IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Biografi Imam Qira’at Abu al-Hasan al-Kisa’i

Rabu 3 April 2019 22:15 WIB
Share:
Biografi Imam Qira’at Abu al-Hasan al-Kisa’i
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Kufah merupakan negeri yang banyak melahirkan intelektual Muslim yang berbakat dalam bidangnya. Ia menjadi tempat yang “empuk” untuk memupuk intelektualisme, ibarat lautan yang tak pernah habis airnya walau di saat surut.

Ada tiga nama besar imam qira’at Al-Qur’an sab’ah yang lahir di Kufah dengan kompetensi tambahan yang berbeda: (1) Imam Ashim, ahli qira’at sekaligus ahli hadis, (2) Imam Hamzah, ahli qira’at sekaligus ahli faraidh, (3) Imam Ali al-Kisa’i, ahli qira’at sekaligus ahli gramatika bahasa Arab. Imam al-Kisa’i merupakan imam qira’at yang menempati posisi ketujuh dalam ururtan para imam qira’at sab’ah.

Pada mulanya, imam ini tidak masuk dalam urutan imam qira’at sab’ah (tujuh), sebab posisi ke tujuh ditempati oleh Imam Ya’kub al-Hadrami, imam qira’at yang ke sembilan dalam urutan qira’at asyrah (sepuluh). Tapi kemudian Imam al-Mujahid melalui penelitiannya yang mendalam, ia menempatkan Imam al-Kisa’i pada posisi ke tujuh dalam qira’at sab’ah. Penempatan ini tidak didasarkan pada faktor politik atau kedekatannya dengan sang khalifah, yaitu Harun al-Rasyid, namun karena faktor kemutawatiran sanad dan dedikasinya dalam mengajarkan qira’at Al-Qur’an. Selain itu, Imam al-Hadrami adalah salah satu murid dari Imam al-Kisa’i, artinya secara standarisasi transmisi sanad, Imam al-Kisa’i lebih unggul.

Biografi Imam al-Kisa’i

Namanya Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman bin Bahman bin Fairuz Maula bani Asad. Nama panggilannya (kuniyah) Abu al-Hasan dan dikenal dengan julukan al-Kisa’i. Julukan ini disematkan kepadanya, karena ia memakai baju ihram di kota Kisa’. Ia adalah salah satu imam qira’at sab’ah, yang berasal dari Kufah, kemudian tinggal dan menetap di kota Baghdad.

Perjalanan Intelektualnya

Perjalanan intelektual Imam al-Kisa’i ini berawal dari belajar Al-Qur’an dan ilmu dasar-dasar ilmu keislaman lainnya kepada beberapa guru dikampung halamannya, Kufah. Kemudian dilanjutkan belajar secara serius dan mendalam kepada beberapa ulama, salah satunya adalah:

1. Imam Hamzah bin Habib al-Zayyat. Kepada Imam Hamzah ini, ia mengkhatamkan Al-Qur’an empat kali dan menjadi rujukan dalam qira’atnya. Suatu ketika Imam al-Kisa’i ditanyakan siapa yang menjadi rujukan qira’atnya, ia pun menjawab penuh antusias, Imam Hamzah.

2. Imam Muhammad bin Abi Laila, ia belajar kepada Isa bin Abdurrahman dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi Muhammad Saw,.

3. Imam Isa bin Umar al-Hamadani kepada (1) Imam Ashim, (2) Thalhah bin Musrif, (3) al-A’masy.

4. Imam Abu Bakar bin Ayyasy, Syu’bah, perawi Imam Ashim, ia belajar kepada Imam Syu’bah beberapa huruf (bacaan) saja.

5. Ismail bin Ja’far belajar kapada beberapa guru, salah satunya adalah, (1) Syaibah bin Nashshah, (2) Nafi’, (3) Sulaimam bin Jammaz, (4) Ibnu Wardan.

6. Zaidah bin Qudamah belajar kepada al-A’masy.

Pada masanya, Imam al-Kisa’i adalah panutan masyarakat Baghdad dalam soal qira’at Al-Qur’an, bahkan ia adalah orang yang paling alim dan paling menguasai dalam hal itu. Atas dasar kedalaman dan kealimannya, kemudian ia diangkat menjadi pimpinan madrasah qira’at Al-Qur’an di Kufah setelah Imam Hamzah.

Oleh karena itu, maka tak ayal jika Imam al-Kisa’i kemudian dikenal oleh masyarakatnya sebagai orang yang tsiqah, terpercaya dalam menukil qira’at Al-Qur’an. Sebab sejarah telah mencatat bahwa al-Kisa’i adalah orang yang tsiqah dan amanah. 

Sejarah adalah sebaik-baiknya saksi dalam hal ini. Imam Salamah bin Ashim berkata bahwa Imam al-Kisa’i berkisah: “Saya melaksanakan shalat bersama Harun al-Rasyid, kemudian dia kaget dan heran dengan bacaan saya. Saya telah melakukan kesalahan dalam bacaan saya, bahkan anak kecilpun tidak akan melakukan kesalahan seperti itu. Misalkan saya mau membaca (لعلهم يرجعون) tapi justru saya membaca (لعلهم يرجعين), demi Allah, Harun al-Rasyid tidak berani mengatakan bahwa saya salah.

