mengenai hal ini senada dengan sikap para ulama salaf terhadap guru-guru mereka. Contohnya sebagaimana teladan yang dilakukan oleh al-Imam al-Nawawi, pembesar ulama mazhab Syafi’i yang memiliki banyak karya. 

Saat masih menimba ilmu, al-Nawawi muda rajin untuk mendoakan gurunya. Setiap kali beliau hendak datang ke majelis guru untuk menimba ilmu, beliau bersedekah di tengah jalan yang pahalanya ditujukan untuk gurunya. Kisah ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Habib Zain bin Smith sebagai berikut:

وَكَانَ رضي الله عنه إِذَا خَرَجَ لِلدَّرْسِ لِيَقْرَأَ عَلَى شَيْخِهِ يَتَصَدَّقُ عَنْهُ فِي الطَّرِيْقِ بِمَا تَيَسَّرَ وَيَقُوْلُ اللهم اسْتُرْ عَنِّيْ عَيْبَ مُعَلِّمِيْ حَتَّى لَا تَقَعَ عَيْنِيْ لَهُ عَلَى نَقِيْصَةٍ وَلَا يُبَلِّغُنِيْ ذَلِكَ عَنْهُ أَحَدٌ، رضي الله عنه

“Al-Imam al-Nawawi setiap kali keluar untuk belajar di hadapan gurunya, beliau bersedekah untuk gurunya di jalan dengan nominal yang beliau mampu, dan beliau berdoa, ya Allah tutupilah dariku aib guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan janganlah engkau sampaikan kepadaku informasi tentang aib guruku dari siapapun. Semoga Allah meridloi al-Imam al-Nawawi.” (al-Habib Zain bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 220)

Keduabelas, konsisten belajar hingga meyelesaikan pendidikan

Pelajar tidak boleh setengah-setengah, begitu ia masuk pada sebuah materi atau kelas tertentu, harus sampai selesai. Jangan sampai meninggalkan kitab di bagian tengah atau akhir menjadi bolong-bolong, tanpa ada keterangan. Demikian pula tidak berpindah kepada disiplin ilmu sebelum menyelesaikan fan ilmu sebelumnya, tidak pula berpindah-pindah dari satu institusi pendidikan menuju institusi yang lain tanpa kebutuhan mendesak. Sebab hal demikian dapat menyibukan pikiran dan menyia-nyiakan waktu.

Pelajar hendaknya bertawakal kepada Allah dalam urusan rezeki, pikirannya jangan sampai terganggu oleh urusan ekonomi.

Pelajar juga jangan suka mencari musuh atau hobi mendebat orang lain, sebab hal tersebut menyia-nyiakan waktu dan menyebabkan permusuhan.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari juga menekankan kepada pelajar untuk menjauhkan diri dari lingkungan dan pergaulan yang buruk, seperti bergumul dengan orang fasik, pemalas dan orang yang banyak bicara. Sebab lingkungan akan mempengaruhi baik dan buruknya seseorang.

Mengenai pengaruh lingkungan terhadap kepribadian pealajar ini senada dengan keterangan yang disampaikan oleh al-Imam al-Mawardi berikut ini:

وَقَالَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ

Dan berkata ‘Adi bin Zaid:

عَنْ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ    *    فَكُلُّ قَرِيــــنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Janganlah bertanya tentang perilaku seseorang, tanyalah perilaku temannya. Maka seorang teman akan mengikuti perilaku sahabat karib yang ditemani.”

إذَا كُنْت فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ     *    وَلَا تَصْحَبْ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي

“Bila engkau berada dalam komunitas, maka bersahabatlah dengan orang baik dari mereka. Janganlah bersahabat dengan orang rendah (perilakunya), maka engkau akan rendah beserta orang yang rendah.”

