IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya

Ahad 17 Maret 2019 21:30 WIB
Share:
Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Sayyidah Khadijah adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah begitu terhormat, terpandang, terkenal di kalangan masyarakat Arab. Meski sudah pernah menikah dua kali –suami pertama adalah Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin Makhzum. Keduanya wafat- dan melahirkan empat orang anak, namun banyak pria yang berminat untuk mempersuntingnya. 

Di sisi lain, pada saat itu Nabi Muhammad saw. adalah ‘mitra kerja’ Sayyidah Khadijah. Beliau menjajakan barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ke beberapa negeri di luar Makkah. Keuntungannya dibagi dua. Meski tidak kaya-kaya amat, Muhammad muda adalah seorang dengan reputasi baik. Beliau begitu dihormati karena kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al-Amin (terpercaya). Di samping itu, Nabi Muhammad memiliki wajah yang tampan sehingga banyak wanita yang kepincut dengannya.

Setelah menjalin hubungan kerja dengan Nabi Muhammad beberapa saat, Sayyidah Khadijah menjadi tertarik dengan mitranya itu. Ia bahkan meminta salah satu sahabatnya Nafisah binti Munyah untuk meminang Nabi Muhammad saw. untuk dirinya. Nafisah lantas menemui Nabi Muhammad saw. dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Singkat cerata, Sayyidah Khadijah dan Nabi Muhammad saw. akhirnya menikah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa pada saat itu Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun sementara Nabi Muhammad saw. 25 tahun. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada saat menikah usia Sayyidah Khadijah adalah 35 tahun, sedangkan Nabi Muhammad saw. 30 tahun. Bahkan riwayat tanpa sanad Ibnu Ishaq menyebut kalau Sayyidah Khadijah ketika itu berusia 28 tahun.

Terlepas dari itu semua, Sayyidah Khadijah adalah istri pertama yang dinikahi Nabi Muhammad saw. Mereka berdua mengarungi biduk rumah tangga sekitar 25 tahun hingga akhirnya Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Selama itu pula, Nabi Muhammad saw. tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa alasan atau motivasi Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya? Mengapa Sayyidah Khadijah melabuhkan hatinya kepada seorang pemuda yang jarak usia keduanya cukup jauh? Bukankan banyak pemuka Makkah yang berminta dan siap menjadi pendamping hidupnya?

Sebagaimana keterangan dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya karena dia menilai bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia yang sempurna kepribadiannya, baik sifat lahir maupun sifat batinnya. Bukan karena penampilannya secara sepintas. 

Sayyidah Khadijah memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Hal itu lah yang membuat Sayyidah Khadijah yakin bahwa kebagaian rumah tangga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya materi seseorang, namun ditentukan oleh kepribadian yang luhur, asal usul yang bersih, serta kematangan dalam perpikir dan bertindak. Dan sosok itu ada pada Nabi Muhammad saw. Terlepas dari itu semua, tentu hal itu sudah digariskan Allah di Lauh Mahfudz. Wallahu A’lam. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Sabtu 16 Maret 2019 20:0 WIB
Solusi Nabi Muhammad untuk Mengatasi Terorisme
Solusi Nabi Muhammad untuk Mengatasi Terorisme
Pangkal dari terorisme diantaranya adalah karena ketidakadilan, kebencian yang mendalam kepada liyan, dan pemahaman terhadap sesuatu hal secara ekstrem. Aksi terorisme dan kekerasan tidak hanya terjadi baru-baru ini saja, namun itu juga ada di sepanjang sejarah umat manusia. Termasuk pada zaman Nabi Muhammad saw. 

Salah satu bukti aksi terorisme juga terjadi pada era Nabi Muhammad saw. adalah pengakuan Ja’far bin Abi Thalib ketika hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Kepada Raja Najasyi, Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan keadaan masyarakat musyrik Makkah yang tidak segan menumpahkan darah dan penuh dengan aksi kekerasan. 

“Wahai raja, kami adalah kaum yang melakukan kemusyrikan, kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat jahat kepada tetangga, menghalalkan yang haram antar sesama kami seperti menumpahkan darah, dan yang lainnya,” kata Ja’far sebagaimana terekam dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyyah (Ibnu Hisyam).

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu seolah menjadi titik terang untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghormati serta menghapuskan kehidupan masyarakat yang penuh teror dan kekerasan. Sebagaimana dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), dengan membawa risalah Islam, Nabi Muhammad saw. menawarkan setidaknya tiga hal untuk mengatasi atau menghilangkan aksi-aksi terorisme yang mendera suatu masyarakat. 

