IMG-LOGO
Hikmah

Kebingungan Imam Ibnu Wahb karena Hafal Banyak Hadits

Rabu 27 Maret 2019 16:30 WIB
Share:
Kebingungan Imam Ibnu Wahb karena Hafal Banyak Hadits
Ilustrasi (via wejdan.org)
Dalam kitab Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik karya Qâdi ‘Iyâd (w. 544 H) tercatat pernyataan kebingungan Imam Abdullah bin Wahb (w. 197 H):

وكنت أنا آتي مالك وهو شاب قوي، يأخذ كتابي فيقرأ منه، وربما وجد فيه الخطأ فيأخذ خرقة بين يديه فيبلها في الماء فيمحوه، ويكتب لي الصواب. قال ابن وهب: لولا أن الله أنقذني بمالك والليث لضللت. فقيل له: كيف ذلك؟ قال: أكثرت من الحديث فحيرني. فكنت أعرض ذلك على مالك والليث، فيقولان لي: خذ هذا ودع هذا

Aku mendatangi Malik, seorang pemuda luar biasa. Dia mengambil bukuku dan membacanya. Ketika dia menemukan kesalahan di dalamnya, dia mengambil kain di antara tangannya lalu menyelubkannya ke dalam air dan menghapusnya. Dia pun mencatatkan untukku apa yang benar.

Ibnu Wahb berkata: “Jika saja Allah tidak menyelamatkanku melalui perantara Malik dan al-Laitsi, aku pasti telah sesat.”

Kemudian dikatakan kepadanya: “Kenapa bisa begitu?”

Ibnu Wahb menjawab: “Aku hafal banyak hadits hingga membuatku bingung. Lalu kusampaikan kebingunganku kepada Malik dan al-Laitsi. Keduanya berkata kepadaku: “Ambil ini dan tinggalkan yang ini.” (Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, Mohammedia (Marokko): Mathba’ah Fadlalah, tt, juz 3, hlm 236)

****

Abdullah bin Wahb adalah ulama terkemuka. Murid dari ulama-ulama besar seperti Sufyan al-Tsauri (97-161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (107-198 H), al-Laits bin Sa’d (94-175 H), Malik bin Anas (93-179 H) dan lain sebagainya. Ia juga menghasilkan banyak murid luar biasa seperti Sa’id bin Manshur (w. 227 H), Ali bin al-Madini (161-234 H), Qutaibah bin Sa’id (150-240 H), dan masih banyak murid lainnya.

Para ulama sangat menghormatinya. Ia dikenal sebagai ahli fiqih dan hadits yang mumpuni. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya. Kejujuran dan keilmuannya tidak diragukan sehingga membuat hadits-hadits yang disampaikannya berkedudukan tinggi. Imam Yahya bin Ma’in (w. 233 H) dan Imam al-Nasa’i (w. 303 H) mengatakan, “Ibn Wahb tsiqqah—Ibnu Wahb terpercaya.” Imam Abu Hatim al-Razi (w. 277 H) memberinya predikat sangat terpercaya. Menurut Imam Ahmad bin Shalih, Ibnu Wahb hafal ratusan ribu hadits. ((Abû al-Fadl al-Qâdi ‘Iyâd bin Mûsâ, Tartîb al-Madârik wa Taqrîb al-Masâlik, juz 3, hlm 232)

Jika seorang Ibnu Wahb yang hafal ratusan ribu hadits dan belajar agama secara tradisional (berjenjang) masih terserang kebingungan dalam memahami agama, bagaimana dengan kita yang mempelajari agama sepotong-potong. Hanya bermodalkan satu hadits sudah berani menyalahkan dan menghakimi lainnya. Padahal, bangunan hukum tidak cukup hanya mengandalkan satu hadits saja.

Contohnya hadits, “lahm al-baqar dâ’un—daging sapi adalah penyakit.” Hadits ini dipandang bermasalah oleh banyak ulama meskipun dipandang shahih oleh Syekh al-Albani (w. 1999 M). Salah satu kritik datang dari Syekh Muhammad al-Ghazali (w. 1996 M) yang mengatakan:

وفي هذه الأيام صدر تصحيح من الشيخ الألباني لحديث "لحم البقر داء", وكل متدبر للقرآن الكريم يدرك أن الحديث لا قيمة له, مهما كان سنده. إن الله تعالي في موضعين من كتابه أباح لحم البقر, وامتنّ به علي الناس, فكيف يكون داءً؟

“Akhir-akhir ini telah muncul penshahihan dari Syekh al-Albani terhadap hadits “daging sapi adalah penyakit.’ Padahal, setiap orang yang mencermati Al-Qur’an akan tahu bahwa hadits tersebut tidak ada nilainya, bagaimanapun keadaan sanadnya. Sesungguhnya Allah, dalam dua tempat di kitabNya menghalalkan daging sapi dan mengaruniakannya kepada manusia, maka bagaimana mungkin daging sapi adalah penyakit?” (Syekh Muhammad al-Ghazali, al-Sunnah al-Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits, Kairo: Darul Kitab al-Mishr, 2011, hlm 22)

Dua tempat dalam kitabNya yang dimaksud Syekh Muhammad al-Ghazali adalah Surah Al-An’am ayat 142-144 dan Al-Hajj ayat 36. Surah Al-An’am 142-144 berisi keterangan bahwa binatang ternak itu ada dua macam; untuk pengangkutan dan disembelih. Kemudian Allah memerintahkan manusia agar memakan rizki halal yang dikaruniakan Allah kepada mereka termasuk di dalamnya domba, kambing, unta, sapi dan seterusnya. Surah berikutnya, Al-Hajj ayat 36 berisi tentang penjelasan bahwa Allah telah menjadikan hewan-hewan al-budn sebagai bagian dari syiarnya dan manusia memperoleh kebaikan darinya, serta perintah menyebut nama Allah ketika menyembelihnya. Maksud dari hewan-hewan al-budn adalah unta, sapi, dan kerbau.

Ini baru contoh kecil saja, belum memasuki aspek metodelogi yang lebih kompleks. Kita perlu hati-hati membaca terjemahan ayat atau hadits, karena teks asli dengan terjemahan itu tidak setara. Terjemahan Al-Qur’an tidak bisa lepas dari pemaknaan mufassir. Sedangkan satu mufassir dengan mufassir lainnya bisa berbeda dalam memaknainya, bahkan di kalangan sahabat nabi pun terjadi perbedaan itu.

Maka, seperti yang dilakukan Imam Abdullah bin Wahb, kita harus mendengar dan membaca pandangan para pakar yang benar-benar ahli di bidangnya. Seorang Ibnu Wahb saja kebingungan untuk memilih mana hadits yang harus diamalkan karena bermacam-macamnya tipe hadits. Terkadang, di hadits yang bertema sama, satunya bersifat ‘amm (umum), satunya bersifat khas (khusus). Belum lagi jika terjadi ta’ârudl bainal adillah (kontradiksi antar dalil), yang menurunkan sekian banyak konsep penyelesaiannya, dari mulai al-jam’u bainahumâ (dikompromikan antara keduanya) sampai nashul mutaqaddim bil muta’ahhir (menghapus yang lebih dulu dengan yang belakangan). Lalu ada al-nash wal mansûh dan seterusnya.

Karena itu, ia bertanya kepada Imam Malik dan Imam al-Laitsi, dua orang mujtahid besar tentang hadits-hadits yang dihafalnya. Dalam gambaran ringkas, Imam Malik dan Imam al-Laistsi menjawab: “ambil ini, dan tinggalkan yang ini.” Artinya, terjadi proses belajar-mengajarnya yang panjang. Apa yang dikemukakan di atas adalah gambaran sederhana dari proses panjang itu. Sebab, untuk bisa mengatakan, “ambil ini dan tinggalkan yang ini,” Imam Malik dan Imam al-Laitsi harus terlebih dahulu mendengarkan puluhan ribu hadits yang dihafal Ibnu Wahb, agar hadits-hadits itu dapat diukur dengan standar metodelogi yang dipakai keduanya. Sejak saat itu, ia menjadi murid Imam Malik yang sangat berpengaruh dalam penyebaran Mazhab Maliki. Ia tidak lagi sekedar ahli hadits, tapi juga ahli fiqih seperti gurunya.

Riwayat di atas menunjukkan pentingnya belajar agama secara berkala pada guru yang jelas sanad keilmuannya. Karena itu, kita harus tetap berpegang teguh pada tradisi beragama yang ditinggalkan para salafus shalih, yaitu beragama dengan ilmu, belajar secara berjenjang, serta selalu memohon petunjuk Allah agar dimudahkan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Semoga kita bisa terus melestarikannya. Amin.

Semoga bermanfaat....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Selasa 26 Maret 2019 12:30 WIB
Ketika Sayyidina Husain Dihina
Ketika Sayyidina Husain Dihina
قيل عن الحسين بن علي رضي الله عنهما أنه بلغه عن رجل كلام يكرهه فأخذ طبقًا مملوءًا من التمر الجني وحمله بنفسه إلي دار ذلك الرجل فطرق الباب فقام الرجل وفتح الباب فنظر إلي الحيسن ومعه الطبق فقال: وما هذا يا ابن بنت رسول الله؟ قال: خذه فإنه بلغني عنك أنك أهديت إليّ حسناتك فقابلت بهذا

Dikisahkan tentang Sayyidina Husain bin Ali radiyallahu ‘anhumâ bahwa telah sampai kepadanya perkataan seseorang yang tidak menyenangkannya, kemudian ia mengambil piring besar dan memenuhinya dengan kurma yang baru saja dipetik. Ia membawanya sendiri ke rumah orang yang berkata tidak menyenangkan itu.

Sayyidina Husain mengetuk pintu rumah orang itu. Orang itu berdiri membukanya. Ia melihatnya membawa piring besar yang penuh dengan kurma. Orang itu bertanya: “Apa ini, wahai cucu Rasulullah?”

Sayyidina Husain menjawab: “Ambillah piring penuh kurma ini, karena telah sampai kepadaku bahwa kau telah menghadiahkan amal kebaikanmu padaku, maka aku ganti dengan ini.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1988, hlm. 24-25)

****

Penghinaan seringkali disikapi dengan kemarahan. Itu bukan hal yang aneh, karena memang wajar. Siapa pun yang dihina, dia akan tersinggung dan marah. Pertanyaannya, ke mana kemarahan itu menuju dan menjadi apa kemarahan itu? 

Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukhari): “lâ taghdab—jangan marah.” Tidak hanya berhenti sampai di situ, dalam riwayat lain terdapat tambahan (HR Imam al-Thabrânî): “lâ taghdab, wa laka al-jannah—jangan marah dan untukmu surga.” Dengan kata lain, kemarahan bisa membuat orang kehilangan peluang masuk surga dan mengantarkannya lebih dekat ke pintu neraka. Untuk memperjelas, mari kita kaji lebih dalam lagi.

Apa yang dilakukan Sayyidina Husain dalam kisah di atas tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia membawa formula “lâ taghdab” ke tingkat yang lebih tinggi, tidak sekedar bermain di wilayah menahan (sabar), tapi juga memasuki wilayah bersyukur. Kita tahu, kompetensi dasar “tidak marah” adalah menahan diri (sabar). Dengan menahan diri, Allah sudah menjanjikan kita surga. Dan perlu diingat, menahan diri itu tidak mudah. Siapapun orangnya pasti pernah mengalaminya, yang membedakannya adalah berubah menjadi apa kemarahan itu.

Dalam kisah di atas, Sayyidina Husain menampilkan sikap yang sukar dimengerti oleh manusia pada umumnya. Ia mengekspresikan kemarahannya dengan wajah syukur. Memberikan sepiring besar kurma sebagai ganti amal baik yang telah berpindah kepadanya. Karena dalam Islam ada hukum yang mengajarkan, jika ada orang yang bicara buruk tentang seseorang, amal baiknya akan berpindah ke orang yang dibicarakannya. 

Sayyidina Husain tidak mau menerima amal baik orang lain dengan cuma-cuma. Ia harus menggantinya dengan sesuatu yang langsung terasa manfaatnya oleh orang tersebut. Bagaimana tidak, ia telah mendapatkan manfaat langsung dari ucapan buruk orang tersebut, maka ia harus melakukan hal yang sama, memberikan sesuatu yang bermanfaat secara langsung padanya. Baginya, mengambil manfaat tanpa mendermakan balasan yang setara termasuk perbuatan yang tidak terpuji. 

Jauh sebelum Sayyidina Husain, Nabi Isa as pernah menyampaikan nasihat kepada Nabi Yahya as agar menghadapi gunjingan dan kebohongan dengan syukur kepada Allah. Artinya, pola sikap semacam ini merupakan sikap yang ditunjukkan oleh para nabi, kemudian diteruskan oleh para wali dan ulama yang shalih. Nabi Isa as berkata:

وإن قال فيك كذبًا فازددْ من الشكر فإنه يزيد في ديوان أعمالك وأنت مستريح، يعني أن حسناته تكتب لك في ديوانك

“Jika seseorang berkata dusta tentang dirimu, maka tambahkan syukurmu. Karena sebenarnya dia sedang menambah amalmu di buku catatan (amalmu) dan kau pun menjadi orang yang damai. Maksudnya adalah bahwa amal baik orang itu akan dicatat atas namamu dalam buku catatan (amalmu).” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, 1988, hlm. 24)

Dilihat dari sudut pandang lain, sebagai penerus tradisi para nabi, tindakan Sayyidina Husain juga menunjukkan keadilan yang luar biasa. Dengan menerima hinaan atau gunjingan dari orang lain, ia mendapatkan dua kebaikan sekaligus; kebaikan dari keberhasilannya menahan amarah, dan kebaikan dari pindahnya amal baik orang lain kepadanya. Karena itu, ia memberikan sesuatu sebagai bentuk keadilan kepada orang yang telah berjasa kepadanya, meski jasa itu dilakukan dengan cara yang tidak beretika.

Selain itu, ia juga menampakkan akhlak mulia. Sikapnya berhasil meninggalkan kesan mendalam di hati si penggunjing atau penghinanya. Bisa jadi ini merupakan gambaran paling sesuai mengenai dakwah bil hikmah. Dakwah yang muncul dari penerapan kaidah agama di tataran ideal tertingginya, sehingga menyentuh hati orang tanpa harus membuat-buat sesuatu.

Ini membuat kita jadi tahu bahwa satu ajaran agama jika diamalkan dalam tataran idealnya dapat membuka banyak pintu amal-amal lainnya. Berbeda jika pengamalan ajaran agama berada di batas “hanya sekedarnya saja”. Misalnya anjuran “lâ taghdab—jangan marah” dilakukan hanya sekedarnya saja tanpa membawanya ke wilayah syukur, adil dan wilayah-wilayah lainnya. 

Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan pakem “mengamalkan agama semampunya.” Karena bahasa “semampunya” sebenarnya bahasa yang tidak memiliki batas yang jelas, tergantung pada setiap individu. Artinya setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda-beda. Kemampuan manusia berkembang setiap harinya. Jadi, yang perlu dilakukan oleh manusia adalah melebarkan ruang kemampuannya untuk meningkatkan pengamalan agamanya ke level yang lebih tinggi. Yang terpenting adalah jangan sampai berlebih-lebihan.

Kesimpulannya, kisah di atas merupakan pelajaran besar bagi kita agar meningkatkan standar kompetensi kita tentang “jangan marah”. Bahwa sabar tidak hanya diam menerima hinaan dan gunjingan, tapi mewujud juga dalam bentuk syukur dan adil. Kita pun harus sadar bahwa kita sedang menerima kebaikan (pahala) dari orang yang berbicara buruk tentang kita. Jika kita sadar akan hal itu, harapannya kita akan lebih mudah menerima semua kebencian tentang kita. Pertanyaannya, pernahkah kita mengatakan “jangan marah” di saat kita sedang marah?

Semoga bermanfaat...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.

Selasa 26 Maret 2019 7:30 WIB
Kenapa Kiai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad? Ini Kata Gus Baha’
Kenapa Kiai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad? Ini Kata Gus Baha’
Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian belahan dunia Timur Tengah habis dilanda konflik secara bergantian. Bahkan, di antara tokoh Timur Tengah, ada yang menyerukan jihad melalui jalur perang. Di Indonesia hanya ada sekelompok kecil saja dari orang yang suka membahas tema-tema perang, jihad dan lain sebagainya. Rata-rata, yang suka mengutak-atik dan berfatwa berkaitan jihad melalui jalur keras itu bersumber dari mereka yang ilmu dasar agama mereka minim. Selebihnya, apalagi para kiai yang ilmunya mendalam secara akademik berusaha menghindari fatwa-fatwa konflik.

Di kitab-kitab salaf (klasik) yang dikaji di berbagai pesantren Indonesia, dalam urusan membahas hukum, kajian fiqih yang paling dikedepankan paling utama adalah tata cara beribadah dengan baik (ubudiyyah). Setelah ilmu ibadah mapan, baru kemudian melanjutkan ke jenjang kajian muamalah (undang-undang transaksi), lalu bab nikah. Setelah itu, baru dibahas jihad, dan lain sebagainya. Jihad dalam arti perang dikaji oleh santri-santri yang ilmunya sudah cukup purna. Bukan malah mendahulukan bab jihad daripada bab shalat. 

Mengapa guru-guru kita (para kiai) di Indonesia menghindari membahas tema-tema ekstrem atau tema-tema keras?

KH Bahaudin Nur Salim, Narukan, Kragan, Rembang, memberikan alasan yang bersumber dari sebuah hadits berikut:

يعذب اللسان بعذاب لا يعذب به شىء من الجوارح فيقول يا رب عذبتنى بعذاب لم تعذب به شيئا من الجوارح فيقال له خرجت منك كلمة بلغت مشارق الأرض ومغاربها فسفك بها الدم الحرام وأخذ بها المال الحرام وانتهك بها الفرج الحرام فوعزتى لأعذبنك بعذاب لا أعذب به شيئا من الجوارح 

Artinya: “Mulut akan disiksa dengan siksaan yang tidak akan dibebankan pada satu anggota tubuh pun. Lalu mulut bertanya kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan, mengapa Engkau menyiksaku dengan siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada anggota mana pun selain aku?’ Tuhan menjawab, ‘Ada kata-kata yang menembus jajahan timur dan barat. Dengan kalimat itu, darah yang terhormat malah menjadi mengalir, harta haram menjadi terampas, kelamin yang dilindungi malah menjadi terkoyak. Maka, demi keagungan-Ku, Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak pernah dipikul oleh anggota tubuh mana pun’.” (Jâmiul Ahâdits: 28617)

Jadi, menurut Gus Baha’, fatwa-fatwa serius yang nantinya akan membuat orang berubah menjadi ekstremis, sengaja dihindari para kiai karena berisiko memicu perpecahan, chaos, bahkan safkud dimâ’ (pertumpahan darah).

“Anda jangan pernah berfatwa dengan meluncurkan satu kalimat, yang dengan kalimat itu, bisa saja darah-darah orang yang seharusnya dihormati, malah justru mengalir (pembunuhan),” pesan Gus Baha’. 

Lebih lanjut beliau menjelaskan, sudah menjadi tradisi, ulama-ulama dari dahulu itu secara turun-temurun selalu menghindari pembahasan ini. Bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena takut jika salah fatwa bisa menimbulkan pertumpahan darah. Dan itu yang dihindari oleh Sayyidina Hasan bin Ali saat ‘konflik’ dengan Muawiyah.

Waktu itu, Sayyid Hasan bin Ali lebih memilih mengalah. Alasannya menurut Hasan, bisa jadi kepemimpinan yang berhak semestinya adalah Muawiyah, maka dengan ikhlas Hasan bin Ali menyerahkannya. Atau jika terjadi kemungkinan lain, misalnya Hasan bin Ali yang justru mempunyai hak menduduki jabatan itu, karena dalam rangka beliau ingin tetap menjaga supaya tidak terjadi pertumpahan darah, Hasan bin Ali berniat memberikan haknya kepada Muawiyah agar darah semua umat Islam terlindungi. 

Sayyid Hasan menutup perkataannya dengan sebuah ayat: 

وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Artinya: “Dan aku tidak tahu, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” (QS Al-Anbiya’: 111) 

Dari cerita Gus Baha’ tersebut, dapat kita pahami bahwa konflik di atas menimbulkan dugaan dari pribadi Hasan bin Ali, jangan-jangan konflik yang terjadi antara orang-orang yang mendukung beliau dengan kelompok Muawiyah hanya sebuah fitnah atau ujian dari Allah subhânahû wa ta’âlâ saja. Sehingga beliau lebih memilih jalur menyelamatkan pertumpahan darah daripada mengutamakan kekuasaan, meskipun beliau berhak berkuasa. Terlebih lagi, kalau Hasan tidak berhak, maka tidak ada satu alasan pun untuk mempertahankan kekuasaan itu sendiri dengan cara menumpahkan darah manusia. Pemikiran tersebut juga sangat kental di telinga kita sebagaimana yang pernah digelorakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam detik-detik Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden, sangat banyak orang yang beriktikad menyerbu Jakarta, ingin membela Gus Dur. Gus Dur menahan mereka. Menurut Gus Dur, darah manusia lebih berharga ketimbang jabatan apa pun, termasuk presiden sekalipun. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati-matian,” kata Gus Dur. (Ahmad Mundzir)

Senin 25 Maret 2019 17:30 WIB
Ketika Ahli Ibadah Bangkrut di Akhirat
Ketika Ahli Ibadah Bangkrut di Akhirat
Ilustrasi (Ist.)
Suatu saat nanti di akhirat akan ada seseorang yang bergegas lari menuju pintu surga. Dengan modal kepercayaan diri, karena banyak pahala amal ibadah yang dilakukannya selama hidup di dunia, orang ini pun yakin jika ia akan masuk dan menikmati nikmatnya surga.

Namun sesampainya ia di pintu surga, Malaikat Ridwan menghentikan langkahnya dan terjadilah percakapan di antara keduanya.

"Mau kemana kamu, kok kelihatannya terburu-buru sekali?" tanya Malaikat Ridwan sambil menghentikan langkah orang tersebut.

"Aku mau masuk surganya Allah sebagaimana janji Allah kepada manusia. Allah akan memasukkan ahli ibadah yang banyak menyembah kepada-Nya," jawab orang tersebut sambil menyebutkan berbagai ibadahnya di dunia seperti shalat, puasa, sedekah, haji dan sejenisnya.

Sambil tersenyum, Malaikat Ridwan pun balik bertanya.

"Sebelum masuk surga, terlebih dahulu aku mau bertanya, kenapa orang-orang yang berada di belakangmu itu pada berlari-lari mengejar-ngejar dan memanggilmu?" tanya Malaikat Ridwan sambil menunjuk sekelompok orang yang berlari-lari dengan tergopoh-gopoh mengejar si ahli ibadah ini.

"Silahkan selesaikan dulu urusanmu dengan mereka," kata Malaikat Ridwan sambil berlalu meninggalkannya.

Salah satu dari orang yang mengejar pun berkata bahwa ada hal yang perlu diselesaikan dan dipertanggungjawabkan oleh si ahli ibadah kepadanya.

"Aku minta pertanggungjawabanmu karena semasa hidup, kamu telah menyakiti hatiku. Sampai kita meninggal dunia kamu belum minta maaf kepadaku," jelasnya kepada si ahli ibadah.

"Ya. Aku memang pernah menyakitimu. Tapi sekarang maafkanlah. Izinkan aku masuk ke surga," pinta si ahli ibadah.

"Tunggu dulu. Sebagai penebus kesalahanmu maka aku meminta pahala amal ibadah puasamu untukku," pintanya kepada si ahli ibadah.

Tak berhenti sampai di sini, orang-orang yang mengejar ahli ibadah ini pun satu persatu meminta pertanggungjawaban atas kesalahan yang dibuatnya dan harus diganti dengan pahala amal ibadahnya.

Satu persatu amal ibadahnya di dunia seperti  pahala shalat berjamaah, puasa, sedekah dan sebagainya pun habis untuk menebus dosa kepada manusia yang pernah ia sakiti.

Tinggal satu orang tersisa meminta pertanggungjawaban. Sebelum orang terakhir bertanya si ahli ibadah ini pun berkata.

"Maaf aku tidak punya pahala amal ibadah lagi yang bisa ku berikan kepadamu atas kesalahan tingkah lakuku kepadamu. Maafkanlah aku," pinta si ahli ibadah.

"Tidak. Aku tetap meminta pertanggungjawabanmu. Kalau kamu tidak punya pahala lagi untuk ku, maka kamu harus menerima semua dosa yang aku perbuat selama di dunia," ucapnya.

Akhirnya si ahli ibadah ini pun harus menerima dosa kesalahan orang lain sekaligus menerima nasib tidak masuk ke surga, tempat yang diidam-idamkannya. Sebaliknya ia harus merasakan siksa neraka karena perbuatannya tersebut.

Dari kisah ini kita bisa mengetahui golongan orang-orang Muflis (merugi). Golongan ini adalah orang yang merasa amal ibadahnya banyak namun tidak menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Dari kisah ini juga kita bisa mengambil hikmah untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah dan juga dengan sesama manusia. Jangan sampai kita fokus beribadah namun tingkah laku kepada sesama manusia tidak dijaga dengan baik.

Ucapan menyakitkan hati, hutang piutang, mengambil hak orang lain dengan sengaja , besar ataupun kecil harus segera diselesaikan di dunia. Jika tidak diselesaikan, maka akan dipinta tanggungjawabnya di akhirat.

Bukan hanya kepada sesama Muslim. Hubungan baik juga harus tetap dijalin baik dengan pemeluk agama lain. Jangan sampai karena merasa paling benar, kita secara terang-terangan langsung menyalahkan dan menyakiti hati mereka.

Hak adami tetap harus dipertanggungjawabkan dengan terus menjaga dan meningkatkan frekwensi ibadah kita kepada Allah. Semoga kita terhindar dari kebangkrutan pahala amal ibadah dan semoga kita termasuk insan yang mampu menjaga ritme kebaikan baik Hablun minalllah maupun Hablun minanas.

Muhammad Faizin, Redaktur NU Online. Disarikan dari mauidzah hasanah KH Yusuf Chudlori pada Pengajian Seninan bersama masyarakat Tegalrejo dan sekitarnya di Masjid Al Mujahidin Kauman Tegalrejo Magelang, Senin (25/3/2019).