IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Imam Khalaf dan Imam Khallad, Perawi Qira’at Imam Hamzah

Kamis 14 Maret 2019 15:30 WIB
Share:
Imam Khalaf dan Imam Khallad, Perawi Qira’at Imam Hamzah
Ilustrasi (via mawdoo3.com)
Imam Hamzah adalah salah satu imam qira’at sab’ah yang memiliki gelar al-Habr Al-Qur’an (tinta Al-Qur’an). Salah satu murid Imam Hamzah yang melanjutkan qira’atnya adalah Imam Sulaim. Ia adalah satu diantara murid Imam Hamzah yang paling menonjol dalam soal bacaan Imam Hamzah, darinya lahirlah dua generasi yang terbaik, yaitu Imam Khalaf dan Khallad. Kedua murid Imam Sulaim inilah kemudian menjadi perawi qira’at Imam Hamzah.

1. Imam Khalaf

Namanya Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab bin Khalaf al-Asadi al-Baghdadi al-Bazzar, kuniyahnya Abu Muhammad. Beliau salah satu perawi Imam Hamzah dari jalur Imam Sulaim. Selain sebagai perawi Imam Hamzah, beliau juga berstatus sebagai imam qira’at ke sepuluh yang memiliki (pilihan) bacaan sendiri, yang berbeda dengan Imam Hamzah. 

Imam Khalaf memiliki kedudukan dan posisi yang berbeda; sebagai perwai dari Imam Hamzah sekaligus sebagai imam qira’at. Meskipun ia memiliki kedudukan dan posisi yang berbeda, tidak sedikit ulama yang memuji keilmuannya, bahkan tak ayal kalau beliau disebut sebagai orang yang sangat tsiqah dalam soal periwayatan. Selain gelar tsiqah, Imam Khalaf juga dikenal sebagai orang yang hidup sederhana (zahid) alim dan ahli ibadah.

Beliau dilahirkan pada tahun 150 H di kota Baghdad.

Perjalanan Intelektualnya

Sejak kecil, Imam Khalaf telah menghafal Al-Qur’an di tanah kelahirannya, dan pada saat berumur 10 tahun beliau sukses menyelesaikan hafalan tersebut dengan baik dan lancar.

Ketika menginjak umur 13 tahun, beliau mengawali perjalanan intelektualnya menuntut ilmu kepada para ulama.

Imam Khalaf bercerata kepada muridnya, Imam Idris Abdul Karim: “Saya hafal Al-Qur’an saat berumur 10 tahun, kemudian ketika saya menginjak umur 13 tahun saya mengawali menuntut ilmu”.

Dalam waktu yang sangat lama, beliau memperdalam Al-Qur’an dan qira’atnya hingga kemudian dikenal oleh para ulama sebagai “Ahli Al-Qur’an”. Selain memperdalam Al-Qur’an dan qira’atnya, beliau tidak lupa diri untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman lainnya, utamanya ilmu hadits hingga kemudian dikenal sebagai “ahli hadits”. Maka tak ayal, sebagian ulama mengatakan, bahwa Imam Khalaf pada mulanya, dikenal dengan “ahli Al-Qur’an”, namun kemudian ia juga dikenal sebagai ahli hadits.

Para ulama qira’at banyak menyatakan bahwa guru utama Imam Khalaf dalam meriwayatkan qira’at Imam Hamzah adalah Imam Sulaim bin Isa. Darinya Imam Khalaf banyak ber-istifadah tentang qira’at Hamzah hingga menempatkannya sebagai perawi dari Imam Hamzah.

Imam Khalaf berkata: “Saya membaca (setoran) Al-Qur’an kepada Sulaim berulangkali. Pada suatu ketika saya khatam, saya bertanya kepada Sulaim: “Apakah yang Anda ajarkan kepada saya adalah qira’at Hamzah?. beliau menjawab: “Iya”. 

Selain mahir dalam soal ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam Khalaf juga dikenal sebagai mahir dalam ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti gramatikal bahasa Arab.

Dalam bidang hadits, Imam Khalaf belajar kepada para masyakhik (guru-guru) yang dikenal dengan ke-tsiqah-annya, seperti Hammad bin Zaid, Wahab bin Jarir bin Hazim, Sufyan bin Uyainah, Yazid bin Harun, Abi ‘Awanah, Abi Usamah, Khalid bin Abdullah al-Wasithi, Jarir al-Dhabbi dan Sallam al-Thawil.

Hadits-haditsnya banyak disebut dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Sahih Muslim, dan Abu Daud dalam kitabnya, Sunan Abu Daud. Di samping itu, banyak ulama yang mengutip hadits-hadits selain di dua kitab di atas, seperti Abu Zur’ah, Abu Hatim, Musa bin Harun, Abu Ya’la al-Mushili, Abu al-Qasim al-Baghawi, Muhammadn bin Ibrahim bin Abban, dan putranya, Muhammad bin Khalaf.

Dalam belajar, jika ada kemusykilan atau kejanggalan yang dihadapi oleh Imam Khallaf, beliau menginfakkan sebagian hartanya sehingga kemusykilan tersebut menjadi terbuka dan mudah.

Beliau berkata: “Saya menemui kejanggalan dalam bab nahwu (gramatikal bahasa Arab), kemudian saya menginfakkan harta sebesar 80000 dirham, sehingga dengan itu kejanggalan saya terbuka dan saya mahir dalam soal nahwu.

Guru-guru Imam Khalaf dan Transmisi Riwayatnya

Dalam memperluas bacaan qira’at Al-Qur’an, Imam Khalaf memiliki dua metode; membaca secara langsung di hadapan guru sampai khatam (Ardh) dan mendengarkan riwayat yang disampaikan oleh sang guru tanpa membaca (sima’an).

