IMG-LOGO
Hikmah

Gus Baha’ soal Isra’ Mi’raj dan Ketersambungan Ajaran Nabi-nabi

Jumat 5 April 2019 12:0 WIB
Share:
Gus Baha’ soal Isra’ Mi’raj dan Ketersambungan Ajaran Nabi-nabi
Berikut kutipan kajian KH Bahaudin Nur Salim atau yang akrab disapa dengan Gus Baha’ tentang asbâbun nuzûl Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat ke-1: 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Artinya: “Maha-Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha-Mendengar lagi Maha-Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Mayoritas ulama berpendapat, peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi sebagai pelipur lara dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau mengalami dua kesedihan. Nabi ditinggal seorang paman bernama Abu Thalib yang menjadi tameng atas serangan-serangan kaum kafir Quraisy. Abu Thalib adalah bangsawan Arab dari klan terhormat bernama Quraisy. Di tahun yang sama, Nabi Muhammad juga ditinggal istri tercinta, Khadijah. Seorang penopang finansial dakwah Nabi. 

Periode Makkah adalah masa tersulit bagi Nabi Muhammad. Ia mempunyai status sebagai minoritas dan kehidupan sehari-harinya dikucilkan. Satu-satunya orang yang bisa menggaransi hidup Nabi Muhammad adalah pamannya, Abu Thalib. Secara kasta sosial, kekuatan Nabi ditopang oleh istrinya, Khadijah. 

Dengan ditinggal matinya kedua orang yang menyokong Rasulullah baik secara moral (Abu Thalib) maupun material (Khadijah), tahun ini dikenal dengan ‘âmul huzn atau tahun duka. Secara psikologis manusia normal, atas dua musibah yang beruntun tersebut menjadikan kejiwaan Nabi terguncang. Kegoncangan psikologi Nabi bersumber dari masyarakat Arab kala itu yang sudah terlanjur terdikte oleh propaganda ulama Yahudi dan Nasrani. 

Orang kafir Makkah adalah orang-orang bodoh yang mudah dikelabuhi tokoh Yahudi dan Nasrani saat itu. Karena pemuka Yahudi ini yang dijadikan sumber konsultasi masyarakat Arab, mereka menjadi yakin atas doktrin mitos yang diembuskan. Apa mitos itu? Mitosnya adalah tidak mungkin jika ada Nabi yang lahir di luar garis keturunan Bani Israil. Nabi-nabi itu tidak jauh-jauh dari Palestina. Nabi Ibrahim, Isa, Yahya, Zakariya, Musa, semuanya dari komunitas Masjidil Aqsha. Sehingga karena virus hoaks tersebut, ketika Nabi Muhammad memproklamasikan diri mendapatkan wahyu dari Tuhan, orang Arab menanggapinya dengan kalimat yang dikutip Al-Qur’an sebagai berikut:
 
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ 

Artinya: “(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kalian (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (QS Al-An’am: 156)

Atas keraguan orang Arab, mereka mencoba menelisik lebih dalam kepada Nabi Muhammad , “Hai Muhammad, nabi-nabi itu semua dari Palestina. Kalau kamu memang benar-benar Nabi, apakah kamu tahu ke arah mana masjid itu menghadap, berapa jumlah tiangnya?”

Dengan pertanyaan itu, pada  hakikatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sedang diasah intelektualitasnya oleh Tuhan melalui proses isrâ’ yang menjadikan Nabi Muhammad bisa menjawab bahwa jumlah pintu Masjid al-Aqsha itu sekian, wajah dan perilaku Nabi Musa begini, wajah Nabi Ibrahim itu begini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa para nabi selain diuji secara fisik seperti diludahi, shalat dilempari batu, kotoran dan lain sebagainya, mereka juga diuji secara intelektual. Ujian intelektual Nabi Muhammad dimulai dari periode Makkah sampai Madinah. 

Para Rahib Yahudi sering menanyakan hal-hal yang menurut mereka hanya akan mampu dijawab oleh orang yang benar-benar utusan Tuhan. Apabila tidak utusan Tuhan, pasti tidak akan mampu menjawab. Seperti suatu saat Nabi Muhammad ditanya, “Makanan apa yang dikonsumsi pertama kali oleh penduduk surga?”, “Mengapa pula jika ada orang mempunyai anak, anaknya bisa mirip kepada bapak atau ibunya?”, serta aneka macam pertanyaan lain. 

Pertanyaan yang dilandasi keraguan oleh masyakarat Arab pada masa itu sebenarnya hanya bermotif politis. Mereka hanya mempunyai satu tujuan yaitu mendelegitimasi kenabian Baginda Rasul, namun faktanya menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap tidak jauh-jauh dari komunitas nabi yang berada di Palestina. 

Israil dalam bahasa Al-Qur’an menunjukkan anak keturunan Ya’qub. Bukan Israil (Israel) sebagai sebuah negara seperti yang kita ketahui sekarang ini. Israil sebagai neraga itu baru beberapa tahun terakhir setelah diberi kemerdekaan oleh Inggris. Di antara salah satu keturunan Nabi Ya’qub ada yang namanya Yahuda. Dari keturunan itu, menjadi cikal bakal Bani Israil. 

