IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia

Selasa 19 Maret 2019 7:30 WIB
Share:
Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia
(Foto: @getlosttravelmagazine)
Berhala atau patung memiliki stigma dalam Islam. Pasalnya pada masa-masa sebelum Islam datang, berhala atau patung menjadi sesembahan. Maka dari itu, pada masa Fathu Makkah, benda yang pertama kali dihancurkan adalah berhala agar tidak dijadikan lagi menjadi sesembahan.

Selanjutnya, Rasulullah SAW pun melarang Muslim untuk menyimpan berhala di rumahnya. Hal ini tidak lain tidak bukan adalah bentuk preventif Rasul agar berhala itu tidak dijadikan sesembahan. Para ulama memaknai jika patung di dalam rumah tidak untuk disembah maka diperbolehkan (mubah).

Lalu sejak kapan patung atau berhala menjadi sesembahan dalam sejarah Arab?

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dijelaskan bahwa berhala menjadi sesembahan pertama kali adalah pada masa Nabi Nuh AS. Pada masa itu, kaum Nabi Nuh telah memiliki berhala. Bahkan berhala tersebut telah tersebar di kalangan orang Arab yang dipusatkan di setiap kaum.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA bahwanya, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa 'Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa' untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya'uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala'. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah," (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahihul Bukhari, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H), juz XII, halaman 261).

Hadits ini sedikitnya telah membukakan informasi kepada kita terkait kapan berhala-berhala itu ada. Hal ini diperkuat dengan pendapat Al-Faqihi yang menyebutkan bahwa berhala pertama kali dibuat pada masa Nabi Nuh As.

Al-Faqihi sebagaimana dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Durarul Mantsur menyebutkan bahwa pada masa itu seorang anak yang rindu kepada orang tuanya yang meninggal mulai membuat patung-patung yang mirip dengan wajah orang tuanya.

Patung-patung tersebut dibuat karena anak dan keluarganya tidak mampu memupuk sifat sabar saat ditinggal mati oleh ayahnya. Ketika rindu, anak-anak tersebut memandangi patung-patung yang mirip orang tuanya tersebut hingga keturunan itu meninggal.

Peristiwa seperti ini berlangsung secara turun-temurun hingga anak cucunya menganggap bahwa patung-patung itu disembah sebagai Tuhan, (Lihat As-Suyūṭī, Ad-Durarul Mantsur, [Beirut, Dārul Fikr, tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 269). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits)
Share:
Selasa 19 Maret 2019 6:0 WIB
Tanggal Lahir Nabi Muhammad
Tanggal Lahir Nabi Muhammad
“Hari itu (Senin) adalah hari kelahiranku," jawab Nabi Muhammad saw. ketika ditanya seorang sahabat mengapa dirinya berpuasa pada hari Senin.

Ada beberapa riwayat dan pendapat perihal kapan Nabi Muhammad saw. dilahirkan. Riwayat yang paling masyhur menyebutkan kalau Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada Tahun Gajah. Tahun dimana Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya menyerang Ka’bah. Namun, kapan persisnya Nabi Muhammad lahir masih menjadi perbedaan.

Di kalangan umat Islam, riwayat yang paling populer menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal atau bertepatan dengan 29 Agustus 580 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas: “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal 12 di malam yang tenang pada bulan Rabi'ul Awwal, Tahun Gajah.” 

Di dalam kitabnya al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirah al-Rasul (1993), Imam Izuddin bin Badruddin al-Kinani menyatakan bahwa pendapat ini adalah shahih. Pendapat itu juga dikuatkan dengan riwayat Qays bin Makhramah, meski tidak disebutkan secara detil berapa tanggalnya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi, Qays bin Makhramah mengatakan kalau dirinya dan Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada tahun yang sama, yaitu Tahun Gajah.

Sementara sejarawan al-Mas’udi, sebagaimana dikutip dari buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), berpendapat kalau Nabi Muhammad saw. lahir pada 8 Rabi’ul Awwal, atau empat hari lebih awal dari pendapat yang populer selama ini. Al-Mas’udi mencocokkan tanggal itu dengan kehadiran pasukan bergajah Raja Abrahah. 

Menurutnya, Nabi Muhammad saw. lahir 50 hari setelah pasukan bergajah datang. Sementara, masih menurut Al-Mas’udi, kehadiran pasukan bergajah terjadi pada hari Senin, 13 Muharram dan mendekati tanggal 17 Muharram. Dari situ, Al-Mas’udi menyimpulkan bahwa tanggal lahir Nabi Muhammad saw. itu 8 Rabi’ul Awwal, bukan tanggal 12.

Pakar ilmu falak asal Mesir, Mahmud al-Falaki al-Mashry, memiliki pendapat yang berbeda. Mahmud menyebut kalau tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah 9 Rabi’ul Awwal tahun 571 Masehi atau hari ke-55 setelah tentara gajah Raja Abrahah mengalami kekalahan. 

