IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah adalah Satu Kesatuan

Jumat 29 Maret 2019 13:0 WIB
Share:
Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah adalah Satu Kesatuan
Sejak maraknya dakwah Wahhabiyah di Indonesia, banyak sekali buku agama yang menyebutkan bahwa tauhid dibagi menjadi tiga, yakni: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ was-Shifat. Sebelum itu, istilah ini tergolong asing di telinga kaum muslimin, meskipun konsep tauhid sudah mereka pahami dengan sangat baik dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah).

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah”, penulis telah memaparkan apa dan bagaimana yang dimaksud dengan ketiga pembagian ini sehingga tak perlu diulangi di sini. Kali ini penulis akan mengaji masalah pembedaan secara tegas antara Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah sebenarnya tidaklah tepat dalam tataran implementasinya.

Sebagai sebuah klasifikasi ilmiah, sebenarnya tak masalah bila tauhid dilihat dari dua aspek berbeda, yakni aspek penciptaan dan aspek peribadahan. Aspek penciptaan ini kemudian melahirkan konsep “Tauhid Rububiyah” yang menjelaskan bahwa Sang Pencipta alam semesta ini hanyalah satu saja, yakni Allah subhanahu wata‘ala. Dari aspek peribadahan kemudian muncul aspek “Tauhid Uluhiyah” yang menjelaskan bahwa masyarakat harus menyembah Allah semata tanpa dibarengi dengan sesembahan lainnya. Sampai di sini sebenarnya klasifikasi ini biasa saja dan tak ada yang baru sehingga para ulama sebelum Ibnu Taymiyah juga banyak menyinggungnya. Misalnya saja Imam at-Thabari dalam tafsirnya berkata:

كانت العرب تقر بوحدانية الله غير أنها كانت تشرك به في عبادته 

“Orang Arab (jahiliyah) mengakui keesaan Allah tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam hal ibadah.” (Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsîr at-Thabari, I: 128)

Klasifikasi istilah “rububiyah” dan “uluhiyah” itu didasarkan pada perbedaan arti kata “rabb” dan “ilah” yang menjadi kata dasar dari keduanya. Sebagaimana diterangkan oleh al-Maqrizi, seorang sejarawan bermazhab Syafi’i yang hidup di abad kesembilan Hijriah, kata “rabb” berasal dari kata rabba-yarubbu yang berarti yang mencipta, merawat, dan yang bertanggung jawab atas penciptaan, rezeki, kesehatan dan perbaikan. Sedangkan kata “ilah” berarti menjadikan sebagai yang disembah (ma’lûh) sehingga menjadi satu-satunya yang dicintai, ditakuti, diharapkan dan sebagainya (al-Maqrizi, Tajrîd at-Tauhîd, 5). 

Meskipun secara bahasa diketahui bahwa makna leksikal antara “rabb” dan “ilah” mempunyai perbedaan, namun dalam tataran penggunaannya tak demikian. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sebab dalam logika paling sederhana dapat diketahui bahwa sosok yang mencipta dan merawat alam semesta (aspek rububiyah) adalah satu-satunya sosok yang layak disembah (aspek rububiyah) dan demikian pula mustahil seorang manusia berakal akan melakukan penyembahan (aspek uluhiyah) pada sosok yang sama sekali tak terlibat dalam penciptaan dan perawatan alam semesta (aspek rububiyah). Itulah sebabnya para penyembah berhala tidak menyembah segala objek yang mereka lihat atau mereka buat, namun hanya objek tertentu saja yang mereka yakini punya andil dalam sisi rububiyah. 

Musyrikin jahiliyah tahu betul bahwa mereka mendapat manfaat yang banyak dari pohon kurma, satu-satunya pohon yang dapat hidup subur menghasilkan makanan pokok di padang pasir, tetapi tak ada satu pun yang menyembahnya sebab mereka tak meyakini pohon kurma punya sisi ketuhanan. 


Sebaliknya, mereka tahu betul kalau patung-patung buatan mereka tak bergerak dan tak bisa melakukan apa pun secara fisik tetapi mereka meyakininya sebagai sosok yang mempunyai aspek rububiyah, karena itulah mereka menyembahnya. Andai mereka begitu bodohnya (jahil) menyembah sesuatu yang mereka yakini tak punya kuasa rububiyah sama sekali, maka pasti mereka akan lebih menuhankan pohon kurma atau unta daripada berhala buatan tangan mereka sendiri yang secara kasat mata tak bisa apa-apa itu.

Karena makna “rabb” dan “ilah” ini tak terpisahkan dalam praktiknya, maka kedua kata ini biasa diterjemah sama sebagai “Tuhan” dalam bahasa apa pun dan tak dibedakan lagi penggunaanya secara umum. Bahkan dalam Al-Qur’an pun, penggunaan keduanya juga tak dibedakan. Allah berfirman:

 وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا۟ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ وَٱلنَّبِيِّنَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِٱلْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ 

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai rabb-rabb (Tuhan-Tuhan). Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali Imran: 70)

Dalam ayat di atas secara tegas Allah mengisyaratkan bahwa orang-orang musyrik menjadikan para malaikat dan pada nabi sebagai “rabb” di samping Allah. Ini bukti bahwa kata “rabb” juga bermakna sesembahan seperti kata “ilah”. Penggunaan bentuk plural dari kata “rabb” menjadi “arbâb” dalam ayat itu menjadi bukti lain bahwa asumsi sebagian orang bahwa kaum musyrik bertauhid dalam level rububiyah adalah isapan jempol belaka sebab nyata-nyata mereka mengenal adanya “arbâb” atau Tuhan-Tuhan yang memiliki kuasa rububiyah. Meskipun memang “rabb” dalam keyakinan kaum musyrik bertingkat; ada yang utama (supreme God) dan ada yang biasa (lesser God).

Dalam ayat lain, Allah lebih tegas lagi berfirman:

 تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِى ضَلَٰلٍۢ مُّبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ 

"Demi Allah, sungguh kami dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kalian (para berhala) dengan Tuhan (Rabb) semesta alam". (QS. As-Syu’ara’: 97-98)

Ayat itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa para berhala yang disembah itu oleh para kaum musyrik jahiliyah disejajarkan dengan “Rabb al-‘âlamîn” atau Tuhan semesta alam, yang tak lain adalah Allah. Dengan demikian menjadi jelas bahwa pembedaan istilah “tauhid rububiyah” dan “tauhid uluhiyah” hanyalah benar dalam tinjauan kebahasaan saja atau sebagai klasifikasi yang murni teoritis. Sedangkan dalam praktiknya keduanya sama sekali tak bisa dibedakan. 

Dengan demikian, klaim bahwa orang musyrik jahiliyah sebenarnya bertauhid di level rububiyah tetapi musyrik hanya di level uluhiyah adalah klaim yang tidak tepat sebagaimana yang juga telah penulis paparkan di artikel sebelumnya. Bahkan pembagian seperti ini menjadi sama sekali tak relevan ketika kita sadar bahwa yang dilawan oleh para Nabi bukan hanya kaum musyrik tetapi juga kaum ateis yang sama sekali tak percaya keberadaan Allah. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur

Tags:
Share:
Rabu 27 Maret 2019 18:30 WIB
Kalimat Tauhid Saja Tak Cukup, Lima Aspek Ini Wajib Dipenuhi
Kalimat Tauhid Saja Tak Cukup, Lima Aspek Ini Wajib Dipenuhi
Secara umum, bertauhid dipahami dengan berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah atau mengucap kalimat Lâ ilâha illallâh dengan penuh keyakinan akan maknanya. Namun dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), mengucap kalimat tauhid saja tak cukup membuat seseorang bertauhid kecuali jika ia memenuhi lima aspek teologis. Kelimanya diterangkan oleh Imam al-Halimy (338-403 H), seorang pakar hadits terkemuka dan sekaligus teolog besar dalam Islam, sebagaimana dinukil oleh Imam al-Baihaqi (384-458 H) dalam karyanya yang berjudul Syu’ab al-Imân berikut:

وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ بِالِاعْتِقَادِ، وَالْإِقْرَارِ مَجْمُوعُ عِدَّةِ أَشْيَاءَ أَحَدُهَا إِثْبَاتُ الْبَارِئِ جَلَّ جَلَالُهُ لِيَقَعَ بِهِ مُفَارَقَةُ التَّعْطِيلِ، وَالثَّانِي: إِثْبَاتُ وَحْدَانِيَّتِهِ لِتَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ، وَالثَّالِثُ: إِثْبَاتُ أَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنَ التَّشْبِيهِ، وَالرَّابِعُ: إِثْبَاتُ أَنَّ وُجُودَ كُلِّ مَا سِوَاهُ كَانَ مَعْدُومًا مِنْ قَبْلِ إِبْدَاعِهِ لَهُ وَاخْتِرَاعِهِ إِيَّاهُ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنْ قَوْلِ مَنْ يَقُولُ بِالْعِلَّةِ وَالْمَعْلُولِ وَالْخَامِسُ: إِثْبَاتُ أَنَّهُ مُدَبِّرٌ مَا أَبْدَعَ، وَمُصَرِّفُهُ عَلَى مَا يَشَاءُ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِينَ بِالطَّبَائِعِ، أَوْ تَدْبِيرِ الْكَوَاكِبِ أَوْ تَدْبِيرِ الْمَلَائِكَةِ، 

“Amal shalih dengan beraqidah dan memberikan pengakuan [terhadap Allah] adalah kumpulan dari beberapa hal berikut; 

Pertama, menetapkan adanya Sang Maha-Pencipta, supaya bebas terlepas dari peniadaan Tuhan (ateisme). 

Kedua, menetapkan keesaan-Nya, supaya bebas terlepas dari syirik.

Ketiga, menetapkan bahwa Allah bukanlah jauhar (substansi; materi) atau ‘aradh (aksiden; atribut materi), supaya bebas terlepas dari penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybîh)

Keempat, menetapkan bahwa apa pun selain Allah asalnya adalah tidak ada sebelum Allah mencipta dan membuatnya ada, supaya bebas terlepas dari pendapat yang menyatakan adanya ‘illah (sebab) dan ma’lûl (akibat).

• Kelima, menetapkan bahwa Allah Maha-Mengatur apa Ia ciptakan dan mengontrolnya sesuai kehendak Allah, supaya bebas terlepas dari pendapat yang menyatakan adanya thabâ’i (hukum alam yang berlaku dengan sendirinya)” (al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, I, 190-191)

Penetapan kelima aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Aspek pertama, seseorang harus meyakini bahwa alam semesta ini mempunyai Tuhan sebagai penciptanya. Tuhan ini benar-benar ada, bukan sekedar konsep atau imaginasi belaka. Keberadaannya dapat diketahui dengan keberadaan seluruh alam ini yang mustahil ada dengan sendirinya dari ketiadaan tanpa ada sosok yang merancangnya. Dengan ini, orang tersebut sudah berbeda dengan sebagian pemikir yang mengatakan bahwa alam semesta ini tak punya Tuhan melainkan sudah ada dengan sendirinya dari unsur-unsur pembentuk, seperti tanah, air, udara dan api, atau yang mengatakan bahwa yang ada di dunia hanyalah materi yang kasat mata saja dan tak ada apa pun di balik itu. 

Aspek kedua, seseorang harus meyakini bahwa Allah itu Esa atau tunggal. Esa di sini berarti meyakini kesendirian Allah sebagai Tuhan sejak masa yang tak punya awal mula. Dengan demikian, ia berlepas diri dari pihak-pihak yang meyakini bahwa dalam semesta ini ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling menyeimbangkan di mana kekuatan pertama menciptakan kebaikan dan kekuatan kedua menciptakan keburukan. Ia juga berlepas dari keyakinan sebagian orang yang meyakini ada materi kekal yang ada bersama Tuhan di mana Tuhan menciptakan alam semesta dari bahan baku materi tersebut. Dengan demikian secara pasti ia juga berlepas diri dari keyakinan yang menyatakan bahwa Allah punya saingan-saingan sebagai sesembahan.

Aspek ketiga adalah meyakini bahwa Dzat Allah pasti bukanlah materi tunggal (jauhar) atau susunan materi sedemikian rupa hingga membentuk rangkaian dan volume (jism) dan bukan pula berupa atribut-atribut temporer yang menyatu pada Dzat (‘aradl) seperti: ukuran, jumlah, warna, batasan tempat, batasan waktu, mekanisme, perbuatan fisik, efek perbuatan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ia sudah berbeda dengan kalangan Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah adalah jisim/sosok tiga dimensi (mempunyai panjang, lebar dan tinggi) yang menempati ruang tertentu. Ia juga berlepas diri dari pihak yang berkata bahwa Allah bergerak dengan mekanisme (kaifiyah) tertentu atau duduk di atas Arasy dengan cara tertentu sebagaimana Raja duduk di atas singgasana. Jauhar dan ‘aradl adalah sifat khas makhluk yang berkonsekuensi pada adanya awal mula dan ketidakkekalan. Sebelumnya, penulis telah menguraikan pendapat para ulama tentang batasan seseorang dianggap menyerupakan Tuhan dengan makhluk pada artikel yang lain.

Aspek keempat adalah seorang mukmin harus meyakini bahwa segala sesuatu selain Allah tidaklah ada dengan sendirinya tetapi dibuat oleh Allah sesuai kehendak-Nya. Bila Allah berkehendak menciptakannya, maka ia ada. Dan sebaliknya, bila Allah tak berkehendak menciptakannya, maka ia takkan pernah ada. Dengan demikian, maka orang tersebut sudah berbeda dari sebagian filsuf yang mengatakan bahwa keberadaan Allah menjadi sebab utama (‘illah) bagi keberadaan makhluk, dalam arti bila Allah ada, maka seketika itu juga makhluk juga akan ada sebagai akibatnya (ma’lûl) secara berurutan dan terus menerus seperti sebuah mekanisme berantai. Keyakinan semacam ini meniscayakan adanya materi kekal yang menjadi bahan baku bagi terciptanya makhluk pertama supaya mekanisme berantai tersebut bisa terjadi. 

Aspek kelima adalah seorang mukmin wajib meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya yang mengatur dan mengontrol alam semesta ini. Dengan demikian, ia sudah berbeda dengan keyakinan sebagian orang yang berkata bahwa Malaikatlah yang mengatur dunia ini hingga mereka menyebutnya sebagai Dewa-dewa. Juga berbeda dengan keyakinan beberapa astrolog yang meyakini bahwa kejadian di dunia diatur oleh pergerakan bintang dan planet tertentu, atau dengan para agnostik yang mengatakan bahwa semua kejadian di dunia diatur oleh hukum alam yang memang sudah ada dengan sendirinya di alam. 

Imam al-Halimy kemudian menjelaskan bahwa kesemua aspek ini ada dalam satu pernyataan sederhana:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ثَنَاؤُهُ ضَمَّنَ هَذِهِ الْمَعَانِيَ كُلَّهَا كَلِمَةً وَاحِدَةً، وَهِيَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَمَرَ الْمَأْمُورِينَ بِالْإِيمَانِ أَنْ يَعْتَقِدُوهَا وَيَقُولُوهَا

“Sesungguhnya Allah Yang Maha-Terpuji mengumpulkan seluruh aspek makna ini dalam satu kalimat, yakni “Tiada Tuhan selain Allah” dan memerintahkan manusia untuk meyakininya dan mengatakannya”. (al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, I, 193)

Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Rabu 27 Maret 2019 7:30 WIB
Hati-hati, Cacat Iman Tanpa Sadar!
Hati-hati, Cacat Iman Tanpa Sadar!
Sejarah mencatat ada banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengekspresikan keimanan mereka. Ada yang melakukannya dengan cara menyembah Allah saja, tetapi ada juga yang mengekspresikannya dengan cara menyembah berhala. Ada yang mengekspresikannya dengan meyakini bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum dalam Trinitas. Ada juga yang menyembah Allah tetapi meyakini bahwa segala sesuatu tergantung sepenuhnya pada usahanya sendiri. Semuanya saling mengklaim bahwa keyakinannya dapat menjadikan mereka selamat di akhirat. Akhirnya Allah menurunkan firmannya:

 وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًۭا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًۭا 
 
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam ar-Razi dalam tafsirnya yang berjudul Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa kesempurnaan iman kepada Allah yang dituntut dalam penyerahan diri pada Allah di ayat itu hanya dapat dicapai dengan melepas semua ketergantungan pada selain Allah. Ar-Razi menjelaskan:

أَنَّ كَمَالَ الْإِيمَانِ لَا يَحْصُلُ إِلَّا عِنْدَ تَفْوِيضِ جَمِيعِ الْأُمُورِ إِلَى الْخَالِقِ وَإِظْهَارِ التَّبَرِّي مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ

“Sesungguhnya kesempurnaan iman tidaklah bisa didapat kecuali dengan memasrahkan segala hal kepada yang Maha-Pencipta dan menampakkan ketiadaan daya dan kekuatan." (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI: 229).

Kemudian Imam ar-Razi menjelaskan kesalahan berbagai pihak yang menyangka dirinya telah beriman padahal keimanannya masih bermasalah tanpa dia sadari. Ia menjelaskan:

وَأَيْضًا فَفِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى فَسَادِ طَرِيقَةِ مَنِ اسْتَعَانَ بِغَيْرِ اللَّه، فَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَسْتَعِينُونَ بِالْأَصْنَامِ وَيَقُولُونَ: هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّه، وَالدَّهْرِيَّةُ وَالطَّبِيعِيُّونَ يَسْتَعِينُونَ بِالْأَفْلَاكِ وَالْكَوَاكِبِ وَالطَّبَائِعِ وَغَيْرِهَا، وَالْيَهُودُ كَانُوا يَقُولُونَ فِي دَفْعِ عِقَابِ الْآخِرَةِ عَنْهُمْ: أَنَّهُمْ مِنْ أَوْلَادِ الْأَنْبِيَاءِ، وَالنَّصَارَى كَانُوا يَقُولُونَ: ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ، فَجَمِيعُ الْفِرَقِ قَدِ اسْتَعَانُوا بِغَيْرِ اللَّه. 

“Selain itu ayat tersebut memperingatkan kesalahan orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah. Kaum musyrikin meminta pertolongan dengan para berhala dan berkata: ‘Mereka itu para pembela kami di sisi Allah’. Sedangkan orang ateis dan para saintis-agnostik (thabi’iyûn) meminta tolong kepada bintang-bintang, hukum alam atau hal lainnya.  Adapun Yahudi, untuk menolak siksa akhirat  mereka berkata: ‘Kami adalah keturunan para nabi’.  Adapun Nasrani, mereka berkata: ‘Kristus adalah pihak ketiga’.  Maka seluruh golongan tersebut telah meminta tolong pada selain Allah.”  (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Demikianlah, tak ada satu pun dari berbagai pihak yang disebutkan di atas murni beriman pada Allah. Mereka masih meyakini bahwa ada kekuatan di luar Allah yang dapat memberikan pengaruh pada realitas, entah itu berupa sosok tertentu, benda tertentu atau bahkan hukum alam sekalipun. Meyakini bahwa api secara independen punya kemampuan untuk membakar atau pisau secara independen punya kemampuan untuk mengiris adalah sebuah cacat dalam keimanan, meskipun itu adalah hukum alam yang berlaku sehari-hari. 

Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), tak ada yang dapat memberi pengaruh apa pun kecuali kehendak Allah semata. Dengan demikian, api pun diyakini tak kan bisa membakar apabila tak dikehendaki oleh Allah, seperti yang terjadi pada kasus Nabi Ibrahim. Demikian juga seluruh hal lain di dunia juga tak dapat melakukan apa pun atau memberi pengaruh apa pun dengan sendirinya.

Kemudian, ar-Razi menjelaskan bahwa kesalahan yang sama berlaku pada Muktazilah yang meyakini bahwa perbuatan manusia adalah patokan pahala dan siksa di akhirat. Ia menjelaskan:

وَأَمَّا الْمُعْتَزِلَةُ فَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ مَا أَسْلَمَتْ وُجُوهُهُمْ للَّه لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ الطَّاعَةَ الْمُوجِبَةَ لِثَوَابِهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَالْمَعْصِيَةَ الْمُوجِبَةَ لِعِقَابِهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ لَا يَرْجُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَلَا يَخَافُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ، 

“Adapun Muktazilah, maka secara hakikat sesungguhnya mereka belum memasrahkan diri mereka kepada Allah sebab mereka berpendapat bahwa ketaatan mengharuskan adanya pahala untuk diri mereka, sedangkan kemaksiatan mengharuskan adanya siksa  atas mereka.  Maka pada hakikatnya mereka tidak mengharap kecuali pada diri mereka sendiri dan tidak takut kecuali pada diri mereka sendiri.” (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Selanjutnya, ar-Razi menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai berikut:

وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ الَّذِينَ فَوَّضُوا التَّدْبِيرَ وَالتَّكْوِينَ وَالْإِبْدَاعَ وَالْخَلْقَ إِلَى الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاعْتَقَدُوا أَنَّهُ لَا مُوجِدَ وَلَا مُؤَثِّرَ إِلَّا اللَّه فَهُمُ الَّذِينَ أَسْلَمُوا وُجُوهَهُمْ للَّه وَعَوَّلُوا بِالْكُلِّيَّةِ عَلَى فَضْلِ اللَّه، وَانْقَطَعَ نَظَرُهُمْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ مَا سِوَى اللَّه.

“Adapun Ahlussunnah yang memasrahkan kemampuan untuk mengatur, membuat dan mencipta  hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan meyakini bahwa tidak ada pencipta ataupun yang bisa memberi pengaruh kecuali Allah, maka mereka adalah yang betul-betul memasrahkan dirinya kepada Allah dan bergantung sepenuhnya terhadap kemurahan Allah serta telah hilang perhatian mereka dari selain Allah.” (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Mereka inilah yang berhak disebut memasrahkan diri sepenuhnya pada Allah (aslama wajhahu lillâh) sebab meyakini tak ada daya dan kuasa apa pun kecuali dengan kehendak Allah (lâ haula walâ quwwata illâ billâh). Penjelasan ini juga membantah anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa berislam cukup dengan “pasrah pada Tuhan” saja sehingga apa pun agamanya asalkan “pasrah pada Tuhan” akan diterima. Kepasrahan pada Tuhan yang dituntut oleh al-Qur’an adalah kepasrahan total sebagaimana dijelaskan di atas, bukan asal pasrah tetapi sebenarnya hatinya masih mendua sebagaimana dipraktekkan oleh non-muslim atau ahli bid’ah dari kalangan kaum muslimin. 

Dan tentu saja, dalam perspektif agama Islam, keimanan harus juga memenuhi keenam rukun iman yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits, yakni: Iman pada Allah, pada para Malaikat, pada kitab suci yang diturunkan Allah, pada para Rasul, pada adanya hari kiamat dan beriman bahwa kebaikan dan keburukan semuanya dapat terjadi atas ketentuan Allah. Sama sekali tak relevan menyebut suatu golongan sebagai “orang beriman” dari perspektif Islam bila golongan tersebut masih belum memenuhi salah satu rukun iman atau pun belum pasrah secara total pada Allah semata. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur

Selasa 26 Maret 2019 14:30 WIB
Kata Pendaku Salafi ‘Orang Jahiliyah Bertauhid tatkala Susah’, Benarkah?
Kata Pendaku Salafi ‘Orang Jahiliyah Bertauhid tatkala Susah’, Benarkah?
Ilustrasi (via weziwezi.com)
Banyak tokoh pendaku Salafi yang mengatakan bahwa sebenarnya kaum musyrikin jahiliyah itu bertauhid tatkala susah dan mereka menjadi syirik hanya tatkala senang saja. Misalnya saja Syekh Muhammad Taqiyuddin al-Hilali yang berkata:

أن المشركين الأولين كانوا إذا مسهم الضر وځدوا الله تعالى فلم يدعوا غيره، وإذا كانوا في وقت الرخاء أشركوا به، وعبدوا غيره، أما مشرکو هذا الزمان، فإنهم أجهل وأضل؛ لأنهم مشركون بالله في الشدة وفي الرخاء، ولا يكادون يوحدون الله تعالى في أي حال

“Sesungguhnya kaum musyrikin awal apabila tertimpa kesusahan, mereka bertauhid pada Allah sehingga tak berdoa pada selainnya. Apabila mereka dalam keadaan senang, maka mereka syirik menyekutukan Allah dan menyembah selainnya. Adapun kaum musyrikin di masa ini, mereka lebih bodoh dan lebih sesat sebab mereka menyekutukan Allah di saat susah dan senang dan hampir-hampir tak pernah bertauhid pada Allah dalam keadaan apa pun.” (Muhammad Taqiyuddin al-Hilali, Sabîl al-Rasyâd Fî Hadyi Khair al-‘Ibâd, 511).

Kesimpulan seperti itu jauh sebelumnya juga disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, pendiri sekte Wahhabiyah, yang berkata:

فأعلم أن شرك الأولين أخف من شرك أهل زماننا بأمرين أحدهما: أن الأولين لا يشركون ولا يدعون الملائكة والأولياء والأوثان مع الله إلا في الرخاء، وأما الشدة فيخلصون لله الدعاء

“Maka ketahuilah bahwa kesyirikan orang awal lebih ringan dari kesyirikan penduduk masa kita ini sebab dua hal; salah satunya adalah mereka tidak melakukan syirik dan tak berdoa pada malaikat, wali, berhala bersamaan dengan berdoa pada Allah kecuali dalam keadaan senang saja. Adapun dalam keadaan susah, mereka memurnikan doa pada Allah.” (Ibnu Utsaimin, Syarh Kasyf as-Syubuhât, 76)

Alasan mereka sehingga sampai pada kesimpulan tersebut adalah beberapa firman Allah seperti berikut:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kalian seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al-Isra’: 57)

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

"Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)" (QS. Al-Ankabut 65)

Sebenarnya ayat-ayat tersebut dan banyak lagi yang serupa sama sekali tak mengatakan bahwa orang-orang musyrik itu bertauhid tatkala susah. Yang ada, ayat tersebut hanya mengatakan bahwa orang-orang jahiliyah itu tak berdoa pada berhala sewaktu mereka susah dan terdesak tetapi hanya pada Allah saja yang mereka yakini sebagai sesembahan terhebat, Sang Pencipta langit dan bumi. Seperti diungkapkan oleh Imam al-Qurthubi, para musyrikin itu meyakini bahwa berhala yang mereka sembah tak bisa berbuat apa pun tatkala ada kesulitan besar (أَنَّ الْأَصْنَامَ لَا فِعْلَ لَهَا فِي الشَّدَائِد الْعِظَامِ) )al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubî, X: 291).

Namun demikian, harus dicatat bahwa dalam hati mereka tetap meyakini bahwa berhala-berhala itu layak disembah dan dimintai pertolongan bila masalahnya tak begitu berat. Sebab itulah ketika keadaan genting sudah usai, maka mereka kembali menampakkan kesyirikannya dengan berdoa pada berhala lagi. Andai mereka sama sekali tak meyakini berhala itu bisa memberikan manfaat dan pertolongan dalam hal yang tidak begitu berat, tentu mustahil mereka menyembahnya dan berdoa padanya.

Hakikat kesyirikan itu meyakini dalam hati bahwa ada sesembahan (إله) yang benar selain Allah. Meskipun sedang menyembah Allah, tapi bila dalam hati seseorang ada sesembahan lain yang sedang tak ia sembah, maka itu sudah syirik. Meskipun orangnya sedang shalat di masjid, kalau hatinya mendua pada sesembahan lain, maka tetaplah ia syirik. Jadi, adalah kurang tepat kalau ada yang berkata bahwa orang musyrikin bertauhid, meskipun di level tertentu saja. Sudah jelas Al-Qur’an berkali-kali menyebut mereka sebagai orang musyrik dan tak sekalipun menyebut mereka sebagai muwahhid (orang yang bertauhid). Sebab itulah, Allah berfirman tentang hati para musyrikin itu yang mencintai berhala mereka seperti halnya mereka juga mencintai Allah.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2]: 165).

Sebaliknya meskipun seseorang berada di depan berhala, berdoa pada Allah di rumah ibadah agama lain, berada di kuburan atau di mana pun, bila dalam hatinya yakin bahwa hanya Allah saja sesembahan yang benar sehingga semua objek di depannya sama sekali tak layak disembah, maka ia tetap bertauhid meyakini lâ ilâha illallâh. Inilah yang dilakukan kaum muslimin awal sebelum hijrah ke Madinah ketika mereka menunaikan shalat di area Ka’bah yang saat itu masih penuh dengan berhala. Demikian pula ketika kaum muslimin mencium Hajar Aswad, menghadap ke Ka’bah atau menempelkan pipinya di Multazam, sama sekali tak ada yang sedang menyembah hajar aswad, ka’bah atau multazam sebab hari mereka bersih dari syirik.

Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), meyakini Allah sebagai pencipta langit dan bumi dan pemberi rezeki saja tak cukup menjadikan seseorang disebut bertauhid bila ia masih meyakini ada sekutu (شريك) atau tandingan (ند) bagi Allah dalam hal apa pun. Seseorang dianggap bertauhid hanya apabila telah meyakini bahwa Allah tak mempunyai satu pun tandingan dalam hal Dzat, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Dengan kata lain, seorang disebut muwahhid apabila meyakini tak ada apa pun di dunia ini yang menyamai Allah atau dapat memberi manfaat dan mudarat sekecil apa pun tanpa izin Allah. 

Dengan keyakinan seperti ini, mustahil seorang muwahhid akan menyembah selain Allah meskipun secara lahiriah ia berdoa di kuburan atau bertawassul dengan Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ sendiri dalam hadis yang sahih. Dengan demikian diketahui bahwa kesimpulan para pendaku Salafi yang mengatakan bahwa orang-orang pada saat ini telah syirik, bahkan lebih buruk dari kesyirikan orang jahiliyah, sebab berdoa di kuburan atau bertawassul tatkala keadaan susah adalah kesimpulan yang amat gegabah dan tak berdasar. Tak terhitung jumlah para ulama besar dalam sejarah, termasuk Imam Ahmad, yang melakukan hal semacam ini dan tanpa sedikit pun diragukan bahwa mereka adalah muwahhid sejati. 

Yang layak dianggap syirik hanyalah perbuatan menyembah dan memohon kepada selain Allah saja (bukan dalam rangka bertawassul) yang biasanya dilakukan oleh non-muslim. Kadang tindakan semacam ini juga dilakukan oleh orang muslim yang teramat bodoh dan jauh dari pendidikan Islam, tetapi ini sedikit sekali sebab secara naluriah seorang yang bersyahadat akan tahu bahwa tindakan seperti itu bertentangan dengan syahadatnya.

Jadi, orang-orang musyrik jahiliyah tak pernah bertauhid sebab tak memenuhi syarat tauhid di atas. Namun al-Qur’an menginfokan bahwa orang-orang musyrik itu benar-benar bertauhid nanti tatkala telah kiamat. Ketika mereka sudah melihat azab Allah dengan mata kepala mereka sendiri, barulah mereka bertauhid. Tentu saja taubat ini sudah tak berguna. Bagaimana redaksi tauhid mereka? Perhatikan ketegasan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ. فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا

"Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar (kufur) kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka tak bermanfaat keimanan mereka ketika telah melihat azab Kami.” (QS. Ghafir: 84-85)

Redaksi tauhid di ayat itu jelas dengan pernyataan bahwa mereka ingkar pada sesembahan-sesembahan selain Allah dan hanya beriman pada Allah semata. Redaksi tegas semacam ini tak terucap ketika mereka masih hidup, bahkan tatkala sedang kesusahan sekalipun, sebab kenyataannya mereka tetap menaruh rasa cinta pada berhala-berhala mereka dan merasa berhala-berhala itu dapat memberi manfaat sebagai sekutu Allah atau minimal sebagai pembela (شفيع) di hadapan Allah. Sebab itulah mereka berstatus musyrik hingga matinya. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jawa Timur