Pertama, menyebarkan ruh kasih sayang dan keadilan tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan gender. Nabi Muhammad saw. selalu menekankan kepada para sahabatnya untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim. Juga mencurahkan kasih sayang kepada sesama meskipun dia beda.

Alkisah, suatu ketika ada sekelompok Yahudi yang datang kepada Nabi Muhammad saw. Ketika sampai di depan bilik Nabi Muhammad saw., mereka lantas mengucapkan Assamu ‘alaikum (semoga kematian untuk kalian). Iya, mereka mendoakan yang jelek untuk Nabi Muhammad saw. Sayyidah Aisyah yang saat itu tengah bersama Nabi Muhammad saw. tidak terima dengan salam laknat yang disampaikan sekelompok Yahudi itu. 

“Dan bagi kalian kematian dan laknat,” timpal Sayyidah Aisyah. 

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad saw. langsung menegur Sayyidah Aisyah. Ia meminta agar istrinya itu menjauhi berkata kotor dan kekerasan, meski didoakan yang tidak baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan Sayyidah Aisyah bahwa Allah mencintai berbelas kasih dalam segala perkara.

Kedua, mengasihi mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Nabi Muhammad saw. tidak lantas menghukum mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Bahkan sebaliknya, Nabi Muhammad saw. memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Nabi Muhammad saw. sadar bahwa perlakuan kasih sayang kepada mereka yang tidak tahu dan berbuat salah akan membuatnya lunak. Sebaliknya, jika seandainya dikerasin maka bisa saja mereka nantinya akan balas dendam dan berbuat kekerasan.

Terkait hal ini, ada sebuah kisah menarik. Pada saat itu, Nabi Muhammad dan sebagian sahabatnya sedang duduk-duduk di dalam masjid. Tiba-tiba datang seorang badui. Dia masuk ke dalam masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat yang melihat kelakuan badui itu geram dan berniat untuk menghentikannya. Namun Nabi Muhammad saw. mencegahnya. Dia malah menyuruh para sahabatnya untuk membiarkan badui itu hingga selesai kencing.

“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak layak untuk (dijadikan tempat) kencing dan kotoran. Ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an,” kata Nabi Muhammad saw. dengan lembut kepada badui itu setelah dia menyelesaikan hajatnya. Nabi Muhammad saw. kemudian meminta para sahabatnya untuk mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat yang dikencingi badui itu.   

Ketiga, mengedepankan nilai-nilai moderat atau tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan kalau sebaik-baiknya suatu perkara adalah yang tengah-tengah. Tidak terlalu ekstrim ke kanan. Juga tidak terlalu ekstrim ke kiri. Begitu pun dalam memahami agama ataupun hal lainnya.

Karena jika seseorang sudah pada level berlebih-lebihan dalam suatu hal, maka dia menganggap kalau kebenaran hanya ada pada dirinya dan kelompoknya. Dia cenderung akan memaksakan kehendaknya kepada orang yang berbeda pendapat dan dapat menuntun kepada kekerasan. Berlebih-lebihan dalam memahami atau menganut suatu hal juga sangat berpotensi untuk menihilkan yang lain. Mereka menganggap bahwa mereka yang berbeda dengan diri dan kelompoknya adalah sebuah ancaman. Oleh karenanya harus dilenyapkan.

Begitu lah solusi Nabi Muhammad saw. untuk mengatasi masalah terorisme dan kekerasan.  Beliau selalu menenkankan untuk mencurahkan kasih sayang, menegakkan keadilan, dan bersikap moderat atau tidak berlebih-lebihan dalam hal apapun dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Kalau seandainya nilai-nilai itu sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menyasar siapapun, maka tidak akan ada lagi aksi-aksi terorisme dan radikalisme. (Muchlishon)
Jumat 22 Februari 2019 6:0 WIB
Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad
Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad
“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua lelaki ini, Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattab,” doa Nabi Muhammad saw. untuk Abu Jahal dan Umar bin Khattab.

Abu Jahal atau Amr bin Hisyam adalah salah satu elit Quraisy yang sangat memusuhi dakwah Islam yang diemban Nabi Muhammad saw. Dia dikenal sebagai pribadi yang kejam, bengis, dan tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Karena sikapnya yang seperti itu lah, Abu Jahal dijuluki sebagai Fir’aun pada zaman Nabi Muhammad saw. Salah satu sahabat yang merasakan tangan dingin Abu Jahal adalah Sumayyah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang gugur setelah mendapatkan siksaan dari Abu Jahal.

Berbagai macam cara dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari mengintimidasi umat Islam hingga mengancam Nabi Muhammad saw. secara terang-terangan. Bahkan, suatu ketika Abu Jahal pernah melarang Nabi Muhammad saw. untuk mengerjakan shalat. Namun, Rasulullah tidak gentar dengan gertakan Abu Jahal tersebut. 

Abu Jahal juga adalah orang yang menyulut terjadinya perang Badar. Pada saat itu, pasukan kaum musyrik Quraisy ‘terbelah’. Sebagian mereka ingin terus berperang melawan umat Islam. Sebagian lain menganggap kalau perang itu tidak perlu terjadi karena sudah tidak ada urgensinya lagi. Semula tujuan awal mereka adalah mengamankan kafilah dagang Abu Sufyan. Karena kafilah Abu Sufyan sudah sampai Makkah dengan selamat, maka mereka menganggap kalau perang itu tidak ada urgensinya lagi.

Akan tetapi, Abu Jahal dan elit lainnya mengobarkan semangat tempur pasukan kaum muysrik Quraisy. Kata mereka, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberi pelajaran bagi kaum Muslim yang telah menginjak harga diri dan mencaci maki tuhan mereka. Singkat cerita, lalu meletuslah perang Badar yang kemudian dimenangkan oleh pasukan umat Islam. 

Meski demikian, merujuk buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), pada awal-awal turunnya Al-Qur’an Abu Jahal kerap kali menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Abu Jahal merasakan sebuah keajaiban manakala mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan Nabi Muhammad saw. 

Menariknya, Abu Jahal tidak sendirian ketika menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan Al-Qur'an. Ada Abu Sufan dan al-Akhnas juga. Meski mereka tidak janjian, namun mereka kerap saling kepergok satu sama lain. Dikabarkan kalau kejadian Abu Jahal menyusup rumah Nabi Muhammad saw. berlangsung selama tiga malam berturut-turut. Seolah mereka ketagihan dengan bacaan Al-Qur’an. Meski demikian, hal itu tidak sampai membuat Abu Jahal masuk Islam.

Abu Jahal juga pernah memberikan kesaksian tentang kebenaran dan kejujuran Nabi Muhammad saw. Sebagaimana keterangan dalam buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), al-Miswar bin Makhramah pernah bertanya kepada pamannya, Abu Jahal, perihal sosok Nabi Muhammad saw. Kata Abu Jahal, Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang sangat jujur, tidak pernah berbohong, sehingga dia diberi julukan al-Amin (yang terpercaya). Lalu al-Miswar bertanya lagi mengapa Abu Jahal tidak mau mengikuti Nabi Muhammad saw.

“Wahai anak saudariku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kehormatan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberikan minum, kami pun memberikan minum. Mereka membayar orang untuk bekerja, kami pun sama,” jawab Abu Jahal. 

“Sehingga ketika kami duduk di atas kendaraan kami (karena kami bermusuhan), kami seperti dua ekor kuda taruhan, maka mereka berkata, ‘Di antara kami ada seorang nabi’. Maka kapan kah kami mendapatkan hal tersebut?” lanjutnya.

Hal yang sama juga ditanyakan al-Akhnas bin Syuraiq pada hari perang Badar. Pada waktu itu, al-Akhnas meminta Abu Jahal untuk berkomentar tentang Nabi Muhammad saw. dengan sejujur-jujurnya. Lagi-lagi, Abu Jahal menjawab kalau Nabi Muhammad saw. adalah seorang jujur dan tidak pernah berbohong satu kali pun. 

“Akan tetapi, jika Bani Qushay sudah memegang bendera, menjaga Ka’bah, memberi minum orang haji, dan memiliki kenabian, maka apa lagi yang tersisa untuk Quraisy yang lainnya?” kata Abu Jahal. 

Sikap permusuhan dan pertentangan yang ditunjukkan Abu Jahal bukan karena keyakinan kalau Nabi Muhammad saw. berdusta dan hanya mengaku-aku saja sebagai nabi dan rasul Allah. Akan tetapi, sikapnya itu lebih didasarkan kepada fanatisme golongan. Tidak rela kalau Bani Qushay menguasai segalanya. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 20 Februari 2019 6:0 WIB
Saat Wahyu Terhenti Beberapa Lama
Saat Wahyu Terhenti Beberapa Lama
Menurut riwayat yang masyhur, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu yang pertama –Surat al-‘Alaq ayat satu sampai lima- dari malaikat Jibril pada malam ke-17 Ramadhan atau bertepatan dengan 6 Agustus 610 M di Gua Hira. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad saw. langsung pulang ke rumah dengan keadaan takut dan gemetaran. Beliau langsung meminta Sayyidah Khadijah –istrinya- untuk menyelimutinya ketika tiba di rumah. Nabi Muhammad saw. menceritakan semua pengalamannya di Gua Hira kepada sang istri. Perjumpaannya dengan seseorang laki-laki (malaikat Jibril) yang memaksanya untuk membaca (iqra’)

Sayyidah Khadijah berusaha untuk menenangkan dan membesarkan hati suaminya.  Kemudian Sayyidah Khadijah mengajak Nabi Muhammad saw. untuk bertemu dengan anak pamannya, Waraqah bin Naufal. Waraqah adalah seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Bibel dan sudah menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. 

Setelah mendengar cerita dari Nabi Muhammad saw., Waraqah yakin bahwa suami Sayyidah Khadijah itu adalah benar-benar seorang nabi yang diutus Allah bagi umat ini. Waraqah membeberkan kalau lelaki yang datang kepada Nabi Muhammad saw. di Gua Hira adalah an-Namus (Jibril), sama seperti yang datang kepada Musa dulu. Waraqah juga memperingatkan kalau nantinya Nabi Muhammad saw. akan didustakan, diganggu, diusir, dan diperangi oleh kaumnya sendiri. 

“Kalau aku mencapai masa itu, usiaku panjang, niscaya aku akan membelamu (Nabi Muhammad saw.) dengan pembelaan yang kuat,” kata Waraqah. Meski demikian, di dalam hati Nabi Muhammad saw. masih keragu-raguan. Sayyidah Khadijah keukeuh meyakinkan suaminya bahwa yang datang di Gua Hira itu adalah malaikat, bukan setan. 

Setelah wahyu pertama turun, malaikat Jibril tidak turun-turun lagi menemui Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan wahyu. Jadi, ada masa jeda beberapa saat antara turunnya wahyu yang pertama dengan wahyu yang selanjutnya. Ada yang berpendapat terkait hal ini; ada yang berpendapat kalau wahyu terhenti selama tiga tahun, dua setengah tahun, enam bulan, dan ada yang menyatakan wahyu terhenti hanya tiga hari saja. 

Sesuai dengan buku Membaca Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), selama penantian itu Nabi Muhammad saw. tetap merasa takut dan bimbang, setelah bertemu dengan malaikat Jibril dan menerima wahyu yang pertama. Menurut Quraish Shihab, wahyu memang pernah terhenti turun kepada Nabi Muhammad saw., namun itu tidak dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya pun untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti Nabi Muhamamd saw. ketika menerima wahyu pertama dan juga untuk menimbulkan kerinduan akan hadirnya wahyu yang kedua.

Quraish Shihab ‘tidak sependapat’ dengan satu hadits riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. sangat sedih ketika wahyu terhenti sehingga membuatnya berniat untuk bunuh diri. Setidaknya ada dua alasan ‘ketidaksepakatan’ yang dikemukakan Quraish Shihab atas hadits tersebut. Pertama, dalam riwayat hadits tersebut seolah-olah masa terhentinya wahyu lama sekali. Padahal ada riwayat yang menyebutkan kalau wahyu terhenti hanya beberapa hari saja. 

Kedua, Imam Bukhari tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan informasi dalam hadist tersebut. Sepanjang informasi itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad saw. langsung, meskipun dari sahabat, maka informasinya wajar saja kalau diragukan. Karena bagaimanapun niatan bunuh diri hanya diketahui oleh yang bersangkutan. Dan bagaimana mungkin seorang Nabi Muhammad saw. yang memiliki kepribadian utuh dan kuat hendak melakukan hal semacam itu?

Sementara merujuk buku Sejarah Hidup Muhammad (Muhammad Husain Haekal, 2015), pada saat wahyu terhenti turun Nabi Muhammad saw. merasa terasing dari orang-orang. Beliau juga merasa ketakutan, sama seperti sebelum turunnya wahyu. Terlebih Nabi Muhammad saw. juga merasa kalau dirinya ditinggalkan Allah sesudah dipilih-Nya. 

Begitu pun keterangan dalam buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), pada saat terhentinya wahyu tersebut Nabi Muhammad saw. kaget dan bingung. Bahkan terdiam dalam keadaan sedih. Namun demikian, ketakutan, keraguan, kecemasan, dan kesedihan Nabi Muhammad saw. sirna manakala turun wahyu yang kedua. Terkait wahyu yang kedua, para ulama juga berbeda pendapat. Ada yang berpendapat kalau wahyu kedua adalah QS al-Mudatsir 1-5. Dan ada juga yang menyatakan kalau wahyu kedua adalah awal Surat al-Qalam. Waallahu ‘Alam. (A Muchlishon Rochmat)