Setelah salam, Harun al-Rasyid bertanya kepada saya: “Bahasa apa yang kamu baca itu?. Saya pun menjawab: “wahai Amirul Mukminin, orang yang baik pun akan tergelincir kesalahan. Kemudian dia memjawab: “jika seperti itu, iya benar”. Cerita ini menunjukkan keberanian dan amanahnya Imam al-Kisa’i dalam menukil qira’at Al-Qur’an. Ketika ia salah, maka ia mengakui atas kesalahan itu, tidak menutupinya demi reputasi atau pangkat. Demikian adalah akhlak dan suluk ulama terdahalu,

Selain itu, Imam al-Kisa’i juga seorang imam yang rendah hati dan sangat hati-hati dalam menjawab sebuah pertanyaan yang disampaikan kepadanya, ia lebih takut kepada Tuhannya daripada menjawab dengan “grusa-grusu” tanpa pertimbangan yang matang dan baik. 

Imam al-Farra’ bercerita: “Suatu hari saya bertemu al-Kisa’i, seakan-akan ia sedang menangis. Kemudian saya bertanya: “kenapa Anda menangis?. Ia menjawab: “Yahya bin Khalid mendatangiku dan bertanya tentang sesuatu kepadaku, jika aku menjawab lambat, maka ia akan menghinaku, tapi jika aku menjawabnya segera, maka aku tidak jamin selamat dari kesalahan. 

Saya pun mengutarakan pendapat: “Wahai Abu al-Hasan, siapa yang akan menyanggahmu, katakan sebagaimana yang kamu inginkan, engkau adalah Imam al-Kisa’i.

Kemudian ia pun menaruh tangannya di mulutnya, seraya berkata: “Semoga Allah memutuskan (memaafkan)-nya, jika aku mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui.

Di samping itu, Imam al-Kisa’i juga seorang yang sangat haus ilmu dan antusias dalam menuntut ilmu, bahkan ia harus mengorbankan jiwa raganya untuk menyelami ilmu yang orisinil dari sumbernya. Ini dibuktikan olehnya dengan belajar langsung kepada orang Arab badui perkampungannya. Ia rela mendatangi mereka dan berbaur dengan mereka untuk mendapatkan ilmu dari sumbernya yang orisinil.

Imam al-Farra’ berkata: “al-Kisa’i belajar ilmu nahwu atas dasar kebanggaan, karena ia datang kepada sebuah kaum (badui). Suatu ketika ia merasa capek dan mengucapkan: “(عَيَيْتُ) (saya capek), mereka protes dan berkata: “Kamu belajar kepada kami, berbaur dengan kami tapi kamu masih melakukan kesalahan (dalam pengucapan), kemudian al-Kisa’i menyanggah: “Bagaimana mungkin saya melakukan kesalahan”. mereka pun menjawab: “Jika kamu hendak mengungkapkan rasa capek, maka katakan (أَعْيَيْتُ), tapi jika kamu mau mengungkapkan menghilangkan tipu daya dan pusing dalam suatu urusan, maka katakan (عَيَيْتُ), maka ia pun marah dan bergegas berdiri seraya bertanya orang yang dapat mengajarkannya ilmu nahwu, maka ia ditunjukkan kepada Muadz bin al-Harra’, ia pun kemudian belajar dan bermulazamah dengannya. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Bashrah untuk belajar kepada al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi.

Dalam Tarikh Ibnu Katsir disebutkan bahwa Imam al-Kisa’i belajar kepada Imam al-Khalil tentang kompetensi ilmu nahwu. Suatu hari dia bertanya kepada Imam al-Khalil: “Kepada siapa engkau belajar ilmu ini?. beliau menjawab: “Belajar (kepada orang badui) di lembah tanah Hijaz. Maka, sejak saat itulah, al-Kisa’i berangkat ke lembah Hijaz demi memenuhi hasratnya menuntut ilmu nahwu. Di sana, ia banyak mencatat pengetahuan dari orang-orang Arab. Setelah dirasa sudah cukup membaur dan mengambil ilmu dari orang Arab. Maka dia kembali menemui gurunya, al-Khalil. Namun sayang, ia tidak dapat menjumpainya karena sudah wafat. Posisi dan kedudukan al-Khalil pun digantikan oleh Imam Yunus. 

Perjumpaannya dengan Imam Yunus berlangsung baik dan keduanya melakukan diskusi keilmuan yang mendalam. Imam al-Kisa’i menunjukkan kelasnya sebagai ahli dalam dalam bidang nahwu hingga kemudian Imam Yunus mengakui keunggulan Imam al-Kisa’i dan menyerahkan posisinya kepada Imam al-Kisa’i.

Imam al-Kisa’i merupakan imam qira’at sekaligus pakar nahwu dan bahasa. Imam al-Fudhail bin Syadzan memujinya dengan mengatakan: “Setelah al-Kisa’i menyelesaikan belajar kepada Imam Hamzah, ia pergi ke kampung badui, ia berbaur dan tinggal bersama mereka dan mempelajari seluk beluk bahasa mereka, sehingga ia menjadi bagian dari mereka. Kemudian ia kembali ke kota dan menjadi ahli dalam bidang bahasa”.

Qira’at Imam al-Kisa’i

Qira’at Imam al-Kisa’i bukan sebuah qira’at yang dihasilkan dari berbagai dialek Arab dan bukan pula sebagai aliran baru dalam dunia qira’at Al-Qur’an. Tapi qira’at al-Kisa’i adalah hasil seleksi dan pemilihan dari berbagai qira’at yang dipelajari dari guru-gurunya.  

Imam Abu Ubaid berkata dalam kitab “al-Qira’at”: “Imam al-Kisa’i melakukan seleksi dan pemilihan dalam qira’at, kadang ia mengambil sebagian qira’at Hamzah dan menginggalkan sebagiannya. Tidak ada yang lebih dhabit (menguasais secara baik dan benar) dan lebih tegak dalam bidang qira’at Al-Qur’an daripada Imam al-Kisa’i”.

Imam Mujahid berkata: “Imam al-Kisa’i melakukan penyeleksian dan pemilihan dari bacaan Imam Hamzah dan imam yang lainnya (guru-gurunya) sebagai bacaan standar-nya (tengah-tengah), tidak keluar dari atsar para imam pedahalunya. Ia adalah imam qira’at Al-Qur’an pada masanya”.

Selain itu, banyak warganya menggunakan dan membaca qira’atnya sebagai bacaan mereka, dan membaca mushaf mereka dengan menggunakan qira’atnya.

Komentar Ulama

Imam Ismail bin Ja’far al-Madani, murid senior Imam Nafi’, berkata: “Saya tidak pernah menemukan seorang yang lebih mahir dalam soal qira’at Al-Qur’an daripada Imam al-Kisa’i”.

Imam Abu Bakar al-Anbari berkata: “Imam al-Kisa’i merangkap beberapa kompetensi, ia paling mahir dalam bidang gramtikal bahasa Arab, dan satu-satunya orang yang paling mengerti dalam bidang gharib, dan satu-satunya pula orang yang mahir dalam bidang Al-Qur’an. Mereka banyak membersamainya dan melakukan khalaqah dengan mereka. Ia duduk di atas kursi dengan membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, mereka mendengarkan dan meneliti secara seksama mulai dari al-Maqati’ sampai al-Mabadi’.

Sebagian ulama berkata: “Imam al-Kisa’i ketika membaca Al-Qur’an atau berbicara, seakan-akan malaikat menjelma ke dalam lisannya dan berbicara”.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: “Saya tidak pernah melihat dengan kedua mataku ini yang lebih bagus bahasa (dialeknya) daripada al-Kisa’i”.

Imam al-Syafi’i berkata: “Barang siapa yang ingin mendalami ilmu nahwu, maka ia (butuh) berhutang budi kepada Imam al-Kisa’i”.

Imam yang lain mengatakan bahwa Imam al-Kisa’i adalah pemimpin thabaqah qira’at, bahasa, nahwu dan kepemimpinan. Dia yang mengajarkan akhlak dua anak Harun al-Rasyid; al-Amin dan al-Makmun.

Sebagian ulama bermimpi bertemu dengan al-Kisa’i, kemudian menanyakan keadaanya dan apa yang berikan oleh Allah kepadanya: beliau menjawab: “Allah telah mengampuni (dosa-dosa)ku sebab Al-Qur’an. Lantas ia bertanya kembali tentang Imam Hamzah, beliau menjawab: “Beliau berada di tempat yang sangat tinggi, kita tidak akan melihatnya kecuali seperti bintang gemintang.

Karya Imam al-Kisa’i

Selain melahirkan karya berupa murid-murid yang berkompeten dalam bidang qira’at Al-Qur’an dan bahasa Arab, Imam al-Kisa’i juga banyak melahirkan karya tulis, baik dalam bidang qira’at Al-Qur’an maupun bidang gramatika bahasa Arab. Meskipun demikian, menurut penuturan Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, karya-karya ini hanya namanya saja yang dikenal namun sampai saat ini tidak pernah dijumpai bentuk wujudnya, bahkan tidak diketahui sedikitpun karya-karya itu.

Salah satu karyanya adalah: kitab Ma’ani Al-Qur’an, kitab al-Qira’at, kitab al-Nawadir, kitab al-Nahwi, kitab al-Haja’, kitab Maqtu’ Al-Qur’an wa Maushuluhu, kitab al-Mashadir, kitab al-Huruf, kitab al-Ha’at, kitab Asy’ar”.

Wafatnya Imam al-Kisa’i

Setelah mendarma-baktikan kepada Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam al-Kisa’i kembali ke pangkuan Tuhan pemilik jiwa dan raga. Banyak dari kalangan masyarakat umum, penuntut ilmu, dan murid-muridnya bahkan para ulama se zamannya, merasa kehilangan atas kepergiannya. 

Para ulama berbeda pendapat soal tahun wafatanya Imam al-Kisa’i. Menurut pendapat yang paling sahih, ia wafat pada tahun 189 saat berumur 70 tahun. Pada tahun itu bertepatan dengan tahun wafatnya salah seorang faqih dari kalangan Hanafiyah, yaitu Imam Abu al-Hasan al-Syaibani.

Diceritakan bahwa Imam al-Kisa’i wafat di kampung Ranbawaih, kota Ray, waktu menemani Harun al-Rasyid, ketika sedang menuju kota Khurasan, bersamaan dengan wafatnya salah satu murid Imam Abi Hanifah, Imam Muhammad al-Hasan al-Syaibani, diwaktu dan tempat yang sama.

Imam Harun ar-Rasyid bersedih seraya berucap: “Kita menguburkan (orang yang ahli) fiqh dan (orang yang ahli) nahwu di kota Ray di saat bersamaan. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ar-Rasyid mengatakan: “Hari ini kita mengubur fiqh dan nahwu (secara bersamaan)”.