فَلَزِمَ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ أَيْضًا أَنْ يَتَحَرَّزَ مِنْ دُخَلَاءِ السُّوءِ، وَيُجَانِبَ أَهْلَ الرِّيَبِ، لِيَكُونَ مَوْفُورَ الْعَرْضِ سَلِيمَ الْعَيْبِ، فَلَا يُلَامُ بِمَلَامَةِ غَيْرِهِ

“Maka konsekuensi dari sudut pandang ini, agar menjauhi bergumul dengan orang-orang buruk (perilakunya), agar sempurna (terjaga) harga dirinya dan selamat dari aib, sehingga ia tidak tercela disebabkan tercelanya perilaku orang lain.” (Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Mawardi, Adab al-Dunia wa al-Din, hal.160)

Saat duduk, hendaknya menghadap qiblat, sebisa mungkin untuk menjalankan kesunnahan-kesunnahan yang diajarkan Nabi. Pelajar juga dianjurkan untuk mencari sebanyak-banyaknya doanya orang shaleh dan menjauhi doanya orang yang terzalimi. Pelajar juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat, serta melaksanakan shalat dengan khusyu’.

Ketigabelas, memberi pengaruh positif terhadap pelajar lain

Pelajar hendaknya menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya, bukan justru menjadi provokator untuk perilaku tidak terpuji. Hendaknya pelajar menyemangati rekan-rekannya untuk giat belajar, menunjukan kepada mereka tips-tips untuk rajin menuntut ilmu, memalingkan dari mereka hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar.

Pelajar hendaknya ringan tangan, mudah dimintai bantuan oleh teman-temannya. Juga harus pro aktif menyampaikan penjelasan atau keterangan yang bagus dengan dibuat metode diskusi atau memberi masukan. Dengan hal demikian, hatinya akan terang bersinar, berkah ilmunya dan besar pahalanya. Pelajar yang kikir, enggan untuk berbagi ilmu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, andai mendapat ilmu, maka tidak akan produktif ilmunya. Hal demikian telah diuji coba oleh sekelompok ulama salaf.

Pelajar jangan sombong kepada temannya karena kecerdasan akalnya, akan tetapi memujilah kepada Allah dan mintalah tambahan ilmu dengan senantiasa bersyukur.

Pelajar hendaknya memuliakan teman-temannya dengan mengucapkan salam, menampakkan kecintaan, menjaga hak-hak pertemanan dan persaudaraan seagama. Hendaknya mudah untuk memaafkan dan memaklumi kesalahan-kesalahan mereka, menutupi keburukan mereka serta berterima kasih atas kebaikan mereka.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat

Share:
Rabu 13 Maret 2019 19:45 WIB
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (3)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (3)
Ilustrasi (Antara)
Ketujuh, senantiasa berada di dekat guru

Selagi memungkinkan, hendaknya pelajar senantiasa menghadiri forum atau halaqah ilmiah gurunya, sesungguhnya hal tersebut akan menambahkan keutamaan, kebaikan, adab dan pengetahuan bagi sang murid. 

Pelajar juga sebaiknya bersungguh-sungguh untuk senantiasa berkhidmah kepada gurunya dan bergegas melayani guru saat beliau membutuhkan sesuatu. Sebab hal tersebut akan menambah kemuliaan.

Dalam menimba ilmu, sebaiknya tidak hanya berkaitan dengan pelajaran wajib di sekolah saja, namun juga rajin mengikuti pengajian-pengajian ekstra di luar kelas. Bahkan seluruh pengajian dan halaqah ilmiah sebaiknya diikuti selama memungkinkan dan sesuai dengan kemampuan pelajar.

Bila pelajar tidak mampu menguasai dan menghafal seluruh materi, maka hendaknya mendahulukan yang lebih penting.

Di luar jam pelajaran, hendaknya pelajar berdiskusi dan mengulangi keterangan-keterangan yang disampaikan gurunya dengan sesama rekan pelajar. Sesungguhnya berdiskusi memiliki kemanfaatan yang besar.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari, mengutip statemen Syekh al-Khathib al-Baghdadi, waktu yang paling utama dibuat diskusi adalah di malam hari. Hadlratus Syekh juga menyampaikan begitu semangatnya para ulama salaf dalam berdiskusi di malam hari. Beliau mengatakan:

وقد كان جماعة من السلف يبدؤون في المذاكرة من العشاء فربما لم يقوموا حتى سمعوا آذان الصبح

“Sungguh sekelompok ulama salaf memulai berdiskusi sejak Isya’, terkadang mereka tidak sempat qiyamul lail hingga mereka mendengar azan Subuh.”

Apabila tidak menemukan teman yang diajak berdiskusi, maka berdiskusilah dengan diri sendiri. Bertanya-tanya sendiri dan dijawab sendiri, memahami dan menganalisa referensi yang dibaca.

Hendaknya mengulang-ulang setiap keterangan yang didengar dan ia baca di dalam hati, agar bisa melekat di pikiran. Sesungguhnya mengulang-ulang penjelasan di dalam hati memiliki manfaat yang besar sebagaimana membaca ulang dengan lisan.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari memberikan peringatan keras bagi pelajar yang hanya belajar dan memahami kitab di depan gurunya saja, tidak dibaca ulang di luar kelas. Beliau menegaskan, hampir tidak ada orang sukses yang hanya mendengar dan memahami materi di hadapan guru, kemudian ia tinggalkan pelajarannya tanpa dibaca dan dipahami ulang.
Kedelapan, menjaga etika saat di majelis

Saat menghadiri majlis gurunya, sebaiknya mengucapkan salam kepada hadirin yang lain, dengan suara lantang yang dapat didengar seluruh hadirin. Kepada gurunya, diberikan penghormatan yang khusus melebihi penghormatan kepada yang lain, semisal dengan cium tangan. Demikian pula saat beranjak dari majlis, dianjurkan mengucapkan salam.

Saat pertama kali datang di majlis, jangan melangkahi atau menyela, namun duduk sesuai jatah tempat kosong di depannya, kecuali dipersilahkan oleh guru atau hadirin yang lain.

Tidak diperbolehkan mengusir orang lain dari tempat duduknya atau mendesaknya secara sengaja. Bila ia dipersilahkan orang lain untuk merelakan tempat duduknya, maka hendaknya tidak diterima kecuali terdapat mashlahat, semisal ia adalah pelajar senior, seorang pakar atau memiliki kelebihan yang memberi manfaat kepada hadirin dengan ia duduk di depan.

Dalam mengambil tempat duduk, KHM. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya memberi kenyamanan kepada yang lain, semisal tidak duduk menyela di tengah-tengah dua teman akrab kecuali atas persetujuan keduanya, tidak duduk di tengah-tengah jalan/ halaqah, tidak berada di depan atau di atas orang yang lebih senior.

Hendaknya bekerja sama dengan rekan-rekan pelajar yang lain agar penjelasan guru bisa didengar secara menyeluruh dan maksimal, semisal dikumpulkan dalam satu tempat atau satu sudut.

Kesembilan, tidak malu bertanya

Malu bertanya, sesat di jalan. Ini adalah ungkapan popular yang menekankan untuk tidak sungkan-sungkan bertanya. Hal ini juga diamini oleh KHM. Hasyim Asy’ari dalam penjelasannya tentang adab pelajar. Beliau menekankan agar pelajar tidak malu menanyakan setiap permasalahan yang sukar atau sulit ia pahami. Namun demikian, bertanya harus disertai dengan etika dan cara yang baik, semisal waktunya harus tepat, disampaikan dengan halus dan lain-lain. 

Hadratussyekh menyampaikan beberapa statemen ulama tentang pentingnya bertanya. Di antaranya, beliau mengutip maqalah:

من رق وجهه عن السؤال ظهر نقصه عند اجتماع الرجال

“Barangsiapa sedikit bertanya, akan tampak kekurangannya saat berkumpul dengan para tokoh.”

Imam al-Mujahid berkata:

لا يتعلم العلم مستحي ولا متكبر

“Tidak pantas belajar ilmu pemalu dan orang yang sombong.”

Beliau juga mengutip statemen Sayyidah ‘Aisyah bahwa para sahabat Anshar tidak pernah dicegah oleh rasa malu dalam urusan belajar agama. Ummu Sulaim juga pernah bertanya kepada Nabi, apakah perempuan wajib mandi ketika ia mimpi basah. Sebuah pertanyaan yang cukup berat disampaikan oleh perempuan di depan laki-laki, namun beliau tidak mempedulikan hal tersebut.

Dalam mengajukan pertanyaan, hendaknya tidak keluar dari konteks pembahasan, kecuali ada kebutuhan mendesak atau diizinkan oleh guru. Bila gurunya tidak menjawab pertanyaan, maka jangan ditekan agar bersedia menjawab. Ketika gurunya keliru menjawab, pertanyaan jangan diulangi pada waktu itu, namun ditangguhkan di lain kesempatan.

