IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Mengenal Hadits Mursal Khafi

Ahad 31 Maret 2019 21:30 WIB
Share:
Mengenal Hadits Mursal Khafi
Ilustrasi (Shutterstock)
Pembagian hadits dhaif memang sangat beragam. Bahkan bisa dibilang sangat banyak sekali. Imam as-Suyuthi, mengutip Ibn Shalah, dalam Tadrîb ar-Rawi menyebutkan bahwa pembagian hadits dhaif mencapai seratusan, hanya saja, tidak semua pembagian tersebut sampai pada kita istilah dan definisi-definisinya.

Baca juga:
Macam-macam Hadits Dhaif (1)
Macam-macam Hadits Dhaif (2)
Khusus dalam pembagian hadits dhaif dalam segi keterputusan sanadnya ada salah satu pembagian yang disebut dengan hadits mursal khafi. Hadits mursal khafi ini berbeda dengan hadits mursal biasa atau mursal sahabi sebagaimana disebutkan dalam pembahasan sebelumnya.

Jika hadits mursal biasa hanya bisa terjadi pada satu tingkatan sanad, yaitu tabiin, sedangkan hadits mursal sahabi terjadi pada tingkatan sahabat, maka hadir mursal khafi ini bisa terjadi pada semua tingkatan sanad.

Lalu apa definisi hadits mursal khafi?

أن يروي الراوي عن من لقيه أوعاصره مالم يسمع منه بلفظ يحتمل السماع وغيره كقال 

Artinya, “Periwayatan rawi dari orang yang pernah ditemui atau dari orang yang sezaman tetapi tidak pernah mendengar hadits darinya dengan lafadz yang menunjukkan bahwa rawi tersebut memang benar-benar mendengar sebuah hadits, misalnya dengan lafadz “qaala”. (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 105.)

Baca juga:
• Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Contoh:

مَا رَوَاهُ إِبْنُ مَاجَّه مِنْ طَرِيْقِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْز، عَنْ عُقْبَةَ بنِ عَامِر مَرْفُوْعًا: (رَحِمَ اللهُ حَارِسَ الْحَرَسِ) ـ

Artinya, “Seperti contoh sebuah hadits riwayat Ibn Majjah dari jalur Umar bin Abdul Aziz dari Uqbah bin Ami, yang diriwayatkan secara marfu (dari Rasul Saw). “Allah Swt mengampuni para pengawal atau tentara.”

Berdasarkan penuturan al-Mîzî dalam kitab al-Aṭrâf, Umar ibn Abd al-Azîz tidak bertemu dengan Uqbah. Namun dalam hadits ini ia meriwayatkan dari Uqbah, sehingga hadits ini tergolong sebagai Mursal Khafi.

Hadits Mursal Khafi bisa diketahui dengan beberapa hal: Pertama, pengakuan para ulama bahwa rawi tersebut tidak pernah mendengar hadits dari gurunya.

Kedua, pengakuan dari rawi sendiri.

Ketiga, adanya tambahan seorang rawi lain di antara rawi dan gurunya dalam sanad lain. (namun hal ini diperdebatkan oleh para ulama, karena bisa jadi hal ini tergolong dalam kasus al-mazîd fî muttaṣil al-asânid). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 147.)

Lebih tepatnya, hadits mursal khafi ini lebih mirip dengan hadits mudallas yang isnad, hanya saja bedanya jika tadlis isnad, perawinya memang berguru pada gurunya, hanya saja ia tidak pernah mendengar hadits tersebut, sedangkan hadits mursal khafi, perawinya memang bertemu, namun tidak pernah berguru atau mendengar hadits darinya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Share:
Jumat 29 Maret 2019 15:0 WIB
Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Ilustrasi (Shutterstock)
Dalam hadits dhaif, ada dua pembagian besar yang dilakukan oleh para ulama. Pembagian ini didasarkan pada sebab-sebab suatu hadits dihukumi dhaif (lemah), yaitu: pertama, karena terputusnya sanad (al-mardûd bi sabab saqtun fi al-isnad) dan kedua, karena cacatnya rawi (al-mardûd bi sabab ṭaʽn fi ar-rawi). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Kategori sebab yang pertama yakni terputusnya sanad, memunculkan berbagai pembagian dalam hadits dhaif, seperti: Muallaq, Mursal, Muʽdhal, Munqathi, Mudallas, Muʽanʽan dan Mursal Khafi.

Sedangkan kategori kedua, yaitu karena cacatnya perawi yang meriwayatkan hadits tersebut, juga memunculkan berbagai pembagian, yaitu Maudhu (palsu), Mungkar, Ma’ruf, Syadz, Muallal, Mukhalafah li as-Siqqah, Mudraj, Muththarrib, Maqlub, dan beberapa jenis yang lain.

Ada beberapa sebab terjadinya daif dalam kategori kedua ini:

Pertama, sering berbohong (muttaham bi al-kadzab): yakni rawi tersebut diketahui sering berbohong dalam ucapannya sehari-hari tetapi tidak diketahui apakah ia berbohong atau tidak dalam meriwayatkan hadits. Konsekuensi dari sebab ini adalah menjadikan hadits yang diriwayatkan menjadi hadits matruk.

Kedua, fasiq: perawi tersebut pernah melakukan suatu dosa besar atau terus-menerus melakukan dosa kecil.

Ketiga, pelaku bid’ah: rawi melakukan bid'ah, baik dalam keyakinan maupun perbuatan.

Keempat, tidak dikenali (jahâlah al-ʽain): perawi tidak dikenal atau tidak diketahui perilakunya.

Empat sebab yang telah disebutkan di atas merupakan sebab kecacatan rawi dalam segi ʽadalah (keadilan). Sedangkan sebab berikut adalah sebab kecacatan rawi dalam segi kedhabitan:

Pertama, sering melakukan kesalahan (fahsy al-ghalaṭ): Hafalan sangat buruk, lebih banyak salah daripada benarnya dalam meriwayatkan hadits

Kedua, sering lupa (ghaflah)

Ketiga, jelek hafalannya (sû’ al-ḥifdz): Jeleknya hafalan rawi sehingga ia sering salah dalam dalam meriwayatkan hadits.

Keempat, ragu-ragu (wahm): Rawi sering salah sangka dalam periwayatan, semisal mengira atsar yang mauquf menjadi hadits marfu', mengira hadits munqathi' adalah muttasil.

Kelima, berbeda dengan riwayat orang-orang yang terpercaya (mukhalafah al-tsiqqah). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥān, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Oleh karena itu, karena hadits menjadi landasan hukum setelah Al-Qur’an maka ia harus dipastikan kesahihannya, terlebih harus dipastikan siapa yang meriwayatkan hadits tersebut, apakah periwayat tersebut memiliki sifat yang sama sebagaimana sebab-sebab dalam kategori di atas. Jika benar, maka hadits yang diriwayatkan bisa termasuk dalam kategori dhaif atau bahkan maudhu' (palsu).

Sebab dan kriteria di atas juga bisa kita gunakan untuk menilai suatu berita yang dibawa oleh seseorang. Jika pembawa berita tersebut ternyata memiliki sifat atau kriteria yang sesuai dengan kecacatan rawi di atas, maka perlu juga kita pertanyakan keabsahan berita yang dibawanya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Kamis 28 Maret 2019 14:0 WIB
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
(Foto: @pinterest)
Mudallas menurut definisi At-Ṭhaḥḥān adalah menyembunyikan aib dalam sebuah sanad dan hanya menampakkan yang baik-baik. At-Ṭhaḥḥān menyebutnya dengan “Ikhfā’u ʽaibin fi al-Isnad, wa taḥsīn li ẓahirihi,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣhṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maarif: 2004], halaman 96). Namun definisi tersebut masih bersifat umum.

Lebih lanjut, para ulama membagi hadits mudallas menjadi beberapa bagian. Pembagian hadits mudallas tersebut juga memiliki definisi yang berbeda-beda. Berdasarkan rangkuman At-Ṭhaḥḥān, secara mendasar ada tiga pembagian dalam hadits mudallas:

Pertama, Tadlis Isnad.
Apabila seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru sebuah hadits yang sesungguhnya tidak ia dengar dari guru tersebut, dengan menggunakan redaksi yang kabur agar terkesan ia mendengar dari sang guru.

Definisi ini adalah definisi yang dianggap At-Ṭhaḥḥān sebagai definisi yang paling baik di antara definisi-definisi mudallas yang diberikan oleh para ulama. Definisi ini merupakan definisi dari Al-Bazzār dan Al-Qaṭṭān, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 97).

Hal ini berbeda dengan mursal khafi. Perbedaannya, jika tadlis isnad dilakukan oleh orang yang pernah bertemu dan meriwayatkan hadits dari gurunya, maka mursal khafi lebih parah lagi. Ia sebenarnya sezaman dengan gurunya tersebut, namun tidak pernah mendengar satu hadits pun dari guru tersebut.

Biasanya, para pelaku tadlis ini tidak menggunakan sighat (ungkapan) yang jazm (pasti), seperti dengan قال  atau عن.

Seperti contoh riwayat Sufyan bin ʽUyainah dari Az-Zuhrī. Menurut Al-Hakim, saat itu Sufyan ditanya, apakah benar bahwa hadits tersebut ia dengar langsung dari Al-Zuhrī? Namun Sufyan menjawab bahwa ia mendengarnya dari Abdur Razzāq dari Maʽmar dari Az-Zuhrī.

Sufyan sebenarnya berguru dan mendengar hadits dari Az-Zuhrī, hanya saja dalam kasus ini, ia mendengar hadits tidak langsung dari Az-Zuhrī, melainkan dari dua rawi yang ia hilangkan.

Kedua, Tadlis Syuyūkh
Jika seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru, lalu ia menyebut guru tersebut dengan nama, julukan, nisbat atau sifat yang asing agar tidak diketahui. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan aib gurunya, seperti dhaif, masih belum cukup dewasa dan sebagainya,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 101). 

Contoh:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، أَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، أَظُنُّهُ قَالَ: الشَّيْبَانِيُّ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلَاءَ، عَنْ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَ غُلَامًا، فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَيْهِ تَمْرًا، فَأَكَلَ الْغُلَامُ فَأَكْثَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ كَثْرَةَ الْأَكْلِ شُؤْمٌ"

Dalam hadits di atas, Alī bin Jaʽd menyamarkan nama gurunya dengan sebutan Abū Isḥāq. Padahal nama aslinya adalah Ibrāhīm bin Harasah. Hal ini dilakukan karena Ibrāhīm adalah seorang rawi yang dituduh berbohong.

Ketiga, Tadlīs Taswiyyah.
Tadlis jenis ini adalah praktik ketika seorang rawi membuang rawi dhaif di antara dua rawi terpercaya (tsiqah), (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 98). 

Salah dua rawi yang sering melakukan tadlīs ini adalah Baqiyyah dan Al-Wālid bin Muslim, seperti dalam contoh:

مَاأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَيَّةَ الطرسُوْسِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَهب بن عطية، حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا اْلأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّان بْنِ عَطِيَّة عَنْ أَبِيْ مُنِيْبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dalam hadits tersebut, Al-Wālid membuang satu rawi antara Al-Auzāʽī dan Hassān bin ʽAṭiyyah yang bernama Abdurrahman bin Tsabit yang merupakan rawi dhaif sehingga terkesan bahwa sanad tersebut bebas dari rawi dhaif. 

Hal ini telah diakui sendiri oleh Al-Walīd saat ditanya oleh Al-Hutsaim bin Kharijah terkait perilakunya membuang perawi setelah Auzā’ī. Ia menjawab, agar orang yang menerima hadits tersebut percaya bahwa hadits tersebut bukan hadits dhaif, (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrīb An-Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002], halaman 165).

Di antara tiga macam tadlis tersebut, yang paling ringan adalah tadlis suyukh karena tadlis ini tidak sampai membuang dan memutus jalur sanad. Namun, terkait statusnya, ulama masih berbeda pendapat:

Pertama, ada yang mengatakan bahwa statusnya tertolak karena tadlis merupakan salah satu jarh. Namun, qaul pertama ini bukanlah qaul yang bisa dijadikan pijakan.

Kedua, statusnya diperinci (tafṣīl). Jika menggunakan lafaz yang menunjukkan bahwa ia benar-benar telah mendengar suatu hadits dari gurunya (sighat jazm) seperti samiʽtu (سمعت) dan semacamnya, maka hadits tersebut diterima. Namun jika sebaliknya, yakni menggunakan sighat tamrīd, seperti ʽan (عن) atau qāla (قال) dan semacamnya, maka ia tidak diterima.

Sebab-sebab seorang rawi melakukan tadlis ada empat, yaitu: Pertama, gurunya dhaif.

Kedua, guru tersebut wafatnya agak belakangan, sekira generasi setelah murid yang melakukan tadlis tersebut masih bisa meriwayatkan dari guru itu.

Ketiga, gurunya masih muda, atau bahkan lebih muda daripada murid yang meriwayatkan hadits darinya.

Keempat, keseringan meriwayatkan hadits dari guru tersebut sehingga muridnya hanya menyebutnya satu kali atau dalam satu sebutan, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 102). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Rabu 27 Maret 2019 8:45 WIB
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
Kajian Hadits Muʽdhal dan Sejumlah Contohnya
(Foto: @musi.org.my)
Hadits dhaif memiliki banyak pembagian. Sebagian pembagian yang maklum dalam materi musthalahul hadits adalah pembagian hadits dhaif dalam segi terputusnya sanad. Salah satu hadits dhaif dalam kategori ini adalah hadits mu’dhal.

Hadits Muʽdhal adalah hadits yang perawinya hilang dua atau lebih secara berturut-turut.

Contoh hadits mu’dhal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaṭṭa’.

بلغني عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للملوك طعامه وكسوته بالمعروف ولا يكلف من العمل إلا ما يطيق

Artinya, “Telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah RA sungguh Rasul SAW bersabda, ‘Berikan makanan dan pakaian yang layak kepada para budak. Jangan bebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka sanggupi.’”

Menurut Imam Al-Hakim, hadits tersebut adalah hadits muʽdhal karena Imam Malik membuang dua perawi, yakni Muhammad bin ʽAjlan dan ‘Ajlan. Seharusnya dua nama itu disebutkan sebelum Abu Hurairah RA, (Lihat Mahmūd At-Thaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maʽārif: 2004 M] halaman 92).

Selain hadits di atas, Imam As-Suyuthi menyebutkan beberapa hadits mu’dhal lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Hal ini disebut sebagai “Balagha Imam Malik”. Namun, menurut Imam As-Suyuthi, tidak semua “Balagha Imam Malik” dhaif karena muʽdhal.

Ibn Abdil Barr meneliti sekitar 60an hadits, dan menemukan sanad lain yang muttasil selain dari Imam Malik, kecuali empat hadits berikut:

Pertama, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul tidak lupa, tetapi dibuat lupa oleh Allah untuk memberikan pengajaran.

إِنِّي لَا أَنْسَى وَلَكِنْ أُنَسَّى لِأَسُنَّ

Artinya, “Sesungguhnya aku tidak lupa, tetapi dibuat lupa (oleh Allah) untuk mengajarkan sunnah.”

Kedua, hadits yang menjelaskan bahwa Rasul pernah diperlihatkan manusia yang paling panjang umurnya.

أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ أُرِىَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ فَكَأَّنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah SAW diperlihatkan umur manusia sebelum umatnya yang paling panjang atau atas kehendak Allah, seolah-olah (umur yang paling panjang dari umat sebelumnya) itu lebih pendek dari umatku yang paling panjang umurnya.”

Ketiga, hadits terkait pesan Rasul kepada Muʽadz agar memperbaiki akhlaknya.

قَوْلُ مُعَاذٍ: آخِرُ مَا أَوْصَانِي بِهِ رَسُولُ الله وَقَدْ وَضَعْتُ رِجْلَيَّ فِي الغَرْزِ أَنْ قَالَ: «أَحْسِن خُلُقَكَ لِلنَّاس

Artinya, “Muadz berkata, ‘Kalimat terakhir yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepadaku dan aku saat itu meletakkan kedua kakiku di sebuah batang kayu. Rasul berkata, ‘Perbaikilah akhlakmu untuk manusia.’’”

Keempat, hadits tentang munculnya sesuatu dari arah laut (awan) maka tanda akan terjadi hujan.

إذَا أنْشَأت بَحْرية, ثمَّ تَشَاءمت, فتلكَ عَيْنٌ غديقة

Artinya, “Jika sesuatu (awan) muncul dari arah laut. Kemudian awan itu naik, maka itu adalah tanda air yang banyak (hujan),’ (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrībin Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002 M], halaman 153). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).