Di samping ketiga pendapat di atas, ada beberapa pendapat yang menyebutkan kalau Nabi Muhammad saw. lahir pada bulan Rajab, Ramadhan, atau Muharram.  Dalam sebuah riwayat, ‘Uqbah bin Mukarram mengekukakan bahwa hari lahir Nabi Muhammad saw. adalah hari Senin tanggal 12 Ramadhan. Akan tetapi, riwayat ini dinilai sebagai hadits saqith (hadits gugur) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pedoman.

Begitupun pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan jauh sebelum Raja Abrahah menyerang Ka’bah, atau sekitar 15 tahun sebelum Tahun Gajah juga sangat lemah. Bahkan, Imam al-Dzahabi dengan keras menilai kalau riwayat itu –Nabi Muhammad saw. lahir 15 tahun sebelum Tahun Gajah- sebagai sebuah kebohongan.

Itulah beberapa perbedaan pendapat terkait dengan tanggal lahir Nabi Muhammad saw. Perbedaan itu bukan hanya pada tanggalnya, namun juga tahun. Bahkan antara satu pendapat dengan satu pendapat lainnya bedanya sampai sepuluh tahun lebih. Namun yang pasti, mayoritas umat Islam di seluruh dunia memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. pada 12 Rabi’ul Awwal. Waallahu ‘Alam. (Muchlishon)
Ahad 17 Maret 2019 21:30 WIB
Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Sayyidah Khadijah adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah begitu terhormat, terpandang, terkenal di kalangan masyarakat Arab. Meski sudah pernah menikah dua kali –suami pertama adalah Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin Makhzum. Keduanya wafat- dan melahirkan empat orang anak, namun banyak pria yang berminat untuk mempersuntingnya. 

Di sisi lain, pada saat itu Nabi Muhammad saw. adalah ‘mitra kerja’ Sayyidah Khadijah. Beliau menjajakan barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ke beberapa negeri di luar Makkah. Keuntungannya dibagi dua. Meski tidak kaya-kaya amat, Muhammad muda adalah seorang dengan reputasi baik. Beliau begitu dihormati karena kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al-Amin (terpercaya). Di samping itu, Nabi Muhammad memiliki wajah yang tampan sehingga banyak wanita yang kepincut dengannya.

Setelah menjalin hubungan kerja dengan Nabi Muhammad beberapa saat, Sayyidah Khadijah menjadi tertarik dengan mitranya itu. Ia bahkan meminta salah satu sahabatnya Nafisah binti Munyah untuk meminang Nabi Muhammad saw. untuk dirinya. Nafisah lantas menemui Nabi Muhammad saw. dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Singkat cerata, Sayyidah Khadijah dan Nabi Muhammad saw. akhirnya menikah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa pada saat itu Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun sementara Nabi Muhammad saw. 25 tahun. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada saat menikah usia Sayyidah Khadijah adalah 35 tahun, sedangkan Nabi Muhammad saw. 30 tahun. Bahkan riwayat tanpa sanad Ibnu Ishaq menyebut kalau Sayyidah Khadijah ketika itu berusia 28 tahun.

Terlepas dari itu semua, Sayyidah Khadijah adalah istri pertama yang dinikahi Nabi Muhammad saw. Mereka berdua mengarungi biduk rumah tangga sekitar 25 tahun hingga akhirnya Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Selama itu pula, Nabi Muhammad saw. tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa alasan atau motivasi Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya? Mengapa Sayyidah Khadijah melabuhkan hatinya kepada seorang pemuda yang jarak usia keduanya cukup jauh? Bukankan banyak pemuka Makkah yang berminta dan siap menjadi pendamping hidupnya?

Sebagaimana keterangan dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya karena dia menilai bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia yang sempurna kepribadiannya, baik sifat lahir maupun sifat batinnya. Bukan karena penampilannya secara sepintas. 

Sayyidah Khadijah memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Hal itu lah yang membuat Sayyidah Khadijah yakin bahwa kebagaian rumah tangga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya materi seseorang, namun ditentukan oleh kepribadian yang luhur, asal usul yang bersih, serta kematangan dalam perpikir dan bertindak. Dan sosok itu ada pada Nabi Muhammad saw. Terlepas dari itu semua, tentu hal itu sudah digariskan Allah di Lauh Mahfudz. Wallahu A’lam. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 16 Maret 2019 20:0 WIB
Solusi Nabi Muhammad untuk Mengatasi Terorisme
Solusi Nabi Muhammad untuk Mengatasi Terorisme
Pangkal dari terorisme diantaranya adalah karena ketidakadilan, kebencian yang mendalam kepada liyan, dan pemahaman terhadap sesuatu hal secara ekstrem. Aksi terorisme dan kekerasan tidak hanya terjadi baru-baru ini saja, namun itu juga ada di sepanjang sejarah umat manusia. Termasuk pada zaman Nabi Muhammad saw. 

Salah satu bukti aksi terorisme juga terjadi pada era Nabi Muhammad saw. adalah pengakuan Ja’far bin Abi Thalib ketika hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Kepada Raja Najasyi, Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan keadaan masyarakat musyrik Makkah yang tidak segan menumpahkan darah dan penuh dengan aksi kekerasan. 

“Wahai raja, kami adalah kaum yang melakukan kemusyrikan, kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat jahat kepada tetangga, menghalalkan yang haram antar sesama kami seperti menumpahkan darah, dan yang lainnya,” kata Ja’far sebagaimana terekam dalam kitab As-Sirah An-Nabawiyyah (Ibnu Hisyam).

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di tengah-tengah masyarakat yang seperti itu seolah menjadi titik terang untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghormati serta menghapuskan kehidupan masyarakat yang penuh teror dan kekerasan. Sebagaimana dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), dengan membawa risalah Islam, Nabi Muhammad saw. menawarkan setidaknya tiga hal untuk mengatasi atau menghilangkan aksi-aksi terorisme yang mendera suatu masyarakat. 

Pertama, menyebarkan ruh kasih sayang dan keadilan tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan gender. Nabi Muhammad saw. selalu menekankan kepada para sahabatnya untuk berlaku adil kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim. Juga mencurahkan kasih sayang kepada sesama meskipun dia beda.

Alkisah, suatu ketika ada sekelompok Yahudi yang datang kepada Nabi Muhammad saw. Ketika sampai di depan bilik Nabi Muhammad saw., mereka lantas mengucapkan Assamu ‘alaikum (semoga kematian untuk kalian). Iya, mereka mendoakan yang jelek untuk Nabi Muhammad saw. Sayyidah Aisyah yang saat itu tengah bersama Nabi Muhammad saw. tidak terima dengan salam laknat yang disampaikan sekelompok Yahudi itu. 

“Dan bagi kalian kematian dan laknat,” timpal Sayyidah Aisyah. 

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad saw. langsung menegur Sayyidah Aisyah. Ia meminta agar istrinya itu menjauhi berkata kotor dan kekerasan, meski didoakan yang tidak baik. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan Sayyidah Aisyah bahwa Allah mencintai berbelas kasih dalam segala perkara.

Kedua, mengasihi mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Nabi Muhammad saw. tidak lantas menghukum mereka yang tidak tahu dan berbuat salah. Bahkan sebaliknya, Nabi Muhammad saw. memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Nabi Muhammad saw. sadar bahwa perlakuan kasih sayang kepada mereka yang tidak tahu dan berbuat salah akan membuatnya lunak. Sebaliknya, jika seandainya dikerasin maka bisa saja mereka nantinya akan balas dendam dan berbuat kekerasan.

Terkait hal ini, ada sebuah kisah menarik. Pada saat itu, Nabi Muhammad dan sebagian sahabatnya sedang duduk-duduk di dalam masjid. Tiba-tiba datang seorang badui. Dia masuk ke dalam masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat yang melihat kelakuan badui itu geram dan berniat untuk menghentikannya. Namun Nabi Muhammad saw. mencegahnya. Dia malah menyuruh para sahabatnya untuk membiarkan badui itu hingga selesai kencing.

“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak layak untuk (dijadikan tempat) kencing dan kotoran. Ia hanya untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an,” kata Nabi Muhammad saw. dengan lembut kepada badui itu setelah dia menyelesaikan hajatnya. Nabi Muhammad saw. kemudian meminta para sahabatnya untuk mengambil seember air dan menyiramkannya ke tempat yang dikencingi badui itu.   

Ketiga, mengedepankan nilai-nilai moderat atau tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw. pernah mengatakan kalau sebaik-baiknya suatu perkara adalah yang tengah-tengah. Tidak terlalu ekstrim ke kanan. Juga tidak terlalu ekstrim ke kiri. Begitu pun dalam memahami agama ataupun hal lainnya.

Karena jika seseorang sudah pada level berlebih-lebihan dalam suatu hal, maka dia menganggap kalau kebenaran hanya ada pada dirinya dan kelompoknya. Dia cenderung akan memaksakan kehendaknya kepada orang yang berbeda pendapat dan dapat menuntun kepada kekerasan. Berlebih-lebihan dalam memahami atau menganut suatu hal juga sangat berpotensi untuk menihilkan yang lain. Mereka menganggap bahwa mereka yang berbeda dengan diri dan kelompoknya adalah sebuah ancaman. Oleh karenanya harus dilenyapkan.

Begitu lah solusi Nabi Muhammad saw. untuk mengatasi masalah terorisme dan kekerasan.  Beliau selalu menenkankan untuk mencurahkan kasih sayang, menegakkan keadilan, dan bersikap moderat atau tidak berlebih-lebihan dalam hal apapun dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis dan damai. Kalau seandainya nilai-nilai itu sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia dan menyasar siapapun, maka tidak akan ada lagi aksi-aksi terorisme dan radikalisme. (Muchlishon)