Begitu pula Nabi Muhammad. Ia tidak jauh dari Bani Israil. Nabi Muhammad kalau dirunut, merupakan keturunan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim memiliki dua anak. Yang satu, Ismail. Ia ditinggal Ibrahim saat masih bayi di samping Ka’bah. Kisah ini dijelaskan dalam ayat:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 

Artinya: “Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Dari Nabi Ismail yang menjadi putra Ibrahim, lahirlah generasi-generasi berikutnya di antara seseorang bernama Adnan. Adnan mempunyai keturunan-keturunan hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan dalam kitab Al-Barzanji:

وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةِ إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَهَاهُ 

Artinya: “Tanpa diragukan, Adnan mempunyai nasab secara genetik kepada Nabi yang pernah disembelih bernama Ismail.” 

Sekali lagi, Nabi Muhammad menjadi keturunan Ismail sebenarnya diketahui oleh pemuka Yahudi dan Nasrani. Namun mereka ingin menggagalkan kepercayaan (trust) bahwa Muhammad itu Nabi. Hal ini juga mendorong mereka berbuat licik yaitu dengan cara memanggil Nabi Muhammad yang keturunan klan bangsawan, namun dipanggil dengan panggilan “Muhammad bin Abi Kabsyah” yang berarti anak penggembala kambing. 

Orang Arab tahu kalau Nabi Muhammad itu keturuan bangsawan besar Arab dari klan Quraisy. Panggilan sebagai putra Abdullah bin Abdul Muthallib otomatis menaikkan strata sosial beliau di mata masyarakat. Ini dihindari oleh orang-orang kafir Quraisy. Di satu sisi, secara fakta, saat Muhammad kecil memang pernah diasuh oleh penggembala kambing yang kemudian tercatat sejarah bahwa Nabi Muhammad kecil pernah menggembala kambing yang terbawa secara naluri alamiah basyariyahnya dari rutinitas perawatnya saat Nabi masih kecil. Penggembalanya bukan ayahnya sendiri Abdullah. Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad masih di kandungan ibunya, Sayyidah Aminah. Permainan kata itu memang jelas diceritakan dalam Al-Qur’an.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ 

Artinya: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32)

Oleh karena propaganda pengolahan kata ini, disebutkan dalam kitab Târîkhus Suyûthî:

وَمِنْ ذَلِكَ اِرْتَدَّ جَمْعٌ مِنَ الصَّحَابَةِ 

Artinya: “Dengan permainan kata-kata orang Yahudi, beberapa orang sahabat menjadi murtad.” 

Saat Rasulullah mendapatkan wahyu Al-Qur’an, kemudian ada nâsikh-mansûkh ("amandemen" ayatmisalnya, propaganda yang dilancarkan adalah “Lihatlah, masak nabi plin-plan (berubah-ubah) begitu. Dulu katanya kiblat shalat ke arah Baitul Maqdis. Kiblat tersebut sudah tepat karena sesuai kiblatnya Nabi Musa. Mengapa sekarang menjadi bergeser ke arah Ka’bah? Hal ini pasti karena Muhammad sedang kangen sama keluarganya yang ada di Makkah sana, sehingga ia hadapkan kiblat ke sana. Kangen yang merupakan urusan personal Muhammad, tapi anehnya ia menghubungkan dengan masalah kiblat.” Begitulah kira-kira cercaan orang kafir Makkah.  

Kalau kita melihat sejarah, protes tersebut muncul setelah 16 bulan Baginda Nabi di Madinah. Saat itu, shalat masih menghadap ke arah Baitul Maqdis di Palestina, kemudian Allah menurunkan wahyu: 

 فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Maka sungguh aku palingkan mukamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS Al-Baqarah: 144) 

Sejak saat itu, Al-Qur’an turun sesuai dengan nalar sejarah. Ilmiah dan tidak mitos. Menjadikan Al-Qur’an tidak bisa dibantah sebagaimana pula yang disebutkan di ayat berikut:

 إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ، فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;  (QS Ali Imran: 96-97) 

Dengan ayat ini, Nabi Muhammad berani menantang orang-orang Yahudi. Apa salahnya saya punya dua kiblat? Kiblat saya di Baitul Maqdis, karena memang Nabi Musa, Nabi Isa di sana. Sekarang saya menghadap kiblat yang lain, yaitu kiblatnya Ibrahim. Dia lebih senior. Secara sejarah, Makkah lebih tua peradabannya. Adapun Nabi Musa, Isa mempunyai periode setelah Ibrahim. Setelah penjelasan ilmiah ini, sahabat-sahabat menjadi bangga mempunyai kiblat shalat yang dua sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits. 

Kisah di atas menunjukkan, kiblat orang Islam ke arah Makkah bukan berdasar mitos atau kultus, tapi bisa dibuktikan secara ilmiah. Seumpama Nabi Muhammad berkata “Karena nabinya sekarang saya, maka kiblatnya terserah saya”, Itu sah-sah saja. Namun, ternyata tidak demikian. Nabi lebih bisa menyodorkan bukti secara ilmiah sehingga bisa diterima akal sehat.

