IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya

Kamis 28 Maret 2019 14:0 WIB
Share:
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
(Foto: @pinterest)
Mudallas menurut definisi At-Ṭhaḥḥān adalah menyembunyikan aib dalam sebuah sanad dan hanya menampakkan yang baik-baik. At-Ṭhaḥḥān menyebutnya dengan “Ikhfā’u ʽaibin fi al-Isnad, wa taḥsīn li ẓahirihi,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣhṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maarif: 2004], halaman 96). Namun definisi tersebut masih bersifat umum.

Lebih lanjut, para ulama membagi hadits mudallas menjadi beberapa bagian. Pembagian hadits mudallas tersebut juga memiliki definisi yang berbeda-beda. Berdasarkan rangkuman At-Ṭhaḥḥān, secara mendasar ada tiga pembagian dalam hadits mudallas:

Pertama, Tadlis Isnad.
Apabila seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru sebuah hadits yang sesungguhnya tidak ia dengar dari guru tersebut, dengan menggunakan redaksi yang kabur agar terkesan ia mendengar dari sang guru.

Definisi ini adalah definisi yang dianggap At-Ṭhaḥḥān sebagai definisi yang paling baik di antara definisi-definisi mudallas yang diberikan oleh para ulama. Definisi ini merupakan definisi dari Al-Bazzār dan Al-Qaṭṭān, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 97).

Hal ini berbeda dengan mursal khafi. Perbedaannya, jika tadlis isnad dilakukan oleh orang yang pernah bertemu dan meriwayatkan hadits dari gurunya, maka mursal khafi lebih parah lagi. Ia sebenarnya sezaman dengan gurunya tersebut, namun tidak pernah mendengar satu hadits pun dari guru tersebut.

Biasanya, para pelaku tadlis ini tidak menggunakan sighat (ungkapan) yang jazm (pasti), seperti dengan قال  atau عن.

Seperti contoh riwayat Sufyan bin ʽUyainah dari Az-Zuhrī. Menurut Al-Hakim, saat itu Sufyan ditanya, apakah benar bahwa hadits tersebut ia dengar langsung dari Al-Zuhrī? Namun Sufyan menjawab bahwa ia mendengarnya dari Abdur Razzāq dari Maʽmar dari Az-Zuhrī.

Sufyan sebenarnya berguru dan mendengar hadits dari Az-Zuhrī, hanya saja dalam kasus ini, ia mendengar hadits tidak langsung dari Az-Zuhrī, melainkan dari dua rawi yang ia hilangkan.

Kedua, Tadlis Syuyūkh
Jika seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru, lalu ia menyebut guru tersebut dengan nama, julukan, nisbat atau sifat yang asing agar tidak diketahui. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan aib gurunya, seperti dhaif, masih belum cukup dewasa dan sebagainya,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 101). 

Contoh:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، أَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، أَظُنُّهُ قَالَ: الشَّيْبَانِيُّ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلَاءَ، عَنْ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَ غُلَامًا، فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَيْهِ تَمْرًا، فَأَكَلَ الْغُلَامُ فَأَكْثَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ كَثْرَةَ الْأَكْلِ شُؤْمٌ"

Dalam hadits di atas, Alī bin Jaʽd menyamarkan nama gurunya dengan sebutan Abū Isḥāq. Padahal nama aslinya adalah Ibrāhīm bin Harasah. Hal ini dilakukan karena Ibrāhīm adalah seorang rawi yang dituduh berbohong.

Ketiga, Tadlīs Taswiyyah.
Tadlis jenis ini adalah praktik ketika seorang rawi membuang rawi dhaif di antara dua rawi terpercaya (tsiqah), (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 98). 

Salah dua rawi yang sering melakukan tadlīs ini adalah Baqiyyah dan Al-Wālid bin Muslim, seperti dalam contoh:

مَاأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَيَّةَ الطرسُوْسِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَهب بن عطية، حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا اْلأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّان بْنِ عَطِيَّة عَنْ أَبِيْ مُنِيْبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dalam hadits tersebut, Al-Wālid membuang satu rawi antara Al-Auzāʽī dan Hassān bin ʽAṭiyyah yang bernama Abdurrahman bin Tsabit yang merupakan rawi dhaif sehingga terkesan bahwa sanad tersebut bebas dari rawi dhaif. 

Hal ini telah diakui sendiri oleh Al-Walīd saat ditanya oleh Al-Hutsaim bin Kharijah terkait perilakunya membuang perawi setelah Auzā’ī. Ia menjawab, agar orang yang menerima hadits tersebut percaya bahwa hadits tersebut bukan hadits dhaif, (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrīb An-Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002], halaman 165).

Di antara tiga macam tadlis tersebut, yang paling ringan adalah tadlis suyukh karena tadlis ini tidak sampai membuang dan memutus jalur sanad. Namun, terkait statusnya, ulama masih berbeda pendapat:

Pertama, ada yang mengatakan bahwa statusnya tertolak karena tadlis merupakan salah satu jarh. Namun, qaul pertama ini bukanlah qaul yang bisa dijadikan pijakan.

Kedua, statusnya diperinci (tafṣīl). Jika menggunakan lafaz yang menunjukkan bahwa ia benar-benar telah mendengar suatu hadits dari gurunya (sighat jazm) seperti samiʽtu (سمعت) dan semacamnya, maka hadits tersebut diterima. Namun jika sebaliknya, yakni menggunakan sighat tamrīd, seperti ʽan (عن) atau qāla (قال) dan semacamnya, maka ia tidak diterima.

Sebab-sebab seorang rawi melakukan tadlis ada empat, yaitu: Pertama, gurunya dhaif.

Kedua, guru tersebut wafatnya agak belakangan, sekira generasi setelah murid yang melakukan tadlis tersebut masih bisa meriwayatkan dari guru itu.

Ketiga, gurunya masih muda, atau bahkan lebih muda daripada murid yang meriwayatkan hadits darinya.

Keempat, keseringan meriwayatkan hadits dari guru tersebut sehingga muridnya hanya menyebutnya satu kali atau dalam satu sebutan, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 102). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Share:
Rabu 27 Maret 2019 8:45 WIB
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
(Foto: @musi.org.my)
Hadits dhaif memiliki banyak pembagian. Sebagian pembagian yang maklum dalam materi musthalahul hadits adalah pembagian hadits dhaif dalam segi terputusnya sanad. Salah satu hadits dhaif dalam kategori ini adalah hadits mu’dhal.

Hadits Muʽdhal adalah hadits yang perawinya hilang dua atau lebih secara berturut-turut.

Contoh hadits mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaṭṭa’.

بلغني عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلف من العمل إلا ما يطيق

Artinya, “Telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah RA sungguh Rasul SAW bersabda, ‘Berikan makanan dan pakaian yang layak kepada para budak. Jangan bebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka sanggupi.’”

Menurut Imam Al-Hakim, hadits tersebut adalah hadits muʽdhal karena Imam Malik membuang dua perawi, yakni Muhammad bin ʽAjlan dan ‘Ajlan. Seharusnya dua nama itu disebutkan sebelum Abu Hurairah RA, (Lihat Mahmūd At-Thaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M] halaman 92).

Selain hadits di atas, Imam As-Suyuthi menyebutkan beberapa hadits mu’dhal lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hal ini disebut sebagai “Balagha Imam Malik”. Namun, menurut Imam As-Suyuthi, tidak semua “Balagha Imam Malik” dhaif karena muʽdhal.

Ibn Abdil Barr meneliti sekitar 60an hadits, dan menemukan sanad lain yang muttasil selain dari Imam Malik, kecuali empat hadits berikut:

Pertama, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul tidak lupa, tetapi dibuat lupa oleh Allah untuk memberikan pengajaran.

إِنِّي لَا أَنْسَى وَلَكِنْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ

Artinya, “Sesungguhnya aku tidak lupa, tetapi dibuat lupa (oleh Allah) untuk mengajarkan sunnah.”

Kedua, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul pernah diperlihatkan manusia yang paling panjang umurnya.

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ أُرِىَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ فَكَأَّنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW diperlihatkan umur manusia sebelum umatnya yang paling panjang atau atas kehendak Allah, seolah-olah (umur yang paling panjang dari umat sebelumnya) itu lebih pendek dari umatku yang paling panjang umurnya.”

Ketiga, hadits terkait pesan Rasul kepada Muʽadz agar memperbaiki akhlaknya.

قَوْلُ مُعَاذٍ: آخِرُ مَا أَوْصَانِي بِهِ رَسُولُ الله وَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلَيَّ فِي الغَرْزِ أَنْ قَالَ: «أَحْسِن خُلُقَكَ لِلنَّاس

Artinya, “Muadz berkata, ‘Kalimat terakhir yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepadaku dan aku saat itu meletakkan kedua kakiku di sebuah batang kayu. Rasul berkata, ‘Perbaikilah akhlakmu untuk manusia.’’”

Keempat, hadits tentang munculnya sesuatu dari arah laut (awan) maka tanda akan terjadi hujan.

إذَا أنْشَأت بَحْرية, ثمَّ تَشَاءمت, فتلكَ عَيْنٌ غديقة

Artinya, “Jika sesuatu (awan) muncul dari arah laut. Kemudian awan itu naik, maka itu adalah tanda air yang banyak (hujan),’ (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrībin Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002 M], halaman 153). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Selasa 26 Maret 2019 15:45 WIB
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
(Foto: @ss.lv)
Mursal adalah hadits yang hilang atau tidak disebutkan perawi dari golongan sahabat. Ciri hadits mursal adalah sebuah hadits yang disampaikan oleh tabi’in (baik tabi’in kecil maupun besar) tanpa menyebutkan nama sahabat, dan langsung menyebut nama Rasulullah SAW.

Jika ada tabiin yang menyebutkan hadits langsung dari Rasul, maka hadits tersebut adalah hadits mursal karena secara teknis seorang tabi’in tidak akan mendapatkan hadits tanpa sahabat.

Contoh hadits mursal bisa kita lihat dalam Ṣaḥīḥ Muslim, dalam pembahasan jual-beli (Kitābul Buyū’) berikut:

حدثني محمد بن رافع، ثنا حجين، ثنا الليث، عن عقيل، عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب أن رسول الله ﷺ نهى بيع عن المزابنة

Dalam hadits tersebut, Saʽid bin Musayyab adalah seorang tabi’in kabir, namun meriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW. Padahal seorang tabi’in tidak mungkin bertemu dengan Rasul. Ia pasti mendengar hadits tersebut dari sahabat. Sayangnya, sahabat tersebut tidak disebutkan.

Sebagaimana hadits muʽallaq, mursal juga tergolong hadits yang tertolak (mardūd) karena hilangnya salah satu syarat hadits sahih, yakni ittiṣālus sanad (tersambungnya sanad). Namun para ulama berbeda pendapat, karena yang hilang dari hadits mursal adalah rawi sahabat, sedangkan para sahabat sudah divonis adil sehingga tidak disebutkannya nama sahabat dalam sanad tersebut tidak menjadikan hadits tersebut tertolak.

Maka dari itu, menyikapi hal ini, ulama terbagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, dhaif mardud: pendapat ini dipegang teguh oleh para ahli ushul serta mayoritas ahli hadits. Alasannya, karena tidak diketahui ciri dan kredibilitas rawi yang dibuang, karena bisa jadi yang tidak disebutkan/dibuang tersebut adalah bukan golongan sahabat.

Kedua, sahih dan bisa dijadikan argumentasi: pendapat ini dianut oleh tiga ulama besar, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal, dengan syarat, orang yang melakukan kemursalan (mursil) adalah orang yang tsiqqah (kredibel). Pada prinsipnya, orang yang tsiqqah tidak akan dengan mudah menyebutkan hadits langsung dari Rasul, jika tidak melalui orang yang tsiqqah juga.

Ketiga, diterima dengan beberapa syarat: pendapat ini diikuti oleh Imam As-Syafi’i dan beberapa ulama.

Syarat-syarat tersebut adalah: 1) orang yang memursalkan hadits (mursil) termasuk golongan tabi’in tua (kibārut tabi’īn). 2) ketika mursil tersebut ditanya terkait nama perawi yang dibuang, ia menyebutkan nama orang yang tsiqqah. 3) riwayat rawi mursil tersebut tidak bertentangan dengan riwayat rawi lain yang terpercaya dan kuat hafalannya. Artinya, rawi mursil tersebut adalah rawi yang tsiqqah. 4) hadits tersebut memiliki jalur sanad yang berbeda. Jika sanad lain tersebut juga mursal, sanad tersebut bukan dari mursil yang sama. 5) Sesuai dengan kaul para sahabat. 6) Hadits tersebut digunakan sebagai hujjah oleh para ulama dalam fatwanya. (Lihat Mahmūd At-ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M], halaman 89-90).

Selain mursal sebagaimana penjelasan di atas, dalam kategori pembagian mursal ini juga ada yang dinamakan dengan mursal sahabī. Mursal ini sebagaimana hadits mursal biasa, hanya saja pelaku (mursil) adalah seorang sahabat.

Biasanya sahabat tersebut adalah sahabat kecil yang meriwayatkan hadits dari sahabat besar, namun ia tidak menyebutkan nama sahabat besar tersebut, dan langsung menyebutkan Rasulullah SAW.

Tidak seperti mursal biasa, mursal sahabī ini tidak tergolong hadits yang tertolak, karena rawi yang dihilangkan bisa dipastikan sebagai sahabat. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Selasa 26 Maret 2019 6:0 WIB
Ini Hadits yang Pertama Kali Dipelajari Kalangan Muhadditsin
Ini Hadits yang Pertama Kali Dipelajari Kalangan Muhadditsin
(Foto: @hamzetwasl.net)
Belajar hadits tidak bisa sembarangan. Selain dibutuhkan tuntunan guru yang kredibel di bidang ini, kajian ini juga harus berurutan sesuai tradisi yang dilakukan oleh para ahli hadits.

Belajar hadits juga tidak bisa dilakukan dengan asal baca dan belajar dari terjemahnya. Selain bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami hadits, praktik ini juga dapat berujung pada diskriminasi kelompok yang dianggap tidak sesuai dengan isi hadits.

Salah satu upaya ulama dalam membuat semacam tuntunan dan mentradisikan tuntunan tersebut adalah mengawali belajar dan mengajari hadits dengan hadits yang biasa disebut Musalsal bil awwaliyah.

Dalam istilah ilmu hadits, musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan.

هو تتابع رجال إسناده على صفة أوحالة للرواة تارة، وللرواية تارة أخرى

Artinya, “Hadits Musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam sifat dan keadaan tertentu, baik terkadang terdapat pada periwayatnya maupun dalam riwayat haditsnya sendiri,” (Lihat Mahmud At-Thahhan, Taysīru Musṭalāḥil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M], halaman 229).

Dalam definisi yang lebih mudah, Imam Al-Bayquni dalam Nazam-nya menjelaskan:

مُسَلْسَلٌ قُلْ ما عَلى وَصفٍ أتَى ... مثلُ: أما والله أنبَأني الفَتى
كذاكَ قدْ حدَثَنيه قائما ... أو بعدَ أن حدَّثَنِي تَبَسَّمَا

Artinya, “Hadits  Musalsal adalah hadits yang diriwayatkan dengan menyertakan sifat (yang selalu sama) seperti perkataan perawi ‘Ketahuilah, Demi Allah telah memberitahuku oleh seorang pemuda.’ Begitu juga seperti ‘Si Fulan Telah bercerita kepadaku sambil berdiri’ atau ‘setelah bercerita kepadaku, ia tersenyum.’”

Dari definisi ini menunjukkan bahwa secara mudah musalsal adalah sifat atau ucapan yang selalu diucapkan seorang perawi sebelum meriwayatkan sebuah hadits.

Adapun musalsal bil awwaliyah adalah hadits yang selalu disisipkan oleh para ahli hadits sebelum mulai mengajar atau belajar hadits. Hal itu ditradisikan hingga para murid-murid di bawahnya.

Hadits musalsal bil awwaliyah yang terkenal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi berikut.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya, “Orang-orang yang suka mengasihi (sesamanya) akan dikasihi oleh Zat Yang Maha Pengasih. Maka kasihilah penghuni bumi, maka kalian akan dikasihi para penghuni langit,” (Lihat Abu Isa At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 217).

Hadits ini biasanya diucapkan oleh seorang ahli hadits sebelum mengajar para muridnya. “Saya telah mendengar dari fulan dan itu adalah hadits yang pertama kali didengar dari-nya (begitu seterusnya hingga sanad terakhir, baru kemudian menyebutkan hadits di atas).” Setelah hadits tersebut disebutkan, baru seorang guru mengajarkan hadits-hadits yang lain.

Ini menunjukkan bahwa para ahli hadits memiliki komitmen untuk menjaga perdamaian di dunia. Hadits yang pertama kali diajarkan adalah hadits tentang kasih sayang, bukan hadits tentang akidah, fikih, dan lain sebagainya.

Ini adalah modal utama bagi setiap orang yang mengaku sebagi pembelajar hadits atau bahkan ahli hadits, yaitu mengasihi semua makhluk yang ada di bumi, karena jaminannya jelas, dikasihi oleh Allah dan para makhluk yang ada di langit.

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘penghuni bumi’ dalam hadits musalsal bil awwaliyah tersebut adalah semua makhluk Allah yang ada di bumi, baik orang yang baik maupun buruk perangainya, hewan-hewan dan makhluk ciptaan Allah SWT yang lain.

أتي بصيغة العموم ليشمل جميع أصناف الخلق فيرحم البر والفاجر والناطق والبهم والوحوش والطير انتهى وفيه
إشارة إلى أن إيراد من لتغليب ذوي العقول لشرفهم على غيرهم

Artinya, “(Kata ‘penghuni bumi’ dalam hadits) disebutkan dengan sighat yang umum karena mencakup seluruh golongan makhluk. Maka kasihilah orang baik, penjahat, manusia, hewan, binatang yang liar, burung. Hal ini juga sebagai petunjuk bahwa keistimewaan manusia adalah ketika memulyakan makhluk ciptaan Allah yang lain,” (Lihat Abdurrahmān Al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwādzī bi Syarḥi Jāmiʽit Tirmidzi, [Beirut, Darul Kutb: tanpa catatan tahun], juz XII, halaman 51).

Al-Munawi juga menjelaskan pemahaman hadits di atas dalam kitabnya Faidhul Qādir dengan mengutip qaul Al-Būni, bahwa orang yang mengaku rindu dengan rahmat Allah harus terlebih dahulu mengasihi para makhluk-Nya.

قال العارف  البوني : فإن كان لك شوق إلى رحمة من الله فكن رحيما لنفسك ولغيرك ولا تستبد بخيرك فارحم الجاهل بعلمك والذليل بجاهك والفقير بمالك والكبير والصغير بشفقتك ورأفتك والعصاة بدعوتك والبهائم بعطفك ورفع غضبك فأقرب الناس من رحمة الله أرحمهم لخلقه

Artinya, “Al-ʽArif Al-Būni berpendapat bahwa jika engkau mengaku rindu kepada rahmat Allah, maka kasihilah dirimu, orang lain, jangan hanya terbatas pada kebaikan untuk dirimu sendiri. Kasihilah orang yang bodoh dengan ilmumu, orang yang rendah dengan jabatanmu, orang yang fakir dengan hartamu, orang besar maupun kecil dengan belas kasih dan santunmu, orang yang bermaksiat dengan dakwahmu, hewan-hewan dengan belas kasih dan menghilangkan kemarahan atas hewan-hewan itu. Adapun orang yang paling dekat dengan rahmat Allah SWT adalah orang yang paling mengasihi makhluk-makhluk-Nya,” (Lihat Abdurrauf Al-Munāwī, Faidhul Qadir Syarḥu Jāmiʽis Ṣaghir, [Beirut, Daru Kutub Ilmiyah: 1994 M], juz XIV, halaman 105). Wallahu a’lam.


(Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).