IMG-LOGO
Hikmah

Bulu Kemoceng dan Fitnah kepada Sang Kiai

Kamis 14 Maret 2019 16:30 WIB
Share:
Bulu Kemoceng dan Fitnah kepada Sang Kiai
Ilustrasi (freepik)
Suatu ketika seorang santri meminta maaf kepada Kiainya yang telah difitnahnya. Sang Kiai hanya tersenyum.

“Apa kau serius?” tanya Sang Kiai

“Saya serius, Kiai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya,” jawab santri.

Sang Kiai terdiam sejenak. Lalu ia bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng di rumahmu?”

“Ya, saya punya sebuah kemoceng Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Besok pagi, berjalanlah dari kamarmu ke pondokku. Berkelilinglah di lapangan sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui. Kamu akan belajar sesuatu darinya.”

Keesokan harinya, sang santri menemui Kiai dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun pada gagangnya. Ia segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada Sang Kiai.

“Ini, Kiai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu di sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari lima kilo dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Maafkan saya, Kiai.”

Sang Kiai terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah. Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju pondokku. Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang santri berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan.

Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan pesantren ini, atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang santri terus berjalan. Setelah berjam-jam, ia berdiri di depan kamarnya dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya ada lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya sang santri menemui Sang Kiai dengan wajah yang murung sambil menyodorkan lima helai bulu ke hadapan Sang Kiai.

"Kiai, saya mohon maaf. Hanya ini yang berhasil saya temukan.”

"Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata Sang Kiai.

“Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” Tanya santri itu.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Sang Kiai.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yg beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kamu duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kamu hitung!."

"Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri. Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kamu tak bisa menghentikan semua itu!,"

"Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya."

Sang Kiai terdiam sejenak kemudian melanjutkan nasihatnya:

"Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi."

"Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak. Itulah kenapa, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan."

Bayangkan bagaimana kalau bulu-bulu kemoceng itu tersebar di dunia media sosial. Dunia digital yang akan selalu ada meski kita sudah menghapusnya. Maka, setiap kita posting coba di telaah dulu fitnah atau bukan?

Shofwan Alwie Husein. Alumni Pesantren Lirboyo (Disarikan dari Kumpulan Kisah Inspiratif)
Share:
Rabu 13 Maret 2019 11:30 WIB
Kisah Sahabat Ukasyah bin Mihshan yang Menuntut Rasulullah SAW
Kisah Sahabat Ukasyah bin Mihshan yang Menuntut Rasulullah SAW
Semua bermula setelah Surat An-Nashr diturunkan. Surat ini menandai wafat Rasulullah dalam waktu yang tidak lama setelah surat ini diturunkan. Demikian penafsiran Sahabat Ibnu Abbas, pakar tafsir di era sahabat.

إذا جاء نصر الله والفتح (1) ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجا (2) فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا

Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”

Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu dan kamu merasa ridha.”

Rasulullah lantas memerintahkan Bilal agar memanggil orang-orang untuk melaksanakan berkumpul di Masjid. Kaum Muslim segera berdatangan ke Masjid Nabawi, kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar. Dari atas mimbar beliau memuji Allah kemudian menyampaikan khotbah yang membuat hati bergetar dan air mata berderai tangis.

“Wahai manusia. Nabi model apa aku ini bagi kalian?”

Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”

Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.”

Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang berdiri.

Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.”

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihshan.

Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”

Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!”

Sampai di rumah Fathimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.”

Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari perang.”

Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas) kesalahannya.”

Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein, dan jangan membalas Rasulullah.”

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.

Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.”

Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.”

Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.”

Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”

Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”

“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah.

Rasulullah SAW langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka. Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi.

Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi perutnya.

“Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku?”

Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”

Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”

Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat, meninggalkan dunia yang fana ini.

Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia. Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di akhirat.

Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad ballaghtul qishah…


(KH Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta)
Selasa 26 Februari 2019 17:45 WIB
Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas
Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas
Ilustrasi (via bloomberg.com)
Adalah Habib Umar bin Abdul Rahman Al Attas, salah satu cicit Nabi yang begitu menghormati para tamu yang sowan kepadanya. Suatu ketika, datanglah serombongan tamu berniat sowan silaturahim. Seketika, seorang alim yang juga pengarang Ratibul Attas yang masyhur ini pun memanggil salah satu khadimnya, santri pelayan di dalam rumahnya.

"Wahai Fulan, pilihlah kambing terbesar dan terbaik di kandang sana. Kemudian sembelihlah untuk jamuan makan para tamu," tuturnya.

Seraya undur diri, sang khadim pun bergegas menjalankan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Beranjak ke kandang, memilih kambing terbaik, kemudian segera menyembelihnya. 

Namun, nahas menimpanya. Ternyata si kambing gagah nan gemuk itu tak sejinak yang ia bayangkan. Ketika sebilah golok ingin disayatkan di lehernya. Kambing itu berontak menarik-narik tali kekang sekuat tenaga. Akhirnya kambing itu pun mati sia-sia terlilit tali kekang tanpa berhasil disembelih sesuai syari'at. 

Khadim itu pun kemudian mengadu sambil tergugup kepada sang habib. Kemudian empunya Ratibul Attas ini pun sejenak termenung dan menitikan air mata. Kegundahan khadim pun semakin menjadi. Setelah alpa dalam menyembelih kambing terbaik milik gurunya, ia kembali merasa bersalah atas tangisan gurunya. 

Ia kemudian berniat untuk mencarikan ganti kambing terbaik itu. Namun sang guru mencegahnya dan berkata,

"Wahai muridku, tahukah engkau apa yang kusedihkan? Sekali-kali tidaklah aku menangis karena aku kehilangan kambing terbaikku. Aku merenung dan mencoba menerapkannya pada kehidupan kita. Coba engkau pikirkan. Selama ini, kambing terbaik itu terlihat baik-baik saja. Bahkan ia terhitung jinak nan menyenangkan hati dengan makan dan minum sangat lahap. Namun, ternyata Allah menakdirkannya untuk mati dalam keadaan su'ul khatimah, akhir yang buruk. Ia mati menjadi bangkai yang haram dimakan.

Lantas... bagaimana dengan keadaan kita. Kita bisa saja berakhir nahas layaknya kambing itu. Menemui ajal dan berakhir dengan buruk. Maka, tiadalah dzat yang dapat menolong kita kecuali Allah ta'ala. Oleh karenanya, tetplah kamu membiasakan berbuat baik. Hingga suatu ketika, jika engkau sewaktu-waktu dipanggil menuju kehadirat-Nya, mudah-mudahan dalam keadaan husnul khatimah, akhir yang baik." Seketika hening, sedang para murid tertunduk malu.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.

Sabtu 23 Februari 2019 12:0 WIB
Waliyullah Ini Miliki Kebiasaan ‘Nyeker’, Mengapa?
Waliyullah Ini Miliki Kebiasaan ‘Nyeker’, Mengapa?
Ilustrasi (via tygpress.com)
Bisyr adalah seorang ulama sekaligus wali Allah yang masyhur pada masanya. Murid-muridnya datang dari daerah yang berbeda-beda. Seperti layaknya seorang guru, Bisyr-lah yang memimpin segala ritual keagamaan.

Suatu ketika ia sedang mengimami shalat berjamaah. Layaknya amaliah ulama salafus shalih, selesai shalat, Bisyr tak lantas beranjak dari pasujudannya. Ia lantas menyambungnya dengan rapalan dzikir tasbih, tahmid, takdir, dan juga tahlil yang diakhiri dengan doa, sedangkan murid-muridnya mengamini belakangan.

Baca juga: Bisyr al-Hafi, Waliyullah Berjiwa Sosial yang Mantan Berandal
Ketika berniat undur diri setelah ibadah, Bisyr terhenti langkahnya di ambalan masjid. Terompah yang tadi ia pakai berangkat jamaah, telah raib hilang entah ke mana. Ia terpekur sejenak, kemudian linangan air mata membasahi kedua pipinya. 

Duhai, betapa keheranan para muridnya. Seorang guru alim nan bersahaja yang mereka cintai menangis tersedu sedan hanya karena kehilangan alas kaki yang notabenenya perkara duniawi. Dengan terbata, salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya pada sang guru,

"Wahai Syekh, engkau adalah seorang ulama yang terkenal alim nan zuhud di seantero negeri ini. Namun, gerangan apa yang membuat engkau menangisi alas kakimu yang hilang?"

Mendengar pertanyaan muridnya, Bisyr tak lantas menjawab. Ia masih saja diam meratapi sesuatu yang sungguh berbeda dengan apa yang dilihat oleh muridnya. Sembari menghela napas ia berkata,

"Muridku, tangisanku sama sekali menyesali sandalku yang hilang. Melainkan aku menyesalkan akan diriku sendiri. Ya, tahukah engkau muridku, sesungguhnya aku sangat menyesal mengapa diriku membawa alas kaki yang menarik pandangan mata orang lain. Sehingga orang tersebut memberanikan diri maksiat kepada Allah dengan mencuri. Oh, aku begitu menyesal. Oleh sebabku, ia berani mendurhakai Allah subhanahu wata'ala."

Sontak seluruh muridnya pun tertunduk malu. Ternyata pandangan luaran semata telah mengaburkan sifat takzim, hormat kepada guru. Akhirnya setelah kejadian itu, Bisyr pun tak berani lagi memakai alas kaki. Hingga di kalangan penduduknya ia pun diberi gelar al-hafi, orang yang tidak memakai alas kaki (nyeker). 

Seperti itulah akhlak dari salafus salih, ulama terdahulu nan alim dan rajin beribadah. Mereka begitu pandai memalingkan nafsu amarah kepada pandangan penuh hikmah ilahiyah. Mereka tak mudah untuk marah dan menyalahkan keadaan. Sebaliknya mereka justru mensyukuri segala sesuatu yang terjadi sebagai takdir terindah utuk diambil hikmah, sari pati pelajaran kebijaksanaan.

(Ulin Nuha Karim)


Dikisahkan oleh KH Muhammad Shofi Al Mubarok Baidlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.