Murid-muridnya

Imam al-Kisa’i telah menempati posisi yang sangat tinggi dalam bidang bahasa dan qira’at Al-Qur’an. Atas ketekunan dan keseriusannya dalam mempelajari suatu ilmu ia kemudian menjadi pemimpin masyarakatnya, baik dalam bidang bahasa maupun qira’at Al-Qur’an. Maka tak ayal, banyak dari kalangan penuntut ilmu belajar kepadanya, baik belajar secara langsung dengan membaca dihadapannya (ardhan; setoran) maupun hanya sekadar menyimaknya (sima’an) tanpa melalui setoran secara langsung, salah satunya adalah Ahmad bin Jubair, Ahmad bin Mansur al-Baghdadi, Hafs bin Umar al-Duri, Abu al-Harits al-Laits bin Khalid, Abdullah bin Ahmad bin Dzakwan (Imam Dzakwan ini belajar kepada Imam al-Kisa’i saat ia datang ke negara Syam), Abu Ubaid bin al-Qasim bin Sallam, Qutaibah bin Mahran, al-Mughirah bin Syuaib, Yahya bin Adam, Khalaf bin Hisyam al-Bazzar, Syuraih bin Yazid, Yahya bin Yazid al-Farra’. 

Selain itu, ada sebagian murid-muridnya yang sekedar belajar beberapa huruf (bacaan) saja, yaitu; Ya’kub bin Ishaq al-Hadrami.

Namun diantara murid-muridnya, ada dua muridnya yang paling terkenal dan menjadi perawi qira’atnya, yaitu Abu al-Harits dan al-Duri. 

Imam al-Duri yang dimaksud di sini adalah Imam al-Duri yang sekaligus menjadi perawi Imam Abu Amr al-Bashri. Artinya ia menjadi perawi dua imam qira’at sekaligus; perawi Imam Abu Amr al-Bashri dan Imam al-Kisa’i. 

Oleh karena demikian untuk profil Imam al-Duri bisa dibaca kembali di biografi perjalanan Imam Abu Amr al-Bashri. Penulis di sini hanya menguraikan tentang profil dan perjalanan intelektual Imam Abul Harits.

1. Imam Abul Harits

Namanya adalah al-Laits bin Khalid al-Marwazi al-Baghdadi, kuniyahnya adalah Abu al-Harits.

Ia al-Laits adalah orang yang tsiqah (terpercaya) dhabit (kuat hafalanya dan menguasai), hadziq (cerdas) dan muhaqqiq (peneliti). 

Perjalanan Intelektual Abul Harits  

Pada mulanya, ia belajar Al-Qur’an kepada beberapa ulama pada masanya, namun secara khusus dan mendalam ia belajar Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam al-Kisa’i, sebab ia termasuk murid senior al-Kisa’i.

Selain belajar kepada Imam al-Kisa’i, ia juga belajar sebagian huruf (qira’at) kepada Hamzah bin al-Qasim al-Ahwal, dan kepada Yahya bin Mubarak al-Yazidi.

Meskipun ia belajar kepada beberapa guru yang ada pada masanya, namun ia lebih fokus menyebarkan dan mengajarkan qira’at Imam al-Kisa’i kepada murid-muridnya, sehingga ia dikenal sebagai perawi Imam al-Kisa’i.

Murid-muridnya

Setelah melakukan perjalanan intelektual dari guru ke guru yang lainnya, kemudian ia mendarma-baktikan dirinya untuk menyeberkan ilmu yang didapatkan dari guru-gurunya. 

Ada banyak penuntut ilmu pada masanya yang datang berguru kepadanya, baik yang setoran secara langsung (ardhan) maupun hanya sekedar mendengarkan saja (sima’an), salah satunya adalah Salamah bin Ashim, santrinya Imam al-Farra’, Muhammad bin Yahya al-Kisa’i al-Shaghir, al-Fadhl bin Syadzan.



(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; “Asanid al-Qurra' al-Asyrah wa Ruwwatuhum al-Bararah”, karya as-Sayyid Ahmad Abdurrahim [Mesir: al-Jami'ah al-Khairiyah li Tahfidzil Qur'an, 2011])



Share:
Ahad 24 Maret 2019 20:0 WIB
Mimpi Imam Hamzah az-Zayyat tentang Kemuliaan Ahlul Qur’an
Mimpi Imam Hamzah az-Zayyat tentang Kemuliaan Ahlul Qur’an
Ilustrasi (via Pixabay)
Imam al-Syatibi mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya teman duduk (khairu jalîsin). Keagungan dan kemuliaannya mampu memberikan syafaat dan manfaat kepada pembacanya dan penghafalnya, apalagi diimplementasikan kandungan artinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan yang didapatkan oleh para pembaca dan penghafal Al-Qur’an jauh melebihi yang didapatkan oleh yang lain. Hal ini dibuktikan langsung oleh Imam Hamzah melalui mimpinya ketika berkomunikasi dengan Tuhannya.

Kisah pertama diriwayatkan oleh Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar. Imam Sulaim bin ‘Isa berkisah bahwa suatu hari ia berkunjung kepada gurunya, Imam Hamzah bin Habib az-Zayyat. Saat menemuinya, tampak sang guru sedang membolak-balikkan kedua pipinya ke tanah dan menangis. Sontak Sulaim pun berdoa, “Semoga Allah melindungimu.”

Imam Hamzah kaget, “Hai, kamu meminta pelindungan untuk apa?”

Imam Hamzah lantas bercerita bahwa dirinya kemarin bermimpi seakan-akan kiamat telah terjadi dan para qari’ Al-Qur'an dipanggil. Ia termasuk orang yang menghadiri panggilan itu. Lalu Imam Hamzah mendengar suara berkata dengan ucapan yang enak didengar, “Tidak bisa masuk menghadap kepada saya kecuali orang-orang yang mengamalkan Al-Qur'an”. 

“Saya pun kembali tanpa menoleh ke belakang (karena saya merasa bukan termasuk orang yang mengamalkan Al-Qur'an),” kisahnya.

Saat dirinya kembali, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya, “Di mana Hamzah bin Habib az-Zayyat?” 

Imam Hamzah pun menyambut penggilan itu. Malaikat segera mendatanginya sambil berkata, “Katakanlah, 'saya sambut panggilan-Mu, ya Allah'!” Lalu Imam Hamzah mengatakan apa yang disampaikan malaikat kepadanya. Seketika itu, Imam Hamzah baru sadar bahwa yang memanggilnya adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian Imam Hamzah dimasukkan ke suatu tempat yang di dalamnya terdengar suara gemuruh Al-Qur'an. Ia pun berhenti dengan tubuh gemetar, hingga terdengarlah ucapan, “Jangan khawatir, naiklah dan bacalah Al-Qur'an!”

Wajah Imam Hamzah seketika bersinar. Saat itu ia sudah berada di depan mimbar yang terbuat dari batu mutiara putih. Kedua sisinya terbuat dari yaqut berwarna kuning. Tangganya terbuat dari batu zabarjad berwarna hijau. Lalu dikatakan kepadanya, “Naiklah dan bacalah Al-Qur'an!”

Ia pun naik, lalu dikatakan kepadanya lagi, “Bacalah surat al-An‘am!”

Imam Hamzah pun membacanya dan ia tidak tahu kepada siapa ia membaca hingga enam puluh ayat. Ketika sampai pada ayat (وهو القاهر فوق عباده), ia ditanya, “Wahai Hamzah, bukankah Aku penguasa tertinggi di atas seluruh hamba-hamb-Ku?”

“Ya.”

“Kamu benar, lanjutkan baca!”

Imam Hamzah pun membaca sampai akhir surat.

“Bacalah terus!”

Imam Hamzah lalu membaca Surat al-A‘raf hingga akhir surat. Sampai di akhir surat, saat ia hendak melakukan sujud Tilawah, Dia berkata, “Cukuplah, apa yang telah kamu lakukan (sujud) di dunia, janganlah bersujud, wahai Hamzah.”

Kemudian Dia bertanya, “Siapa yang mengajarkan bacaan ini?”

“Sulaiman.”

Dia menimpali sambil bertanya kembali, “Kamu benar, siapa yang mengajari Sulaiman?”

“Yahya.”

“Yahya benar. Kepada siapa Yahya belajar?” tanya Allah lagi.

“Kepada Abu ‘Abdurrahman al-Sullami.”

“Abu `Abdurrahman al-Sullami benar. Siapa yang mengajari Abu `Abdurrahman al-Sullami?”

“Anak paman Nabi-Mu, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib,” jawab Imam Hamzah lagi.

“Ali benar. Siapa yang mengajari ‘Ali?” 

“Dia belajar kepada Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.”

“Siapa yang mengajari Nabi-Ku?” 

“Jibril.”

“Siapa yang mengajari Jibril?”

Imam Hamzah pun diam.

“Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau (ya Allah).”

“Saya tidak berani untuk mengatakan “Engkau” (karena malu mengucapkan kata itu di hadapan-Nya).”

Dia menyuruh lagi, “Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau”.

Imam Hamzah pun menjawab, “Engkaulah yang mengajari Jibril, wahai Tuhanku.” 

Kemudian Dia berkata, “Kamu benar wahai Hamzah. Demi kebenaran Al-Qur'an, sungguh Aku sangat memuliakan ahlul qur’an (secara bahasa: keluarga Al-Qur'an), lebih-lebih jika mereka mengamalkannya. Wahai Hamzah, Al-Qur'an adalah Kalam-ku dan Aku tidak mencintai seorang pun seperti kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an. Wahai Hamzah, mendekatlah!”

Imam Hamzah pun mendekat, lalu Dia mencelupkan “tangan”-Nya ke dalam minyak wangi kemudian mengoleskan kepadanya seraya berkata, “Aku tidak hanya melakukan ini kepadamu saja. Sebenarnya Aku melakukannya kepada orang-orang yang sama sepertimu dari orang sebelum dan sesudahmu, dan orang yang mengajarkan Al-Qur'an sepertimu tidak akan datang (di hari kiamat) kecuali kepada-Ku. Wahai Hamzah, sesuatu di sisi-Ku yang Aku sembunyikan darimu masih lebih banyak. Maka kabarkan dan sampaikan kepada sahabat-sahabatmu tentang kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an dan apa yang Aku lakukan (berikan) kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang dipilih di antara orang-orang yang pilihan.”

“Wahai Hamzah, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku tidak akan menyiksa (mereka) yang lisannya tidak pernah letih untuk membaca Al-Qur'an, dengan api neraka, (tidak menyiksa meraka) yang hatinya selalu dipenuhi oleh Al-Qur'an, (tidak menyiksa meraka) yang telinganya tidak pernah bosan mendengarkan Al-Qur'an dan mata yang tidak pernah lelah melihat Al-Qur'an.” 

Imam Hamzah pun berkata, “Maha-Suci Engkau, Maha-Suci Engkau, wahai Tuhanku.”

Lalu Dia bertanya, “Wahai Hamzah, di mana orang-orang yang membaca Al-Qur'an dengan mushaf?”

