IMG-LOGO
Hikmah

Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha’

Selasa 19 Maret 2019 12:0 WIB
Share:
Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha’
KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha'. Ilustrasi Aceng Denta/NU Online
KH Bahauddin Nur Salim asal Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah merupakan salah satu ulama muda yang sering melontarkan pandangan-pandangan segar tentang keislaman berbasis tafsir. Salah satu santri KH Maemun Zubair, Sarang tersebut diakui oleh khalayak tentang kepakarannya di bidang tafsir meskipun tentu saja sebagaimana ulama-ulama pesantren pada umumnya, mereka juga menguasai bidang-bidang disiplin ilmu lain. 

Dalam satu kesempatan, Gus Baha’ menjelaskan seumpama manusia itu sadar, pasti mereka akan mendahulukan kepentingan urusan akhirat dan menomorduakan kepentingan dunia. Orang hidup di dunia ini pada hakikatnya adalah orang mati. Justru pada saat mereka mati, di saat itulah mereka malah dianggap baru hidup. 

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ

Atinya: “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari.” (QS Yunus: 45) 

Dalam Al-Qur’an juga dikatakan, orang yang sedang hidup sekarang sedang dalam kelalaian. Akan disingkap semua tirai hakikat itu pada hari kiamat kelak.

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

Artinya: “Sesungguhnya kamu (di dunia) berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini (peristiwa akhirat), maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS Qâf: 22) 

Bukti orang yang hidup sekarang adalah orang mati secara hakikat, mereka sering salah paham bahwa uang itu penting, kenal dengan Obama itu penting, kenal duta besar itu penting. Kita baru akan jadi paham kalau duit dan semua hal-hal tersebut kelak menjadi tidak penting. 

Agar kita tahu dengan jelas bahwa hal-hal itu tidak penting, kita mesti menunggu sampai di akhirat kelak. Pada saat mati kelak kita baru sadar bahwa harta, tahta, pengaruh, jumlah pengikut, semuanya tak lagi dianggap penting. Yang penting besok di akhirat adalah lamanya sujud dengan dinikmati, melihat anak yatim kemudian diberi sedekah, bisa mengaji disyukuri, dan lain sebagainya. Sehingga gara-gara bermalas-malasan tidak shalat tahajjud dan lain sebagainya membuat orang menyesal di akhirat nantinya. Banyak hal yang terasa remeh di dunia tapi justru besar nilainya di akhirat. 

Terkadang ada fenomena seorang kiai, karena ia hanya mengelola mushala kecil reot dilabeli sebagai kiai kecil. Sedangkan kiai yang menjabat secara struktural di ormas besar distempel sebagai kiai besar yang top, hanya gara-gara jabatan yang ia sandang. Ternyata di akhirat yang besar hanya jadi kulit saja. Sedang yang kiai kecil tadi malah bisa kasih syafa’at. 

“Sayangnya, kiai atau ulama di akhirat diperbolehkan dendam. Sehingga ia tidak mau kasih syafaat kepada orang yang menganggapnya sebagai kecil di dunia. Padahal ia menjadi orang besar di mata Allah.” Demikian penjelasan Gus Baha’.

Makanya, lanjut Gus Baha’, jangan suka melabeli ulama sebagai kiai kecil, tapi ia besar menurut Allah. Dan seperti ini banyak terjadi.

رُبَّ أَشْعَثَ، مَدْفُوعٍ بِالْأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

Artinya: "Banyak orang yang rambutnya semrawut, (compang-samping), ditolak masuk ke pintu-pintu masyarakat (karena dianggap remeh), namun orang itu jika bersumpah atas nama Allah, pasti Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Muslim: 2622) 

Ada cerita Uwais Al-Qarni yang masyhur. Ia tak pernah mengikuti shalat Jumat. Ia beralasan tidak punya pakaian yang cukup untuk menutupi aurat untuk pergi Jumatan. 

Uwais tidak pernah berani mempunyai pakaian hingga dua helai karena ia khawatir, jangan-jangan kalau ia mempunyai pakaian dua helai, sedangkan ada orang lain yang sampai tak punya pakaian sama sekali, ia kelak akan dihisab karena itu. Sebab standarnya, jika ada orang tidak mempunyai pakaian, di sisi lain tetangganya ada orang yang mempunyai pakaian lebih dari kebutuhannya, harus diberikan. Kalau tidak, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah (hisab). 

Berbeda kalau punyanya hanya pakaian satu saja. Walaupun dari sumber harta syubhat sekalipun, akan tetap halal, tidak terkena hisab. Sebab, ia berpakaian semata-mata untuk menutup aurat yang hukumnya wajib. Dalam keadaan darurat untuk menjalankan kewajiban menutup aurat, seumpama memakai harta haram sekalipun diperbolehkan, karena darurat. 

Makan juga begitu. Uwais Al-Qarni itu tidak mau makan kecuali kalau tidak makan, akan mati. Seumpama terpaksa yang ia makan itu haram akan menjadi halal karena memang dalam keadaan darurat. Jika lebih dari itu, terkena hisab. 

Dengan penjelasan Gus Baha’ di atas dapat diambil kesimpulan bahwa profil Uwais Al-Qarni di mata masyarakat tidak terkenal, namun namanya tenar di mata penduduk langit. Dengan begitu, kiai kecil atau kiai besar tidak bisa diukur oleh pandangan masyarakat secara kasat mata. Karena masing-masing bukan berdasar kealiman atau pengikutnya, tapi ketakwaannya.
 
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

Artinya: “Sesunggunya yang paling mulia kalian di sisi Allah adalah kalian yang paling taqwa.” QS (Al-Hujurât: 13)

Dengan begitu, dalam pandangan tasawwuf, kita tidak bisa memeta-metakan kiai besar – kiai kecil jika mengacu bagaimana kedudukan mereka di sisi Allah. Kecuali pada ranah kredibilitas dan kapabilitas keilmuan, kita baru bisa menilai kapasitas keilmuan seseorang dengan parameter atau patokan yang sudah ditentukan oleh para ulama sehingga kita bisa ambil mereka sebagai rujukan masalah agama. Namun jika menyangkut mana yang paling mulia di sisi Allah, tidak ada yang bisa mengklasifikan mana yang besar mana yang kecil. Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir)

Share:
Kamis 14 Maret 2019 16:30 WIB
Bulu Kemoceng dan Fitnah kepada Sang Kiai
Bulu Kemoceng dan Fitnah kepada Sang Kiai
Ilustrasi (freepik)
Suatu ketika seorang santri meminta maaf kepada Kiainya yang telah difitnahnya. Sang Kiai hanya tersenyum.

“Apa kau serius?” tanya Sang Kiai

“Saya serius, Kiai. Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya,” jawab santri.

Sang Kiai terdiam sejenak. Lalu ia bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng di rumahmu?”

“Ya, saya punya sebuah kemoceng Kiai. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Besok pagi, berjalanlah dari kamarmu ke pondokku. Berkelilinglah di lapangan sambil mencabuti bulu-bulu dari kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui. Kamu akan belajar sesuatu darinya.”

Keesokan harinya, sang santri menemui Kiai dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun pada gagangnya. Ia segera menyerahkan gagang kemoceng itu pada Sang Kiai.

“Ini, Kiai, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu di sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari lima kilo dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingat semua perkataan buruk saya tentang Kiai. Maafkan saya, Kiai.”

Sang Kiai terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah. Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju pondokku. Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang santri berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan.

Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu. Mereka tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan pesantren ini, atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang santri terus berjalan. Setelah berjam-jam, ia berdiri di depan kamarnya dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya ada lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya sang santri menemui Sang Kiai dengan wajah yang murung sambil menyodorkan lima helai bulu ke hadapan Sang Kiai.

"Kiai, saya mohon maaf. Hanya ini yang berhasil saya temukan.”

"Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata Sang Kiai.

“Apa yang telah aku pelajari, Kiai?” Tanya santri itu.

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Sang Kiai.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Meskipun kamu benar-benar menyesali perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yg beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. Mereka dibawa angin waktu ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin bisa kamu duga-duga, ke berbagai wilayah yang tak mungkin bisa kamu hitung!."

"Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri. Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kamu tak bisa menghentikan semua itu!,"

"Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kendalimu, tak bisa kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabadikannya."

Sang Kiai terdiam sejenak kemudian melanjutkan nasihatnya:

"Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi."

"Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak. Itulah kenapa, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan."

Bayangkan bagaimana kalau bulu-bulu kemoceng itu tersebar di dunia media sosial. Dunia digital yang akan selalu ada meski kita sudah menghapusnya. Maka, setiap kita posting coba di telaah dulu fitnah atau bukan?

Shofwan Alwie Husein. Alumni Pesantren Lirboyo (Disarikan dari Kumpulan Kisah Inspiratif)
Rabu 13 Maret 2019 11:30 WIB
Kisah Sahabat Ukasyah bin Mihshan yang Menuntut Rasulullah SAW
Kisah Sahabat Ukasyah bin Mihshan yang Menuntut Rasulullah SAW
Semua bermula setelah Surat An-Nashr diturunkan. Surat ini menandai wafat Rasulullah dalam waktu yang tidak lama setelah surat ini diturunkan. Demikian penafsiran Sahabat Ibnu Abbas, pakar tafsir di era sahabat.

إذا جاء نصر الله والفتح (1) ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجا (2) فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا

Tentang Surah An-Nashr ini, Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa setelah surat ini turun, Rasulullah SAW berkata, “Wahai Jibril. Jiwaku sudah terasa lelah.”

Jibril AS mengatakan, “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia. Dan, pasti Tuhanmu akan memberikan (sesuatu) kepadamu dan kamu merasa ridha.”

Rasulullah lantas memerintahkan Bilal agar memanggil orang-orang untuk melaksanakan berkumpul di Masjid. Kaum Muslim segera berdatangan ke Masjid Nabawi, kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar. Dari atas mimbar beliau memuji Allah kemudian menyampaikan khotbah yang membuat hati bergetar dan air mata berderai tangis.

“Wahai manusia. Nabi model apa aku ini bagi kalian?”

Para sahabat menjawab, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan sebab kenabianmu. Engkau bagi kami bagaikan ayah yang penyayang, saudara yang bijak dan baik hati. Engkau telah menyampaikan risalah Allah dan engkau telah mengajak ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan dengan tutur kata yang santun. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang lebih besar dari balasan yang diterima oleh nabi lainnya.”

Nabi berkata, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu.”

Tidak seorang pun berdiri. Rasulullah lantas mengulangi ucapannya itu, dan tidak seorang pun yang berdiri.

Rasulullah mengulangi kata-kata itu untuk ketiga kalinya, “Wahai kaum Muslim. Demi Allah dan demi hakku atas kalian. Barang siapa yang pernah aku zalimi tanpa sepengetahuanku, berdirilah dan balaslah kezalimanku itu, sebelum aku dibalas pada hari kiamat nanti.”

Tiba-tiba ada seorang kakek berdiri. Kakek itu melangkah melewati barisan jamaah hingga ia sampai di hadapan Rasulullah. Kakek itu bernama Ukasyah bin Mihshan.

Ukasyah lantas berkata, “Demi ayah dan ibuku. Andai engkau tidak mengucapkan kalimat itu sampai tiga kali, pasti aku tidak akan maju. Dulu, aku pernah bersamamu dalam satu perang. Setelah perang selesai, dan kita mendapatkan kemenangan, kita segera pulang. Untaku dan untumu berjalan sejajar. Aku turun dari unta, mendekatimu karena aku ingin mencium pahamu. Namun, tiba-tiba engkau mengangkat pecut dan pecut itu mengenai perutku. Aku tidak tahu, apakah kejadian itu engkau sengaja atau engkau ingin memecut unta.”

Rasulullah langsung berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan memecutmu dengan sengaja. Wahai Bilal. Pergilah engkau ke rumah Fathimah, dan ambilkan pecut yang tergantung.”

Bilal langsung berangkat menuju rumah Fathimah. Tangan Bilal menepuk kepala sambil teriak histeris, “Luar biasa. Ini Utusan Allah meminta dirinya untuk diqisas (dibalas)!”

Sampai di rumah Fathimah, Bilal mengetuk pintu dan berkata, “Wahai Putri Rasulullah. Ambilkan pecut yang tergantung itu. Serahkan kepadaku.”

Fathimah bertanya, “Wahai Bilal. Apa yang akan dilakukan ayahku dengan pecut ini? Bukan hari ini adalah hari haji, bukan hari perang.”

Bilal menjawab, “Wahai Fathimah. Kamu pasti tahu akhlak ayahmu. Beliau menitipkan satu agama. Beliau akan meninggalkan dunia ini. Dan, beliau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk membalas (qisas) kesalahannya.”

Fathimah lantas berkata, “Wahai Bilal. Siapa orang yang tega menuntut balas (qisas) dari Rasulullah?! Katakanlah kepada Hasan dan Husein, agar keduanya saja yang menerima pembalasan itu, sebagai pengganti Rasulullah. Minta orang itu membalas (melakukan qisas) kepada Hasan dan Husein, dan jangan membalas Rasulullah.”

Bilal kembali ke masjid dan meyerahkan pecut itu kepada Rasulullah. Rasulullah SAW lantas menyerahkan pecut itu kepada Ukasyah.

Abu Bakar dan Umar segera berdiri dan berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Balaslah kepada kami berdua. Kami ada di hadapanmu. Jangan engkau balas Rasulullah.”

Rasulullah berkata kepada Abu Bakar dan Umar, “Diamlah kalian berdua, wahai Abu Bakar dan Umar. Allah tahu ketinggian derajat kalian berdua.”

Ali pun berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Sepanjang hidupku, aku selalu bersama Rasulullah. Sungguh aku tidak tega melihat Rasulullah dipecut. Ini badanku. Balaslah. Pecutlah aku seratus kali. Jangan kau balas Rasulullah.”

Rasulullah berkata, “Wahai Ali. Duduklah. Allah tahu derajatmu dan niat baikmu.”

Selanjutnya Hasan dan Husein juga berdiri dan berkata, “Wahai Ukasyah. Engkau kan tahu bahwa kami adalah darah daging Rasulullah. Engkau membalas kepada kami sama dengan engkau membalas Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Duduklah, buah hatiku. Allah tidak akan melupakan kemuliaan kalian.”

Rasulullah kemudian berkata kepada Ukasyah, “Wahai Ukasyah. Silakan. Pecutlah aku.”

“Wahai Rasulullah. Ketika engkau memecut perutku, perutku dalam keadaan terbuka,” kata Ukasyah.

Rasulullah SAW langsung menyingkap pakaian hingga perutnya terbuka. Jamaah semakin histeris melihat pemandangan itu. Mereka menangis menjadi-jadi.

Mereka menegur Ukasyah, “Apakah engkau betul-betul akan memecut Rasulullah, wahai Ukasyah?!..”

Ukasyah lantas melihat perut Rasulullah, dan dia tak kuasa menahan diri, langsung merangsek tubuh Rasulullah SAW dan menciumi perutnya.

“Demi ayah dan ibuku, siapa orang yang tega melakukan pembalasan kepadamu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah.

Rasulullah berkata, “Lastas katakanlah, kau ingin membalas atau memaafkan aku?”

Ukasyah, “Sungguh aku telah memaafkanmu karena aku berharap mendapatkan ampunan dari Allah pada hari Kiamat.”

Rasulullah berkata, “Siapa yang ingin melihat temanku di surga nanti, lihatlah kakek ini.”

Kaum Muslim langsung berdiri mengerubungi Ukasyah dan menciumi keningnya. Mereka berkata kepada Ukasyah, “Alangkah beruntungnya kamu. Alangkah beruntungnya kamu. Kamu akan mendapatkan derajat yang sangat tinggi, berdampingan dengan Rasulullah di surga.“

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah jatuh sakit selama delapan belas hari. Tepat pada hari Senin, Rasulullah wafat, meninggalkan dunia yang fana ini.

Nabi Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rasul. Ia dijamin masuk surga, bahkan pasti berada di tempat paling tinggi dan paling mulia di sisi Allah. Namun, beliau begitu hati-hatinya terhadap manusia. Ia tidak ingin meninggalkan dunia ini, sementara masih ada orang yang “sakit hati” kepadanya. Beliau minta dibalas (diqisas) agar dirinya tidak dibalas di akhirat.

Fitnah, dusta, caci-maki dan kezaliman lainnya yang disebarkan akan menjadi tanggung jawab penyebarnya di akhirat nanti. Herannya, para penyebar fitnah dan para pencaci tenang-tenang saja. Padahal, Nabi begitu gelisah hanya karena satu kesalahan yang tak disengaja terhadap Sahabat Ukasyah. Fasyhad. Qad ballaghtul qishah…


(KH Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta)
Selasa 26 Februari 2019 17:45 WIB
Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas
Kambing Mati dan Tangisan Habib Umar Pengarang Ratibul Attas
Ilustrasi (via bloomberg.com)
Adalah Habib Umar bin Abdul Rahman Al Attas, salah satu cicit Nabi yang begitu menghormati para tamu yang sowan kepadanya. Suatu ketika, datanglah serombongan tamu berniat sowan silaturahim. Seketika, seorang alim yang juga pengarang Ratibul Attas yang masyhur ini pun memanggil salah satu khadimnya, santri pelayan di dalam rumahnya.

"Wahai Fulan, pilihlah kambing terbesar dan terbaik di kandang sana. Kemudian sembelihlah untuk jamuan makan para tamu," tuturnya.

Seraya undur diri, sang khadim pun bergegas menjalankan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Beranjak ke kandang, memilih kambing terbaik, kemudian segera menyembelihnya. 

Namun, nahas menimpanya. Ternyata si kambing gagah nan gemuk itu tak sejinak yang ia bayangkan. Ketika sebilah golok ingin disayatkan di lehernya. Kambing itu berontak menarik-narik tali kekang sekuat tenaga. Akhirnya kambing itu pun mati sia-sia terlilit tali kekang tanpa berhasil disembelih sesuai syari'at. 

Khadim itu pun kemudian mengadu sambil tergugup kepada sang habib. Kemudian empunya Ratibul Attas ini pun sejenak termenung dan menitikan air mata. Kegundahan khadim pun semakin menjadi. Setelah alpa dalam menyembelih kambing terbaik milik gurunya, ia kembali merasa bersalah atas tangisan gurunya. 

Ia kemudian berniat untuk mencarikan ganti kambing terbaik itu. Namun sang guru mencegahnya dan berkata,

"Wahai muridku, tahukah engkau apa yang kusedihkan? Sekali-kali tidaklah aku menangis karena aku kehilangan kambing terbaikku. Aku merenung dan mencoba menerapkannya pada kehidupan kita. Coba engkau pikirkan. Selama ini, kambing terbaik itu terlihat baik-baik saja. Bahkan ia terhitung jinak nan menyenangkan hati dengan makan dan minum sangat lahap. Namun, ternyata Allah menakdirkannya untuk mati dalam keadaan su'ul khatimah, akhir yang buruk. Ia mati menjadi bangkai yang haram dimakan.

Lantas... bagaimana dengan keadaan kita. Kita bisa saja berakhir nahas layaknya kambing itu. Menemui ajal dan berakhir dengan buruk. Maka, tiadalah dzat yang dapat menolong kita kecuali Allah ta'ala. Oleh karenanya, tetplah kamu membiasakan berbuat baik. Hingga suatu ketika, jika engkau sewaktu-waktu dipanggil menuju kehadirat-Nya, mudah-mudahan dalam keadaan husnul khatimah, akhir yang baik." Seketika hening, sedang para murid tertunduk malu.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok saat pengajian Kitab Tafsir Jalalain.