Jika kita ingin melihat buktinya sendiri, di Masjidil Haram sekarang dapat kita saksikan ada maqam Ibrâhim, yaitu tempat di mana Nabi Ibrahim melakukan ibadah. Ada lagi hijir Ismail. Hijir itu berarti hujrah, artinya kamar. Hijir Ismail berarti kamarnya Ismail, letaknya ada di samping Ka’bah. 

Kembali ke masalah Isra’. Nabi Muhammad dalam menjalani Isra’, selain menjalani proses ritual, juga mengasah intelektualitas. Ia bertemu dan diskusi dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, sehingga apa yang dilakukan Nabi Muhammad, relnya sama dengan nabi-nabi pendahulunya. Tradisi pertemuan secara langsung ini dikenal dengan tradisi sanad. Atau di pesantren dikenal dengan sanad muttashil. Apabila sanad tidak bersambung, nanti akan terjadi penyimpangan yang merusak. Masing-masing orang berhak memahami agama sesuai dengan kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, setiap nabi harus punya platform atau karakter yang sama dengan nabi-nabi yang lain dengan cara bertemu secara langsung.

Dalam pendidikan intelektual Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saat Isra’, selain bertemu para nabi terdahulu, juga dikenalkan karakter-karakter nabi tersebut. Di dalam Al-Qur’an diceritakan kisah-kisah Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad. Dengan menceritakan itu, akan menjadikan kebijakan dan pola pikir Nabi Muhammad selaras dengan yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu (mushaddiqan limâ baina yadaih). 

Contohnya Nabi Muhammad diberi cerita oleh Allah tentang kisah Nabi Ibrahim yang ayahnya penyembah patung. Bagi Nabi Ibrahim, ini merupakan problem. Ayahnya sendiri tidak patuh kepada Allah. Dengan kisah tersebut, Nabi Muhammad menjadi faham, yang menghadapi problem keluarga tidak hanya beliau sendiri, tapi Nabi Ibrahim juga menghadapi problem keluarga yang sama bahkan lebih berat Ibrahim. Nabi Muhammad lebih ringan karena yang tidak taat keluarga Nabi Muhammad hanya berhenti kepada level paman saja, Abu Jahal, Abu Lahab dan lain sebagainya, tidak seperti Ibrahi yang sampai ayahnya kafir, tidak mau beriman kepada Allah. 

Nabi Nuh anaknya tidak patuh, Nabi Luth istrinya menjadi penghianat, Nabi Musa yang temperamental. Semuanya diceritakan Al-Qur’an untuk mengajari Nabi Muhammad. Nabi Musa yang temperamental, apabila ada yang tidak sesuai dengan kehendaknya, Nabi Musa bisa sampai memukul orang lain dan hal ini memang manusiawi (basyariyah). Pembelaan Musa berawal dari dua orang lelaki yang bertengkar. Satunya berasal dari suku yang satu klan dengan Nabi Musa sendiri. Lawannya adalah orang yang dari klan lain. Karena habis melakukan pembunuhan tak sengaja, Nabi Musa melarikan diri, kemudian mendapatkan suaka politik dari Nabi Syu’aib. 

Pelajaran penting dari hal tersebut. Bahwa nabi-nabi banyak yang mengalami problem dengan masyarakat sekitarnya. Kemudian mereka keluar, diterima dengan komunitas yang baru. Nabi Musa dikasih suaka Nabi Syu’aib. Ia keluar dari komunitas Fir’aun. Nabi Muhammad mempunyai garisi yang sama. Beliau awalnya mempunyai masalah dengan komunitas Makkah. Sebelum Nabi Hijrah, saat masih di Makkah, Nabi bahkan sampai diembargo. Tidak boleh ada aliran dana dan distribusi ekonomi, makanan yang sampai ke tangan Nabi sampai-sampai Nabi memakan daun-daunan. 

Di kemudian hari, Nabi Muhammad mendapatkan komunitas baru. Beliau diselamatkan dan diterima oleh sahabat anshar di Madinah. Kisah ini sangat mirip dengan cerita Nabi Musa yang mendapatkan suaka politik dari Nabi Syu’aib setelah melarikan diri dari wilayah cengkeraman komunitas Fir’aun. 

Atas petunjuk-petunjuk cerita dari Allah, karakter-karakter para Nabi itu tidak berubah. Mereka selalu berdiri di atas rel yang sama. Kita juga sama. Sehingga apabila kita kenal dengan karakter-karakter Nabi, kita akan sangat mudah mengenali Nabi palsu.

Kenapa di Al-Qur’an itu sering dikisahkan cerita-cerita nabi terdahulu secara berulang kali? Karena untuk membentuk karakter Nabi Muhammad supaya sesuai dengan para nabi yang sudah lampau, tidak sampai melenceng. Hal tersebut kemudian ditiru oleh guru kita. Guru-guru itu meniru metode dan gaya guru di atasnya. Misalnya, saat mengajar harus istiqamah, walaupun santrinya hanya dua saja, tetap harus diajar, kalau sudah jadi kiai jangan jelalatan matanya saat lihat uang dan lain sebagainya. 

