IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Asal Mula Berhala Masuk ke Makkah

Senin 25 Maret 2019 6:0 WIB
Share:
Asal Mula Berhala Masuk ke Makkah
Asal Mula Berhala Masuk ke Makkah
Setelah Nabi Ibrahim AS berhasil mengubah sesembahan masyarakat pada masanya dan mengajak kaumnnya untuk menyembah Allah SWT, ternyata hal itu tak berlangsung lama.

Sebelum Nabi Muhammad SAW lahir dan diutus di negeri Arab, sesembahan berhala yang pernah muncul pada masa Nabi Ibrahim AS ini kembali muncul di Arab. Lalu mengapa kaum Arab yang merupakan pengikut agama Ibrahim AS tiba-tiba melenceng dari ajaran Nabi Ibrahim AS?

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa penyebab melencengnya mereka adalah perilaku seorang yang bernama Amr bin Amir bin Luhai Al-Khuzai. Amr adalah orang yang pertama kali memberikan sesembahan kepada berhala berupa unta. Hal ini biasanya disebut sebagai sawaib.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرِ بْنِ لُحَيٍّ الْخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ

Artinya, “Nabi SAW bersabda, ‘Aku melihat 'Amru bin Luhay Al-Khuza'iy menarik punggungnya ke neraka dan dia adalah orang pertama mempersembahkan As-Sawa'ib (saibah),’" (Lihat Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥul Bukharī, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H) juz IV, halaman 184).

Disebutkan bahwa di tanah Arab sendiri, khususnya di Makkah, pada masa Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS belum ada sama sekali berhala-berhala. Amr ibn Luhay adalah orang yang pertama kali membawa berhala ke tanah Arab dari Syam. Bahkan Amr inilah orang yang pertama kali mengubah agama Nabi Ismail AS.

Hal ini disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asyqalani dalam Fatḥul Bārī Syarḥ Saḥīḥil Bukhari. Dengan mengutip sebuah hadits riwayat Imam At-Ṭabrānī dari Ibn Abbas, yang menjelaskan bahwa orang yang pertama mengubah agama Nabi Ibrahim adalah Amr bin Luḥay.

أول من غير دين إبراهيم عمرو بن لحي بن قمعة ابن خندف أبو خزاعة

Artinya, “Orang yang pertama merubah agama Nabi Ibrahim adalah Amr bin Luhay bin Qam’ah bin Handaf Abu Huzaah,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fatḥul Bārī Syarḥ Saḥīḥil Bukhari, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 547).

Terkait kronologi bagaimana bisa seorang yang bernama Ibnu Luhai ini dapat mengubah agama Nabi Ibrahim AS, Ibnu Hajar menyebutkan dengan mengutip pendapat seorang penulis sejarah, Ibnu Ishaq, bahwa Amr bin Luhay mendapatkan berhala tersebut dari sekelompok suku di Syam yang bernama Al-Amāliq.

وذكر ابن إسحاق أن سبب عبادة عمرو بن لحي الأصنام أنه خرج إلى الشام وبها يومئذ العماليق وهم يعبدون الأصنام فاستوهبهم واحدا منها وجاء به إلى مكة فنصبه إلى الكعبة وهو هبل

Artinya, “Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa sebab penyembahan Amr bin Luhay atas berhala adalah ketika Amr bin Luhay pergi menuju Syam. Saat itu di sana ada Kaum Al-Amalik yang menyembah berhala. Amr bin Luhai pun meminta agar Kaum Amalik memberinya salah satu berhala yang mereka sembah dan membawa berhala tersebut masuk ke Kota Makkah. Amr kemudian mendirikan berhala itu di Ka’bah, berhala itu yang kelak dinamai Hubal,” (Lihat Ibnu Hajar Al-Asyqalani, Fatḥul Bārī Syarḥu Saḥīḥil Bukhari, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 547).

Tidak hanya itu, Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Amr bin Luhay inilah yang membuat dua berhala bernama Asaf dan Nailah dikultuskan oleh orang yang sedang thawaf di Kabah sebelum Nabi Muhammad SAW lahir.

Berdasarkan penuturan Ibnu Hajar, Asaf dan Nailah ini adalah dua orang yang sering membuat kerusakan (fajir) yang tubuhnya diubah oleh Allah Swt menjadi batu. Asaf adalah orang laki-laki dan Nailah adalah seorang perempuan (walau hal ini masih dipertanyakan keabasahan ceritanya).

Dua patung inilah yang dibawa oleh Amr bin Luhay ke samping Ka’bah. Orang-orang yang sedang thawaf di Kabah pada saat itu mengusap kedua berhala tersebut, dimulai dari Asaf dan diakhiri dengan Nailah.

Namun, berhala-berhala tersebut kini telah disingkirkan pada saat Fathu Makkah, dan Ka’bah terbebas dari berhala-berhala yang disembah. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Share:
Ahad 24 Maret 2019 18:15 WIB
Asal Mula Syirik pada Masa Nabi Ibrahim AS
Asal Mula Syirik pada Masa Nabi Ibrahim AS
Syirik atau kemusyrikan tidak hanya terjadi pada umat Nabi Muhammad SAW. Hal ini sudah terjadi dan pernah dilakukan oleh umat-umat para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran telah menyebutkan banyak kisah terkait syirik yang pernah dilakukan oleh umat sebelum Nabi Muhammad SAW.

Salah satu kemusyirkan yang terjadi sebelum masa Rasul SAW adalah praktik pada masa Nabi Ibrahim AS.

Kemusyrikan di masa Nabi Ibrahim AS berbeda dengan syirik pada masa Kaum Nabi Nuh AS yang membuat dan menyembah berhala karena rindu dengan keluarga mereka yang telah meninggal. Pada masa kaum Nabi Ibrahim AS syirik terjadi berawal dari keahlian umat Nabi Ibrahim AS yang tinggal di daerah Babilonia, dalam hal ilmu falak dan perbintangan.

Menurut Al-Jashshash dalam tafsirnya, umat Nabi Ibrahim AS yang pandai ilmu Nīranj (sejenis sihir) dan ilmu perbintangan membuat berhala-berhala yang dibuat sebanyak jumlah tujuh bintang dan menyembahnya. Mereka akan menyembah berhala-berhala tersebut sesuai keinginan mereka, (Lihat Abū Bakr Al-Jashshash, Aḥkamul Qurʽān, [Kairo, Daru Ihya’: 1992), juz I, halaman 44).

Lebih lanjut, Al-Jashshash mengatakan bahwa kaum Nabi Ibrahim AS tersebut akan mendekati berhala-berhala itu jika mereka memiliki keinginan, baik atau buruk. Ketika memiliki keinginan yang baik, seperti minta kebahagiaan, kecukupan dan lain sebagainya, mereka akan mendatangi berhala yang bernama Al-Musytarī (Yupiter) dengan membawa jimat, kemenyan dan lain sebagainya.

Ketika menginginkan keburukan dan celaka, mereka mendatangi berhala yang bernama Zuḥal (Saturnus). Ketika menginginkan penyakit, badai, dan kebakaran, mereka mendatangi Mirrīḥ (Mars). Berhala-berhala tersebut didatangi dan disembah sesuai keperluan dan kebutuhan mereka dan berdasarkan keyakinan mereka.

Rasyid Ridha menambahkan bahwa kaum Nabi Ibrahim AS menjadikan bintang-bintang sebagai manifestasi dari Tuhan dan unsur-unsur yang ada di alam semesta. Misalnya, mereka menganggap bahwa matahari adalah tuhan api dan cahaya bumi, langit sebagai pengatur para malaikat dan tempat para roh terdahulu, dan lain sebagainya, (Lihat Rasyid Ridha, Tafsirul Manār, [Kairo, Darul Mannar: 1947], juz VII, halaman 570).

Atas kesyirikan mereka, Allah SWT pun mengutus Nabi Ibrahim AS untuk menyampaikan dakwah kepada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim AS pertama-tama melakukan diskusi dengan mereka. Hal ini disebutkan dalam Surat As-Syuʽārā’ ayat 69-74.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (69) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (71) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (74) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ 

Artinya, “Bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah mereka (berhala-berhala itu) mendengarmu ketika kamu berdoa (kepadanya)?, Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, tetapi kami dapati nenek moyang kami berbuat begitu.’”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS berupaya melakukan diskusi dan dialog terlebih dahulu kepada kaumnya yang menyembah berhala.

Sekilas mereka mengiyakan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim AS. Namun mereka tetap berpegang teguh pada keyakinan mereka hingga suatu hari Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala tersebut dan hanya membiarkan berhala yang paling besar tetap utuh.

Hal ini disebutkan dalam Surat Al-Anbiyā’ ayat 62-68.

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (٦٢) قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (٦٣) فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ (٦٤) ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ (٦٥) قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ (٦٦) أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٦٧) قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (٦٨)

Artinya, “Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka kembali kepada kesadaran dan berkata, ‘Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).’ Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), ‘Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Tidakkah kamu mengerti?’Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan tolonglah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.’”

Peristiwa ini yang membuat Nabi Ibrahim AS dibakar oleh kaumnya. Tidak hanya sampai di sini. Perilaku syirik ini berlanjut sampai tiba masa Arab jahiliyah. Wallahu a’lam.


(Ustadz Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Jumat 22 Maret 2019 6:0 WIB
Nabi Muhammad, Tidak Mendoakan yang Buruk Meski Dimusuhi
Nabi Muhammad, Tidak Mendoakan yang Buruk Meski Dimusuhi
“Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits. 

Nabi Muhammad saw. adalah sosok manusia paripurna. Beliau telah memberikan teladan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bagaimana menjadi seorang pemuda, menjadi sahabat, menjadi suami, menjadi pemimpin agama, bahkan menjadi pemimpin negara dengan landasan akhlak yang luhur.  

Hal ini ditegaskan Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21; "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu teladan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. adalah bagaimana menjaga lisan dari tutur kata yang buruk. Dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata kotor, mengumpat, ataupun mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya –kaum musyrik yang memusuhi dakwah Islam- sekalipun. Sebaliknya, Nabi Muhammad saw. malah mendoakan mereka yang baik-baik.

Ada banyak cerita terkait dengan hal ini sebagaimana tertera dalam Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018). Diantaranya adalah ketika pasukan Islam menang dalam Perang Badar. Nabi Muhammad saw. melarang umat Islam mengumpat korban Perang Badar dari kalangan kaum musyrik. Kata Nabi Muhammad saw., umpatan akan menyakiti hati orang-orang yang masih hidup. Nabi Muhammad saw. juga mengingatkan bahwa kekejian adalah sesuatu yang hina.

Begitu pun ketika Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya melewati kaum Tsaqif. Ada seorang sahabat yang meminta Nabi Muhammad saw. berdoa agar kaum Tsaqif mendapatkan laknat dari Allah. Namun Nabi Muhammad saw. malah melakukan hal yang sebaliknya. Beliau mendoakan agar kaumTsaqif mendapatkan hidayah dari Allah saw. Nabi Muhammad saw. juga mendoakan kaum Dus agar mendapatkan hidayah ketika beliau diminta salah seorang sahabat untuk melaknatnya. 

Sebagaimana diketahui, kaum Tsaqif adalah penguasa wilayah Thaif pada saat itu. Tiga tahun sebelum hijrah ke Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya hijrah ke Thaif. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Quraisy. Namun apa dikata, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika Perang Uhud selesai. Sebuah peperangan yang berat bagi pasukan umat Islam karena mereka kalah. Akibatnya, sebagian sahabat meminta agar Nabi Muhammad saw. melaknat kaum Quraisy. Namun permintaan itu dijawab sebaliknya oleh  Nabi Muhammad saw. 

“Sesungguhnya saya diutus dengan membawa kasih sayang. Saya tidak diutus sebagai tukang melaknat. Ya Allah ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui,” jawab Nabi Muhammad saw.

Demikianlah teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak pernah mendoakan yang jelek, mengumpat, berkata kotor, atau mengeluarkan cercaan bahkan kepada musuhnya sekalipun. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga menegur Sayyidina Abu Bakar ketika mendoakan Sa’id bin ‘Ash yang sudah meninggal dengan sesuatu yang buruk. Nabi Muhammad saw. baru akan ‘berdoa yang keras’ kepada musuh ketika mereka mengancam eksistensi komunitas umat Islam sebagaimana yang terjadi ketika Perang Ahzab. (Muchlishon)
Selasa 19 Maret 2019 7:30 WIB
Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia
Ini Berhala Pertama yang Disembah Umat Manusia
(Foto: @getlosttravelmagazine)
Berhala atau patung memiliki stigma dalam Islam. Pasalnya pada masa-masa sebelum Islam datang, berhala atau patung menjadi sesembahan. Maka dari itu, pada masa Fathu Makkah, benda yang pertama kali dihancurkan adalah berhala agar tidak dijadikan lagi menjadi sesembahan.

Selanjutnya, Rasulullah SAW pun melarang Muslim untuk menyimpan berhala di rumahnya. Hal ini tidak lain tidak bukan adalah bentuk preventif Rasul agar berhala itu tidak dijadikan sesembahan. Para ulama memaknai jika patung di dalam rumah tidak untuk disembah maka diperbolehkan (mubah).

Lalu sejak kapan patung atau berhala menjadi sesembahan dalam sejarah Arab?

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dijelaskan bahwa berhala menjadi sesembahan pertama kali adalah pada masa Nabi Nuh AS. Pada masa itu, kaum Nabi Nuh telah memiliki berhala. Bahkan berhala tersebut telah tersebar di kalangan orang Arab yang dipusatkan di setiap kaum.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA bahwanya, berhala-berhala yang dahulu diagungkan oleh kaum Nabi Nuh, di kemudian hari tersebar di bangsa 'Arab. Wadd menjadi berhala untuk kamu Kalb di Daumatul Jandal. Suwa' untuk Bani Hudzail. Yaquts untuk Murad dan Bani Ghuthaif di Jauf tepatnya di Saba`. Adapun Ya'uq adalah untuk Bani Hamdan. Sedangkan Nashr untuk Himyar keluarga Dzul Kala'. Itulah nama-nama orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kaum itu untuk mendirikan berhala pada majelis mereka dan menamakannya dengan nama orang-orang saleh itu. Maka mereka pun melakukan hal itu, dan saat itu berhala-berhala itu belum disembah hingga mereka wafat, sesudah itu, setelah ilmu tiada, maka berhala-berhala itu pun disembah," (Lihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Sahihul Bukhari, [Kairo, Dāru Thauqin Najah: 1422 H), juz XII, halaman 261).

Hadits ini sedikitnya telah membukakan informasi kepada kita terkait kapan berhala-berhala itu ada. Hal ini diperkuat dengan pendapat Al-Faqihi yang menyebutkan bahwa berhala pertama kali dibuat pada masa Nabi Nuh As.

Al-Faqihi sebagaimana dikutip As-Suyuthi dalam Ad-Durarul Mantsur menyebutkan bahwa pada masa itu seorang anak yang rindu kepada orang tuanya yang meninggal mulai membuat patung-patung yang mirip dengan wajah orang tuanya.

Patung-patung tersebut dibuat karena anak dan keluarganya tidak mampu memupuk sifat sabar saat ditinggal mati oleh ayahnya. Ketika rindu, anak-anak tersebut memandangi patung-patung yang mirip orang tuanya tersebut hingga keturunan itu meninggal.

Peristiwa seperti ini berlangsung secara turun-temurun hingga anak cucunya menganggap bahwa patung-patung itu disembah sebagai Tuhan, (Lihat As-Suyūṭī, Ad-Durarul Mantsur, [Beirut, Dārul Fikr, tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 269). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits)