IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif

Jumat 29 Maret 2019 15:0 WIB
Share:
Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Ilustrasi (Shutterstock)
Dalam hadits dhaif, ada dua pembagian besar yang dilakukan oleh para ulama. Pembagian ini didasarkan pada sebab-sebab suatu hadits dihukumi dhaif (lemah), yaitu: pertama, karena terputusnya sanad (al-mardûd bi sabab saqtun fi al-isnad) dan kedua, karena cacatnya rawi (al-mardûd bi sabab ṭaʽn fi ar-rawi). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Kategori sebab yang pertama yakni terputusnya sanad, memunculkan berbagai pembagian dalam hadits dhaif, seperti: Muallaq, Mursal, Muʽdhal, Munqathi, Mudallas, Muʽanʽan dan Mursal Khafi.

Sedangkan kategori kedua, yaitu karena cacatnya perawi yang meriwayatkan hadits tersebut, juga memunculkan berbagai pembagian, yaitu Maudhu (palsu), Mungkar, Ma’ruf, Syadz, Muallal, Mukhalafah li as-Siqqah, Mudraj, Muththarrib, Maqlub, dan beberapa jenis yang lain.

Ada beberapa sebab terjadinya daif dalam kategori kedua ini:

Pertama, sering berbohong (muttaham bi al-kadzab): yakni rawi tersebut diketahui sering berbohong dalam ucapannya sehari-hari tetapi tidak diketahui apakah ia berbohong atau tidak dalam meriwayatkan hadits. Konsekuensi dari sebab ini adalah menjadikan hadits yang diriwayatkan menjadi hadits matruk.

Kedua, fasiq: perawi tersebut pernah melakukan suatu dosa besar atau terus-menerus melakukan dosa kecil.

Ketiga, pelaku bid’ah: rawi melakukan bid'ah, baik dalam keyakinan maupun perbuatan.

Keempat, tidak dikenali (jahâlah al-ʽain): perawi tidak dikenal atau tidak diketahui perilakunya.

Empat sebab yang telah disebutkan di atas merupakan sebab kecacatan rawi dalam segi ʽadalah (keadilan). Sedangkan sebab berikut adalah sebab kecacatan rawi dalam segi kedhabitan:

Pertama, sering melakukan kesalahan (fahsy al-ghalaṭ): Hafalan sangat buruk, lebih banyak salah daripada benarnya dalam meriwayatkan hadits

Kedua, sering lupa (ghaflah)

Ketiga, jelek hafalannya (sû’ al-ḥifdz): Jeleknya hafalan rawi sehingga ia sering salah dalam dalam meriwayatkan hadits.

Keempat, ragu-ragu (wahm): Rawi sering salah sangka dalam periwayatan, semisal mengira atsar yang mauquf menjadi hadits marfu', mengira hadits munqathi' adalah muttasil.

Kelima, berbeda dengan riwayat orang-orang yang terpercaya (mukhalafah al-tsiqqah). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥān, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Oleh karena itu, karena hadits menjadi landasan hukum setelah Al-Qur’an maka ia harus dipastikan kesahihannya, terlebih harus dipastikan siapa yang meriwayatkan hadits tersebut, apakah periwayat tersebut memiliki sifat yang sama sebagaimana sebab-sebab dalam kategori di atas. Jika benar, maka hadits yang diriwayatkan bisa termasuk dalam kategori dhaif atau bahkan maudhu' (palsu).

Sebab dan kriteria di atas juga bisa kita gunakan untuk menilai suatu berita yang dibawa oleh seseorang. Jika pembawa berita tersebut ternyata memiliki sifat atau kriteria yang sesuai dengan kecacatan rawi di atas, maka perlu juga kita pertanyakan keabsahan berita yang dibawanya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Share:
Kamis 28 Maret 2019 14:0 WIB
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
(Foto: @pinterest)
Mudallas menurut definisi At-Ṭhaḥḥān adalah menyembunyikan aib dalam sebuah sanad dan hanya menampakkan yang baik-baik. At-Ṭhaḥḥān menyebutnya dengan “Ikhfā’u ʽaibin fi al-Isnad, wa taḥsīn li ẓahirihi,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣhṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maarif: 2004], halaman 96). Namun definisi tersebut masih bersifat umum.

Lebih lanjut, para ulama membagi hadits mudallas menjadi beberapa bagian. Pembagian hadits mudallas tersebut juga memiliki definisi yang berbeda-beda. Berdasarkan rangkuman At-Ṭhaḥḥān, secara mendasar ada tiga pembagian dalam hadits mudallas:

Pertama, Tadlis Isnad.
Apabila seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru sebuah hadits yang sesungguhnya tidak ia dengar dari guru tersebut, dengan menggunakan redaksi yang kabur agar terkesan ia mendengar dari sang guru.

Definisi ini adalah definisi yang dianggap At-Ṭhaḥḥān sebagai definisi yang paling baik di antara definisi-definisi mudallas yang diberikan oleh para ulama. Definisi ini merupakan definisi dari Al-Bazzār dan Al-Qaṭṭān, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 97).

Hal ini berbeda dengan mursal khafi. Perbedaannya, jika tadlis isnad dilakukan oleh orang yang pernah bertemu dan meriwayatkan hadits dari gurunya, maka mursal khafi lebih parah lagi. Ia sebenarnya sezaman dengan gurunya tersebut, namun tidak pernah mendengar satu hadits pun dari guru tersebut.

Biasanya, para pelaku tadlis ini tidak menggunakan sighat (ungkapan) yang jazm (pasti), seperti dengan قال  atau عن.

Seperti contoh riwayat Sufyan bin ʽUyainah dari Az-Zuhrī. Menurut Al-Hakim, saat itu Sufyan ditanya, apakah benar bahwa hadits tersebut ia dengar langsung dari Al-Zuhrī? Namun Sufyan menjawab bahwa ia mendengarnya dari Abdur Razzāq dari Maʽmar dari Az-Zuhrī.

Sufyan sebenarnya berguru dan mendengar hadits dari Az-Zuhrī, hanya saja dalam kasus ini, ia mendengar hadits tidak langsung dari Az-Zuhrī, melainkan dari dua rawi yang ia hilangkan.

Kedua, Tadlis Syuyūkh
Jika seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru, lalu ia menyebut guru tersebut dengan nama, julukan, nisbat atau sifat yang asing agar tidak diketahui. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan aib gurunya, seperti dhaif, masih belum cukup dewasa dan sebagainya,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 101). 

Contoh:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، أَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، أَظُنُّهُ قَالَ: الشَّيْبَانِيُّ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلَاءَ، عَنْ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَ غُلَامًا، فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَيْهِ تَمْرًا، فَأَكَلَ الْغُلَامُ فَأَكْثَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ كَثْرَةَ الْأَكْلِ شُؤْمٌ"

Dalam hadits di atas, Alī bin Jaʽd menyamarkan nama gurunya dengan sebutan Abū Isḥāq. Padahal nama aslinya adalah Ibrāhīm bin Harasah. Hal ini dilakukan karena Ibrāhīm adalah seorang rawi yang dituduh berbohong.

Ketiga, Tadlīs Taswiyyah.
Tadlis jenis ini adalah praktik ketika seorang rawi membuang rawi dhaif di antara dua rawi terpercaya (tsiqah), (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 98). 

Salah dua rawi yang sering melakukan tadlīs ini adalah Baqiyyah dan Al-Wālid bin Muslim, seperti dalam contoh:

مَاأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَيَّةَ الطرسُوْسِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَهب بن عطية، حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا اْلأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّان بْنِ عَطِيَّة عَنْ أَبِيْ مُنِيْبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dalam hadits tersebut, Al-Wālid membuang satu rawi antara Al-Auzāʽī dan Hassān bin ʽAṭiyyah yang bernama Abdurrahman bin Tsabit yang merupakan rawi dhaif sehingga terkesan bahwa sanad tersebut bebas dari rawi dhaif. 

Hal ini telah diakui sendiri oleh Al-Walīd saat ditanya oleh Al-Hutsaim bin Kharijah terkait perilakunya membuang perawi setelah Auzā’ī. Ia menjawab, agar orang yang menerima hadits tersebut percaya bahwa hadits tersebut bukan hadits dhaif, (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrīb An-Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002], halaman 165).

Di antara tiga macam tadlis tersebut, yang paling ringan adalah tadlis suyukh karena tadlis ini tidak sampai membuang dan memutus jalur sanad. Namun, terkait statusnya, ulama masih berbeda pendapat:

Pertama, ada yang mengatakan bahwa statusnya tertolak karena tadlis merupakan salah satu jarh. Namun, qaul pertama ini bukanlah qaul yang bisa dijadikan pijakan.

Kedua, statusnya diperinci (tafṣīl). Jika menggunakan lafaz yang menunjukkan bahwa ia benar-benar telah mendengar suatu hadits dari gurunya (sighat jazm) seperti samiʽtu (سمعت) dan semacamnya, maka hadits tersebut diterima. Namun jika sebaliknya, yakni menggunakan sighat tamrīd, seperti ʽan (عن) atau qāla (قال) dan semacamnya, maka ia tidak diterima.

Sebab-sebab seorang rawi melakukan tadlis ada empat, yaitu: Pertama, gurunya dhaif.

Kedua, guru tersebut wafatnya agak belakangan, sekira generasi setelah murid yang melakukan tadlis tersebut masih bisa meriwayatkan dari guru itu.

Ketiga, gurunya masih muda, atau bahkan lebih muda daripada murid yang meriwayatkan hadits darinya.

Keempat, keseringan meriwayatkan hadits dari guru tersebut sehingga muridnya hanya menyebutnya satu kali atau dalam satu sebutan, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 102). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Rabu 27 Maret 2019 8:45 WIB
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
(Foto: @musi.org.my)
Hadits dhaif memiliki banyak pembagian. Sebagian pembagian yang maklum dalam materi musthalahul hadits adalah pembagian hadits dhaif dalam segi terputusnya sanad. Salah satu hadits dhaif dalam kategori ini adalah hadits mu’dhal.

Hadits Muʽdhal adalah hadits yang perawinya hilang dua atau lebih secara berturut-turut.

Contoh hadits mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaṭṭa’.

بلغني عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلف من العمل إلا ما يطيق

Artinya, “Telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah RA sungguh Rasul SAW bersabda, ‘Berikan makanan dan pakaian yang layak kepada para budak. Jangan bebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka sanggupi.’”

Menurut Imam Al-Hakim, hadits tersebut adalah hadits muʽdhal karena Imam Malik membuang dua perawi, yakni Muhammad bin ʽAjlan dan ‘Ajlan. Seharusnya dua nama itu disebutkan sebelum Abu Hurairah RA, (Lihat Mahmūd At-Thaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M] halaman 92).

Selain hadits di atas, Imam As-Suyuthi menyebutkan beberapa hadits mu’dhal lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hal ini disebut sebagai “Balagha Imam Malik”. Namun, menurut Imam As-Suyuthi, tidak semua “Balagha Imam Malik” dhaif karena muʽdhal.

Ibn Abdil Barr meneliti sekitar 60an hadits, dan menemukan sanad lain yang muttasil selain dari Imam Malik, kecuali empat hadits berikut:

Pertama, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul tidak lupa, tetapi dibuat lupa oleh Allah untuk memberikan pengajaran.

إِنِّي لَا أَنْسَى وَلَكِنْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ

Artinya, “Sesungguhnya aku tidak lupa, tetapi dibuat lupa (oleh Allah) untuk mengajarkan sunnah.”

Kedua, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul pernah diperlihatkan manusia yang paling panjang umurnya.

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ أُرِىَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ فَكَأَّنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW diperlihatkan umur manusia sebelum umatnya yang paling panjang atau atas kehendak Allah, seolah-olah (umur yang paling panjang dari umat sebelumnya) itu lebih pendek dari umatku yang paling panjang umurnya.”

Ketiga, hadits terkait pesan Rasul kepada Muʽadz agar memperbaiki akhlaknya.

قَوْلُ مُعَاذٍ: آخِرُ مَا أَوْصَانِي بِهِ رَسُولُ الله وَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلَيَّ فِي الغَرْزِ أَنْ قَالَ: «أَحْسِن خُلُقَكَ لِلنَّاس

Artinya, “Muadz berkata, ‘Kalimat terakhir yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepadaku dan aku saat itu meletakkan kedua kakiku di sebuah batang kayu. Rasul berkata, ‘Perbaikilah akhlakmu untuk manusia.’’”

Keempat, hadits tentang munculnya sesuatu dari arah laut (awan) maka tanda akan terjadi hujan.

إذَا أنْشَأت بَحْرية, ثمَّ تَشَاءمت, فتلكَ عَيْنٌ غديقة

Artinya, “Jika sesuatu (awan) muncul dari arah laut. Kemudian awan itu naik, maka itu adalah tanda air yang banyak (hujan),’ (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrībin Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002 M], halaman 153). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Selasa 26 Maret 2019 15:45 WIB
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
(Foto: @ss.lv)
Mursal adalah hadits yang hilang atau tidak disebutkan perawi dari golongan sahabat. Ciri hadits mursal adalah sebuah hadits yang disampaikan oleh tabi’in (baik tabi’in kecil maupun besar) tanpa menyebutkan nama sahabat, dan langsung menyebut nama Rasulullah SAW.

Jika ada tabiin yang menyebutkan hadits langsung dari Rasul, maka hadits tersebut adalah hadits mursal karena secara teknis seorang tabi’in tidak akan mendapatkan hadits tanpa sahabat.

Contoh hadits mursal bisa kita lihat dalam Ṣaḥīḥ Muslim, dalam pembahasan jual-beli (Kitābul Buyū’) berikut:

حدثني محمد بن رافع، ثنا حجين، ثنا الليث، عن عقيل، عن ابن شهاب عن سعيد بن مسيب أن رسول الله ﷺ نهى بيع عن المزابنة

Dalam hadits tersebut, Saʽid bin Musayyab adalah seorang tabi’in kabir, namun meriwayatkan langsung dari Rasulullah SAW. Padahal seorang tabi’in tidak mungkin bertemu dengan Rasul. Ia pasti mendengar hadits tersebut dari sahabat. Sayangnya, sahabat tersebut tidak disebutkan.

Sebagaimana hadits muʽallaq, mursal juga tergolong hadits yang tertolak (mardūd) karena hilangnya salah satu syarat hadits sahih, yakni ittiṣālus sanad (tersambungnya sanad). Namun para ulama berbeda pendapat, karena yang hilang dari hadits mursal adalah rawi sahabat, sedangkan para sahabat sudah divonis adil sehingga tidak disebutkannya nama sahabat dalam sanad tersebut tidak menjadikan hadits tersebut tertolak.

Maka dari itu, menyikapi hal ini, ulama terbagi menjadi tiga kelompok.

Pertama, dhaif mardud: pendapat ini dipegang teguh oleh para ahli ushul serta mayoritas ahli hadits. Alasannya, karena tidak diketahui ciri dan kredibilitas rawi yang dibuang, karena bisa jadi yang tidak disebutkan/dibuang tersebut adalah bukan golongan sahabat.

Kedua, sahih dan bisa dijadikan argumentasi: pendapat ini dianut oleh tiga ulama besar, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal, dengan syarat, orang yang melakukan kemursalan (mursil) adalah orang yang tsiqqah (kredibel). Pada prinsipnya, orang yang tsiqqah tidak akan dengan mudah menyebutkan hadits langsung dari Rasul, jika tidak melalui orang yang tsiqqah juga.

Ketiga, diterima dengan beberapa syarat: pendapat ini diikuti oleh Imam As-Syafi’i dan beberapa ulama.

Syarat-syarat tersebut adalah: 1) orang yang memursalkan hadits (mursil) termasuk golongan tabi’in tua (kibārut tabi’īn). 2) ketika mursil tersebut ditanya terkait nama perawi yang dibuang, ia menyebutkan nama orang yang tsiqqah. 3) riwayat rawi mursil tersebut tidak bertentangan dengan riwayat rawi lain yang terpercaya dan kuat hafalannya. Artinya, rawi mursil tersebut adalah rawi yang tsiqqah. 4) hadits tersebut memiliki jalur sanad yang berbeda. Jika sanad lain tersebut juga mursal, sanad tersebut bukan dari mursil yang sama. 5) Sesuai dengan kaul para sahabat. 6) Hadits tersebut digunakan sebagai hujjah oleh para ulama dalam fatwanya. (Lihat Mahmūd At-ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M], halaman 89-90).

Selain mursal sebagaimana penjelasan di atas, dalam kategori pembagian mursal ini juga ada yang dinamakan dengan mursal sahabī. Mursal ini sebagaimana hadits mursal biasa, hanya saja pelaku (mursil) adalah seorang sahabat.

Biasanya sahabat tersebut adalah sahabat kecil yang meriwayatkan hadits dari sahabat besar, namun ia tidak menyebutkan nama sahabat besar tersebut, dan langsung menyebutkan Rasulullah SAW.

Tidak seperti mursal biasa, mursal sahabī ini tidak tergolong hadits yang tertolak, karena rawi yang dihilangkan bisa dipastikan sebagai sahabat. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)