Satu riwayat menjelaskan bahwa Nabi saat di Palestina, pada saat menambatkan tali buraq, tempatnya sama persis dengan tempat yang dibuat para nabi-nabi terdahulu menambatkan keledai atau tunggangan yang lainnya. Tradisi ini berlangsung dan turun temurun antar nabi. Begitu pula saat Mi’raj (naik), tempat naiknya Rasulullah ke langit juga sama yang dibuat naik para nabi yang telah lampau. 

Sekarang pindah membahas tentang masalah aqidah. Isra’ yang merupakan perjalanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, para ulama sepakat bahwa Isra’ benar-benar terjadi baik secara ruh dan jasad. Bagi orang yang mengingkari hal tersebut dikatakan sebagai orang kafir karena jelas-jelas bertentangan dengan dalin nash (tekstual) Al-Qur’an surat Al-Isra’: 1. 

Para ulama berbeda pendapat tentang Mi’raj, perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha. Perbedaan mereka antara lain ada yang mengatakan ruhnya saja, ada yang menjelaskan badan dan ruhnya. Oleh karena itu, timbul perbedaan pendapat di antara para ulama. Bagi orang yang ingkar atau tidak percaya pada Mi’raj tidak sampai kafir karena tidak bertentangan dengan nash dalil agama atau konsensus (ijma’) ulama. Kita sebagai kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana disepakati saat muktamar Jombang, kita disuruh memakai pendapat yang tercantum dalam kitab Al-Kawakibu al-Lama’ah karya Kiai Fadlol, Sendang, Senori, Tuban.

Apabila kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Mi’raj Rasulullah hanya secara ruhani dengan hanya berdasar pemikiran “ilmiah” semacam orang yang terbang dengan kecepatan sekian, itu tidak tepat. Agama tidak bisa diukur dengan ilmiah secara menyeluruh. Contoh, ada orang yang sudah meninggal, di tanah di dalam tanah, secara ilmiah tidak mungkin keluar lagi. Sebagai data pendukung bahwa Mi’raj Nabi benar-benar terjadi adalah disebutkannya hadits-hadits shahih yang menyatakan nabi bertemu dengan Nabi A, Nabi B, dan sebagainya. (Ahmad Mundzir) 


Tags:
Share:
Jumat 5 April 2019 10:15 WIB
Saat Sayyidina Ali Zainal Abidin Dicaci-maki
Saat Sayyidina Ali Zainal Abidin Dicaci-maki
Dalam kitab al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Imam al-Ghazali memasukkan kisah Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dicaci-maki oleh seseorang. Berikut kisahnya:

خرج زين العابدين علي بن الحسين رضي الله عنه إلي المسجد فسبّه رجل فقصده غلمانه ليضربوه ويؤذوه, فناهم زين العابدين وقال: كفوا أيديكم عنه! ثم التفت إلي ذلك الرجل وقال: يا هذا أنا اكثر مما تقول وما لا تعرفه مني أكثر مما قد عرفته, فإن كان لك حاجة في ذكره ذكرته لك. فخجل الرجل واستحي فخلع عليه زين العابدين قميصه وأمر له بألف درهم, فمضي الرجل وهو يقول: أشهد أن هذا الشاب ولد رسول الله صلي الله عليه وسلم.

Sayyidina Zainal Abidin Ali bin Husain radliyallahu ‘anhu keluar (rumah) menuju masjid. Tiba-tiba seseorang mencaci-makinya. Para pengawalnya hendak memukul dan menyakiti orang tersebut. Sayyidina Ali Zainal Abidin melarangnya dan berkata: “Tahanlah tangan kalian darinya!”

Kemudian ia berpaling kepada orang yang mencacinya itu dan berkata: “Wahai tuan, aku memiliki keburukan lebih banyak dari yang tuan katakan. Apa yang tuan tidak ketahui (tentang keburukanku) lebih banyak dari yang tuan ketahui. Jika tuan membutuhkannya, aku akan menceritakan (semua)nya pada tuan.” Orang itu pun menjadi malu.

Lalu Sayyidina Ali Zainal Abidin merogoh kantong bajunya dan memberinya uang seribu dirham. Orang itu pun berlalu sambil berkata: “Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyidina Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1988, hlm. 25)

****

Mencela adalah perbuatan yang dilarang agama, apalagi jika celaan itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka tingkatannya bisa naik menjadi fitnah. Rasulullah bersabda (H.R. Imam al-Bukhari):

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang yang melemparkan tuduhan kefasikan pada orang lain, dan tidaklah pula seseorang yang melemparkan (tuduhan) kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti itu.”

Di zaman bertabur fitnah ini, pencegahan dan respon sama pentingnya. Pencegahan dalam arti mengamalkan sunnah Rasul yang melarang mencela dan mencaci, dan di waktu yang sama menampilkan respon yang penuh adab seperti yang ditunjukkan Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Untuk bisa merespon fitnah dan celaan dengan bijak, seseorang harus menumbuhkan sikap tawadhu' dalam hatinya. Kenapa ini penting, silahkan perhatikan ucapan Imam Abû ‘Utsmân al-Hirri:

أصل التواضع ثلاثة: أن يذكر العبد جهله ويعترف في الحال بتقصيره ولا ينظر إلي تقصير غيره

“Akar tawadhu' ada tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, dan (3) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 480)

Ucapan Imam al-Hirri perlu kita renungi dalam-dalam, bahwa manusia adalah makhluk terbatas, bukan makhluk yang “segala tahu” atau “maha tahu”. Sepintar-pintarnya manusia, jika menggunakan ukuran ruang, lebih banyak ruang kebodohannya. Sebaik-baiknya manusia, lebih banyak kebaikan yang belum diamalkannya, dan sejahat-jahatnya manusia, ia masih memiliki ruang waktu yang cukup luas untuk memperbaikinya.

Karena itu, kita harus menahan diri. Jangan menuduh sembarangan, apalagi jika tuduhan itu berkaitan dengan karakter-karakter negatif yang ada dalam agama, seperti munafik, fasik, zindik, kafir dan lain sebagainya. Selain tuduhan semacam itu diharamkan agama, juga dapat menimbulkan ketidak-nyamanan sosial. Lagipula, siapa yang bisa menjamin jika orang yang kita fasikkan, kita munafikkan dan kita kafirkan tidak akan berubah sampai akhir hayatnya. Siapa kita yang berani memastikkan kezindikan, kemunafikan atau kekafiran seseorang. Serahkan itu kepada Allah saja.

Kembali ke kisah di atas, Imam Ali Zainal Abidin seakan-akan menganggap cacian sebagai kasih sayang Tuhan yang mengingatkan dosa-dosanya. Bagi orang yang selalu ingat akan dosa-dosanya, ia tak akan mudah terhina oleh cacian dan makian. Cacian adalah cambuk pengingat bahwa, “aku lebih buruk dari itu,” dan “dosaku lebih banyak dari itu.” Maka, seberapa kasar dan bejatnya sebuah cacian, tak akan berarti apa-apa karena ia merasa jauh lebih buruk dari itu. Bahkan, Imam Ali Zainal Abidin menawari pencacinya semua informasi tentang keburukannya.

Sebagai gantinya, Imam Ali Zainal Abidin berterima kasih pada pencacinya karena telah diingatkan kembali. Seumpama ia hendak berujar, “Cacian yang mengingatkanku atas segala keburukan lebih kunikmati daripada pujian yang melalaikanku.” Karenanya ia tanpa ragu memberi pencacinya uang cukup banyak, karena caciannya membangkitkan penyesalannya kembali atas dosa-dosanya.

Sisi lain kisah di atas adalah teladan akhlak yang baik. Meski dicaci sedemikian rupa, Imam Ali Zainal Abidin membalasnya dengan kebaikan. Ia melarang pengikutnya menyakiti orang tersebut dan menghampirinya dengan penuh keramah-tamahan. Sikapnya ini membuat sang pencaci malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu dirham. Akhlak mulia inilah yang membuatnya bersaksi bahwa ia benar-benar keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

Jadi, sudilah kiranya kita berhenti mencaci dan menampilkan adab yang baik ketika dicaci-maki. Pertanyaannya, sudahkah?

Semoga bermanfaat....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.

Selasa 2 April 2019 7:30 WIB
Kisah Syekh Ibrahim bin Adham Menjadi Penjaga Kebun Buah
Kisah Syekh Ibrahim bin Adham Menjadi Penjaga Kebun Buah
Ilustrasi (via arabi.ahram.org.eg)
Dalam kitab Tadzkirah al-Auliyâ’ tercatat kisah menarik ketika Imam Ibrahim bin Adham menjadi penjaga kebun. Berikut kisahnya:

نقل أنه قال: كنت حافظا علي البستان فجاء في بعض الأيام صاحب البستان وطلب منّي الرمان الحلو، فأتيته بالرُّمان وكان حامضا فطلب الرّمان الحلو، فأتيته طبقا آخر من الرمان وكان حامضا، فقال مالك البستان: كم زمان أنت في هذا البستان ولا تميّز بين حلو الرمان وحامضه؟ قلت: أنا حافظ للبستان لا آكل للرمان حتي أعرف الحامض من الحلو. فقال صاحب البستان: مع هذا الزهد، أنت إبراهيم بن أدهم! فتركت البستان، ومضيت

Dikisahkan, Imam Ibrahim bin Adham berkata: “Aku pernah menjadi penjaga kebun. Suatu waktu pemilik kebun datang dan memintaku untuk mencarikan buah delima yang masak. Aku mengambilkannya buah delima, dan ternyata rasanya masam. Kemudian aku mencari lagi buah delima yang masak, lalu kuberikan sekeranjang buah delima lainnya, ternyata rasanya masam juga.”

Sang pemilik kebun berkata (kepadaku): “Kau sudah lama menjadi penjaga kebun, tapi kau masih tak bisa membedakan mana delima yang masak dan mana yang masam?”

Aku menjawab: “Aku ini penjaga kebun, (tugasku) bukan memakan buah delima hingga tahu mana yang masam dan mana yang masak.” Pemilik kebun berkata: “Dengan kezuhudan semacam ini, kau pasti Ibrahim bin Adham.” Kemudian aku pergi meninggalkan kebun itu. (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hal. 146)

****

Jangan salah memahami zuhud sebagai sinonim dari miskin. Zuhud bukan miskin, dan seorang zahid tidak disyaratkan untuk menjadi orang miskin. Orang kaya pun memiliki peluang yang sama dalam berzuhud. Zuhud adalah salah satu maqam tasawuf (terminal) yang dihasilkan melalui kontemplasi ketat, tidak serta merta muncul dengan sendirinya. Dengan kata lain, zuhud adalah penjinak kerakusan yang berlebihan dan penggerak kepasrahan mutlak kepada Allah. Kepasrahan yang hadir karena pilihan hidup, bukan karena malas berbuat. Imam Ibrahim bin Adham pernah mengatakan:

إذا أردت أن تكون في راحة فكل ما أصبت والبس ما وجدتَ وارض بما قضي الله عليك

“Jika kau ingin berada dalam kenyamanan, makanlah apa saja yang kaudapatkan, pakailah apa saja yang kautemukan, dan terimalah (ridha) dengan apa yang telah ditetapkan Allah atasmu.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Thabaqât al-Auliyâ’, h. 14)

Kata-kata di atas bukanlah bentuk “kepasifan berlebihan” seperti yang banyak disalah-pahami dari para sufi. Kalimat, “makanlah apa saja yang kaudapatkan,” tidak mungkin terealisasi tanpa adanya usaha mencari makan. Titik pentingnya terletak pada lepasnya hati dari keterikatan keinginan yang mengharuskan. Begitu pula dengan kalimat, “terimalah (ridha) dengan apa yang telah ditetapkan Allah,” yang sebenarnya merupakan motivasi luar biasa dalam hidup manusia. Sebagus atau sejelek apa pun ketetapan Allah, semuanya adalah misteri (ghaib), tidak dapat diketahui secara terpetinci. 

Jika ada orang yang bermalas-malasan dengan alasan takdir, ia tidak termasuk orang yang menerima atau ridha akan semua ketetapan Allah. Untuk sampai pada fase ridha (menerima), manusia harus mengalami terlebih dahulu. Untuk mengalami, manusia harus berusaha terlebih dahulu. Jika pun mengalami kegagalan, penerimaan akan ketetapan-Nya membuatnya terus maju ke depan. Karena itu, keghaiban takdir harus dimaknai dengan perspektif baik, sebab Allah berfirman dalam hadits qudsi (HR Imam al-Bukhari): “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku.” Inilah yang seharusnya dipahami oleh manusia.

Dalam kisah di atas, kezuhudan Imam Ibrahim bin Adham (w. 161 H) membuatnya menghindari makanan yang bukan haknya. Katanya, ia ditugasi sebagai penjaga kebun, bukan pencicip buah delima, meskipun memakan buah delima barang satu atau dua biji dalam pandangan umum dapat diwajari, termasuk oleh pemilik kebun. Namun, Imam Ibrahim bin Adham memilih tidak melakukannya. 

Kisah di atas juga menunjukkan bahwa seorang praktisi zuhud dapat memegang amanah dengan sangat baik. Perilaku Imam Ibrahim bin Adham merupakan buktinya. Amanah yang ia pegang bukanlah amanah tertulis. Pemilik kebun memperbolehkan penjaganya memakan buah delima sewajarnya. Tapi, karena itu tidak termasuk dalam akad tugasnya, Imam Ibrahim bin Adham tidak melakukannya.

Dalam tingkatan yang lebih rendah, zuhud harus dipahami sebagai amal yang harus terus diasah dengan kontinuitas riyadlah. Sebab, melihat kerangka kejiwaan manusia, hampir tidak ada manusia yang tidak memiliki ketertarikan terhadap sesuatu. Tuhan sendiri menggambarkan kehidupan dunia dengan kalimat (Q.S. al-An’âm: 32), “wa mâl hayâtud dunyâ illâ la’ibun wa lahwun—kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka.” Kata “la’ibun—permainan” dan “lahwun—senda gurau” merupakan simbol yang mewakili watak manusia yang serba tertarik akan sesuatu. 

Dengan demikian, dalam level yang lebih rendah, zuhud harus dipraktikkan sebagai amal. Karena tidak mungkin bagi semua orang berhasil menghapus ketertarikan kepada dunia beserta isinya. Jikapun mungkin, makna dari perjuangan melawan kerakusan diri menjadi hilang. Orang yang hebat bukan orang yang tidak memiliki kerakusan sama sekali, tapi orang yang bisa menjinakkannya. Begitupun sebaliknya, orang yang hebat bukan orang yang berderma tanpa rasa berat sedikit pun, tapi orang yang meski berat, ia tetap berderma. Sebab, dalam diri manusia terdapat perasaan yang berlawanan; rakus-dermawan, tulus-pamrih, dan lain sebagainya. Persoalannya adalah, perasaan mana yang lebih sering diberi makan, maka perasaan itulah yang lebih berkuasa.