“Wahai Tuhanku, apa yang Engkau maksud mereka para penghafal/penjaga mushaf?” 

“Bukan, akan tetapi Aku-lah yang akan menjaga mereka hingga hari kiamat, tatkala mereka (penghafal Al-Qur’an) datang kepada-Ku, niscaya Aku angkat derajat mereka setiap satu ayat satu derajat.” 

Kemudian Hamzah menoleh kepada muridnya, Sulaim, seraya berkata, “Apakah kamu masih mencela saya, Wahai Sulaim, tatkala kau lihat saya menangis dan berguling-guling di atas debu.” 

Kisah pertama ini bisa dijumpai dalam kitab Tahdzib al-Kamal fi Asma al-Rijal karya Al-Kalabi (juz VII, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1980, hal. 319).

Kisah kedua diriwayatkan oleh Imam Maja’ah bin al-Zubair. Satu kali ia mendatangi Imam Hamzah dan mendapatinya sedang menangis.

“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Imam Maja’ah.

“Bagaimana saya tidak menangis, saya telah bermimpi bertemu Tuhan-ku dan seakan-akan saya menyetor bacaan Al-Qur'an kepada-Nya. Kemudian Dia berkata. ‘Wahai Hamzah, bacalah sebagaimana Aku ajarkan kepadamu’. Saya pun melompat sambil berdiri. Kemudian Dia berkata lagi, ‘Duduklah, sesungguhnya Aku mencintai ahlul qur'an’.

Dalam kisah itu, Allah pun berkata lagi kepada Imam Hamzah, “Bacalah!”

Imam Hamzah lalu membaca hingga sampai pada surat Thaha. Kemudian saya membaca:

ـ...... طُوىً [١٢] وَأَنَا اخْتَرْناَك ....  [١٣]ـ

Kemudian Allah berkata, “Jelaskan bacaannya!”

Imam Hamzah pun mengikuti perintahnya dengan menjelaskan bacaan itu.

“Bacalah!”

Imam Hamzah lantas membacanya hingga sampai pada Surat Yasin. Saat hendak membaca (تنزيلُ العزيز الرحيم) (dhammah lam-nya), Allah berkata lagi, “Bacalah (تنزيلَ العزيز الرحيم) (fathah lam-nya), wahai Hamzah. Demikian Aku membaca dan ajarkan kepada para malaikat pemikul Arsy, begitu pula para qari’ Al-Qur’an membaca.” 

Kemudian Dia memberinya gelang dan memakaikannya, seraya berkata, “Ini adalah balasan atas bacaan Al-Qur’anmu.”

Lalu Dia memeberinya sabuk dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas puasamu di siang hari.”

Kemudian Dia menganugerahkan mahkota dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas pengajaranmu kepada murid-muridmu. Wahai Hamzah, jangan pernah kau tinggalkan Al-Qur'an, karena sesungguhnya Aku benar-benar menurunkannya.” 

Kemudian Imam Hamzah berkata kepada Imam Maja’ah, “Apakah kamu masih mencela saya karena menangis?”

Kisah ketiga diriwayatkan oleh Ismail bin Ziyad yang menceritakan ulang kisah dari Imam Hamzah.

Suatu hari Imam Hamzah bermimpi bertemu Nabi, lalu ia katakan, “Wahai Rasul, saya telah meriwayatkan seribu hadits dengan sanad bersambung kepadamu, saya hendak membacakannya kepadamu.” Nabi menjawab, “Silakan.” Imam Hamzah pun melakukannya. 

Yang membuat heran, Nabi menganggap semua hadits yang dibacakan itu palsu kecuali empat hadits. “Saya tidak meriwayatkan hadits-hadits itu,” kata Nabi.

Imam Hamzah lantas meminta izin untuk membacakan Al-Qur’an yang ia hafal. Nabi mempersilakan. Di hadapan beliau, Imam Hamzah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kemudian Nabi membenarkan semua bacaannya seraya berkata mengulang dua kali, “Begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya, begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya.” 

Menurut Ibnu Ghalbun, kisah tersebut menunjukkan kesahihan qira’at Imam Hamzah. Sesungguhnya Imam Hamzah mengikuti bacaan dari guru yang sanadnya bersambung kepada Nabi ﷺ. Dengan demikian, barangsiapa yang menolak bacaannya, sama artinya ia menolak bacaan orang yang mengajarkan kepadanya dan bacaan Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah kedua dan ketiga ini bisa dibaca dalam karya Aminuddin Abdul Wahab al-Sallar, Kitab Thabaqat al-Qurra’ al-Sab’ah wa Dzikri Manaqibihim wa Qira’atihim (Beirut, Al-Maktabah Al-Ashriyah, 2003, hal. 168-170).


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 



Jumat 22 Maret 2019 13:50 WIB
Pendekatan Makna Taklif Versi Ahlussunnah dalam Surat Al-Anfal
Pendekatan Makna Taklif Versi Ahlussunnah dalam Surat Al-Anfal
Ilustrasi Al-Qur'an (via Pixabay)
Dalam satu ayat ini --saja--, 

وما رميت --أي خلقا-- إذ رميت --أي كسبا-- ولكن الله رمى --أي خلقا--

"Dan engkau --wahai Muhammad-- tidak lah mampu menciptakan perbuatan melempar pada saat engkau melempar (melakukan perbuatan melempar). Akan tetapi Allah lah yang menciptakan engkau mampu melempar." 

Cukup menjadi bukti bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah satu-satunya golongan yang selamat. Yang memahami Al-Qur’an sebagai mana mestinya, secara benar dan purna. 

Para ulama Ahlussunnah menyebutkan, 

النفي هو نفي باعتبار 
والإثبات هو إثبات باعتبار ءاخر 
النفي والإثبات لا يجتمعان باعتبار واحد  

Nafi (negasi) harus ditempatkan sebagai nafi sesuai dengan porsi kedudukannya. Sebagaimana Nabi yang berstatus hanya sebagai makhluk; bukan pencipta/khaliq, tidaklah mampu menciptakan perbuatan apapun. Menciptakan yang merupakan perbuatan Allah harus dinafikan dari siapapun --termasuk Nabi--(وما رميت). 

Sedangkan perbuatan Nabi berupa melempar yang merupakan bagian dari pekerjaan makhluk (كسب ) juga wajib kita tetapkan (itsbat) sebagaimana Al-Qur’an juga menetapkan (إذ رميت ). Dan di sinilah letak taklif. 

Karenanya, atas anugerah Allah, Nabi mendapatkan pahala atas semua kebaikan yang dilakukannya karena ada kasb atau ikhtiar yang beliau lakukan. 
 
Nafi dan itsbat harus didudukkan secara tepat. Harus ditempatkan sesuai dengan porsinya. Jika tidak, maka bisa dipastikan pemahaman yang muncul bukan lah pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah, Tapi Ahlul Bid'ah Adl Dlolalah wal Furqoh walaupun sama-sama membaca dan menggunakan Al-Qur'an sebagai dalil. 

Yang tidak menetapkan perbuatan Allah berupa kholq (menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada) maka akan beresiko terjerumus pada paham Qodariyyah. Yang salah satu diantara sekte yang ada di dalamnya meyakini bahwa seorang hamba mampu menciptakan perbuatannya sendiri. 

Di sisi lain, jika kita tidak menetapkan perbuatan hamba (itsbat) sebagaimana Al Quran juga menetapkan atau tidak menempatkan itsbat sesuai dengan tempat nya, misal nya tidak meyakini bahwa seorang hamba juga mempunyai kehendak --walaupun ia meyakini bahwa Allah mempunyai kehendak--, maka beresiko jatuh pada pemahaman menyimpang yang diyakini Kaum Jabariyah. 

Jalan tengah tentu hanya milik Ahlussunnah. Ada jargon yang sangat terkenal di kalangan mereka, 

أنا أريد وانت تريد والله يفعل ما يريد 

Aku berkehendak, Anda juga berkehendak 

Namun Allah pasti melakukan yang Ia kehendaki. Kehendak saya dan Anda tidak akan terjadi (nafi/negasi) kecuali apa yang menjadi kehendak Nya untuk terjadi (itsbat). 


Abdul Haq, Direktur Aswaja Center PCNU Brebes, Jawa Tengah
Selasa 19 Maret 2019 8:30 WIB
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kita sudah mengetahui bersama bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara Islam dan bukan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, melainkan menggunakan sistem demokrasi.

Akhir-akhir ini, ada sebagian kelompok yang menganggap bahwa menjalankan hukum dan sistem pemerintahan dengan hukum dan sistem lain selain hukum Allah SWT juga termasuk syirik, seperti sistem demokrasi di Indonesia.

Bahkan penerapan hukum di luar hukum disebut sebagai syirik akbar. Sedangkan para penganut syirik akbar ini dianggap batal syahadatnya, bahkan sudah disebut kafir.

Salah satu ayat yang digunakan adalah Surat Al-Kahfi ayat 26.

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Artinya, “Dan Allah tidak menyekutukan dalam ‘hukum’-Nya pada seorang pun.”

Ayat ini menjadi pegangan oleh salah satu terpidana terorisme yang telah dijatuhi hukuman mati, Aman Abdurrahman, untuk melakukan kekerasan dan terorisme.

Ayat di atas dipahami oleh kelompok mereka bahwa setiap orang yang menyekutukan hukum Allah SWT, yakni menganut hukum yang tidak dibuat oleh Allah SWT, maka mereka termasuk golongan orang yang musyrik.

Golongan musyrik ini mencakup orang-orang yang membuat peraturan perundang-undangan melalui lembaga kenegaraan seperti parlemen (DPR/MPR), para pembuat kebijakan yang tidak merujuk kepada Al-Qur’an sebagai representasi hukum Allah SWT, orang yang membuat dan mengikuti hukum positif, para pelaksana hukum positif seperti hakim, pengacara, jaksa, dan polisi.

Menurut mereka, para pembuat dan pelaksana hukum positif telah merebut hak membuat peraturan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Mereka menyekutukan Allah dalam pembuatan hukum atau peraturan.

Lalu, benarkah demikian? Benarkah seluruh orang yang mengakui sistem demokrasi, sekaligus pelaksananya berhak menyandang status musyrik dan kafir hanya karena divonis menyekutukan hukum Allah SWT? Benarkah ayat tersebut berkaitan dengan hal itu?

Namun sebelum kita membahas lebih jauh maksud dan pendapat para ahli tafsir terkait ayat tersebut, ada baiknya jika kita membaca ayat tersebut secara utuh.

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Artinya, “Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan,’” (Surat Al-Kahfi ayat 26).

Secara utuh, ayat tersebut sebenarnya mengisahkan bagaimana Allah SWT menengahi perdebatan terkait waktu lamanya para ashabul kahfi menetap di dalam gua. Dan tentunya, ayat ini tidak boleh dipisahkan dari ayat sebelumnya, yaitu Surat Al-Kahfi ayat 25:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Artinya, “Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi),” (Surat Al-Kahfi ayat 25).

Inti dalam ayat tersebut adalah bahwa kita tidak perlu memperdebatkan berapa lama ashabul kahfi tinggal di dalam gua. Berapa lama pun mereka tinggal di dalam gua, semua itu adalah ketentuan Allah SWT.

Yang perlu diyakini adalah Allah SWT mampu membuat ashabul kahfi tertidur dalam waktu yang cukup lama. Semua adalah ketentuan Allah. Allah mampu membuat mereka tertidur sangat lama tanpa mengalami kerusakan jasad.

Allah mampu membangkitkan mereka kembali setelah sekian lama. Allah menentukan semua itu. Dia tidak perlu meminta pendapat pada orang lain dalam membuat ketentuan. Dia juga tidak perlu bantuan orang lain dalam mewujudkan kehendak dan keputusan-Nya.

Kata “hukum” dalam Surat Al-Kahfi ayat 26 berarti ketentuan Allah terhadap ashabul kahfi, jumlah mereka, berapa lama mereka tertidur, dan bagaimana mereka kembali terbangun. Allah tidak membagi kekuasaan-Nya pada orang lain mengatur semua kisah ajaib yang terjadi pada ashabul kahfi.

Kata “hukum” pada ayat ini bukan hukum dalam artian peraturan atau sistem yang digunakan dalam sebuah negara. Itulah mengapa diksi yang dipilih oleh Kementrian Agama dalam menerjemahkan kata “hukum” pada ayat ini dengan kata “ketentuan.”

Hal ini diperkuat dengan pendapat para mufassir yang menyebutkan bahwa kata “hukum” dalam ayat tersebut berkaitan dengan masa atau waktu tidur ashabul kahfi. Al-Baghawi (wafat pada 516 H) mengatakan bahwa maksud “hukum” dalam Surat Al-Kahfi ayat 26 adalah pengetahuan tentang perkara gaib seperti detail cerita ashabul kahfi yang ajaib.

Kata “hukum” dalam konteks ini adalah ilmu gaib, yang maksudnya bahwa Allah SWT tidak bersekutu dengan seorang pun dalam mengetahui perkara gaib, (Lihat Al-Baghāwī, Ma’ālimut Tanzīl, [Beirut, Dārul Kutub: 1995 M], juz III, halaman 188).

Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marāḥ Labīd, ayat tersebut menunjukkan bahwa kita tidak boleh bertanya kepada seorang pun tentang apa yang sudah diberitahukan Allah SWT terkait jumlah ashabul kahfi serta lamanya mereka tertidur dalam gua.

Kita, kata Syekh Nawawi Al-Bantani, memang diperbolehkan untuk mendiskusikan kisah ashabul kahfi di dalam gua, tapi harus dibatasi pada keputusan Allah SWT. Kita tidak diperbolehkan untuk menyekutukannya terkait pengetahuan atas peristiwa ini, (Lihat Syekh Nawawi Al-Bantani, Tafsir Marāḥ Labīd, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1417 H], juz I, halaman 647).

Namun, ada juga ulama tafsir yang menafsirkan hukum dalam ayat tersebut sebagai undang-undang. Sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Amin As-Syinqithi dalam Tafsir Adwā’ul Bayān:

“Dengan teks-teks langit yang telah kami sebutkan tampak jelas bahwa orang-orang yang mengikuti hukum positif yang disyariatkan setan melalui lisan para pengikutnya adalah bertentangan dengan syariat Allah yang disampaikan para rasul-Nya. Bahwa tidak ragu kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang Allah butakan batinnya,” (Lihat Muhammad Amin As-Syinqithi, Tafsir Adhwa’ul Bayan, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M], juz III, halaman 259).

Terkait penafsiran As-Syinqithi yang berbeda dengan penafsiran para ulama tafsir ini sebenarnya telah dijawab sendiri oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri mengajarkan untuk melakukan beberapa hal yang pada dasarnya sesuai dengan prinsip demokrasi.

Pertama, Al-Qur’an mengajarkan untuk bermusyawarah. Hal ini tercantum jelas dalam Surat Al-Syu’ara ayat 38.

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya, “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Jika memang benar bahwa Allah SWT menolak hukum yang dibuat oleh manusia, maka Allah SWT tidak mungkin memerintahkan manusia untuk bermusyawarah yang tujuannya adalah membuat keputusan atau produk hukum.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga mengajarkan untuk selalu menepati perjanjian yang dilakukan. Bahkan Rasulullah sendiri melakukan beberapa perjanjian, di antaranya perjanjian Hudaibiyah, perjanjian Fathu Makkah, dan Piagam Madinah.

Jika hukum manusia adalah syirik, maka tentu hasil dari perjanjian-perjanjian Rasulullah SAW tersebut akan ditentang oleh Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 177:

وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ

Artinya, “Orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,” (Surat Al-Baqarah ayat 177).

Oleh karena itu, syirik dalam konteks Surat Al-Kahfi di atas, sebenarnya bukan dalam konteks syirik pemerintahan atau sistem hukum yang diberlakukan di masyarakat, melainkan termasuk syirik dalam hal yang berkaitan dengan hal gaib, termasuk berapa lamanya waktu tidur ashabul kahfi sebagai bagian dari kekuasaan Allah SWT. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)