Untuk metode pertama, Imam Khalaf setoran Al-Qur’an secara langsung kepada Imam Sulaim bin Isa, Abdurrahman bin Hammad bin Hamzah, Abi Zaid Said bin Aus al-Ansari dari al-Mufaddhal al-Dhobi. 

Di samping itu, Imam Khalaf meriwayatkan sebagian huruf (bacaan) dari Ishaq al-Musayyibi, Ismail bin Ja’far, Yahya bin Adam.

Sedangkan untuk metode yang kedua, Imam Khalaf mendengar qira’at Imam Ali al-Kisa’I sampai khatam tanpa membaca langsung kepadanya. Meskipun tanpa membaca di hadapannya, ia telah kuasai secara dhabt.

Selain belajar kepada para imam-imam di atas, Imam Khalaf di tengarai belajar kepada Imam Syu’bah namun tidak jadi sebab kalimat yang disampaikan Syu’bah kepadanya saat awal perjumpaannya menyinggung prasaannya. Sehingga beliau enggan melanjutkan belajar kepada Imam Syu’bah namun belajar kepada Yahya bin Adam, murid Imam Syu’bah.

Imam Khalaf adalah salah satu orang yang mengimplementasikan firman Allah tentang memulyakannya anak keturunan manusia, sebagaimana ia memulyakan dirinya sendiri, dan para penghafal Al-Qur’an. Hal tersebut dibuktikan dari cerita yang disampaikan Ahmad bin Ibrahim Warraqah yang mendengar langsung dari Imam Khalaf. Beliau berkata: “Saya datang ke Kufah menemui Sulaim. Kemudian ia berkata: “Apa yang akan aku lakukan untukmu?. 

Saya berkata: “Saya mau membaca Al-Qur’an kepada Abu Bakar bin Ayyasy (Imam Syu’bah, murid Imam Ashim), kemudian Sulaim memanggil anaknya, dan menulis sepucuk surat untuk disampaikan kepada Imam Syu’bah, saya tidak tahu apa yang ditulisnya. Kemudian kami mendatanginya dan ia membaca surat tersebut dan pandangannya tertuju ke mulut saya. Kemudian berkata: “Kamu Khalaf ?. Saya jawab: iya. Kemudian ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang akan menggantikan posisimu orang yang membaca kepadamu (tidak ada generasi yang akan melanjutkan qira’at bacaannya). Kemudian saya diam. Maka ia pun menyuruh saya untuk duduk dan membaca kepadanya. Bacalah…!!! Saya pun kaget sambil bertanya. Membaca kepada Anda?, Ia pun menjawab: Iya. Saya menjawab dengan tegas: “Tidak, demi Allah saya tidak akan membaca kepada orang yang merendahkan seorang dari kalangan penghafal Al-Qur’an. Kemduian saya keluar dan kembali ke Imam Sulaim. Kemudian Sulaim menanyakannya namun saya enggan menjawabnya. Kemudian beliau menyesal dan berhujjah dan mencatat dalam transmisi sanadnya bahwa beliau belajar kepada Imam Yahya bin Adam dari Ashim.

Antara Imam Khalaf dan Sulaim

Imam Khalaf secara intens belajar dan membaca secara langsung tentang Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam Sulaim. Sebab keistiqamahan itulah Imam Khalaf mendapatkan posisi sebagai perawi sekaligus imam qira’at kesepuluh, yang kemudian dikenal dengan “qira’at Imam Khalaf al-'asyir”.

Awal perjumpaannya dengan Imam Sulaim telah memberikan kesan yang mendalam bagi gurunya.

Imam Khalaf bercerita: “Saya mendatangi Sulaim untuk belajar Al-Qur’an kepadanya. Namun di hadapannya banyak santri-santri memngelilinginya, saya menyangka kalau mereka adalah murid-murid yang mendahului saya (senior). Ketika saya duduk, beliau bertanya: Siapa Anda?. Saya menjawab: “Saya Khalaf”. Kemudian beliau berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa kamu mencari sanad yang tinggi dalam soal qira’at. Saya tidak akan memungut apapun dari mu. 

Imam Khalaf berkata: “Saya, saat itu, datang dan mendengarkan bacaannya, namun ia tidak mengambil sesuatu apapun dari saya. Saya datang pagi-pagi buta kemudian beliau keluar dan berkata:  Saya yang datang duluan, maka saya maju di hadapannya, saya memulai bacaan surat Yusuf, surat ini termasuk surat yang sulit I’rabnya. Kemudian beliau bertanya : Siapa Anda, saya tidak pernah mendengar bacaan yang sebagus Anda. Saya jawab: Saya Khalaf. Kemudian beliau berkata: Saya tidak boleh melarang kamu membaca kepadaku. Bacalah…pada suatu hari saya sampai pada kata (وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا), beliau menangis, kemudian berkata: hai Khalaf, tahukah kamu, sungguh mulyanya orang mukmin menurut Allah, dia tidur, para malaikat mendoakan ampunan untuknya.

Imam Umar bin Qaid al-Adami berkata: Saya mendengar Khalaf berkata: “Saya membaca Al-Qur’an kepada Sulaimdalam sehari dari awal Al-Qur’an sampai surat al-Munafiqun, beliau tidak menegurku sama sekali hingga sampai pada kalimat (ولكن المنافقين لا يعلمون) kemudian beliau mengangkat kepalanya sembari berkata: “Demi Allah, Engkau orang yang hafidz, namun butuh sedikit pemahaman. Kemudian saya membaca (وَلكِنَّ الْمُنافِقِينَ لا يَفْقَهُونَ). Ini menunjukkan bahwa Imam Khalaf orang yang sangat lancar hafalannya, namun sedikit kesalahan yang dilakukannya membuatkan menegur agar lebih memperhatikan pada unsur-unsur ayat yang mirip.

Komentor Ulama

Imam Khalaf salah satu dari sekian imam qira’at yang memiliki dua posisi yang berbeda dalam bidang qira’at Al-Qur’an. Dengan ketekunannya mempelajari qira’at Al-Qur’an, tak ayal banyak ulama yang mengapresiasi dan memujinya, baik dalam hal keilmuannya maupun pribadinya.

Imam Yahya bin Main, al-Nasa’I dan ulama-ulama yang lain menyatakan bahwa Imam Khalaf adalah orang yang tsiqah.

Imam al-Daruqutni menyatakan bahwa beliau adalah abid yang utama.

Imam al-Husain bin Fahm berkata: “Saya tidak menemukan seseorang yang lebih bagus (bacaannya) daripada Khalaf. Ia mengawali karirnya sebagai ahli Al-Qur’an kemudian menjadi muhadditsin, ia membacakan lima puluh hadits Abi ‘Awanah kepada kami. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau melakukan puasa setiap hari (saum al-dahr).

Murid-murid Imam Khalaf

Selain meriwayatkan qira’at Imam Hamzah, beliau memiliki qira’at sendiri yang berbeda dengan qira’at Imam Hamzah. Maka wajar apabila banyak dari kalangan penuntut ilmu yang belajar kepada Imam Khalaf, salah satunya adalah Ahmad bin Ibrahim Warraqah, saudaranya, Ishaq bin Ibrahim, Ibrahim bin Ali al-Qassar, Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Idris bin Abdul Karim al-Haddad, Muhammad bin Ishaq, guru Ibnu Syanbudz.

Ibnu Asytah berkata: “Imam Khalaf mengambil dan mendalami madzhab Hamzah keculai 120 huruf (bacaan) yang berbeda, yang dipakai sebagai pilihan bacaannya sendiri. 

Imam Ibnu al-Jazari telah melakukan penelitian bahwa qira’a Imam Khalaf tidak keluar dari qira’at Imam Hamzah, Ali al-Kisa’I dan Syu’bah kecuali pada surat al-Anbiya ayat 95, ia membacanya seperti riwayat Hafs.

Setelah mendarma-baktikan diri kepada kalam-Nya, beliau wafat pada tahun 229 pada bulan Jumadal Akhirah.

2. Imam Khallad

Nama lengkapnya adalah Khallad bin Khalid al-Syaibani al-Sairafi al-Hukufi, kuniyahnya Abu Isa.

Beliau adalah salah satu murid dari Imam Sulaim yang paling bagus bacaannya dan paling dhabt serta diakui kapasitas keilmuannya. Banyak gelar dan predikat yang disematkan kepadanya; tsiqah (terpercaya), muhaqqqi (peneliti), ustadz (spesialisasi), dan arif.

Dilahirkan pada tahun 129 ada sebagian riwayat menyatakan 130 H.

Perjalanan Intelektual Imam Khallad

Dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam Khallad belajar dan membaca secara langsung kepada Imam Sulaim. Beliau termasuk murid yang paling dhabit dan kompeten dalam meriwayatkan bacaan Imam Sulaim. Maka tak ayal, Imam al-Dzahabi mengapresiasinya dengan beberapa pujian, yaitu: tsiqah, arif, muhaqqiq dan arif.

Selain membaca secara langsung kepada Imam Sulaim, beliau juga meriwayatkan qira’at dari Imam Husain al-Ju’fi, dan Muhammad bin al-Hasan al-Ruasi.


Dalam bidang hadits, Imam Khallad belajar kepada Zuhair bin Mu’awanah, al-Hasan bin Shalih bin Hay.

Hadits-haditsnya dikutip dan diriwayatkan oleh Abu Zur’an dan Abu Hatim, bahkan keduanya mengapresiasinya sebagai orang yang sangat jujur.

Murid-murid Imam Khallad

Setelah melakukan pengembaraan intelektual kepada para imam yang berkompeten dalam bidangnya, kemudian beliau mengaplikasikan ilmunya di tengah-tengah masyarakatnya dengan meriwayatkan qira’at imam Hamzah dari jalur Imam Sulaim dalam waktu yang sangat lamai. Maka tak ayal, banyak para penuntut ilmu yang belajar kepadanya, salah satunya adalah: Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Ibrahim bin Ali al-Qassar, Ali bin Husain al-Thabari, Ibrahim bin Nashr al-Razi, al-Qasim bin Yazid al-Wazan, termasuk murid yang paling bagus, Muhammad bin al-Fadhl, Muhammad bin Said al-Bazzaz, Muhammad bin Syadzan al-Jauhari, termasuk murid yang paling dhabit, Muhammad bin Isa al-Ashbahani, Muhammad bin al-Haitsam Qadi Akbiran, termasuk murid yang paling mulya.

Setelah mengabdikan diri kepada kalam Rab-nya, Allah memanggilnya kepangkuan-Nya pada tahun 220 H.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 


(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; Kitab “Siyar ‘A’lamin Nubala’ [Kairo: Dar al-Hadits, 2006, dan Kitab “Makrifatul Qurra’ Al-Kibar ‘alat Thabaqat wal A’shar” [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1997, karya Imam Ad-Dzahab, dan kitab “Thabaqat al-Qurra’ al-Sab’ah wa Dzikru Manaqibihim wa qira’atihim” .[Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 2003].


Share:
Jumat 8 Maret 2019 10:15 WIB
Solusi bagi Karyawati Percetakan Al-Qur’an saat Menstruasi
Solusi bagi Karyawati Percetakan Al-Qur’an saat Menstruasi
(Foto: @malaymail.com)
Dunia bisnis tidak mengenal usia, status sosial dan jenis kelamin. Terlepas dari siapa orangnya, profesionalisme adalah hal yang paling utama dalam perekrutan karyawan, tidak terkecuali dalam pekerjaan di bidang percetakan Al-Qur’an. Karena keuletannya, terkadang salah satu perusahaan pencetak al-Quran merekrut karyawan seorang perempuan.

Yang menjadi problem adalah ketika karyawati tersebut sedang datang bulan, mengingat kontak fisik dengan Al-Qur’an tidak bisa dihindarkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana hukum karyawati yang sedang haidh, menyentuh atau membawa Al-Qur’an dalam rangka menjalankan tugas pekerjaannya?

Larangan memegang mushaf bagi orang yang berhadats, termasuk wanita haidh ditegaskan dalam ayat:

لَا يَمَسُّهُ إلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Artinya, “Tidak diperbolehkan memegang Al-Qur’an kecuali orang yang suci (dari hadats),” (Surat Al-Waqi’ah ayat 79).

Demikian pula dalam hadits Nabi:

لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إلَّا طَاهِرٌ

Artinya, “Tidak boleh memegang Al-Qur’an kecuali orang yang suci (dari hadats),” (HR Al-Hakim).

Keharaman membawa mushaf bagi orang yang berhadats ditetapkan berdasarkan qiyas (analogi) dengan kasus memegang mushaf, dengan pola qiyas aulawi (analogi lebih utama), sebab membawa dinilai lebih parah daripada sekadar memegang, sehingga memiliki hukum yang sama.

Dalam madzhab Syafi’i ditegaskan, keharaman memegang atau membawa mushaf tidak dibedakan antara ada penghalangnya atau tidak. Meski memakai sapu tangan, membawa dan memegang Al-Qur’an bagi wanita yang tengah menstruasi hukumnya haram.

Dalam kondisi darurat dan tidak memungkinkan bersuci, diperbolehkan bagi orang yang berhadats, termasuk wanita haidh untuk membawa mushaf, seperti mushaf dikhawatirkan terbakar, tenggelam, terkena najis atau berada di tangan non-Muslim yang tidak bertanggung jawab. Dalam kondisi tersebut, diperbolehkan membawa mushaf, bahkan hukumnya wajib sebagai upaya penyelamatan terhadap mushaf.

Syekh Khatib Al-Syarbini mengatakan:

نَعَمْ يَجُوزُ حَمْلُهُ لِضَرُورَةٍ كَخَوْفٍ عَلَيْهِ مِنْ غَرَقٍ أَوْ حَرْقٍ أَوْ نَجَاسَةٍ أَوْ وُقُوعِهِ فِي يَدِ كَافِرٍ ، وَلَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ الطَّهَارَةِ ، بَلْ يَجِبُ أَخْذُهُ حِينَئِذٍ كَمَا ذَكَرَهُ فِي التَّحْقِيقِ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ ، فَإِنْ قَدَرَ عَلَى التَّيَمُّمِ وَجَبَ

Artinya, “Benar demikian, namun boleh membawa mushaf karena darurat, seperti khawatir atas mushaf dari tenggelam, terbakar, terkena najis atau di tangan non-Muslim, dan ia tidak memungkinkan bersuci, bahkan wajib mengambilnya dalam kodisi demikian, sebagaimana yang disebutkan Al-Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Tahqiq dan Syarhul Muhadzzab. Bila mampu bertayamum, maka wajib dilakukan,” (Lihat Al-Khathib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz I, halaman 56).

Mencermati referensi di atas, kasus karyawati di atas, belum bisa memenuhi taraf darurat, sebab tidak berkaitan penyelamatan mushaf. Di sisi lain masih ditemukan lapangan pekerjaan tanpa harus melakukan keharaman memegang atau membawa mushaf. Dengan demikian, menurut madzhab Syafii hukumnya adalah haram.

Namun demikian, bukan fiqih kalau tanpa solusi. Dalam kondisi menstruasi dan tuntutan profesi, karyawati bisa mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah yang membolehkan membawa dan memegang mushaf dengan disertai penghalang seperti sapu tangan. Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur mengatakan:

فائدة  قال أبو حنيفة  يجوز حمل المصحف ومسه بحائل

Artinya, “Faidah, Imam Abu Hanifah berkata, boleh membawa dan memegang mushaf dengan penghalang,” (Lihat Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, Bughyatul Mustarsyidin, halaman 51).

Demikianlah penjelasan mengenai hukum memegang dan membawa mushaf bagi karyawati percetakan Al-Qur’an. Simpulannya, ia tetap boleh tetap melanjutkan profesinya, dan saat datang bulan, ia berkewajiban memakai sejenis sapu tangan ketika membawa dan memegang Al-Qur’an dengan mengikuti pendapatnya Imam Abu Hanifah. Wallahu a‘lam.


Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Quran Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
Selasa 5 Maret 2019 21:0 WIB
Imam Hamzah az-Zayyat dan Otentisitas Qira’atnya
Imam Hamzah az-Zayyat dan Otentisitas Qira’atnya
Ilustrasi (Freepik)
Dalam Islam ada adagium yang sangat terkenal yaitu “konsisten dalam beramal lebih baik daripada seribu karamat”. Adagium ini, barangkali, layak disematkan kepada salah satu imam qira’at sab’ah yang terkenal konsisten dalam berkhidmah kepada kalam-Nya, yaitu Imam Hamzah az-Zayyat.

Konsistensi yang dimiliki imam ini tidak hanya soal ibadah saja tapi juga menyangkut prinsip yang tidak bisa ditawar demi ketulusannya meraih ridha dan surga-Nya.

Ketulusan jiwanya meraih ridha dan surga-Nya, ia impelementasikan dalam kehidupan sehari-harinya tanpa pamrih, walau pun kesulitan yang ia dapatkan. Ia tegas menolak setiap pemberian yang diberikan para murid-muridnya kepadanya walaupun itu berbentuk segelas air minum saat dirinya dahaga di tengah-tengah panasnya terik matahari. Begitu mulyanya yang diucapkannya saat menolak pemberian itu “s]Saya tidak menerima pemberian apa pun dari orang yang pernah belajar Al-Qur’an kepadaku, saya hanya berharap ridha dan surga-Nya”.

Biografi Imam Hamzah

Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin Imarah bin Ismail az-Zayyat al-Kufi al-Taymi. Kuniyahnya Abu Imarah. Beliau lebih dikenal dengan panggilan Hamzah az-Zayyat (pedangan minyak), karena membawa minyak dari Urf ke Hulwan di Iraq. Dan membawa keju dan kacang-kacangan dari Hulwan ke Kufah.

Imam zahid ini lahir pada tahun 80 H, dan pada saat memasuki usia lima belas tahun, ia memantapkan hafalan bacaan Al-Qur’annya. 

Dalam salah satu riwayat, beliau “menangi” sahabat saat kecil, kemungkinannya beliau pernah melihat dan menjumpai sebagian mereka, maka dari itu, beliau disebut sebagai tabi’in.

Imam Hamzah adalah salah satu imam qira’at sab’ah yang memiliki predikat “al-Hibr” (tinta) dan syaikh al-Qurra’ di Kufah. Ia menjadi panutan masyarakat Kufah dalam bidang Al-Qur’an setelah wafatnya Ashim dan al-A’masy.

Dalam bidang Al-Qur’an, kepakarannya tidak diragukan, sehingga beliau mendapat predikat prestisius, yaitu tsiqah, hujjah, tegak dalam soal kitab Allah, mahir dalam bidang faraidh, bahasa Arab dan banyak hafal hadis.

Imam Abu Hanifah berkata: “Ada dua hal yang Anda mengungguli kami dan tidak terbantahkan oleh kami, yaitu Al-Qur’an dan ilmu Faraidh.

Perjalanan Intelektualnya

Sejak kecil Imam Hamzah sudah mulai menghafal Al-Qur’an, dan saat menginjak umur lima belas tahun, beliau memantapkan hafalan tersebut, kemudian melakukan pengembaraan berguru kepada beberapa ulama yang ahli dalam bidang Al-Qur’an, salah satunya adalah:

1. Abu Muhammad Sulaiman bin Mahran al-A’masy,
2. Abi Hamzah Hamran bin A’yun 
3. Abu Ishaq Amr bin Abdullah al-Sabi’I 
4. Muhammad bin Abi Laila
5. Thalhah bin Mushrif
6. Abi Abdullah Ja’far al-Shadiq

Semua nama-nama gurunya di atas, transmisi sanadnya bermuara kepada empat sahabat, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Tsabit. Artinya qira’at Hamzah adalah qira’at yang dapat dipertanggung-jawabkan kemutawatiran dan kesahihannya. 

Meskipun demikian, dari guru yang telah disebut di atas, secara kwalitas sanad, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Sanad yang tinggi adalah antara Nabi dan Imam Hamzah melalui tiga jalur, sedangkan sanad yang rendah antara Nabi dan Imam Hamzah empat jalur.

Setelah pengembaraan intelektualnya selesai, Imam Hamzah kemudian membuka majlis pengajian Al-Qur’an untuk masyarakat setempat. Setelah Imam Ashim dan Imam al-A’masy wafat, Imam Hamzah menjadi kiblat dan imam dalam bidang al-Qur’an menggantikan posisi keduanya.

Komentar Ulama kepada Imam Hamzah

Kepakaran Imam Hamzah dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak termasuk gurunya sendiri, yaitu Imam al-A’masy, dan memberinya gelar “al-Hibr”.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Imam al-A’masy jika bertemu dengan Imam Hamzah ia memujinya dan berkata: هذا حبر القرأن ini adalah “hibr” (tinta) Al-Qur’an.

Pada suatu kesempatan yang lain, ketika Imam al-A’masy bertemu dengan Imam Hamzah seraya berucap: “وبشر المحسنين”

Kealimannya telah menumbuhkan sikap yang khusyuk, tunduk, menjadi teladan dalam kejujuran dan wira’I (meninggalkan perkara syubhat apalagi haram), ahli ibadah dan zuhud dunia. 

Sikap-sikap di atas diimplementasikan dalam kehidupannya dengan berupaya menjauhi segala bentuk penberian dan upah dari hasil mengajar Al-Qur’an.

Suatu ketika ada seorang laki-laki dari kalangan orang yang terkenal di Kufah belajar kepada Imam Hamzah. Sebagai ungkapan terima kasih, laki-laki tersebut memberikan sejumlah dirham kepada Imam Hamzah, namun Imam Hamzah menolaknya seraya berkata: “Saya tidak mau mengambil upah dari hasil mengajar Al-Qur’an. Saya hanya berharap surga firdaus.

Imam Jarir bin Abdul Hamid bercerita bahwa ia bertemu dengan Imam Hamzah di saat terik matahari, (cuaca panas menyelimuti siapapun yang melakukan perjalanan), kemudian saya mengambilkan air minum kepadanya untuk diminum agar hilang rasa dahaganya, namun ia menolak, sebab ia tahu bahwa saya pernah belajar Al-Qur’an kepadanya. 

Maka tidak berlebihan jika Muhammad bin Fadhil berkata: “Saya tidak beranggapan bahwa Allah menolak bala’ (bencana) kepada masyarakat Kufah kecuali dengan adanya Hamzah.

Komentar Ulama Atas Qira’at Imam Hamzah

Qira’at hamzah merupakan qira’at yang banyak disorot oleh para ulama, bahkan dalam kitab-kitab turats banyak jumpai komentar-komentar ulama yang bernada negatif, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hambal, Syu’bah bin Ayyasy, Abdullah bin Idris bin Yazid bin Abdurrahman al-Audi, dan Sufyan bin Uyainah.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Saya tidak suka qira’at Hamzah dalam masalah imalah dan hamzah”.

Imam Syu’bah berkata: “Qira’at Hamzah bid’ah”.

Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Andai saya shalat dibelakang orang yang membaca qira’at Hamzah, saya akan mengulang shalat saya”.

Imam Abdullah bin Idris berkata: “Saya tidak berkenan mengatakan orang yang membaca qira’at Hamzah sebagai shahib sunnah”.

Untuk menjawab komentar di atas, ada sebagian ulama yang menulis secara khusus menjawab komentar-komentar di atas, salah satunya adalah (1) al-Sayyid bin Ahmad Abdurrahim dengan karyanya “Radd al-Kalam wa al-Syubhat ‘An Qira’at min al-Mutawatirah fi al-Radd ‘Ala al-Tha’an fi Qira’at al-Imam Hamzah al-Kufi”; (2) Ali bin Muhammad Taufiq al-Nahhas dengan karyanya “Risalah fi al-Radd ‘Ala Man’I Qira’at Hamzah wa al-Kisa’I”.

Apa yang disampaikan oleh Imam Syu’bah tidak bisa diterima, sebab secara teoritis ushul qira’at dan praktek bacaan, antara Imam Syu’bah dengan Imam Hamzah memiliki banyak kesamaan. Bahkan Imam al-Syatibi menggunakan rumus kata (صحبة) sebagai isyarat tiga imam, yaitu Imam Syu’bah, Hamzah dan Ali al-Kisa’I. 

Sementara itu, secara transmisi periwayatan, Imam Hamzah berguru kepada Imam Ashim. Artinya dalam hal ini, antara Hamzah dan Syu’bah satu perguruan. Ini menunjukkan bahwa qira’at Imam Hamzah tidak jauh berbeda dengan bacaan imam-imam qira’at yang lain. Jika ada beberapa perbedaan, itu soal yang lain sebab Imam Hamzah tidak hanya belajar Al-Qur’an dan qira’atnya kepada satu guru. Bukankah antara Syu’bah dengan Hafs juga ada perbedaan meskipun satu guru, Imam Ashim.

Jika bacaan Imam Ashim dapat diterima, kenapa qira’at Imam Hamzah harus ditolak?!. Bagaimana mungkin qira’at Hamzah dilabeli sebagai qira’at bid’ah, sementara ia pemilik gelar shahib sunnah dan banyak ulama yang menerima bacaannya. Bahkan ulama ternama seperti Sufyan al-Tsauri menerima bacaannya.

Sementara apa yang disampaikan oleh Ahmad bin Hambal juga tidak bisa dibenarkan. Sebab antara Imam Hamzah dengan Ahmad bin Hambal memiliki jarak yang terpaut sangat jauh. Imam Hambal baru lahir setelah Imam Hamzah wafat. Ahmad bin Hambal lahir pada tahun 164 H, sementara Imam Hamzah wafat pada tahun 156 H. Keduanya tidak pernah bertemu, dan tidak semasa.

Ini artinya, bisa jadi apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad tidak dimaksudkan bacaan Imam Hamzah sendiri tetapi bacaan orang lain yang membaca qira’at Hamzah secara tidak tepat. Sehingga menimbulkan kesan bahwa Imam Ahmad tidak menyukai qira’at Imam Hamzah. 

Di samping itu, Imam Ahmad memberikan apresiasi kepada Imam Sufyan al-Tsauri, padahal beliau adalah murid Imam Hamzah. 

Imam Ahmad berkata: “Al-Tsauri adalah orang pertama yang berada di hatiku”.

Secara hirarki periwayatan qira’at, Imam al-Tsauri adalah murid Imam Hamzah yang menghatamkan empat kali bahkan dalam sejarah tidak ditemukan bahwa Imam al-Tsauri mengaji kepada selain Hamzah. 

Apa yang disampaikan oleh Ibnu Idris tidak bisa dipahami secara literal, harus dilihat dari kontek dan kasusnya. Sebab ungkapan itu muncul karena ada seorang yang belajar kepada Imam Sulaim, murid Hamzah, hadir di majlisnya Ibnu Idris, kemudian orang tersebut membaca Al-Qur’an di hadapan Ibnu Idris, beliau mendengar bacaan tersebut berlebih-lebihan dalam mad (ukuran panjangnya) dan hamzah yang dipaksakan. Dari sanalah muncul ketidaksukaan Ibnu Idris.

Ibnu al-Jazari berkata: “Adapun apa yang diucapkan oleh Abdullah bin Idris dan Ahmad bin Hambal atas ketidaksukaan keduanya (terhadap bacaan Hamzah), dimaksudkan kepada orang yang mendengar dari Imam Hamzah dan menukil bacaan Imam Hamzah, tidaklah kerusakan kabar itu kecuali dari pembawa kabarnya”.

Imam Thahir bin Ghalbun dengan keras memberikan peringatan kepada orang-orang yang menolak bacaan Imam Hamzah: “ Barang siapa yang menolak bacaan Imam Hamzah, maka sesungguhnya ia menolak bacaan yang mengajarkan bacaan tersebut (guru-gurunya Imam Hamzah) dan kepada Nabi Muhammad Saw,. Cukuplah dengan begitu ia telah melakukan dosa besar dan kebodohan yang nyata. Ungkapan ini bukan dalam rangka menghina ulama yang lain tetapi dalam rangka mempertahankan (kesahihan) qira’at Imam Hamzah.

Di samping perdebatan di atas, Imam Hamzah sendiri telah memberi peringatan kepada siapa saja yang membaca Al-Qur’an harus dengan bacaan yang baik tidak berlebih-lebihan.

Imam Hamzah menyampaikan kepada seseeorang yang membaca kepadanya yang berlebih-lebihan dalam membaca mad dan tahqiq huruf hamzah “jangan lakukan!” tidakkah kamu tahu bahwa di atas putih adalah belang (belang), di atas keriting adalah kribo (sangat kriting), di atas bacaan yang tepat, adalah sebuah bacaan yang tidak benar.

Otentifikasi Qira’at Hamzah

Imam Uqbah mencaritakan ungkapan ayahnya tentang qira’at Imam Hamzah, seraya berkata: “Kami bersama Sufyan al-Tsauri, kemudian Hamzah mendatangi al-Tsauri dan berbincang-bincang dengannya, setelah selesai, Imam Sufyan bertanya kepada kami: “Apakah kalian tahu siapa orang ini? Ia tidak membaca satu huruf pun dari kitab Allah kecuali menggunakan atsar”.

Imam Hamzah menyatakan bahwa qira’atnya semua berasal dari atsar dengan transmisi yang jelas. Ia meneliti atsar-atsar orang-orang yang menjumpai para ulama qira’at terdahulu, hingga kemudian ia menjadi seorang pakar bidang qira’at dan mazhab-mazhabnya.

Imam Aswad bin Salim bertanya kepada Imam Ali al-Kisa’I tentang guru yang menjadi panutan soal bacaan hamzah dan idgham, apakah Anda memiliki guru yang mengajarkan tentang hamzah dan idgham? Beliau menjawab, Ia, yaitu Imam Hamzah yang menjadi rujukan saya, saya membaca (dengan pola) hamzah dan kasrah (imalah), ia adalah salah satu imam kaum muslimin, dan pemimpin para ahli qira’at yang hidup zuhud, kalau Anda melihatnya, jiwaAnda akan terasa tenang, tentram dari aura peribadatannya (ahli ibadah).

Imam al-Dzahabi berkata: “Qira’at Imam Hamzah adalah qira’at yang disekapati para ulama bahkan menjadi ijma’ ulama atas kesahehan dan kemutawatirannya, meskipun qira’a yang lain tergolong bacaan yang afshah (paling fasih), sebab qira’at yang diakui sebagai qira’at yang sah adalah qira’at yang fasih dan afshah. Ia melanjutkan ucapannya bahwa kesahihan dan kemutawatiran qira’at Imam Hamzah dapat dibuktikan dengan persaksian Imam Sufyan al-Tsauri, yang mengatakan “tidaklah Hamzah membaca Al-Qur’an kecuali dengan atsar”.

Imam Hamzah berkata: “Saya membaca Al-Qur’an kepada Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah, kemudian beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang membaca Al-Qur’an lebih bagus darimu”. Kemudian Imam Hamzah menimpali: “Saya tidak berbeda bacaan dengan Anda kecuali dalam sepuluh huruf, meskipun demikian ia masih diperbolehkan dalam bahasa Arab.

Apresiasi yang diberikan oleh Imam Ja’far al-Shadiq ini menunjukkan bahwa qira’at Imam Hamzah tidak keluar dari bacaan yang sahih, sesuai kaidah bahasa Arab dan sesuai Rasm Ustmani. 

Keistimewaan Imam Hamzah

Konsisten membaca Al-Qur’an dan mengulangnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan imam zahid ini. Bahkan Imam al-Syatibi memberi gelar kepadanya dengan sebutan “shaburan” yang tabah dan sabar mengulang hafalannya.

وحمزة ما أزكاه من متورع *** إماما صبورا للقرأن مرتلا 

Imam Hamzah berkata: “Saya membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf, karena saya kuatir penglihatan saya hilang. Ungkapan yang disampaikan oleh sang imam ini tidak lain adalah konsistensinya dalam membaca Al-Qur’an dan lebih mengedepankan sisi ibadah untuk senantiasa menjaga penglihatannya dari hal selain Al-Qur’an. Dalam membaca Al-Qur’an, Hamzah menggunakan mushaf ejaan Abdullah bin al-Zubair.

Selain konsisten dalam membaca Al-Qur’an, Imam Hamzah juga konsisten mendarma-baktikan jiwanya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an, meskipun dalam waktu yang cukup lama dan menguras tenaga. Hal ini disaksikan oleh Abdullah bin Isa, ia berkata: “Imam Hamzah mengajarkan Al-Qur’an kepada para murid-muridnya (dalam jumlah yang banyak) sampai selesai sampai mereka pulang ke tempat mereka masing-masing. Setelah itu, beliau bangkit melaksanakan shalat empat raka’at, shalat antara dhuhur dan ashar dan antara maghrib dan isya’. Sebagian tetangganya bercerita bahwa beliau tidak pernah tidur malam dan mereka mendengar Imam Hamzah mengisi waktu malamnya dengan membaca Al-Qur’an. Ungkapan yang disampaikan oleh Abdullah bin Isa ini menunjukkan bahwa beliau orang yang tulus mendarma-baktikan dirinya untuk kalam Tuhannya. Sementara itu, waktu yang digunakan untuk mengajar adalah pagi sampai waktu dhuhur dan habis ashar hingga maghrib.

Imam Hamzah adalah satu di antara imam qira’at yang memiliki jiwa keikhlasan yang sangat tinggi, ia tidak mau menerima pemberian apapun atas jerih payahnya mengajarkan Al-Qur’an. Hal ini merupakan satu dari keistimewaannya paling terkenal di kalangan murid-muridnya hingga sampai kepada kita.

Imam Khalaf bin Tamim berkata: “Saat ayah saya wafat, ia punya tanggungan. Kemudian saya mendatangi Hamzah untuk disampaikan kepada pemilik hutang. Lalu Imam Hamzah terkejut sambil berkata: “celakalah kamu..!!! Ia adalah orang yang belajar membaca Al-Qur’an kepadaku, sementara saya tidak senang minum dari rumah orang yang belajar kepadaku.

Murid-muridnya

Selain sebagai imam qira’at, Imam Hamzah juga dikenal sebagai pedangang yang jujur. Dalam melaksanakan kedua aktivitasnya, Imam Hamzah membagi waktunya, satu tahun di Hulwan, satu tahun di Kufah. Di sela-selanya berdangang itu mencuri waktu untuk mentransfer imunya kepada para penuntut ilmu. 

Ada banyak yang belajar kepada Imam Hamzah dan tak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah Ibrahim bin Adham, al-Husain bin Ali al-Ju’fi, Sulaim bin Isa, termasuk murid yang paling dhabith, Sufyan al-Tsauri, Ali bin Hamzah al-Kisa’I, termasuk murid senior, Yahya bin Ziyad al-Farra’, Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi.

Setelah mendarma-baktikan seluruh jiwa dan raganya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an tanpa pamrih dan perhitungan, mengantarkannya kepada tempat yang baik di sisi-Nya, beliau wafat pada tahun, 156 di Hulwan pada umur 76 tahun.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; "Radd al-Kalam as-Syubhat 'an Qiraat Mutawatirah" karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Tantha: Darus Shahabah lit Turats, 2006]; Asanid al-Qurra' al-Asyrah wa Ruwwatuhum al-Bararah karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Mesir: al-Jami'ah al-Khairiyah li Tahfidzil Qur'an, 2011])


Baca juga biografi para imam qira’at:
• Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
• Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
• Imam Qalun dan Jalur Ilmu Qira’atnya
• Ibnu Katsir al-Makki, Imam Qira’at dari Generasi Tabi’in
• Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
• Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi
• Biografi Ashim bin Abi al-Najud, Imam Qira’at yang Sangat Kuat Hafalannya

Senin 25 Februari 2019 8:30 WIB
Imam Hafs dan Imam Syu’bah, Dua Perawi Qira’at Imam Ashim
Imam Hafs dan Imam Syu’bah, Dua Perawi Qira’at Imam Ashim
Ilustrasi (via liveofmuslim.com)
Setiap teori akan terus eksis jika generasi penerusnya melanjutkan dan menyebarkan teori tersebut. Pun demikian, setiap manhaj qira’at (metode atau variasi bacaan Al-Qur’an) tertentu akan tetap eksis selamanya jika para generasi penerusnya melanjutkan dan menyebarkan manhaj tersebut. Generasi yang berjasa mengenalkan dan mesyiarkan ke masyarakat luas itu disebut perawi.

Dalam ilmu qira’at, para imam qira’at, seperti Imam Ashim, berposisi sebagai peramu manhaj atau pemilik qira’at yang dihasilkan dari penyeleksian dan dilestarikan sebagai qira’at bacaanya. Sementara perawi dari imam qira’at berposisi sebagai pelanjut manhaj bacaan sang imam dan memperkenalkannya kepada khalayak masyarakat. Sedangkan perawi berikutnya dari perawi pertama berposisi sebagai yang mengembangkan dan melestarikan bacaan sang imam. Perawi dari perawi pertama ini disebut “thariq” atau jalur perawi.

Dalam ilmu qira’at, setiap imam memiliki dua perawi dan setiap perawi memiliki dua thariq atau jalur bacaan. Dalam qira’at Imam Ashim, beliau memiliki dua perawi yaitu: Syu’bah dan Hafs.

1. Syu’bah bin Ayyasy

Nama lengkapnya adalah Syu’bah bin Ayyasy bin Salim al-Hannath al-Nahsyali al-Kufi, nama panggilannya (kuniyah) Abu Bakar. Beliau lahir pada tahun 95 H.

Beliau merupakan imam besar yang Alim, bergelar “hujjah” dan termasuk pembesar Ahlussunnah. Gelar hujjah Ahlussunnah layak disematkan kepadanya, kerena keteguhannya dalam upaya mempertahankan ideologi Ahlussunnah. Beliau berkata: “Barangsiapa yang menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk, maka bagi kami ia adalah kafir zindiq, ia adalah musuh Allah, kita tidak boleh berinteraksi dengannya dan berbicara dengannya.”

Perjalanan Intelektual Imam Syu’bah

Perjalanan intelektual Imam Syu’bah ini diawali dengan menghafal Al-Qur’an, belajar dan menyimakkannya (tasmi’) kepada guru di kampung halamannya, kemudian dilanjutkan pengembaraan intelektualnya dengan belajar kepada satu guru ke guru yang lain, layaknya seorang penuntut ilmu yang haus akan cahaya ilmu. Namun dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya, ia belajar kepada: (1) Ashim bin Abi al-Najud, (2) Atha’ bin al-Saib, (3) Salim al-Munqiri.

Kepada Imam Ashim beliau bermulazamah lama sehingga ia dapat mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari satu kali. Dari Imam Ashim inilah, beliau kemudian menjadi perawi sekaligus murid yang banyak mengisahkan dan meriwayatkan kisah kehidupan sang guru. 

Dalam pengabdian ilmunya, Allah menganugerahkannya umur yang panjang kepadanya,sehingga memberikan peluang kepadanya menabung pundi-pundi amal