IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Kata Pendaku Salafi ‘Orang Jahiliyah Bertauhid tatkala Susah’, Benarkah?

Selasa 26 Maret 2019 14:30 WIB
Share:
Kata Pendaku Salafi ‘Orang Jahiliyah Bertauhid tatkala Susah’, Benarkah?
Ilustrasi (via weziwezi.com)
Banyak tokoh pendaku Salafi yang mengatakan bahwa sebenarnya kaum musyrikin jahiliyah itu bertauhid tatkala susah dan mereka menjadi syirik hanya tatkala senang saja. Misalnya saja Syekh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang berkata:

أن المشركين الأولين كانوا إذا مسهم الضر وځدوا الله تعالى فلم يدعوا غيره، وإذا كانوا في وقت الرخاء أشركوا به، وعبدوا غيره، أما مشرکو هذا الزمان، فإنهم أجهل وأضل؛ لأنهم مشركون بالله في الشدة وفي الرخاء، ولا يكادون يوحدون الله تعالى في أي حال

“Sesungguhnya kaum musyrikin awal apabila tertimpa kesusahan, mereka bertauhid pada Allah sehingga tak berdoa pada selainnya. Apabila mereka dalam keadaan senang, maka mereka syirik menyekutukan Allah dan menyembah selainnya. Adapun kaum musyrikin di masa ini, mereka lebih bodoh dan lebih sesat sebab mereka menyekutukan Allah di saat susah dan senang dan hampir-hampir tak pernah bertauhid pada Allah dalam keadaan apa pun.” (Muhammad Taqiyuddin al-Hilali, Sabîl al-Rasyâd Fî Hadyi Khair al-‘Ibâd, 511).

Kesimpulan seperti itu jauh sebelumnya juga disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, pendiri sekte Wahhabiyah, yang berkata:

فأعلم أن شرك الأولين أخف من شرك أهل زماننا بأمرين أحدهما: أن الأولين لا يشركون ولا يدعون الملائكة والأولياء والأوثان مع الله إلا في الرخاء، وأما الشدة فيخلصون لله الدعاء

“Maka ketahuilah bahwa kesyirikan orang awal lebih ringan dari kesyirikan penduduk masa kita ini sebab dua hal; salah satunya adalah mereka tidak melakukan syirik dan tak berdoa pada malaikat, wali, berhala bersamaan dengan berdoa pada Allah kecuali dalam keadaan senang saja. Adapun dalam keadaan susah, mereka memurnikan doa pada Allah.” (Ibnu Utsaimin, Syarh Kasyf as-Syubuhât, 76)

Alasan mereka sehingga sampai pada kesimpulan tersebut adalah beberapa firman Allah seperti berikut:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’: 57)

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

"Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)" (QS. Al-Ankabut 65)

Sebenarnya ayat-ayat tersebut dan banyak lagi yang serupa sama sekali tak mengatakan bahwa orang-orang musyrik itu bertauhid tatkala susah. Yang ada, ayat tersebut hanya mengatakan bahwa orang-orang jahiliyah itu tak berdoa pada berhala sewaktu mereka susah dan terdesak tetapi hanya pada Allah saja yang mereka yakini sebagai sesembahan terhebat, Sang Pencipta langit dan bumi. Seperti diungkapkan oleh Imam al-Qurthubi, para musyrikin itu meyakini bahwa berhala yang mereka sembah tak bisa berbuat apa pun tatkala ada kesulitan besar (أَنَّ الْأَصْنَامَ لَا فِعْلَ لَهَا فِي الشَّدَائِد الْعِظَامِ) )al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, X: 291).

Namun demikian, harus dicatat bahwa dalam hati mereka tetap meyakini bahwa berhala-berhala itu layak disembah dan dimintai pertolongan bila masalahnya tak begitu berat. Sebab itulah ketika keadaan genting sudah usai, maka mereka kembali menampakkan kesyirikannya dengan berdoa pada berhala lagi. Andai mereka sama sekali tak meyakini berhala itu bisa memberikan manfaat dan pertolongan dalam hal yang tidak begitu berat, tentu mustahil mereka menyembahnya dan berdoa padanya.

Hakikat kesyirikan itu meyakini dalam hati bahwa ada sesembahan (إله) yang benar selain Allah. Meskipun sedang menyembah Allah, tapi bila dalam hati seseorang ada sesembahan lain yang sedang tak ia sembah, maka itu sudah syirik. Meskipun orangnya sedang shalat di masjid, kalau hatinya mendua pada sesembahan lain, maka tetaplah ia syirik. Jadi, adalah kurang tepat kalau ada yang berkata bahwa orang musyrikin bertauhid, meskipun di level tertentu saja. Sudah jelas Al-Qur’an berkali-kali menyebut mereka sebagai orang musyrik dan tak sekalipun menyebut mereka sebagai muwahhid (orang yang bertauhid). Sebab itulah, Allah berfirman tentang hati para musyrikin itu yang mencintai berhala mereka seperti halnya mereka juga mencintai Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

Sebaliknya meskipun seseorang berada di depan berhala, berdoa pada Allah di rumah ibadah agama lain, berada di kuburan atau di mana pun, bila dalam hatinya yakin bahwa hanya Allah saja sesembahan yang benar sehingga semua objek di depannya sama sekali tak layak disembah, maka ia tetap bertauhid meyakini lâ ilâha illallâh. Inilah yang dilakukan kaum muslimin awal sebelum hijrah ke Madinah ketika mereka menunaikan shalat di area Ka’bah yang saat itu masih penuh dengan berhala. Demikian pula ketika kaum muslimin mencium Hajar Aswad, menghadap ke Ka’bah atau menempelkan pipinya di Multazam, sama sekali tak ada yang sedang menyembah hajar aswad, ka’bah atau multazam sebab hari mereka bersih dari syirik.

Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), meyakini Allah sebagai pencipta langit dan bumi dan pemberi rezeki saja tak cukup menjadikan seseorang disebut bertauhid bila ia masih meyakini ada sekutu (شريك) atau tandingan (ند) bagi Allah dalam hal apa pun. Seseorang dianggap bertauhid hanya apabila telah meyakini bahwa Allah tak mempunyai satu pun tandingan dalam hal Dzat, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Dengan kata lain, seorang disebut muwahhid apabila meyakini tak ada apa pun di dunia ini yang menyamai Allah atau dapat memberi manfaat dan mudarat sekecil apa pun tanpa izin Allah. 

Dengan keyakinan seperti ini, mustahil seorang muwahhid akan menyembah selain Allah meskipun secara lahiriah ia berdoa di kuburan atau bertawassul dengan Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ sendiri dalam hadis yang sahih. Dengan demikian diketahui bahwa kesimpulan para pendaku Salafi yang mengatakan bahwa orang-orang pada saat ini telah syirik, bahkan lebih buruk dari kesyirikan orang jahiliyah, sebab berdoa di kuburan atau bertawassul tatkala keadaan susah adalah kesimpulan yang amat gegabah dan tak berdasar. Tak terhitung jumlah para ulama besar dalam sejarah, termasuk Imam Ahmad, yang melakukan hal semacam ini dan tanpa sedikit pun diragukan bahwa mereka adalah muwahhid sejati. 

Yang layak dianggap syirik hanyalah perbuatan menyembah dan memohon kepada selain Allah saja (bukan dalam rangka bertawassul) yang biasanya dilakukan oleh non-muslim. Kadang tindakan semacam ini juga dilakukan oleh orang muslim yang teramat bodoh dan jauh dari pendidikan Islam, tetapi ini sedikit sekali sebab secara naluriah seorang yang bersyahadat akan tahu bahwa tindakan seperti itu bertentangan dengan syahadatnya.