Apa yang ditampilkan Imam Ibrahim bin Adham dalam kisah di atas adalah zuhud yang sudah mencapai level terbaiknya, sehingga kecintaannya terhadap dunia dikalahkan oleh besarnya cinta kepada Allah. Jadi, bukan cinta terhadap dunianya yang hilang tapi dikalahkan oleh cinta kepada Allah yang lebih besar, sehingga ucapan Imam Yahya bin Mu’adz (w. 258 H) tentang zuhud dapat diberlakukan di sini:

لا يبلغ أحد حقيْقةَ الزهد حتي يكون فيه ثلاث خصال: عمل بلا علاقة، وقول بلا طمع، وعز بلا رباسة

“Seseorang tidak akan sampai pada hakikat zuhud hingga orang tersebut berhasil mendapatkan tiga hal: (1) amal tanpa pamrih, (2) ucapan tanpa kepura-puraan, dan (3) kekuatan tanpa melemahkan.” (Imam Abdul Karîm Hawazin al-Qusyairi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Mathabi’ Muassasah Dar al-Sya’b, tt, hal. 221)

Semoga bermanfaat...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pessantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Ahad 31 Maret 2019 15:0 WIB
Kisah Imam Ma’ruf al-Karkhi dan Para Pemabuk
Kisah Imam Ma’ruf al-Karkhi dan Para Pemabuk
Ilustrasi (WordPress.com)
Dalam kitab Tadzkirah al-Auliyâ’, Imam Fariduddin Attar memasukkan kisah unik dari Imam Ma’rûf al-Karkhi. Berikut kisahnya:

نقل أنه يوما يمرّ مع جماعة بساحل دجلة, وجماعة من الشبان كانوا في زورق علي دجلة يشربون الخمر ويضربون الرباب ويجاهرون بالفسق، فقال الأصحاب لمعروف: يا شيخ، ادع الله عليهم لعلّه يهلكهم بالغرق، لئلا يصل شؤمهم إلي الخلائق وينقطع عن النّاس فسقهم. فقال: ارفعوا أيديكم. فلمّا رفعوا، قال: إلهي، كما طيّبتَ عيشهم في الدنيا فطيّبْ كذلك عيشهم في الآخرة. فتعجّب الأصجاب عن هذا الأمر، وقالوا: يا شيخ نحن لا نبلغ إلي سرّ هذا الدعاء. قال: توقّفوا ليتبيّن لكم الأمر. فلمّا رأي حماعة الشبان الشيخ، كسروا الرباب وأراقوا الخمر ووقعوا في البكاء وجاؤوا إليه مسرعين وتابوا، فقال الشيخ: انظروا إلي هذا الشأن البديع حصل مراد الجميع بلا غرق

Dikisahkan bahwa Imam Ma’ruf al-Karkhi berjalan bersama murid-muridnya di tepian sungai Tigris, dan sekelompok pemuda sedang asyik minum-minum khamr, menabuh rebab (sejenis alat musik), dan menampakkan kefasikan secara terbuka di atas perahu sungai Tigris. Berkata sebagian murid kepada Imam Ma’ruf: “Wahai guru, berdoalah kepada Allah agar mereka binasa dengan tenggelam, agar kesialan mereka tidak mengenai makhluk lainnya dan kefasikan mereka berhenti (mempengaruhi) orang lain.”

Imam Ma’ruf al-Karkhi berkata: “Angkatlah tangan kalian.” Ketika mereka semua mengangkatnya, Imam Ma’ruf berdoa: “Tuhanku, sebagaimana Kau senangkan hidup mereka di dunia, maka senangkan juga hidup mereka di akhirat kelak.” Maka murid-muridnya terkejut dengan isi doa Imam Ma’ruf al-Karkhi, dan berkata: “Wahai guru, kami tidak memahami rahasia doa ini.” Imam Ma’ruf al-Karkhi menjawab: “Tunggulah, maka kalian akan memahami rahasia di balik doa tersebut.”

Kemudian, ketika sekelompok pemuda itu melihat Imam Ma’ruf al-Karkhi, seketika mereka menghancurkan rebabnya, membuang khamarnya, menjatuhkan diri menangis, dan menghampiri Imam Ma’ruf al-Karkhi dengan terburu-buru, lalu mereka semua bertobat. Setelah itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi berkata (pada murid-muridnya): “Lihatlah peristiwa mengagumkan ini, tujuannya tercapai tanpa harus ada yang ditenggelamkan.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hal. 346-347)

****

Kisah di atas harus dihidupi dengan pemahaman menyeluruh, jangan hanya terjebak pada “mungkin” atau “tidak mungkin” pengaruh doa bisa secepat itu. Keterjebakan semacam itu akan membuat kita terlewat sisi baik kisah tersebut. Kita perlu memahaminya dengan terbuka, membuka pandangan selebar-lebarnya untuk mencerap hikmahnya. Lagi pula, Allah telah berjanji bahwa siapa pun yang berdoa kepadaNya akan dikabulkan, apalagi yang berdoa adalah orang yang saleh lagi berilmu. 

Dalam kisah di atas, Imam Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H) menampilkan pengajaran akhlak dalam doanya. Di saat murid-muridnya memintanya untuk mendoakan keburukan, Imam Ma’ruf al-Karkhi meresponsnya dengan cara yang tidak diharapkan. Ia berdoa memohon kebaikan bagi para pemabuk itu di dunia dan akhirat. Tentu saja ini tidak dipahami oleh murid-muridnya. Bagaimana mungkin para pendosa bisa bersenang-senang di akhirat? Bukankah hidupnya bergelimang dosa? Begitulah kira-kira yang bergulir di benak mereka.

Namun, jika dicermati dengan baik, kalimat doa, “Tuhanku, sebagaimana Kau senangkan hidup mereka di dunia, maka senangkan juga hidup mereka di akhirat kelak,” mengandung makna yang sangat dalam. Tidak mungkin seseorang bisa bersenang-senang di akhirat jika mereka ahli maksiat dan tidak pernah beramal baik. Artinya, dengan doa tersebut Imam Ma’ruf al-Karkhi sedang memohonkan tobat untuk mereka, tapi dengan cara yang halus dan beradab. Pertanyaannya, kenapa harus dengan cara halus dan beradab?

Jawabannya sederhana, Imam Ma’ruf al-Karkhi melihat kebencian dalam murid-muridnya. Mereka menginginkan kebinasaan para pemabuk itu dengan cara ditenggelamkan, meskipun tujuan mereka baik. Oleh karenanya, Imam Ma’ruf al-Karkhi membacakan doa yang tidak mereka mengerti, bahkan mungkin mereka kritisi. Sisi menariknya, Imam Ma’ruf al-Karkhi melibatkan murid-muridnya dalam proses pengajaran akhlak melalui doa ini. Dengan demikian, murid-muridnya turut mendapat pahala dari tobatnya para pemabuk itu, yang akhirnya membuat mereka lebih sadar terhadap tanggung jawab seorang muslim kepada muslim lainnya.

Di samping itu, ada juga soal adab dan seni bertutur kepada Allah. Contohnya ketika seseorang mohon kaya, ada yang berdoa, “Tuhan, berikanlah aku kekayaan dua ratus miliar,” tapi ada juga yang berdoa, “Tuhan, berikanlah aku kemampuan berzakat dan bersedekah lima miliar.” Ini sekedar contoh, soal mana yang lebih beradab dan berseni tutur tinggi, silahkan dinilai sendiri, yang jelas ada nilai lebih yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi menegaskan pada baris terakhir kisah di atas, “Lihatlah peristiwa mengagumkan ini, tujuannya tercapai tanpa harus ada yang ditenggelamkan.” Tujuan yang dimaksud di sini adalah tujuan dalam arti sebenarnya, bukan tujuan yang diharapkan oleh murid-muridnya, yaitu kebinasaan para pemabuk. Dengan kata lain, Imam Ma’ruf al-Karkhi berusaha menyelarasi kehendak Tuhan untuk membawa para pendosa kembali ke jalan-Nya, bukan membinasakan mereka atas namaNya. Sebab, jika Imam Ma’ruf al-Karkhi membinasakan mereka sekarang, berarti ia telah merenggut peluang tobat para pemabuk itu.

Penegasan tersebut juga berarti peringatan kepada murid-muridnya, agar jangan sampai kebencian mereka pada perilaku buruk orang lain membuat mereka terjangkiti virus ujub dan takabbur. Dua virus yang sangat berbahaya bagi seorang salik yang sedang mencari Tuhan karena bisa menutup pintu kerendahan hati (tawaduk). Agar lebih mudah memahaminya, kita perlu merenungkin dialog Imam Abu Yazid al-Busthami dengan seekor anjing. Katanya:

يا شيخ, إن تلوّث ذيلك بمثلي يتنظّف بغسله سبع مرات, وإن تلوّثت بنفسك لا تطهر بسبعين بحرا. فقال الشيخ: أنت نجس الظاهر طاهر الباطن وأنا طاهر الظاهر نجس الباطن.

“Wahai tuan guru, jika ujung (jubah)mu terkotori olehku, bisa dibersihkan dengan membasuhnya tujuh kali saja, tapi jika kau terkotori oleh egomu sendiri, tujuh lautan pun tak bisa menbersihkannya.” Imam Abu Yazib berkata: “Kau memang najis secara zahir, tapi batinmu suci. Sementara aku suci secara zahir, tapi batinku najis.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, hal. 193-194)

Dialog di atas adalah sebuah gambaran, bahwa hati manusia teramat sangat rumit, dipenuhi dengan berbagai macam watak dan rasa. Tidak seperti binatang yang hanya memiliki naluri sehingga selalu mengerjakan hal yang sama (monoton). Oleh karena itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi memperingatkan murid-muridnya agar mengambil pelajaran dari peristiwa mengagumkan ini, bahwa ada pilihan lain dalam menghadapi manusia, tidak selalu menghukum yang akhirnya merenggut peluang mereka menjadi baik. Jadi, seberapa besarkah peluang kita?


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Petanahan, Kritig, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan