IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya

Rabu 27 Maret 2019 8:45 WIB
Share:
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
(Foto: @musi.org.my)
Hadits dhaif memiliki banyak pembagian. Sebagian pembagian yang maklum dalam materi musthalahul hadits adalah pembagian hadits dhaif dalam segi terputusnya sanad. Salah satu hadits dhaif dalam kategori ini adalah hadits mu’dhal.

Hadits Muʽdhal adalah hadits yang perawinya hilang dua atau lebih secara berturut-turut.

Contoh hadits mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaṭṭa’.

بلغني عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلف من العمل إلا ما يطيق

Artinya, “Telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah RA sungguh Rasul SAW bersabda, ‘Berikan makanan dan pakaian yang layak kepada para budak. Jangan bebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka sanggupi.’”

Menurut Imam Al-Hakim, hadits tersebut adalah hadits muʽdhal karena Imam Malik membuang dua perawi, yakni Muhammad bin ʽAjlan dan ‘Ajlan. Seharusnya dua nama itu disebutkan sebelum Abu Hurairah RA, (Lihat Mahmūd At-Thaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M] halaman 92).

Selain hadits di atas, Imam As-Suyuthi menyebutkan beberapa hadits mu’dhal lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hal ini disebut sebagai “Balagha Imam Malik”. Namun, menurut Imam As-Suyuthi, tidak semua “Balagha Imam Malik” dhaif karena muʽdhal.

Ibn Abdil Barr meneliti sekitar 60an hadits, dan menemukan sanad lain yang muttasil selain dari Imam Malik, kecuali empat hadits berikut:

Pertama, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul tidak lupa, tetapi dibuat lupa oleh Allah untuk memberikan pengajaran.

إِنِّي لَا أَنْسَى وَلَكِنْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ

Artinya, “Sesungguhnya aku tidak lupa, tetapi dibuat lupa (oleh Allah) untuk mengajarkan sunnah.”

Kedua, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul pernah diperlihatkan manusia yang paling panjang umurnya.

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ أُرِىَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ فَكَأَّنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW diperlihatkan umur manusia sebelum umatnya yang paling panjang atau atas kehendak Allah, seolah-olah (umur yang paling panjang dari umat sebelumnya) itu lebih pendek dari umatku yang paling panjang umurnya.”

Ketiga, hadits terkait pesan Rasul kepada Muʽadz agar memperbaiki akhlaknya.

قَوْلُ مُعَاذٍ: آخِرُ مَا أَوْصَانِي بِهِ رَسُولُ الله وَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلَيَّ فِي الغَرْزِ أَنْ قَالَ: «أَحْسِن خُلُقَكَ لِلنَّاس

Artinya, “Muadz berkata, ‘Kalimat terakhir yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepadaku dan aku saat itu meletakkan kedua kakiku di sebuah batang kayu. Rasul berkata, ‘Perbaikilah akhlakmu untuk manusia.’’”

Keempat, hadits tentang munculnya sesuatu dari arah laut (awan) maka tanda akan terjadi hujan.

إذَا أنْشَأت بَحْرية, ثمَّ تَشَاءمت, فتلكَ عَيْنٌ غديقة

Artinya, “Jika sesuatu (awan) muncul dari arah laut. Kemudian awan itu naik, maka itu adalah tanda air yang banyak (hujan),’ (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrībin Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002 M], halaman 153). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Share:
Selasa 26 Maret 2019 15:45 WIB
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
(Foto: @ss.lv)
Mursal adalah hadits yang hilang atau tidak disebutkan perawi dari golongan sahabat. Ciri hadits mursal adalah sebuah hadits yang disampaikan oleh tabi’in (baik tabi’in kecil maupun besar) tanpa menyebutkan nama sahabat, dan langsung menyebut nama Rasulullah SAW.

Jika ada tabiin yang menyebutkan hadits langsung dari Rasul, maka hadits tersebut adalah hadits mursal karena secara teknis seorang tabi’in tidak akan mendapatkan hadits tanpa sahabat.

Contoh hadits mursal bisa kita lihat dalam Ṣaḥīḥ Muslim, dalam pembahasan jual-beli (Kitābul Buyū’) berikut:

حدثني محمد بن رافع، ثنا حجين، ثنا الليث، عن عقيل، عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب أن رسول الله ﷺ نهى بيع عن المزابنة

Dalam hadits tersebut, Saʽid bin Musayyab adalah seorang tabi’in kabir, namun meriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW. Padahal seorang tabi’in tidak mungkin bertemu dengan Rasul. Ia pasti mendengar hadits tersebut dari sahabat. Sayangnya, sahabat tersebut tidak disebutkan.

Sebagaimana hadits muʽallaq, mursal juga tergolong hadits yang tertolak (mardūd) karena hilangnya salah satu syarat hadits sahih, yakni ittiṣālus sanad (tersambungnya sanad). Namun para ulama berbeda pendapat, karena yang hilang dari hadits mursal adalah rawi sahabat, sedangkan para sahabat sudah divonis adil sehingga tidak disebutkannya nama sahabat dalam sanad tersebut tidak menjadikan hadits tersebut tertolak.

Maka dari itu, menyikapi hal ini, ulama terbagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, dhaif mardud: pendapat ini dipegang teguh oleh para ahli ushul serta mayoritas ahli hadits. Alasannya, karena tidak diketahui ciri dan kredibilitas rawi yang dibuang, karena bisa jadi yang tidak disebutkan/dibuang tersebut adalah bukan golongan sahabat.

Kedua, sahih dan bisa dijadikan argumentasi: pendapat ini dianut oleh tiga ulama besar, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal, dengan syarat, orang yang melakukan kemursalan (mursil) adalah orang yang tsiqqah (kredibel). Pada prinsipnya, orang yang tsiqqah tidak akan dengan mudah menyebutkan hadits langsung dari Rasul, jika tidak melalui orang yang tsiqqah juga.

Ketiga, diterima dengan beberapa syarat: pendapat ini diikuti oleh Imam As-Syafi’i dan beberapa ulama.

Syarat-syarat tersebut adalah: 1) orang yang memursalkan hadits (mursil) termasuk golongan tabi’in tua (kibārut tabi’īn). 2) ketika mursil tersebut ditanya terkait nama perawi yang dibuang, ia menyebutkan nama orang yang tsiqqah. 3) riwayat rawi mursil tersebut tidak bertentangan dengan riwayat rawi lain yang terpercaya dan kuat hafalannya. Artinya, rawi mursil tersebut adalah rawi yang tsiqqah. 4) hadits tersebut memiliki jalur sanad yang berbeda. Jika sanad lain tersebut juga mursal, sanad tersebut bukan dari mursil yang sama. 5) Sesuai dengan kaul para sahabat. 6) Hadits tersebut digunakan sebagai hujjah oleh para ulama dalam fatwanya. (Lihat Mahmūd At-ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M], halaman 89-90).

Selain mursal sebagaimana penjelasan di atas, dalam kategori pembagian mursal ini juga ada yang dinamakan dengan mursal sahabī. Mursal ini sebagaimana hadits mursal biasa, hanya saja pelaku (mursil) adalah seorang sahabat.

Biasanya sahabat tersebut adalah sahabat kecil yang meriwayatkan hadits dari sahabat besar, namun ia tidak menyebutkan nama sahabat besar tersebut, dan langsung menyebutkan Rasulullah SAW.

Tidak seperti mursal biasa, mursal sahabī ini tidak tergolong hadits yang tertolak, karena rawi yang dihilangkan bisa dipastikan sebagai sahabat. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Selasa 26 Maret 2019 6:0 WIB
Ini Hadits yang Pertama Kali Dipelajari Kalangan Muhadditsin
Ini Hadits yang Pertama Kali Dipelajari Kalangan Muhadditsin
(Foto: @hamzetwasl.net)
Belajar hadits tidak bisa sembarangan. Selain dibutuhkan tuntunan guru yang kredibel di bidang ini, kajian ini juga harus berurutan sesuai tradisi yang dilakukan oleh para ahli hadits.

Belajar hadits juga tidak bisa dilakukan dengan asal baca dan belajar dari terjemahnya. Selain bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami hadits, praktik ini juga dapat berujung pada diskriminasi kelompok yang dianggap tidak sesuai dengan isi hadits.

Salah satu upaya ulama dalam membuat semacam tuntunan dan mentradisikan tuntunan tersebut adalah mengawali belajar dan mengajari hadits dengan hadits yang biasa disebut Musalsal bil awwaliyah.

Dalam istilah ilmu hadits, musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan.

هو تتابع رجال إسناده على صفة أوحالة للرواة تارة، وللرواية تارة أخرى

Artinya, “Hadits Musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam sifat dan keadaan tertentu, baik terkadang terdapat pada periwayatnya maupun dalam riwayat haditsnya sendiri,” (Lihat Mahmud At-Thahhan, Taysīru Musṭalāḥil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M], halaman 229).

Dalam definisi yang lebih mudah, Imam Al-Bayquni dalam Nazam-nya menjelaskan:

مُسَلْسَلٌ قُلْ ما عَلى وَصفٍ أتَى ... مثلُ: أما والله أنبَأني الفَتى
كذاكَ قدْ حدَثَنيه قائما ... أو بعدَ أن حدَّثَنِي تَبَسَّمَا

Artinya, “Hadits  Musalsal adalah hadits yang diriwayatkan dengan menyertakan sifat (yang selalu sama) seperti perkataan perawi ‘Ketahuilah, Demi Allah telah memberitahuku oleh seorang pemuda.’ Begitu juga seperti ‘Si Fulan Telah bercerita kepadaku sambil berdiri’ atau ‘setelah bercerita kepadaku, ia tersenyum.’”

Dari definisi ini menunjukkan bahwa secara mudah musalsal adalah sifat atau ucapan yang selalu diucapkan seorang perawi sebelum meriwayatkan sebuah hadits.

Adapun musalsal bil awwaliyah adalah hadits yang selalu disisipkan oleh para ahli hadits sebelum mulai mengajar atau belajar hadits. Hal itu ditradisikan hingga para murid-murid di bawahnya.

Hadits musalsal bil awwaliyah yang terkenal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi berikut.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya, “Orang-orang yang suka mengasihi (sesamanya) akan dikasihi oleh Zat Yang Maha Pengasih. Maka kasihilah penghuni bumi, maka kalian akan dikasihi para penghuni langit,” (Lihat Abu Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 217).

Hadits ini biasanya diucapkan oleh seorang ahli hadits sebelum mengajar para muridnya. “Saya telah mendengar dari fulan dan itu adalah hadits yang pertama kali didengar dari-nya (begitu seterusnya hingga sanad terakhir, baru kemudian menyebutkan hadits di atas).” Setelah hadits tersebut disebutkan, baru seorang guru mengajarkan hadits-hadits yang lain.

Ini menunjukkan bahwa para ahli hadits memiliki komitmen untuk menjaga perdamaian di dunia. Hadits yang pertama kali diajarkan adalah hadits tentang kasih sayang, bukan hadits tentang akidah, fikih, dan lain sebagainya.

Ini adalah modal utama bagi setiap orang yang mengaku sebagi pembelajar hadits atau bahkan ahli hadits, yaitu mengasihi semua makhluk yang ada di bumi, karena jaminannya jelas, dikasihi oleh Allah dan para makhluk yang ada di langit.

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘penghuni bumi’ dalam hadits musalsal bil awwaliyah tersebut adalah semua makhluk Allah yang ada di bumi, baik orang yang baik maupun buruk perangainya, hewan-hewan dan makhluk ciptaan Allah SWT yang lain.

أتي بصيغة العموم ليشمل جميع أصناف الخلق فيرحم البر والفاجر والناطق والبهم والوحوش والطير انتهى وفيه
إشارة إلى أن إيراد من لتغليب ذوي العقول لشرفهم على غيرهم

Artinya, “(Kata ‘penghuni bumi’ dalam hadits) disebutkan dengan sighat yang umum karena mencakup seluruh golongan makhluk. Maka kasihilah orang baik, penjahat, manusia, hewan, binatang yang liar, burung. Hal ini juga sebagai petunjuk bahwa keistimewaan manusia adalah ketika memulyakan makhluk ciptaan Allah yang lain,” (Lihat Abdurrahmān Al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwādzī bi Syarḥi Jāmiʽit Tirmidzi, [Beirut, Darul Kutb: tanpa catatan tahun], juz XII, halaman 51).

Al-Munawi juga menjelaskan pemahaman hadits di atas dalam kitabnya Faidhul Qādir dengan mengutip qaul Al-Būni, bahwa orang yang mengaku rindu dengan rahmat Allah harus terlebih dahulu mengasihi para makhluk-Nya.

قال العارف  البوني : فإن كان لك شوق إلى رحمة من الله فكن رحيما لنفسك ولغيرك ولا تستبد بخيرك فارحم الجاهل بعلمك والذليل بجاهك والفقير بمالك والكبير والصغير بشفقتك ورأفتك والعصاة بدعوتك والبهائم بعطفك ورفع غضبك فأقرب الناس من رحمة الله أرحمهم لخلقه

Artinya, “Al-ʽArif Al-Būni berpendapat bahwa jika engkau mengaku rindu kepada rahmat Allah, maka kasihilah dirimu, orang lain, jangan hanya terbatas pada kebaikan untuk dirimu sendiri. Kasihilah orang yang bodoh dengan ilmumu, orang yang rendah dengan jabatanmu, orang yang fakir dengan hartamu, orang besar maupun kecil dengan belas kasih dan santunmu, orang yang bermaksiat dengan dakwahmu, hewan-hewan dengan belas kasih dan menghilangkan kemarahan atas hewan-hewan itu. Adapun orang yang paling dekat dengan rahmat Allah SWT adalah orang yang paling mengasihi makhluk-makhluk-Nya,” (Lihat Abdurrauf Al-Munāwī, Faidhul Qadir Syarḥu Jāmiʽis Ṣaghir, [Beirut, Daru Kutub Ilmiyah: 1994 M], juz XIV, halaman 105). Wallahu a’lam.


(Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Senin 25 Maret 2019 15:30 WIB
Kajian Hadits Tanda Kiamat, Sungai Eufrat yang Mengering
Kajian Hadits Tanda Kiamat, Sungai Eufrat yang Mengering
Jika dahulu kampanye “menakut-nakuti” orang terkait Kiamat dilakukan melalui kertas-kertas yang difotokopi, saat ini klaim Kiamat akan segera tiba itu mulai masuk melalui gawai atau smartphone.

Pesan-pesan siaran terkait tanda-tanda kiamat yang telah terjadi tersebut dengan mudah tersebar ke banyak orang hanya dengan sekali kirim. Rumor-rumor tersebut membuat beberapa keluarga di Jawa Timur mengungsi dari tempat tinggalnya, bahkan beberapa rela menjual harta bendanya.

Salah satu tanda-tanda kiamat yang sering disebarkan adalah “sungai eufrat mengering”. Selain disertai foto-foto dan agitasi bahwa sungai Eufrat selama ini tidak pernah mengering, semua ini disertai juga hadits-hadits sahih yang mendukung pesan siaran tersebut seperti hadits riwayat Muslim berikut ini.

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَحْسِرَ الْفُرَاتُ عَنْ جَبَلٍ مِنْ ذَهَبٍ، يَقْتَتِلُ النَّاسُ عَلَيْهِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ مِائَةٍ، تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَيَقُولُ كُلُّ رَجُلٍ مِنْهُمْ: لَعَلِّي أَكُونُ أَنَا الَّذِي أَنْجُو

Artinya, “Kiamat tidak akan terjadi sampai al-furat mengering sehingga muncullah gunung emas. Manusia pun saling bunuh untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang (yang memperebutkannya), terbunuhlah sembilan puluh sembilan orang. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan aku-lah orang yang selamat,” (HR Muslim).

Namun, memahami hadits tak cukup dengan membaca satu hadits di atas, perlu juga dilakukan takhrij agar ditemukan hadits-hadits lain yang satu tema. Memang ditemukan hadits lain yang hampir mirip namun dengan redaksi yang berbeda. Hadits ini juga sama-sama diriwayatkan oleh Imam Muslim.

عن أبي بن كعب قال: "لا يزال الناس مختلفة أعناقهم في طلب الدنيا سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: يوشك أن ينحسر الفرات عن جبل من ذهب فإذا سمع به الناس ساروا إليه فيقول من عنده لئن تركنا الناس يأخذون منه ليذهبن به كله قال: فيقتتلون عليه فيقتل من كل مائة تسعة وتسعون

Artinya, “Dari Ubai bin Ka'ab berkata, ‘Orang-orang terus sibuk mencari dunia. ‘Hampir saja Furat terbuka dan banyak simpanan emas. Saat mendengarnya, orang-orang menghampirinya lalu orang yang didekatnya berkata, ‘Bila kita biarkan orang-orang mengambilnya, mereka akan menghabiskan semuanya.’ Rasul bersabda, ‘Mereka berperang karenanya, dari setiap seratus orang, sembilan puluh sembilannya terbunuh.’

Oleh para ulama, hadits ini dijadikan sebagai penjelas atas hadits sebelumnya. Ubai bin Ka’ab memperinci bahwa inti dari hadits tersebut adalah manusia akan selalu sibuk mencari dunia sehingga ia mengutip hadits tersebut.

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa Rasul SAW melarang siapa pun yang menemukan emas tersebut dilarang untuk mengambilnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari jalur Abu Hurairah, berbeda dengan hadits sebelumnya.

عَنْ أَبِي هُرَيرَةَ قالَ: قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: "يُوشِكُ الفُرَاتُ يَحْسِرُ عن كَنْزِ مِنْ ذّهَبِ، فَمَنْ حَضَرَهُ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئاً" .

Artinya, “Hampir terbuka al-furat dengan (beirisi) simpanan emas. Siapa yang mendatanginya jangan sekali-kali mengambilnya,” (HR At-Tirmidzi).

Setidaknya ada tiga hadits yang berkaitan dengan hal ini dengan redaksi hadits yang agak berbeda. Oleh karena itu, dalam memahami hadits tersebut perlu kiranya mengetahui makna kata per kata.

Pertama terkait al-Furat yang disebutkan dalam hadits tersebut. Para ulama sendiri berbeda-beda terkait maknanya. Selain menyebutkan bahwa Furat adalah sungai di Kufah, ada juga yang mengatakan bahwa Furat berarti laut. Ada juga yang mengatakan bahwa Furat adalah air yang rasanya sangat tawar sekali.

Dari makna-makna ini, sebenarnya belum ada kesepakatan di antara para ulama hadits atas makna Furat yang sebenarnya. Dengan demikian, jika ada yang mengatakan bahwa keringnya sungai Eufrat sekarang termasuk bagian dari tanda kiamat, maka bisa jadi benar, bisa jadi juga salah.

Kedua terkait makna jabal min dzahab dan kanz min dzahab. Tiga hadits tersebut menggunakan dua redaksi yang berbeda. Pertama menggunakan kata ‘gunung’ dan yang kedua hanya menggunakan kata ‘simpanan’. Lalu mana yang benar?

Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa perbedaan tersebut berdasarkan waktu sebelum dan sesudah ditemukan. Menurutnya, sebelum ditemukan oleh seratus orang, emas tersebut disebut simpanan (kanzun) namun setelah ditemukan banyak emas disebut gunung (jabal).

وتسميته كنزاً باعتبار حاله قبل أن ينكشف وتسميته جبلا للإشارة إلى كئرته

Artinya, “Penamaan ‘kanzun’ merupakan sebutan sebelum ditemukan. Sedangkan penamaan ‘jabal’ menunjukkan banyaknya emas tersebut,” (Lihat Al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwadzi, [Madinah, Maktabah Salafiyah: 1963 M], juz VII, halaman 291).

Berdasarkan hadits ini, jika benar yang dimaksud dengan Furat adalah memang benar sungai Eufrat, maka keringnya sungai tersebut tidak cukup menjadi tanda kiamat. Karena sebenarnya yang menjadi pokok dan inti dari hadits tersebut adalah mencegah pertikaian banyak orang untuk memperebutkan emas tersebut, bukan saja karena sungainya yang mengering. Maka dari itu, Rasul mencegah kehancuran akibat pertikaian itu (yang disebut sebagai al-sa’ah atau kehancuran) dengan mengimbau agar tidak mengambil emas itu jika telah ditemukan.

Menurut Al-Mubarakfuri, substansi hadits tersebut (mencegah terjadinya pertikaian dan kehancuran akibat saling membunuh) sesuai dengan hadits Muslim yang lain dari Abu Hurairah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَقِيءُ الْأَرْضُ أَفْلَاذَ كَبِدِهَا أَمْثَالَ الْأُسْطُوَانِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ فَيَجِيءُ الْقَاتِلُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَتَلْتُ وَيَجِيءُ الْقَاطِعُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قَطَعْتُ رَحِمِي وَيَجِيءُ السَّارِقُ فَيَقُولُ فِي هَذَا قُطِعَتْ يَدِي ثُمَّ يَدَعُونَهُ فَلَا يَأْخُذُونَ مِنْهُ شَيْئًا

Artinya, “Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah Saw bersabda, ‘Kelak bumi akan mengeluarkan semua isi perutnya semisal tiang dari emas dan perak lalu akan datang seorang pembunuh seraya berkata, 'Karena benda inilah aku membunuh.' Lalu datang pula orang yang memutuskan tali silaturrahmi seraya berkata, 'Karena benda inilah aku memutuskan tali silaturrahmi.' Lalu datang pula seorang pencuri seraya berkata, 'Karena benda inilah tanganku dipotong.' Kemudian mereka semua meninggalkannya begitu saja dan tidak mengambilnya sedikitpun,’” (HR Muslim).

Ini menunjukkan bahwa tanda kiamat itu bukan terletak pada mengeringnya sungai Eufrat, melainkan perebutan harta dari perut bumi yang membuat banyak orang berperilaku buruk, seperti mencuri, membunuh, dan memutus silaturrahmi.

Jika diperas lebih dalam lagi, maksud dari hadits tersebut adalah larangan untuk berebut sesuatu yang bukan menjadi hak dan milik kita. Hal ini disebutkan oleh Imam Syamsul Haq Al-Azhim Al-Abadi dalam Aunul Maʽbūd-nya.

والذي يظهر أن النهي عن أخذه لما ينشأ عن أخذه من الفتنة والقتال عليه

Artinya, “Yang jelas, larangan untuk mengambil emas tersebut adalah akan timbulnya fitinah dan pembunuhan,” (Lihat Syamsul Haq Al-Azhim Al-Abadi, Aunul Maʽbūd Syarḥ Sunan Abī Dawud, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: tanpa catatan tahun], cetakan 2, juz XI, halaman 294).

Oleh karena itu, membaca hadits tak cukup dengan mengetahui terjemahannya, apalagi jika mendapatkannya dari pesan siaran yang tidak jelas siapa pembuatnya. Tentu hal ini berpotensi untuk merugikan banyak orang karena salah memahami hadits tersebut. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)