Sebagaimana tidak malu bertanya, hendaknya pelajar tidak malu berkata “tidak paham”, ketika ia ditanya oleh gurunya apakah sudah memahami penjelasan yang disampaikan. Jangan sampai karena untuk menjaga gengsi, ia menjawab sudah paham, padahal ia belum paham penjabaran guru.

Bersambung…


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat
Senin 11 Maret 2019 15:30 WIB
Inti Agama Islam pada Pengagungan Allah dan Kasih Sayang
Inti Agama Islam pada Pengagungan Allah dan Kasih Sayang
(Foto: @tnews.co.th)
Sebagaimana telah maklum bahwa ajaran Islam sangat komplek dan mencakup segala bidang dan sendi kehidupan umat manusia. Tak ada perilaku manusia sekecil apapun itu kecuali Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuannya.

Islam mengatur masalah aqidah, hukum, pergaulan dengan sesama manusia, hingga persoalan bagaimana sebaiknya seseorang menjalani tidurnya. Semuanya diatur dengan sangat detail oleh Islam. Untuk itu semua 30 juz ayat Allah telah diturunkan, ribuan hadits Rasulullah telah terkodifikasi, dan ajaran para ulama telah tertulis pada ribuan atau bahkan jutaan judul buku yang berjilid-jilid.

Namun demikian bila dicermati lebih jauh ajaran Islam yang begitu kompleksnya sesungguhnya, di bidang apapun, semuanya tidak lepas dan hanya terangkum dalam dua hal. Kedua hal itu adalah mengagungkan Allah subhânahû wa ta’âlâ dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya.

Simpulan ini banyak disampaikan oleh para ulama semisal Syekh Muhammad Nawawi Banten. Di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd ulama asli Indonsia yang bergelar Sayid Ulama Hijaz ini menuturkan:

فان جميع أوامر الله تعالى ترجع الى خصلتين التعظيم لله تعالى والشفقة لخلقه

Artinya, “Sesungguhnya semua perintah-perintah Allah kembali kepada dua hal; mengagungkan Allah ta’âlâ dan berkasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashâihul ‘Ibâd, [Jakarta, Darul Kutul Al-Islamiyah: 2010], halaman 9).

Sementara di dalam kitabnya yang lain, Tafsir Marâh Labîd, Syekh Nawawi mengungkapkan hal yang sama dengan redaksi yang berbeda:

الطاعات محصورة في أمرين: التعظيم لأمر الله، والشفقة على خلق الله

Artinya, “Ketaatan-ketaatan itu terangkum pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berbuat kasih sayang (syafaqah) terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut, Darul Fikr: 2007], juz I, halaman 117).

KH Subhan Makmun, pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang juga Rais Syuriyah PBNU, dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa seseorang bisa dikatakan telah melakukan ketaatan dengan sebenarnya bila ia telah melakukan kedua hal di atas.

Mereka yang hanya takzhîm memuliakan Allah saja tanpa dibarengi dengan perilaku kasih sayang terhadap sesama makhluk belum dikatakan taat dengan sebenar-benarnya taat.

Ia memberikan satu gambaran, “Ketika Anda di tengah malam bangun untuk melakukan shalat tahajud, lalu ketika Anda hendak mengelar sajadah di tempat shalat ternyata di sana ada sekelompok semut yang sedang mengerubungi bangkai seekor cicak, apa yang akan Anda lakukan?

Apakah Anda akan menyapu bersih semut-semut itu agar Anda dapat bersembahyang di sana, ataukah Anda akan membiarkan mereka tetap menikmati makanannya sementara Anda mencari tempat lain untuk shalat?

Bila Anda menyapu bersih semut-semut itu maka Anda belum dikatakan melaksanakan ketaatan dengan sebenarnya karena Anda hanya mengagungkan Allah dengan bertahajud namun tidak berkasih sayang terhadap makhluk-Nya dengan mengusir semut-semut yang sedang menikmati makanannya.” Demikian Kiai Subhan menjelaskan.

Lebih jauh terpenuhinya dua hal yang menjadi rangkuman dari ajaran Islam itu erat kaitannya dengan kebahagiaan sejati yang dapat diraih oleh manusia. Menurut Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya Al-Bahrul Muhîth bahwa kebahagiaan itu terikat dengan dua hal, yakni mengagungkan Allah SWT dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Dalam tafsir tersebut Abu Hayan menegaskan:

بِأَنَّ السَّعَادَةَ مَرْبُوطَةٌ بِأَمْرَيْنِ التَّعْظِيمِ لِلَّهِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِهِ

Artinya, “Bahwa seseungguhnya kebahagiaan itu terikat pada dua hal, yakni mengagungkan Allah dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Lebih lanjut Abu Hayan juga menuturkan bahwa kecelakaan, kebinasaan dan kesedihan mengenai orang-orang musyrik karena mereka tidak mau mengagungkan Allah dengan menauhidkan-Nya dan menafikan sekutu bagi-Nya serta mereka tidak mau berkasih sayang terhadap makhluk-Nya dengan memberikan kebaikan bagi mereka. (Lihat Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth fit Tafsîr, [Beirut, Darul Fikr: 2005], juz IX, halaman 286).

Dari penjelasan para ulama di atas kiranya dapat diambil satu pemahaman bahwa seseorang akan dapat meraih kebahagiaan yang sesungguhnya baik di dunia maupun di akhirat kelak bila ia mau melakukan dua hal yang menjadi ajaran inti agama Islam, yakni mengagungkan Allah dan mengasihi sesama makhluk-Nya.

Berbaik-baik kepada Allah saja tidak cukup. Bagaimana mungkin Allah merasa senang dengan seseorang yang berperilaku baik kepada-Nya, namun sementara itu Allah melihat makhluk ciptaan-Nya diperlakukan tidak semestinya. Dalam keadaan seperti ini tentunya bukan kebahagiaan yang akan diperoleh dari Allah, namun bisa jadi kemurkaan-Nya.

Bisa digambarkan pada diri kita, akankah kita merasa senang ketika kita begitu dihormati oleh seseorang namun di sisi lain kita melihat anak kita diperlakukan tidak baik oleh orang itu? Tentunya yang akan kita berikan kepada orang itu bukanlah rasa simpatik dan hormat, tapi justru kemarahan dan kebencian. Bukan begitu? Wallâhu a’lam.


Ustadz Yazid Muttaqin, aktif di PCNU Kota Tegal.
Rabu 6 Maret 2019 23:0 WIB
Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu
Bahkan Putusnya Tali Sandal Jepitmu itu karena Dosamu
Ilustrasi (via filozofia.al)
Pernahkah Anda mengalami ketika shalat berjamaah di masjid yang penuh sesak tiba-tiba Anda merasa ada cairan yang jatuh di kepala Anda dan ternyata itu adalah kotoran cicak? Atau, pernahkah Anda menaiki sepeda motor di depan sebuah pasar tradisional yang ramai dan tiba-tiba ban sepeda motor Anda terkena paku hingga Anda harus menuntunnya menuju tukang tambal ban?

Bila Anda pernah mengalami itu semua atau yang semisalnya, atau kelak hal semacam itu terjadi pada diri Anda, janganlah menggerutu, marah atau bahkan menyalahkan pihak lain yang belum tentu bersalah. Salahkan saja diri Anda dan introspeksilah. Karena bisa jadi terjadinya sesuatu yang tak menyenangkan pada diri Anda dikarenakan karena dosa dan kesalahan yang pernah Anda perbuat sebelumnya, mungkin satu atau dua jam yang lalu, dua atau tiga hari yang lalu, atau bahkan mungkin dosa yang pernah Anda perbuat sekian tahun yang lalu.

Mengapa demikian?

Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman di dalam Surat An-Nisa ayat 79:

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Artinya: “Dan apapun yang mengenaimu berupa kejelekan maka itu dari dirimu sendiri.”

Penjelasan para ulama ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini menunjukkan satu kesimpulan bahwa kejelekan apapun yang menimpa diri seseorang adalah karena perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Dalam kitab Tafsîr Jalâlain misalnya dijelaskan bahwa kejelekan itu mendatangimu karena dosa-dosa yang telah engkau lakukan mengakibatkan terjadinya kejelekan itu (Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Al-Mahalli, Tafsîr Jalâlain, [Kairo: Darul Hadis, tt.], hal. 114). 

Sementara Imam ‘Alauddin Ali bin Muhammad Al-Baghdadi atau yang lebih dikenal dengan Al-Khazin di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kejelekan yang menimpa dirimu berupa kesulitan, kepayahan, hal yang tak disenangi, dan penyakit itu semua berasal dari dirimu sendiri sebab dosa yang engkau perbuat menyebabkan terjadinya semua itu. Dan kejelekan itu menimpamu sebagai hukuman atas dosamu itu (‘Alauddin Ali Al-Baghdadi, Tafsîr Al-Khâzin, [Mesir: Darul Kutub Al-Arabiyah Al-Kubra, tt.], juz I, hal. 404).

Lebih jauh dari itu Syekh Nawawi Banten di dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd mengutip sebuah perkataan yang dinisbatkan kepada Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:

وعن عائشة رضي الله عنها ما من مسلم يصيبه وصب ولا نصب حتى الشوكة يشاكها، وحتى انقطاع شسع نعله إلا بذنب وما يعفو الله عنه أكثر 

Artinya: “Dari Sayidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ: tidaklah seorang muslim terkena sakit dan kepayahan, hingga terkena duri dan terputusnya tali sandal jepitnya, kecuali disebabkan suatu dosa, dan dosa yang dimaafkan Allah lebih banyak.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Marâh Labîd, [Beirut: Darul Fikr, 2007], juz I, hal. 179)

Dari sini sangat jelas bahwa hal apapun yang tidak menyenangkan, baik yang berat maupun yang ringan, yang besar maupun yang kecil, yang menimpa diri seseorang itu merupakan efek dari perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Bahkan terputusnya tali sandal jepit yang bagi kebanyakan orang sebagai sesuatu yang lumrah terjadi pun merupakan efek dan hukuman atas dosa yang telah lalu.

Dapat dipahami pula bahwa pada dasarnya setiap dosa yang dilakukan seorang manusia akan membawa efek buruk bagi dirinya. Hanya saja rahmat Allah lebih luas. Bahwa dosa-dosa yang diampuni Allah sehingga tak menimbulkan efek buruk bagi pelakunya jauh lebih banyak dari dosa yang mengakibatkan hukuman bagi pelakunya, sebagaimana disebutkan Syekh Nawawi di atas. Tidak bisa dibayangkan, bila tanpa ampunan dan rahmat Allah setiap dosa selalu berefek buruk bisa jadi tak ada seorang pun yang hidup di dunia ini dengan tenang karena setiap harinya ia selalu ditimpa kesusahan akibat tumpukan dosa yang dilakukannya.

Yang juga perlu digarisbawahi adalah bahwa dalam kehidupan bermasyarakat apa yang dijelaskan di atas semestinya digunakan untuk menasihati diri sendiri, bukan untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Tidak pas kiranya bila seorang teman sedang sakit kemudian kita mengatakan kepadanya bahwa sakitnya itu karena banyaknya dosa yang ia lakukan. Sebaliknya, justru ketika diri kita terkena musibah atau kesusahan lainnya maka kita mesti introspeksi dan mawas diri bahwa kita pastilah telah melakukan satu kesalahan sehingga Allah menghukum dengan kesusahan itu.

Lalu adakah satu cara agar terhindar dari efek-efek buruk akibat perbuatan dosa yang dilakukan, mengingat setiap orang setiap harinya bisa jadi tak lepas dari dosa?

Imam Abu Hayan Al-Andalusi di dalam kitab tafsirnya menyampaikan:

وَاسْأَلُوهُ الْمَغْفِرَةَ، إذا هِيَ رَأَسُ الْعَمَلِ الَّذِي بِحُصُولِهِ تَزُولُ التَّبِعَاتُ

Artinya: “Mintalah ampunan kepada Allah karena ampunan itu pokok amal yang bila didapatkan maka akan hilanglah efek-efek buruk (perbuatan dosa).” (Abu Hayan Al-Andalusi, Al-Bahrul Muhîth, [Beirut: Darul Fikr, 2005], juz IX, hal. 286)

Ya, dengan memperbanyak istighfar meminta ampunan kepada Allah diharapkan dapat terhindar dari efek buruk sebagai hukuman atas dosa yang dilakukan. Wallâhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal.