IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad, Tidak Mendoakan yang Buruk Meski Dimusuhi

Jumat 22 Maret 2019 6:0 WIB
Share:
Nabi Muhammad, Tidak Mendoakan yang Buruk Meski Dimusuhi
“Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits. 

Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia paripurna. Beliau telah memberikan teladan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana menjadi seorang pemuda, menjadi sahabat, menjadi suami, menjadi pemimpin agama, bahkan menjadi pemimpin negara dengan landasan akhlak yang luhur.  

Hal ini ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21; "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu teladan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah bagaimana menjaga lisan dari tutur kata yang buruk. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata kotor, mengumpat, ataupun mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya –kaum musyrik yang memusuhi dakwah Islam- sekalipun. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. malah mendoakan mereka yang baik-baik.

Ada banyak cerita terkait dengan hal ini sebagaimana tertera dalam Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Diantaranya adalah ketika pasukan Islam menang dalam Perang Badar. Nabi Muhammad saw. melarang umat Islam mengumpat korban Perang Badar dari kalangan kaum musyrik. Kata Nabi Muhammad saw., umpatan akan menyakiti hati orang-orang yang masih hidup. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kekejian adalah sesuatu yang hina.

Begitu pun ketika Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya melewati kaum Tsaqif. Ada seorang sahabat yang meminta Nabi Muhammad saw. berdoa agar kaum Tsaqif mendapatkan laknat dari Allah. Namun Nabi Muhammad saw. malah melakukan hal yang sebaliknya. Beliau mendoakan agar kaumTsaqif mendapatkan hidayah dari Allah saw. Nabi Muhammad saw. juga mendoakan kaum Dus agar mendapatkan hidayah ketika beliau diminta salah seorang sahabat untuk melaknatnya. 

Sebagaimana diketahui, kaum Tsaqif adalah penguasa wilayah Thaif pada saat itu. Tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Quraisy. Namun apa dikata, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika Perang Uhud selesai. Sebuah peperangan yang berat bagi pasukan umat Islam karena mereka kalah. Akibatnya, sebagian sahabat meminta agar Nabi Muhammad saw. melaknat kaum Quraisy. Namun permintaan itu dijawab sebaliknya oleh  Nabi Muhammad saw. 

“Sesungguhnya saya diutus dengan membawa kasih sayang. Saya tidak diutus sebagai tukang melaknat. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui,” jawab Nabi Muhammad saw.

Demikianlah teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mendoakan yang jelek, mengumpat, berkata kotor, atau mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya sekalipun. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menegur Sayyidina Abu Bakar ketika mendoakan Sa’id bin ‘Ash yang sudah meninggal dengan sesuatu yang buruk. Nabi Muhammad saw. baru akan ‘berdoa yang keras’ kepada musuh ketika mereka mengancam eksistensi komunitas umat Islam sebagaimana yang terjadi ketika Perang Ahzab. (Muchlishon)
Share:
Selasa 19 Maret 2019 7:30 WIB
Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia
Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia
(Foto: @getlosttravelmagazine)
Berhala atau patung memiliki stigma dalam Islam. Pasalnya pada masa-masa sebelum Islam datang, berhala atau patung menjadi sesembahan. Maka dari itu, pada masa Fathu Makkah, benda yang pertama kali dihancurkan adalah berhala agar tidak dijadikan lagi menjadi sesembahan.

Selanjutnya, Rasulullah SAW pun melarang Muslim untuk menyimpan berhala di rumahnya. Hal ini tidak lain tidak bukan adalah bentuk preventif Rasul agar berhala itu tidak dijadikan sesembahan. Para ulama memaknai jika patung di dalam rumah tidak untuk disembah maka diperbolehkan (mubah).

Lalu sejak kapan patung atau berhala menjadi sesembahan dalam sejarah Arab?

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dijelaskan bahwa berhala menjadi sesembahan pertama kali adalah pada masa Nabi Nuh AS. Pada masa itu, kaum Nabi Nuh telah memiliki berhala. Bahkan berhala tersebut telah tersebar di kalangan orang Arab yang dipusatkan di setiap kaum.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA bahwanya, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa 'Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa' untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya'uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala'. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah," (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahihul Bukhari, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H), juz XII, halaman 261).

Hadits ini sedikitnya telah membukakan informasi kepada kita terkait kapan berhala-berhala itu ada. Hal ini diperkuat dengan pendapat Al-Faqihi yang menyebutkan bahwa berhala pertama kali dibuat pada masa Nabi Nuh As.

Al-Faqihi sebagaimana dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Durarul Mantsur menyebutkan bahwa pada masa itu seorang anak yang rindu kepada orang tuanya yang meninggal mulai membuat patung-patung yang mirip dengan wajah orang tuanya.

Patung-patung tersebut dibuat karena anak dan keluarganya tidak mampu memupuk sifat sabar saat ditinggal mati oleh ayahnya. Ketika rindu, anak-anak tersebut memandangi patung-patung yang mirip orang tuanya tersebut hingga keturunan itu meninggal.

Peristiwa seperti ini berlangsung secara turun-temurun hingga anak cucunya menganggap bahwa patung-patung itu disembah sebagai Tuhan, (Lihat As-Suyūṭī, Ad-Durarul Mantsur, [Beirut, Dārul Fikr, tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 269). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits)
Selasa 19 Maret 2019 6:0 WIB
Tanggal Lahir Nabi Muhammad
Tanggal Lahir Nabi Muhammad
“Hari itu (Senin) adalah hari kelahiranku," jawab Nabi Muhammad saw. ketika ditanya seorang sahabat mengapa dirinya berpuasa pada hari Senin.

Ada beberapa riwayat dan pendapat perihal kapan Nabi Muhammad saw. dilahirkan. Riwayat yang paling masyhur menyebutkan kalau Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada Tahun Gajah. Tahun dimana Raja Abrahah dengan pasukan gajahnya menyerang Ka’bah. Namun, kapan persisnya Nabi Muhammad lahir masih menjadi perbedaan.

Di kalangan umat Islam, riwayat yang paling populer menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal atau bertepatan dengan 29 Agustus 580 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas: “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal 12 di malam yang tenang pada bulan Rabi'ul Awwal, Tahun Gajah.” 

Di dalam kitabnya al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirah al-Rasul (1993), Imam Izuddin bin Badruddin al-Kinani menyatakan bahwa pendapat ini adalah shahih. Pendapat itu juga dikuatkan dengan riwayat Qays bin Makhramah, meski tidak disebutkan secara detil berapa tanggalnya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi, Qays bin Makhramah mengatakan kalau dirinya dan Nabi Muhammad saw. dilahirkan pada tahun yang sama, yaitu Tahun Gajah.

Sementara sejarawan al-Mas’udi, sebagaimana dikutip dari buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), berpendapat kalau Nabi Muhammad saw. lahir pada 8 Rabi’ul Awwal, atau empat hari lebih awal dari pendapat yang populer selama ini. Al-Mas’udi mencocokkan tanggal itu dengan kehadiran pasukan bergajah Raja Abrahah. 

Menurutnya, Nabi Muhammad saw. lahir 50 hari setelah pasukan bergajah datang. Sementara, masih menurut Al-Mas’udi, kehadiran pasukan bergajah terjadi pada hari Senin, 13 Muharram dan mendekati tanggal 17 Muharram. Dari situ, Al-Mas’udi menyimpulkan bahwa tanggal lahir Nabi Muhammad saw. itu 8 Rabi’ul Awwal, bukan tanggal 12.

Pakar ilmu falak asal Mesir, Mahmud al-Falaki al-Mashry, memiliki pendapat yang berbeda. Mahmud menyebut kalau tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah 9 Rabi’ul Awwal tahun 571 Masehi atau hari ke-55 setelah tentara gajah Raja Abrahah mengalami kekalahan. 

Di samping ketiga pendapat di atas, ada beberapa pendapat yang menyebutkan kalau Nabi Muhammad saw. lahir pada bulan Rajab, Ramadhan, atau Muharram.  Dalam sebuah riwayat, ‘Uqbah bin Mukarram mengekukakan bahwa hari lahir Nabi Muhammad saw. adalah hari Senin tanggal 12 Ramadhan. Akan tetapi, riwayat ini dinilai sebagai hadits saqith (hadits gugur) sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pedoman.

Begitupun pendapat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan jauh sebelum Raja Abrahah menyerang Ka’bah, atau sekitar 15 tahun sebelum Tahun Gajah juga sangat lemah. Bahkan, Imam al-Dzahabi dengan keras menilai kalau riwayat itu –Nabi Muhammad saw. lahir 15 tahun sebelum Tahun Gajah- sebagai sebuah kebohongan.

Itulah beberapa perbedaan pendapat terkait dengan tanggal lahir Nabi Muhammad saw. Perbedaan itu bukan hanya pada tanggalnya, namun juga tahun. Bahkan antara satu pendapat dengan satu pendapat lainnya bedanya sampai sepuluh tahun lebih. Namun yang pasti, mayoritas umat Islam di seluruh dunia memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. pada 12 Rabi’ul Awwal. Waallahu ‘Alam. (Muchlishon)
Ahad 17 Maret 2019 21:30 WIB
Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Motivasi Sayyidah Khadijah Memilih Nabi Muhammad Menjadi Suaminya
Sayyidah Khadijah adalah seorang yang memiliki akhlak yang terpuji, wajah yang rupawan, dan harta yang bergelimang. Hal itulah yang membuat Sayyidah Khadijah begitu terhormat, terpandang, terkenal di kalangan masyarakat Arab. Meski sudah pernah menikah dua kali –suami pertama adalah Abu Halah at-Tamimi dan suami kedua adalah Atiq bin Aidz bin Makhzum. Keduanya wafat- dan melahirkan empat orang anak, namun banyak pria yang berminat untuk mempersuntingnya. 

Di sisi lain, pada saat itu Nabi Muhammad saw. adalah ‘mitra kerja’ Sayyidah Khadijah. Beliau menjajakan barang dagangan milik Sayyidah Khadijah ke beberapa negeri di luar Makkah. Keuntungannya dibagi dua. Meski tidak kaya-kaya amat, Muhammad muda adalah seorang dengan reputasi baik. Beliau begitu dihormati karena kejujurannya sehingga mendapatkan gelar al-Amin (terpercaya). Di samping itu, Nabi Muhammad memiliki wajah yang tampan sehingga banyak wanita yang kepincut dengannya.

Setelah menjalin hubungan kerja dengan Nabi Muhammad beberapa saat, Sayyidah Khadijah menjadi tertarik dengan mitranya itu. Ia bahkan meminta salah satu sahabatnya Nafisah binti Munyah untuk meminang Nabi Muhammad saw. untuk dirinya. Nafisah lantas menemui Nabi Muhammad saw. dan menceritakan semuanya tentang perasaan Khadijah.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Singkat cerata, Sayyidah Khadijah dan Nabi Muhammad saw. akhirnya menikah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa pada saat itu Sayyidah Khadijah berusia 40 tahun sementara Nabi Muhammad saw. 25 tahun. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa pada saat menikah usia Sayyidah Khadijah adalah 35 tahun, sedangkan Nabi Muhammad saw. 30 tahun. Bahkan riwayat tanpa sanad Ibnu Ishaq menyebut kalau Sayyidah Khadijah ketika itu berusia 28 tahun.

Terlepas dari itu semua, Sayyidah Khadijah adalah istri pertama yang dinikahi Nabi Muhammad saw. Mereka berdua mengarungi biduk rumah tangga sekitar 25 tahun hingga akhirnya Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Selama itu pula, Nabi Muhammad saw. tidak pernah menikah dengan wanita lainnya. 

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa alasan atau motivasi Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya? Mengapa Sayyidah Khadijah melabuhkan hatinya kepada seorang pemuda yang jarak usia keduanya cukup jauh? Bukankan banyak pemuka Makkah yang berminta dan siap menjadi pendamping hidupnya?

Sebagaimana keterangan dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Sayyidah Khadijah memilih Nabi Muhammad saw. untuk menjadi suaminya karena dia menilai bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia yang sempurna kepribadiannya, baik sifat lahir maupun sifat batinnya. Bukan karena penampilannya secara sepintas. 

Sayyidah Khadijah memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi biduk rumah tangga. Hal itu lah yang membuat Sayyidah Khadijah yakin bahwa kebagaian rumah tangga tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya materi seseorang, namun ditentukan oleh kepribadian yang luhur, asal usul yang bersih, serta kematangan dalam perpikir dan bertindak. Dan sosok itu ada pada Nabi Muhammad saw. Terlepas dari itu semua, tentu hal itu sudah digariskan Allah di Lauh Mahfudz. Wallahu A’lam. (A Muchlishon Rochmat)