Jadi, orang-orang musyrik jahiliyah tak pernah bertauhid sebab tak memenuhi syarat tauhid di atas. Namun al-Qur’an menginfokan bahwa orang-orang musyrik itu benar-benar bertauhid nanti tatkala telah kiamat. Ketika mereka sudah melihat azab Allah dengan mata kepala mereka sendiri, barulah mereka bertauhid. Tentu saja taubat ini sudah tak berguna. Bagaimana redaksi tauhid mereka? Perhatikan ketegasan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ. فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا

"Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar (kufur) kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka tak bermanfaat keimanan mereka ketika telah melihat azab Kami.” (QS. Ghafir: 84-85)

Redaksi tauhid di ayat itu jelas dengan pernyataan bahwa mereka ingkar pada sesembahan-sesembahan selain Allah dan hanya beriman pada Allah semata. Redaksi tegas semacam ini tak terucap ketika mereka masih hidup, bahkan tatkala sedang kesusahan sekalipun, sebab kenyataannya mereka tetap menaruh rasa cinta pada berhala-berhala mereka dan merasa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat sebagai sekutu Allah atau minimal sebagai pembela (شفيع) di hadapan Allah. Sebab itulah mereka berstatus musyrik hingga matinya. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur

Share:
Selasa 19 Maret 2019 9:30 WIB
Kapan Hari Kiamat itu Tiba?
Kapan Hari Kiamat itu Tiba?
Ilustrasi (via sayidaty.net)
Yang dimaksud hari akhir itu adalah hari kiamat. Permulaannya sejak seluruh manusia dari kubur untuk digiring ke padang mahsyar hingga waktu yang tidak terbatas berdasarkan pendapat yang sahih. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa mulai dari bangkit dari kubur untuk digiring hingga ahli surga masuk ke surga, dan ahli neraka masuk neraka.

Dinamakan hari akhir karena itulah akhir dari hari-hari yang ada di dunia, dalam arti bahwa hari akhir itu tersambung dengan akhir hari-hari di dunia, atau disebut sebagai al-yaumul âkhir karena tidak ada lagi hari dunia selepasnya. Dinamakan hari kiamat (qiyâmah: kebangkitan, berdiri) karena bangkitnya manusia pada hari itu dari kuburan mereka, dan berdirinya mereka di hadapan sang Pencipta serta tegaknya hujjah yang menyelamatkan mereka dan juga hujjah yang menyengsarakan mereka.

Umar Sulaiman al-Asyqar dalam buku Al-Yaumul Âkhir Qiyâmah Kubrâ menyebut 22 istilah populer tentang hari akhir dalam Al-Qur’an. Ia juga menyebutkan istilah tambahan lainnya yang diserap dari Al-Qur’an, serta tambahan istilah lainnya dari para ulama. Ia mengutip al-Qurthubi yang membolehkan penggunaan penyebutan hari akhir dengan istilah lain yang relevan.

Ada tiga istilah yang paling banyak disebutkan Al-Qur’an terkait hari akhir ini, yaitu yaumul qiyamah (hari kebangkitan), terulang tujuh puluh kali; as-sâ‘ah (waktu), terulang empat puluh kali; al-âkhirah (akhir; penghabisan) terulang seratus lima belas kali. Adapun yaumul âkhir terulang 24 kali;  Yaumud Din (hari pembalasan) terulang enam kali; yaumul fashl (hari keputusan) terulang enam kali; yaumul fath (hari pengadilan) terulang dua kali; yaumut talâq (hari pertemuan)  terulang dua kali; yaumul jam’i (hari pengumpulan) terulang dua kali; yaumul khulûd (hari kekekalan) terulang dua kali; yaumul khurûj (hari keluar) terulang dua kali; yaumul ba’ts (hari kebangkitan) terulang dua kali; yaumut tanâd (hari panggilan) terulang dua kali. Kemudian ada yaumul hasrah (hari penyesalan), yaumul azifah (hari mendekat), dan yaumu taghabun (hari terbukanya aib yang masing-masing sekali. Juga ada istilah al-qâriah (bencana yang menggetarkan); al-ghâsyiah (bencana yang tak tertahan), as-shakhkhah (bencana yang memekakkan, al-hâqah (kebenaran besar), dan al-wâqiah (peristiwa besar). 
Beriman (meyakini) adanya hari akhir adalah bagian dari rukun iman. Syekh Thahir bin Shalih al-Jazairy (w. 1338 H) dalam Al-Jawahir al-Kalamiyah menyampaikan bahwa rukun iman atau rukun akidah Islam itu meliputi enam hal.

أَركَانُ الْعَقِيدَة الاسلامِيّة سِتّةُ أشياء وهيَ الإيمان بالله تعالى والإيمان بملائكته والإيمان بكتبه والإيمان برسله والإيمان باليوم الاخر والإيمان بالقدر

Artinya: “Rukun akidah Islamiyah itu ada enam hal, yaitu: (1) iman kepada Allah, (2) iman kepada malaikat Allah, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada para rasul Allah, (5) iman kepada hari akhir, dan (6)  iman kepada qadar  (takdir) Allah.”

Iman kepada hari akhir ini adalah penting sekali. Sedemikian pentingnya maka dalam Al-Qur’an dan hadits keimanan pada hari akhir ini kerap disandingkan dengan keimanan kepada Allah. Dan memang ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang banyak dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu pembuktian tentang keesaan Allah, yang berarti ini tentang iman kepada Allah, dan kedua, uraian atau pembuktian tentang hari akhir.

Mari kita perhatikan kedua keimanan ini yang kerap disandingkan dalam Al-Qur’an dan hadits.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ  

Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah (2):8)

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ  

Artinya: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah [9]: 18)

Tersebut dalam hadits riwayat Imam Bukhary dan Muslim:

مَنْ كان يؤمن بالله واليوْم الاخر فلْيقُلْ خيْراً اوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata benaar atau diam.”

Masalah hari akhir ini memang masalah yang selalu dikaji manusia dari masa ke masa. Konsekuensi keyakinan ada hari akhir ini meniscayakan keyakinan adanya kehidupan baru selepas manusia mati.

Manusia tentang keyakinan kehidupan selepas kematian itu terbagi menjadi tiga kelompok.  Pertama, yang percaya bahwa apabila manusia itu sudah mati maka tidak ada kehidupan lagi baginya, alias tamat dengan kematiannya. Inilah pandangan kaum penganut materialisme. 

Keingkaran adanya hari akhir ini misalnya disampaikan Al-Qur’an sebagai berikut:

وَقَالُوٓاْ إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ  

Artnya: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan’." (Al-An’am [6]: 29).

Kedua, manusia yang percaya bahwa selepas kematiannya ia akan mengalami kehidupan baru (reinkarnasi). Manusia yang jahat akan lahir kembali dalam wujud yang lebih hina, misalnya menjadi binatang. Karena pemahamannya yang demikian ini mereka tidak percaya adanya hari akhir. 

Al-Qur’an menyatakan bahwa mereka yang ingkar, baik dari kelompok pertama maupun kelompok kedua ini akan mengalami kerugian atas ketidak percayaannya itu. Karena hari akhir pasti akan datang.

حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ 

Artinya: “Hingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.” (Al-An’am (6): 31).

Ketiga, manusia yang percaya adanya hari akhir, yakni kepercayaan yang dibawa oleh para utusan Allah. Bahwa ada kehidupan abadi setelah manusia mengalami kematian. 

Manusia yang beragama, akan meyakini bahwa keimanan kepada Allah meniscayakan bukti yaitu amal perbuatan. Dan amal perbuatan ini akan sempurna motivasinya dengan keimanannya pada hari akhir. Karena kesempurnaan balasannya itu ada pada hari akhir. Dinyatakan dalam Ali Imran ayat 185.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Nah, dengan mengimani bahwa suatu saat nanti dunia yang kita huni beserta isinya ini akan hancur lebur pada hari kiamat, maka hal itu pasti akan membuat seseorang lebih berpikir dalam bertindak, atau tidak semena-mena dan tidak sesuka hatinya karena dengan apa yang dia lakukan di dunia akan dia pertanggungjawabkan kelak di akhirat.

Kapan Kiamat itu

Tidak ada makhluk Allah yang tahu kapan persisnya hari kiamat terjadi. Pengetahuan tentang itu hanya Allah yang tahu.  Dalam surat al-A’raf ayat 187 dinyatakan:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

Artinya: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia’.” 

Dalam al-Ahzab ayat 63 dinyatakan bahwa pengetahuan tentang kiamat itu adalah dari Allah, dan boleh jadi sudah dekat waktunya.

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

Artinya: “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” 

Walau dinyatakan boleh jadi sudah dekat tapi manusia tidak tahu kapan persisnya. Bahkan semenjak Rasulullah diutus pun sudah dikatakan dekat. Boleh jadi kedekatan akan datangnya kiamat itu dihubungkan dengan usia dunia yang sudah cukup tua, memanjang dari zaman Nabi Adam alaihis salam hingga Nabi terakhir Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Muslim:

بعثت انا والساعة كهاتين ويقرن بين اصبعية السبابة والوسطى

“Aku diutus (dan perbandingan antara masa diutusku dengan) hari kiamat adalah seperti ini (sambil menggandengkan kedua jari-jarinya, yaitu jari telunjuk dan tengah).”

Ada banyak pertanda situasi kapan kiamat itu terjadi, misalnya hadits di bawah ini yang menyatakan bahwa kiamat akan terjadi kepada seburuk-buruk manusia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ ». (رواه مسلم) ـ

Nabi bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada manusia paling buruk.” (HR Muslim)
 
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ الْخَلْقِ هُمْ شَرٌّ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَدْعُونَ اللَّهَ بِشَىْءٍ إِلاَّ رَدَّهُ عَلَيْهِمْ (رواه مسلم) ـ

Abdullah bin Amr bin ‘Ash: “Kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada manusia terburuk. Mereka lebih buruk dari pada Jahiliyah. Mereka tidak minta kepada Allah kecuali Allah menolaknya.” (Muslim) 

Gambaran seburuk-buruk manusia itu karena mereka sudah melupakan Allah, karena mereka sudah tidak mau menyebut nama Allah.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِى الأَرْضِ اللَّهُ اللَّهُ ». (رواه مسلم) ـ

Nabi bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat hingga di bumi tidak ada yang mengucapkan Allah Allah” (HR Muslim)

Dalam Surat Muhammad ayat 18, Allah menyatakan bahwa kedatangan kiamat itu terjadi secara tiba-tiba. Walau demikian, sebelum kedatangan itu ada tanda-tandanya. Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi dalam tafsir ad-Durrul Mantsur banyak meriwayatkan hadits tentang tanda-tanda kiamat, baik yang shughra atau kubra.
فَهَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم بَغۡتَةٗۖ فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَاۚ فَأَنَّىٰ لَهُمۡ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ ذِكۡرَىٰهُمۡ 

“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang.”

Sayyid Husain Affandi terkait tanda-tanda kiamat menyampaikan dalam kitab Al-Hushun al-Hamidiyah bahwa kedatangan Imam Mahdi adalah awal dari tanda kiamat kubra. Hal ini sesuai pula dengan pernyataan Syekh Amin al-Kurdy dalam Tanwir al-Qulub.

ثم إِذَا تصرم الزمان وقرب يوم القيامة ظهرت له علامات منها العلامات الصغرى التى ظهر منها فى هذا الزمان الكثير ومنها العلامات الكبرى وهي عشر ظهور المهدي وخروج الدجال ونزول سيدناعيسى عليه السلام وخروج يأجوج ومأجوج وخروج الدابة التى تكلم الناس وطلوع الشمس من مغربها وظهورالدخان ويمكث فى الأرض اربعين يوما يصيب الكافر حتى يصير كالسكران ويصيب المؤمن منه كهيئة الزكام وخراب الكعبة على يد الحبشة بعد موت عيسى عليه السلام ورفع القران من المصاحف والصدور ورجوع اهل الارض كلهم كفارا

“Apabila zaman itu hampir berakhir dan hari kiamat telah dekat, maka muncullah beberapa tanda. Di antara tanda itu ada tanda kecil yang telah muncul sebagian besarnya di zaman ini, dan di antaranya ada tanda besar yang jumlahnya ada sepuluh yaitu; munculnya al-Mahdi, keluarnya dajal, turunnya Isa, keluarnya yakjuj makjuj, keluarnya hewan yang dapat berbicara kepada manusia, matahari terbit dari barat, timbulnya asap selama  empat puluh hari yang menimpa orang kafir sehingga ia menjadi seperti orang yang mabuk dan menimpa orang beriman sehingga ia menjadi seperti orang yang flu, runtuhnya Ka’bah oleh orang habasyah setelah Isa wafat, diangkatnya Al-Qur’an dari mushhaf dan dada, serta kembalinya penghuni bumi pada kekufuran.”

Kiai Sahal Mahfudh dalam buku Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh menyatakan,

Jadi, sebenarnya kiamat bisa diperpanjang jatuh temponya oleh perilaku manusia sendiri, sepanjang masih berperilaku dengan ketentuan-ketentuan ilahiah (agama), tidak menampakkan tanda-tanda itu, maka insyaallah kiamat tidak akan buru-buru datang.

Apakah sekarang ini kita sudah mendekati hari kiamat, ada baiknya pertanyaan itu kita renungkan dalam hati sanubari masing-masing. Jangan-jangan kita sendirilah yang telah menjadikan kiamat semakin dekat karena perilaku yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan ilahiah.


Ustadz Yusuf Suharto, anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Ahad 24 Februari 2019 16:55 WIB
Ilmu Tauhid dan Pilpres 2019
Ilmu Tauhid dan Pilpres 2019
(Foto: @islamveateizm)
Ilmu tentang Tuhan (ketuhanan) disebut teologi. Dalam Islam disebut dengan Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid. Di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, mempelajari dan mengkaji Ilmu Tauhid ini sangat penting dan berhukum wajib. Karena, dengan Ilmu Tauhid, iman menjadi rasional dan benar. Tanpa Ilmu Tauhid, iman tidak mungkin bisa benar, bahkan sering kali menjadi hancur-hancuran.

Jika langsung merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, orang awam akan bingung dan dipastikan tidak dapat merumuskan ajaran tauhid yang benar. Oleh sebab itu, seorang ulama besar, Abul Hasan Al-Asy’ari (876 M-936 M) merumuskan konsep tauhid yang berkenaan dengan sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Tuhan.

Konsep tauhid ini kemudian disebut dengan “Akidah Lima Puluh” karena sifat wajib Tuhan ada dua puluh, sifat mustahil Tuhan ada dua puluh, dan sifat jaiz Tuhan ada satu (41); dan kemudian sifat wajib para rasul ada empat, sifat mustahil mereka ada empat, dan sifat jaiz mereka ada satu (9). Total semuanya menjadi lima puluh (Aqa'idil Khamsin).

Ilmu Tauhid ini menjadi semacam panduan berpikir untuk orang awam agar persepsi mereka terhadap Tuhan tidak keliru. Jika keliru, mereka bisa terjerumus pada persepsi yang salah, yang berujung pada kekacauan berpikir, dan tersesat karena cenderung menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.

Hal ini telah diperingatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dalam beberapa ayat, salah satunya Surah Al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 

Artinya, “Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya tersesat karena meninggalkan ilmu pengetahuan. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutup di penglihatannya. Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah? Maka, mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”

Contoh orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan kemudian pikirannya menjadi kacau: hari ini mau bela Tuhan, besok mengancam Tuhan.

Untuk itu, mari mengaji Ilmu Tauhid agar cara berpikir menjadi benar dan baik. Agama adalah ilmu. Ilmu agama itu dirumuskan oleh  para ulama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Ikutilah ulama yang memiliki latar belakang keilmuan yang jelas, dengan sanad yang pasti tersambung kepada Rasulullah SAW.

Jangan ikuti setan, baik setan dari bangsa jin maupun setan dari bangsa manusia. Ciri-ciri setan adalah gemar menyebar hoaks, kebencian, provokasi, rakus, dungu, dan gampang ngamuk-ngamuk. Wallahu a'lam.


(Wakil Katib PWNU DKI Jakarta Ustadz H Taufik Damas)
Jumat 22 Februari 2019 21:15 WIB
Benarkah Nabi Isa Sudah Wafat?
Benarkah Nabi Isa Sudah Wafat?
Aqidah kaum Muslimin yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam masih hidup dan belum meninggal dunia.

Allah menceritakan makar orang Yahudi dan bantahan terhadap anggapan-anggapan mereka dalam firman-Nya:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا 

“Karena ucapan mereka (orang Yahudi): ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’ , padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An-Nisa: 157)

Apa Benar  Allah Mewafatkan Nabi Isa?

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisa: 158).

Dalam tafsirnya, Imam Ibn 'Athiyyah mengatakan:

أجمعت الأمة على ما تضمنه الحديث المتواتر من أن عيسى في السماء حي، وأنه سينزل في آخر الزمان فيقتل الخنزير ويكسر الصليب ويقتل الدجال ويفيض العدل وتظهر به الملة – ملة محمد صلى الله عليه وسلم – ويحج البيت ويبقى في الأرض أربعا وعشرين سنة وقيل أربعين سنة

“Umat Islam sepakat terhadap makna yang disebutkan dalam banyak hadis yang mutawatir, bahwa Nabi Isa berada di langit, masih hidup. Dia akan turun di akhir zaman, membunuh babi, mematahkan salib, membunuh Dajjal, memenuhi bumi dengan keadilan, dan agama Muhammad ﷺ lah yang menjadi pemenang. Beliau juga berhaji ke Ka’bah, dan tinggal di muka bumi selama 24 tahun. Ada yang mengatakan selama 40 tahun.” (Al-Muharar al-Wajiz, 1/429)

Makna Kalimat “Allah Mewafatkanmu”

Sebelumnya saya ingatkan satu prinsip, kembalikan bahasa kepada yang punya. Al-Qur’an Allah turunkan berbahasa Arab. Untuk menjawab pertanyaan mengenai makna kandungan Al-Qur’an, kembalikan kepada mereka yang paham bahasa Arab.

Kita tidak mungkin mengembalikan tafsir Al-Qur’an kepada keterangan pendeta atau orang Nasrani. Mereka tidak memiliki kapasitas dalam hal ini. Kecuali jika kita memiliki prinsip bebas nilai, semua relatif, sehingga tidak ada standar kebenaran.

Ayat yang dimaksudkan adalah firman Allah:

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu." (QS. Ali Imran: 55)

Kata يتوفى itu beragam arti. Ada yang artinya mewafatkan, tapi tidak mesti lepas nyawanya. Orang yang tidur, pingsan itu juga bisa dikatakan "wafat”.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ

Bagaimana Pandangan Para Ulama? 

Imam Al-Hasan al-Bashri menyatakan:

قال الحسن البصري: الوفاة في كتاب الله عزّ وجلّ على ثلاثة أوجه: وفاة الموت، وذلك قوله تعالى: اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِها [المائدة ٥/ ١١٧] يعني وقت انقضاء أجلها. ووفاة النوم قال الله تعالى: وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ [الأنعام ٦/ ٦٠] يعني الذي ينيمكم.
ووفاة الرّفع قال الله تعالى: يا عِيسى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ [آل عمران ٣/ ٥٥]

Maka Imam Al Hasan Al Bashry memerinci kata wafat dalam Al-Qur’an terdapat 3 makna berbeda.

1. Wafat bermakna mati dalam Al Maidah ayat 117
2. Wafat bermakna tidur dalam Al An'am ayat 60
3. Wafat bermakna diangkat dalam Ali Imran ayat 55

Selaras dengan Imam al-Hasan al-Bashri kita simak pula keterangan Ibn Al Jauzi. Beliau menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang masalah ini. 

Pertama, kata mutawaffiika (مُتَوَفِّيكَ) artinya bukan “mematikan kamu”.

Kata tawaffa (التوفى) diturunkan dari kata Istifa’ Al Adad (استيفاء العدد) yang artinya memenuhi dan menyempurnakan.

Sehingga makna: “inni mutawaffiika” (إِنِّي مُتَوَفِّيكَ) = Aku angkat dirimu dari bumi dalam kondisi sempurna, utuh, tidak mendapatkan dampak buruk sedikit pun dari usaha orang yahudi.

Ini pula yang merupakan pendapat al-Hasan al-Bashry, Ibn Juraij, Ibn Qutaibah, dan yang dipilih oleh Al-Farra’.

Dalam Tafsir Ibn Katsir juz 2 hal 40, Imam al-Hasan al-Bashri menyatakan:

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ، عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ في قوله تعالى: إِنِّي مُتَوَفِّيكَ يَعْنِيوَفَاةَ الْمَنَامِ، رَفَعَهُ اللَّهُ فِي مَنَامِهِ. قَالَ الْحَسَنُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْيَهُودِ «إِنَّ عِيسَى لَمْ يَمُتْ، وَإِنَّهُ رَاجِعٌ إِلَيْكُمْ قَبْلَ يَوْمِ الْقَيَّامَةِ

Al-Imam al-Hasan al-Bashry berkata: Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Sungguh Isa ‘alaihissalam belum wafat dan dia akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat

Di antara dalil pendukung pendapat ini adalah firman Allah:

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Setelah Engkau menyempurnakanku, Engkau yang mengawasi mereka. Dan Engkau menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS. Al Maidah: 117)

Jadi, makna ayat, “setelah Engkau mengangkatku…” karena penyimpangan orang nasrani dilakukan setelah beliau diangkat oleh Allah.

Dalam Tafsir Khazin juz 2 hal 95

فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي يعني فلما رفعتني إلى السماء فالمراد به وفاة الرفع لا الموت

Yang dimaksud dengan wafat pada ayat tersebut adalah diangkat ke langit bukan mati

Dalam Tafsir Al Munir karya Syekh Wahbah Az-Zuhaily, juz 7, hal 22 dinyatakan:

وأغلب المفسرين على أن المراد بقوله: فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي وفاة الرّفع إلى السماء، لقوله تعالى: إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرافِعُكَ إِلَيَّ 

Kebanyakan ahli tafsir Al-Qur’an mengatakan bahwa wafat Isa itu maksudnya adalah kenaikan Isa

Kedua, kata mutawaffiika (مُتَوَفِّيكَ) artinya mewafatkan kamu, dalam arti mencabut nyawamu.

Namun ini bukan berarti membenarkan keyakinan Yahudi bahwa Nabi Isa telah meninggal ketika itu. Akan tetapi, ayat ini mengalami taqdim wat ta'khir (perubahan urutan). Sehingga, yang seharusnya di belakang, ditaruh di depan. Dan pola bahasa taqdim wat ta'khir ini sudah dikenal oleh masyarakat Arab.

Sehingga tafsir ayat:

إِنِّي رَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُتَوَفِّيكَ

“Aku mengangkatmu dan mewafatkanmu…”

Artinya, wafatnya Nabi Isa ‘alaihissalam. baru terjadi setelah beliau diangkat oleh Allah ke langit, kemudian nanti akan diturunkan kembali ke bumi.

Ini adalah pendapat Az-Zajjaj dan Al-Farra’ dalam salah satu pendapatnya.

Said bin Musayib mengatakan, “Nabi Isa diangkat di usia 33 tahun.” (Zadul Masir, 1/347)

Jadi, bila ada klaim orang nasrani, Yahudi atau orang liberal (yang menggunakan pemikirannya sendiri dalam menafsirkan Al-Qur’an dan Al Hadits) bahwa ada yang bertentangan dalam Al-Qur’an atau tidak layak karena bertentangan dengan logika manusia pada umumnya, itu sebabnya karena mereka gagal paham terhadap firman Allah. Karena mereka berbicara di luar kapasitasnya. Andai mereka diam, tentu saja lebih terhormat.


Ustadz Abdul Aziz AR, Khadim di Pondok Pesantren Falahul Mukhlasin Baujeng, Beji, Pasuruan; Pengurus Aswaja NU Center PWNU Jatim